Kamis, 08 Januari 2009

Kembalikan Market Leader Flexi-ku

Terhitung 5 Agustus 2008 sampai akhir tahun 2008. Flexi membuat sebuah gebrakan yang mengejutkan. Ada yang menyebut sebagai gempuran popular, berani dan tepat. Tak lain berupa peluncuran program gratis nelpon Rp. 0,- (Nol Rupiah) 24 jam nonstop. Upaya ini sebagai salah satu strategi guna mengembalikan Flexi sebagai market leader di CDMA.

Menurut EGM Divre III, Dwi S Purnomo, upaya ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan Flexi untuk mengubah paradigma customer bahwa nelpon gratis Rp.0,- hanya bohong-bohongan. Antara lain melalui promosi dan testimony (experience) atau membuat marketing komunikasi yang menarik seperti “Baru Flexi yang Nelpon Gartis Beneran” atau “Nelpon Gartis 24jam Nonstop Berbulan-bulan”.

Sehingga gratis nelpon Flexi dipersepsikan gratis beneran dan tidak menjebak. “Hari pertama peluncuran strategi kita langsung mengiklankan serentak ke-61 radio, surat kabar, dan televisi. Ini merupakan upaya untuk mengkomunikasikan tarif nol rupiah yang benar-benar nol 24 jam dan bukan nol bohong-bohongan.” ungkap Dwi yang ketika tulisan ini diturunkan mendapat mutasi dan digantikan .

Supaya program Flexi gratis nelpon berjalan dengan baik dan memberikan penambahan customer base yang signifikan, maka Telkom mengeluarkan program building HP Flexi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain itu menggerakkan HR organic dan unorganik untuk membangun Networking marketing many to many merupakan salah satu strategi yang digunakan Flexi juga. Hal ini merupakan salah satu kapabilitas yang dimiliki Telkon dan mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah jumlah karyawan yang banyak dan ada dimana-mana termasuk yang pensiunan.

Dan kalau resource ini digerakkan untuk mempromosikan program Flexi gratis dan penjualan building Hp Flexi hasilnya pasti akan luar biasa. “Kunci sukses dari promo ini adalah jika semua karyawan mau turun kelapangan dalam membantu melaksanakan strategi kegiatan yang sudah dirancang. Karena pangsa pasar sangat besar maka kita harus mengerahkan semuanya, dan ini tidak hanya tanggung jawab datel,” papar Dwi S. Purnomo.

Seperti yang terlihat dalam event duel Flexi dan Esia di Bandung Indah Plasa (BIP) di Jl. Merdeka Bandung, Sabtu (30/8), sebagian tim Open Table karyawan Divre III pun diterjunkan di sepanjang Jl. Merdeka dan Juanda sekitar BIP. Khusus untuk duel ini, tim Divre III sengaja menghimbau kehadiran seluruh karyawan Telkom yang berdomisili di Kota Bandung untuk datang dan mendukung Flexi. “Ini sungguh membanggakan, melihat rekan-rekan dari Corporate dan juga Center–center lain di Kota Bandung membuktikan kepeduliannya dengan datang bersama keluarga untuk mewarnai BIP dengan antribut Flexi,” tandas Dwi.

Sementara menurut Deputy EGM Divre II, Arif Mustain, bahwa program Flexi Rp.0,- ini merupakan senjata pamungkas bagi kita. Di lingkungan Divre II seluruh jajaran bergerak untuk menjual Flexi. Hasilnya dalam sebulan saja sudah mengalami peningkatan 850% dari target. ”Ini sangat luar biasa dan ternyata kita bisa. Terutama target untuk mengakuisisi Esia dapat tercapai sesuai target,” kata Arif Mustain yang segera menempati posisi barunya sebagai VP. Product Management.

Ketika ditanya berapa target Flexi untuk Divre II, Arif mematok angka 1,3 juta ssf atau sampai akhir tahun 2008 menjadi 3,7 juta ssf. Sementara jumlah pelanggan ESIA saat ini mencapai 3,8 juta. Jadi kalau kita bisa mengakuisisi 1,2 juta pelanggan Esia, maka posisi akhir tahun 2008 akan menjadi fifty-fifty.

Menurut Arif program ini harus dikelola dengan bagus sampai ke BDL. Gerakan menjual di datel-datel Divre II terjadi dengan spirit yang sangat luar biasa. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi internal perlu dibangun. Branding Flexi perlu digalakan. Demikian halnya semangat menjual yang harus semakin perlu ditumbuhkan sampai secara door to door. Apalagi target utama kita adalah untuk mengakuisisi pelanggan Esia. Dengan demikian diharapkan market share Esia akan menjadi turun kembali.

Terkait branding Flexi, Dwi setuju kalau branding harus semakin digencarkan. Misalnya pemasangan umbul-umbul saat duel maut di BIP, brand Flexi sangat menyolok terpajang di sekitar Jl. Merdeka hingga memutar BIP ke jalan Riau dan Sumatra. “Tujuan dari branding ini memang adalah untuk mengurung Esia dengan branding Flexi sekaligus membanjiri area pertempuran dengan warna-warni Flexi. ”Dalam event tersebut, sebanyak 2000 nomor Flexi sold out di BIP area. Sementara total sales Flexi Trendy untuk hari sabtu (30/8) berhasil menembus angka 9.243 SSF,” kata Dwi.

Sementara EGM Divre III yang baru, Walden R. Bakara, dalam first punch-nya di hadapan jajaran TELKOM Jabar-Banten mengungkapkan keyakinannya bahwa dengan kebersamaan Divre III pasti bisa merebut kembali posisi sebagai market leader walaupun harus dengan berdarah-darah. “Makna kebersamaan artinya adalah bahwa baik pimpinan maupun staf adalah sama, hanya berbeda peran dan tanggung jawab saja. Meski kini harus berdarah-darah melalui tarif Rp.0,-, namun itu harus dilakukan. Kita akan lanjutkan bersama-sama,”! tegasnya.

Lebih lanjut Walden mengingatkan bahwa pasar sudah sangat irasional akibat terlalu banyak operator yang bermain di industri telekomunikasi. Oleh sebab itu Walden mengajak segenap jajaran Telkom Jabar-Banten untuk meningkatkan komitmen, menjaga kesehatan, meningkatkan komunikasi dan membangun kerjasama. “Mari kita ukir sejarah, sebuah success story, di mana dalam persaingan yang berdarah-darah ini kita mampu muncul sebagai pemenang”, tandasnya mengakhiri sambutan singkat dalam kesempatan tersebut.

Terkait pemenangan Flexi di Divre II, EGM Divre II yang baru, Mas’ud Khamid mengungkapkan bahwa pihaknya harus segera melakukan rewarding system untuk AD dengan cara pemberian voucher. Bahkan perlu dibentuk tim untuk me-manage outlet. Mengenai managing shareholder, contohnya : bagaimana caranya mencari investor. 

Managing employee adalah orang-orang di ANPP, Marsal, Kandatel, Kancatel, harus fit dan setiap keberhasilan kita rayakan, tapi utamakan cost leadership. Mobil dinas daripada dicat house style, lebih baik dicat branding produk. Tetapkan logo product ada di seluruh mobil dinas, sedangkan Logo Telkom di gedung utama saja.

Untuk Divcomm, Mas’ud meminta agar seluruh radio di Jakarta sudah dipasangi iklan. Materi iklan dari marsal, tapi contact ke radio oleh Divcomm. Manfaatkan cara beriklan dengan barter, radio kita pasangi Speedy atau Flexi dengan tagihan ringan, maka bulan depan kita dapat jatah beriklan. Cukup ringan biayanya, dengan waktu tayang bebas. 

Kemudian Jadikan mobil dinas sebagai media promo, STO jadi titik outlet dan optimalisasi asset point of sale, point of service, kemudian STO sebagai point of business, serta manfaatkan point of experiment (Indigo, BLC).

Para GM harus tahu siapa top 100 pelangang Trendy. Kalau perlu siapa top 100 pelangang Esia, dan harus tahu cara akuisisi. Mas’ud inginkan membangun environment dengan pemberian bantuan via dana CDC, agar orang datang kepada Telkom. Ingat cara orang mancing, bagaimana caranya mengundang ikan supaya dating.

“Kita ini tidak boleh kalah, karena tak pantas Telkom dikalahkan. Masa sama orang-orang yang tidak jelas dengan kantornya yang juga tidak jelas, kita bisa dikalahkan. Yang bener saja,” keluh Mas’ud. (nanastelkom)