Kamis, 24 November 2011

Kisah bang Jadul dipaksa pendi

Pada suatu malam di sebuah cafe bertemu dengan bang Jadul (nama boong2an), salah seorang mantan Senior Officer. 

Mukanya tampak kusut sekusut pakaiannya. Kulitnya lusuh selusuh jaketnya. Tatapannya kosong dengan sebatang rokok terselip diantara jari tengah dan telunjuk. 

Kalau dilihat dari tongkrongannya, sepertinya beliau termasuk salah seorang yang gagal memanfaatkan uang pendi.

“Eh ada bang Jadul. Sehat bang? Kabarnya sudah pendi yah??” demikian kata saya.

“(agak terperanjat) Eh ada si akang. Iya nich saya dah pendi kang. Padahal saya masih ingin bekerja loh, tapi waktu itu saya tetap diminta untuk mengambil pendi”.

“Loh, koq bisa gitu. Emangnya apa alasannya pake disuruh pendi segala.”

“Yah begitulah kang. Saya dituduh ketinggalan zaman gak bisa memanfaatkan IT. Selain juga dianggap ga becus kerja karena target ga pernah tercapai. Malahan saya juga dituduh suka mangkir dan suka mempersulit mitra kerja dengan tujuan untuk memeras”.

“Wah, kebangetan bossmu itu. Harusnya dia bisa membuktikan donk, kalau abang tidak seperti itu.”

“Saya sudah berusaha sekuat tenaga kang. Tapi sayangnya boss saya bisa membuktikannya.” 

=======(n425)

(Pesan moral: Setiap perbuatan mengandung resiko. Dan resiko itu harus diterima dengan lapang dada. Jadikan ia sebagai pelajaran berharga menuju kedewasaan bersikap, berpikir dan berprilaku).