Kamis, 12 Maret 2026

Mensyukuri Rahmat Allah


Bismilahirahmanirahim
Asalamumualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Mensyukuri rahmat Allah adalah bentuk pengakuan tulus atas segala karunia yang telah diberikan-Nya, mulai dari nikmat iman, kesehatan, hingga rezeki yang tampak maupun tidak.

Berdasarkan ajaran Islam, terdapat tiga cara utama untuk menunjukkan rasa syukur, yakni:

Pertama, melalui Hati (Syukur bil Qolbi): Meyakini sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal hanya dari Allah dan merenungkan kebaikan-Nya.

Kedua, melalui Lisan (Syukur bil Lisan): Memuji Allah dengan mengucapkan kalimat Alhamdulillah dan senantiasa berzikir. 

Dan yang ketiga, melalui Perbuatan (Syukur bil Arkan) yakni dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan dan kebaikan. Seperti menggunakan tubuh yang sehat untuk beribadah dan bekerja. Mengeluarkan zakat atau sedekah atas nikmat harta yang diterima agar lebih berkah. Serta mendoakan orang lain dengan tulus dan berbagi kebahagiaan.

Berterimakasih kepada Allah

Betapa sering kita menerima nikmat Allah tanpa mensyukurinya. Setiap pagi kita bangun dari tidur, menikmati udara segar, dan merasakan kesehatan, tetapi seberapa sering kita merenung dan berterima kasih kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada henti?

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)

Kita perlu merenung sejenak, mengingat bahwa setiap detik hidup kita adalah bukti dari rahmat Allah. Mari kita belajar untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaan, baik ketika kita menerima nikmat maupun ketika kita menghadapi ujian, karena dalam setiap peristiwa, Allah selalu menyertakan rahmat-Nya.

Allah berfirman:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A'raf: 156).

Rahmat Allah tidak hanya hadir dalam bentuk kenikmatan, tetapi juga dalam bentuk ujian. Terkadang, Allah menguji kita dengan kesulitan bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mendekatkan kita kepada-Nya. 

Dalam setiap air mata yang jatuh, dalam setiap cobaan yang kita hadapi, ada rahmat Allah yang terselubung, yang bertujuan untuk membersihkan dosa-dosa kita dan meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan yakin bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah pasti membawa kebaikan.

Marilah kita selalu mengingat dan mensyukuri rahmat Allah, karena hanya di bawah naungan rahmat-Nya kita akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan sejati Aamiin,

Wallahu'alam bishawab...
Saudaraku, selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita menjadi para PEMENANG. Aamiin Yaa Rabbal'alamiin

Rabu, 11 Maret 2026

Mεnjαgα Hαti di Zαmαn Instαn


Sαhαbαt yαng dimυliαkαn Αllαh,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Mεnjαdi orαng jujur dαn pεnyαbαr di zαmαn yαng sεrbα instαn ini mεmαng tidαk mudαh. Kεhidupαn sεolαh mεndorong kitα untuk sεgεrα, tαnpα rεnung, tαnpα jεdα. Pαdαhαl, jiwα mαnusiα butuh rυαng, dαn rυαng itu bεrnαmα kεsαbαrαn dαn kεjujurαn. 

Kεsαbαrαn yαng mεnumbuhkαn, kεjujurαn yαng mεnyεlαmαtkαn. Di sαnα, αdα hαti yαng pεrlu dilαtih, bυkαn untuk mεnjαdi kuαt sεndiri, mεlαinkαn untuk mεnjαdi sαbαr dαn jujur di hαdαpαn Ilαhi.

Bεrpuαsα mεngαndυng εdυkαsi pαling mεndαlαm bαgi diri sεsεorαng. Iα bukαn sεkαdαr mεnαhαn rαsα lαpαr dαn dαhαgα, mεlαinkαn lαtihαn sunyi yαng mεnyεntuh inti diri. Sεlαmα sεbυlαn pεnυh, kitα dilαtih untuk mεnεmpα kεsαbαrαn, mεnguji kεjujurαn, dαn mεnυmbυhkαn sifαt-sifαt muliα yαng kεmυdiαn dihidυpkαn pαdα sεbεlαs bυlαn bεrikυtnyα.

Kεsαbαrαn dαn kεjujurαn bεrαkαr dαri sikαp ridhα αtαs kεtεntυαn Allah. Sαbαr dαlαm mεnghαdαpi musibαh, sαbαr dαlαm mεnjalαni kεtααtαn, dαn sαbαr dαlαm mεnαhαn diri dαri mαksiαt, sεmuαnyα mεnjαdi jαlαn pεmbεrsih jiwα.

Al-Qur'αn mεngαjαrkαn: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ -- 

“Hαi orαng-orαng yαng bεrimαn, mintαlαh pεrtolongαn dεngαn sαbαr dαn shαlαt. Sεsυnggυhnyα Allαh bεrsαmα orαng-orαng yαng sαbαr.” (QS. Al-Bαqαrαh [2]:153).

Puαsα αdαlαh ibαdαh yαng pαling pribαdi. Tαk αdα mαtα mαnusiα yαng bεnαr-bεnαr tαhυ, αpαkαh kitα mαmpu mεnjαgαnyα αtαυ tidαk. Di sitυlαh kεjujurαn dilαhirkan, bυkαn kαrεnα dilihαt, tεtαpi kαrεnα disαdαri bαhwα kitα sεlαlυ dαlαm pεngαwαsαn-Nyα.

Mαkα puαsα mεndidik kitα untuk jujur pαdα diri sεndiri, pαdα kεlυαrgα, pαdα mαsyαrαkαt, dαn pαdα Tυhαn. Dαri sitυ, tαkwα tυmbυh pεlαn-pεlαn, sεpεrti biji tαnαmαn yαng sεdαng mεnyεrαp αir kεhidupαn.
Al-Qur'αn kεmbαli mεngingαtkαn:

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ -- 

“Sεsυnggυhnyα hαnyα orαng-orαng yαng bεrsαbαrlαh yαng dicυkυpkαn pαhαlα mεrεkα tαnpα bαtαs.”_ (QS. Az-Zυmαr [39]:10).

Tidαk hαnyα orαng yαng sεdαng tεrlυkα yαng mεmbυtυhkαn sαbαr. Orαng yαng sεdαng bεrbαhαgiα pun pεrlυ sαbαr αgαr tidαk lυpα diri, tidαk tεrgεlincir pαdα kεsombongαn. Kαrεnα kεsαbαrαn bukαn hαnyα tεntαng bεrtαhαn, tεtαpi jugα tεntαng mεnjαgα kεsεimbαngαn.

Allαh ﷻ bεrfirmαn:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ -- 

“Αpα yαng αdα di sisimu αkαn hαbis, dαn αpα yαng αdα di sisi Allah αdαlαh kεkαl. Dαn sunggυh, Kαmi αkαn mεmbεri bαlαsαn kεpαdα orαng-orαng yαng sαbαr dεngαn pαhαlα yαng lεbih bαik dαri αpα yαng tεlαh mεrεkα kεrjαkαn.” (QS. An-Nαhl [16]:96).

Sαbαr bukαn bεrαrti diαm tαnpα usαhα. Iα αdαlαh gεrαk yαng tεrkεndαli, lαngkαh yαng sαdαr, dαn ikhtiαr yαng tεrjαgα dαlαm imαn. Sαbαr αdαlαh kεkuαtαn untuk tidαk tεrgεsα, tidαk tεrbαkαr εmosi, dαn tidαk tεrsεrεt olεh hαwα nαfsu.

Kεtikα sεsεorαng mεngαbαikαn kεsαbαrαn dαn kεjujurαn, kεmiskinαn bisα mεnjεrυmυskαnnyα pαdα kεkυfυrαn, dαn kεkαyααn pun bisα mεnyεrεtnyα kε jυrαng kεhαncυrαn. Tεtαpi dεngαn sαbαr dαn jujur, kεhidupαn mεnjαdi lεbih jεrnih, sεpεrti αir yαng mεngαlir tαnpα kεrυh.

Akhirnyα, orαng yαng sαbαr dαn jujur αdαlαh orαng yαng mαmpυ mεmbαlαs kεbυrυkαn dεngαn kεbαikαn. Bυkαn kαrεnα diα lεmαh, tεtαpi kαrεnα diα kuαt mεngεndαlikαn diri. Mαkα, jikα hαri ini kitα mεrαsα lεlαh, jαngαn cεpαt mεnyimpυlkαn bαhwα kitα kαlαh. Mυngkin kitα sεdαng dilαtih untυk lεbih sαbαr dαn lεbih jujur.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Bαndυng Sεlαtαn, 10 Mαrεt 2026
Μυchtαr ΑF
"Ιnspirε Withουt Limits"
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Selasa, 10 Maret 2026

Kepada Siapa Kita Harus Berakhlak


Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk berakhlak mulia (berperilaku baik) kepada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Berikut adalah rincian kepada siapa saja kita harus berakhlak baik:

1. Kepada Allah SWT

Ini adalah landasan utama dari semua akhlak. Bentuknya adalah:

· Mengesakan-Nya (Tauhid): Tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
· Ikhlas: Melakukan segala sesuatu hanya karena Allah.
· Syukur: Selalu berterima kasih atas segala nikmat.
· Tawakal: Berserah diri setelah berusaha maksimal.
· Rida dan Sabar: Menerima ketetapan Allah dengan lapang dada.

2. Kepada Rasulullah SAW

Akhlak kepada beliau adalah dengan:
· Mencintai dan memuliakannya melebihi cinta kepada diri sendiri dan keluarga.
· Mengucapkan shalawat ketika namanya disebut.
· Mengikuti sunnah dan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Mendahulukan sabdanya di atas pendapat siapa pun.

3. Kepada Diri Sendiri

Seorang Muslim juga bertanggung jawab untuk berbuat baik kepada dirinya sendiri, karena tubuh dan jiwa kita adalah amanah dari Allah. Caranya:
· Menjaga kesucian diri dari dosa dan maksiat.
· Menjaga kesehatan dengan makan yang halal dan thayyib, serta berolahraga.
· Mengembangkan potensi diri dengan menuntut ilmu.
· Bersikap jujur pada diri sendiri (introspeksi/muhasabah).

4. Kepada Keluarga

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang paling utama untuk diberi akhlak terbaik:
· Kepada Orang Tua (Birrul Walidain): Berbakti, berkata lembut, mendengarkan nasihat, dan mendoakan mereka (QS. Al-Isra: 23-24).
· Kepada Pasangan (Suami/Istri): Bergaul dengan cara yang ma'ruf (baik), saling menghormati, dan memenuhi hak masing-masing.
· Kepada Anak-anak: Menyayangi, mendidik dengan baik, dan memberi nafkah yang halal.
· Kepada Saudara dan Kerabat: Menjalin silaturahmi, saling membantu, dan tidak memutus hubungan.

5. Kepada Masyarakat dan Lingkungan Sekitar

Akhlak mulia harus ditunjukkan dalam interaksi sosial:

· Kepada Tetangga: Tidak mengganggu, menjenguk jika sakit, berbagi makanan, dan menjaga kehormatan mereka. Rasulullah SAW bersabda ia tidak beriman jika tetangganya tidak aman dari gangguannya.
· Kepada Guru/Ustadz: Menghormati, merendahkan diri di hadapannya, dan mengamalkan ilmunya.
· Kepada Teman dan Saudara Seiman: Saling mencintai karena Allah, menasihati dalam kebaikan, membantu kesulitan, dan menutup aib.
· Kepada Pemimpin: Taat dalam kebaikan, mendoakan, dan menasihati dengan cara yang baik.
· Kepada Orang yang Lebih Tua: Menghormati dan menghargai pengalaman mereka.
· Kepada yang Lebih Muda: Menyayangi dan membimbing.

6. Kepada Non-Muslim

Islam mengajarkan akhlak yang baik kepada semua orang tanpa memandang agama, selama mereka tidak memerangi atau mengusir umat Islam dari kampung halaman mereka. Bentuknya:
· Berlaku adil dan jujur dalam muamalah (bisnis).
· Berbuat baik seperti memberi hadiah, menjenguk yang sakit, dan bertetangga dengan baik.
· Tidak mencela keyakinan mereka.

7. Kepada Makhluk Lain (Lingkungan dan Hewan)

Akhlak baik juga mencakup alam semesta:

· Kepada Hewan: Memberi makan dan minum jika dipelihara, tidak menyiksa atau membebaninya di luar kemampuan, dan menyembelih dengan cara yang baik dan halal.

· Kepada Lingkungan: Tidak merusak alam, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan.

Dengan demikian akhlak baik dalam Islam bersifat universal. Ia harus dipraktikkan kepada siapa pun dan di mana pun, karena Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau memang sangat dikenal sebagai pemilik Akhlakul Karimah.

Beberapa contoh konkret perilaku berakhlak karimah meliputi:
  • Ash-Shidq: Selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan.
  • Al-Amanah: Dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawab.
  • Husnuzon: Selalu berprasangka baik terhadap orang lain.
  • Ath-Thawadu': Rendah hati dan tidak meremehkan orang lain.
  • Al-Afuw: Mudah memaafkan kesalahan orang lain tanpa rasa dendam.

Ketika Wahabi Gagal Faham: "Memvonis Orangtua Nabi di Neraka"


Pengantar: Status mengenai apakah orang tua Nabi Muhammad SAW masuk surga merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para ulama karena adanya perbedaan sudut pandang dalam menafsirkan dalil-dalil yang ada. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa orang tua Nabi termasuk Ahli Fatrah, yaitu orang-orang yang hidup di masa kekosongan rasul (sebelum Nabi Muhammad diutus) dan tidak sampai kepada mereka dakwah yang benar. Berdasarkan firman Allah, seseorang tidak akan diazab sebelum ada Rasul yang diutus kepada mereka.

Ketika Wahabi Gagal Paham

Wahabi: Apa dalil Anda berpendapat bahwa ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga?

Sunni: Dalil kami beberapa ayat al-Qur’an al-Karim. Menurut Ahlussunnah Wal-Jamaah (Aswaja), seandainya hukum syara’ atau rasul tidak datang, maka manusia tidak wajib beriman kepada Allah dan tidak wajib mensyukuri nikmat-Nya.

Ahlussunnah Wal-Jamaah berdalil dengan beberapa ayat dalam al-Qur’an:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS al-Isra’ : 15).

ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. (QS al-An’am : 131).

وَلَوْلا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin". (QS al-Qashash : 47).

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (QS Thaha : 134).

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ، أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. (QS al-An’am : 155-156).

وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلا لَهَا مُنْذِرُونَ، ذِكْرَى وَمَا كُنَّا ظَالِمِينَ

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan. Untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (QS al-Syu’ara’ : 208-209).

Ayat-ayat di atas memberikan pengertian, bahwa Allah tidak akan mengazab kepada orang-orang, sebelum datang seorang rasul yang membawa syariat kepada mereka. Berdasarkan ayat-ayat di atas para ulama Ahlussunnah Wal-Jamaah sepakat bahwa sebelum datangnya seorang rasul, orang yang melakukan kemaksiatan dan kekafiran tidak akan diazab oleh Allah.

Berdarkan ayat-ayat tersebut, para ulama memberikan kesimpulan, bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk orang yang selamat di akhirat. Karena status mereka berdua sebagai ahlul-fatrah, yaitu orang-orang yang jauh dari informasi rasul sebelumnya dan tidak mengikuti masa kerasulan berikutnya. Pendekatan ini dianggap konsep yang paling kuat sebagai dalil bahwa kedua orang tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selamat di akhirat.

Silahkan kalau Anda tidak setuju, bantah pendapat para ulama di atas!

Wahabi: Kami jelas tidak bisa membantah terhadap dalil-dalil yang kuat di atas. Tetapi kami punya satu dalil, dari hadits shahih dalam riwayat Muslim sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ»، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ.

Dari Anas, “Seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, ayahku ada di mana?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di neraka.” Setelah laki-laki itu berpaling, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ayahku dan ayahmu di neraka.” Hadits riwayat Muslim [347].

Dalam hadits di atas, ada penjelasan bahwa ayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayah laki-laki yang bertanya tersebut masuk neraka.

Sunni: Berarti Anda tidak menjawab terhadap dalil-dalil ulama kami yang sangat kokoh dan kuat. Anda justru mengeluarkan dalil lain sebagai dalil pendapat Anda.

Menghadapi hadits yang Anda kemukakan, para ulama memberikan beberapa jawaban:

Pertama, hadits tersebut hadits ahad (diriwayatkan melalui satu jalur) yang bersifat zhanni (persumtif), dan bukan qath’iy. Sedangkan ayat-ayat al-Qur’an di atas sifatnya qath’iy (definitif) dan dipastikan benar. Karena itu, dengan sendirinya hadits ini menjadi gugur karena berlawanan dengan dalil yang lebih kuat dan qath’iy.

Kedua, hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari. Beberapa hadits yang hanya diriwayatkan oleh Muslim, terdapat kejanggalan dan menjadi perbincangan para ulama, antara lain hadits di atas.

Ketiga, sanad hadits di atas, melalui jalur Hammad bin Salamah, seorang perawi yang menjadi pembicaraan para ulama tentang hapalannya. Dalam haditsnya, banyak terjadi kejanggalan. Menurut para ulama, kejanggalan tersebut terjadi karena anak tirinya menyisipkan hadits-hadits yang janggal dalam catatan-catatannya. 

Sementara Hammad sendiri tidak hapal terhadap catatan-catatan tersebut. Ia menyampaikan hadits melalui catatannya, sehingga terjadi kekeliruan. Oleh karena itu al-Bukhari tidak meriwayatkan sama sekali hadits-haditsnya. Sementara Imam Muslim meriwayatkan hadits melalui Hammad hanya melalui jalur gurunya Tsabit al-Bunani dalam hadits-hadits yang pokok.

Keempat, redaksi hadits di atas, yang di antara isinya, “Ayahku dan ayahmu di neraka”, tidak disepakati oleh para perawi. Redaksi tersebut adalah redaksi melalui jalur Hammad bin Salamah, dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik. Jalur ini yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Redaksi tersebut berbeda dengan redaksi yang melalui jalur Ma’mar bin Rasyid, dari Tsabit dari Anas bin Malik, yang menggunakan redaksi:

"إِذَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ"

Apabila kamu melewati kuburannya orang kafir, maka sampaikan kabar gembira kepadanya dengan masuk neraka.

Dari segi riwayat, Ma’mar lebih kuat daripada Hammad bin Salamah. Para ulama tidak mempersoalkan hapalannya, haditsnya juga tidak ada yang dianggap janggal, dan al-Bukhari dan Muslim sepakat menerima haditsnya dalam shahihnya. Hal ini berbeda dengan Hammad.

Hadits yang melalui jalur Ma’mar diriwayatkan oleh al-Bazzar, al-Thabarani dan al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Hadits Sa’ad bin Abi Waqqash diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [326], al-Bazzar [1089], al-Baihaqi dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah [1005]. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid juz 1 hlm 118, para perawinya adalah para perawi hadits shahih.

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, seperti dalam redaksi hadits Ma’mar. Hadits Ibnu Umar diriwayatkan oleh Ibnu Majah [1573] dan al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [326]. Al-Hafizh al-Bushiri berkata dalam Zawaid-nya juz 2 hlm 43, sanad hadits ini shahih dan para perawinya orang-orang yang dipercaya.

Dari sini akhirnya dapat diketahui bahwa redaksi pertama dalam riwayat Muslim adalah termasuk hasil pengolahan perawi, yaitu Hammad bin Salamah, yang meriwayatkan hadits tersebut dengan maknanya sesuai dengan pemahamannya.

Sedangkan redaksi asalnya, adalah seperti dalam riwayat Ma’mar. Hadits shahih apabila bertentangan dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat, maka hadits tersebut harus dita’wil dan mendahulukan dalil-dalil lain yang lebih kuat, sebagaimana dalam ushul al-fiqih.

Wahabi: Hujjah Anda sangat kuat sekali. Padahal hadits di atas diriwayatkan oleh Shahih Muslim.

Sunni: Anda hanya tahu nama Shahih Muslim, tetapi tidak pernah mengetahui sejauh mana pengamalan para ulama terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim?

Wahabi: Apakah hadits-hadits dalam Shahih Muslim tidak diterima oleh para ulama? Ulama yang mana?

Sunni: Kamu tahunya hanya nama Shahih Muslim. Hadits-hadits yang kamu dengar ustadz-ustadz kamu dari Shahih Muslim hanya dua, yaitu semua bid’ah adalah sesat dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk neraka. Padahal hadits-hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim yang tidak diamalkan oleh para ulama itu banyak sekali.

Wahabi: Contohnya apa saja?

Sunni: Saya ambilkan beberapa contoh saja.

Pertama, dalam al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, bahwa dua orang yang melakukan transaksi jual beli itu boleh memilih meneruskan akad atau membatalkan, selama mereka belum berpisah dari tempat transaksi tersebut. Ini yang disebut dengan khiyar majlis. Sementara para ulama madzhab Maliki tidak menerima dan tidak mengamalkan hadits tersebut.

Kedua, dalam al-Bukhari dan Muslim, jilatan anjing harus dibasuh sebanyak tujuh kali. Madzhab Hanafi tidak mengharuskan membasuh tujuh kali.

Ketiga, dalam al-Bukhari dan Muslim adalah larangan mendahulukan puasa menjelang Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari. Madzhab Hanbali justru membolehkan berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Ini hanya tiga contoh saja. Yang tidak disebutkan di sini jelas lebih banyak. Anda harus tahu, bahwa Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Murid dari Ibnu Taimiyah) menolak keshahihan beberapa hadits dalam Shahih Muslim. Dan ulama panutan Anda, yaitu al-Albani lebih banyak lagi menolak keshahihan beberapa hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Wahabi: Saya jadi bingung kalau begitu.

Sunni: Wahabi seperti Anda pasti galau dan bingung karena memang gagal paham terhadap banyak persoalan agama, tetapi merasa paling benar, paling memahami dan paling konsisten terhadap sunnah. 

Wallahu a’lam.
Lihat, Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi juz 2 hlm 402-444.

Lansia Berhak Hidup Bahagia


Dr. Hideki Wada, seorang psikiater berusia 61 tahun yang ahli dalam kesehatan mental LANSIA, baru-baru ini menerbitkan buku berjudul “Tembok Berusia 80 Tahun.” Begitu buku ini diluncurkan, penjualannya langsung meledak—lebih dari 500.000 eksemplar terjual, dan diprediksi akan menembus 1 juta kopi. 

Buku ini kemungkinan besar akan menjadi buku terlaris di Jepang tahun ini.
Berikut ini 44 pesan bijak dari Dr. Wada yang patut dibaca dan dibagikan, terutama kepada orang tua tercinta:

1. Tetaplah berjalan setiap hari, walau pelan-pelan.
2. Saat kesal, tarik napas panjang dan tenangkan diri.
3. Lakukan gerakan ringan agar tubuh tidak kaku.
4. Kalau pakai AC di musim panas, perbanyak minum air.
5. Jangan malu pakai popok jika perlu - justru itu mem bantu kita lebih bebas bergerak.
6. Banyak mengunyah bikin otak dan tubuh lebih aktif.
7. Lupa bukan karena usia, tapi karena otak jarang dipakai.
8. Tidak semua masalah harus diatasi dengan banyak obat.
9. Jangan terlalu memaksa menurunkan tekanan darah dan gula darah.
10. Sendiri bukan berarti kesepian, bisa jadi itu waktu bersantai
11. Malas-malasan itu wajar, apalagi kalau memang lelah.
12. Kalau sudah tidak bisa nyetir aman, lebih baik berhenti daripada celaka.
13. Lakukan hal yang kamu sukai, hindari yang bikin stres.
14. Umur boleh tua, tapi keinginan alami tetap bisa dirasakan.
15. Jangan cuma diam di rumah - cari udara segar dan lihat dunia luar.
16. Makanlah yang kamu suka, asal tidak berlebihan. Sedikit gemuk tidak apa-apa.
17. Lakukan segala hal dengan perlahan dan hati-hati.
18. Jauhi orang yang membuatmu merasa tidak nyaman.
19. Kurangi waktu di depan TV dan HP.
20. Kadang lebih baik berdamai dengan penyakit daripada memaksakan sembuh.
21. "Selalu ada jalan" - kalimat ini bisa jadi kekuatan saat kita merasa buntu.
22. Makan buah dan sayur segar itu penting.
23. Mandi tidak perlu lama-lama, cukup 10 menit.
24. Kalau tidak bisa tidur, jangan dipaksakan.
25. Hal-hal yang bikin hati bahagia bisa menjaga otak tetap aktif.
26. Jangan terlalu memendam, katakan saja apa yang ingin dikatakan.
27. Cari dokter keluarga yang kamu percaya sejak dini.
28. Tidak perlu selalu mengalah. Kadang jadi “orang tua nakal” itu sehat.
29. Tidak apa-apa kalau kadang pendapat kita berubah.
30. Demensia di akhir hidup bisa jadi cara Tuhan membuat kita tenang.
31. Kalau berhenti belajar, kita cepat menua.
32. Tidak perlu kejar kehormatan - yang ada saat ini sudah cukup.
33. Kepolosan itu keistimewaan orang tua.
34. Hidup kadang merepotkan, tapi justru itu yang membuatnya menarik.
35. Berjemur di bawah matahari bisa bikin hati senang.
36. Berbuat baik pada orang lain itu membawa kebaikan juga buat kita.
37. Jalani hari ini dengan santai.
38. Punya keinginan itu pertanda kita masih hidup dan punya semangat.
39. Selalu berpikir positif.
40. Tarik napas dengan lega, hidup tak perlu diburu-buru.
41. Kamu yang menentukan bagaimana kamu ingin menjalani hidupmu.
42. Terima segala hal yang terjadi dengan hati tenang.
43. Orang yang ceria biasanya disukai banyak orang.
44. Senyuman bisa membawa banyak berkah.

Silakan bagikan pesan ini kepada semua ORANG TUA dan LANSIA yang Anda kenal.

Karena mereka berhak untuk hidup bahagia, sehat, dan menikmati masa tuanya dengan damai. 

Salam Sehat Selalu 

Senin, 09 Maret 2026

Melanggengkan Dimensi Spiritual Tasawuf


Tasawuf atau sufisme, adalah cabang ilmu dalam Islam yang menekankan penyucian jiwa, pembersihan hati dari hawa nafsu, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dimensi spiritual dan batiniah, bukan sekadar ritual lahiriah.

Jenis-Jenis Tasawuf: Para ahli membagi tasawuf menjadi beberapa jenis utama berdasarkan pendekatan dan perkembangannya.

Berikut pembagian yang umum:

• Tasawuf Akhlaki: Berfokus pada pembentukan moralitas dan akhlak mulia melalui penyucian hati dari sifat tercela, seperti menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menyebutnya sebagai pemurnian hati lewat taubat dan ikhlas.

• Tasawuf Amali: Menekankan praktik zikir, khalwat (sendirian), dan riyadhah (latihan spiritual) untuk mengendalikan nafsu dan mendekati ridha Allah.

• Tasawuf Falsafi: Menggabungkan tasawuf dengan pemikiran filsafat rasional tentang Tuhan, manusia, dan hubungan keduanya, sering dikembangkan oleh sufi-filsuf.

Apakah Tasawuf atau Sufisme Diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Jawabannya: Tasawuf atau sufisme sebagai istilah belum ada pada masa Nabi, tetapi substansi atau hakikat tasawuf jelas diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk memahami hal ini, ada dua hal penting yang perlu dibedakan:

1. Tasawuf sebagai istilah: Kata “tasawuf” belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Ia mulai populer beberapa abad kemudian ketika para ulama menamai perjalanan spiritual mendalam seorang Muslim dengan istilah tersebut.
Jadi, istilahnya memang tidak diajarkan oleh Nabi.

2. Tasawuf sebagai praktik (substansi)

Walaupun istilahnya belum ada, ajaran-ajaran inti tasawuf justru berasal dari Rasulullah SAW. Inilah yang disebut sebagai hakikat tasawuf.

Berikut unsur-unsur tasawuf yang diajarkan Nabi:

a. Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs): Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Rasulullah mempraktikkannya melalui: memperbanyak istighfar, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati dari sombong, riya’, iri, dan dengki. Ini adalah inti tasawuf.

b. Kehadiran hati dan muraqabah: Rasulullah SAW bersabda ketika menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Konsep ihsan inilah yang menjadi fondasi tasawuf: kesadaran batin bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabah).

c. Zuhud, qana’ah, dan sederhana:Rasulullah hidup: sederhana, tidak bergantung pada dunia, tetapi tetap bekerja dan berusaha. Ini identik dengan nilai-nilai tasawuf.

d. Dzikir dan kedekatan spiritual: Nabi SAW mengajarkan berbagai bentuk dzikir: 
dzikir pagi-sore, dzikir setelah salat, istighfar, tahlil, tahmid, takbir, tasbih. Para sufi kemudian mengembangkan disiplin dzikir ini sebagai jalan penyucian hati.

e. Muhasabah dan introspeksi: Nabi bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya.” (HR. Tirmidzi). Inilah praktik inti tasawuf: memeriksa hati dan memperbaiki diri.

Kesimpulan Utama:

➤ Tasawuf sebagai istilah: tidak diajarkan Nabi.

➤ Tasawuf sebagai inti ajaran spiritual (ihsan, tazkiyah, dzikrullah): jelas diajarkan Nabi dan menjadi bagian dari Islam.

Para ulama hanya memberi nama “tasawuf” untuk disiplin ilmu yang berisi nilai-nilai: penyucian hati, kedekatan dengan Allah, akhlak mulia, pengendalian nafsu,
hidup sederhana, dzikrullah. Semua itu bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
Kapan tasawuf mulai dikenal, siapa yang memunculkannya, serta siapa yang membawa tasawuf ke Indonesia dan kapan?

1. Sejak Kapan Tasawuf Mulai Dikenal? Tasawuf mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriah (± abad ke-8 Masehi).

Pada masa Nabi dan para sahabat: belum ada istilah tasawuf, tetapi praktik kesalehan batin, zuhud, dan penyucian jiwa sudah ada.

Setelah masa sahabat, umat Islam mulai menghadapi kemewahan dunia dan ekspansi kekuasaan. Sejumlah ulama yang cinta akhirat kemudian menekankan kehidupan sederhana dan fokus hati kepada Allah. Dari sinilah muncul gerakan zuhud yang menjadi cikal-bakal tasawuf.

2. Siapa yang Pertama Kali Memunculkan Tasawuf? Tidak ada satu tokoh tunggal yang “menemukan” tasawuf. Ia tumbuh secara alami dari ajaran Islam. Namun, tokoh-tokoh generasi awal yang dianggap sebagai pelopor tasawuf klasik antara lain:

a. Hasan al-Bashri (642–728 M / abad 1–2 H), ulama besar dari Basrah. Menekankan zuhud, tawakal, dan takut kepada Allah. Sering dianggap sebagai peletak dasar ajaran tasawuf.

b. Rabi’ah al-Adawiyah (w. 801 M) Tokoh terkenal dari Basrah. Memperkenalkan konsep mahabbah (cinta murni kepada Allah). Memberi warna spiritual yang sangat kuat dalam dunia tasawuf.

c. Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Fudhail bin Iyadh. Tokoh-tokoh zuhud abad 2 Hijriah.

d. Junaid al-Baghdadi (w. 910 M), disebut “Imam Kaum Sufi”. Merumuskan tasawuf secara ilmiah dan seimbang antara syariat dan hakikat.
Setelah abad ke-3 H, tasawuf berkembang menjadi disiplin ilmu yang lebih sistematis dan melahirkan banyak tarekat besar.

3. Siapa yang Membawa Tasawuf ke Indonesia? Kapan? 

Tasawuf masuk ke Nusantara melalui para ulama dan pedagang sufi dari: Arab, Persia, India (Gujarat), dan Yaman. Ini terjadi pada periode abad 13–16 M, meskipun pengaruh awal mungkin sudah muncul sejak abad 11–12 M.

Tokoh-tokoh yang membawa tasawuf ke Nusantara:

a. Syekh Ismail dari Arab (abad ke-13 M)
Disebut sebagai salah satu ulama awal yang mengajarkan Islam bercorak tasawuf di Samudera Pasai.

b. Hamzah Fansuri (abad ke-16 M)
Tokoh sufi pertama dari Nusantara yang meninggalkan karya tertulis. Membawa ajaran tasawuf falsafi.

c. Syamsuddin as-Sumatrani
Pengganti Hamzah Fansuri. Menguatkan tasawuf falsafi di kerajaan Aceh.

d. Nuruddin ar-Raniri (abad ke-17 M). Sufi dari Hadhramaut (Yaman). Membawa tasawuf sunni (asy’ari & syafi’i). Mengoreksi ajaran tasawuf falsafi sebelumnya.

e. Walisongo (abad 15–16 M).
Walisongo adalah penyebar Islam di Jawa yang sangat kuat dengan metode tasawuf: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, dan lainnya. Mereka menggunakan pendekatan: akhlak, budaya, simbol, dakwah bil-hikmah, yang berakar pada metode tasawuf.

4. Kapan Tasawuf Tersebar Luas di Indonesia? Pada era Walisongo (abad 15–16 M), tasawuf menjadi inti dakwah Islam di Jawa dan kemudian tersebar ke seluruh Nusantara. 

Tasawuf mudah diterima masyarakat karena: lembut, menekankan akhlak, menghargai budaya lokal, cocok dengan spiritualitas masyarakat Nusantara.
(Sharing: Muchtar AF)

Minggu, 08 Maret 2026

Boneka di Atalase Kaca


Di etalase kaca, boneka berpakaian sutra
Matanya porselen, rambutnya ikal sempurna
Sementara di luar, jemari kecil mengelap kaca
Napasnya membeku, membentuk gumpalan asap yang luka

Di meja panjang, hidangan berlapis porselen
Aroma truffle bersaing dengan saus barbeque lenyap dalam sekejap
Sementara di dapur belakang, seorang ibu memilah tulang
Mengais sisa, untuk anaknya yang menunggu di gubuk bambu lapuk

Di koridor kampus, laptop terbaru berderet rapi
Diskusi tentang startup dan go public bergemuruh riuh
Sementara di bawah jembatan, kardus basah jadi atap
Seorang kakek mengajar cucunya membaca
dengan cahaya lampu tol yang kedap-kedip

Tuhan, apakah Engkau sengaja menciptakan dua jenis tangan?
Satu untuk menandatangani kontrak, satu untuk mengais nasi?
Atau kami yang lupa bahwa semua jemari ini
kelak akan kembali menjadi tanah
yang sama dinginnya?

Di negeri ini,
ada yang sibuk menghitung untung
ada yang sibuk menghitung utang
ada yang bingung memilih menu makan malam
ada yang bingung apakah hari ini akan makan...

Keadilan seperti burung aneh
katanya ada, tapi jarang hinggap
dan ketika hinggap
ia lebih suka di bahu yang wangi
daripada di bahu yang luka dan perih

Maka jika kau temui puisi ini
di sela-sela waktu luangmu
jangan kau hapus air mata di pipiku
tapi ajari aku caranya
membagi roti dan mimpi
tanpa harus menunggu malaikat turun
membawa timbangan yang adil.
(KGM/Ramadhan/2026)

Sabtu, 07 Maret 2026

Ramadhan Mengajarkan Sifat Muraqabah



Bismillahhirrohmannirrohhiim*
Assalammualaikum warohmatullohi wabarokaatuh


Pengantar AI: Muraqabah adalah sikap mental atau kesadaran hati seorang Muslim yang senantiasa merasa diawasi, dilihat, dan didampingi oleh Allah SWT dalam segala situasi, baik lahir maupun batin. Ini adalah prinsip akhlak dan ajaran tasawuf yang menghasilkan sifat ihsan (beribadah seakan melihat Allah atau yakin dilihat-Nya), mendorong kehati-hatian dalam bertindak, serta menjauhkan diri dari maksiat.

Ibadah shaum Ramadhan mengajarkan kita memiliki sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah. Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan tidak berani makan dan minum atau memperturutkan syahwatnya meski sedang berada di tempat yang sepi, tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya. Kenapa demikian? Karena ia merasa diawasi oleh Allah.

Terkait dengan Muraqabah ini Allah berfirman :

Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur'an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya." (QS. Yunus :61)

Muraqabah sangat penting dalam kehidupan setiap muslim. Muraqabah akan menjadikan kita senantiasa hati-hati dalam berbuat karena kita selalu merasa diawasi oleh Allah dalam seluruh gerak langkah kita.

Seorang muslim yang memiliki sifat muraqabah tidak akan berani melanggar perintah Allah, meski sedang menyendiri. Sebaliknya jika tidak ada sifat muraqabah dalam diri, maka kita akan serampangan dalam berbuat, tidak lagi memperdulikan halal dan haram, akibatnya akan terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan.

Muraqabah akan menghantarkan diri shaaimin dan shaaimat pada ketaqwaan. Karena salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah berhati-hati dalam berbuat.
Sudahkah shaum kita menjadikan kita selalu merasa diawasi oleh Allah? Sudahkah shaum kita menjadikan kita selalu waspada?

Semoga shaum kita tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Tapi juga bisa menjadikan kita orang yang bertaqwa. Yaitu orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. 
Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Aalamiin...

Rabu, 04 Maret 2026

Sorak Sorai Menjijikan Kaum wahabi Sang Khawarij Modern


Pengantar AI: Istilah "Khawarij Modern" merujuk pada kelompok radikal atau ekstremis kontemporer yang mengadopsi ideologi kaum Khawarij klasik (kelompok yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib). Kelompok ini sering dikaitkan dengan aksi terorisme dan ekstremisme karena pola pikir mereka yang menyimpang. Ciri-ciri dan karakteristik Khawarij Modern yang dianggap menyimpang dan berbahaya yakni berlebih-lebihan dalam memvonis kafir sesama kaum Muslimin yang tidak sepaham, bahkan menghalalkan darah mereka. Mereka menghalalkan tumpahnya darah kaum Muslimin yang menyelisihi akidah mereka. Kelompok ini sering melakukan tindakan teror, pembunuhan, dan kerusakan di muka bumi.

​Dunia Islam hari ini sedang mempertontonkan sebuah drama yang memuakkan. Di satu sisi, kita melihat penghormatan bagi mereka yang gugur di garis depan perlawanan. Di sisi lain, kita menyaksikan patologi mental kaum Salafi-Wahabi yang merayakan kematian sesama Muslim dengan pekik kegirangan yang menjijikkan. Inilah wajah asli sebuah ideologi yang mengaku paling "Sunnah". Namun sungguh jiwanya telah lama bertransformasi menjadi Khawarij abad ke-21.

​1. Reinkarnasi Pedang Ibnu Muljam

​Sejarah seolah berulang dalam naskah yang sama. Dahulu, kaum Khawarij bersuka cita ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek tubuh suci Khalifah Ali bin Abi Thalib karramallahu\wajhah. Hari ini, mentalitas itu diwarisi dengan setia oleh kaum Salafi-Wahabi. Saat umat Islam yang waras merundukkan kepala, berduka atas gugurnya sosok seperti Sayyid Ali Khamenei atau para pejuang yang berdiri membela tanah airnya, kaum ini justru berpesta di atas darah.

​Mereka adalah "uswah" dalam merawat benci. Mereka mendoktrin permusuhan seolah memiliki dendam pribadi selama 16 abad, padahal mereka hanyalah pion yang dipaksa membenci demi kepentingan politik yang mereka sendiri tidak pahami.

​2. Standar Ganda yang Menghamba pada Zionis

​Ada ironi yang membakar nalar: Bagaimana mungkin kelompok yang begitu fasih mengafirkan sesama Muslim, tiba-tiba menjadi begitu tumpul dan bungkam terhadap agenda Zionis?

​Ke Iran: Lidah mereka tajam, penuh caci maki, dan vonis sesat.
​Ke Zionis: Mereka mendadak "bijak", bicara soal perdamaian, dan tunduk pada agenda normalisasi "tuan" mereka.

​Ini bukan lagi soal akidah, ini adalah pelacuran intelektual. Mereka sibuk menyisir kesalahan saudara seagama, sementara di belakang layar, mereka secara sukarela menjadi tameng gratis bagi Israel dengan cara memecah belah kekuatan umat melalui sentimen sektarian yang overdosis.

​3. Syahwat Mengkafirkan: Dari NU hingga Muhammadiyah

​Daftar "dosa" dalam catatan mereka sangatlah panjang. Tidak hanya Syiah yang menjadi sasaran; NU dianggap firqah dhallah (golongan sesat), Muhammadiyah disebut menyimpang, dan Jamaah Tabligh di-tahdzir.

​Benar apa yang disindir KH Hasyim Muzadi: jika mereka datang, bukan hanya amaliyah yang hilang, tapi masjidnya pun ikut diklaim. Mereka membangun tembok eksklusivitas, merasa memegang kunci surga sendirian, sementara nubuat Nabi Muhammad SAW tentang kaum yang "bacaan Al-Qur'annya hanya sampai kerongkongan" tampak nyata pada wajah-wajah mereka yang kering dari empati.

​4. Puncak Hilangnya Kemanusiaan

​Gugur di medan tempur adalah kemewahan sejarah yang hanya diberikan pada mereka yang berani melawan penindasan. Sementara itu, mencela dan menyesatkan adalah "sunnah" Khawarij yang diadopsi dengan bangga oleh kaum Salafi.

​Merayakan kematian seorang pemimpin Muslim yang sedang berjuang melawan hegemoni adalah bukti bahwa agama di tangan mereka telah berubah menjadi ideologi kebencian yang gersang. Jika agama tidak lagi menyisakan rasa duka atas hilangnya nyawa pejuang, maka yang tersisa hanyalah cangkang kosong tanpa makna.

​Kesimpulan: Memilih Sisi Sejarah

Dunia Islam sedang berduka, namun kaum yang "merasa paling Sunnah" justru sedang berpesta di ketiak agenda Zionis. Kita harus sadar bahwa mereka hanyalah "rambut yang tercerabut dari tepung"—keluar dari esensi Islam karena kegemaran mengkafirkan sesama. Jangan biarkan warisan kebencian ini menghancurkan rumah besar umat Islam.

Senin, 02 Maret 2026

Ketika Kesabaran Bagai Sebuah Dongeng


Di negeri tempat fajar terbenam,
Kutemukan jejak terbalik pada langkah.

Anak-anak muda menangis, merintih diam...
Sementara yang tua tertawa renyah dalam resah.

Di sini, akal budi dienyahkan,
Yang lantang bersuara, dialah pemegang pedang menjadi pemenang.

Kebenaran telah digadaikan pada kepalsuan,
Dan cinta diam-diam dikhianati dengan penuh kemunafikan.

Waktu berjalan mundur lalu menghunjam masa berlalu,
Kenangan indah bagai sejumput bayangan di masa depan.

Kita pun berlari dengan tubuh sungsang,
Mengejar sesuatu yang telah terkubur masa silam.

Sungguh keadilan di negeri ini bagai fatamorgana,
Dekat di mata, jauh dari hati nurani.

Yang bersalah bebas berlenggang,
Yang benar memikul beban.

Tuhan, adakah ini ujian atau hukuman?
Saat dunia terbalik dalam tafsir makna.

Di mana doa terucap tanpa keimanan,
Dan kesabaran hanya menjadi cerita
Bagai sebuah dongeng.

Namun di sela sungsang yang membingungkan,
Kutemukan butir hikmah yang tersembunyi:
Bahwa dalam kacaunya poros kehidupan,
MencariMu adalah satu-satunya cara tegak berdiri.

Maka biar dunia terus berpaling arah,
Aku akan berjalan dengan kakiku sendiri.
Berpegang padaMu, di tengah kisah
Kehidupan sungsang yang penuh makna.
(kgm/kigempurmudharat/awal maret2026)

Minggu, 01 Maret 2026

Pandangan Kelliru Mengenai Tasawuf


Pengantar: Beberapa pandangan keliru yang sering muncul mengenai tasawuf antara lain:
  • Tasawuf Terlepas dari Syariat: Anggapan bahwa seorang sufi tidak lagi terikat oleh aturan fiqih atau ibadah lahiriah jika sudah mencapai tingkatan spiritual tertentu. Faktanya, ulama seperti Al-Ghazali menekankan bahwa tasawuf adalah pelengkap batiniah bagi syariat.
  • Hanya Fokus pada Akhirat (Pasif Sosial): Pandangan keliru bahwa tasawuf mengajarkan pengasingan diri total (uzlah) dan pengabaian terhadap urusan duniawi serta tanggung jawab sosial.
  • Dianggap Ajaran Bid'ah atau Sesat: Kritik yang menyatakan tasawuf bukan bagian dari ajaran Islam asli atau merusak akidah. Padahal, banyak pakar menyatakan dasar-dasar tasawuf (penyucian jiwa) bersumber langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Identik dengan Hal Mistis atau Klenik: Pemahaman sempit yang hanya mengaitkan tasawuf dengan kesaktian, ramalan, atau fenomena supranatural, alih-alih fokus pada perbaikan akhlak dan kedekatan dengan Allah.
  • Pandangan Orientalis: Beberapa peneliti Barat sering kali mencoba memisahkan tasawuf dari akar Islamnya dan mengaitkannya dengan pengaruh filsafat Yunani atau Neo-Platonisme secara berlebihan.
Korelasi Syariat dan Makrifat

Wacana tentang hubungan antara Syariat dan Makrifat adalah diskusi klasik namun sangat fundamental dalam dunia tasawuf (sufisme) dan pemikiran Islam secara umum.

Jawaban singkatnya adalah: Benar, dalam perspektif Islam yang utuh dan seimbang, Syariat dan Makrifat tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu koin, atau seperti tubuh dan ruh.

Berikut penjelasan lebih mendalam mengenai mengapa keduanya tak terpisahkan:

1. Syariat adalah "Kulit" dan Makrifat adalah "Isi"

Para sufi besar, seperti Imam Al-Ghazali atau Jalaluddin Rumi, sering menggunakan analogi ini.

· Syariat adalah aturan lahiriah, hukum, ibadah formal (seperti shalat, puasa, zakat), dan muamalah yang mengatur kehidupan seorang Muslim. Ini adalah fondasi, kerangka, dan jalan (secara harfiah, syariat berarti jalan menuju sumber air).

· Makrifat adalah pengetahuan mendalam tentang Tuhan yang diperoleh melalui penyucian jiwa, pengalaman spiritual, dan perasaan dekat dengan-Nya. Ini adalah inti, tujuan, dan hakikat dari menjalani jalan tersebut.

Mengapa tak bisa dipisahkan?

Jika hanya fokus pada Syariat tanpa Makrifat, ibadah bisa menjadi kering, formalitas belaka, dan kehilangan ruh atau esensinya. Seseorang bisa shalat tetapi hatinya lalai. Sebaliknya, jika hanya mengklaim Makrifat tanpa menjalankan Syariat, klaim tersebut akan menjadi palsu dan sesat. Tidak mungkin seseorang mencapai makrifat (mengenal Allah) sambil meninggalkan perintah-Nya. Rumi berkata, "Syariat seperti lilin, makrifat adalah cahayanya."

2. Landasan Teologis dan Historis

Pemisahan antara Syariat dan Makrifat seringkali menjadi celah kritik terhadap oknum sufi yang ghuluw (ekstrem). Namun, para sufi otentik selalu menekankan bahwa Makrifat harus berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.

· Peristiwa Isra Mi'raj: Perjalanan Nabi Muhammad SAW sering dijadikan simbol. Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha) adalah puncak makrifat, tetapi itu terjadi setelah Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha), dan Nabi tetap menjalankan syariat setelahnya. Ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tertinggi tidak membuat seseorang lepas dari tuntunan syariat.

· Pernyataan Ulama: Imam Junayd Al-Baghdadi, pemimpin para sufi, berkata, "Semua ma'rifah (pengetahuan tentang Tuhan) yang tidak dikuatkan dengan Al-Qur'an dan Sunnah adalah bid'ah (sesat)."

3. Analogi Tangga Menuju Puncak

Untuk mencapai puncak makrifat, seseorang harus menaiki anak tangga. Anak tangga itu adalah syariat.

· Syariat: Anak tangga. Jika tidak menaikinya, tidak akan pernah sampai ke puncak.
· Tarekat: Proses menaiki tangga. Usaha dan perjalanan spiritual.
· Hakikat: Kondisi di puncak tangga, di mana pemandangan (makrifat) terbuka luas.

Tanpa anak tangga (syariat), mustahil seseorang bisa berdiri di puncak (makrifat). Memaksakan diri untuk "meloncat" langsung ke puncak hanya akan membuatnya jatuh.

4. Peringatan untuk Tidak Memisahkan

Dalam sejarah pemikiran Islam, ada dua kelompok ekstrem yang dikritik:
1. Kaum Formalist: Kelompok yang hanya fokus pada kulit syariat, menghakimi orang lain berdasarkan teks, tetapi hatinya keras, tidak memiliki kelembutan, dan jauh dari esensi ibadah.

2. Kaum Pseudo-Sufi: Kelompok yang mengaku telah mencapai makrifat sehingga merasa bebas dari kewajiban syariat. Mereka berkata, "Aku sudah sampai, sehingga shalat tidak lagi wajib bagiku." Ini adalah kesesatan yang nyata dan ditolak oleh ijma' (konsensus) ulama.

Kesimpulan

Ya, sangat benar bahwa syariat dan makrifat tidak bisa dipisahkan.

· Syariat tanpa makrifat = jasad tanpa ruh. Ibadahnya sah secara hukum, tapi mungkin hampa secara spiritual.

· Makrifat tanpa syariat = ruh tanpa jasad. Klaimnya tinggi, tapi tak terbukti dalam amal nyata, dan bisa jatuh ke dalam kesesatan.

Seorang Muslim yang ideal adalah yang menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya (lahiriahnya bersih) seraya berusaha menghadirkan makrifat dalam setiap ibadahnya (batinnya terhubung dengan Allah). Wallahu a'lam bish-shawab.

Ketika Amal Tak Jadi Sandaran


Ikhlas dalam kacamata sufi bukan sekadar niat baik di awal amal, melainkan sebuah kondisi spiritual yang sangat dalam dan menjadi inti perjalanan menuju Allah. Para sufi memandang ikhlas sebagai pembersihan hati dari segala sesuatu selain Allah ketika beramal.

Berikut adalah penjelasan bagaimana ikhlas menurut kacamata tasawuf:

1. Ikhlas adalah "Tajrid" (Memurnikan) Motif

Dalam pandangan sufi, amal perbuatan ibarat sebuah bejana. Yang dimasukkan ke dalam bejana itu bisa jadi madu (ketaatan), tetapi jika tercampur setetes racun (riya', ujub, atau mengharap pujian makhluk), maka madu itu menjadi rusak.

Imam Al-Qusyairi, seorang ulama sufi besar, mendefinisikan ikhlas sebagai:
"Mengesakan Allah dalam ketaatan dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Artinya, seorang hamba tidak bermaksud dengan ketaatannya untuk mencari penghormatan manusia, atau mencari kedudukan di sisi mereka, atau mencari pujian, atau mencari sesuatu selain Allah."

Jadi, ikhlas adalah memastikan bahwa satu-satunya "penggerak" amal adalah perintah Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya, bukan dorongan duniawi.

2. Tingkatan Ikhlas: Dari Awam ke Khawas

Para sufi membagi ikhlas dalam beberapa tingkatan, yang mencerminkan kedalaman spiritual seseorang:

· Ikhlasnya Orang Awam (Ikhlas Al-'Awam): Beramal karena ingin mendapatkan pahala dan surga, serta takut akan siksa neraka. Ini adalah ikhlas tingkat dasar, tetapi tetap terpuji. Dalam istilah sufi, ini disebut 'ubudiyyah (penghambaan karena imbalan).

· Ikhlasnya Orang Khusus (Ikhlas Al-Khawas): Beramal karena merasa malu kepada Allah dan karena Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak disembah. 
Motivasinya adalah rasa syukur dan cinta. Mereka beribadah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena Allah adalah Tujuan tertinggi. Ini disebut 'ubudah (penghambaan karena kemuliaan Allah).

· Ikhlasnya Orang yang Paling Khusus (Ikhlas Khawas Al-Khawas): Pada tingkatan ini, seorang hamba bahkan tidak lagi "merasa" ikhlas. Jika ia merasa ikhlas, maka itu bisa menjadi "penyakit" baru (al-ihlās bi al-ikhlās). Mereka tenggelam dalam menyaksikan kebesaran Allah, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk memikirkan keikhlasan dirinya sendiri. Semua adalah kehendak dan anugerah Allah semata.

3. Musuh Utama Ikhlas: As-Sirr (Sisi Tersembunyi Hati)

Menurut sufi, musuh ikhlas bukan hanya riya' (pamer) yang jelas, tetapi juga hal-hal halus yang tersembunyi di dalam hati, seperti:

· As-Sirr (Rahasia): Yaitu rasa bangga terhadap amal ibadah sendiri. Ketika seseorang bisa shalat malam, ia merasa hebat. Inilah yang disebut 'ujub (kagum pada diri sendiri). Para sufi sangat waspada terhadap penyakit ini, karena ia membatalkan keikhlasan secara halus.

· Syirik Khafi (Syirik Tersembunyi): Rasulullah menyebutnya lebih samar dari semut hitam di atas batu hitam di malam gelap. Ini adalah kecenderungan hati untuk mencari perhatian makhluk.

4. Metode Mencapai Ikhlas (Mujahadah)

Bagaimana cara mencapai ikhlas versi sufi? Mereka menekankan perlunya mujahadah (kesungguhan) dan riyadhah (latihan spiritual):

· Memperbanyak Diam dan Mengasingkan Hati: Untuk mengurangi ketergantungan pada penilaian manusia.

· Menyembunyikan Amal (Takhfi): Sebagaimana para salaf yang bersedekah hingga tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan tangan kiri, para sufi melatih diri untuk menyembunyikan kebaikan. Jika bisa diam-diam, mengapa harus terang-terangan?

· Muhasabah (Introspeksi): Senantiasa mengoreksi motif di balik setiap tindakan. "Mengapa saya melakukan ini? Untuk siapa?"

5. Ikhlas sebagai Puncak Spiritual

Pada akhirnya, ikhlas dalam tasawuf adalah kondisi di mana seorang hamba (yang disebut mukhlish) telah mencapai tahap tauhid yang murni. Ia menyadari bahwa dirinya dan amalnya adalah ciptaan Allah. Ia tidak punya apa-apa, sehingga tidak pantas untuk dibanggakan. Amal shaleh pun ia pandang sebagai anugerah dari Allah, bukan hasil jerih payahnya.

Dalam kondisi ini, terwujudlah makna firman Allah:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 

Ikhlas menurut kacamata sufi adalah kondisi hati yang terbebas dari "virus" makhluk dan diri sendiri, sehingga hanya Allah yang menjadi satu-satunya tujuan, motivasi, dan pengharapan dalam setiap hembusan napas dan gerak kehidupan.
Wallahu'alam

Mensyukuri Rahmat Allah

Bismilahirahmanirahim Asalamumualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh, Mensyukuri rahmat Allah adalah bentuk pengakuan tulus atas segala karunia ...