Minggu, 15 Januari 2012

Sepakbola Eksekutif (Episode Imajiner-5)



Babak II pertandingan sepakbola eksekutif Sekar Vs Manajemen segera dimulai. Gemuruh tepuk tangan penonton sempat membuat daun2 berguguran. Teriakan2 histeris dipadu dengan koor terompet tahun baru semakin menyemarakan suasana lapangan Learning Center Gegerkalong, yang kalau tak ada kegiatan sungguh sepi bagai di kuburan. Beberapa penonton yang tidak kebagian tempat terpaksa harus menikmati pertandingan ini dari atas pohon. Bahkan tampak ada ibu2 yang nekad naik ke atas pohon untuk sekedar memberikan support pada kedua tim.

Para pemain pun mulai nongol dari tempat persembunyiannya. Tim Manajemen muncul dipimpin kiper Eddy K diikuti Rinaldi sebagai striker sekaligus kapten kesebelasan. Dibelakangnya tampak enam pemain penggempur lainnya yakni: Ermady, Nyoman, Bobby, Rudiantara, Faisal dan Sudiro yang langsung menempati posisi di sekitar gawang Sekar. Sementara tiga pemain lainnya Arief, Prasetyo dan Indra, menempati posisi lapangan tengah.

Sementara dari tim Sekar dipimpin Asep Kusnadi sebagai kiper diikuti Wisnu sebagai kapten kesebelasan. Dibelakangnya ada Asmul, Dedy, Rusman, Muhlis, Rono, Teguh, Candra, Mahfudin dan Nana. Semuanya tampak cengar cengir dengan senyum direnyah-renyahin yang boleh jadi cukup menggoda ibu2 yang mau pada pensiun. Seperti biasa tim Sekar langsung membentengi gawang kecuali Nana yang sendirian berada di lapangan tengah.

Wasit Ipung mulai meniup terompetnya pertanda pertandingan segera dimulai. Namun wasit lupa membawa bola dan minta pada panitia agar diberikan bola. Panitia pun kebingungan karena merasa tidak diberikan tanggung jawab ngurus si kulit sapi bulat itu. Wasit Ipung mulai nunjuk2 ke tempat istirahat. Yang maksudnya mungkin: “Cepet lari ke tempat istirahat mungkin bolanya ketinggalan disana~!!”. Tapi ternyata disana pun bola tak jelas juntrungannya.

Pertandingan terhenti. Pengamat bola, Januar, melalui sound system mengimbau seluruh penonton agar mencari si kulit bundar. Penonton sangat responsif dan mulai sibuk mencari bola yang hanya satu2nya itu kesana-kemari. Sudah seperempat jam menunggu dan mencari tapi tetep saja ntu bola tak juga menunjukkan batang kulitnya. Wasit Ipung bingung sambil berpegang dagu.

Atang salah seorang penonton mengusulkan bagaimana kalo bola diganti saja dengan buah duren. Soalnya kebetulan dirinya baru pulang dari Tasik bawa buah duren persis segede bola. Wasit mulai mempertimbangkan usul cerdas itu dan memanggil kapten kedua tim. Terjadilah kompromi serius berikut ini.

Ipung: “Wasweswas...weswis wiswus...weswes wosswoss..ochey?”
Rinaldi : “Husshass...hesshiss hoosheesss...hiiissshuusss....how?”
Wisnu : “Wakwekwokk...wesswiisss....hesshisshuss...wekwikwwukkk....sip toch?”
Ipung : “Wasswesswosss...thumb!!!”
Rinaldi : “Hisshesshuss...ochey3”

Akhirnya pertandingan pun dilanjutkan dan disepakati dengan menggunakan bola dari buah duren. Penonton sangat senang karena pertandingan akan semakin seru dan pastinya akan lebih mencekam donk. Sementara panitia sibuk nelpon rumah sakit agar segera dikirim ambulance.++++N425

Pesan moral: "Tak ada rotan akar pun jadi. Pribahasa ini dapat dimanfaatkan dalam situasi apapun dan ketika berada dimana pun."