Minggu, 05 Februari 2012

Karamah Sebagai Sunnatullah


(Analisis Philosopy Tasawuf/Sufistme) 
Perjalan sejarah tercatat bahwa 14 abad lamanya, telah tumbuh dalam kalangan Islam suatu pandangan hidup yang amat berpengaruh yaitu gerakan tasawuf atau sufisme.  Pola hidup kesufian ini muncul ketika kultur budaya Islam mulai melenceng dari pola hidup Islami, dimana pola hidup kaum muslimin mengarah kepada sikap mementingkan materi dan akal semata-mata. Setelah mereka berhasil meraih kepentingan duniawi, mulailah mereka meninggalkan kepentingan akhirat, sebaliknya, maka kaum sufisme saman itu hidup dalam keadaan cenderung mementingkan kepentingan  akhirat. Dengan demikian, maka kaum sufisme datang kemudiaan menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan kepentingan akhirat.
Pandangan sufi dahulu dengan sekarang tentu telah mengalami perubahan yang sangat tajam. Dimana pandangan kaum sufi terdahulu terlalu menitipkan aspek batiniah dan mengabaikan kepentingan jasmaniah, membenci kemewahan dan mencintai pola hidup yang pakir. Sedangkan pola hidup sufisme sekarang ini sama sekali tidak membelakangi aspek keduniawian, melainkan menyeimbangkan antara keduanya. Terbukti kehidupan Sufi/Wali sekarang ini mempunyai istri, keturunan, rumah, menjadi ilmuan/intelektual, menjadi pengusaha dan membaur dengan masyarakat luas.  
Ada hal menarik yang perlu kita simak yaitu “urgensi ke-Wali-an”. Apa makna Wali itu. Untuk mengenal makna Wali, ada dua titik pandang: Pertama Wali ber-wazan fa’iil, bentuk mubalaghah dari faa’il, seperti ‘aliim, qadiir, dan yang sejenisnya. Makna terminologinya adalah: Orang yang senantiasa berkompeten dalam ketaatannya, tanpa dicelahi oleh kemaksiatan. Para Wali selalu memiliki ketergantungan hasrat atas keselamatan makhluk; menjaga perasaan agar tidak menimbulkan dendam mereka; membatasi tangannya untuk mendapatkan harta sesama; meninggalkan ketamakan dari berbagai arah terhadap apa yang menjadi milikik mereka; mengekang ucapan mengenai keburukan-keburukan mereka; menjaga diri dari penyaksian terhadap kejelekan-kejelekan mereka; dan tidak pernah mencaci terhadap siapa pun.
Kedua, bisa jadi bentuk fa’iil bermakna maf’uul, seperti qatiil bermakna maqtuul, dan jariih bermakna majruuh. Jadi Wali berarti orang yang dilindungi oleh Allah SWT. dengan menjaga dan membentenginya untuk selalu langgeng dan terus menerus dalam ketaatan. Maka, bagi Wali tidak dihiasi akhlak kehinaan yang merupakan takdir kemaksiatan, tetapi Allah melanggengkan Taufiq-Nya yang merupakan takdir ketaatan kepada-Nya.  Allah SWT. berfirman:

“Dan Dia melindungi orang-orang yang saleh”
Pertanyaan apakah Wali itu terjaga dari dosa (ma’sum) ?. Wali tidak harus bersyarat ma’sum, sebagaimana para Nabi. Namun bahwa Wali harus menjaga diri (mahfudz) agar tidak terus menerus melakukan dosa, apabila tergelincir atau salah, maka sifat menjaga diri itu memang tidak menghalangi untuk menjadi identitasnya. 
Al-Junayd ditanya, “Apakah orang yang ‘arif pernah berzina?” Lalu Junayd tertunduk sejenak, kemudian mengangkat kepalanya sembari membacakan ayat, “Dan adalah ketetapan Allah SWT itu, suatu ketetapan yang pasti berlaku.”  Bila ditanyakan, “Apakah rasa takut itu gugur dalam diri para Wali?”. Dijawab, “Pada umumnya, para Wali besar, rasa takut itu telah gugur. Dan apa yang kami katakan, jika rasa takut itu ada, amat jarang sekali terjadi, dan hal itu tidak menghalanginya.” 
As-Sary-Saqathy berkata, “Bila salah seorang memasuki kebun yang penuh dengan pohon-pohon lebat, masing-masing pohon itu ada burungnya, lantas burung itu mengucapkan salam dengan bahasa yang jelas, “Assalamu ‘alaikum wahai Allah, ‘jika sang Wali tadi tidak takut bahwa salam burung itu sebagai tipudaya, maka sebenarnya ia benar-benar tertipu.” 
Sehubunagn dengan itu, fenomena sosial saat ini, di kalangan para ilmuan pun telah tumbuh kesadaran dan semangat spiritual dengan berbagai penamaan kajian; seperti munculnya missi pencerahan qalbu, manejmen qalbu, dan renungan kerohanian dan lain-lain. Sudah  dapat kita menyaksikan berbagai tayangan di layar TV dan berbagai media lainnya. Nampak bahwa para intelektual muslim sudah mengalami perubahan pola pikir dan pandangan keber-ilmuan, mereka cenderung memperhatikan dan menekuni kajian-kajian tasawuf/sufisme. Dan bahkan di negara-negara maju sekalipun sudah memiliki kesadaran yang mendalam tentang kerentangan dan kegersangan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Akibat dari kegersangan intelektual mereka, sudah banyak dikalangan mereka (non Islam) yang tertarik mengkaji nilai-nilai spiritualisme dalam Islam (tasawuf). 
Di dunia yang ilmu pengetahuannya begitu maju sekalipun banyak yang rentang, sementara semangat spiritual ke-Walian sejak jaman dahulu hingga hari ini ridak pernah rentang oleh segala zaman. Di antara bagian karamah-karamah Wali itu, antara lain dia mengetahui jaminan rasa aman dari akibat-akibat yang terjadi. Dan akibat-akibat tersebut tidak merubah kondisi ruhaninya. Akhirnya peradan Islam akan menjadi era spiritual yang sipatnya mengarah kepada pendalaman ilmu pengetahuan yang empirik dan sekaligus ilmu yang kalbiah. Dan dengan sendirinya ilmu yang diperoleh adalah ilmu pengetahuan yang tercerahkan. Maka terciptalah pola zikir dan pola pikir yang sudah lama populer di kalangan masyarakat umum, walaupun masih sebatas wacana.
  
Pengertian Tasawuf/Sufisme 
Menurut bahasa (etimologi) kata tasawuf/sufime  adalah berasal dari kata sufi yang terambil dari kata sebagai berikut:
A.    Sebagian para sufi diberi nama sufi karena kesucian (safa) hati mereka dan kebersihan tindakan mereka (athar). Jelaslah bahwa tubuh secara keseluruhan mengalami pembaharuan dan semua sikap ditingkatkan oleh kesucian dan ketulusan hati. Tersingkapnya rahasia ketuhanan sepenuhnya tergantung kepada kesucian batin.
B.    Sufi disebut sufi hanya karena mereka berada dibaris pertama (shaff) di depan Allah SWT., melalui pengangkatan keinginan mereka kepada-Nya, dan tetapnya kerahasiaan mereka di hadapan-Nya.
C.    Ashab al-Suffah yang hidup pada masa Nabi. Yang cenderung meninggalkan kehidupan dunia dan segala kepentingannya.
D.    Sufi karena kebiasaan mereka mengenakan kain wol. 

Secara (terminologi) adalah nama sufi berlaku pada pria atau wanita yang telah mensucikan hatinya dengan mengingat Allah SWT. (dzikrullah), menempuh jalan kembali pada Allah, dan sampai pada pengetahuan hakiki (ma’rifah). Ada banyak pencari hikmah dan kebenaran, akan tetapi hanya orang-orang yang sadar yang mencari Allah SWT. semata yang pantang disebut sufi. Sebaliknya, orang yang pantas disebut nama itu justru tidak pernah memandang dirinya berhak mendapatkan kehormatan itu. Karena dia telah sampai pada tingkatan tertinggi dalam pengetahuan tentang Allah SWT. maka dia tahu dengan yakin dan pasti bahwa “hamba tetaplah hamba dan Tuhan tetaplah Tuhan”.  
Kata tasawuf dalam bagian ini disamaartikan dengan sufisme, sedangkan pengertian Tasawuf; ialah pengetahuan tentang diri. Ini berdasarkan ajaran Nabi Muhammad Saw. Di Barat tasawuf dikenal dengan istilah sufisme atau mistisisme Islam. Tasawuf adalah pencapaian karakter mulia melalui penyucian hati. Tasawuf adalah adab. Seseorang yang tergerak untuk mencapai pengetahuan tentang Allah Saw. adalah disebut mutashawwif. Orang yang telah tersucikan, yang telah menempuh jalan spiritual dari diri rendah ke diri tinggi disebut Sufi.  
Syekh Abdul Qadir Jailani mengartikan tasawuf dari empat huruf yaitu Ta’, Shad, Waw dan Fa’. Huruf Ta’ berarti Taubat yakni langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah SWT. Taubat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu zahir dan batin. Langkah zahir dalam bertaubat dilakukan melalui perkataan, perbuatan dan perasaan, yaitu dengan cara membersihkan diri dari dosa dan noda,  lebih banyak mentaati perintah Allah SWT, berniat dan berbuat sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Dan semua ini tidak akan berlaku tanpa terlebih dahulu muncul sifat khauf (takut) dan raja’ (harapan) dalam diri orang yang menjalani tasawuf. 
Sedangkan taubat ruhani atau taubat batin peranannya ada di dalam hati. Peranannya adalah membersihkan dan mensucikan hati dari keinginan-keinginan duniawi yang diimbangi dengan kesungguhan serta penuh harap untuk mencapai dan mengenal Allah SWT.

Pokok Pikiran dalam Tasawuf/Sufisme
Dalam Islam terdapat tiga pilar utama dan saling terkait; yakni Islam, Iman dan Ihsan. Pandangan penganut tarekat Naqsyabandiah sufisme tidak bisa terpisahkan dari Islam, Iman dan Ihsan. Islam dipelajari pada kitab fiqhi, Iman dipelajari pada kitab hadis, dan Ihsan dipelajari pada kitab tasawuf, atau sufisme. Iman menjadi fondasi keberagamaan, Islam menjadi aturan atau norma kehidupan menjadi pula lalu lintas, dan Ihsan menjadi implikasi dari keduanya. Jadi Iman, Islam dan Ihsan, kelihatannya seperti tidak saling berhubungan, namun sesungguhnya ketiga hal itu hanyalah satu secara hakiki (hakekat).  Dan Ihsan menjadi buah dari dua aspek terpenting tersebut (Islam dan Iman).
Ihsan digambarkan oleh Rasulullah Saw. sebagai suatu keadaan dimana seorang hamba pada saat melaksanakan perintah Allah SWT. seakan-akan melihat diri-Nya. Dan kalaupun tidak melihat Dia, maka yakinlah bahwa Dia melihat dirimu. Berarti kehadiran Allah SWT. dikala itu adalah menjadi suatu kewajiban bagi-Nya. Faktor paling penting untuk bersikap dan berperilaku ialah menjaga ingatan kepada Allah SWT. Dalam hal ini penghayatan terhadap segala fenomena alam sebagai bentuk wujud perenungan atas hakekat ciptaan Allah SWT. Itulah tingkat kesadaran manusia paling tinggi. 
Pandangan di atas menolak pendapat kelempok-kelompok pertapa dan kelompok faqr di India ya ng terlalu mementingkan aspek batiniah lalu rela membunuh  kepentingan aspek lahiriah. Seperti mengorbankan diri untuk tidak menikah, mengurung diri, berpuasa terus menerus dan semacamnya. Tindakan itu dilakukan hanya ingin mencari kepuasan batin semata, namun menempuh cara yang salah.
Hidup manusia sebagai hamba harus menjalankan sunnah dan segala perintah Allah SWT. lainnya, berzikir secara terus menerus untuk menjalin hubungan baik dengan Allah SWT. harus terjalin dengan segala bentuk perbuatan manusia. Olehnya itu memperkecil kemungkinan seseorang untuk berbuat salah. Dan sekalipun terjerumus kedalam perbuatan yang salah (dosa), tetapi karena selalu berzikir dan bertobat, maka kesalahan itu bisa saja tidak berkepanjangan dalam waktu yang lama.
Sebagaimana pandangan seorang guru Tarekat Naqsyabandiyah hasil wawancara bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi khalifah di bumi oleh karena ia memiliki kudrah (kekuatan), iradah (kehendak), sama’ (pendengaran), bashirah (penglihatan), qalam (ucapan), ilm (pengetahuan), hayat (hidup). Asal muasal semua ini adalah milik Allah SWT. yang dititipkan kepada manusia (hamba-Nya). Berarti manusia memiliki asal muasal yang sama sekali tidak boleh ia lupakan, dan apabila terjadi kelupaan maka akan turun bencana pada dirinya. Untuk itu zikir adalah saranah mengingat, dengan zikir yang tidak pernah putus maka menjadikan manusia itu sebagai khalifah fil ard  (pemimpin dimuka bumi). 
Adapun potensi kekhalifaan manusia adalah dengan adanya unsur-unsur Tuhan (lahut Allah) pada diri manusia berupa nur Ilahi, terjadi hubungan karena adanya potensi manusia melalui unsur nasut manusia yang disebut nurun ala nurin yang termuat pada unsur qalbiah dan dilengkapi dengan unsur jasadiah; dalam hal ini potensi berpikir dan potensi berzikir yang dilengkapi pula berbagai macam panca indra lainnya. 
Unsur nasut manusia yaitu ruhnya yang tiada lain adalah atas kehendak mutlak Allah SWT. dalam firman-Nya “Jika kamu Muhammad ditanya tentang ruhmu, maka katakanlah bahwa ruh itu adalah urusan Tuhanku, kamu tidak mengetahui kecuali hanya sedikit sekali”. Pernyataan Allah ini memberikan ultimatum bagi manusia agar jangan sombong dan lupa diri sebab dirinya tidaklah berarti apa-apa bila bukan karena berkat Allah jua semata.
Dilain sisi Allah SWT. dalam penekanan-Nya pada ayat yang lain Dia mempertegas kepada manusia sebuah jaminan akan kedekatannya, sebagaimana Firman-Nya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memeatuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Dilain ayat Allah berfirman;  “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri”

Implementasi Tasawuf/Sufisme 
Rasul dalam hadis Qudsi bahwa: “Barang siapa yang memusuhi seseorang kekasih-Ku, Aku telah mengumumkan perang padanya. Tidak ada cara bertaqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Ku-sukai melainkan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Ku-fardukan kepadanya. Namun senantiasa hamba-Ku itu berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunat, sehingga Aku pun mencintai (mengasihinya). Apabila ia telah Ku-cintai (kasihi), Aku menjadi alat pendengarannya yang dengannya ia mendengar, alat penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Aku akan melindunginya. Dan tak pernah Aku ragu-ragu pada sesuatu di saat Aku akan melakukannya, seperti ragu-Ku untuk mengambil jiwa orang Mu’min yang enggan mati, sedang Aku tidak suka mengganggunya. 
a.    Implementasi pada ilmu pengetahuan. 
Penelitian yang dilakukan menemukan suatu indikasi bahwa ilmu pengetahuan mesti memiliki hubungan atau persentuhan yang dalam dengan tasawuf/sufisme. Ini berarti bahwa tasawuf/sufisme tidak bisa melepaskan diri dari ilmu pengetahuan dan sebaliknya ilmu pengetahuan harus pula menghubungkan dirinya dengan tasawuf/sufisme dalam artian harus dinafasi dengan nilai-nilai tasawuf/sufisme. 
Dengan demikian menolak adanya anggapan bahwa ilmu pengetahuan (sains) bertentangan dengan tasawuf/sufisme. Meskipun sering ada pendapat atau anggapan (image) dari non muslim bahwa seseorang yang mendalami tasawuf/sufisme atau menjadi sufi ia sudah membelakangi dunia (materi) dan ilmu pengetahuan. Pendapat ini mendapat penolakan yang tajam oleh kalangan penganut tareqat/sufisme.  
Dalam pandangan ini bahwa ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi nilai-nilai spiritualisme Islam “tasawuf/sufisme”, ilmu pengetahaun itu senantiasa rentang oleh segala zaman, dan teori-teorinya dapat ditumbangkan oleh teori-teori yang lahir kemudian. Contoh; teori evolusi Darwin yang berlian berapa masa, kebenaran pendapatnya kembali dipertanyakan oleh teori-teori yang muncul kemudian.

b.    Implementasi pada Perilaku (Aspek Ihsan).
Ilmu tasawuf (sufisme) adalah salah satu ilmu pendukung untuk terwujudnya manusia yang berkualitas dan memiliki akhlakul karimah. Tentu dengan melalui pembinaan seorang guru yang kharismatik melalui metodenya tersendiri yaitu bertarap khalifa, Mursyid, Jo Guru yang berkapasitas waliyah warasatul anbiyah, dan memiliki ahli silsilah yang bertalian hingga ke Rasulullah Saw. Sebagai murid harus patuh menjalani aturan dan konsisten pada maqam dan latihan-latihan kerohanian yang berlaku dalam tareqat, seperti; harus dengan tulus dan ikhlas untuk datang belajar sehingga ilmu yang dituntut dengan mudah diperoleh. 
Pertama harus bertobat, menyadari sepenuhnya semua kelakuan jelek yang telah diperbuat dan bertekad meninggalkannya secara sungguh-sungguh. Seorang murid tidak boleh menjalani maqam secara terpisah-pisah hingga mencapai ma’rifatullah.  Dunia disimpan dalam tanganmu jangan disimpan dalam hatimu. Anggaplah sebagai pelengkap jangan dibuang, dengan falsafah seorang guru tareqat “menanam padi boleh jadi juga tumbuh rumput, tetapi menanam rumput tidak mungkin tumbuh padi”. Kunci dalam hidup ialah berzikir terus menerus tidak boleh terputus, sebagaimana hakekat shalat ialah ketaatan yang intinya adalah zikir, sehingga dianjurkan jangan meninggalkan tempat shalatnya sebelum melaksanakan zikir.
 Setiap murid, yang di dalam hatinya masih tersisa kepentingan harta dunia, maka meraih harta tersebut diperbolehkan. Tetapi bila dalam hatinya masih ada ikhtiar terhadap hal-hal yang keluar dari hartanya, kemudian ia berharap agar bisa mengkhususkan dari harta itu untuk kebaikan, berarti si murid itu telah memaksa dirinya. Lebih bahaya lagi bila ia kembali secepatnya kepada dunia. Sebab tujuan murid adalah membuang ketergantungan (selain Allah SWT.,) yaitu keluar dari dunia, bukannya berupaya untuk kepentingan amal-amal kebajikan. Sangat tercela, bila murid keluar dari obyek harta dan modalnya, lantas dia sendiri justru menjadi tawanan pekerjaannya. Karena itu seyogyanya dia menyamakan sikapnya, baik harta itu ada ataupun tidak, sampai dirinya tidak terganggu bayang-bayang kemiskinan, tidak membuat orang lain gelisah, walaupun orang lain itu Majusi.
Di antara perilaku murid, hendaknya menjauhkan diri dari penghamba dunia. Bergaul dengan mereka adalah racun yang mematikan. Karena mereka menyerap potensi murid, sedangkan jiwa murid semakin berkurang bersama mereka. Allah SWT. berfirman “Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, dan menuruti hawa nafsunya.”
Orang-orang zuhud mengeluarkan harta dari kantongnya demi taqarrub kepada Allah SWT.  Sedangkan ahli tasawuf mengeluarkan makhluk dan ilmu pengetahuan dari hatinya, untuk melebur dalam hakikat bersama Allah SWT.  Allah SWT. berfirman:
“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan di dalam kehidupan di akhirat.”  Yang dimaksud ayat tersebut adalah mimpi yang baik (ar-Ru’yal Hasanah) yang dilihat oleh seseorang atau diperlihatkan padanya.”
Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud yang berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Mimpi itu datangnya dari Allah SWT. sedangkan mimpin lamunan itu datangnya dari seta.”
Sabdanya pula: “Barangsiapa bermimpi melihat aku, maka dia benar-benar melihatku. Sebab setan tidak bisa menyerupaiku.”  
Makna hadis di atas adalah bahwa yang dimaksudkan adalah mimpi yang benar. Takwilnya juga benar. Sedangkan mimpin seperti itu merupakan bagian dari karamah. Perwujudan mimpi itu adalah bisikan jiwa yang masuk dalam hati, dan kondisi-kondisi ruhani yang tergambar dalam imajinasi. Sebab seluruh perasaan tidak tenggelam dalam tidur. Lantas orang menduga seakan-akan ia dalam keadaan terjaga, dan melihat dengan sebenarnya. Padahal itu semua adalah proyeksi atau gambaran yang tertanam dalam hati mereka. Ketika rasa fisik telah hilang dari mereka, yang tertinggal adalah obyek-obyek imajinansi yang diketahui melalui rasa dan bersifat langsung. Kondisi seperti itu sedemikian menguat di benak pemiliknya. Pada saat terjaga kondisi-kondisi tersebut melemah karena terdominasi oleh kondisi-kondisi indrawi yang ada dalam kenyataan, serta munculnya pengetahuan langsung. Contohnya, orang yang disinari oleh lampu di tempat yang gelap gulita. Apabila matahari bersinar terang benderang, cahaya matahari akan mengalahkan cahaya lampu tersebut, sengga cahaya lampu seolah-olah terserap oleh cahaya matahari. 
Kekasih-kekasih Allah SWT. berbeda dengan orang-orang biasa. Perbedaan itu terlihat dari cara mereka bertingkah laku. Ketika pertama kali melakukan perjalan rohani (zuluk) menuju Allah SWT. yakni ketika mereka berada pada tahap awal, tingkah laku mereka tampak seimbang antara yang buruk dengan yang baik. Semakin tinggi zuluk atau kondisi spiritual mereka hingga ke tingkat pertengahan (madya), tingkah laku mereka semakin penuh dengan kebaikan. Kebaikan yang mereka peroleh itu merupakan buah kepatuhan mereka kepada syari’at Allah SWT. dan tentu sesuai dengan peringkat mereka masing-masing. Itulah “Akhlak” dalam kehidupan “Sufi”.  
Untuk mengetahui bahwa seseorang telah mendalami tasawuf/sufisme, nampak pada sikap dan perilakunya. Mungkin ada yang lebih hebat menjelaskan tentang sufisme atau ilmu tasawuf kepada orang lain yang sangat teoritis, tetapi belum pernah merasakan sendiri arti terdalam sufisme itu. Sebab mengetahui sufisme tidak cukup hanya melalui metode membaca, tetapi yang lebih penting ialah mempelajari, menyelami dan mengamalkannya melalui metode-metode yang khusus dan secara konsisten (istiqamah).

Aspek Terpenting dalam Tasawuf/Sufisme


a.  Konsistensi  maqam Tareqat (Istiqamah)
Tasawuf adalah salah satu jalan dari ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah  Rasul dan merupakan ruh (jiwa) Islam, inilah yang disebut aspek terdalam  (esoterik)  Islam. Tujuannya ialah untuk mempertebal iman dan tauhid serta mempertinggi nilai akhlak manusia, terkait dengan sikap dan perilaku seorang murid tareqat yang telah dijelaskan di atas. Hal penting dalam bidang tasawuf adalah pencapaian hakekat ilmu pengetahuan (ma’rifah) bagi kalangan sufi, itu diperoleh dengan daya imajinasi dan intuisi.
 Tetapi peranan intelektual (rasio, indra dan nalar) berfungsi sebagai pendukung demi pengembangan ilmu pengetahuan dunia yang selalu berkembang. Dengan demikian sufisme tidak dianggap kakuh dan terkebelakang, tetapi justru menjadi pengendali atas segala kemajuan dan segala bentuk penyimpangan yang bersifat keduniaan (ubudiyah). Ilmu yang paling tinggi dan murni ialah ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah melalui nubuwah) . Disinilah terjadi persatuan wujud hamba dengan Khalik dalam bentuk rohaniah al-fana’u fillah wal baqa’u billah diartikan persatuan terjadi tetapi diri hamba tetap hamba dan wujud Tuhan tetap Tuhan, dalam hal ini persatuan dalam aspek rasa (batin) bukan yang lain, ini berbeda dengan pandangan Abu Yazid al-Bistami. Peringkat ini dicapai melalui serangkaian maqam sufisme secara teratur, dan zuhud adalah salah satu maqam yang terpenting dalam sufisme dimana seseorang sudah mampu mengendalikan dunianya demi akhiratnya, bukan malah sebaliknya dikendalikan oleh kepentingan dunianya.  
Tawakkal sebagai dimensi sufisme yang paling utama, meskipun harus diawali dengan usaha manusia. Tawakkal diartikan sebagai doktrin kepasrahan, maka tidak boleh seseorang berpasrah lebih dahulu sebelum berusaha, tetapi ditekankan bahwa tawakkal bisa terwujud bila maqam yang lain dapat dilalui secara tekun dan penuh ikhlas. Ikhlas yang sudah ada pada diri kita harus pula dibarengi dengan sipat Tobat yakni dapat menyesali segala perbuatan yang salah yang telah dilakukannya kemudian berjanji didalam hati tidak melakukannya lagi , setelah itu melahirkan sipat wara’ atau senantiasa merasa berkecukupan pada apa yang telah ada dan tidak memiliki sipat ambisi  dalam mengejar yang tidak dan bukan untuk dirinya. Dan maqam sufisme berjumlah 99 tingkatan harus dilalui secara konsisten. 
Untuk itu menjadi sufi tidak segampang membalik telapak tangan, tetapi berupaya dalam hidup hari ini lebih baik ketimbang menunggu hari esok. Dan mempelajari ilmu sufisme tidaklah semudah mempelajari ilmu pengetahuan umum seperti dibangku kuliah. Pertama-tama harus berangkat dari niat ikhlas semata karena Allah SWT. bukan karena ada kepentingan yang lain. Jadi semua maqam sufisme sama pentingnya dalam dunia sufisme, sehingga antara maqam yang satu dengan yang lainnya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan, demikian konsekwensi dalam pengamalan sangat menentukan keberhasilan setiap murid tarekat.  
Apa bila manusia menempuh metode yang telah diamalkan oleh para ulama sufi, maka akan menghasilkan manusia yang berkualitas yang memiliki akhlak yang tinggi yang disebut Insan kamil. Orang sufi dengan refleksinya bisa mengendalikan nafsu lawwama pada dirinya. Kuncinya adalah “istiqamah” selalu menjaga hubungan dengan Allah SWT. terus menerus yang tidak pernah putus, sebab kapan terputus mengingat Allah maka seketika itu bisa melenceng dari perintah-Nya. Dengan lidah yang selalu basah dengan zikrullah dan istiqamah inilah yang merefleksikan keimanan kita. Dan yang paling menentukan ialah aspek batiniah, tapi tidak mematikan aspek lahiriah. Aspek batiniah dan aspek lahiriah harus terpadu hingga sampai pada tujuan yang tinggi “ma’rifatullah”.
Esensi shalat limah waktu yang didirikan oleh seorang hamba Allah SWT. adalah zikrullah dan hakekat zikir adalah do’a dan inti daripada do’a ialah mengingat Allah SWT. logikanya bahwa pelaksanaan shalat wajib bukan hanya pada saat berdiri, ruku, dan sujud saja setelah itu selesai, melainkan menjadi suatu keharusan bagi setiap hamba untuk mengejawantahkan nilai shalatnya itu kedalam segala tindak dan perilakunya secara otomatis, mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

b. Karamah Para Wali
Munculnya karamah bagi para Wali adalah sesuatu yang berkenan. Dalil atas perkenannya: bahwa munculnya karamah tersebut merupakan perkara yang kejadiannya irrasional. Munculnya tidak menghilangkan dasar-dasar principal agama. Maka salah satu Sifat Wajib Allah swt. adalah Al-Qudrat (Kuasa) dalam mewujudkan karamah. Apabila Allah Maha Kuasa mewujudkannya, maka tak satu pun bisa menghalangi kewenangan munculnya karamah tersebut.
Munculnya karamah merupakan tanda dari kebenaran orang yang muncul dalam kondisi ruhaninya. Siapa yang tidak benar, maka kemunculan seperti karamah tersebut tidak diperkenankan. Hal yang menunjukkannya, bahwa defenisi sifat al-Qadim bagi Allah swt. sudah jelas. Sehingga kita bisa membedakan antara orang yang benar dalam kondisi ruhaninya dan orang yang batil dalam menempuh bukti, dalam masalah yang spekulatif. Pembedaan itu tidak bisa dilakukan kecuali melalui keistimewaan Wali. 
Karamah tersebut mengharuskan adanya perbuatan yang kontra adat kebiasaan, pada masa-masa taklif, yang muncul dengan sifat-sifat kewalian dalam pengertian sebenarnya pada kondisi ruhaninya.
Berbagai kalangan ahli hakikat membincangkan adanya perbedaan anatara karamah dengan mu’jizat. Imam Abu Ushaq al-Isfirayainy rahimahullah–berkata, “Mu’jizat merupakan bukti-bukti kebenaran para Nabi. Dan bukti kenabian tidak bisa ditemukan pada selain Nabi. Sebagaimana aksioma akal merupakan bukti bagi ilmuwan yang menunjukkan jatinya sebagai ilmuwan, tidak bisa ditemukan kecuali pada orang yang memiliki ilmu pengetahuan.” Dia juga menegaskan, “Para Wali memiliki karamah, yang serupa dengan terijabahnya doa. Bahwa karamah itu dikategorikan jenis mu’jizat bagi para Nabi, itu tidak benar.”  Karena Mu’jizat para Nabi diwajibkan berdakwah atasnya, sedangkan Para Wali tidak wajib baginya berdakwa atas kekaramahannya.
Secara keseluruhan, bahwa kewenangan munculnya karamah bagi para Wali merupakan hal yang tidak bisa diragukan. Para jumhur ahli ma’rifat juga berpandangan demikian, disamping banyaknya hadis dan hikayat yang menjelaskannya, sehingga pengetahuan atas kebolehan munculnya karamah tersebut sebagai pengetahuan yang kuat yang tidak bisa diragukan. Hal-hal yang muncul dari kaum Sufi dan hikayatnya dikenal banyak orang, apalagi kisah-kisah mereka, sama sekali tidak meninggalkan keraguan secara global.
Bila ditanyakan, “bagaimana diperbolehkan menampakkan karamah-karamah tambahan ini dari segi makna-maknanya, di tas mu’jizat-mu’jizat para Rasul? Bolehkah mengutamakan para Wali ketimbang para Nabi-semoga allah swt. melimpahkan salam-Nya?”
Jawabnya, “Karamah-karamah tersebut bertemu dengan mu’jizat Nabi kita Muhammad saw. Sebab setiap orang yang tidak benar Islamnya, karamahnya tidak akan muncul. Setiap Nabi yang salah satu di anatara umatnya muncul karamahnya, maka karamah itu tergolong mu’jizat Nabi tersebut. Sebab kalau tidak karena kebenaran Rasul tersebut, karamah tidak akan muncul dari pengikutnya. 
Abu Yazid al-Bistamy ditanya mengenai masalah ini, jawabanya “Perumpamaan yang diperoleh para Nabi-semoga Allah swt. melimpahkan salam kepada mereka- ibarat tempat air (geriba) yang didalamnya ada madunya. Madu tersebut menetes satu tetesan. Satu tetes itu, sepadan dengan apa yang ada pada seluruh para Wali. Sedangkan geribahnya adalah ibarat Nabi kita Muhammad saw.”

Berikut kita mengulas beberapa contoh karamah di bawah ini:
Karamah yang disebut dalam al-Quran.
1). Al-Quran banyak menyebutkan contoh soal karamah yang muncul dari para Wali. Diantaranya kisan tentang Maryam as, dan beliau tidak termasuk Nabi atau Rasul:
“Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah swt. menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Hai Maryam, darimana kamu memperoleh (makanan) ini? Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa dikehendaki-Nya tanpa hisab.”  
Di lain surah Allah berfirman “Dan goyanglah pangkal pohon itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”.
2). Kisah Ashabul Kahfi dan sejumlah keajaiban yang muncul, seperti anjing yang berbicara dengan mereka.
3). Kisah Dzulkarnain, dan kompetensi yang diberikan oleh Allah swt. yang tidak diberikan kepada orang lain.
4). Hal-hal yang muncul dari tangan Khidhr as. Yakni perkara-perkara yang berbeda dengan adat kebiasaan, dimana hanya Khidhr yang mampu, sedang beliau bukan Nabi, tetapi Wali.

Karamah yang disebut dalam As-Sunnah
1). Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. yang bersabda, “Tak seorang pun berbicara ketika masih dalam ayunan, kecuali tiga bayi: Isa bin Maryam, bayi di masa Juraij, dan seorang bayi lain”.
2). Hadis tentang gua: Rasulullah saw. bersabda, “Tiga laki-laki dari orang-orang terdahulu sebelum kalian berangkat atau bepergian. Mereka akhirnya harus menginap, dan masuk ke gua. Tiba-tiba ada batu besar dari atas bukit menggelincir, sehingga menutup pintu gua. Mereka berkata, “Demi Allah, kita tidak bisa selamat dari batu besar ini, kecuali bila kita berdoa kepada Allah lantaran amal-amal kita yang salah,’

Salah seorang diantara mereka berkata, ‘Aku mempunyai dua orangtua yang sudah sama-sama tua. Aku tidak pernah minum lebih dahulu, juga keluargaku sebelum keduanya. Suatu hari aku minum lebih dahulu, juga keluargaku sebelum keduanya. Suatu hari aku disibukkan pekerjaan, sampai aku tidak datang di waktu sore. Ketika pulang, keduanya tertidur. Lantas aku membuat susu untuk minuman sore bagi keduanya. Ketika kuhidangkan untuk mereka, ternyata keduanya telah tidur pulas. Aku merasa bersalah jika membangunkan mereka, dan aku tidak ingin meminumnya sebelum keduanya minum. Aku hanya bisa berdiri, sementara tempat minuman ada di tanganku, sambil menunggu bangunnya mereka berdua, hingga fajar hari tiba. Keduanya pun bangun, lalu meminum minuman sore itu.
Ya Allah, bila yang kulakuklan itu semata hanya untuk Diri-Mu, maka bukakanlah kami, dari kesulitan di dalam gua ini.’Lalu batu itu pun bergeser sedikit, namun belum memberi peluang mereka untuk keluar.
Orang kedua berkata, ‘Ya Allah, aku punya adik misan/anak perempuan paman yang paling kucintai. Suatu ketika aku merayu dirinya, namun dia menolak, sampai akhirnya aku sangat sedih selama setahun. Suatu ketika dia datang padaku, dan kuberi seratus duapuluh dinar, dengan syarat ia mau untuk berduaan saja denganku. Maka kamipun berduaan. Ketika aku menguasai dirinya (ingin menyetubuhi), dia berkata, ‘Bagimu tidak halal memecah cincin, kecuali yang berhak.’ Maka aku merasa berdosa untuk menyetubuhinya, dan aku pergi meninggalkannya. Padahal dia adalah gadis yang paling kucintai. Sementara kutinggalkan uang yang telah kuberikan padanya. Ya Allah, bila yang kulakukan itu semata demi Diri-Mu, maka bukakanlah kami dari kesulitan dalam gua ini. ‘Lalu batu itu bergeser lagi, namun mereka masih belum mampu keluar dari pintu gua.

Kemudian orang ketiga berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memperkerjakan para pekerja, kemudian aku telah memberikan upah mereka semuanya, kecuali seseorang di antara mereka, yang pergi begitu saja. Namun upah itu aku simpan dan kukembangkan. Suatu saat dia datang padaku, sambil berkata, ‘Hai Abdullah, mana upahku itu.’ Kujawab, ‘Upahmu itu adalah semua yang kau lihat ini, antara lain unta, kambing, sapi dan budak itu. ‘Dia berkata, ‘Hai Abdullah kamu jangan menghinaku! Aku katakan, ‘Aku tidak menghinamu. ‘Lantas kuceritakan kisahnya, dan akhirnya semuanya diambil dan digiringnya, tidak disisakan sama sekali. Ya Allah, apabila yang kulakukan itu semata demi Diri-Mu, maka bukakanlah kami dari kesulitan dalam gua ini.’ Batu itu bergeser lagi. Mereka pun akhirnya bisa keluar dari gua.”. Hadis ini termasuk hadis shahih yang muttafaq alaih.

Karamah Wali Mursyid 
Yang Maha Mulia Bapanda H.Dermoga Barita Raja. Muhammad Syukur

1). Pada Tahun 2002 bulan Ramadan; di Sulawesi Selatan. Penulis telah memakai dua biji batu yang telah diisi dengan zikrullah untuk mengantarkan kematian seseorang yang sedang  sakratul maut.
2). Pada tahun 2004 bulan Februari; di Batam. Penulis sedang I’tikap (zuluk) menyaksikan seorang teman hamil yang sudah dipastikan Dokter sudah saatnya melahirkan, tapi peraturan bahwa jama’ah yang sedang zuluk tidak boleh bubar sehingga Bapanda H. Dermoga Barita Raja memberika sebiji obat/tablet dan sedikit air minum (air tawajuh), dengan spontan yang bersangkutan  langsung berkata kalau anak dalam kandungannya langsung terasa ada yang menarik naik hingga kembali ke posisi tengah-tengah dan akhirnya sepulu hari lebih ia belum melahirkan.
3). Pada tahun 2004 Maret; di Jakarta Selatan, jln, Pancoran Barat IV. Penulis telah memberi terapi pada seorang ibu yang sedang setrok menjelang 1 tahun lamanya, pertama memberi minum air putih (telah dizikirkan disebut (air tawajuh), kemudian memberikan terapi sebiji batu zikir dan sebiji lagi digenggam oleh dia akhirnya ia meminta ampun tiba-tiba bagian yang sakit menjadi ringan dan bagian yang kaku menjadi lemas dan jalannyapun menjadi biasa dan kaki sudah tidak diseret lagi.
4) Pada tahun 2004 Maret, di Tangerang; penulis bertiga dengan teman dijemput  oleh keluarga orang yang sedang sakit para bahkan sudah dianggap oleh keluarga dan dokter sudah “Sakit Jiwa”, karena ia perempuan maka penulisla yang  menyentuhnya  disaksikan oleh kedua orang tuanya dan keluarga lainnya. Penulis mencoba meletakkan batu zikir di atas dadanya tiba-tiba memerah muka dan bagian badannya, seperti penyakit cacar (sarampa), sedangkan bagian tangan dan kakinya membiru.
    Dari kejadian-kejadian di atas hanyalah merupakan bagian yang sangat kecil dari ke-keramatan yang dimilki oleh Bapak Dermoga Barita Raja. Secara konsekwensi dalam dunia ketarekatan bahwa semua pengamal yang konsistensi dan senantiasa menjaga hadab (etika ketarekatan), tidak melanggara syariat dan selalu menjaga perilaku, maka mereka memiliki berbagai macam potensi pada dirinya, itu adalah janji Allah yang pasti.
    Pada bagian ini penulis ingin mengatakan bahwa betapa pentingnya ilmu tasawuf/sufisme dipelajari dan diamalkan, mesikupun sama sekali bukan karena bermaksud untuk mencari kekeramatan, karena kalau itu yang dimaksudkan maka tidak ada sesuatau yang diperoleh (hampa) belaka. Tetapi beramal karena Allah SWT. semata.
    Ke-kekeramatan pada diri seorang Wali dikenal sejak jaman dulu adanya, dan semua itu terlahir dari sosok pengamal tasawuf/sufisme. Dan bahkan ilmu pengetahuan pun (tasawuf/sufisme) yang ditulis sejak jaman dahulu (klasik) masih dapat kita baca hari ini, contoh Ihya Ulumuddin ditulis oleh Imam al-Ghazali, dan berbagai kitabnya. Risalatul Qusyairy yang ditulis oleh Imam Qusyairy demikian dengan kitab-kitabnya yang lain, dan lain-lain semuanya masih kita dapat membacanya sekarang dan bahkan tidak pernah surut peminatnya. Ini sangat nampak perbedaannya bila dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lain, yang telah ditulis oleh para pemikirnya, dengan segala potensi akalnya, sudah banyak yang tidak bisa diterima secara ilmiah sampai hari ini. Pertanyaannya apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi, ini menarik untuk diteliti oleh kalangan akademisi yang berkecimpung pada bidang keagamaan, atau pada bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. Ini penting untuk memperkaya khazana ilntelektual kita sebagai ilmuan.

Catatan akhirKecenderungan manusia mengenal dan mendekatkan diri pada Allah SWT. termasuk salah satu naluri (tabiat) insan yang perlu terhadap hikmah dan rahmat Allah SWT. yang dirasakan begitu kasih dan sayang terhadap dirinya. Manakala iman dan tauhid telah tertanam kuat dan mendekap mesra dalam kalbu seseorang maka cenderunglah dia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. terus menerus hingga dia merasakan kesedapan iman (halawatul iman) dan kenikmatan spiritual yang tinggi. Perasaan ini membangkitkan cinta dan menggelorakan rindu terhadap Allah SWT. karena Allah SWT. sedemikian dekat. 
Manusia yang demikian ini berusaha dengan penuh ikhlas menempuh jalan (thariqah/zuluk) yang diyakininya dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Manusia yang begitu rindu kepada Allah SWT. yang telah banyak memberikan rahmat dan kasih sayangnya kepada hamba-Nya, bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT. telah merentangkan jalan yang mudah, gampang dan lurus guna mencapai tingkat kerohanian yang tinggi. Jalan tersebut telah ditandaskan dalam Alquran, yaitu harus mencari Wasilah/Jalan/Tareqat.
Sakinah, ketenagan dan kebahagian yang didambakan oleh setiap insan itulah yang diusahakan oleh ahli tasawuf/sufisme sehingga mencapai keridhaan Allah SWT. seperti yang difirmankan oleh Allah SWT. “Hai jiwa yang tenang dan tentram kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai, yaitu masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam sorga-Ku”  
Gambaran di atas jelas bahwa masalah tasawuf/sufisme menitikberatkan pembidangannya kepada masalah rohani/batiniah. Orang yang melaksanakan ajaran agama karena Allah SWT. semata harus terpaut zakir dan batin dan harus berjalan secara simultan bersamaan zahir dan batin. Amalan tasawuf/tareqat tanpa syariat tidak dapat berbekas, sebaliknya amalan syariat tanpa tasawuf/sufisme tidaklah berarti. (Ditulis oleh: Hadarah Rajab)
Daftar Pustaka:
Departemen Agama RI.. Al-Quran dan Terjemahnya.
Syekh Abdul. Qadir al-Jilani; Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilahi al-Abrar. Diterjemahkan dengan judul “Rahasia Sufi”. Cet. I. Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002.
Hadarah Rajab; Akhlak Sufi, Cermin Masa Depan Umat. Cet. I. 2003. Jakarta: Al-Mawardi Prima
_____________; Tesis Penelitian S-2. Makassar: Universitas Muslim Indonesia. 1997
KH. Ali Usman H.A.A. Dahlan. Hadis Qudsi. Cet.I. Bandung: Diponegoro. 1999
Imam al-Qusyairy an-Naisabury; Risalahtul Qusyairiyah. Induk Ilmu Tasawuf. Cet. I. Surabaya: Risalah Gusti. 1997.
Muhammad bin Ismail al-Bukhary; Shahih Bukhary. Juz. IV. Bandung: Maktaba Dahlan. T.th.
Muhammad bin Issa at-Turmidzi; Sunan Turmudzi. Juz. IV. Darul Firkr. 1994
Prof. DR. H. Syekh Kadirun Yahya; Capita Selekta. Tentang Agama Metafisika Ilmu Eksakta. Medan: Universitas Panca Budi. 1981
____________; Syariat Dan Tarekat. Pola Ajaran Dan Amal Agama Islam. Rapat Kerja Nasional BKK. Jakarta: Baitul Amin Sawangan. 1998.