Sabtu, 08 Juni 2013

Ahli Dzikir, Ahli Hikmah dan Ahli Tasawuf

Ketiga istilah ini, ahli dzikir, ahli hikmah dan ahli tasawuf, adalah julukan bagi orang-orang yang sangat mendambakan perjumpaan dengan Tuhannya. Allah Azza wa Jalla pun sangat mencintai mereka. Adakah di antara mereka akan menemukan kesulitan dengan ketiga julukan yang dimilikinya tersebut?

Ahli dzikir, memang bukan ahli hikmah, demikian juga berbeda dengan ahli tasawuf. Akan tetapi, saya mendapati ketiga julukan tersebut dapat berada pada satu orang. Ahli dzikir yang ahli hikmah sangat istiqamah menempuh perjalanan menuju kepada Allah Azza wa Jalla (thariqah).

Ahli dzikir disebut dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 7 sebagai orang yang dijadikan rujukan orang lain untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Kedudukan ahli dzikir ditempatkan sebagai seorang ahli (berpengetahuan).

وما أرسلنا قبلك إلا رجالا نوحي إليهم فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kamu tiada mengetahui” (Q.S. Al-Anbiya : 7).

Allah Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya untuk bertanya kepada ahli dzikir bila tidak mengetahui perkara goib. Pada ayat tersebut, Rasulullah Saaw dikabarkan tentang adanya rasul-rasul sebelum beliau. Sedangkan beliau tidak hadir di zamannya. Perkara yang disebut ayat tersebut termasuk masalah goib.

Dari ayat itu, betapa tinggi derajat ahli dzikir. Tentu saja, maksud dari ayat tersebut bukan bermakna bahwa ahli dzikir berpengetahuan melebihi dari beliau Saaw. Ayat ini hanya untuk mempertegas bahwa para ahli dzikir adalah orang-orang yang telah diberi pengetahuan (Al-Hikmah) oleh Allah tentang hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal.

Allah Yang Maha Pencipta sudah menyampaikan perkataan-Nya di hadapan orang-orang kafir lewat perantaraan Rasul-Nya Saaw. Akankah ketetapan Allah mendatangkan Rasul-Nya Saaw dapat diterima oleh umat manusia sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya? Bukankah telah datang para utusan Allah jauh sebelum hadirnya Baginda Nabi Muhammad Saaw yang menuturkan akan hadirnya seorang manusia pilihan di antara umat manusia?

Allah Yang Maha Pencipta menurunkan ayat-ayat-Nya kepada umat manusia melalui Rasulullah Saaw untuk dijadikan kitab pedoman (petunjuk). Ayat-ayat-Nya telah menceritakan mengenai kehidupan para Nabi dan Rasul-Nya sebelum ayat-ayat-Nya diturunkan melalui beliau yang mulia Saaw. Juga ditegaskan tentang kehidupan umat Rasulullah Saaw baik satu zaman dengan beliau maupun sesudahnya.

Kisah kehidupan sebelum hadirnya Rasulullah Saaw dan sesudahnya adalah perkara goib yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, melainkan dengan keimanan. Orang-orang yang beriman lagi meyakini kebenaran firman Allah, maka tak ada keraguan apa yang telah dikisahkan Al-Qur’an tentang keberadaan mereka (sebelum dan sesudah kehadiran beliau Saaw).

Ayat di atas menunjuk ahli dzikir sebagai orang yang telah dikaruniai oleh Allah pengetahuan goib (perkara-perkara yang sulit ditangkap oleh akal) karena ketulusannya untuk mencintai Allah (dengan berdzikir menyebut asma Allah). Mereka telah ada di saat beliau hadir menjadi Rasulullah dan sesudahnya. Mereka adalah para sahabat Nabi dan umat beliau sesudahnya hingga sekarang.

Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan pengetahuan yang mendalam kepada ahli dzikir. Ahli dzikir yang dianugerahi pengetahuan oleh Allah disebut ahli dzikir yang ahli hikmah.

Al-Hikmah telah ditegaskan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an sebagai anugerah karunia yang banyak (QS. Al-Baqarah : 269). Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana menganugerahkan Al-Hikmahkepada orang-orang yang telah mengikuti kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki oleh Allah untuk orang-orang berakal?

Al-Qur’an ayat 190 – 191 surat Ali Imron menyatakan adanya kehendak Allah Azza wa Jalla dengan mempertegas pemahaman akan tujuan penciptaan langit dan bumi bagi orang-orang berakal. Ditegaskan dalam ayat tersebut mengenai siapakah orang-orang berakal (yang telah menggunakan akalnya) itu?

Allah Yang Maha Bijaksana menyatakan orang-orang berakal (QS. Ali Imron : 190 - 191) adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir(di dalam hatinya, QS. Al-A’raaf : 205, menyebut asma Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya, QS. Al-Ahzab : 41) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (merenungkan) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata di dalam hatinya): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Al-Qur’an telah mengabarkan ahli dzikir sebagai orang beriman yang hatinya tentram (QS. Ar-Ra’du : 28). Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui menentramkan hati ahli dzikir sebagai bukti akan kemahabijaksanaan-Nya. Apa yang telah ditetapkan di dalam ayat-ayat-Nya, maka pasti tidak dapat dirubah. Allah Azza wa Jalla berketetapan demikian untuk menjadi bahan perenungan bagi orang-orang yang berakal.

Pijakan kaum mukmin adalah ayat-ayat-Nya dan juga sabda Nabi-Nya. Bila ada di dalam Al-Qur’an disebutkan berbagai ajakan Allah Yang Maha Mulia, baik ajakan untuk dijalankan terkait dengan perintah-Nya maupun ajakan untuk dijauhkan terkait dengan larangan-Nya, adalah tak terbantahkan untuk diikuti dengan ketundukan dan kepatuhan.

Allah Yang Maha Mulia di beberapa ayat-Nya telah memerintah kaum mukmin untuk berdzikir dengan menyebut asma-Nya (Allah) atau nama mana saja yang diseru (QS. Al-Isra’ : 110), seharusnya tidaklah ditafsirkan dengan berbagai dalih akal untuk mengabaikannya. Allah Maha Mengetahui isi hati orang-orang yang berdalih untuk tidak berdzikir secara istiqamah di dalam hatinya dengan menafsirkan ayat-ayat yang mengajak untuk berdzikir atau mengingat Allah (dengan menyebut Allah) sebagai perintah Allah dalam pengertian yang luas.

Ajakan Allah yang sudah sangat jelas, “Sebutlah nama Tuhanmu di hatimu…” (QS. Al-A’raf : 205), perlukah ditafsirkan dengan ungkapan yang lain selain kalimat Allah yang sudah sangat jelas itu? Sudah tidak patut kaum mukmin berdalih dengan kecerdasan akal menafsirkan untuk tujuan tidak berdzikir di hatinya (menyebut asma Allah).

Karena itu, kaum mukmin yang terlampau pandai berargumentasi dengan akalnya sendiri termasuk kaum mukmin yang tidak diberi petunjuk oleh Allah. Mereka terombang ambing di dalam keangkuhan akalnya sendiri.

Ahli dzikir bukanlah tipikal orang-orang seperti itu. Mereka sangat tunduk dan patuh untuk mengikuti perintah Allah tanpa membantah. Berdalih adalah cara-cara iblis membantah untuk tidak tunduk dan patuh kepada Allah. Ajakan disanggah dengan logika, yang seakan-akan benar persangkaannya, padahal terjebak oleh kecerdikan iblis yang menguasai dirinya. Adakah yang mengetahui kecerdikan iblis dalam berargumentasi terhadap ayat-ayat Allah? Tidak ada yang mengetahui selain karena Allah yang telah mengajarkanya.

Adakah yang mampu memahami ayat-ayat Allah dengan akalnya bila tidak diberinya petunjuk? Akal tidak seperti hati yang telah memperoleh petunjuk. Akal orang-orang Yahudi telah diberi kelebihan oleh Allah Azza wa Jalla, tetapi hatinya terkunci mati. Adakah hati kaum mukmin, setelah diberi petunjuk karena keislamannya (QS Ali Imron : 20), sama seperti hati mereka? Haruskah akalnya yang diunggulkan ketimbang hatinya?

Berbeda dengan ahli dzikir yang meyakininya, para pendusta ayat-ayat Allah (julukan untuk orang-orang yang selalu membantah ayat-ayat Allah) diliputi hatinya oleh rasa was-was, plintat-plintut dalam berbicara, kebimbangan, berbicara tapi hanya lipstik, seperti tahu padahal tidak tahu, suka menghasut, hatinya tidak tenang, suka berpura-pura, sok suci dan lain-lain ketidakkonsistenan antara hatinya dengan perkataan dan perbuatannya.

Ahli dzikir adalah orang-orang yang telah dikaruniai oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana pemahaman yang mendalam (Al-Hikmah) sehingga hatinya kasyaf (tersingkapnya tabir goib dari hatinya atau jiwanya atau dirinya atau ruhnya). Mereka telah diberikan penjelasan tanda-tanda kekuasaan Allah (QS. Al-Baqarah : 118).

Oleh karena itu, ahli dzikir termasuk orang-orang yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS. Al-Maidah : 54). Ahli dzikir yang ahli hikmah telah menerima penjelasan-penjelasan akan kekuasaan Allah untuk dipakai sebagai pegangan dalam perjalanan menuju kepada-Nya.

Kualitas jiwa sangat dipengaruhi oleh keberadaan jiwa itu sendiri. Sekiranya jiwanya kosong dari kerinduan akan perjumpaan dengan Tuhannya, maka si pemilik jiwa tentu tak ada gairah untuk bertemu menjumpai-Nya.

Sebagai rahmat Allah yang tercurahkan ke dalam jiwanya, para ahli dzikr yang ahli hikmah sangat bergairah untuk berjumpa dengan Tuhannya. Mereka begitu yakin akan kebenaran firman-Nya, bahwa Allah hendak menerangkan dan menunjuki jalan-jalan orang sebelumnya (jalan para Nabi dan kaum soleh) dan hendak menerima tobatnya (QS. An-Nisa : 26). Mereka diajak oleh Allah untuk berthariqah.

Ajakan Allah kepada orang-orang yang senantiasa merindukan-Nya (ahli dzikir) menempuh perjalanan menuju kepada-Nya sangat mengundang gairah jiwa untuk melakukannya. Allah pun telah menurunkan pertolongan-Nya melalui pengajaran Al-Hikmah. Ahli dzikir yang ahli hikmah sangat antusias bersegera melakukan perjalanan spiritual menyambut tawaran Allah di dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 110.

Seorang ahli dzikir yang ahli hikmah tidak menyia-nyiakan tawaran yang mulia tersebut. Ada semangat jiwa yang begitu menentramkan seorang ahli dzikir yang ahli hikmah ketika perjalanan tersebut harus segera dimulai. Hanya Dia yang menjadi tujuan yang hendak dituju. Dengan bekal keyakinan akan kasih sayang Allah, mereka pun sangat khidmat melakukan perjalanan tersebut. Ahli dzikir yang ahli hikmah kini telah menjadi seorang ahli tasawuf (para penempuh jalan menuju perjumpaan dengan Tuhannya Azza wa Jalla).
(Ahmad Yuli Yanto/agamahatidanilahi.blogspot.com)