Selasa, 09 Juni 2020

Mana itu spiritual marketing Indihome

*) Secangkir Anggur Merah (Edisi-1)By: Nana Suryana

Pendekatan spiritual tampaknya telah merambah ke setiap denyut sendi kehidupan. Aktivitas spiritual, dalam persepsi masyarakat biasanya diarahkan dalam konteks relijius atau keberagamaan atau untuk membangun komunikasi vertikal dengan Sang Khaliq, Allah Shubhanahu Wa Ta”ala, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun itu jaman kuda gigit besi. Dunia marketing kini sudah semakin maju bung! Kini dikenal istilah baru dengan nama spiritual marketing atau spiritual branding. Wah, istilah ini memang keren ya. Malah kini semakin populer dan diterapkan di lingkungan perusahaan. Misalnya, dalam upaya meningkatkan keterbukaan, kejujuran, kesantunan dan nilai-nilai moral baik lainnya.

Menurut suhu Marketing, Hermawan Kartadjaya, pendekatan spiritual dapat berguna dalam membangun brand. Diyakini tidak hanya sanggup mendongkrak profit, Namun lebih dari itu mampu menebarkan value yang menjamin kelanggengan merek. Bahkan sanggup membentuk diferensiasi yang tak tertandingi. Lalu dimana sesungguhnya efek luar biasanya?

Kisah Pilu Indihome

Apa yang terjadi dengan produk andalan Telkom saat ini, IndiHome? Produk ini, kini tengah berduka. Itu terjadi lantaran dihujani keluhan dari pengguna mereka di berbagai media sosial, terutama Twitter. Banyak pengguna yang mengeluhkan jaringan IndiHome yang sering bermasalah saat work from home (WFH) di tengah pandemic Covid-19.

Apalagi pemerintah telah menerapkan sistem belajar secara online dan bekerja dari rumah, sehingga mengharuskan pengguna memanfaatkan jaringan internet, khususnya Wifi, yang lebih sering dibanding biasanya.

Pada akun @HisyamMhp, misalnya, ia mencuitkan sudah tiga kali jaringan IndiHome terputus saat ia melakukan rapat online bersama rekan kerja. Ia mengatakan kalau sudah empat kali mengajukan komplain dan telah mengikuti instruksi yang diminta pihak IndiHome, tetapi tetap tidak ada perubahan.

Padahal di masa-masa saat ini, masa WFH, hampir segala urusan pekerjaan bergantung sama koneksi internet. Terus kalau koneksi sering macet seperti itu bagaimana? Apalagi saat anteng-antengnya meeting, eh sudah tiga kali koneksi terputus,

Lain lagi kisah pilu di beberapa Apartemen, seperti di Apartemen Kalibata City dan Apartemen Green Pramuka, para pengguna internet lebih memilih GIG Indosat ketimbang IndiHome. Pertimbangnnya, GIG Indosat jaringannya lebih stabil, pelayannya sangat baik dengan harga yang lebih bersahabat. Sementara IndiHome sebaliknya.

Sentuhan Compassion

Keluhan-keluhan pengguna Indihome yang ditumpahkan di media sosial, mestinya dapat segera diselesaikan secara baik. Pemilik merek, Telkom, mestinya tidak sekadar harus memberikan jaminan kepuasan atau hanya mengincar an-sich profitabilitas, melainkan juga harus lah memiliki compassion. Misalnya dengan menunjukkan rasa kasih sayang, rasa iba, dan rasa peduli dalam mengatasi keluhan-keluhan yang terjadi. Baik dari sisi pelayanan, harga dan pendekatan-pendekatan yang lebih menyentuh qolbu.

Menurut Hermawan bahwa pemasaran tidak hanya dalam pengertian the meaning of marketing, melainkan juga dalam pengertian marketing of the meaning. Yang berarti adanya tuntutan agar dunia pemasaran menunjukkan nilainya. Bahwasanya pemasaran tidak hanya produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan mesti pula menonjolkan manfaat spiritual.

Tentu saja bahwa maksud sang suhu, bahwa pendekatan untuk merespon setiap keluhan pengguna produk wajib dilakukan dengan berbasis pada nilai spiritual (jujur, terbuka, santun, dll). Dengan mendasarkan pada nilai-nilai (spiritual), dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang berbeda.
Contoh penerapan spiritual branding seperti yang diterapkan Grameen Bank, yang secara konsisten telah menanamkan nilai kemanusiaan kepada nasabahnya. Begitupun The Body Shop, melalui pemberdayaan para petani lemah sebagai pemasok. Serta Story TBS yang telah sukses mengkampanyekan untuk tidak melukai binatang. Ternyata semuanya telah berhasil mendapat tempat di hati masyarakat dan kastamernya dengan meraih nilai di atas rata-rata.

Lantas mengapa Indihome tidak memanfaatkan momentum Pandemi Covid-19? Padahal momentum ini sangat ideal dalam mengaplikasikan spiritual marketing. Misalnya, bisa bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Tim Penanggulan Covid-19.

Produk-produk yang bernilai spiritual, seperti yang mereka lakukan, terbukti memiliki reputasi tinggi dengan daya saing (diferensiasi) yang sulit tertandingi. Tidak seperti umumnya produk lain yang hanya didorong dan menawarkan added value (nilai lebih) saja. Tapi pendekatan spiritual, telah berhasil mengantarkan merk/produknya dari value menjadi values.

Dengan demikian jika proses kerjanya sudah menggunakan nilai spiritual, maka produk atau jasa yang dihasilkannya pun dengan sendirinya mengandung nilai spiritual. Inilah yang disebutnya sebagai spiritual marketing. Sama halnya dengan konsep VBM (Salah satu buku Hermawan K), bagaimana marketer menyampaikan value dengan values. Sehingga produk/jasa yang dihasilkannya memperlihatkan compassion, mengunggulkan hasrat, mengincar keberlanjutan, dan terlihat sangat berbeda dari produk lain.

Nah, kini bagaimana dengan branding dari berbagai produk Telkom, sudahkah bernuansakan atau membawakan nilai-nilai spiritual? Memang tak mudah untuk menciptakan sebuah brand yang bernilai spiritual. Diperlukan pemahaman dan pemilihan isu yang benar-benar sangat menyentuh nilai kemanusiaan. Diperlukan suatu rancangan atau sebuah Story yang mengacu pada value kemanusiaan kastamer kita.

Beberapa waktu lalu ada kegiatan marketing yang mendompleng pada kegiatan olahraga, seperti Speedy Tour d'Indonesia pada balap sepeda atau Garuda Speedy pada olahraga bola basket. Masih lumayan ada kegiatan seperti ini. Namun sekarang nyaris tak ada kegiatan serupa. Sepi.

Walau sebetulnya masih banyak bidang atau isu lain yang lebih menyentuh. Misalnya, dengan mengangkat isu mengenai polusi udara, narkoba dan aids, pramuka atau lewat seni budaya. Dan yang paling ideal saat ini adalah dengan memanfaatkan sikon Pandemik Covid-19. Bagaimana? Bisa diterima atau lebih memilih masabodoh ajah?....(N425).

Filosofi dibalik Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan ke...