Selasa, 13 April 2021

Nasihat Terkait Hadirnya Bulan Ramadhan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ ......

Ya Rabb, yaa muqalibal qulub...mohon mampukan kami untuk istiqamah dalam kesabaran, mensyukuri atas segala NikmatMU....Ya Rahmaan mohon limpahkan anugerah berkah, rahmat, taufik, hidayah MU, karuniakan kami kesehatan dan lindungilah kami serta kabulkanlah doa2 kami.

امين يا الله يا مجيب السائلين

Bismillah, Washalatu Was Salamu 'ala Rasulillah, ama ba'du...

*NASEHAT TERKAIT DENGAN HADIRNYA BULAN RAMADHAN.*
___________
Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullahu ta'ala


Pertanyaan :
Apa nasehat anda wahai Syaikh, bagi kaum muslimin terkait dengan hadir nya bulan suci Ramadhan ?

Jawaban :
Sudah semestinya bagi setiap muslim untuk memohon kepada Allah agar Allah pertemukan dia dengan bulan Ramadhan.
Dan dia meminta kepada Allah agar Allah mudahkan untuknya dalam menjalani puasanya, shalat tarawihnya, dan beramal kebaikan padanya. Karena inilah kesempatan besar di dalam kehidupan seorang muslim.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa ‘ala ahlihi wa sallam bersabda :

" مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"

Artinya :
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman/ikhlas serta mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa dosanya di masa lalu.”

Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa ‘ala ahlihi wa sallam bersabda :

، "مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"

Artinya :
“Barangsiapa yang tegak untuk shalat -shalat tarawih- di bulan Ramadhan karena iman/ikhlas serta mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa dosanya di masa lalu ”
Maka bulan Ramadhan adalah kesempatan besar di dalam kehidupan seorang muslim yang mungkin saja kesempatan itu tidak terulang dua kali.

Maka sudah semestinya seorang muslim itu senang dan bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Serta dia sambut bulan Ramadhan itu dengan gembira lagi bahagia.
Dan dengan menyibukkan dirinya di bulan Ramadhan untuk mentaati Allah sepanjang siang dan malam. Malam harinya dengan shalat dan siang harinya dengan berpuasa dan membaca Al Quran, dan berdzikir. Maka ini adalah sebuah ghanimah/kesempatan emas bagi seorang muslim.

Adapun orang-orang yang menyambut Ramadhan dengan berbagai acara yang negatif lagi merusak seperti : acara musik, serial drama, acara komedi, acara kuis dan perlombaan agar membuat kaum muslimin tersibukkan dengan acara-acara tersebut;

Maka orang orang seperti ini adalah bala tentaranya syaithan, syaithanlah yang memperdayai mereka untuk hal-hal seperti ini.

Maka yang wajib dilakukan setiap muslim untuk berhati hati dari mereka, dan ia peringati orang lain dari mereka !!!

Karena bulan Ramadhan itu bukanlah waktu untuk perkara sia-sia, bermain-main, menonton serial drama, acara kuis dan perlombaan berhadiah serta kegiatan membuang buang waktu. "

unduh suara : http://cutt.us/4w6Ss
alih bahasa : Al-Ustadz Abul Hasan Ali Akbar Al-Maidani
《》《》《》《》
[ نصيحة بمناسبة قرب شهر رمضان ] .
سُئل الشَّـيْخ العلّامة صـالحُ بنُ فَـوزان الـفَوزَان -حَـفظهُ الله-:
❫ السُّـــــــؤَالُ:
• ما نصيحتكم للمسلمين بمناسبة اقتراب شهر رمضان؟
❫ الجَــــــوَابُ:
”الواجب على المسلم يسأل الله أن يبلغه رمضان وأن يعينه على صيامه وقيامه، والعمل فيه، لأنه فرصة في حياة المسلم: " مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"، "مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"، فهو فرصة في حياة المسلم قد لا يعود عليه مرة ثانية.
•• فالمسلم يفرح بقدوم رمضان ويستبشر به، ويستقبله بالفرح والسرور، ويستغله في طاعة الله ليله قيام، ونهاره صيام وتلاوة للقرآن والذكر فهو مغنم للمسلم، أما الذين إذا أقبل رمضان يعدون البرامج الفاسدة والملهية والمسلسلات والخزعبلات والمسابقات ليشغلوا المسلمين فهؤلاء جند الشيطان، الشيطان جندهم لهذا، فعلى المسلم أن يحذر من هؤلاء ويحذر منهم، رمضان ما هو وقت لهو ولعب ومسلسلات وجوائز ومسابقات وضياع للوقت“ .
ــــ
رابـط الصوتيــة :
http://cutt.us/4w6Ss
•┈┈┈┈┈┈•
Forum : Thullabul Ilmi Yaman

Senin, 12 April 2021

Khotbah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Menjelang Ramadhan

“WAHAI manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Waktu ke waktu adalah waktu waktu yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat.

Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba- Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”)

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu.

Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

(Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?”).

Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.” Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

(Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.) Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”n
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.“
“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah)*

Sabtu, 10 April 2021

Khotbah Jum'at di Masjid Al-Muhajirin Antapani Kidul: "Sejarah Shaum Ramadhan"

 



Shalat Jum'at (9/4/21) di Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul, menampilkan Imam/Khotib Ust. Imam Nuryanto. Tema yang disampaikan Sejarah Shaum Ramadhan.

Kata "Shiam" para ulama sepakat mendefinikan yang pada umumnya diartikan sebagai menahan makan, minum dan berhubungan badan suami-istri mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari untuk mengharapkan pahala dari Allah.

Demikian halnya pengertian dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan-syetan dibelenggu. Kalau difahami menurut dzohir ya pengertiannta seperti itu.

Namun ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kalimat itu adalah karena pelaksanaan dampak dari shaumnya. Misalnya dengan sibuknya orang-orang dalam beramaliyah di bulan Ramadhan, maka tidak akan ada kesempatan untuk syetan menggoda orang yang shaum sehingga syetan itu merasa terbelenggu.

Shaum yang dilakukan sejatinya adalah yang sesuai dengan perintah Allah dan sunah-sunah Rasulullah.  Karena itu Shaum harus dilakukan dengan penuh keikhlasan. Dasarnya harus karena imam. Berharap hanya untuk mendapatkan pahala dan keridhoan Allah Subhanahu Wata'ala.

Untuk uraian lengkapnya silakan masuk ke channel youtube dengan meng"klik" gambar/foto diatas.//*nas

Jumat, 02 April 2021

Berdzikir lebih utama dari berjihad



Banyak orang muslim belum mengetahui amalan yang tinggi yaitu Dzikrullah. Di dalam Hadist yang dicatat pada kitab Sunan At Tirmidzi Hadist ke 30, Abu Sa’id Al Khudri menjelaskan sabda Rasulullah tentang golongan paling utama di sisi Allah. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Golongan siapakah yang paling utama di sisi Allah pada hari Kiamat ?”

Rasulullah saw. menjawab, “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah.”

Mendengar itu, Abu Sa’id Al Khudri r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan para pejuang di jalan Allah?”

Rasulullah saw. menjawab, “Meskipun dia behasil menghujamkan pedangnya kepada orang-orang kafir dan musyrik sehingga mereka terluka dan berlumuran darah, tetap saja orang-orang yang berzikir kepada Allah lebih utama dari dirinya (pejuang di jalan Allah).”

Kemudian Selanjutnya Hadits 31 Memperkuat lagi:

Dalam Sunan Ibnu Majah, Abu Ad Darda` r.a. menjelaskan keutamaan zikir sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw., “Maukah aku beri tahu kalian tentang suatu amal paling baik, paling suci dalam pandangan Allah, paling tinggi tingkatannya, bahkan amal itu lebih baik dari sedekah kalian yang berupa emas ataupun perak dan lebih baik daripada saat kalian bertemu dengan musuh hingga kemudian kalian memenggal kepalanya (jihad di jalan Allah)?”

Para sahabat menjawab, “Tentu kami bersedia, wahai Rasulullah.”

Rasulullah saw. melanjutkan, “Amal itu adalah zikir kepada Allah.”

Ada banyak sekali bentuk dzikir kepada Allah, jadi bagaimana amalan yang dimaksud oleh Rasullullah tersebut? sementara semua orang juga berdzikir, dzikir seperti apa yang dimaksud?
Untuk menjawab tersebut mari kita baca hadist Rasulullah berikut ini:

“Tiada akan datang Kiamat, kecuali kalau di muka bumi tidak ada lagi orang yang berdzikrullah". (HR Muslim).

Bahkan pada suatu ketika Nabi pernah membai’at dan menalqin kepada diri sahabat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang diterangkan di dalam Hadits shahih yang muttashil sanadnya, yaitu : “Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib : “Hai Ali, pejamkan matamu dan tempelkan sepasang bibirmu serta lipatkan lidahmu pada langit-langitan mulut dengan berdzikrullah di dalam Lathifah dari Lathaif tujuh” (HR Thabrani dan Baihaqi).

Dilain waktu Rasul bersabda : “Dari Ali : Aku katakan ya Rasulullah, manakah jalan Metodologi yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan semudah-mudahnya atas hamba Allah dan semulia-mulianya di sisi Allah? Maka Jawab Rasul SAW : “Ya Ali penting atas kamu berkekalan/senantiasa berdzikir kepada Allah”. Berkatalah Ali : Tiap orang berdzikir pada Allah. Maka Rasul bersabda : “Ya Ali, tidak ada terjadi kiamat sehingga tiada lagi tinggal di atas permukaan bumi ini, orang yang berdzikrullah”. Maka Sahut Ali, bagaimana caranya aku berdzikir ya Rasul? Maka Sabda Rasul SAW :

“Pejamkan kedua matamu dan ikuti syahadat dari saya tiga kali. Kemudian lakukanlah seperti itu dan aku akan saksikan”.

Maka sejenak Rasul bersyahadat : “Laa Ilaaha Illallah, sedang matanya tertutup. Kemudian Ali pun bersyahadat Laa Ilaaha Illallah seperti demikian. Ajaran tersebut kemudian syayidina Ali ajarkan pula kepada Hasan Basri dan dari Hasan Basri diajarkan kepada Al Habib Al Ajay, dari Al Habib diajarkan kepada Daud Athaiy, dari Daud diajarkan kepada Al Makruf Al Karaci dan dari Al Makruf kepada Assuraa, dan kemudian dari Assuraa kepada Al Junaid Baghdadi" (HR Thabrani dan Baihaqi).

Teknik berzikir ini sudah lama diamalkan oleh para sufi, para wali dan para ulama pewaris nabi, karena sangat halus dan tingginya zikir ini sehingga tidak semua orang bisa mengamalkannya dengan sempurna apalagi tanpa dibimbing oleh GM.

Zikir ini dilakukan didalam hati, perhatikan hadist diatas.. “pejamkan mata”, “tempelkan sepasang bibirmu”, “lipatkan lidahmu pada langit-langitan mulut” lalu berdzikirlah kepada Allah, itu artinya bukan fisik kita yang berzikir namun ruhaniah kitalah yang dituntut untuk berzikir dengan mematikan panca indera. Dan ini memerlukan pelatihan khusus serta bimbingan Guru Mursyid.

Didalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk melakukan zikir didalam hati. Allah SWT berfirman:

“Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu (nafsika) dengan merendahkan dirimu dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai” (QS 7 : 205)

Pada riwayat yang lainnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Zikir diam (khafiy) 70 kali lebih utama daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal. “ (Al-Hadits)

Dengan membaca secara seksama urutan ayat dan hadits diatas tentu kita sudah meyakini benar betapa tingginya amalan zikrullah ini, amalan para wali, amalan para pembawa islam ke Indonesia dan menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara. (ajaransufi.blogspot).

Selasa, 23 Maret 2021

Abu Madyan, sufi tak terkenal yang menggetarkan para wali

Abu Madyan, mahaguru kaum sufi
Barangkali bagi kita yg menetap di kawasan Asia Tenggara tak banyak mengenal wali besar kawasan Barat yg bernama Abu Madyan tersebut, karena pengaruh Syekh Abdul Qadir Jailani yg hidup sezaman dengannya lebih dominan di sini. Sesungguhnya Abu Madyan adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Tasawuf yg membentuk lanskap ruhani di kawasan maghribi.

Abu Madyan, yang diyakini menempati peringat Qutb al-Awliya al-Ghauts al-Adhim, juga diakui sebagai Syaikh al-Masyayikh (Gurunya para guru). Beliau hidup sezaman dengan Wali agung lainnya, Syekh IBN ‘ARABI, dan bahkan Ibn Arabi berguru kepadanya secara spiritual, karena keduanya tidak pernah bertemu secara fisik – tetapi Syekh Ibn ‘Arabi sempat menziarahi makamnya di Tlemcen. Syekh Abu Madyan ini juga mempunyai murid lain yang kelak juga menjadi Qutub, Syekh Abdus Salam bin Masyisy, guru dari Syekh Abu Hasan Syadzili, pendiri tarekat Syadiziliyyah. Abu Madyan boleh dikatakan telah membentuk kecenderungan utama aliran Tasawuf di kawasan Maghribi.

Syekh Abu Madyan pertama kali dibaiat ke jalan Sufi oleh Syekh Abdullah al-Daqaq, seorang sufi eksentrik yang sering berkeliaran di jalan-jalan dan berteriak mengaku-aku dirinya Wali Allah, dan oleh Syekh Abu Hasan al-Salawi, seorang sufi misterius. Kepada Syekh al-Daqqaq, seorang Wali Allah yang aneh dan luar biasa, Abu Madyan mendalami kandungan kitab Tasawuf penting, ar-Risalah karya Abu Al-Qasim Al-Qusyairi. Syekh Abu Madyan juga berteman dan berguru kepada Syekh Ahmad Rifa’i, seorang Wali Qutub pendiri Tarekat Rifa’iyyah di Irak. Meski disebut2 ketenaran dan signifikansinya sejajar dengan Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Abu Madyan mengakui dan tunduk pada ucapan syatahat Syekh Abdul Qadir Jailani, “Kakiku berada di atas bahu Awliya Allah” dan salah satu riwayat mengatakan beliau menerima ijazah ruhaniah dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Melalui jalur Abu Madyan inilah di kawasan maghribi muncul sufi-sufi besar yg menjadi poros2 utama kewalian di kawasan maghribi dan sekitarnya. Syekh Ahmad Rifa’i, guru dari Syekh ABu Madyan, juga dikenal sebagai sufi yg eksentrik. Tarekatnya dianggap agak aneh karena cara zikirnya yang terdengar seperti meraung atau seperti suara gergaji. Pengikut Tarekat Rifaiyyah belakangan lebih dikenal karena kekuatan dan keajaiban-keajaiban mereka, seperti kebal senjata, kebal racun dan sebagainya. 

Tentu saja, efek-efek ini menyebabkan tarekat ini rawan diselewengkan oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawba, sehingga sebagian sufi secara tegas mengecam penyimpangan tersebut tersebut. Namun apapun penyelewengan itu, ajaran dan amalan Syekh Ahmad Rifai sesungguhnya adalah amalan tarekat yang mu’tabar, atau sesuai dengan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Jadi pada periode sesudah Syekh Abu Hamid al-Ghazali ini mulai berkembang bentuk baru organisasi tarekat yang strukturnya lebih kompleks. Perkembangan ini barangkali adalah keniscayaan sebab pada masa itu mulai banyak sekali orang Islam yg menempuh jalan ruhani (tasawuf). Sebagaimana lazimnya sesuatu yang menjadi besar, selalu ada penyimpangan-penyimpangan yg dilakukan oleh sufi-sufi palsu. Karenanya, sebagian syekh Sufi merasa perlu “melembagakan” ajarannya dalam satu wadah di mana otoritas mursyid yg kamil-mukammil bertindak sebagai pembimbing sekaligus penjaga agar pengikut mereka tidak menyeleweng. Tetapi itu bukan berarti bahwa sufi-sufi yang berada di luar organisasi tarekat tidak menjalankan amalan tarekat – sebab tarekat dalam pengertian yg lebih umum adalah “Jalan” ruhani itu sendiri.

Abu Madyan

Apapun efeknya, organisasi tarekat telah membuka kesempatan baru bagi orang-orang Islam yang tidak menemukan akses ke wali-wali Allah yg biasanya tersembunyi. Kemunculan wali-wali masyhur di dalam organisasi tarekat menambah semarak perkembangan keruhanian Islam. Sebagian dari alasan meningkatnya popularitas tarekat paada saat itu adalah karena kondisi sosial politik di dunia ISlam sedang mengalami pergolakan hebat, setelah pasukan Salib mulai merangsek ke wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam. Banyak murshid-murshid tarekat dan sufi-sufi individual yg terlibat langsung dalam peperangan itu. 

Syekh Abu Madyan, misalnya, ikut membantu perang melawan tentara Salin dari kelompok pasukan Perancis di sekitar Maroko, dan berperan penting dalam kemenangan pasukan Islam di sana. Kaum sufi, baik di dalam dan di luar organisasi tarekat, berdasar fakta sejarah sesungguhnya berperan penting dalam pengembangan potensi ekonomi, sosial, poliitk dan ilmu pengetahuan di dalam peradaban Islam. Namun peran sosial mereka yg penting itu sering terlupakan, atau sengaja disembunyikan oleh kelompok anti-Tasawuf – terutama karena kebanyakan pengikut tarekat atau sufi yang terkenal lebih menonjol dalam bidang keruhanian dan lebih ketat dalam menjalani kehidupan yg zuhud, serta karena karamah-karamah mereka lebih memikat untuk dikisahkan ketimbang peran ekononi dan sosial-politik mereka.Peran-peran sosial atau peran “horisontal” mereka semakin jelas dalam perkembangan sesudah tahun 1100-an M.

Selain perkembangan tarekat-tarekat, dunia Tasawuf juga diwarnai oleh perkembangan pemikiran mistis/makrifat yang luar biasa. Periode menjelang abad 13 M, atau akhir era 1100-an adalah era di mana hampir semua bidang peradaban Islam sedang mengalami kejayaan sekaligus melahirkan benih-benih bayang-bayang kesuraman peradaban Islam. Kemajuan sisi lahiriah di bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan sebagainya diimbangi oleh lahirnya kemajuan ruhani. Namun pada masa ini perkembangan paling menonjol selain tarekat adalahmunculnya sufi-sufi besar yang menulis literatur yang “abadi,” yang sangat memengaruhi dunia Tasawuf dan dunia Islam pada umumnya sampai ke abad 21 – dan barangkali akan masih terus berpengaruh hingga di abad-abad mendatang. Tokoh-tokoh sufi yang agung pada periode ini antara lain Fariduddin Attar (wafat 1220), Ibn al-Farid sang penyair mistis (wafat 1235), Syekh Akbar Ibn Arabi, penggagas “konsep” wahdatul wujud, Jalaluddin Rumi sang penyair cinta mistis terbesar sepanjang sejarah Islam (w. 1273) dan al-Iraqi, penyair penerus tradisi wahdatul wujud.

Pada tanggal 28 Juli 1165 lahirlah seorang anak manusia yang kemudian dikenal sebagai Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn al Arabi al Ta’i al Hatimi atau lebih populer dengan nama Ibn Arabi. Beliau dikemudian hari lebih dikenal sebagai seoarang sufi dari andalusia, dan diberi gelar Muhyidin (Penghidup agama) dan Syaikh al Akbar (Syaikh Agung). Karya karya yang lahir darinya terutama dari dua kitabnya yang monumental Fushush al Hikam dan Futuhat al Makkiyyah telah mempengaruhi sudut pandang kaum muslimin dalam memahami agamanya, yang diridhai Allah (Islam). Pemikiran Ibn Arabi adalah pemikiran yang telah mempengaruhi salah satu cara pandang kita dalam melihat otosentisitas Islam (Tauhid).

Gagasan gagasan dasar ajaran Ibn Arabi telah menimbulkan reaksi yang luas di kalangan kaum muslimin, yang pro maupun yang kontra. Yang tidak setuju menuduh bahwa ajarannya merupakan panteisme. Yang pro justru menganggap ajaran ini merupakan ajaran yang tinggi dan sangat radikal dalam interpretasinya mengenai tauhid. Ibn Arabi lebih dikenal sebagai tokoh ajaran wahdatul wujud, yang sering disalah tafsirkan sebagai ajaran yang menekankan pada aspek imanensi mutlak Tuhan.

Namun sesungguhnya Ibn Arabi tidak menekankan imanensi Tuhan semata, namun juga transendensi-Nya. Menurut beliau: dilihat dari sisi tasybih, Tuhan adalah identik, atau lebih tepat serupa dan satu dengan alam walaupun kedua duanya tidak setara karena Dia, melalui nama nama Nya, menampakkan diri Nya dalam alam. Tetapi dilihat dari sisi tanzih, Tuhan berbeda sama sekali dengan alam karena Dia adalah Dzat Mutlak yang tidak terbatas, di luar alam nisbi yang terbatas. Ide ini dirumuskan oleh ibn Arabi dengan ungkapan singkat ‘huwa la huwa’. Tuhan adalah imanen (tasybih) dan transenden (tanzih) sekaligus.

Dalam doktrin wahdat al wujud Tuhan betul betul esa karena tidak ada wujud, yaitu wujud hakiki kecuali Tuhan; wujud hanya milik Tuhan. Alam tidak lebih dari penampakan Nya. Doktrin ini mengakui hanya satu wujud atau realitas karena mengakui dua jenis wujud atau realitas yang sama sekali independen berarti memberikan tempat kepada syirik atau politeisme. Doktrin wahdat al wujud ibn Arabi mempunyai posisi yang kuat karena didukung oleh atau bersumber dari ayat ayat Al Qur’an dan Hadis Nabi SAW.

Wahdat al Wujud Menurut Syaikh Akbar Ibnu al Arabi benar benar merupakan pemikiran genius di zamannya. Karya karyanya telah membuktikan hal itu. Ibn al Arabi mengungkapkan ajaran ajaran dan berbagai pandangan genarasi sufi yang mendahuluinya secara sistematis dan rinci. Ibn Arabi adalah jembatan atau penghubung antar dua fase historis Islam dan tasawuf dan penghubung antara tasawuf Barat dan Timur.

Menurut Ibn Arabi, dalam hadis Qudsi, Allah berfirman, Aku adalah harta simpanan tersembunyi, karena itu Aku rindu untuk dikenal. Maka aku ciptakan makhluk, sehingga melalui Ku mereka mengenal Ku. [hadits Qudsi] Allah adalah “harta simpanan tersembunyi” (kanz makhfiyan), yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam. Maka alam adalah cermin bagi Tuhan, yang dengannya Ia mengenal dan memperkenalkan ‘Wajah Nya’. Kanz makhfi, dengan demikian adalah ‘Yang ‘Tersembunyi dari Yang Tersembunyi’, Dzaat, yang tidak dapat dijangkau oleh siapapun ditinjau dari segi Dzaat Nya. Misteri Dzaat, yang tersembunyi ini berakibat “kerinduan” dan “kesepian”. Dalam “kerinduan” dan “kesepian” primordial ini membuat Dia rindu untuk dikenal. Maka Ia pun ber ‘tajalli’. Tajalli Al Haqq adalah penampakan diri Nya dengan menciptakan alam. Tajalli Al Haqq terjadi dalam bentuk bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Alam berubah setiap saat, terus menerus tanpa henti. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (Q.S.55;29). Seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi; “Sesungguhnya Allah Subhanahu selama lamanya tidak melakukan tajalli dalam satu bentuk bagi dua individu atau pribadi, dan tidak pula dalam satu bentuk dua kali.”

Tajalli Nya adalah pemberian Nya yang telah ditetapkan sejak Azali, persis seperti yang ada dalam A’yan tsabitah, Pengetahuan Abadi dalam Hakikat Tuhan. Jadi hakikat yang sebenarnya dari setiap segala sesuatu yang berasal dari tajaliyyat Nya selalu ada, yakni dari dalam kedalaman batin Wujud Nya (Potensi Abadi Nya), yang merupakan Ilmu Nya (pengetahuan Nya) yang tetap dan abadi (a’yan tsabitah). Dari sudut padang ini, dunia pada hakekatnya merupakan perwujudan (manifestasi) Tuhan, namun dalam Diri Nya, yakni dalam Dzat Nya, Dia terlepas dari setiap perwujudan itu sendiri. A’yan tsabitah pada dasarnya hanyalah potensi abadi yang karena sifatnya itu ia bisa menjadi aktual atau bisa juga tidak. Karenanya, ‘Kemungkinan’ (Potensialitas) itulah yang sesungguhnya nyata. Dan karena itulah, a’yan tsabita tetap tidak berubah dan “tidak ada” secara aktual dalam ilmu Tuhan. Meskipun disifati dengan kepermanenan, ia tidak disifati dengan wujud, yakni ia tetap dalam keadaan yang disifati dengan ketiadaan yang dimiliki oleh yang mungkin, bukan oleh yang tidak mungkin. Jadi, A’yan tsabita, dalam ketiadaannya siap menerima wujud. (Fusus al Hikam). Dalam Futuhat al Makiyyah mengenai hal ini dikatakan:

Ilmu Al Haqq tentang Diri Nya sama dengan ilmu Nya tentang alam karena alam selama lamanya disaksikan Nya, meskipun alam disifati dengan ketiadaan. Sedangkan alam tidak disaksikan oleh dirinya [sendiri] karena ia tidak ada. Ini adalah lautan tempat binasanya para pemikir teoritis, yaitu orang orang yang tidak diberi kasyaf. Diri Nya selama lamanya ada, maka ilmu Nya selama lamanya ada pula. Ilmu Nya tentang Diri Nya adalah ilmu Nya tentang alam;karena itu ilmu Nya tentang alam selama lamanya ada. Jadi Dia mengetahui alam dalam ketiadaannya. Dia mewujudkan alam menurut bentuk Nya dalam ilmu Nya. Karena itu, alam tidak pernah ada ‘diluar’ Tuhan yakni; tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat sifat dari a’yan, dan tidak ada sesuatu pun dalam adam [ketiadaan] kecuali entitas entitas mumkinat (kemungkinan) yang dipersiapkan untuk diberi wujud. (Futuhat)

Dengan demikian, alam semesta dan semua yang terkandung di dalamnya adalah wujud, dan pada saat yang sama adalah tak berwujud (adum). Dengan cara yang sama, Tuhan selalu meliputi alam dan juga mengatasi alam. Dia sekaligus transenden dan imanen, tanzih dan tasybih, seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi sendiri:

Allah Ta’ala berfirman, Laysa kamitslihi bi syai, maka dengan demikian Dia menyatakan Tanzih Nya; wa huwa al sami’al bashir, maka dengan demikian Dia menyatakan Tasybih Nya.

Gaung gagasan Ibn Arabi melampaui batas-batas geografis dunia Islam. Gagasannya dengan cepat menyebar dari Afrika sampai ke anak benua India, kemudian masuk ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia. Sebagian pengikut Ibn ‘Arabi di era yg lebih modern menyebarkannya ke Eropa dan Amerika, hingga ke Amerika Selatan dan Amerika Latin. Di Inggris didirikan Ibn Arabi Society, yang berpusat di Oxford. Sebelumnya, Rauf dari Turki mendirikan Beshara, dan Rauf sendiri menerjemahkan sebagian karya Ibn Arabi, terutama Fusush al-Hikam ke dalam bahasa Inggris.

Selain memengaruhi kajian spiritualitas Islam, gagasan Ibn Arabi juga memengaruhi filsafat Islam pada umumnya, seni Islam (arsitektur, musik, dan sastra) dan sebagainya. Salah satu contoh luar biasa dari penerapan gagasan kosmologi mistis Ibn Arabi ke dalam wilayah aristektur adalah bangunan Taj Mahal di India. Bangunan indah ini dibangun berdasarkan prinsip keselarasan geometris struktur kosmos ruhani dan makrokosmos lahiriah dan perhitungan astronomi yang rumit.

Lahu Al-Faatihah

Sumber : Habib Muhammad Ali Al-‘Athos//dari catatan Fahmi Ali

Senin, 22 Maret 2021

Gowes Goes to Campus, Jajal Roti Cane Kari Sapi Gempol



Rehat sejenak di depan Kampus ITB Ganesha Bandung sebelum menusuk ke
tempat kuliner di Gempol

Gowes NKRI Ankid-10 Minggu pagi ini (28/2/21) diikuti 18 goweser. Tema yg diusung kali ini "Gowes goes to Campus."

Memang karena dua rest area yg dituju adalah dua universitas terpandang di kota Bandung, Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tepat pkl 07.30, setelah ada sedikit sambutan arahan dari kang Nana dan iringan doa dari Almukarom Ust. Mumu, roda2 sepeda dari 18 pegowes pun mulai bergulir, berderak maju dengan meyakinkan.

Route atau jalur trek yg ditempuh memang lumayan menantang. Menyusuri jalan Bengawan, Taman Cibeunying, Diponegoro, Ariajipang, putar arah di Jembatan Pasopati, Penatayuda, Dipatiukur, hingga kampus Unpad. 

Trek seperti itu memang tak mudah bagi usia yang rata-rata diatas 60 th.

Dari kampus Unpad sedianya merayap ke Jalan Siliwangi dan Sumur Bandung, namun usulan beberapa pinisepuh yang sudah mulai ngos-ngosan, jalur pun dibelokan ke kiri ke Jalan Tengku Umar hingga mentok dan belok kanan ke arah Jalan Juanda, lalu belok kiri ke Jalan Ganesha dan beristirahat sejenak dan berfoto di depan kampus ITB.

Setelah melepas lelah dan berfoto bersama, perjalanan dilanjutkan ke Jl Tamansari, Sulanjana dan Sultan Tirtayasa utk menikmati Soto Boyolali H. WIDODO.
Namun pengunjung yg membludak dan kehabisan tempat duduk, hingga terpaksa mengurungkan niat.

Alternatif yang ditempuh kuliner di sekitar Jalan Gempol. Maksud hati ingin menikmati kupat tahu yg sangat dikenal di kalangan kaum goweser. Disinipun rupanya pengunjung membludak, akhirnya dengan dipelopori pak Tisna hingga menclok di restoran berkelas yg menyajikan menu Nasi/Roti Cane/Nasi Kebuli Kari Kambing/Sapi/Ayam...

Hanya saja yg menjadi persoalan per porsinya rata-rata Rp 45 rb ketas...Ala maakkk...siapa yg mau bayar nih? Karena sudah pasti saldo dana tak akan mencukupi untuk menjamu 18 goweser yang saat itu memang sedang kelaparan.

Pak Isa, pak Tisna dan pak Nana yg duduk satu meja mulai melongo. Pak Isa mulai resah dan gelisah. Duduk pun mulai tak nyaman.

"Pak Isa gimana nih urusannya," kata pak Nana.
"Gak tahu saya juga, mau dibayarin pak Tisna kali," timpal pak Isa.
"Waduh, gimana nih pak Tisna?"
"Kan ada saya dgn pak Nana," kata pak Tisna.
"Pak Tisna bawa uang berapa? Beliau pun mengeluarkan dompetnya yg ternyata hanya berisi 50 rb...Ya ampuunnn...Tapi kang Nana merasa yakin kalau beliau ingin mentraktir kita semua.

Ketika berpikir soal pembayaran tiba2 pak Irsan kasih info bahwa seluruhnya sdh dibayar pak Bubun.

Wowwww...Alhamdulillah...dan semua goweser pun kasih selamat dan aplaus ke pak Bubun. Semua bangga.

Tapi pak Bubun bilang hanya bayar Rp 200 rb saja, dan "sisanya saya gak tahu," kata pak Bubun.

Suasana pun senyap kembali. Pak Tisna pun beranjak menuju sepedanya untuk mengambil dompet rahasianya. Karena memang bisa dibayar dengan kartu debet.

Tapi rupanya itu hanya guyonan pak Bubun saja. Karena pak Irsan menyaksikan sendiri seluruhnya sdh dibayar pak Bubun. "Saya lihat sendiri, pak Bubun yang bayar pakai kartu debet," kata pak Irsan meyakinkan kami berdua.

Kalau begitu Alhamdulillah...terima kasih pak Bubun. In syaa Allah rezeki itu membawa berkah karena sebaik2nya orang adalah yg memberi makan orang lain. Semoga rezeki pak Bubun semakin berkah melimpah, mengalir deras tanpa batas.

Kita pun sepakat pak Bubun adalah Bintang Kuliner pekan ini. (Bintang pekan lalu adalah pak Tampu, yg mengatasi biaya sate gule Cimandiri).

Ayo siapa lg yang berminat menjadi bintang kuliner di pekan-pekan berikutnya...

Setelah menikmati kuliner dahsyat, bergizi tinggi dan berkelas, rombongan goweser pun meninggalkan Gempol dgn sejuta kekalutan dan kenangan...

Alhamdulillah seluruh goweser kembali ke pojok toleransi dgn selamat dan bahagia...//*nas

Berikut foto-foto kenangannya..

Rehat di depan Kampus ITB serasa menjadi alumninya

Goweser NKRI Ankid-10 bukan Goweser Biasa

PLT Ketua, kang Nana kasih sedikit arahan

Goweser kekinian ya kayak gitu deh


Ealah, kang Is yg pandai memanfaatkan momentum

Eits ini dia plt ketuanya

Memang nyaman beristirahat disini

Kampus UNPAD langganan Rest Area

Resto Roti Cane Kari Sapi Gempol yang bikin
mendebarkan bendahara

Jumat, 12 Februari 2021

Tasawuf Cinta Menurut Jalaluddin Rumi

Tasawuf merupakan salah satu khazanah keilmuan Islam yang menarik untuk dijadikan bahan kajian penelitian bagi seseorang yang ingin mempelajari Islam, karena tasawuf merupakan fenomena keagamaan (pengalaman dan penghayatan) yang mengiringi perkembangan Islam itu sendiri.

Tasawuf sering juga disebut sebagai sufisme dalam Islam. Tasawuf sendiri bukanlah gejala yang ghaib dan paranormal, seperti kemampuan membaca pikiran, telepati, ataupun pengangkatan ke tahap yang tertinggi. Memang banyak penganut sufisme sejati dari berbagai agama memiliki kemampuan tersebut, tetapi hal itu bukan unsur yang utama dalam tasawuf.
Pada dasarnya pengertian tasawuf tidak dapat dirumuskan secara detail, hal ini terjadi karena pengalaman sufistik tergantung pada masing-masing pengalaman tokoh sufi. Tasawuf sendiri pada intinya adalah sesuatu yang memfokuskan diri kepada Alloh.

Hal ini juga berkaitan dengan sebuah kecintaan. Cinta bisa dikatakan dengan perasaan yang menginginkan kedekatan diri dari adanya rasa kasih sayang yang kuat. Bisa disimpulkan tasawuf cinta adalah rasa sayang dan kedekatan dengan sang pencipta.

Unsur Islam

Para tokoh sufi sepakat jika Islam adalah sumber utama ajaran tasawuf. Ajaran ini bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadits. Di dalam al-Qur'an banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang ajaran tasawuf. Contoh tersebut bisa dilihat pada surat al-Maidah ayat 54 yang membahas tentang mahabbah. Sejalan dengan al-Qur'an, al-Hadits juga banyak membicarakan kehidupan rohaniyah.

Selain itu, bisa dilihat dalam kehidupan Rasulullah yang banyak menggambarkan sikap mahabbah kepada sang pencipta. Contoh ini diambil ketika Rasulullah sedang mengasingkan diri di Gua Hira' untuk mendekatkan diri kepada Alloh.

Unsur di Luar Islam

Menurut Ignas Goldziher ajaran tasawuf merupakan pengaruh dari luar unsur-unsur Islam. Goldziher mengatakan bahwa ajaran tasawuf merupakan ajaran dari berbagai agama dan kepercayaan.

Unsur agama dan kepercayaan di luar Islam antara lain unsur pengaruh dari agama Nasrani, Hindu-Budha, Yunani dan Persia.

Dalam agama dan kepercayaan lain juga mengajarkan tentang tasawuf sebagai pembersih diri dan pendekatan kepada sang pencipta. Selain agama Islam, agama ini juga memiliki teori sendiri tentang tasawuf.

Menurut Schimmel ajaran tasawuf memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

1. Persinggahan dan tingkatan.

Persinggahan atau tingkatan pertama diatas jalan atau lebih tepat mula pertamanya, ialah Taubat atau penyesalan. Taubat berarti berpaling dari dosa dan melepaskan urusan dunia yang salah. Taubat dapat dibangkitkan dalam jiwa oleh peristiwa lahiriyah apapun.

2. Cinta dan Peleburan

Cinta dan makrifat, kadang-kadang keduanya dianggap lebih utama dan ada kalanya makrifat dipandang lebih tinggi. Ghazali menekankan, cinta tanpa makrifat tidak mungkin karena orang dapat mencintai sesuatu yang dikenal. Para sufi telah mencoba menggambarkan berbagai segi makrifat, yaitu pengetahuan yang tidak dicapai melalui penalaran akal tetapi merupakan pemahaman yang lebih tinggi mengenai rahasia ketuhanan. Satu-satunya jalan untuk mendekati kekasih Ilahi adalah dengan senantiasa mensucikan diri.

Mengenai pernyataan Jalaludin Rumi, sedikit simak profil beliau.

Nama Rumi yang sebenarnya adalah Jalal Al-Din Muhammad, namun belakangan ia lebih dikenal sebagai Jalal Al-Din Rumi atau Rumi saja. Ia dilahirkan di Balkh pada 6 Rabi'ul Awal 604 Hijriyah atau bertepatan 30 September 1207. Orang-orang Arghan dan Persia lebih suka memanggilnya dengan sebutan Jalaluddin "Balkhi", karena keluarganya tinggal di Balkhi sebelum berhijrah ke arah Barat. Bahauddin Walad, ayah Jalaluddin tinggal dan bekerja sebagai hakim dan khitab dengan kecenderungan-kecenderungan yang mengarah kepada Tasawuf. Ayahnya adalah seorang pengarang kitab Ma'arif, sebuah ikhtisar panjang tentang ajaran-ajaran rohani yang sangat dikuasai Rumi. Kelak corak dan isinya tampak jelas mempengaruhi karya-karyanya.

Jalaludin sangat tekun dalam mempelajari ilmu al-quran, baik dalam membacanya maupun dalam menafsirkanya. Ia juga mempelajari fiqih dan hadits. Pengetahuannya yang sangat luas dalam kajian keislaman ditunjukkan dalam karya-karyanya yang mendalam.
Setelah kematian ayahnya, salah seorang mantan muridnya Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq dari Termez tiba di Konya. Dialah yang memperkenalkan Rumi muda dengan misteri kehidupan spiritual.

Sejak saat itu Rumi mencurahkan perhatian terhadap mistisme secara mendalam. Ia menjadi seorang penyuka puisi-puisi Arab karya Al-Mutanabbi. Ia sering mengutip bait bait Al-Mutanabbi dalam karya-karyanya. Setelah sekian lama mengikuti Burhanuddin, Rumi dikirim ke Aleppo dan Damaskus untuk melengkapi pengetahuannya dengan pelatihan spiritual formal. Di sana ia berguru pada ahli-ahli sufi yang lain. Tapi walaupun berguru pada ahli-ahli sufi yang lain, Rumi tetap berada di bawah pengawasan Burhanuddin hingga tahun 1240 M. Ketika Burhanuddin wafat di Keyseri, beberapa tahun setelah kematian gurunya, Rumi menjadi guru yang melayani murid dan pengikutnya.

Konsep Mahabbah menurut Jalaludin Rumi

Rumi menjelaskan bahwa cinta seperti keledai di dalam paya. Dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping. Begitulah kata Maulana dalam Masnawi yang dikutip oleh Schimmel.

"Bagaimana keadaan sang pencinta?" tanya seorang lelaki
Kujawab, "Jangan bertanya seperti itu, sobat;
Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu;
Ketika Dia memanggilmu, engkaupun akan memanggil-Nya."

Rumi menyebutkan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasar yang menyusup ke dalam setiap mahluk dan menghidupkan mereka. Cinta pulalah yang bertanggung-jawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yang berstatus rendah menuju level yang paling tinggi pada diri manusia. Menurut Rumi cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar demi cinta. Ia berkembang dalam tumbuhan dan gerakan dalam makhluk hidup. Cintalah yang menyatukan partikel-partikel benda. Cinta membuat tanaman tumbuh, juga meggerakkan dan mengembang-biakkan binatang.

Semasa hidupnya Jalaludin Rumi terkenal akan tarekatnya, yaitu tarekat Mawlawiyah. Mawlawiyah berasal dari kata 'Mawlana' sebuah gelar yang diberikan murid-muridnya sebagai sufi penyair Persia terbesar sepanjang masa. Tarekat ini didirikan Rumi sekitar 15 tahun terakhir hidupnya.

Tarekat ini memiliki makna jalan kecil, yaitu sebuah perjalanan spiritual menuju pada sang Pencipta.

William Chittik dalam bukunya The Sufi Doctrine of Rumi menjelaskan bahwa ciri utama tarekat ini adalah konsep spiritual, sama', yang dilembagakan Rumi pertama kali setelah hilang guru yang beliau cintai, Syamsuddin Tabriz.

Sejak saat itu Rumi sangatlah sensitif dengan hal-hal yang berbau musik, bahkan suara pukulan palu bisa membuat dia ingin melantunkan syair dan puisi.

Dalam tarekat ada penjelasan mengenai Sama' yang dilakukan dengan sebuah tarian berputar. Tarian ini telah menjadi ciri khas dalam tarekat Jalaludin Rumi. Dalam dunia Barat tarekat Jalaludin Rumi dikenal dengan The Whirling Darvish. Tarian ini dimainkan oleh para darwish (penganut sufi) dalam pertemuan sebagai dukungan eksternal terhadap upacara-upacara.
Meskipun tarekat ini tidak sebesar tarekat muktabaroh lainnya, tetapi tarekat ini masih berjalan sampai sekarang. Di Indonesia sendiri tarekat ini perkembangannya cukup pesat serta banyak peminatnya.

Karya-karya Jalaludin Rumi


Semasa hidupnya Jalaludin Rumi juga memiliki karya sebuah buku, tetapi buku tersebut tidak ditulis sebagaimana orang lain melakukannya. Jalaludin Rumi menyampaikan sebuah karya prosa ataupun puisi secara lisan yang kemudian dicatat oleh para pengikutnya. Kemudian hasil tersebut Rumi periksa kembali. Diantara karya-karyanya yaitu, Matsnawi, Fihi ma Fihi, Rubiyat, Majlis-I Sab'ah, Makatib dan Diwan.

Dengan demikian, telah diketahui bahwa tasawuf cinta adalah sesuatu yang berhubungan dengan pembersihan jiwa dan melakukan sebuah pendekatan yang mendalam dengan menuju keridhaan Alloh. Salah satu tokoh yang dikenal akan konsep tasawufnya yaitu Jalaludin Rumi. Jalaludin Rumi adalah tokoh sufi yang mendalami konsep tasawuf dengan banyak membuat syair dan lantunan puisi. Ia juga seorang yang memperkenalkan sebuah tarekat dengan nama Mawlawiyah, di dalam tarekat tersebut ia juga memperkenalkan sebuah tarian sufi. 

Selain itu, beliau juga memiliki banyak karya yang sampai sekarang masih banyak yang mempelajari. Keunikan dari karya beliau yaitu pada penulisannya, beliau melakukan metode pendektean yang di tulis muridnya dan kemudian tulisan tersebut beliau periksa kembali.

Di Indonesia sendiri konsep tasawuf Jalaludin Rumi memiliki perkembangan yang cukup pesat serta banyak peminatnya, selain itu banyak konsep beliau yang memiliki kekhasan tersendiri.
(Kompasiana//Fahma Waq)

Jumat, 08 Januari 2021

Gerakan Tasawuf Kebangsaan

Gerakan tasawuf tak hanya tentang ibadah. Di Nusantara, gerakan ini juga menginspirasi perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

"Jika kau melakukan ibadah dengan motivasi agar dilihat manusia, itu namanya syirik. Sebaliknya, jika kau meninggalkan sebuah ibadah juga karena manusia, maka itulah yang disebut riya,” ujar seorang sufi menasihati murid-muridnya.

Tidak ada yang paham apa yang dimaksud oleh guru itu. Para murid terdiam dan kebingungan.

“Mudahnya begini: kalau kau pergi ke Masjid untuk salat Jumat di awal waktu, dan berada di saf depan dengan motivasi agar nampak alim dan mendapat pahala berupa onta, itu namanya syirik. Sebab kau beribadah dengan motivasi selain Allah. Sebaliknya, jika kau sengaja mengakhirkan datang ke Masjid untuk salat Jumat agar berada di saf belakang dan supaya tidak tampak alim di mata manusia lain, maka itu namanya riya,” imbuh sang guru.

“Berarti kita tidak usah datang ke Masjid, Maulana?” tanya seorang murid.

Guru itu tersenyum. “Bukan itu maksudku. Kalian harus sadar bahwa menata niat untuk ibadah sangat sulit,” terangnya.

Demikian para sufi memberikan pelajaran. Mereka tidak main-main dengan kualitas ibadah kepada Allah. Mereka selalu menjaga hati agar tetap bersih dan suci sehingga tidak kehilangan koneksi dengan Allah.


Kaidah di atas merupakan aplikasi dari adagium yang dicetuskan oleh Abu Hasyim yang di kemudian hari membuat Sufyan Ats-Tsauri bergidik, dan menggelengkan kepala merasa seluruh amalnya habis dilahap satu kaidah itu.

Ia mengatakan bahwa “adaul amali laijlin naasi syirkun, wa tarkuhu liajlinnasi riyaun". Keduanya, terutama syirik, adalah dosanya dosa. Namun, kadang kita dengan mudah dan lumrah melakukannya tanpa disadari.

Ibnu Atholillah As-Sakandary, seorang sufi dari Alexandria penyusun kitab Syarah Hikam mengatakan, ketika seorang hamba merasa dirinya tidak sombong, maka saat itulah justru puncak kesombongan telah dilakukannya. Perasaan tidak sombong merupakan kesombongan itu sendiri.

Menurut Said Aqil Siroj, tasawuf adalah sebuah disiplin keilmuan sekaligus praktik spiritual yang dilengkapi dengan leksikon-leksikon teknis, termasuk wacana dan teori di dalamnya. Tasawuf utamanya menyasar dimensi relasi spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.

Pandapat Said Aqil Siroj itu jauh lebih komprehensif dan modern dibandingkan dengan beberapa definisi yang diungkapkan oleh ulama-ulama klasik, seperti Ma’ruf Al-Karkhi yang menyatakan “tasawuf adalah sebuah usaha untuk meraih hakikat dan meninggalkan segala hal yang berada di tangan Makhluk Allah”.

Atau seperti diungkapkan oleh Junaid Al-Baghdadi dalam Risalah Qusayriyyah Vol. 2 (1985) yang menyatakan “tasawuf adalah ibadah kepada Allah dan hanya karena Allah semata, bukan karena mengharap pahala atau menghindari siksa".

Sebagai sebuah disiplin keilmuan yang mapan dan mandiri, kemunculan tasawuf tergolong lambat, yakni baru dikenal sekitar abad kedua hijriah. Kendati demikian, bukan berarti sebelum itu tidak dikenal nilai-nilai ketasawufan. Banyak kajian dan hasil studi mendalam menyebutkan bahwa nilai-nilai dan praktik tasawuf sudah diajarkan sejak zaman Rasulullah.

Salah satu ulama yang berpendapat seperti itu adalah Abu Nashr As-Sarraj dalam Al-Luma. Argumentasi yang diajukan olehnya adalah pernyataan Hasal-Al-Bahsri sebagai bagian dari golongan generasi Sahabat yang berkata:

“Pada suatu hari aku melihat seseorang sedang tawaf. Aku mencoba memberikan sesuatu kepadanya, tapi ia menolak pemberianku."

Perkataan Hasan Al-Bashri tersebut dipandang sebagai indikasi yang sangat kuat bahwa pada zaman sahabat sudah ada seseorang yang disebut sebagai sufi.

Asal usul Tasawuf dan Perannya dalam Kehidupan Sosial

Ada beberapa pendapat tentang sejarah kemunculan istilah tasawuf. At-Thusi mengatakan istilah tasawuf dinisbatkan kepada komunitas sahabat dari golongan Muhajirin yang memiliki sifat khas seperti zuhud, itsar (mendahulukan orang lain dalam kepentingan sosial), suka menyepi, dan lain sebagainya. Komunitas itu disebut dengan komunitas ahlus suffah. Mereka menjalani hidup sehari-hari dengan manghabiskan waktu beriktikaf di sisi kiri serambi Masjid Madinah.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata ash-shuf yang memiliki arti "kain wol yang kasar". Pendapat ini disandarkan pada kenyataan bahwa orang-orang yang disebut dengan sufi selalu memakai pakaian berbahan kain wol kasar.

Ada pula yang mengatakan bahwa akar kata tasawuf berasal dari as-Shaff yang berarti barisan atau saf, seperti diungkapkan oleh Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiah (1998). Pendapat ini berdasarkan argumen filosofis bahwa kaum sufi adalah mereka yang berada di garda depan pejuang yang manjaga kemurnian hati untuk menjalankan segala perintah Allah.

Tasawuf belakangan sudah berkembang dan bahkan dilembagakan. Gerakan-gerakan perlawanan kepada penjajahan di Nusantara, misalnya, tercatat sering diinisiasi oleh penganut tasawuf yang mengorganisasi gerakannya melalui tarekat tempat mereka berserikat. Gerak langkahnya bukan hanya urusan ubudiyah, tapi juga urusan lain seperti gerakan sosial dan kemanusiaan.

(tirto.id/Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM).

Jumat, 18 Desember 2020

Benarkah Imam Asy-Syafi’i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Di kalangan para penganut Faham Salafi Wahabi, selalu ngoceh di mana-mana. Di radio, majalah, dan internet, bahwa menurut mereka, Imam As-Syafi’i mencela sufi dan tasawuf (Ilmu tasawuf). Benarkan Imam Syafi’i berbuat demikian? Atau itu cuma sekedar salah paham akibat belajar ilmu dari sumber yang salah? Atau mungkin bahkan hal itu sengaja dilontarkan untuk memfitnah sufi dan ilmu tasawuf? Wallohu a’lam.

Di sini akan disajikan fakta-fakta mengenai permasalahan ini. Semoga dengan FAKTA ini, tidak ada lagi yang salah faham mengenai maksud Imam As-Syafi’i yang tercatat dalam kitab Manaqib Al Imam as-Syafi’i karya Imam Baihaqi. Dari buku ini jelas-jelas terbukti bahwa beliau mencela itu ditujukan hanya kepada oknum sufi dan bukan sufi yang sesungguhnya. Justru Imam As-Syafi’i juga terbukti memuji kepada para sufi dan tasawuf. Begitlah fakta yang sebenarnya.

Memang di beberapa tempat, Imam As-Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi dan tasawuf. Dan yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al-Imam As-Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As-Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
Imam A- Syafi’i juga menyatakan: ”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas (istimewa).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian. Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada sufi dan tasawuf. Namun tidak benar-benar menjalankan ajaran ilmu tasawwuf tersebut.
Penjelasan Imam Al-Baihaqi Apa yang Dimaksud Imam As-Syafi’i Terkait Sufi dan Tasawuf

Dalam hal ini, Imam Al-Baihaqi menjelaskan, ”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya. Dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim. Ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka. Dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/208)

Jelas, dari penjelasan Imam Al-Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan (sufi gadungan). Yaitu mereka yang tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As-Syafi’i juga menyatakan: ”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut. ”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam A- Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As-Syafi’i pernah mengatakan, ”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun. Aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu”. (maksudnya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi. Maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas dalam bukunya tersebut, Imam Al-Baihaqi memahami bahwa Imam As-Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As-Syafi’i mengeluarkan pernyataan (yang bernada mencela) di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi. Namun Imam As-Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As-Syafi’i yang menyebutkan bahwa beliau mengambil dari para Sufi dua hal. Atau tiga hal dalam periwayatan yang lain. Sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum Sufi. ”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian Imam As-Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)
Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi dan Tasawuf

Bahkan di satu kesempatan, Imam As-Syafi’i memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan, ”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As-Syafi’i disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al-Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya sebatas sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As-Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.
Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As-Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan fakta sejarah biografinya, juga tidak sesuai dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As-Syafi’i.

Rujukan:
1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.
2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.
3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.

Source: ISLAM-Institute

Selasa, 22 September 2020

Yuk, Kita Belajar dari Sumur

Pasangan hidup kita sering diumpamakan sebagai teman satu lembur, satu sumur, satu dapur dan satu kasur. Perumpaan ini tak perlu dibantah secara ngeyel atau berlebihan. Kenyataannya memang seperti itu. Kudu diterima dengan penuh lapang dada.

Tapi ini bukan cerita tentang pasangan hidup kita dengan segala tetek bengek suka dukanya. Kali cerita tentang SUMUR yang ternyata memiliki filosofi yang unik.

Begini ceritanya. Jika sebuah sumur sering ditimba airnya, maka airnya akan tampak selalu jernih.  Tidak mengering. Bahkan airnya akan selalu tersedia di dalamnya...

Namun uniknya, ketika beberapa hari atau satu hari saja airnya tidak ditimba, ketinggian air di dalam sumur itu akan tetap. Tidak menurun atau meningkat alias sama seperti sebelumnya.

Justru sumur yang tak pernah lagi diambil airnya, maka airnya akan cenderung  kotor. Ada kalanya sudah tak layak lagi untuk diminum.
Mengapa demikian? Inilah hukum alam. Alam akan tetap menjaga sunatullah. Terjaga dalam keseimbangan.

Tak perlu dipungkiri kalau di alam ini memang terdapat banyak misteri.  Tujuannya guna memberikan pelajaran pada kehidupan manusia mengenai pentingnya keseimbangan. Mari kita analogikan filosofi sumur dengan kehidupan kita. Sumur rupanya bisa memberi pelajaran pada kehidupan kita.

Dari filosofi sumur ini kita dapat belajar, ternyata semakin banyak sumur memberi air semakin banyak air yang mengalir kepadanya. 

Dalam kehidupan pada umumnya orang berpikir bahwa jika kita memberi apa yang kita miliki pasti akan berkurang dari yang dimiliki sebelumnya. Padahal tidaklah demikian. Ketika kita memberi misalnya dalam bentuk materi, seperti sedekah atau wakaf atau apapun bentuk pemberian materi lainnya. Maka Allah menjanjikan bahwa pada yang telah dikeluarkannya itu tidak akan berkurang, namun akan diberikan pahala minimal 10x lipat.

Maknanya semakin banyak kita memberi kepada orang lain maka akan semakin banyak yang kita miliki. Makna memberi memang tidak harus berupa materi, Bisa dalam bentuk apapun. Dalam bentuk sikap, perilaku atau ilmu misalnya.

Ketika kita memberi ilmu, misalnya, maka sesungguhnya kemampuan kita akan semakin meningkat. Memberi tentu saja yang dibingkai dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapat pengakuan, sanjungan atau ingin menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan dibanding orang lain.

Kita memberi dalam kapasitas yang terukur. Memberi karena dilandasi oleh harapan orang lain akan semakin bijak dan bahagia. Apalagi menyasar pada harapan agar kehidupan yang lain bisa lebih layak dan sejahtera dalam menjalani kehidupannya.
 
Yakinlah, kita semua BISA melakukan hal ini. Sesuai dengan kapasitas dan keikhlasannya.

Pilihan terserah pada diri kita.
Sedangkan manfaat langsung yang bisa kita rasakan saat memberi adalah kebahagiaan dan kepuasan batin. Dan inilah sesungguhnya hyang dinamakan kebahagiaan sejati.

THE MORE YOU GIVE...
THE MORE YOU RECEIVE...

Jumat, 07 Agustus 2020

Musuh utama kejujuran adalah kemunafikan

Kisah ini terjadi pada masa zaman Nabi Sulaiman. Sekali peristiwa terdapat sepasang burung sedang bercengkerama di sebuah batang pohon yang rindang dan tak jauh dari jalan utama sebuah perkampungan. Keduanya berceloteh nyaring dan mendendangkan kebahagiaan. Celoteh dan nyanyian itu terpaksa mandek ketika samar-samar datang seorang lelaki bertongkat yang mengenakan jubah dan menggamit sebuah kitab di lengan kirinya.

Burung jantan berkata kepada sang Betina, “Kita harus beranjak. Lelaki itu pasti akan memburu kita.”

Sang betina bergeming. Ia sesekali masih tetap berceloteh dan bercericit. “Ia bukan pemburu. Ia adalah seorang ulama. Tampaknya ia akan berangkat mengajar ilmu agama,” demikian sang betina menampik.

Sang jantan mengalah dan memutuskan percaya pada argumen sang betina. Keduanya melanjutkan celotehan yang sebelumnya tertunda. Sial nasib, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam batok kepala burung betina. Tampaknya pukulan itu berasal dari tongkat yang dipegang lelaki berjubah. Sang betina sekarat meregang nyawa.

Beberapa detik sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jubah. Ia menyembelih, membersihkan bulu-bulu, dan memanggang burung betina itu. Magrib itu, lelaki berjubah berbuka puasa dengan menu burung panggang.

Dari kejauhan, sang burung jantan hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan kekasih hatinya. Ia berduka sedalam-dalamnya. “Manusia memang tidak pernah jujur, bahkan kepada dirinya sendiri. Bukankah ia sedang berpuasa? Mengapa ia menipu kami dengan tampilan agamawan, namun hatinya tak ubahnya pemburu yang bengis dan kejam?”


Kalimat aduhan tersebut disampaikan pada Nabi Sulaiman. Kepada Nabi yang dianugerahi nikmat mampu bercakap cakap dengan hewan itu, sang burung jantan menumpahkan keluh kesah atas kecurangan dan kejahatan yang menimpa keluarganya. Nabi Sulaiman segera memanggil lelaki berjubah itu beberapa hari kemudian.

“Apakah benar kau membunuh seekor burung beberapa waktu lalu dan memakannya untuk berbuka puasa?” tanya Nabi Sulaiman pada lelaki berjubah.

“Daulat, Baginda.”

“Kau boleh berburu tapi berperilakulah yang jujur. Jangan menjadi penipu. Kau kenakan pakaian kebesaran agamawan, berjubah, bergamis, sehingga tak satupun hewan-hewan menaruh curiga kepadamu. Namun, nyatanya justru dengan tongkatmu kau melukai, membunuh, dan menyantap mereka? Yang kau lakukan tidak lain adalah penipuan dan kebohongan.”

Lelaki berjubah itu menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh menyesali perbuatannya. Ia tidak menyangka bahwa perilakunya yang terlihat sepele itu mengandung dosa yang demikian besar di mata Tuhan.

Kejujuran adalah nilai yang hendak ditanamkan oleh Nabi Sulaiman kepada lelaki berjubah itu. Betapa kejujuran menjadi barang yang teramat mahal. Kesesuaian antara performa lahir dengan apa yang ada di dalam batin menjadi kunci dan moral cerita di atas.

Bahaya Ulama MunafikTidak kalah pentingnya, para ulama terdahulu mewanti-wanti agar umat manusia tidak terkecoh dengan identifikasi-identifikasi dan pemahaman yang keliru. Contohnya yang menyangkut kejujuran, banyak dikisahkan bahwa umumnya pendapat menyatakan musuh utama kejujuran adalah kebohongan.

Pendapat demikian dibantah para ulama dan pakar akhlak. Sebab yang menjadi musuh utama kejujuran adalah kepura-puraan. Dalam terminologi agama disebut dengan kemunafikan atau munafik. Istilah yang lebih baru yang diserap dari bahasa Inggris adalah hipokrit.

Munafik adalah kondisi ketika seseorang menampakkan sesuatu yang berlawanan dengan keadaan batinnya. Dalam Bahasa agama disebut "yuzhiru khilāfa ma yubthinu" (menampakkan apa yang tidak sesuai dengan kondisi sejatinya).

Sufi besar Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa tabiat orang munafik itu selalu berbeda antara lisan dengan kata hati. Apa yang tersembunyi dengan yang ditampakkan bersifat kontradiktif, dan berbeda antara yang masuk dengan yang keluar. Artinya jika berkabar, ia pasti membual-bual.

Sadar akan kadar bahaya yang disebabkan wabah kemunafikan ini, Rasulullah memberikan minimal empat ciri munafik tulen. Ciri pertama, jika diberi amanat, ia akan mengkhianati. Kedua, jika berbicara, ia berdusta. Ketiga, jika berjanji, ia pasti mengingkari. Keempat, jika ia berselisih paham, maka ia tidak segan-segan akan berbuat zalim.

Sahabat Umat bin Khattab sekali waktu berkhotbah dengan sangat lantang di atas mimbar: “yang aku khawatirkan terjadi dan menimpa kalian adalah munculnya orang-orang berilmu yang munafik.”

Siapakah yang dimaksud Umar?

Dalam kitab Jāmiul Ulūm wal Hikam disebutkan bahwa mereka mereka adalah orang-orang yang perkataannya penuh hikmah, namun tingkah polahnya sarat kemungkaran.

Orang yang munafik canggih merekayasa umat. Dengan modal pemahaman keagamaan, mereka sering kali menipu orang banyak. Ulama seperti inilah yang diramalkan Umar bin Khattab banyak lahir di akhir zaman. Umar melukiskan dengan kalimat “khusū’un nifaq an taral jasada khāsian, wal qalbu laisa bikhāsi’in” (fisiknya tampak khusyuk sekali, namun tidak dengan hatinya).

Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik menarik untuk direnungkan: betapa wabah kemunafikan sudah sedemikian akut dan merajalela. Rasulullah bersabda, “Akan datang suatu masa ketika orang kaya naik haji hanya untuk pelesiran, orang kelas menengah pergi haji untuk berdagang, para pengkaji Alquran berangkat haji untuk pamer serta meningkatkan reputasi nama baik, dan orang miskin naik haji untuk mengemis.”

(tirto.id//Fariz Alniezar/Sosial Budaya)

Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

* بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ* * السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه* * اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى س...