Jumat, 11 November 2022

Roh, Nafs dan, Kalbu: Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an

Manusia diciptakan dari setetes mani yang dibuahkan ke dalam rahim” [Al-Qur’an 75:37]. Manusia sebelum menjadi mudghah (segumpal daging), mengalami tahapan proses pembentukan yang cukup lama. 

Setiap 40 hari pertama sperma mengalami proses pertemuan dengan ovum, 40 hari kedua zygot (hasil pertemuan sprema dengan ovum) sudah menempel dalam dinding rahim, dan 40 hari terakhir di usia 4 bulan mengalami perubahan, yaitu fisiknya sudah terbentuk. 

Di usia 4 bulan inilah ketika fisiknya sudah disempurnakan, maka seketika itu Allah meniupkan roh ke dalam jasadnya sehingga manusia dapat mendengar, melihat, mengatahui, meraba, dan merasakan. 

Sebagaimana Allah Swt berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (QS. As-Sajdah ayat:9). 

Dalam tafsir Prof Quraish Shihab, Allah menyempurnakannya dan meletakkan di dalamnya salah satu rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya, serta menjadikan pendengaran, penglihatan dan akal bagi kalian agar kalian dapat mendengar, melihat dan berpikir. Namun demikian, sedikit sekali rasa syukur kalian.

Dalam hadist juga dijelaskan, dari Abdullah bin Mas’ud RA, “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya roh, dan dia diperintahkan mencatat empat kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau kebahagiannya. ( Imam Muslim dalam Shahihnya No. 2643) 

Manusia dalam Keadaan Fitrah Dilihat dari [Alquran 17:85], dijelaskan bahwa yang mengatur dan menentukan roh ialah Allah, otomatis roh berasal dari Allah dan apa-apa yang yang bersumber dari Allah fitrahnya pasti baik, bersih dan suci. 

Karena itu ketika manusia berusia 4 bulan dalam kandungan disempurnakanlah bentuknya. Allah perintahkan malaikat untuk meniupkan roh ke dalam jasadnya sehingga manusia membawa sifat-sifat potensi kebaikan dan kemuliaan, kumpulan sifat tersebut yang dibawa oleh manusia disebut dengan ketaqwaan. 

Tetapi sifat-sifat ketaqwaan atau roh itu dikotori oleh tangan-tangan manusia itu sendiri, dicemari dari hal-hal yang tidak baik; syubhat dan haram. Maksudnya, terbentuknya jasad atau fisik manusia bukan semata-mata keseluruhan dari Allah, tapi ada usaha dan proses yang dilakukan manusia itu sendiri, baik dari aspek biologisnya maupun dari yang lainya. 

Misalnya, agar kandungan berkembang dengan baik maka manusia memberikan asupan-asupan yang baik dan bergizi. Masalahmya ketika kandungan itu diberi dengan asupan; makan dan minum yang bersumber dari yang haram dan syubhat, sehingga janin dalam kandungan yang berproses selama 4 bulan mengalami perubahan yang di mana janin tersebut hanya dibekali oleh Allah dengan sifat-sifat ketaqwaan berubah menjadi mugdah (segumpal daiging) yang dipenuhi unsur-unsur keburukan. 

Baca Juga QS. Al-Baqarah 190-191: Makna Jihad Itu Tak Hanya Perang! Agar lebih detail, penulis mengilustarsikan dengan sebuah cawan yang berisikan air bersih, cawan dan air tersebut diibaratkan roh yang suci. Ketika cawan dicampurkan dengan teh, maka akan berubah warna menjadi coklat, ketika dicampurkan dengan kopi maka menjadi hitam. Itulah sebaliknya, ketika roh dicampurkan dengan sesuatu yang tidak baik maka sifat-sifat ketaqwaannya terpenuhi dengan unsur-unsur yang tidak baik pula. 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah, “Setiap anak Adam tercipta dari tanah, sedangkan tanah ada yang coklat, hitam, bersih dan bahkan ada yang berlumpur” Ar-Ruh yang sudah tercemari dengan hal yang buruk dan menyatu dengan fisik atau jasad, maka turunlah ayat “Wa nafsiw wa mā sawwāhā” 

Dan nafs yang sudah kami sempurnakan penciptaanya. Dua Dimensi Maksud sempurna dari ayat ini, yaitu ketika ruh sudah menyatu dengan jasad tersebut menjadi dua kerakteristik yang berlawanan, yaitu ketaqwaan dan kefasikan. Sebagaimana dalam Alquran dijelaskan “Fa al-hamahā fujụrahā wa taqwāhā” Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan yang fujur (kefasikan) dan jalan ketakwaan. 

Jelas dari sini, bahwa manusia lahir dengan perwujudan  dua dimensi, yaitu dimensi Rabbbani yang mendorong dan mengajak manusia untuk melakukan hal yang baik. Sedangkan dimensi Ardhi yang selalu mendorong, memaksa, dan mempengaruhi manusia agar melakukan hal yang buruk. 

Asbab dari sini pula manusia disebutkan mahluk yang paling mulia, karena dalam jasadnya terdapat kebaikan lawan dari keburukan dan keburukan lawan dari kebaikan. Seandainya manusia bisa dan mampu mengalahkan sifat-sifat fujur (kefasikan) dengan merivitalisasikan sifat taqwa, Maka ia beruntung dan lebih mulia dari malaikat. Sebaliknya ketika manusia mengikuti dan menghadirkan sifat kefasikan dalam kehidupannya maka ia sangat merugi, ia lebih hina dan lebih buruk dari pada syaitan dan hewan. 

Perbedaan Nafs dengan Roh 

Mengenai eksistensi jiwa atau roh ulama berbeda pendapat. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa roh dengan nafs berbeda, sedangkan Ibnu Qoyyim al-Jauziah mengatakan bahwa jiwa merupakan bagian dari roh. Sebenarnya pemikiran kedua ulama ini pada hakikat dan tujuannya sama, yang membedakannya hanya teori pendefinisianya. 

Mereka mendefinisikan dengan berpatokan satu ayat, yaitu “Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. 

Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. Az-Zumar39:42) Baca Juga Mujahadah dan Riyadhah, Metode Tarekat Menuju Ma'rifat Roh dan Nafs MMenurut al-Ghazali Al-Ghazali menafsirkan ayat ini, yaitu manusia memiliki kehidupan roh dan jiwa. Ketika mereka tertidur, maka yang keluar dari badannya bukanlah rohnya, melainkan jiwanya. Jiwanya keluar dan naik ke atas. Rohnya tetap ada dalam kehidupannya yaitu dalam jasadnya. 

Oleh karena itu ketika dia bermimpi, jiwanya kembali ke jasadnya lalu masuk dalam kehidupannya dan memberitahukan kepada roh tersebut, bahwa ia bermimpi begini dan begitu. Begituh juga dengan kematian, jika Allah hendak mematikannya, maka Dia-Allah memegang jiwanya yang keluar itu. Roh dan Nafs Menurut al-Jauziyah Lain halnya dengan pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah, menurutnya ketika manusia tertidur yang keluar dari badannya hanyalah rohnya. 

Oleh karena itu Allah menahan roh orang yang tertidur dan mengembalikan kedalam jasadnya dengan waktu yang ditentukan, dan juga Dia-Allah menahan ruh orang yang sudah meninggal dan tidak mengembalikannya kecuali setelah datangnya hari kiamat. Pendapat beliau ini didasarkan dalam kitab ash-Shahihain dari hadist Abdullah bin Abu Qatadah al-Anshary, dia berkata “ 

Pada suatu malam Rasulullah saw dan sahabatnya melakukan perjalanan. Sahabatnya berkata kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah bagaimana jikalau engkau istrahat dan tidak menjaga kami?” Beliau menjawab, “Aku khawatir kalian tertidur. Maka siapa yang membangunkan kita? Bilal berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Maka Bilal pun menjaga Rasulullah bersama sahabatnya sampai mereka tertidur. 

Akan tetapi, tak lama kemudian Bilal merasa kantuk berat, dia pun menyandarkan badan ke pelananya dan akhirnya dia tertidur. Ketika Rasulullah bangun, dan matahari sudah terbit, Rasulullah bertanya, “Wahai Bilal, mana yang pernah engkau bilang kepada kami?” Bilal pun menjawabnya, “Demi yang mengutusmu ya Rasulullah dengan kebenaran, aku tidak pernah mengalami kantuk seperti yang kualami kali ini. ” Rasulullah Saw brsabda, “Sesungguhnya Allah menahan ruh-ruh kalian kapan pun menurut kehendak-Nya dan mengembalikan kapan pun yang dikehendakinya.” Ruh dan Nafs Sama Dari kaca mata penulis, kedua pendapat ini pada hakikatnya sama. 

Secara fundamental jiwa itu bagian dari ruh dan jiwa terbntuk disebabkan adanya ruh. Ruh berasal dari Allah yang pada esensinya suci dan bersih, sedangkan jasad berasal dari manusia karena manusia menyimpan sifat-sifat keburukan. Ketika yang suci (ruh) menyatu dengan yang kotor (jasad), maka berubahalah sifatnya dan namanya menjadi An-Nafs atau jiwa. Allah menamakannya dengan jiwa karena didalamnya terdapat atau tergabung segala unsur keburukan dan kebaikan. Sebagaimana dalam [Alquran 91: 7-8] yang dijelaskan diatas. 

Baca Juga Tingkatan Alquran dan Wahyu Begituh pula dengan kematian, jikalau manusia meninggal yang dicabut oleh Allah ialah jiwanya, karena ruh cuman membawa potensi kebaikan yaitu ketaqwaan, ketika sifat taqwa ini masuk kedalam jasad, inilah yang dikembangkan menjadi amalan; dia sholat, puasa, zakat, sedekah, dan lain sebagainya. karena itulah mengapa ketika ia kembali kepada Allah bukan cuman ruhnya melainkan jiwanya juga, sebab kalau ruhnya saja yang pulang sama sekali tidak membawa apa-apa. Yang pulang itulah yang kembali kepada Allah itulah yang dinamakan An-Nafs yang didalamnya terdapat amal kebaikan dan amal keburukan dan yang menentukan dia berhak di Syurga atau di Neraka, sebagaimana dalam Alquran, “Kullu nafsin żā`iqatul maụt.”(QS. Ali-Imran:185)

Qolbu Pusat Interaksi Nafs Hati (qolbu) hanya memiliki satu makna, tapi seiring berkembangnya zaman dan banyak ulama yang mengemukakannya akhirnya menjadi luas interpretasinya. Sebagian mengatakan bahwa hati adalah tempatnya jiwa, seperti dua hal yang sama padahal sangat berbeda. Hati secara umum diartikan sebagai sekumpulan perasaan, kesadaran, dan naluri yang terpendam dalam diri manusia, yang berwujud perasaan cinta, benci, senang, sedih, bahagia, gelisah, kyusu’, takut, dan lain sebagainya. Semua sifat ini berkumpul disatu tempat yaitu didalam jiwa. 

Sebab inilah kehidupan manusia selalu bergejolak, karena jiwanya selalu terbolak-balik, tidak tentram, kadang baik dan kadang buruk. Dalam bahasa Arab segala sesuatu yang tidak pernah tentram, selalu bergejolak atau terbolak-balik itu dinamakan qolbu (hati). karena itulah mengapa para ulama mendefinisikan jiwa itu ialah tempatnya sedangkan hati adalah sifatnya. 

Dari sinilah Nabi pernah berpesan dan menyampaikan bahwa, “Jikalau keadaan hati kita bisa didominasi dengan sifat-sifat yang baik, maka sifat baik ini yang cenderung mengarahkan kita akan kebaikan dalam hidup. Sebaliknya, jikalau dalam hati bergolakannya lebih didominasi oleh sifat nafsunya, yang jeleknya yang muncul, maka hal inilah yang mendorong kita untuk melakukan keburukan dalam hidup.” 

Dapat digaris bawahi bahwa jiwa adalah tempat terkumpulnya unsur fujur dan taqwa, sedangkan hati ialah sifat pergolakkannya. Jika manusia dapat menundukan jiwa fujurnya, maka hatinya dipenuhi dengan sifat-sifat kebaikan dan hidupnya pasti tentram. Dan jika manusia tidak mampu menghidupkan jiwa taqwanya dengan menekankan jiwa fujurnya, maka hatinya dipenuhi dengan sifat keburukan otomatis hidupnya penuh dengan kegelisahan. wallahualam.

(Sumber Artikel : Roh, Nafs dan, Kalbu: Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an/hilmi rizkih Saputra/ibtimes.id)

Kamis, 20 Oktober 2022

Kisah Sufi: Rentenir Jahat yang Jadi Kekasih Allah

Sumber foto:Sindonews.com
Habib bin Muhammad al-Ajami al-Basri nama lengkapnya. Jauh sebelum namanya ngetop karena kesalehannya, Habib al-Ajami adalah seorang rentenir yang amat tajir. Perjalanan tobat Habib al-Ajami dikisahkan oleh Farid al-Din Attar dalam bukunya berjudul Tadhkirat al-Auliya’.

Seperti kematian yang datangnya tidak bisa diketahui pasti, begitu pula dengan keadaan hati, hidayah Allah datang kepada mereka yang memang telah Allah kehendaki.

Tidaklah aneh ketika kita membaca perjalanan hidup para kekasih Allah, maka akan ditemukan di antara mereka yang lebur dalam kegelapan, terlelap dalam jurang kejahilan, hingga akhirnya menjadi para salik yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Allah.

Habib Al 'Azami adalah salah satu dari para kekasih Allah yang mana sebelum ia mendapatkan maqam kemuliaan ia pernah hidup dalam kegelapan.

Biografi Habib Al 'Azami bisa dilihat dalam kitab Tarikh Al Kabir 2/326, Hilyatul Aulia 6/149, Siyar A'lam Annubala 6/143.

Syekh Fariduddin Attar dalam kitabnya Tadzkirotul Aulia halaman 81 Mengisahkan, Habib Al 'Azami adalah seorang kaya raya, ia tinggal di Kota Basrah.

Setiap hari ia berkeliling mendatangi satu persatu orang yang berhutang kepadanya untuk menagih, jika mereka belum bisa membayar maka Habib akan mengambil apa saja yang bisa mereka serahkan sebagai bunga atas hutang mereka. Dan seperti itulah cara yang dilakukan Habib untuk menghasilkan hal yang bisa menutupi kebutuhan sehari harinya.

Suatu hari ia mendatangi salah seorang yang berhutang kepadanya namun orang tersebut tidak ada di rumah. Akhirnya sang Habib meminta kepada istrinya bunga atas hutangnya yang belum bisa di bayar.

"Suamiku tidak ada di rumah, dan aku tidak memiliki apa-apa, sisa daging leher domba," kata perempuan itu.

Habib pun meminta kepada perempuan tersebut menyerahkan kan leher domba itu. Pada hari itu pun Habib pulang ke rumah dengan membawa kayu bakar, gula, dan rempah-rempah serta leher domba yang mana semuanya didapatkan dari orang yang belum bisa membayar hutangnya.

Sesampainya di rumah, Habib menyuruh istrinya memasak apa yang telah ia bawa. Ketika istrinya hendak membuka tutup ketel ia terhenti sejenak karena terdengar suara keras Habib kepada pengemis yang datang ke rumahnya.

"Jika aku bagikan makanan kepadamu, maka tidak akan ada yang tersisa untuk makan malamku, kamu mendatangi setiap pintu rumah apakah itu tidak membuatmu cukup?" ungkap Habib dengan nada keras.

Pengemis itu pun pergi dengan tangan kosong. Setelah itu ketika istri Habib hendak melihat masakan di wajannya itu, tidak ada yang dilihat kecuali darah hitam memenuhi ketel itu.

Si istri pun membawa Habib ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.

"Ini semua karena buruknya akhlakmu, harta riba yang kau makan, pada pengemis kau menghardik, keadaan ini seperti gambaran keburukanmu itu. Apakah kau tak berpikir bagaimana pedihnya balasan di akhirat nanti," kata sang istri.

Mendengar itu, hati habib bergetar ia berpikir dan menyaksikan apa yang telah terjadi, "Wahai istriku mulai saat ini aku bertobat.”

Setelah itu, ia pun mengembalikan seluruh harta yang pernah ia dapatkan dengan cara haram itu. Sampai tidak ada lagi yang ia miliki. Dengan begitu, ia pun menjadi miskin sejadi-jadinya.

Kemudian, si Habib itu membangun gubuk di bantaran sungai Furat. Tempat baru itu ia pakai untuk terus beribadah tak kenal waktu. Ia juga mulai menuntut ilmu dan belajar Al-Quran kepada Hasan Bashri.

Saat dirinya belajar kepada tokoh sufi terkenal itu, si Habib dikenal sebagai orang yang kurang pintar. Maka itu, dirinya pun dijuluki Al ‘Azami, alias bodoh.

Suatu ketika, kala Habib pulang ke gubuknya, istrinya bertanya, "Dari mana engkau, suamiku? Apa yang engkau lakukan?"

"Aku bekerja pada seseorang," jawab Habib.
"Mana upahnya? "
"Orang tersebut sangat baik dan dermawan saya malu jika meminta upah. Tetapi kabarnya ia akan memberikan secara langsung setiap sepuluh hari," jawab Habib.

Syahdan, sepuluh hari berlalu. Tibalah hari itu, Habib sangat bingung di perjalanan menuju rumahnya ia banyak berpikir, apa yang harus ia katakan pada istrinya tetapi ia tetap bertawajuh dan memasrahkan semuanya kepada Allah.

Belum sampai masuk ke rumah, di luar ia mencium bau masakan dari rumahnya, benarlah ketika ia masuk ke rumah ia menyaksikan istrinya sedang memasak, kegembiraan yang diliputi dengan tanda tanya meliputi perasaan Habib.

Istrinya menjelaskan bahwa ini adalah pemberian dari seseorang yang engkau bekerja padanya. Para pemuda yang wajahnya terang seperti rembulan itu selain memberi semua bahan pokok ini dan seikat kantong yang berisi dirham, ia juga menitipkan pesan untukmu, perbanyaklah bekerja maka akan seimbang juga balasan upahnya.

Mendengar apa yang dituturkan istrinya, Habib pun menangis terharu, "Demi Allah wahai istriku, selama sepuluh hari ini tidak ada pekerjaan yang aku lakukan kecuali siang dan malam aku habiskan untuk beribadah kepada Dzat yang maha kaya yang telah memberikan segala anugerah ini."

Seperti itulah sekelumit risalah tentang kisah perjalanan kekasih Tuhan yang dalam beribadah selalu istiqomah dan penuh khidmah, sehingga Tuhan berikan kepada mereka anugerah dan karomah.//

Rabu, 19 Oktober 2022

Maulid Sang Guru Sufi

Sufi, bukanlah sosok yang eksklusif yang selalu tampil beda dengan saudara-saudara Muslim lainnya. Sufisme tidak akan pernah menjadi ad-Din atau diagamakan pengikutnya. 

Begitu pula kaum sufi, hanyalah sekelompok orang, baik dalam sebuah ikatan maupun secara sendiri-sendiri, yang menjaga konsistensi dan kejernihan berpikir, bersikap, serta bertindak berdasarakan iman, Islam, dan ihsan yang murni dan konsekuen. 

Seseorang dijuluki sufi, apabila dia seorang mukmin, Muslim, muhsin, yang sungguh-sungguh dengan jujur mengaktualisasi iman, Islam, dan ihsannya, dengan menggunakan tolok ukur keteladanan Rasulullah SAW.

Menurut KH Abdurrahim Radjiun, ulama sufi Betawi terkemuka, sufisme bukan ditandai dengan kekumuhan, kelusuhan, tarian, lirik syair, serta sikap kontroversial dan kontraproduktif yang dituduhkan kebanyakan orang. 

Seorang kepala negara, sultan, raja, perdana menteri, menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, mandor, konglomerat, pengusaha, kiai, ustaz, mubaligh, sopir, kernet, pedagang kaki lima, asongan, pengamen, ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar, atau siapa saja, mereka dapat menjadi seorang sufi yang baik. Sejauh mereka mengimani dan membuktikan keimanannya bahwa jiwa dan harta mereka adalah dari Allah.

Ini diperoleh karena rahmat Allah dan bermanfaat di jalan Allah dan mereka telah berada di Wilayah Quraniyah dengan memedomani Alquran surat at-Taubah ayat 111, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

Kaum sufi yang oleh dunia Barat disebut sebagai sophists, orang yang berbicara, berpikir, dan berperilaku tidak lazim, sesungguhnya adalah sekelompok manusia yang memiliki sophistic quotion (SQ), kecerdasan sufistik, dalam menyikapi dan memberi solusi pasti, terhadap ketidakpastian suatu keadaan. 

Mereka juga bukan ahlus shuffah seperti yang dianggap oleh pendapat umum sebagai sekelompok orang yang mendiami emperan masjid Nabawi. Kezuhudan kaum sufi bukanlah kezuhudan yang melemahkan, tetapi memuat semangat berjuang, berkurban, dan bekerja serta peduli terhadap persoalan umat. 

Para sufi adalah ummatan wasathan, umat penengah, adil, dan pilihan, yang menjadi saksi bagi hiruk pikuk kehidupan duniawi, selaras dengan firman Allah dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 143, "Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan."

Lalu, siapakah guru dari kaum sufi ini? Di dalam bukunya yang berjudul Tasawuf Modern, Buya Hamka menyatakan bahwa pada zaman Nabi Muhammad SAW hidup, semua orang menjadi "sufi", yaitu sufi sepanjang artian dari Syaikh Junaid al-Baghdadi, orang yang yang keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Dengan demikian, guru kaum sufi dari zaman para sahabat, sampai saat ini dan sampai dunia kiamat adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Salah satu ciri utama dari seorang sufi adalah pada keadabannya yang berpedoman kepada keadaban Sang Guru Sufi, Rasulullah Muhammad SAW. Keadaban Rasulullah SAW tidak hanya dengan menggunakan ukuran kemuliaan akhlak atau perilaku keseharian. Keadaban beliau lebih kepada perspektif sikap, ucapan, pandangan dalam membimbing, membentuk, menggerakkan, serta mengarahkan umat jauh ke masa depan.

Dengan pengertian demikian, dapat dipilah dan dibedakan antara orang-orang yang berperilaku baik secara normatif, tapi tidak memberi arti dan nilai tambah bagi suatu perjuangan, perbaikan, serta pencapaian target ideal, dan orang-orang atau kaum beradab yang tidak pernah lelah berpikir, bersikap, bergerak dinamik untuk pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan suatu kaum dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. 

Keadaban Rasulullah SAW sendiri adalah keadaban Islami yang sepenuhnya bermuara kepada keluhuran serta kekayaan pesan-pesan Qurani, dengan contoh aktual dari keseharian Rasulullah SAW yang diabadikan melalui Sirah Nabawiyah, alur hidup kenabian, telah mendarah daging dalam kisi-kisi kehidupan kaum sufi dari masa ke masa.

Maka, sebagai pihak yang berdiri tegak di tengah, para sufi dengan konsisten tidak akan pernah menyatakan keberpihakan kepada apa pun dan dengan siapa pun, sejauh hal itu berseberangan dengan Alquran dan sunah. Karena mereka berkeyakinan sepenuhnya bahwa guru besar mereka adalah Rasulullah SAW, sebagai insan kamil yang telah mengubah peta sejarah dan keadaban dunia. 

Tak salah, bila kaum ini menyimpan kecerdasan sufistik, itu semata-mata karena mereka berjuang keras untuk menjaga diri berselaras dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan Alquran dan sunah. Sebab, kitab manakah yang lebih mulia dari Kitabullah? Dan bukankah Rasulullah Muhammad SAW adalah kota ilmu, muara kecerdasan, yang dengan ilmu dan kecerdasannya sejak 1400-an tahun lalu, tetap dapat kita rasakan hingga saat ini, dan terus merayapi punggung bumi sampai ujung zaman?

Akhir kalam, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya menjadi peringatan untuk memandang Rasulullah SAW sebagai Sang Guru Sufi yang dilahirkan ke dunia ini untuk membimbing umatnya menjadi umat yang berkeadaban seperti yang telah dia contohkan. 

Keadaban Rasulullah SAW dengan kesufiannya menjadi pedoman dan penggerak yang melintasi semua alam, ruang, dan waktu. Dan kita semua hendaknya menjadi sufi yang meneruskan kesufian beliau dengan keadabannya yang paripurna. Shallu 'alannabi. ***

(Rakhmad Zailani Kiki/Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre/Republika)

Jumat, 16 September 2022

Apa yang Diajarkan Surat A-Kahfi?


Surat Al-Kahfi mengajarkan:

Jika seseorang ingin akan melakukan sesuatu berucaplah: "IN SYAA ALLAH"
(Ayat: 23-24)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Dzikir kepada Allah dan doa itu penyembuh untuk jiwa dan kepikunan.
(Ayat: 24)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Agar bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari. (Ayat: 28)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh tidak akan disia-siakan pahalanya. (Ayat: 30)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa harta dan anak-anak hanyalah perhiasan kehidupan di dunia. Amal shalehlah yang lebih baik dan akan kekal. (Ayat: 46)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa balasan perbuatan maksiat itu tidak seperti makan cabe yang langsung terasa pedasnya. Tapi ada waktu tertentu yang disiapkan untuk mereka mendapatkan adzab. (Ayat: 58)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa adzab dunia walaupun ada, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan adzab akhirat.(Ayat: 87)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa orang yang paling merugi adalah mereka yang merasa sudah berbuat baik, padahal perbuatan mereka sia-sia. Yaitu mereka yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, dan tidak beriman kepada hari kiamat, hisab dan pembalasan.
(Ayat 103-105)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya. (Ayat 107-108)

Surat Al-Kahfi mengajarkan:
Bahwa seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah, maka tidak akan cukup, walaupun tintanya ditambah sebanyak itu lagi. (Ayat: 109)

YAA RABB..
BERIKANLAH RAHMAT KEPADA KAMI DARI SISI - MU, DAN SEMPURNAKANLAH PETUNJUK YANG LURUS BAGI KAMI DALAM URUSAN KAMI.

*آمِـــيْنَ يَارَبَّالْعَالَمِــــيْنَ*





Kamis, 15 September 2022

Kisah Sufi Getarkan Hati, Murid Syekh Junaidi Al Bagdadi Ditegur Rasulullah, Karena Menolak Memberi Makan

Kisah sufi ini merupkan kisah yang dialami seorang murid Syekh Junaidi Al Bagdadi bernama Syekh Muhammad al Hariri. Dia ditegur Rasulullah SAW lewat mimpi, karena telah menolak memberi makan kepada seorang pemuda.

Suatu hari seorang sufi bernama Syekh Muhammad al-Hariri sedang duduk di sebuah sudut ruangan. Tiba-tiba ada seorang pemuda masuk. Pemuda ini tampak begitu lusuh. Tidak mengenakan tutup kepala, tidak juga beralas kaki, dan rambutnya terurai. Wajahnya juga tampak pucat.

Syekh Muhammad al-Hariri adalah salah satu murid dari Syekh Junaid al-Baghdadi. Syekh al-Hariri juga menjadi pengganti gurunya tersebut. Selain sebagai seorang ahli ilmu, Syekh Muhammad al-Hariri juga seorang sufi nan alim.

Beliau memiliki kebiasan berpuasa di siang hari tetapi tidak pernah terlihat berbuka. Ketika malam tiba, terkadang beliau juga melanjutkan untuk tetap puasa. Selain itu waktu malam dihabiskan untuk sholat hingga punggungnya tidak menyentuh alas untuk beristirahat apalagi tertidur lelap.

Syekh Muhammad al-Hariri dikenal sebagai orang yang semangat dalam mencari ilmu. Beliau pernah bermukim di berbagai kota untuk menuntut ilmu, termasuk bermukim di Mekah.

Pemuda yang ditemuinya itu kemudian mengambil air wudhu dan menunaikan shalat dua rakaat. Setelah itu, ia hanya menundukkan kepala hingga memasuki waktu maghrib. Pemuda ini kemudian berjamaah dengan Syekh Muhammad al-Hariri. Selesai shalat, lagi-lagi pemuda itu hanya menundukkan kepalanya kembali.

Pada malam hari, Khalifah Baghdad mengundang para sufi dan ulama untuk ceramah agama. Sebelum pergi, Syekh Muhammad al-Hariri mengampiri pemuda tersebut dan bertanya kepadanya.

“Wahai anak muda, maukah kau ikut denganku untuk memenuhi panggilan Khalifah?”

“Aku tidak membutuhkan itu,” Jawab pemuda tersebut. “Yang aku inginkan adalah makanan darimu.”

“Jawabannya tak sesuai harapanku, ia justru menginginkan hal lain dariku,” jawab Syekh al-Hariri dalam hati.

Setelah obrolan singkat tersebut, Syekh Muhammad al-Hariri segera berlalu. Beliau tidak memperdulikan pemuda tersebut. Beliau segera pergi untuk menghadiri acara yang diadakan oleh Khalifah.

Sepulang dari acara tersebut, Syekh Muhammad al-Hariri kembali ke ruangan. Ia melihat pemuda yang sebelumnya ditemui seolah-olah sudah tidur. Oleh karena itu beliau juga langsung tidur.

Dalam tidurnya, Syekh Muhammad al-Hariri bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW bersama dua orang tua yang bercahaya wajahnya. Di belakangnya tampak rombongan orang-orang dengan kemilau cahaya yang terang.

Beliau diberi tahu bahwa yang beliau temui tersebut adalah Rasulullah SAW yang didampingi Nabi Ibrahim AS di sisi kanan dan Nabi Musa AS di sisi kiri. Sementara rombongan di belakang ketiga nabi tersebut adalah para nabi lainnya yang berjumlah 124.000.

Syekh Muhammad al-Hariri segera mendekati Rasulullah dan mencoba untuk mencium tangannya. Namun Rasulullah justru memalingkan wajahnya. Hingga tiga kali, Syekh Muhammad al-Hariri mencoba hal yang sama, tetapi lagi-lagi Rasulullah memalingkan wajahnya.

Syekh Muhammad al-Hariri bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau berpaling wajah dariku?”

Rasulullah menjawab pertanyaan Syekh Muhammad al-Hariri, “Sungguh engkau telah berbuat kikir, ketika datang dari golongan kami meminta makanan darimu.” Ternyata sufi ini ditegur Rasul lewat mimpi.

Mendengar jawaban Rasulullah, Syekh Muhammad al-Hariri terbangun dalam keadaan hati yang diliputi rasa penyesalan serta ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya menjadi bergetar dan menggigil. Ia memalingkan pandangan ke arah pemuda tersebut, tapi celakanya, ia sudah tidak terlihat lagi.

Syekh Muhammad al-Hariri segera melangkahkan kaki keluar. Dicari pemuda itu. Ketika melihatnya, ditanyalah pemuda tersebut.

“Hai Anak Muda, demi Allah yang telah menciptakan dirimu, mohon tunggulah sebentar. Ini makanan untukmu!” ujar Syekh Muhammad al-Hariri.

Pemuda itu tersenyum kepada Syekh Muhammad al-Hariri.

“Wahai Syekh Muhammad al-Hariri, siapakah yang menginginkan sesuap makanan darimu?” kata pemuda tersebut. “Mana bisa nabi dengan jumlah 124.000 itu memberikan pertolongan dengan sesuap makanan?”

Pemuda itu pergi dan hilang. Sementara Syekh Muhammad al-Hariri terpana sendiri dan sangat menyesali perbuatannya tersebut.//**


Jumat, 09 September 2022

Nafs dalam Kacamata Sufistik

Nafsu dalam pemahaman secara umum dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan biologis, materi, maupun hal lain yang bersifat duniawi. Namun dalam bahasa Arab, nafsu berasal dari kata 'nafs', memiliki banyak makna sebagaimana ditunjukkan dalam Alquran.

Makna Pertama,
 'nafs' bermakna 'kecenderungan' atau nafsu. Makna inilah yang umumnya digunakan oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Makna 'nafs' sebagai nafsu disebutkan dalam Alquran Surah Yusuf ayat 53:

"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."

'Nafs' dalam makna tersebut dapat mengarah pada dua hal yakni yang positif dan negatif. Misalnya, nafsu seksual yang bisa menjadi positif atau negatif. Menjadi positif jika dilakukan dengan cara yang sesuai ajaran Islam dan bertujuan untuk melanjutkan generasi umat manusia.

Namun nafsu seksual menjadi negatif ketika diumbar atau ketika bertentangan dengan aturan syariat. Dalam hal ini, Allah SWT memberi pilihan kepada manusia, antara memilih yang positif atau negatif. Allah SWT berfirman, "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)..." (QS Al-Balad ayat 10).

Makna kedua 'nafs' adalah hati atau kalbu. Makna ini digunakan dalam Alqurah Surah Al-Isra ayat 25: "Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertoba

Ketiga, 'nafs' memiliki makna jiwa atau ruh atau sesuatu yang bernyawa. Makna ini terdapat dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 145:

"Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Keempat, 'nafs' juga memiliki makna yaitu Dzat Allah Yang Mahasuci, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An'am ayat 12: "Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman."

Demikian sekilas beberapa pengertian nafs dalam kacamata sufistik. Semoga bermanfaat.

Jumat, 02 September 2022

Kisah Sang Bajingan dan Orang Saleh

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, dalam pengajian yang diselenggarakan Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi'iyah (IKSASS) Rayon Bondowoso menceritakan, kisah orang saleh dengan seorang bajingan ini untuk dijadikan ibrah agar seseorang dalam menjalankan perintah agama harus selalu menjaga hati agar tidak sombong terhadap orang lain.

Ini adalah cerita hikmah yang bisa kita jadikan pedoman dalam menjalankan ibadah seraya menjaga gerak hati.

Cucu dari Pahlawan Nasional KHR As'ad Syamsul Arifin ini menceritakan, orang yang saleh itu tinggal di pegunungan yang hidupnya lebih banyak diisi dengan ibadah. Pegunungan itu agaknya memberi gambaran bahwa orang saleh itu jauh dari gangguan kondisi sosial masyarakat sehingga hidupnya lebih banyak diisi dengan ibadah kepada Allah.

Sementara, si bajingan hidup di sebuah perkampungan dekat pasar. Karena di daerah pasar, tentu saja ramai dan hidup banyak orang dengan berbagai latar belakang. Si bajingan itu adalah preman pasar yang pekerjaannya memalak para pedagang.

Dilansir Antara, secara syariat, tentu saja bajingan ini jauh dari predikat sebagai hamba yang baik. Ia justru menjadi sampah masyarakat.

Kisah pemutarbalikan "status" kemuliaan di hadapan Allah ini bermula ketika suatu hari si orang saleh turun dari pegunungan dan pergi ke pasar guna membeli kebutuhan hidupnya. Entah beras, lauk pauk atau sayur mayur.

Di perjalanan si orang saleh dan si bajingan ini berjumpa, namun dalam jarak yang agak jauh. Dua orang yang sudah saling tahu perilaku masing-masing itu tidak bertegur sapa. Sebaliknya, mereka justru tampak saling membuang muka.

Secara fisik, perilaku keduanya sama. Sama-sama membuang muka, namun motif atau niat yang ada di hati mereka yang justru berbeda.

Si orang saleh yang sudah merasa bersih dan banyak berbuat kebajikan di hadapan Allah itu membuang muka karena memandang hina si bajingan, sementara si bajingan merasa malu untuk menatap orang saleh karena merasa dirinya kotor. "Saya terlalu kotor, saya tidak pantas melihat wajah orang saleh itu," begitu bisik hati si bajingan.

Menurut Kiai Azaim, seketika itu Allah membalikkan status keduanya. Si bajingan menjadi orang mulia yang kemudian menjadi orang bertaubat dan si orang saleh menjadi orang hina karena kesombongannya memandang orang lain.

Karena itu, ulama muda yang juga dikenal sebagai penyair ini mengingatkan agar kita selalu membaca doa, "Yaa muqollibal quluub". Artinya, "Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati".

"Tapi jangan berhenti di yaa muqollibal quluub itu. Teruskan dengan "tsabbit qolbi 'alaa diinika," katanya.

Arti dari doa tsabbit qolbi 'alaa diinika itu kurang lebih,"Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."///**

Rabu, 17 Agustus 2022

Makna Kemerdekaan dalam Pandangan Sufi

Kemerdekaan dalam pandangan kaum sufi memiliki makna tersendiri. Makna kemerdekaan menurut mereka tergantung kepada tingkatan spiritualitas yang dilalui seorang hamba. 

Para penulis teori-teori tasawwuf ketika menjelaskan kebebasan dalam karya-karya mereka selalu dimulai dengan konsep hamba (al-abd) berikut dengan semua atribut kehambaan (al-ubudiyyah). 

Dalam penjelasan ini, yang tersisa dalam substansi dan identitas kesufian tidak lain hanyalah kehambaan atau dalam bahasa kaum sufi al-ubudiyyah.

Namun persoalan jadi lain ketika seorang hamba dalam perjalanan ruhaninya telah sampai kepada tingkat al-fana. Sampai di sini, pembahasan kaum sufi menjadi lain, tidak lagi soal kehambaan atau al-ubudiyyah tapi soal kebebasan atau al-hurriyyah. Lalu apa sebenarnya makna al-hurriyyah dalam pandangan kaum sufi?

Hakikat kebebasan, kata al-Qusyairi dalam ar-Risalah, terletak kepada kesempurnaan kebebasan (fi kamal al-hurriyyah). Secara lebih jauh lagi, al-Qusyairi mengutip pandangan al-Hallaj: al-Husain bin Mansur menjelaskan jika telah melewati tingkatan-tingkatan kehambaan (maqamat al-ubudiyyah) secara keseluruhan, seorang hamba akan terbebas dari beban kehambaan.

Karena dalam pandangan kaum sufi, setiap makna suatu kata itu selalu terbagi dua; makna untuk kalangan orang banyak atau kalangan awam dan makna untuk kalangan elite atau kalangan khassah, dan kadang dalam berbagai hal, ada makna lain yang ketiga, yakni makna untuk kalangan super elite (khasatul khassah), kebebasan pun selalui dimaknai menurut awam, khassah dan khassatul khassah.

Kebebasan untuk kalangan awam ialah kebebasan dari perbudakan nafsu dan syahwat (at-taharrur min ubudiyyat asy-syahawat). Kebebasan seperti ini hanya diperuntukan bagi para sufi pemula yang belum bisa dibedakan dari kalangan awam pada umumnya. Sedangkan kebebasan untuk kalangan khassah ialah kebebasan dari belenggu kehendak dan keinginan karena kehendak mereka sudah melebur atau fana dalam kehendak Yang Maha Benar (at-taharrur min riqqil muradat, lifanai iradatihim fi iradatil haqq).

Kebebasan jenis ini ialah kebebasan seorang sufi yang telah melewati semua tingkatan perjalanan spiritual dan telah mencapai tingkatan fana. Ketika sudah sampai ke tingkatan fana, sang sufi sudah terbebas dari belenggu-belenggu latihan spiritual, riyadah dan mujahadah.

Sedangkan jenis kebebasan yang ketiga, kebebasan yang dimiliki oleh kalangan khassatul khassah, kalangan super elite-nya para pendaki spritual menuju Allah, ialah kebebasan dari belenggu ibadah formal dan sunnah karena mereka telah terbius oleh manifestasi cahayanya cahaya (riqq ar-rusum wal atsar li inmihaqihim fi tajalli nur al-anwar).

Yang semakna dengan definisi kebebasan untuk kalangan khassatul khassah ini ialah sebagian kalangan sufi yang mengatakan: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kamu dalam kebebasan maka jadilah seperti dalam keadaan pertama kali kamu tercipta. (inna Allah kholaqaka hurran fa kun kama kholaqoka). Arti dari klausa jadilah seperti dalam keadaan pertama kali kamu tercipta.

Jadi makna kebebasan bagi kalangan khassatul khassah ialah terbebas dari rusum, yaitu ibadah formal (takalif syariyyah) yang menjadi objek kajian fikih. Sebagian kalangan sufi memberikan justifikasi terhadap kebebasan dari beban ibadah formal dengan menegaskan bahwa kalangan khasatul khassah itu qod tajahwaru, yang artinya bahwa jiwa-jiwa kalangan khassatul khassah telah menjadi suci sehingga mereka menjadi substansi murni.

Berangkat dari sini, riyadah dan mujahadah tidak perlu lagi bagi kalangan khassatul khassah karena kewajiban riyadhah dan mujahadah tujuannya ialah untuk menyucikan jiwa dan ketika jiwa sudah menjadi suci, untuk apalagi proses mujahadah. Untuk lebih memperjelas, kita coba kutipkan pandangan Ibnu al-Jauzy dalam kitabnya yang terkenal, Talbis Iblis, demikian:

“ومنهم من داوموا على الرياضة مدة، فرأوا أنهم قد تجهوروا فقالوا: لا نبالي الآن ما عملنا، وإنما الأوامر والنواهي للعوام، ولو تجهوروا لسقطت عنهم. قالوا: وحاصل النبوة ترجع إلى الحكمة والمصلحة. والمراد منها ضبط العوام ولسنا من العوام فندخل في حجر التكليف لأنا قد تجهورنا وعرفنا الحكمة.”

“Di kalangan kaum sufi, ada yang melakukan riyadhah sebentar lalu mengklaim bahwa mereka telah menjadi substansi (tajahwaru). Mereka mengatakan: kami tak peduli dengan amalan-amalan. Perintah dan larangan agama hanya untuk kalangan awam. Ketika sudah menjadi substansi murni, mereka mengklaim telah bebas dari beban kehidupan. Lebih jauh lagi, bagi mereka ajaran kenabian memang hanya diberlakukan untuk hikmah dan kemaslahatan.

Maksud dari ajaran kenabian ialah untuk mendidik kalangan awam sementara mereka mengklaim: “kami bukan kalangan awam sehingga tidak bisa masuk ke dalam beban kehidupan karena kami telah menjadi substansi murni dan kami telah mengetahui hikmah kehidupan di dunia”.

Sampai di sini, klaim tajahwur memiliki kaitan erat dengan terbebasnya mereka dari beban kehidupan. Tajahwur artinya proses ketika jiwa menjadi substansi murni setelah melewati tahapan-tahapan mujahadah dan riyadhah yang memakan waktu lama. Jadi makna kemerdekaan bagi kaum sufi yang sudah mencapai tingkatan khassatul khassah ialah kemerdekaan dan kebebasan dari berbagai beban kehidupan dunia.  (bincangsyariah.com)

Sabtu, 30 Juli 2022

Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah tahun ini jatuh pada Sabtu, 30 Juli 2022. Pada tahun baru ini pula terdapat ragam makna spesial bagi umat Muslim.

Bulan Muharram termasuk dalah satu dari empat bulan paling dimuliakan oleh Allah SWT atau disebut sebagai 'bulan haram' (al asyhurul harum) dalam Islam.

Hal ini bahkan tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 36 yang artinya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."


Allah SWT memberikan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada berupa keistimewaan dan kemuliaan. Perbuatan baik, seperti memperbanyak salat sunah, berzikir, bersedekah, dan lain sebagainya, yang dikerjakan pada empat bulan haram tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT.

Tahun baru Islam atau Hijriah memiliki makna tersendiri bagi umat Muslim. Bergantinya tahun baru Islam diperingati pada 1 Muharram, dan berbeda dengan penanggalan masehi.

Islam memang mengajarkan kepada kita bahwa sebagai umat Muslim, kita harus menyambut tahun baru memakai sistem penanggalan Hijriah dan memperingatinya dengan doa serta berzikir bersama.

Ada peristiwa penting yang terjadi sehingga muncul penanggalan hijriah, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Madinah ke Makkah.

Peristiwa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah bagi umat Muslim karena semenjak itu agama Islam berkembang pesat di sebagian besar daerah Jazirah Arab.

Penanggalan Hijriah yang diawali pada 1 Muharram digagas oleh sahabat nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, sebagai tanda hijrah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalam menyambut dan memperingati tahun baru Islam, umat Muslim diharapkan memaknainya dengan membuka lembaran baru serta mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan.

Lantas, sebenarnya apa saja makna tahun baru Islam yang perlu kita pahami? Berikut makna tahun baru Islam bagi umat muslim:

1. Momentum Pergantian Tahun

Makna tahun baru 1 Muharram bagi umat Muslim yang pertama adalah sebuah momentum adanya pergantian tahun. Tentu ini menandakan akan perubahan tahun Hijriyah dari tahun sebelumnya ke tahun yang baru.

Momen pergantian tahun baru Islam bagi beberapa umat sering dirayakan dengan berbagai aktivitas berbeda, seperti sembari membaca Al-Qur'an dan berzikir muji nama Allah SWT.

2. Memperingati Nabi Muhammad SAW Hijrah

Tahun baru Islam memiliki arti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju ke Madinah dan menjadi peristiwa penting lahirnya Islam sebagai agama yang berjaya.

Dari hijrah tersebut, Islam mulai mengalami perkembangan yang pesat dan makin luas sampai ke Makkaah dan beberapa daerah di sekitarnya.

Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah bukan tanpa alasan, namun karena memperoleh wahyu dan juga sebuah respons untuk menanggapi masyarakat Arab yang tidak terlalu berkenan dengan ajaran Islam.

Dengan hijrahnya Nabi Muhammad tersebut, Islam mulai mengalami peningkatan dalam menunjukkan diri dan menjadi negara Islam [Daulah Islamiyah] terbentuk. Daulah Islamiyah di zaman Nabi Muhammad sangat menjunjung tinggi toleransi yang termaktub dalam Piagam Madinah.

3. Semangat Perjuangan Tanpa Putus Asa

Makna tahun baru Islam yang berikutnya dapat diartikan sebagai semangat perjuangan tanpa mengenal rasa putus asa serta optimisme yang tinggi, yakni semangat hijrah dari hal buruk menuju hal yang lebih baik.

Rasulullah SAW serta para sahabatnya melawan rasa sedih dan takut saat hijrah, di mana mereka harus meninggalkan tanah kelahiran, saudara dan harta benda yang mereka miliki.

4. Bukti Betapa Maha Adilnya Allah SWT

Tidak seperti tahun Masehi di mana permulaan hari atau pergantian hari terjadi di jam 00:01, tahun baru Islam dimulai saat matahari terbenam atau munculnya bulan.

Inilah yang menyebabkan Tahun Masehi dari Isa Al Masih dalam Islam dinamakan Tahun Syamsyiah (matahari), sementara untuk tahun Hijriah atau tahun Islam dinamakan tahun Qimariah (bulan).

Bukti dari Maha Adil Allah SWT akan terlihat pada daerah dekat ekuator atau khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara Arab yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar, fluktuasi lamanya berpuasa untuk setiap tahun hampir tidak banyak memiliki perbedaan.

Hal ini tidak terjadi di beberapa belahan bumi lain di mana waktu berpuasa bisa lebih singkat atau lebih lama.

5. Momen Muhasabah atau Intropeksi Diri

Makna tahun baru Islam yang berikutnya adalah sebagai momen introspeksi diri atau muhasabah. Dengan memasuki tahun baru Islam atau Hijriah, kita akan memasuki 1 Muharram yang berarti sudah meninggalkan tahun yang sudah berlalu dan memasuki tahun yang baru.

Dalam menyambut tahun baru Islam, kita bisa merenungkan perbuatan kita di tahun-tahun sebelumnya dan merencanakan tujuan di tahun yang baru ini dengan resolusi-resolusi yang Anda tetapkan sendiri.

Tentunya resolusi ini merupakan resolusi yang baik dan harus diiringi oleh usaha yang tekun dan berdoa yang tanpa henti, berharap kepada Allah ta'ala.

6. Momen Menuju Kebaikan

Makna tahun baru Islam memiliki makna bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang.

Hal ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 218)

7. Pengingat akan Pentingnya Berakhlak Mulia

Makna tahun baru Islam yang selanjutnya adalah dapat menjadi pengingat dari pentingnya akhlak mulia. Tentu sering kita dengar bahwa berilmu saja tidak berguna jika Anda tidak berakhlak.

Akhlak mulia akan menjadi pendorong Anda untuk dapat terus berbuat baik dan menebar kebaikan kepada banyak orang, yang kemudian hasil kebaikan itu akan Andai tuai kembali di kemudian hari.

8. Menghindari Kultus Individu

Penentuan tahun baru Islam tidak didasari dengan kelahiran, namun pada peristiwa. Hal ini memperlihatkan Islam merupakan agama yang progresif, bergerak terus maju, tidak stagnan, dan bergerak dari satu peristiwa menuju ke peristiwa yang lainnya sesuai perkembangan zaman, kebutuhan tempat dan kebutuhan manusia yang hidup pada saat tersebut.
(Sumber: DalamIslam//dkmalmuhajirin/ankid/nas)

Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

* بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ* * السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه* * اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى س...