Perubahan...Bulshit??

Secangkir Anggur Merah (Edisi-4)

by: Nana Suryana

Kita harus berubah! Ya, ucapan bernada instruksi ini kerap dilontarkan para CEO atau para pejabat perusahaan. Sampai-sampai ucapan itu menjadi terasa klise. Bulshit, modus atau Omdo, kata orang sekarang. Bahkan ada yang protes: ”Sekarang zamannya role model bung! Sebelum memberi instruksi lakukan dulu perubahan diri sendiri.”

Mengapa, tekanan bernada perintah kepada akar rumput itu bisa berbuah apatisme? Karena melakukan perubahan, dirasakan kurang enak alias gak nyaman. Itulah sebabnya tidak banyak orang yang menyukai perubahan.

Untuk berubah ke arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar. Ada pengorbanan yang harus diganjar! Boleh dalam bentuk pengendalian sikap, prilaku, manajemen waktu, sampai pada tuntutan untuk fokus. Terkadang turut mengimbas pula pada pengorbanan keluarga. Diburu dan dikejar target hingga harus pulang larut malam.

Memang yang paling gerah adalah mengubah attitude. Betapa tidak, selama ini mungkin kita sangat suka dan terlanjur nyaman dengan sikap yang dimiliki. Apalagi jika telah terlanjur terbuai zona nyaman. Ucapan seperti "EGP", "mana ada urus" atau "bukan urusan saya" telah menjadi kalimat sanggah yang paling diandalkan. Sampai-sampai, harus memvonis orang lain agar rela untuk menerima sikap dirinya yang semau gue.

Lalu bagaimana jika tiba-tiba diminta untuk melakukan perubahan sikap dari yang selama ini sangat nyaman? Mungkin siapa pun akan mulai berpikir dan mencari alasan pengingkaran. Boleh jadi akan keluar kalimat argumentatif, seperti ini: “Untuk apa sih gue ini harus kerja gini-gini amat! kaki dibikin kepala, kepala dibikin kaki (maksudnya kerja sampai jungkir balik, red.), padahal gaji gue dengan si polan yang gebleknya ga kira2 tak ada bedanya!!”

Kalau selama ini kita tergolong orang cuwek bebek yang senang dilayani, lalu diajarkan untuk berubah menjadi orang yang suka melayani, sudah tentu, pastilah ini tidak mudah. Bisa saja terjadi banyak pergolakan batin. Bermunculan keluhan atas kesulitan hingga terjadi tekanan emosi yang menghimpit.

Contohnya, tengoklah kondisi para karyawan beberapa waktu lalu banyak yang mengeluh sampai keinginan untuk dikabulkan pensiun dininya (pendi). Mengapa? karena tak tahan sewaktu ditantang harus berjualan produk sesuai target selangit dengan pelayanan prima kepada calon pelanggan.

Namun apapun alasannya, siapapun kita termasuk para pensiunan, mendapat tuntutan untuk berubah. Perubahan harus sudah dimulai dan harus terus berjalan. "With or without you," kata seorang Senior Leader yang idealis.

Memang sepertinya kita tak punya pilihan lain. Option-nya hanya satu,: “We must change!” Kita harus berubah. Terpaksa atau dipaksa harus berubah. Siapapun kita itu, dimanapun kita berada, di level apapun tanggungjawab kita. Semua harus berubah! Mengapa? Karena situasi dan kondisi kehidupan di alam Pandemik Covid-19 saat ini yang semakin memaksa untuk berubah.

Lantas mengapa perubahan telah menjadi sesuatu yang amat penting? Sebab, itulah resep orang-orang sukses di jagad raya ini. Karena mereka berani berubah. Mereka bersedia keluar dari zona nyaman (comfort zone). Apapun kondisinya, baik itu kekurangan diri, kelemahan diri, keterbatasan sarana dan prasarana, sesungguhnya tak bisa dibilang sebagai kendala.

Karena perubahan, Julius Caesar, si penderita epilepsy, berhasil menjadi seorang jenderal lalu menjadi kaisar. Napoleon, yang terlahir dari keluarga melarat, juga berhasil menjadi jenderal. Bethoven menghasilkan lagu terbaiknya justru setelah telinganya tuli total. Charles Dickens terkenal menjadi penulis novelis Inggris terbesar dari keluarga miskin dengan kaki pincang. Atau Milton yang menggubah sajak-sajaknya yang terindah sepanjang masa setelah ia menjadi buta.

Orang-orang itu, sungguh, telah sanggup mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Kekurangan menjadi prestasi. Hambatan dijadikan peluang. Kini yakinlah bahwa keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi garis lurus dari kemauan, kemampuan dan keberanian untuk berubah.

Menurut para psikolog bahwa keberanian adalah 50% dari kesuksesan. Sementara kemauan merupakan 50% menjadi kemampuan. Namun sialnya, banyak dari kita yang mampu tapi tidak mau. Banyak yang mau tapi tidak mampu. Dan banyak yang mampu dan mau tapi tidak berani.

Inikah yang disebut demotivasi? Yang lebih suka bersiul di kursi goyang seraya mereguk secangkir kopi? Atau berongkang kaki bersama kepulan asap sebatang rokok? Atau duduk merenung nostalgia di masa jaya? Atau malah telah kehilangan jati diri?

Ah, sepertinya memang kita harus berubah. Berubah untuk berbuat sesuatu yang lebih bermakna. Berubah untuk berrbuat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi keluarga dan orang lain. Berubah agar lebih lebih bernilai ibadah untuk bekal akhirat kelak...

Yuk, akh, kita gapai misi hidup kita "Mati masuk surga bersama ridhoNya"...!! (N425)

Postingan Populer