Quo Vadis Telkom, Pasca Disentil Erick THohir

(Telkom Landmark Tower Jakarta)
by: Nana Suryana

Selama ini Telkom dikenal sebagai BUMN papan atas. Bahkan dengan segenap kebanggaan kerap didaulat sebagai BUMN Merah Putih pemberi deviden terbesar pada negara. Tak ayal, Citra Telkom membumbung ke angkasa. Para pencari kerja di republik ini menempatkan Telkom sebagai pilihan pertama sebagai tempat bekerja.

Namun seiring waktu dan perkembangannya, bisnis Telkom terus melesak dihajar lingkungan bisnis yang semakin kompetitif. Tentu saja termasuk efek kemajuan teknologi yang mengalir deras tanpa batas. Pada gilirannya bisnis Telkom mulai terpuruk. Dan hanya bisa mengandalkan dari revenue salah satu anak perusahaannya, Telkomsel.

Kondisi bisnis Telkom yang semakin menukik itu terasa berbau menyengat. Pada gilirannya tercium Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir (ET). Sentilan pertama ET, ia merasa kesal dan tak sudi melihat bisnis Telkom begini-begini saja. Apalagi pada era disrupsi bisnis seperti sekarang, ia meminta Telkom berinovasi lewat pengembangan teknologi kekinian.

Waduh, kesongongan apa yang telah diumbar Meneg BUMN pada Kabinet Kerja ini. Karuan saja jajaran direksi, para mantan petinggi Telkom, para petinggi Sekar sampai pada jajaran Manajemen Telkom terasa panas dingin, kalau tak mau dibilang meriang.

“Wah, jangan-jangan beneran Telkom mau dibubarin nih,” demikian letupan suara sumbang yang terdengar santer di pertengahan Pebruari silam.

Memang benar, ET tak berniat mendiskreditkan Telkom. Apalagi Telkom dikenal sebagai jagonya teknologi. Dalam angan dan pikiran bisnisnya: Ya, inovasi Telkom harus dipacu dong. Sektor teknologi gak boleh dilupakan dalam rencana pengembangan bisnis BUMN.

Untuk itu, Telkom sejatinya segera berbenah diri dalam mengembangkan bisnisnya.
ET pun berangan-angan agar Telkom segera bermetamorfosis. Tinggalkan cara lama dan sudah sejatinya masuk pada cara baru sesuai tuntutan jaman. Lebih ke profit oriented dan lebih menjanjikan. Apalagi kalau Telkom malah an-sich menjadi penonton, ditengah hiruk-pikuk bisnis cloud dan big data yang kini digarap asing. Padahal Telkom, kan, memiliki kekuatan jaringan dan database yang besar.

Sayang sekali, tutur ET, jika database atau jaringan ini diambil asing. Padahal yang selalu bicarakan database ini adalah the new oil . Karena melalui big data kita bisa memprediksi apa yang akan dikehendaki dan dibeli orang.
Sentilan yang dirasakan cukup perih itu, ketika ET menyinggung Telkom yang justru mengandalkan keuntungan dari anak usahanya yakni, Telkomsel.

Menurut Erick, industri telekomunikasi sudah jauh berubah dengan tidak sekadar menjual layanan pesan suara, melainkan juga data. Dengan infrastruktur yang dimiliki, Telkom seharusnya bisa mengembangkan bisnisnya lebih masif.

Coba saja, sentil Erick, pendapatan Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70 persen. Ya, mendingan enggak usah ada Telkom. Mendingan punya Telkomsel saja yang langsung dimiliki Kementerian BUMN. Devidennya lebih jelas.

Pernyataan ET itu mengindikasikan, bukankah sebaiknya Telkom dibubarkan saja. Wow, kritikan yang sangat menyengat, kalau tak mau dibilang bagai menampar wajah jajaran Manajemen Telkom. Apalagi ketika Erick meminta Telkom melirik peluang bisnis baru, contohnya cloud computing.

Erick mengaku sempat terpaksa menggunakan layanan cloud dari Alibaba yakni Alicloud saat Asian Games 2018 lantaran tak ada BUMN yang mampu memenuhinya. Erick saat itu sangat prihatin. Mengapa peluang ini bisa lepas dari Telkom.

Kita mau Telkom ke depan berubah ke arah database, big data, cloud, masa cloud saja dipegang Alicloude (Alibaba). Kan, gak lucu. Bigdata dan cloud bisa menjadi sebuah bisnis yang lebih menjanjikan bagi Telkom. Jangan malah diambil asing.

Respon Telkom

Lantas quo vadis Telkom? Mau kemana Telkom pasca disentil ET? Dirut Telkom, Ririek Adriansyah, memang lumayan gerah mendapat sentilan ET. Namun kepiawaiannya dalam mengelola krisis, rupanya beliau sikapi dengan tangan dingin. Ia menanggapi kritik dan sentilan Erick terhadap perusahaan yang dipimpinnya dengan positive thinking. “Tujuannya pak Menteri sangat baik” tandasnya. Ia menilai, pak menteri mengharapkan Telkom lebih cepat bertransformasi.

“Beliau ingin Telkom bertransformasi ke depan,” ujar Ririek. Padahal, sesungguhnya kita sudah punya rencana itu. Tapi rupanya beliau ingin lebih cepat lagi. Tak mengapa.
Telkom, tambah Ririek, juga berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis sekaligus berinovasi untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. Walaupun kalau untuk masuk ke sector cloud computing masih belum saatnya dimulai. Namun dapat dipastikan segera meluncur.

Fokus pengembangan bisnis Telkom saat ini, kata mantan Dirut Telkomsel ini, adalah memodernisasi jaringan telekomunikasi dengan menggunakan teknologi 100 persen berbasis fiber optik di kota dan kabupaten seluruh Indonesia. Ini sangat urgent, terutama guna mempersiapkan layanan 5G.

Program modernisasi itu dikenal dengan istilah Modern Broadband City. Ini adalah komitmen Telkom untuk meningkatkan kualitas layanan Information & Communication Technology (ICT) bagi masyarakat guna mempercepat terwujudnya digitalisasi Indonesia.

Pada era digital saat ini, tergelarnya infrastruktur 100 persen fiber optik itu diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband berkualitas. Ini menjadi landasan penting dalam penyediaan layanan digital baik digital platform maupun services, yang dapat diakses melalui jaringan fixed broadband maupun seluler berkecepatan tinggi 3G/4G. Sekaligus juga menjadi langkah penting TelkomGroup dalam mempersiapkan hadirnya layanan 5G.

ET Minta Maaf

Setelah dilakukan sowan Dirut Telkom ke Meneg BUMN, barulah kisruh bernada sentilan itu mulai mencair. ET dan Ririek, sesungguhnya memiliki konsep sama terkait pengembangan Telkom ke depan.. Erick mengatakan, Telkom dipastikan bakal moving. Akan segera bergeser ke bisnis cloud dan big data. Dan di-iya-kan oleh Ririek.

Erick pun meminta maaf karena sebelumnya menyinggung Telkom yang hanya mengandalkan dividen anak usahanya,Telkomsel.

Dalih ET, sebenarnya diniatkan untuk memastikan bahwa dividen Telkomsel digunakan dengan sebaik-baiknya.
"Saya mohon maaf, kalau bicara kurang baik tentang Telkom. Sebelumnya, saya sudah duduk bersama Dirut Telkom, Pak Ririek, jauh-jauh hari. Beliau ini, bekas Dirut Telkomsel. Jadi tahu persis dividen Telkomsel yang masuk ke Telkom, dipastikan benar-benar dipergunakan sebaik-baiknya. Dan saya juga pastikan Telkom punya dividen yang baik," katanya dalam acara Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/2/20).***//nas

Postingan Populer