Kamis, 30 Oktober 2025

WAHHABI MERUBAH ISI KITAB AL IMAM ABUL HASAN AL ASY'ARI.

Oleh: M. Rofiannur Al Hamaamuh, SN, DH.

Note: Tradisi Wahhabi merubah isi kitab ulama Assyairah.
Versi: Istawa.
Season: 7 - penutupan.

Apa kata dunia jika imamnya para imam Ahli Sunnah Wal Jamaah yaitu Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari (W 324 H) tidak menjadi korban kejahatan tangan wahhabi. Imam Abul Hasan Al Asy'ari pasti jadi korban atas kelicikan sistem wahhabi yaitu merubah kitab ulama.

Aqidah Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari merupakan aqidah Salaf yaitu isbat wa tanzih. Maksudnya menetapkan sifat sifat Allah Subhanahu Wa Taala dan menyucikannya dari sifat makhluk. 

Ketika Allah berfirman: Allah beristawa diatas arasy [Surah taha ayat 5] maka kami sebagai Ahli Sunnah Wal Jamaah Assyairah wa Maturidiyyah; Mengimani, Meyakini, membenarkan dan menerima itu namun kami mengeluarkan sifat istawa Allah dari sifat makhluk. Seperti, bertempat, duduk, berada pada suara arah dan sifat sifat makhluk lainnya. Beda dengan wahhabi yang menggunakan metode isbat namun mengotori metode isbat itu sendiri dengan mengklaim Allah bertempat diatas arasy. Nauzubillah.

Nah, salah satu kitab yang mereka rubah adalah kitab beliau Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari yaitu kitab Al Ibanah. Dalam teks aslinya beliau Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari (W 324 H) mengatakan:

الباب السابع ذِكْرُ الإِسْتِوَاءِ عَلَى الْعَرْشِ - ٤٦ إن قال قائل : ما تقولون في الاستواء ؟ قيل له : نقول إن الله عز وجل يستوي على عرشه كما قال : يليق به من غير طول الاستقرار

Artinya: Bab yang ke tujuh menjelaskan istawa diatas arasy. 46 - Jika seseorang berkata: Apa pendapat kalian mengenai istawa? Maka dijawab saja padanya: Kami berpendapat/berkata Sesungguhnya Allah azza wa jalla beristawa diatas Arsy-nya seperti yang lain katakan: (Istawa) yang pantas padanya tanpa menetap (bertempat).

[Al Ibanah 'An Ushul Addiyanah: 119 - Cetakan Maktabah Al Arabiyyah Assa'udiyyah dan Maktabah Muayyad halaman: 97 - Darul Anshar halaman: 105 ; teks asli]

Kelicikan spesies makhluk wahhabi disini adalah mereka menghapus teks dibawah ini didalam kitab beliau:

"يليق به من غير طول الاستقرار"

Pembuangan ini bisa sahabat temukan didalam cetakan kitab Al Ibanah dari Darul Kutub Ilmiah Bairut Lebanon dinomor halaman: 46 - dan Daru Ibnu Zaiduun dinomor halaman: 33 (Sudah tersedia dalam gambar).

Kemudian didalam Maktabah Assyamilah juga dirubah yaitu kitab Ibanah yang di tahqiq oleh Syaikh Soleh bin Muqbil bin Abdullah Al Ushaimi Attamimi Al Wahhabi dinomor halaman: 405 - 406.

Sehingga memberikan kesan bahwa aqidah beliau sama dengan aqidah mereka. Padahal Imam Abul Hasan Al Asy'ari Isbat wa Tanzih (Menetapkan sifat kemudian menyucikan dari sifat makhluk) bukan seperti wahhabi yang isbat tapi mencampurnya dengan sifat makhluk.

Alasan mereka menghapusnya ada tiga, yaitu;

1. Dikarenakan Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari merupakan seorang ahli Kalam dan merupakan musuh terbesar bagi kaum Mujassimah, Musyabbihah, Hasywiyyah, Karromiyah, Wahhabiyyah dan lain lainnya.
2. Imam Abul Hasan Al Asy'ari dianggap menyimpang dan sesat oleh mereka.
3. Imam Abul Hasan Al Asy'ari merupakan orang yang paling tidak di sukai alias paling dibenci oleh kalangan salafi wahhabi.

Jadi, ketika teks diatas dibuang oleh mereka sehingga akan memberikan kesan bahwa aqidah imam Abul Hasan Al Asy'ari sama seperti Aqidah mereka padahal sangat amat berbeda sekali.
Selesai
© ID Cyber aswaja.

Jumat, 10 Oktober 2025

Pemahaman Sempit Salafi Wahabi

Pemahaman sempit Wahabi" adalah istilah yang sering digunakan oleh para kritikus untuk menggambarkan pendekatan tertentu dalam Islam yang diasosiasikan dengan gerakan Wahabisme. Kritik ini biasanya menyoroti karakteristik seperti kekakuan, ketidaktoleranan, dan kecenderungan untuk memvonis muslim lain.

Beberapa ciri dari apa yang sering disebut sebagai "pemahaman sempit Wahabi" antara lain:

1) Penting untuk dicatat bahwa istilah "Wahabi" pada asalnya merupakan sebutan atau stigma yang diberikan oleh kelompok di luar gerakan tersebut, dan para pengikutnya sendiri lebih sering menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidun (orang-orang yang menegakkan tauhid). Gerakan ini dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18 di Najd, Arab Saudi, dengan tujuan utama pemurnian ajaran Islam dari apa yang dianggap sebagai penyimpangan.

2} Interpretasi Tekstual yang Kaku: Gerakan ini menekankan pengembalian ajaran Islam hanya pada Al-Qur'an dan Hadis secara literal, sering kali menutup ruang untuk ijtihad (penalaran independen) atau akulturasi budaya dalam praktik keagamaan.

3} Definisi Tauhid yang Sempit: Para kritikus berpendapat bahwa penganut Wahabi memiliki definisi tauhid (monoteisme) yang sangat ketat dan sempit, yang menyebabkan mereka menganggap banyak praktik Muslim tradisional sebagai syirik (politeisme) atau bid'ah (inovasi yang dilarang).

4) Gampang Memvonis (Takfir): Salah satu kritik paling umum adalah kecenderungan untuk mudah menuduh sesama muslim yang berbeda pandangan sebagai sesat, bid'ah, atau bahkan kafir.

5) Penolakan Praktik Tradisional: Kelompok ini cenderung melarang atau menolak praktik-praktik yang umum dilakukan oleh mayoritas Muslim (Ahlussunnah wal Jamaah), seperti ziarah kubur, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan tawassul (menggunakan perantara dalam doa).

6) Kurangnya Toleransi: Wahabisme sering diasosiasikan dengan sikap tidak toleran terhadap pemahaman atau mazhab Islam lainnya.

7) Kekerasan dan Ketaatan Berlebihan pada Otoritas Tertentu: Beberapa pandangan mengaitkan doktrin Wahabisme dengan kelompok ekstremis tertentu, dan kritik juga muncul mengenai ketaatan yang dianggap "taklid buta" terhadap ulama atau otoritas tertentu di Arab Saudi.

8) Pemahaman Sempit tentang Tauhid dan Bid'ah. Gerakan ini mengusung pemahaman puritan yang sangat ketat, menekankan pemurnian Islam dari segala bentuk bid'ah (inovasi dalam agama), khurafat, dan takhayul, termasuk banyak praktik keagamaan tradisional yang telah mengakar di masyarakat Muslim selama berabad-abad. Penentang menganggap pandangan ini kaku dan melampaui batas, menyempitkan definisi tauhid.

9) Kekerasan dan Radikalisme. Pada awal kemunculannya, gerakan ini bersekutu dengan wangsa Saud dan terlibat dalam konflik bersenjata untuk menyebarkan ajarannya, yang beberapa kritikus nilai lebih didorong oleh motif politik dan kekuasaan daripada sekadar agama. Sebagian kalangan menilai paham ini tumbuh menjadi gerakan yang keras, kaku, dan radikal.

10) Penolakan Terhadap Tradisi Madzhab. Gerakan ini menekankan kembali pada Al-Qur'an dan Hadits secara langsung, cenderung meninggalkan pendapat ulama atau madzhab yang sudah mapan, yang dianggap merusak kemurnian Islam oleh para pengikutnya. Hal ini menyebabkan penolakan dari ulama-ulama yang kuat berpegang pada tradisi madzhab tertentu.***)

Waspada Wahabi (3): Beraqidah Mujassimah dan Musyabbihah

Mujassimah adalah berkeyakinan bahwa Allah swt terdapat jizim (anggota tubuh) sekalipun jizim tersebut tidak sama dengan makhluk, seperti me...