Jumat, 28 November 2025

Mengapa Pengikut Wahhabisme Enggan Disebut “Wahabi” dan Lebih Suka Berlindung di Balik Nama “Salaf”?


Dalam sejarah pemikiran Islam, sangat jarang ditemukan sebuah gerakan yang sedemikian teguh membela tokoh pendirinya.

Namun pada saat yang sama menolak disebut dengan nama tokoh tersebut.

Fenomena inilah yang mencirikan pengikut gerakan Wahhabisme, membela ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dan kerajaan Saudi dengan intensitas yang luar biasa, tetapi alergi bila disebut Wahabi.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. 

Ia memiliki akar historis, psikologis, dan ideologis yang panjang.

1. Sebab Historis: Label “Wahhabi” Sejak Awal Memiliki Konotasi Kekerasan
Istilah Wahhabi bukan muncul akhir-akhir ini; ia sudah dikenal sejak abad ke-18, terutama di Hijaz, Irak, dan Syam. Dalam banyak catatan sejarah ulama zaman itu, baik Sunni, Sufi, maupun fuqaha. “Wahhabi” dilekatkan pada:
serangan bersenjata, penyerbuan kota-kota, pembantaian ulama maupun penduduk sipil, serta penghancuran makam, situs sejarah, dan perpustakaan.

Karena itu, istilah Wahhabi sejak awal terkait dengan kekerasan. Ia menjadi label yang berat untuk diakui, terutama ketika gerakan ini ingin tampil sebagai representasi Islam murni.

Tidak mengherankan jika para pengikutnya kemudian mencari identitas alternatif.

2. Sebab Psikologis: Upaya Membersihkan Citra Masa Lalu

Secara psikologis, menolak sebutan Wahhabi adalah upaya menghapus memori kolektif dunia Islam tentang episode berdarah itu.

Konsekuensinya:
Mereka berusaha menampilkan diri bukan sebagai pengikut seseorang,
tetapi sebagai pembawa “Islam murni”,
sehingga kritik terhadap mereka otomatis dianggap kritik terhadap agama itu sendiri.

Dengan memakai nama “Salaf”, mereka mendapatkan perisai legitimasi: siapa pun yang mengkritik dianggap menentang “para salaf”.

Padahal, historisnya, istilah Salaf tidak pernah identik dengan Wahhabisme.

3. Klaim Salaf, Tetapi Jarang Merujuk Salaf

Ironisnya, meski mengklaim sebagai pengikut manhaj salaf, rujukan mereka sangat terbatas:

1. Mereka jarang mengutip karya ulama salaf awal seperti
al-Awza’i, Sufyan al-Thauri, al-Layts ibn Sa’d, al-Tabari,
ataupun fuqaha abad 1–3 Hijriah.

2. Yang paling sering dijadikan sandaran justru:
Ibn Taymiyyah (abad 7 H), Ibn al-Qayyim (abad 8 H), dan kemudian Muhammad bin Abdul Wahhab (abad 12 H).

Padahal ketiganya bukan “salaf” secara kronologis, melainkan ulama khalaf yang hidup ratusan tahun setelahnya.

Maka penggunaan label “salaf” oleh Wahhabisme lebih merupakan klaim politis-ideologis ketimbang historis.

4. Mengapa Nama “Salaf” Dipakai? Karena Lebih Sulit Dikritik.

Dengan memakai nama “Salaf”, muncul keuntungan besar:

a. Perisai Otoritas

Setiap kritik terhadap ajaran mereka bisa dijawab dengan
“Ini bukan pendapat kami, ini pendapat salaf.”
Padahal yang dibela sebenarnya adalah
interpretasi Muhammad bin Abdul Wahhab,
bukan pendapat salaf itu sendiri.

b. Penyatuan Identitas
Nama “Salaf” memberi kesan:
klasik, otentik, dan tidak terkait politik.
Berbeda dengan “Wahhabi” yang langsung terhubung dengan kekuasaan Saudi sejak abad 18–21.

5. Kesetiaan yang Kuat kepada Muhammad bin Abdul Wahhab dan Kerajaan Saudi
Salah satu ciri yang paling menonjol adalah pembelaan total terhadap:

1. Muhammad bin Abdul Wahhab, dianggap sebagai “mujaddid” tunggal, bahkan melebihi ulama besar lainnya.

2. Dinasti Saudi, yang sejak awal merupakan partner politik gerakan Wahhabi.
Karena itu, kritik terhadap Saudi dianggap menyerang “manhaj”,
padahal relasi antara Wahhabisme dan keluarga Saud adalah politik kekuasaan, bukan keniscayaan teologis.

Kesetiaan ini dipengaruhi oleh:

a. Dukungan Finansial dan Global Propaganda

Sejak abad ke-20, kerajaan Saudi menggelontorkan dana besar:
pembangunan masjid, percetakan buku, beasiswa, lembaga dakwah internasional.

Seluruhnya membawa satu corak: promosi Wahhabisme sebagai “Islam sejati”.

b. Ketergantungan Identitas

Banyak pengikut Wahhabi tumbuh di lingkungan pendidikan atau ekonomi yang terhubung langsung dengan institusi Saudi, sehingga identitas keagamaan dan loyalitas politik menyatu.

6. Mengapa Mereka Enggan Menggunakan Nama Wahhabi?
Ringkasnya, karena:

1). Wahhabi mengingatkan sejarah kekerasan dan penghancuran situs Islam.
2). Nama itu mengikat mereka pada tokoh dan konteks politik tertentu (Najd, Saudi, sekutu Inggris).
3). Mereka ingin tampil sebagai representasi Islam murni, bukan mazhab baru.
4). Klaim sebagai salaf memudahkan propaganda, tetapi tidak selaras dengan rujukan ilmiah yang sebenarnya.
5). Nama Wahhabi melemahkan daya legitimasi, sementara nama “Salaf” memberi aura otoritatif.

7. Kesimpulan:

Penolakan pengikut Wahhabisme terhadap label “Wahhabi” bukan kebetulan, tetapi strategi yang telah lama berlangsung:
strategi untuk menghapus memori sejarah, memperkuat legitimasi ideologis, dan menjaga hubungan simbiotik dengan kekuasaan Saudi.
Nama Salaf menjadi tameng yang kuat, meski secara ilmiah klaim itu rapuh.
Yang dibela sebenarnya bukan salaf,
melainkan ajaran dan proyek politik Muhammad bin Abdul Wahhab.

REFERENSI:

1. Sumber Sejarah dan Catatan Ulama Klasik Mengenai Gerakan Wahhabi
a. Syaikh Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah, abad 19)
1. Fitnat al-Wahhabiyyah, Beirut: Dar al-Mashari’, cet. pertama.
2. Khawarij al-Zaman, Makkah: Maktabah al-Makkiyyah.
– Mengutip pembantaian di Thaif, penghancuran situs sejarah, dan kritik bahwa Wahhabi menyerang ulama serta penduduk.
b. Sayyid Alawi al-Haddad
Misbah al-Anam, cet. Beirut.
– Mengulas penyerangan Wahhabi di Hijaz dan penolakan ulama terhadap doktrin mereka.
c. Syaikh Muhammad Amin al-Syanqithi (bukan al-alusi)
Adwa’ al-Bayan, pengantar.
– Menyebut gerakan “Najd” membawa “fitnah dan kekerasan”.
d. Ibn Abidin (Hanafiyah, Damaskus)
Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, jilid 4, hal. 262.
– Menyebut Wahhabi sebagai “kelompok yang mengkafirkan kaum Muslimin”.
2. Kritik Sejarawan dan Peneliti Barat (primer, bukan propaganda)
a. David Commins
The Wahhabi Mission and Saudi Arabia, I.B. Tauris, 2006.
– Analisis akademik tentang kemunculan Wahhabisme dan aliansinya dengan keluarga Saud.
b. Madawi al-Rasheed (Profesor King’s College London, spesialis sejarah Saudi)
1. A History of Saudi Arabia, Cambridge University Press.
2. Muted Modernists: The Struggle Over Islamic Reform in Saudi Arabia, Oxford University Press.
– Menjelaskan represi, pembentukan ideologi Wahhabi-Saudi, dan bagaimana istilah “Salaf” dikonstruksi.
c. Michael Crawford
Ibn Saud: The Desert Warrior, Cambridge.
– Dokumentasi kerja sama awal Saudi–Inggris, termasuk dukungan senjata terhadap ekspansi Wahhabi.
d. Alexei Vassiliev
The History of Saudi Arabia, Saqi Books.
– Menjelaskan invasi Wahhabi ke Hijaz dan penghancuran situs sejarah.
3. Referensi Akademik Tentang Penghancuran Situs Bersejarah
a. Susan Rasmussen
The Destruction of Mecca: Historic Monuments and Modernist Ideology, Journal of Islamic Archaeology.
– Dokumentasi akademik tentang penghancuran kubah-kubah Sahabat dan Ahlul Bait.
b. UNESCO Reports (non-politik)
Laporan UNESCO 1981–1990 tentang “Loss of Cultural Heritage in Hijaz”.
– Mencatat hilangnya situs-situs dini Islam akibat kebijakan Wahhabi-Saudi.
4. Catatan Mengenai Pembantaian dan Serangan Militer Wahhabi
a. Penyerbuan ke Thaif (1802)
Ottoman Archives (Başbakanlık Osmanlı Arşivi, Istanbul): dokumen tentang pembantaian penduduk Thaif.
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan juga menulis panjang lebar tentang kejadian ini.
b. Penyerangan ke Irak (1802)
J. S. Buckingham, Travels in Mesopotamia, London 1827.
– Saksi mata serangan Wahhabi ke Irak: pembantaian besar dan penghancuran makam sejarah.
c. Penyerbuan ke Hijaz (awal abad 19)
The Cambridge History of Islam, Cambridge University Press.
– Mengulas ekspansi Saudi–Wahhabi dan respons Ottoman.
5. Sumber Primer Internal Wahhabi yang Mengakui Penamaan “Wahhabi”
a. Ibn Abd al-Wahhab sendiri
al-Rasa’il wa al-Masa’il al-Najdiyyah.
– Menjawab kritik ulama yang menyebut ajarannya “fitnah Najd”.
b. Ibn Ghannam
Tarikh Najd, edisi Riyadh.
– Kronik resmi gerakan Wahhabi yang mencatat ekspansi militer Najd ke berbagai wilayah.
c. Utsman bin Abdullah bin Bishr (sejarawan Wahhabi)
‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd.
– Mengakui perang-perang yang dilakukan atas nama dakwah.
6. Referensi Akademik Tentang Penggunaan Nama “Salafi”
a. Henri Lauzière
The Making of Salafism: Islamic Reform in the 20th Century, Columbia University Press.
– Menjelaskan bahwa istilah “Salafi” dalam bentuk modern tidak berasal dari salaf, tetapi konstruksi abad ke-20 untuk menggantikan istilah “Wahhabi”.
b. Khaled Abou El Fadl
The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists.
– Menjelaskan bagaimana “Salaf” dijadikan legitimasi absolut oleh gerakan Wahhabi.
7. Referensi Tentang Hubungan Saudi–Inggris dan Saudi–Amerika
a. Alexei Vassiliev, The History of Saudi Arabia.
– Dokumen perjanjian awal Ibn Saud–Inggris ( Treaty of Darin, 1915 ).
b. Eugene Rogan
The Arabs: A History, Penguin.
– Mengulas dukungan Inggris terhadap Ibn Saud menghadapi Syarif Husain.
c. Madawi al-Rasheed
A History of Saudi Arabia.
– Menjelaskan hubungan simbiotik Wahhabi–Saud hingga era modern.
8. Referensi Mengenai Propaganda Global Wahhabisme
a. Gilles Kepel
Jihad: The Trail of Political Islam, Harvard University Press.
– Membahas penyebaran Wahhabisme lewat dana Saudi.
b. Natana J. DeLong-Bas
Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad.
– Analisis akademik tentang jaringan penyebaran ajaran Wahhabi secara modern.

PENUTUP

Semua referensi di atas adalah sumber akademik, sejarawan internasional, catatan ulama klasik, dan dokumen primer, bukan sumber palsu atau anonim. Ini menjadi fondasi faktual yang memperkuat narasi bahwa:
istilah “Wahhabi” sejak awal memang memiliki konotasi kekerasan,
sehingga pengikutnya menghindari label tersebut,
lalu membangun identitas baru dengan istilah “Salafi”,
meski secara historis rujukannya tidak sesuai dengan salaf generasi awal,
dan tetap menunjukkan loyalitas kuat terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab dan dinasti Saudi. 
(wagroup/noname/nop/25)

Jumat, 14 November 2025

Makna Eksistensi Allah Lebih Dekat dari Ulat Leher

Menurut Deepseek, pertanyaan ini sangat bagus. Terutama membahas salah salah satu konsep yang paling dalam dan penuh hikmah dalam Islam.

Secara singkat, pernyataan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher berlaku untuk seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, namun dengan manifestasi (perwujudan) yang berbeda.

Mari kita uraikan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan penjelasan ulama.

1. Dalil Utama: QS. Qaf [50]:16

Allah Berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata "al-Insan" (manusia), yang merupakan kata umum yang mencakup seluruh jenis manusia, tanpa membedakan Muslim atau non-Muslim.

2. Dua Bentuk Kedekatan Allah

Kedekatan Allah yang mutlak ini dimanifestasikan dalam dua bentuk utama:

a. Kedekatan Ilmu, Kekuasaan, dan Pengawasan (Umum untuk Semua Makhluk)
Kedekatan ini bersifat universal. Allah dekat dengan setiap makhluk-Nya dalam arti:

· Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, termasuk apa yang terbesit dalam hati dan pikiran kita.

· Kekuasaan-Nya mengatur dan menguasai setiap sel, nadi, dan detak jantung kita. Urat leher (habl al-warid) adalah simbol dari sesuatu yang paling dekat dengan diri kita sendiri, dan Allah bahkan lebih dekat dari itu.

· Pengawasan-Nya mencakup setiap gerak-gerik kita.

Kedekatan ini tidak memandang iman atau kufur. Seorang yang kafir pun, Allah-lah yang menahankan nyawanya, mengalirkan darahnya, dan mendengar setiap bisikan jiwanya. Ini adalah bukti Keesaan dan Kuasa Allah yang mutlak atas seluruh ciptaan-Nya.

b. Kedekatan dengan Rahmat, Pertolongan, dan Doa (Khusus untuk Orang Beriman).

Kedekatan ini bersifat khusus bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]:186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku."

Dalam ayat ini, konteks kedekatan adalah mengabulkan doa. Kedekatan seperti ini adalah kedekatan yang penuh kasih sayang, pertolongan, dan penerimaan ibadah. Inilah kedekatan yang dirasakan secara spiritual oleh seorang mukmin.

3. Perbedaan Penerimaan dan Kesadaran

Meskipun Allah dekat dengan semua manusia, tidak semua manusia menyadari atau "merasakan" kedekatan ini.

· Seorang Mukmin: Menyadari kedekatan ini. Ia merasa diawasi oleh Allah, sehingga ia berusaha untuk menjaga hati, pikiran, dan perbuatannya. Ia juga merasa dekat dengan Allah melalui doa, dzikir, dan ibadah, sehingga ia merasakan ketenangan dan pertolongan-Nya. Baginya, kedekatan Allah adalah sumber kekuatan dan ketenteraman.

· Seorang Kafir/Pelaku Maksiat: Mereka mungkin mengingkari atau lalai dari kedekatan ini. Meskipun Allah mengetahui setiap niat jahat dan bisikan buruk dalam hatinya, mereka tidak peduli. Bagi mereka, kedekatan Allah hanya sebatas ilmu dan kekuasaan, bukan sesuatu yang mereka sadari dan hormati.

Analogi untuk Memudahkan Pemahaman

Bayangkan seorang guru yang sangat perhatian dan seorang programmer yang cerdas sedang mengamati sebuah robot canggih yang bisa berpikir sendiri.

1. Kedekatan Universal (Ilmu & Kekuasaan):

· Sang Programmer sangat dekat dengan robot itu. Dia yang menciptakannya, mengetahui kode pemrogramannya, dan mengendalikan semua fungsi dasarnya (seperti aliran listrik/urat leher). Dia tahu persis apa "pikiran" dan "rencana" robot itu, bahkan sebelum robot itu bertindak. Ini berlaku apakah robot itu "taat" atau "memberontak".

2. Kedekatan Khusus (Bimbingan & Komunikasi):

· Sang Guru hanya akan merespons dan membimbing robot itu jika robot itu "mendengarkan" dan "mengikuti petunjuk"-nya. Jika robot itu memilih untuk mengacuhkan sang guru, maka sang guru tidak akan membimbingnya, meskipun sang programmer tetap mengetahui dan menguasai segala gerak-geriknya.

Allah adalah Sang Programmer dan Sang Guru sekaligus.

Kesimpulan:

1. Untuk Seluruh Manusia: Ya, Allah SWT lebih dekat dari urat leher kepada seluruh manusia (dan bahkan seluruh makhluk) dalam konteks Ilmu, Kekuasaan, dan Pengawasan-Nya yang mutlak. Ini adalah sifat Ketuhanan Allah yang universal.

2. Keutamaan untuk Umat Muhammad SAW: Umat Muhammad SAW memiliki keistimewaan karena diajarkan untuk menyadari kedekatan ini dan bagaimana cara "berkomunikasi" dengan Allah yang Maha Dekat itu melalui syariat Islam yang sempurna. Bagi mereka yang beriman, kedekatan ini tidak hanya sebagai pengawasan, tetapi juga sebagai sumber rahmat, kasih sayang, dan jawaban dari doa-doa mereka.

Wallahu a'lam bish-shawwab.
(AI/deepseek/1125)

Senin, 10 November 2025

Ada apa? Dulu Wahabi, Ganti Nama Salafi, Kini Merasa Ahlussunnah

Bila wahhabi mengatakan sholat mereka lebih baik dari yg lain,,,,kita percaya.!
Bila wahhabi mengatakan puasa mereka lebih baik dari yg lain,,,kita percaya.!
Bila wahhabi mengatakan bacaan alqur'an mereka lebih baik dari lain,,,kita percaya.!

Inti nya, bila wahhabi mengatakan segala bentuk amalan yg ada hanya merekalah yg paling baik,,,kita juga percaya.!

Kepercayaan kita ini berlandaskan apa yg telah di ucapkan Rosulullah 14 abad yg lampau,,,

Mari kita simak pejelasan nya....

Rosulullah bersabda:

‎سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة

Akan Keluar Di Akhir Zaman Yaitu SATU KAUM Yang Masih Muda (Ilmu & Usianya), Mereka Berkata-Kata Dengan Perkataan Sebaik-Baik Manusia (Maksudnya Mereka Selalu Membawakan Hadits-Hadits Nabi), Mereka Juga Membacakan Al Qur'an Tetapi Tidak Melewati Kerongkongan Mereka, Mereka Keluar Dari Agama Islam (Murtad) Sebagaimana Anak Panah Keluar Dari Busurnya.

Maka Bila Kalian Berjumpa Dengan Kaum Tsb, Maka Perangilah Mereka !!! Karena Memerangi Mereka Akan Mendapat Pahala Disisi Allah Di Hari Kiamat Kelak.
(HR.Bukhari Didalam Kitab SHAHIH-nya).

Dalam Hadits Lain Nabi Bersabda :

‎يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

Akan Muncul SATU KELOMPOK MANUSIA Dari Arah Timur (Yaitu Dari Njed Di Riyadh Arab Saudi) Yang Membaca Al Qur'an Tetapi Bacaan Al Qur'annya Tidak Sampai Ke Tenggorokan Mereka.

Tiap Kali Generasi Penerus Mereka Putus, Maka Akan Muncul Generasi Berikutnya Hingga Generasi Terakhir Mereka Akan Menjadi Pengikut Dajjal".
(HR. Ahmad Didalam MUSNAD,Thabrani Didalam MU'JAM AL KABIR, Dan Abu Nu'aim Didalam Kitab AL HILYAH).

Didalam Hadits Shohih Bukhari Diriwayatkan :

‎قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ؛ اللهم بارك لنا فى شامنا ، اللهم بارك لنا فى يمننا ،،،
‎فقالوا ؛ و فى نجدنا يا رسول الله ؟؟؟
‎قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ؛ اللهم بارك لنا فى شامنا ، اللهم بارك لنا فى يمننا ،،،
‎فقالوا ؛ و فى نجدنا يا رسول الله ؟؟؟
‎قال ؛ الزلازل و الفتن هناك ، و هناك يطلع قرن الشيطان

Rasulullah Berdoa ; "Ya Allah,Berkahilah Negeri SYAM Dan Negeri YAMAN".
Para Sahabat Berkata ; "Ya Rasulallah,(Apakah Engkau Tidak Berdoa) Untuk Negeri NEJED (Yang Terletak Di Riyadh_Arab Saudi) ???".
Rasulullah Berdoa Lagi ; "Ya Allah,Berkahilah Negeri SYAM Dan Negeri YAMAN".
Para Sahabat Bertanya Lagi ; "Ya Rasulallah,(Kenapa Engkau Tidak Berdoa) Untuk Negeri NEJED ???".

Kemudian Rasulullah Bersabda ; Di Negeri Itulah Tempat Timbulnya Goncangan Dan Banyak Fitnah,Dan Disana (Nejed) Pula Tempat Timbulnya TANDUK SETAN".

Dalam Hadits-Hadits Diatas, Nabi Telah Banyak Menginformasikan Kepada Kita Bahwasanya Akan Ada SATU KAUM/SATU KELOMPOK MANUSIA Yang Keluar Dari Agama Islam (Murtad) Sebagaimana Anak Panah Yang Melesat Keluar Dari Busurnya !!!

Sebagai Rinciannya, Nabi Menyebutkan Sifat-Sifat & Ciri-Ciri Dalam Hadits-Hadits Diatas Sebagai Berikut :
1.Kaum Tsb Senantiasa Membacakan (Mengajak Kepada) Al Qur'an,Namun Bacaan/Ucapannya Tidak Sampai Melewati Tenggorokan Mereka (Artinya Tidak Memberi Bekas Dalam Hati Mereka Sedikitpun).
2. Kaum Tsb Suka Memerangi Umat Islam.
3. Kaum Tsb Membiarkan Orang-Orang Kafir.
4. Kaum Tsb Bagus Ucapannya, Namun Prakteknya Buruk.
5. Kaum Tsb Selalu mengajak kembali Kepada Al Qur'an & Hadits, Padahal Al Qur'an & Hadits Berlepas Diri Dari Mereka.
6. Kaum Tsb Bercukur Gundul.
7. Kaum Tsb Muda Dalam Usia & Ilmunya.
8. Kaum Tsb Lemah Akal.
9. Kaum Tsb Muncul Di Akhir Zaman.
10. Generasi Penerus Mereka Akan Terus Ada,Terus Berlanjut,Dan Eksis Sampai Mereka Menjadi Pengikut Dajjal.

Dan Semua Sifat Dan Ciri-Ciri Diatas Telah Ada Dalam SATU KELOMPOK KHAWARIJ MODERN Yang Bernama WAHHABI (وهابى),Yang Kemudian Berganti Nama Menjadi SALAFI (سلفى),Lalu Sekarang Mengaku-Ngaku Sebagai AHLUS SUNNAH (أهل السنة) !!!

‎اللهم آتنا فى الدنيا حسنة و فى الآخرة حسنة و قنا عذاب النار و من فتنة الشيعة و الوهابية و من فتنة المسيح الدجال و من تبعه إلى يوم القيامة ،،،
‎آمين

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Ra berkata : "Saat Rasulullah saw sedang membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang), datanglah seseorang dari Bani Tamim dengan pakaian yang pendek (bagian bawahnya), di antara kedua matanya ada tanda bekas sujud yang menghitam, lalu ia berkata: "Berbuat adillah wahai Rasulullah!" Rasulullah SAW bersabda: "Celakalah engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Maka engkau akan binasa dan rugi jika aku sendiri tidak berlaku adil." 

Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Akan datang suatu kaum kelak seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk kelakuannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Mereka mengajak kepada Kitabullah, tetapi mereka sendiri tidak mengambil darinya sedikitpun. 

Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melebihi kerongkongannya. Kalian akan mendapatkan bacaan Al-Qur'an mereka lebih baik dari kalian dan shalat dan puasa mereka lebih baik dari kalian. Mereka akan melesat meninggalkan Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Mereka mencukur kepala serta mencukur kumisnya, pakaian mereka hanya sebatas setengah betis mereka." Setelah Rasulullah SAW menjelaskan ciri-ciri mereka, Rasulullah SAW bersabda: "Mereka akan membunuh para pemeluk Islam dan melindungi penyembah berhala!"
 
Diriwayatkan dalam kitab: Bukhari fi kitab dad’ al-khalq Bab "Alamah An-Nubuwwah", An-Nisai’ fi khasa-is hal 43, 44, Muslim fi Kitab Az-Zakah Bab At-Tahdzir Min Zinah Ad-Dun-ya, Musnad Imam Ahmad juz I hal 78, 88, 91. (wagroup/noname/1125)

Senin, 03 November 2025

Wahabi, Sang Khowarij Modern

Pesan Nabi Saw Tentang Khawarij Khawarij adalah kelompok (firqoh) di dalam Islam yang memiliki sifat merasa paling benar sendiri. Mereka berkeyakinan bahwa merekalah yang paling beriman, paling sunnah dan paling bertaqwa. Sehingga keyakinan ini memunculkan sikap ekstrem. Seperti mengharuskan semua orang sepaham dengannya dan menyalahkan siapapun yang tidak sependapat dengan mereka. Bahkan tidak jarang mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah sesama muslim.


Rosulullah bersabda:

‎سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة

Akan Keluar Di Akhir Zaman Yaitu SATU KAUM Yang Masih Muda (Ilmu & Usianya) Mereka Berkata-Kata Dengan Perkataan Sebaik-Baik Manusia (Maksudnya Mereka Selalu Membawakan Hadits-Hadits Nabi), Mereka Juga Membacakan Al Qur'an Tetapi Tidak Melewati Kerongkongan Mereka, Mereka Keluar Dari Agama Islam (Murtad) Sebagaimana Anak Panah Keluar Dari Busurnya.

Maka Bila Kalian Berjumpa Dengan Kaum Tsb, Maka Perangilah Mereka !!! Karena Memerangi Mereka Akan Mendapat Pahala Disisi Allah Di Hari Kiamat Kelak (HR.Bukhari Didalam Kitab SHAHIH-nya)

Dalam Hadits Lain Nabi Bersabda :

‎يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

Akan Muncul SATU KELOMPOK MANUSIA Dari Arah Timur (Yaitu Dari Nejed Di Riyadh Arab Saudi) Yang Membaca Al Qur'an Tetapi Bacaan Al Qur'annya Tidak Sampai Ke Tenggorokan Mereka, Tiap Kali Generasi Penerus Mereka Putus, Maka Akan Muncul Generasi Berikutnya Hingga Generasi Terakhir Mereka Akan Menjadi Pengikut Dajjal". (HR. Ahmad Didalam MUSNAD,Thabrani Didalam MU'JAM AL KABIR, Dan Abu Nu'aim Didalam Kitab AL HILYAH)

Didalam Hadits Shohih Bukhari Diriwayatkan :

‎قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ؛ اللهم بارك لنا فى شامنا ، اللهم بارك لنا فى يمننا ،،،
‎فقالوا ؛ و فى نجدنا يا رسول الله ؟؟؟
‎قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ؛ اللهم بارك لنا فى شامنا ، اللهم بارك لنا فى يمننا ،،،
‎فقالوا ؛ و فى نجدنا يا رسول الله ؟؟؟
‎قال ؛ الزلازل و الفتن هناك ، و هناك يطلع قرن الشيطان

Rasulullah Berdoa ; "Ya Allah,Berkahilah Negeri SYAM Dan Negeri YAMAN".
Para Sahabat Berkata ; "Ya Rasulallah,(Apakah Engkau Tidak Berdoa) Untuk Negeri NEJED (Yang Terletak Di Riyadh_Arab Saudi) ???".

Rasulullah Berdoa Lagi ; "Ya Allah, Berkahilah Negeri SYAM Dan Negeri YAMAN".
Para Sahabat Bertanya Lagi ; "Ya Rasulallah,(Kenapa Engkau Tidak Berdoa) Untuk Negeri NEJED ???" Kemudian Rasulullah Bersabda ; Di Negeri Itulah Tempat Timbulnya Goncangan Dan Banyak Fitnah,Dan Disana (Nejed) Pula Tempat Timbulnya TANDUK SETAN".

Dalam Hadits-Hadits Diatas, Nabi Telah Banyak Menginformasikan Kepada Kita Bahwasanya Akan Ada SATU KAUM/SATU KELOMPOK MANUSIA Yang Keluar Dari Agama Islam (Murtad) Sebagaimana Anak Panah Yang Melesat Keluar Dari Busurnya !!!

Sebagai Rinciannya, Nabi Menyebutkan Sifat-Sifat & Ciri-Ciri Dalam Hadits-Hadits Diatas Sebagai Berikut :
1.Kaum Tsb Senantiasa Membacakan (Mengajak Kepada) Al Qur'an,Namun Bacaan/Ucapannya Tidak Sampai Melewati Tenggorokan Mereka (Artinya Tidak Memberi Bekas Dalam Hati Mereka Sedikitpun).
2. Kaum Tsb Suka Memerangi Umat Islam.
3. Kaum Tsb Membiarkan Orang-Orang Kafir.
4. Kaum Tsb Bagus Ucapannya, Namun Prakteknya Buruk.
5. Kaum Tsb Selalu mengajak kembali Kepada Al Qur'an & Hadits, Padahal Al Qur'an & Hadits Berlepas Diri Dari Mereka.
6. Kaum Tsb Bercukur Gundul.
7. Kaum Tsb Muda Dalam Usia & Ilmunya.
8. Kaum Tsb Lemah Akal.
9. Kaum Tsb Muncul Di Akhir Zaman.
10. Generasi Penerus Mereka Akan Terus Ada,Terus Berlanjut,Dan Eksis Sampai Mereka Menjadi Pengikut Dajjal.

Dan Semua Sifat Dan Ciri-Ciri Diatas Telah Ada Dalam SATU KELOMPOK KHAWARIJ MODERN Yang Bernama WAHHABI (وهابى),Yang Kemudian Berganti Nama Menjadi SALAFI (سلفى),Lalu Sekarang Mengaku-Ngaku Sebagai AHLUS SUNNAH (أهل السنة) !!!

‎اللهم آتنا فى الدنيا حسنة و فى الآخرة حسنة و قنا عذاب النار و من فتنة الشيعة و الوهابية و من فتنة المسيح الدجال و من تبعه إلى يوم القيامة ،،،
‎آمين

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Ra berkata : "Saat Rasulullah saw sedang membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang), datanglah seseorang dari Bani Tamim dengan pakaian yang pendek (bagian bawahnya), di antara kedua matanya ada tanda bekas sujud yang menghitam, lalu ia berkata: "Berbuat adillah wahai Rasulullah!" Rasulullah SAW bersabda: "Celakalah engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Maka engkau akan binasa dan rugi jika aku sendiri tidak berlaku adil." Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Akan datang suatu kaum kelak seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk kelakuannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk, Mereka mengajak kepada Kitabullah, tetapi mereka sendiri tidak mengambil darinya sedikitpun. 

Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melebihi kerongkongannya, Kalian akan mendapatkan bacaan Al-Qur'an mereka lebih baik dari kalian dan shalat dan puasa mereka lebih baik dari kalian, Mereka akan melesat meninggalkan Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Mereka mencukur kepala serta mencukur kumisnya, pakaian mereka hanya sebatas setengah betis mereka."

Setelah Rasulullah SAW menjelaskan ciri-ciri mereka, Rasulullah SAW bersabda: "Mereka akan membunuh para pemeluk Islam dan melindungi penyembah berhala!" (***)

Kepada Siapa Kita Harus Berakhlak

Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk berakhlak mulia (berperilaku baik) kepada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Berikut adalah...