Sertifikat Surga dan Stempel Kafir: Ketika "Wahabi" Merasa Jadi Pemilik Sah Kunci Langit.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam panggung sandiwara keagamaan hari ini, ada kelompok yang merasa paling berhak memegang stempel "Lulus Sensor Islam". Mereka adalah kaum Salafi Wahabi, barisan yang seleranya begitu sempit namun lidahnya begitu tajam.
Pertanyaannya sederhana: Jika mereka menyebut Syi'ah bukan Islam, lantas siapa sebenarnya yang memberi mereka otoritas untuk memecat orang dari agama Tuhan?
1. Monopoli Kebenaran di Tengah Dangkalnya Pemikiran
Logika Wahabi seringkali mengidap penyakit "rabun jauh". Mereka begitu lihai melihat noda di jubah orang lain (dalam hal ini Syi'ah), namun buta terhadap api kebencian yang mereka nyalakan sendiri. Menuding Syi'ah bukan Islam adalah hobi yang mereka rawat dengan asupan literatur kebencian. Padahal, dunia mencatat bahwa peradaban Islam berdiri di atas fondasi kemajemukan, bukan keseragaman ala robot yang mereka impikan.
2. "Siapa Saja Bisa Kafir, Kecuali Kami"
Tidak ada kelompok yang luput dari sasaran tembak lidah mereka. Kemarin NU dibid'ahkan, hari ini Syi'ah dikafirkan, besok mungkin seluruh dunia akan dianggap sesat kecuali lingkaran kecil mereka sendiri. Jika definisi "Islam" versi mereka adalah yang hobinya mencaci, menyesatkan, dan memutus tali persaudaraan, maka kita patut bertanya: Islam model apa yang sebenarnya mereka bawa?
"Islam diturunkan sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta), bukan sebagai alat bagi sekelompok orang untuk merasa paling suci sambil menginjak-injak martabat manusia lainnya."
3. Cermin yang Retak
Wahabi Salafi seringkali menuduh Syi'ah melakukan taqiyyah atau penyimpangan. Namun, coba lihatlah cermin. Bukankah mengklaim diri sebagai pengikut "Salaf" (generasi awal yang mulia) sambil berperilaku kasar dan penuh caci maki adalah sebuah penghinaan nyata terhadap generasi Salaf itu sendiri?
Mereka sibuk mengurusi akidah orang lain sampai lupa bahwa akhlak adalah wajah dari akidah itu sendiri. Jika Islam yang mereka tawarkan hanya berisi daftar "larangan" dan "vonis sesat", jangan kaget jika masyarakat mulai jengah dan melihat mereka bukan sebagai pembela agama, melainkan sebagai polisi moral yang haus validasi.
Kesimpulan: Berhentilah Menjadi Tuhan.
(gr/fb/0326)
