Rabu, 07 Desember 2011

Kisah Sherly dan Rafah


Sherly memiliki kucing Anggora kesayangan. Namanya Rafah. Rafah begitu dekatnya pada Sherly hingga kemanapun Sherly pergi Rafah selalu mengikutinya. Ya tentu saja kecuali kalau Sherly pergi sekolah. 

Sewaktu Sherly sekolah, Rafah tak mau masuk rumah. Ia lebih suka menunggu di teras rumah dan sesekali ke jalan raya sekedar menengok apa Sherly sudah pulang sekolah.

Suatu waktu, saat Rafah ke pinggir jalan raya: Praakkk....Rafah kelindes mobil. Rafah mati. Mamahnya Sherly sangat sedih dan segera menguburkannya di halaman. Singkat kisah, Sherly pun pulang sekolah.

Mamah: “Eeeech Sherly sudah pulaaang. Sini sayang...Mamah mau kasi kabar kalau Rafah tadi ketabrak mobil dan mati...”

Sherly: “Och,, begitu ya mah...” (Sherly menanggapinya dengan dingin lalu masuk kamar untuk menyimpan tas dan ganti baju. Tak lama ia pun keluar kamar lagi).

Sherly: “Mamah..Mamah...Rafah kemana? Biasanya Rafah jemput Sherly di teras halaman. Dicari di rumah ga ada. Di kamar juga ga ada. Rafah dimana Mamah?”

Mamah: “Lho, tadi kan Mamah sudah bilang kalau Rafah ketabrak mobil dan mati...”

Sherly: “Apaaahhhh???...Matiii??? Ga mauuu...ga mauuuuu...Rafah ga boleh matiiii (Sherly pun menangis sejadi-jadinya menjerit-jerit sampai kelojotan di lantai).

Mamah: “Sayang apa ga dengar yang Mamah bilang tadi?”

Sherly: “Enggaa...enggaaa...tadi yang Mamah bilang yang ketabrak mobil kedengaran Sherly itu Papah bukan Rafaaah. Ga mau...ga mau...Rafaaaaaahhhh...”

Pesan Moral: Kisah tragis yang mengundang tanya. Mengapa anak bisa lebih mencintai seekor kucing ketimbang bapaknya. Pasti dalam keluarga itu ada something wrong, terutama prilaku bapaknya. Boleh jadi karena kurangnya perhatian dan komunikasi yang tidak harmonis dalam keluarga. Atau mungkin si anak mengalami traumatis berat atas perbuatan zolim bapaknya, baik terhadap anaknya maupun istrinya. Naudzubillah.
===n425===