Kamis, 30 April 2026

Menyoal Doa Bersama, Apakah Diperbolehkan?


Pengantar: Menyoal aktivitas doa bersama kerap menjadi perbincangan dari waktu ke waktu. Secara hukum Islam, apakah perbuatan ini  diperbolehkan? Berikut ini beberapa hukum yang membolehkan melaksanakan kegiatan doa bersama. Baik doa bersama setelah Shalat Berjamaan, Kegiatan tahlilan dan Yasinan, serta doa bersama dalam suatu event tertentu.

Doa bersama setelah shalat berjamaah

Praktik zikir dan doa bersama yang dipimpin imam setelah shalat berjamaah adalah hal yang umum dan disunnahkan untuk mengajarkan tata cara berdoa kepada makmum.

Meskipun ada pandangan yang menyebutnya bid'ah izhafiyyah, namun pandangan mayoritas menyebutkan hal tersebut diperbolehkan.

Hukum doa berjamaah setelah shalat fardhu adalah masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Mayoritas ulama (khususnya Syafi'iyah) menganggapnya diperbolehkan/baik (masyruk) sebagai sarana ta'lim (pengajaran), sementara sebagian ulama lain menganggapnya tidak dicontohkan atau disarankan berdoa secara mandiri.

Pendapat yang Membolehkan dan Menganjurkan tujuannya untuk mengajarkan jamaah yang belum paham. Ini didasarkan pada hadits tentang keutamaan majelis zikir dan riwayat Ibnu Abbas ra. yang mengeraskan suara saat berzikir/berdoa untuk pengajaran.

Yasinan dan Tahlilan

Menghadiri majelis zikir seperti yasinan dan tahlilan merupakan tradisi yang sudah mengakar di tengah masyarakat Indonesia. Dalam majelis tersebut mereka biasanya membaca tahlil (Laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) serta memohon doa ampunan secara bersama-sama dengan dipimpin oleh seorang ustadz.

Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan menghadiri majelis zikir adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah berikut ini:

إن لله ملائكة يطوفون في الطرق يلتمسون أهل الذكر، فإذا وجدوا قوما يذكرون الله تنادوا: هلمُّوا إلى حاجتكم ـ أي وجدوا بغيتهم ـ قال: فيحفونهم بأجنحتهم إلى السماء الدنيا، قال: فيسألهم ربهم، وهو أعلم منهم، ما يقول عبادي؟ قال: تقول: يسبحونك ويكبرونك ويحمدونك ويمجدونك، قال: فيقول: هل رأوني؟ قال: فيقولون: لا والله ما رأوك، قال: فيقول: وكيف لو رأوني؟ قال: يقولون: لو رأوك كانوا أشد لك عبادة، وأشد لك تمجيداً، وأكثر لك تسبيحاً، قال: يقول: فما يسألونني؟ قال: يسألونك الجنة، قال: يقول: وهل رأوها؟ قال: يقولون: لا والله يا رب ما رأوها، قال: يقول: فكيف لو أنهم رأوها؟ قال: يقولون: لو أنهم رأوها كانوا أشد عليها حرصاً، وأشد لها طلبا ً، وأعظم فيها رغبة، قال: فمم يتعوذون؟ قال: يقولون: من النار، قال: يقول: وهل رأوها؟ قال: يقولون: لا والله يا رب ما رأوها، قال: يقول: فكيف لو رأوها؟ قال: يقولون: لو رأوها كانوا أشد منها فراراً، وأشد لها مخافة، قال: فيقول: فأشهدكم أني قد غفرت لهم، قال: يقول ملك من الملائكة: فيهم فلان ليس منهم، إنما جاء لحاجة، قال: هم الجلساء لا يشقى بهم جليسهم.

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang ditugaskan untuk berkeliling di jalan-jalan untuk melihat ahli-ahli dzikir, Maka apabila mereka mendapati suatu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah mereka menyeru: sampaikanlah hajat kalian, maka para malaikat meliputi mereka dengan sayap-sayap mereka hingga mereka sampai ke langit dunia. Kemudian para malaikat ditanya oleh Allah yang lebih mengetahui dari pada para malaikat: Apa yang dikatakan oleh para hamba-hambaku? Para malaikat berucap: Mereka mensucikan-Mu, Membesarkan-Mu, Memuji-Mu, dan Mengagungkan-Mu. Maka Allah Ta’ala berkata: Apakah mereka melihat-Ku? Para malaikat menjawab:Tidak, demi Allah, Mereka tidak melihat-Mu, Maka Allah berkata: Dan bagaimana jikalau mereka melihat-Ku? Para malaikat menjawab: Kalau mereka melihat-Mu mereka akan lebih sangat dalam beribadah pada-Mu, Lebih banyak mengagungkan-Mu,Dan akan bertambah banyak Mensucikan-Mu. Maka Allah Ta’ala berkata pula: Apa permintaan mereka kepada-Ku? Para malaikat menjawab: Mereka meminta kepada-Mu surga, Kemudian Allah berkata: Apakah mereka pernah melihat surga tersebut? Para malaikat menjawab: Belum, Demi Allah mereka tidak pernah melihatnya. Maka Allah berkata: Bagaimana jika mereka melihatnya? Para malaikat menjawab:Kalau mereka melihatnya niscaya mereka akan bertambah giat untuk mendapatkannya, dan akan bertambah sangat memintanya pada-Mu, dan akan lebih besar keinginan mereka untuk mendapatkannya. Allah Ta’ala berkata pula: Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? Para malaikat menjawab: Mereka meminta perlindungan pada-Mu dari dari neraka. Allah berkata pula: apakah mereka pernah melihatnya? Para malaikat menjawab; tidak, mereka tidak pernah melihatnya, Allah ta’ala berkata: Bagaimana jika mereka melihatnya? Para malaikat menjawab: Jikalau mereka melihatnya mereka akan bertambah takut terhadapnya, dan akan bertambah lari mereka darinya, Maka Allah Ta’ala pun Berkata: Saksikanlah bahwa Aku telah memberikan ampunan kepada mereka, maka salah satu di antara malaikat berkata: di antara para hamba-hamba-Mu itu ada yang datang hanya karena suatu hajat, Allah berkata: Mereka para ahli majelis, ia tidak merusak majelis mereka.

Imam Abu Abdillah al-Ba’ili mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dalam Mukhtashar al-fatawa al-mishriyah, mengatakan bahwa berkumpul untuk berzikir dan berdoa bersama itu suatu hal yang baik selama  tidak melakukan sesuatu bidah tercela, yaitu mengurangi dan menambahi ibadah yang sudah pasti dan jelas pelaksanannya. Contoh bidah tercela seperti melakukan shalat Subuh tiga rakaat.

Anjuran zikir bersama juga tersirat dalam hadis riwayat Imam Muslim dan Imam Tirmidzi berikut ini

ان النبي صلى الله عليه وسلم خرج على حلقة من اصحابه فقال ما يجلسكم؟ قالوا جلسنا نذكر الله ونحمده فقال إنه اتانى جبريل فأخبرنى بأن الله يباهى بكم الملآئكة.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam keluar mendekati sahabat-sahabatnya yang sedang bergerombol, dan bertanya: “Apa yang membuat kalian duduk bergerombol?” Mereka menjawab: “Kami duduk bersama-sama berdzkir kepada Allah dan membaca tahmid kepada-Nya.” Beliau ber­sabda: “Sesungguhnya malaikat Jibril telah datang ke­padaku dan memberitahukan, bahwa Allah membanggakan kalian dihadapan para malaikat.”

Berdasarkan hadis di atas, Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwasanya disunahkan duduk berkumpul untuk melakukan zikir bersama (Tahlilan, Yasinan). Sebenarnya zikir bersama atau sendiri itu sama saja. Sebab ulama terdahulu pun ada yang lebih senang berzikir sendiri atau bersama. Masing-masing memiliki pijakan atau dasar hukumnya dalam syariat Islam.

Namun di dalam ibadah-ibadah kolektif yang disebutkan tadi, terdapat lebih banyak keutamaannya. Selain mendekatkan diri kepada Allah Swt, zikir bersama juga merupakan tradisi baik yang perlu dijaga guna mempererat tali silaturahmi antar muslim serta memperkuat persaudaraan di kalangan umat Islam. 

Kesimpulan

Doa dan juga zikir sangat dianjurkan kapan dan di mana saja, terlebih lagi setelah shalat lima waktu. Zikir dan doa setelah shalat lima waktu lebih dekat pada ijabah atau pengabulan sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi berikut ini.

 وسئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع أي أقرب إلى الإجابة قال جوف الليل ودبر الصلوات المكتوبات رواه الترمذي 

Artinya, “Rasulullah SAW ketika ditanya perihal doa yang paling didengar, yaitu doa yang paling dekat dengan ijabah menjawab: ‘(doa) di tengah malam dan setelah shalat lima waktu,’ HR At-Tirmidzi,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 65). 

Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa doa dan zikir setelah shalat lima waktu sebaiknya tidak ditinggalkan karena itu merupakan salah satu waktu ijabah.

Adapun doa dan zikir berjamaah memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW menyebut kehadiran malaikat, kedatangan rahmat, munculnya ketenteraman, dan pujian Allah SWT. 

Keutamaan ini dikemukakan dalam hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم 

Artinya, “Dari Abi Hurairah RA dan Abi Said Al-Khudri RA bahwa keduanya telah menyaksikan Nabi SAW bersabda, ‘Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menyelimuti mereka, dan ketenangan turun di hati mereka, dan Allah menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya,” (HR Muslim). 

Zikir dan doa berjamaah dapat dilakukan oleh imam shalat yang kemudian diikuti oleh makmum. Tetapi zikir dan doa berjamaah ini dapat juga dipimpin oleh salah seorang makmum yang kemudian diikuti oleh imam shalat dan makmum lainnya.

 Zikir dan doa di waktu malam atau setelah shalat wajib lima waktu dibaca dengan suara perlahan (sirr) jika dilakukan sendiri. Tetapi zikir dan doa dibaca dengan suara lantang (jahar) jika dilakukan secara berjamaah sekadar terdengar oleh mereka sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten berikut ini. 

ويكون كل منهما سرا لكن يجهر بهما إمام يريد تعليم مأمومين فإن تعلموا أسر قال ذلك شيخ الإسلام في فتح الوهاب 

Artinya, “Doa dibaca perlahan (sirr) pada keduanya (tengah malam atau setelah shalat wajib), tetapi dibaca lantang (jahar) oleh imam yang ingin ‘mengajarkan’ para makmum. Kalau mereka ‘mempelajarinya’, maka doa dibaca perlahan (sirr). Demikian pandangan Syekhul Islam Abu Zakaria Al-Anshori dalam Fathul Wahhab,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 65). 

Kami menyarankan zikir dan doa berjamaah dibaca lantang sekadar terdengar oleh jamaah. Namun jangan sampai zikir dan doa dibaca terlalu lantang sehingga mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat di dalam area tersebut. 

Doa bersama suatu event

Demikian halnya doa bersama dalam suatu event atau saat berkumpulnya umat untuk berdoa, di mana satu orang memimpin (berdoa) dan yang lain mengamini. Amalan ini dianjurkan. Tujuannya tentu saja untuk keselamatan, keberkahan dan ridho-Nya. Aamin Ya Allahu Ya Robbal Aalamin.
(nas/dari berbagai sumber).

Resiko Kerugian Pengikut Wahabi


Tren indoktrinasi Wahabisme dan bahayanya untuk generasi Muslim boleh jadi memang luput dari sorotan publik. Sebab, kamuflase-kamuflase yang pop-Wahabi lakukan benar-benar menyilaukan, menampakkan mereka seolah yang paling benar, padahal semua klaim Wahabi atas kebenaran, tauhid, dan kemurnian Islam tidak lebih dari kedok belaka. Namun tanpa kecerdasan dan penguasaan Islam yang baik, seseorang pasti teperdaya. Berikut beberapa isu berbahaya.

1) Isu Aqidah: Dakwaan “Rusaknya Aqidah”

Kalau kita perhatikan dengan jujur, antara kerugian paling besar bagi mereka yang terlalu takjub dengan pemahaman yang sering dilabeli sebagai “Wahabi” ini ialah pada bab aqidah itu sendiri. 

Mereka sangka mereka sedang memurnikan tauhid, padahal dalam banyak keadaan mereka sebenarnya sedang meninggalkan jalan yang telah dilalui oleh jumhur ulama Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah sejak ratusan tahun.

Ulama besar seperti Abu al-Hasan al-Ash‘ari dan Abu Mansur al-Maturidi tidak pernah mengajar kita untuk memahami nas sifat Tuhan secara zahir bulat-bulat tanpa panduan. 

Tapi dewasa ini, ada yang begitu yakin dengan pemahaman sendiri sampai berani menolak kaedah tafwidh dan ta’wil yang telah dijaga oleh ulama sepanjang zaman. Kononnya itu merasa lebih “salaf”, tapi hakikatnya lebih dekat kepada berani dan nekat daripada beradab dengan nas.

Mungkin mereka tidak jatuh kufur—itu kita serahkan kepada Allah. Tapi rusak dari sudut susunan aqidah? Itu satu realitas yang tak boleh ditutupi dengan slogan “ikut Qur’an dan Sunnah” semata.

2) Isu Ibadah: Tidak Iltizam Mazhab & Risiko Talfiq

Masuk pula bab ibadah. Di sinilah kita nampak “kecelaruan yang disusun sebagai kebebasan”. Mereka tidak mau terikat dengan mazhab, kononnya berpegang terus kepada dalil. Bunyi memang hebat. Tapi realitanya?

Ambil sana sedikit, ambil sini sedikit—akhirnya jadi satu bentuk ibadah yang tidak pernah diiktiraf oleh  mazhab manapun. Inilah yang ulama sebut sebagai talfiq yang merusakkan. Imam seperti Al-Shafi‘i bukan saja telah menyusun mazhab secara disiplin dan ketat. Itu semua untuk menjaga kesahihan ibadah, bukan untuk menyusahkan orang.

Bila disiplin ini ditinggalkan, ibadah jadi eksperimen. Hari ini ikut pendapat ini, esok tukar pendapat lain. Yang penting nampak “paling kuat dalil”—walaupun sebenarnya tak faham apa usul di dibalik dalil tersebut. 
Akhirnya, yakin banyak… tapi sah belum tentu.

3) Isu Tasawuf: Penolakan Tazkiyah & Thariqah

Lebih parah lagi bila masuk bab tasawuf. Mereka alergi dengan perkataan “sufi”, “thariqah”, “zikir berjamaah”—semua cepat dilabel bid‘ah. Seolah-olah agama ini cukup dengan hukum zahir saja.

Padahal ulama besar seperti Al-Ghazali sudah lama jelaskan bahwa tanpa penyucian hati, amal itu ibarat jasad tanpa roh. Tokoh seperti Junayd al-Baghdadi menunjukkan bahawa jalan tasawuf bukan jalan pelik, tapi jalan untuk buang riya’, ujub dan penyakit hati.

Bila tasawuf ditolak, apa jadi?

Mulut makin lantang menghukum.
Hati makin keras tanpa sedar.
Rasa diri paling betul, orang lain semua salah.
Itu bukan tanda hati mengenal Allah. Tapi tanda hati sedang bermasalah.

4) Kesimpulan dalam Kerangka ASWAJA

Sebab itu bila disebut “rugi di akhirat”, jangan cepat gerah penuh amarah. Bukan maksud kita jadi Tuhan yang berhak menentukan siapa masuk neraka. Tapi ini peringatan:

Rugi karena aqidah tidak tersusun dengan disiplin ulama.
Rugi karena ibadah dibuat tanpa panduan mazhab yang muktabar.
Rugi karena hati dibiarkan tanpa proses tazkiyah yang benar.

Akhirnya agama tinggal kulit—isi entah kemana.

Sebab itu doa orang Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah ini simple, tapi dalam maknanya:
minta Allah tetapkan kita di atas jalan yang lurus dan seimbang—aqidah yang sahih, ibadah yang istiqomah, dan hati yang hidup dengan dzikrullah.

Bukan sekadar rasa diri paling “ikut Sunnah”, tapi hakikatnya jauh dari roh Sunnah itu sendiri. Wallahu'alam...
(By. FB. Rahmat Rahman)

Selasa, 28 April 2026

Hukum Bersalaman Setelah Shalat


Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam. Aktifitas ini sama sekali tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah prosesi shalat selesai dengan sempurna. 

Meskipun demikian, banyak orang yang mempertanyakan tentang hukum bersalaman, perbincangan seputar ini masih terfokus tentang bid’ah tidaknya bersalaman ba’das sholat. Inilah yang perlu dijelaskan lebih lanjut. 

Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang bersalaman diantaranya adalah riwayat Abu Dawud:

عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Artinya : Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

عَن قلَدَة بن دِعَامَة الدَّوْسِيْ رَضِيَ الله عَنهُ قالَ قلْتُ لاَنَسْ : اَكَانَتِ اْلمُصَافحَة فِى اَصْحَابِ رَسُوْلِ الله, قالَ نَعَمْ

Artinya :Dari Qaladah bin Di’amah r.a. berkata : saya berkata kepada Anas bin Malik, apakah mushafahah itu dilakukan oleh para sahabat Rasul ? Anas menjawab: Ya (benar)

Hadits-hadits di atas adalah menunjuk pada mushafahah secara umum, yang meliputi baik mushafahah setelah shalat maupun di luar setelah shalat.

Jadi pada intinya mushafahah itu benar-benar disyariatkan baik setelah shalat maupun dalam waktu-waktu yang lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas.

Pendapat para ulama.

1. Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

2. Imam Izzuddin bin Abdissalam
Beliau berkata :

اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ

Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

3. Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi
Beliau berkata :

انَّهَا دَاخِلَة تحْت عُمُوْمِ سُنّةِ اْلمُصَافحَةِ مُطْلقا

Artinya : Mushafahah setelah shalat masuk dalam keumuman hadits tentang mushafahah secara mutlak.
4. Imam Muhyidin an-Nawawi
Beliau berkata :

اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ

Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.]
(Disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya, LTM-PBNU)


Senin, 27 April 2026

Akan Munculnya Kaum Khawarij


Perilaku WAHABI Seperti Sabda Rasulullah SAW Dalam Hadist Shahih...

Di hadits di bawah Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa dari Bani Tamim, suku Muhammad bin Abdul Wahhab berasal, akan muncul kaum Khawarij yang ibadahnya seperti hebat dan rajin membaca Al Qur’an, namun tidak mereka pahami dan tidak juga diamalkan (cuma di kerongkongan saja):

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy ra berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; 

"Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil."

Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesetnya anak panah dari sasaran (hewan buruan). (HR Bukhari 3341)

Hadits di atas yang menyebut dari Bani Tamim, suku Muhammad bin Abdul Wahhab (MBAW) akan muncul Khawarij, dan juga hadits dari Najd, tempat kelahiran MBAW sebagai sumber fitnah dan tanduk setan harusnya membuat kita sadar bahwa Wahabi lah sebagai sumber fitnah meski ibadah mereka terlihat hebat.

Rasulullah SAW bersabda:”Nanti pada akhir zaman akan muncul kaum mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkongan, mereka memecah Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, dan mereka akan terus bermunculan sehingga keluar yang terakhir daripada mereka bersama Dajjal, maka jika kamu berjumpa dengan mereka, maka perangilah sebab mereka itu seburuk-buruk makhluk dan seburuk-buruk khalifah.” (Sunan Nasai/4108, Sunan Ahmad/19783)

Dajjal adalah Yahudi. Zionis Yahudi. Wahabi dari sejak era lahirnya memang selalu dekat dengan Zionis Yahudi membunuhi ummat Islam yang mereka fitnah sebagai musyrik. Cuma jika ummat Islam di Mekkah dan Madinah mereka perangi karena mereka anggap Musyrik, lalu ummat Islam yang lurus di mana? Di Najd yang disebut Nabi sebagai sumber fitnah?

Dajjal mahir menipu ummat Islam. Membuat api terlihat sebagai air dan sebaliknya. Nah cara menipu yang paling ampuh itu lewat informasi. Boleh dikata Media Informasi dunia bahkan sarana mencari informasi dan menyebar informasi seperti Google, Facebook, dsb dikuasai Yahudi. Nah yang menguasai 90% “Media Islam” yang ada pun ternyata antek Yahudi. Antek Dajjal. Sehingga bisa menyebar fitnah dengan mudah.

Wahabi yang jauh lebih kecil, karena didanai pemerintah Arab Saudi yang merupakan sekutu AS dan Israel dengan mudah bisa mendirikan stasiun TV dan Radio serta berbagai Media Online sehingga fitnah begitu gencar. Para ulama NU dan Al Azhar mereka fitnah.
(Sumber : https://www.facebook.com/otwtop/posts/950801668289704:0)

Minggu, 26 April 2026

Apa Yang Menjadi Bukti Keaslian Al-Qur'an?


Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagai kitab suci yang menjadi sumber utama ajaran Islam, keasliannya harus tetap terjaga agar tetap bisa menjadi petunjuk hingga akhir zaman. Allah sendiri telah menjamin penjagaan terhadap Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami juga yang akan terus menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Allah menjaga Al-Qur’an sejak sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ hingga kini. Sebelum diwahyukan, Al-Qur’an disimpan di Lauh Mahfuzh, tempat yang steril dari gangguan jin dan setan. Allah berfirman:


بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيْدٌ فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ

“Bahkan yang mereka katakan itu adalah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) di Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 21-22)

Setelah diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ, penjagaan Al-Qur’an tetap berlangsung melalui generasi para sahabat, tabiin, hingga kini melalui para penghafal, ahli Qiraat, ahli tafsir, dan ulama di berbagai bidang ilmu Al-Qur’an seperti:Ilmu Qiraat, yang membahas cara membaca teks Al-Qur’an dengan sanad yang mutawatir.

Ilmu Tafsir, yang menjelaskan makna ayat sesuai dengan pemahaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Ilmu Rasm Utsmani, yang membahas standar penulisan Al-Qur’an seperti yang disepakati oleh Utsman bin Affan.

Kehadiran para ulama dan huffazh (penghafal Al-Qur’an) menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tetap terjaga. Satu huruf yang berubah saja dapat langsung diketahui dan dikoreksi oleh jutaan penghafal Al-Qur’an di dunia.

Bukti Tak Terbantahkan: Al-Qur’an Bukan Karya Manusia

Salah satu aspek paling menarik sekaligus menjadi hujjah (argumen kuat) dalam Islam adalah fakta bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang ummi, yaitu tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis.

Status ini bukan kelemahan, melainkan hikmah ilahi sangat dalam, yang justru memperkuat kebenaran risalah yang beliau bawa.

1. Status “Ummi” sebagai Bukti Keaslian Wahyu

Jika seseorang yang tidak bisa membaca dan menulis mampu menyampaikan sebuah kitab dengan kandungan luar biasa seperti Al-Qur’an—baik dari sisi bahasa, hukum, ilmu, maupun berita ghaib—maka secara logika sederhana: Mustahil itu berasal dari dirinya sendiri.

Allah SWT menegaskan:

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya suatu kitab pun dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu; kalau demikian, niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS. Al- Ankabut: 48).

Ayat ini secara eksplisit menutup kemungkinan bahwa Al-Qur’an adalah hasil karangan Nabi. Justru keadaan beliau yang ummi menjadi tameng terhadap tuduhan plagiarisme atau rekayasa, sebagaimana tuduhan dari sebagian teman-teman non muslim terhadap Al-Qur'an.

2. Mekanisme Wahyu: Lisan, Hafalan, dan Penulisan Kolektif

Setiap wahyu yang turun melalui Malaikat Jibril, Nabi menyampaikannya secara verbal (lisan) kepada para sahabat. Metode ini memiliki beberapa keunggulan:

- Dihafal langsung oleh banyak sahabat (mutawatir secara lisan)
- Ditulis oleh para penulis wahyu seperti Zaid bin Tsabit
- Diverifikasi berulang oleh Nabi sendiri.

Media penulisan saat itu memang sederhana: pelepah kurma, kulit, tulang, dan batu tipis. Namun justru ini menunjukkan bahwa prosesnya organik, transparan, dan kolektif, bukan karya pribadi tersembunyi.

Rasulullah bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari).

Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Al-Qur’an disebarkan melalui tradisi hafalan massal, bukan hanya teks tertulis.

3. Kodifikasi Al-Qur’an: Proses Historis yang Terjaga

Setelah wafatnya Nabi, Al-Qur’an dihimpun secara sistematis atas perintah Khalifah Abu Bakar, lalu disempurnakan pada masa Utsman bin Affan.

Panitia penghimpunan dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, dengan metode ketat:

- Harus ada hafalan + bukti tertulis
- Harus disaksikan minimal dua orang
- Disusun sesuai urutan dari Nabi.

Ini menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang memiliki sanad kolektif dan verifikasi berlapis sejak awal.

4. Jaminan iIlahi atas Keaslian Al-Qur’an

Tidak hanya melalui mekanisme manusia, Allah sendiri menjamin penjagaan Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang menjaganya.”(QS. Al-Hijr: 9)

Ini berarti:

- Tidak akan berubah
- Tidak akan hilang
- Tidak akan bisa dipalsukan.

Dan fakta sejarah membuktikan: teks Al-Qur’an tetap sama selama lebih dari 1400 tahun.

5. Analisis Logis: Mengapa Al-Qur'an Tidak Mungkin Karangan Manusia

Jika Al-Qur’an adalah karya Nabi, maka muncul kontradiksi:

- Bagaimana mungkin orang yang ummi menyusun teks dengan *struktur bahasa tertinggi dalam sejarah Arab?
- Bagaimana mungkin Al-Qur'an memuat informasi ilmiah dan sejarah* yang baru terungkap berabad-abad kemudian?
- Mengapa isinya konsisten selama 23 tahun tanpa kontradiksi?
Allah menantang:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”_ (QS. An-Nisa: 82).

6. Hikmah yang Lebih Dalam

Status “ummi” bukan sekadar pembelaan dari tuduhan, tetapi juga mengandung hikmah besar:

- Menunjukkan bahwa kebenaran tidak bergantung pada kemampuan duniawi
- Menegaskan bahwa wahyu adalah sumber utama ilmu
- Menghancurkan kesombongan intelektual manusia.

Ini juga menjadi pelajaran bahwa:

Kebenaran sejati datang dari Allah, bukan dari kecerdasan manusia semata.
Keummian Nabi Muhammad SAW bukan kelemahan, melainkan argumen kuat atas keotentikan Al-Qur’an. 

Justru karena beliau tidak bisa membaca dan menulis, maka Al-Qur’an menjadi:

- Mustahil hasil karangan manusia
- Terbukti sebagai wahyu ilahi
- Terjaga secara sempurna hingga kini

Masyaallah...Barrakallahu Fikum


Kamis, 23 April 2026

Dzikir Nafas Bekal Mudik Ke Kampung Akhirat


Ketika jasad mulai membeku
dan nafas terakhir melayang pelan
kita pun akan pulang ke negeri yang tak pernah dikenal
namun selalu disebut dalam doa..

Wajah-wajah yang dulu hilang
tersenyum di balik kabingungan ingatan
seakan berkata: "Kita telah menunggumu
di sini, di negeri yang tak pernah redup..."

Apatah jadinya ketika pulang tanpa bekal yang cukup
bahkan hanya selembar iman yang bolong-bolong
atau sebongkah catatan amal yang buram termakan waktu...

Tapi duhai Engkau yang Maha Mengetahui
mengapa masih Kau sambut dengan cahaya?
mengapa pintu-Mu tak pernah terkunci
untuk hamba yang tersesat di jalan pulang?

Membayang negeri akhirat, adalah pembelajaran
bahwa pulang bukan tentang sampai
tak cukup sekedar tuntasnya di dunia fana
tapi tentang bagaimana selama perjalanan
kita tak lupa pada Yang Memberi Pulang...

Maka tariklah nafas dan suarakanlah "Huuuu..."
Serta lepaskan nafas dan bisikanlah "Allah..."
Itulah Dzikrullah Nafas yang boleh jadi akan
menyelamatkan kita di alam barzah dan akhirat..
hingga bumi pun tak sanggup membusukannya...
(kgm/puisisepertigaapril/04/2026)

Selasa, 21 April 2026

Ketika Mengharamkan Tanpa Dalil



Mengharamkan sesuatu tanpa dalil yang jelas menunjukkan keharamannya adalah Bid'ah Dholalah, hukumnya haram, karena membuat syariat baru. Tapi sangat digemari oleh Wahabi.

Dalam ilmu fiqih perkara "mengharam-haramkan sesuatu" tanpa dalil, konsekuensinya tidak ringan. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah ditegur Allah ketika melakukannya:

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu?" (QS. At-Tahrim: 1)

Bayangkan, Rasulullah ﷺ saja ditegur, apalagi kita.

Ketika Sahabat Nabi mengharamkan sesuatu yang tidak di haramkan Allah, Allah langsung menegurnya.

Dari Ibnu Abbas, seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
"Wahai Rasulullah, jika aku makan daging, hasratku kepada wanita memuncak. Karena itu, aku mengharamkan daging atas diriku."

Maka turunlah firman Allah:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu." (QS. Al-Maidah: 87) [Tafsir Ibnu Katsir]

Lihat, bukan Rasul yg menjawabnya. Melainkan Allah langsung yg menjawab, menunjukkan beratnya persoalan mengharamkan sesuatu itu.

Sahabat Nabi Mengharamkan Kasur

Ma’qal bin Muqarrin berkata kepada Abdullah bin Mas’ud:
"Aku mengharamkan tempat tidurku (kasur empuk)."
Ibnu Mas’ud lantas membacakan QS. Al-Maidah: 87 dan menegurnya.
[HR. Bukhari-Muslim]

Allah sangat murka kepada mereka yang mudah mengharamkan sesuatu. Berikut ancaman dan teguran-Nya:

1. Dianggap Menyekutukan Allah dengan menyembah Ulama
"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (QS. At-Taubah: 31)

Adi bin Hatim ra sebelum masuk Islamnya cukup dekat dengan kaum Nasrani. Kala itu ia pernah mendatangi Rasulullah saw untuk menanyakan QS. At-Taubah 31 tersebut. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (kaum nasrani) itu tidak menyembah para pastor dan pendeta"

Rasulullah saw menjawab : "Bukankah mereka telah menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya?,

Adi bin Hatim menjawab : "Benar"

Rasulullah saw bertanya lagi : "Bukankah mereka juga mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?"

Adi bin Hatim berkata : "Benar".

Rasulullah saw berkata : "Itulah yang dimaksud menyembah mereka" (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Kecaman keras Allah terhadap mereka yang berani mengharamkan dan menghalalkan tanpa seizin-Nya.

"Katakanlah, "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (menjadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal) ataukah kamu mengada-ada atas nama Allah?"(QS Yunus: 59)

3. Allah swt mengatakan mereka telah berdusta atas nama-Nya, mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya dan Allah mengancam orang seperti ini tidak akan beruntung.

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung" (QS. An-Nahl Ayat 116)

Contoh Sikap Hati-Hati Para Sahabat dan Ulama terhadap hal itu.

"Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berani mengeluarkan fatwa terhadap suatu permasalahan, jika hal tersebut sampai kepada Sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau akan mengumpulkan para Ahlul Badar (para sahabat yang pernah ikut serta dalam perang badar)” (Kitab Kanzul Ummal juz 5 hal 241).

Ibnu Abi Layla berkata:

“Sesungguhnya aku mengetahui 120 orang sahabat Rasulullah SAW dari golongan Anshar, salah seorang dari mereka ketika ditanya tentang hukum (Halam Haram) suatu permasalahan, maka ia akan melemparkan pertanyaan tersebut kepada lainnya, dan begitu seterusnya (saling melempar) kepada yang lainnya, hingga pertanyaan tersebut kembali lagi kepadanya (orang yang ditanya pertama kali)” (Riwayat Imam Ibnu Saad dalam Thabaqat al Kubra juz 6 hal 110, Imam Darimi dalam Sunan 1/53, Imam Ibnu Abdilbarr dalam Jami'ul Bayan Al ilmi wa Fadhlihi Juz 1 hal177)

Anak Abdullah bin Umar pernah dikritik ketika tidak menjawab "ini hukumnya haram". Beliau tidak menjawab satu pertanyaan pun karena sikap hati-hatinya.
Orang-orang heran, "bagaimana mungkin orang sepertimu, anak seorang pemimpin di dalam ilmu yang memberikan petunjuk, ketika ditanya sebuah perkara, dan anda tidak bisa menjawabnya?".

Anak Abdullah bin Umar ra menjawab: "Demi Allah, sungguh aku merasa lebih heran lagi, di sisi Allah dan bagi mereka yang mengenal Allah, dan bagi orang yang mengetahui Allah, aku mengatakan sesuatu yang aku tidak memilki ilmu akannya atau aku diberitahukan dari orang yang tidak dipercaya". [Musnad Syafi'i]

Imam Malik berkata:

"Aku tidak akan bersedia memberikan fatwa apapun, sebelum ada 70 orang Alim Madinah yang bersaksi bahwa aku memenuhi syarat untuk itu.
[Riwayat Imam Al-Khatib al-Baghdadi dalam Al Faqih wal Mutafaqqih]
Imam Syafi'i menceritakan:

"Sesungguhnya guru dari guruku, Qadhi Abu Yusuf (murid Abu Hanifah yang sangat terkenal itu), pernah berkata, "Aku jumpai guru-guruku dari para ahli ilmu, bahwa mereka itu tidak suka berfatwa mengatakan ini halal dan ini haram, kecuali menurut apa yang terdapat dalam Al-Quran dengan tegas tanpa memerlukan tafsiran.”
[Al-Umm]

Imam Ahmad bin Hanbal banyak berkata:

"Saya tidak mengetahui hukum keharamannya" [Al-Atsram]
Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal adalah Imam 3 mazhab, tidak berani mengharamkan begitu mudah, tapi wahabi sangat berani, untuk itu kita sangat salut sama mereka.

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yg bisa kita temukan dari ribuan kitab yg mengabarkan hal serupa.

Saking beratnya perkara ini, Rasulullah saw berkali-kali mengingatkannya.

Rasulullah SAW bersabda :

"Ketika orang-orang bodoh ditanyai tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan" (HR Bukhari dan Muslim)
“Siapa yang diberi fatwa tanpa landasan ilmu, maka dosanya atas orang yang memberi fatwa”. (HR Abu Daud)

“Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu, maka dilaknat oleh Malaikat langit dan bumi.” (HR Ibnu Asakir)

"Orang yang paling berani di antara kalian dalam berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka" (HR Darimi)

Meskipun demikian, namun nyatanya hal ini dijadikan hobi oleh Wahabi.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
(unknow/facebook/04/26)

Kamis, 16 April 2026

Sejarah Berdirinya Kerajaan Saudi



Dr. Abdullah Mohammad Sindi di dalam sebuah artikelnya yang berjudul : Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud menyajikan tinjauan ulang tentang sejarah Wahabisme, peran Pemerintah Inggeris di dalam perkembangannya, dan hubungannya dengan peran keluarga kerajaan Saudi. “Salah satu sekte Islam yang paling kaku dan paling reaksioner saat ini adalah Wahabi,” demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi dalam pembukaan artikelnya tersebut. Dan kita tahu bahwa Wahabi adalah ajaran resmi Kerajaaan Saudi Arabia, tambahnya.

Wahabisme dan keluarga Kerajaan Saudi telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sejak kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Saud membalas jasa itu dengan menyebarkan paham Wahabi ke seluruh penjuru dunia. One could not have existed without the other – Sesuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang lainnya.

Wahhabisme memberi legitimasi bagi Istana Saud, dan Istana Saud memberi perlindungan dan mempromosikan Wahabisme ke seluruh penjuru dunia. Keduanya tak terpisahkan, karena keduanya saling mendukung satu dengan yang lain dan kelangsungan hidup keduanya bergantung padanya.

Tidak seperti negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme memperlakukan perempuan sebagai warga kelas tiga, membatasi hak-hak mereka seperti : menyetir mobil, bahkan pada dekade lalu membatasi pendidikan mereka.

Juga tidak seperti di negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme :

  • Melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw
  • Melarang kebebasan berpolitik dan secara konstan mewajibkan rakyat untuk patuh secara mutlak kepada pemimpin-pemimpin mereka.
  • Melarang mendirikan bioskop sama sekali.
  • Menerapkan hukum Islam hanya atas rakyat jelata, dan membebaskan hukum atas kaum bangsawan, kecuali karena alasan politis.
  • Mengizinkan perbudakan sampai tahun ’60-an.Mereka juga menyebarkan mata-mata atau agen rahasia yang selama 24 jam memonitor demi mencegah munculnya gerakan anti-kerajaan.

Wahabisme juga sangat tidak toleran terhadap paham Islam lainnya, seperti terhadap Syi’ah dan Sufisme (Tasawuf). Wahabisme juga menumbuhkan rasialisme Arab pada pengikut mereka. Tentu saja rasialisme bertentangan dengan konsep Ummah Wahidah di dalam Islam.

Wahhabisme juga memproklamirkan bahwa hanya dia saja-lah ajaran yang paling benar dari semua ajaran-ajaran Islam yang ada, dan siapapun yang menentang Wahabisme dianggap telah melakukan BID’AH dan KAFIR!

LAHIRNYA AJARAN WAHABI

Wahhabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad 18 di Dir’iyyah sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd.

Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul-Wahhab (1703-92). Laki-laki ini lahir di Najd, di sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak. 2]

Sebelum menjadi seorang mubaligh, Ibn Abdul-Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan untuk keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria, Irak, Iran, dan India.

Hempher mata-mata Inggris

Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy”

Selagi di Basra, Iraq, Ibn Abdul-Wahhab muda jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang mata-mata Inggris yang dipanggil dengan nama Hempher yang sedang menyamar (undercover), salah seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri Muslim (di Timur Tengah) dengan tujuan menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan menciptakan konflik di antara sesama kaum Muslim. Hempher pura-pura menjadi seorang Muslim, dan memakai nama Muhammad, dan dengan cara yang licik, ia melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dalam waktu yang relatif lama.

Hempher, yang memberikan Ibn Abdul-Wahhab uang dan hadiah-hadiah lainnya, mencuci-otak Ibn Abdul-Wahhab dengan meyakinkannya bahwa : Orang-orang Islam mesti dibunuh, karena mereka telah melakukan penyimpangan yang berbahaya, mereka – kaum Muslim – telah keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, mereka semua telah melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dan syirik.

Hempher juga membuat-buat sebuah mimpi liar (wild dream) dan mengatakan bahwa dia bermimpi Nabi Muhammad Saw mencium kening (di antara kedua mata) Ibn Abdul-Wahhab, dan mengatakan kepada Ibn Abdul-Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari berbagai bid’ah dan takhayul.

Setelah mendengar mimpi liar Hempher, Ibn Abdul-Wahhab jadi ge-er (wild with joy) dan menjadi terobsesi, merasa bertanggung jawab untuk melahirkan suatu aliran baru di dalam Islam yang bertujuan memurnikan dan mereformasi Islam.

Di dalam memoarnya, Hempher menggambarkan Ibn Abdul-Wahhab sebagai orang yang berjiwa “sangat tidak stabil” (extremely unstable), “sangat kasar” (extremely rude), berakhlak bejat (morally depraved), selalu gelisah (nervous), congkak (arrogant), dan dungu (ignorant).

Mata-mata Inggeris ini, yang memandang Ibn Abdul-Wahhab sebagai seorang yang bertipikal bebal/dungu (typical fool), juga mengatur pernikahan mut’ah bagi Ibn Abdul Wahhab dengan 2 wanita Inggeris yang juga mata-mata yang sedang menyamar.

Wanita pertama adalah seorang wanita beragama Kristen dengan panggilan Safiyya. Wanita ini tinggal bersama Ibn Abdul Wahhab di Basra. Wanita satunya lagi adalah seorang wanita Yahudi yang punya nama panggilan Asiya. Mereka menikah di Shiraz, Iran.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI PERTAMA : 1744-1818

Setelah kembali ke Najd dari perjalanannya, Ibn Abdul-Wahhab mulai “berdakwah” dengan gagasan-gagasan liarnya di Uyayna. Bagaimana pun, karena “dakwah”-nya yang keras dan kaku, dia diusir dari tempat kelahirannya.

Dia kemudian pergi berdakwah di dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata Inggeris lainnya yang berada dalam penyamaran ikut bergabung dengannya.

Dia juga tanpa ampun membunuh seorang pezina penduduk setempat di hadapan orang banyak dengan cara yang sangat brutal, menghajar kepala pezina dengan batu besar

Padahal, hukum Islam tidak mengajarkan hal seperti itu, beberapa hadis menunjukkan cukup dengan batu-batu kecil. Para ulama Islam (Ahlus Sunnah) tidak membenarkan tindakan Ibn Abdul-Wahhab yang sangat berlebihan seperti itu.

Walaupun banyak orang yang menentang ajaran Ibn Abdul-Wahhab yang keras dan kaku serta tindakan-tindakannya, termasuk ayah kandungnya sendiri dan saudaranya Sulaiman Ibn Abdul-Wahhab, – keduanya adalah orang-orang yang benar-benar memahami ajaran Islam -, dengan uang,mata-mata Inggeris telah berhasil membujuk Syeikh Dir’iyyah, Muhammad Saud untuk mendukung Ibn Abdul-Wahhab.

Pada 1744, al-Saud menggabungkan kekuatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dengan membangun sebuah aliansi politik, agama dan perkawinan. Dengan aliansi ini, antara keluarga Saud dan Ibn Abdul-Wahhab, yang hingga saat ini masih eksis, Wahhabisme sebagai sebuah “agama” dan gerakan politik telah lahir!

Dengan penggabungan ini setiap kepala keluarga al-Saud beranggapan bahwa mereka menduduki posisi Imam Wahhabi (pemimpin agama), sementara itu setiap kepala keluarga Wahhabi memperoleh wewenang untuk mengontrol ketat setiap penafsiran agama (religious interpretation).

Mereka adalah orang-orang bodoh, yang melakukan kekerasan, menumpahkan darah, dan teror untuk menyebarkan paham Wahabi (Wahhabism) di Jazirah Arab. Sebagai hasil aliansi Saudi-Wahhabi pada 1774, sebuah kekuatan angkatan perang kecil yang terdiri dari orang-orang Arab Badui terbentuk melalui bantuan para mata-mata Inggeris yang melengkapi mereka dengan uang dan persenjataan.

Sampai pada waktunya, angkatan perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar yang pada akhirnya melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Damaskus (Suriah), dan menjadi penyebab munculnya Fitnah Terburuk di dalam Sejarah Islam (Pembantaian atas Orang-orang Sipil dalam jumlah yang besar).

Dengan cara ini, angkatan perang ini dengan kejam telah mampu menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab untuk menciptakan Negara Saudi-Wahhabi yang pertama.

Sebagai contoh, untuk memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai syirik dan bid’ah yang dilakukan oleh kaum Muslim, Saudi-Wahhabi telah mengejutkan seluruh dunia Islam pada 1801, dengan tindakan brutal menghancurkan dan menodai kesucian makam Imam Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad Saw) di Karbala, Irak. Mereka juga tanpa ampun membantai lebih dari 4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta yang mereka bawa sebagai harta rampasan.

Sekali lagi, pada 1810, mereka, kaum Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa di sepanjang Jazirah Arab. Mereka menggasak dan menjarah banyak kafilah peziarah dan sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk 2 kota suci Makkah dan Madinah.

Di Makkah, mereka membubarkan para peziarah, dan di Madinah, mereka menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi, dan menjual serta membagi-bagikan peninggalan bersejarah dan permata-permata yang mahal.

Para teroris Saudi-Wahhabi ini telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Kekhalifahan Utsmaniyyah di Istanbul.

Sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab dan penjaga masjid-masjid suci Islam, Khalifah Mahmud II memerintahkan sebuah angkatan perang Mesir dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahhabi.

Pada 1818, angkatan perang Mesir yang dipimpin Ibrahim Pasha (putra penguasa Mesir) menghancurkan Saudi-Wahhabi dan meratakan dengan tanah ibu kota Dir’iyyah .

Imam kaum Wahhabi saat itu, Abdullah al-Saud dan dua pengikutnya dikirim ke Istanbul dengan dirantai dan di hadapan orang banyak, mereka dihukum pancung. Sisa klan Saudi-Wahhabi ditangkap di Mesir.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE-II : 1843-1891

“Walaupun kebengisan fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada 1818, namun dengan bantuan Kolonial Inggeris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman mati atas Imam Abdullah al-Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi-Wahhabi memandang saudara-saudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang sesungguhnya (their real enemies) dan sebaliknya mereka menjadikan Inggris dan Barat sebagai sahabat sejati mereka.” Demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi.

Maka ketika Inggris menjajah Bahrain pada 1820 dan mulai mencari jalan untuk memperluas area jajahannya, Dinasti Saudi-Wahhabi menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh perlindungan dan bantuan Inggeris.

Pada 1843, Imam Wahhabi, Faisal Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo dan kembali ke Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggeris. Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggeris (British Political Resident) di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman. Pada 1851, Faisal kembali memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggeris. 10]

Dan hasilnya, Pada 1865, Pemerintah Inggeris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk mendirikan sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggeris dengan perjanjian (pakta) bersama Dinasti Saudi-Wahhabi.

Untuk mengesankan Kolonel Lewis Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahhabi, Imam Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahhabi : antara perang politik dengan perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua orang . 11]

Pada 1866, Dinasti Saudi-Wahhabi menandatangani sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah Kolonial Inggeris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.

Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggeris atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan : Teluk Persia).

Sebagai pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggeris yang berupa uang dan senjata, pihak Dinasti Saudi-Wahhabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianatdengan pemerintah kolonial Inggeris yaitu : pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah kolonial Inggris atas area yang dimilikinya.

Perjanjian yang dilakukan Dinasti Saudi-Wahhabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan Islam (yaitu : Inggris), pihak Dinasti Saudi-Wahhabi telah membangkitkan kemarahan yang hebat dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam maupun yang diluar wilayah Jazirah Arab.

Dari semua penguasa Muslim, yang paling merasa disakiti atas pengkhianatan Dinasti Saudi-Wahhabi ini adalah seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan pada 1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki, al-Rasyid menyerang Riyadh lalu menghancurkan klan Saudi-Wahhabi.

Bagaimanapun, beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahhabi sudah mengatur untuk melarikan diri; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz. Dengan cepat keduanya melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggeris, untuk mencari perlindungan dan bantuan Inggeris.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE III (SAUDI ARABIA) : Sejak 1902

Ketika di Kuwait, Sang Wahhabi, Imam Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz menghabiskan waktu mereka “menyembah-nyembah” tuan Inggris mereka dan memohon-mohon akan uang, persenjataan serta bantuan untuk keperluan merebut kembali Riyadh. Namun pada akhir penghujung 1800-an, usia dan penyakit nya telah memaksa Abdul-Rahman untuk mendelegasikan Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi Imam Wahhabi yang baru.

Melalui strategi licin kolonial Inggeris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara menyeluruh, kolonial Inggeris langsung memberi sokongan kepada Imam baru Wahhabi Abdul-Aziz.

Dibentengi dengan dukungan kolonial Inggeris, uang dan senjata, Imam Wahhabi yang baru, pada 1902 akhirnya dapat merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru Wahhabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahhabinya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati. 12]

Imam Wahhabi Abdul-Aziz yang dikenal di Barat sebagai Ibn Saud, sangat dicintai oleh majikan Inggrisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggeris di wilayah Teluk Arab sering menemui atau menghubunginya, dan dengan murah-hati mereka mendukungnya dengan uang, senjata dan para penasihat. Sir Percy Cox, Captain Prideaux, Captain Shakespeare, Gertrude Bell, dan Harry Saint John Philby (yang dipanggil “Abdullah”) adalah di antara banyak pejabat dan penasihat kolonial Inggris yang secara rutin mengelilingi Abdul-Aziz demi membantunya memberikan apa pun yang dibutuhkannya.

Dengan senjata, uang dan para penasihat dari Inggris, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahhabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahhabi ke-3, yang saat ini disebut Kerajaan Saudi Arabia.

Ketika mendirikan Kerajaan Saudi, Imam Wahhabi, Abdul-Aziz beserta para pengikut fanatiknya, dan para “tentara Tuhan”, melakukan pembantaian yang mengerikan, khususnya di daratan suci Hijaz. Mereka mengusir penguasa Hijaz, Syarif, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw.

Pada May 1919, di Turbah, pada tengah malam dengan cara pengecut dan buas mereka menyerang angkatan perang Hijaz, membantai lebih 6.000 orang.

Dan sekali lagi, pada bulan Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar, tentara Saudi-Wahabi mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif, mengancam mereka, mencuri uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala anak-anak kecil dan orang-orang yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur dengan raung tangis dan takut kaum wanita. Banyak wanita Taif yang segara meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahhabi yang bengis.

Tentara primitif Saudi-Wahhabi ini juga membunuhi para ulama dan orang-orang yang sedang melakukan shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan tanah; tanpa pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka temui di jalan-jalan; dan merampok apa pun yang dapat mereka bawa. Lebih dari 400 orang tak berdosa ikut dibantai dengan cara mengerikan di Taif.

________________________________________

* Dr. Abdullah Mohammad Sindi adalah seorang profesor Hubungan Internasional (professor of International Relations) berkebangsaan campuran Saudi-Amerika. Dia memperoleh titel BA dan MA nya di California State University, Sacramento, dan titel Ph.D. nya di the University of Southern California. Dia juga seorang profesor di King Abdulaziz University di Jeddah, Saudi Arabia. Dia juga mengajar di beberapa universitas dan college Amerika termasuk di : the University of California di Irvine, Cal Poly Pomona, Cerritos College, and Fullerton College. Dia penulis banyak artikel dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggeris. Bukunya antara lain : The Arabs and the West: The Contributions and the Inflictions.

Catatan Kaki:

[1] Banyak orang-orang yang belajar Wahabisme (seperti di Jakarta di LIPIA) yang menjadi para pemuja syekh-syekh Arab, menganggap bangsa Arab lebih unggul dari bangsa lain. Mereka (walaupun bukan Arab) mengikuti tradisi ke-Araban atau lebih tepatnya Kebaduian (bukan ajaran Islam), seperti memakai jubah panjang, menggunakan kafyeh, bertindak dan berbicara dengan gaya orang-orang Saudi.

[2] Alexei Vassiliev, Ta’reekh Al-Arabiya Al-Saudiya [History of Saudi Arabia], yang diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi al-Dhamin dan Jalal al-Maashta (Moscow: Dar Attagaddom, 1986), hlm. 108.

[3] Untuk lebih detailnya Anda bisa mendownload “Confessions of a British Spy” :http://www.ummah.net/Al_adaab/spy1-7.html

Cara ini juga dilakukan Imperialis Belanda ketika mereka menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia lewat Snouck Hurgronje yang telah belajar lama di Saudi Arabia dan mengirimnya ke Indonesia. Usaha Snouck berhasil gemilang, seluruh kerajaan Islam jatuh di tangan Kolonial Belanda, kecuali Kerajaan Islam Aceh. 

Salah satu provokasi Snouck yang menyamar sebagai seorang ulama Saudi adalah menyebarkan keyakinan bahwa hadis Cinta pada Tanah Air adalah lemah!(Hubbul Wathan minal Iman). Dengan penanaman keyakinan ini diharapkan Nasionalisme bangsa Indonesia hancur, dan memang akhirnya banyak pengkhianat bangsa bermunculan.

[4] Memoirs Of Hempher, The British Spy To The Middle East, page 13.
[5] Lihat “The Beginning and Spreading of Wahhabism”,http://www.ummah.net/Al_adaab/wah-36.html
[6] William Powell, Saudi Arabia and Its Royal Family (Secaucus, N.J.: Lyle Stuart Inc., 1982), p. 205.
[7] Confessions of a British Spy.
[8] Ibid.
[9] Vassiliev, Ta’reekh, p. 117.
[10] Gary Troeller, The Birth of Saudi Arabia: Britain and the Rise of the House of Sa’ud(London: Frank Cass, 1976), pp. 15-16.
[11] Quoted in Robert Lacey, The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145.

Senin, 13 April 2026

Dahsyatnya Doa Seorang Istri


Doa istri untuk suami adalah salah satu doa paling mustajab untuk memohon perlindungan, keberkahan rezeki, dan keselamatan dalam ketaatan. Amalkan doa agar suami dilindungi dari keburukan, dilapangkan rezekinya, diberikan kesehatan, dan dijaga keharmonisannya setelah shalat fardu maupun saat suami berjuang mencari nafkah.

Berikut adalah kumpulan doa istri untuk suami yang dikutip dari berbagai sumber:

1. Doa Rezeki dan Keberkahan Usaha Suami

Allahumma aktsir mala zauji wa barik lahu fima a'thoitahu wa athil hayatahu 'ala tho'atika wa ahsin 'amalahu waghfirlahu.

Artinya: "Ya Allah, perbanyaklah harta suamiku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya, panjangkanlah umurnya dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalnya serta ampunilah dosa-dosanya."

2. Doa Perlindungan dan Keselamatan (Saat Bekerja)

Allahumma innii as-alikal 'afwa wal 'aaffiyah fid dun-yaa wal aakhirah. Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fi diini wa dunyaa-ya wa ahlii wa maalii.

Artinya: "Ya Allah, aku mohon ampunan dan kesehatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku mohon ampunan dan kesehatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku."

3. Doa Agar Suami Ditetapkan Hatinya dalam Ketaatan

Allahumma jannibnii munkaraatil akhlaaqi, wal ahwaa-li wal a'maali, wal adwaa-i.

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah kami dari berbagai kejelekan akhlak, hawa nafsu, dan amal perbuatan, serta segala macam penyakit."

4. Doa Harmonis Rumah Tangga (Sakinah, Mawaddah, Warahmah)

Allâhumma allif bainahumâ kamâ allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Ibrâhîm wa Sârah...

Artinya: "Ya Allah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Adam dan Hawa... (lanjutan doa rukun keluarga nabi) ...dan rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Ali dan Fathimah Az-Zahra."

Keutamaan Doa Istri untuk Suami

Doa istri untuk suami yang jauh maupun dekat adalah salah satu doa yang mustajab dan segera dikabulkan. Mendoakan suami adalah wujud ketaatan istri kepada Allah yang akan mendapatkan pahala dan Rida-Nya. Doa yang tulus akan membawa keberkahan dan kesejahteraan dalam keluarga.

Selalu niatkan doa untuk kebaikan dunia dan akhirat suami.

Seorang istri mungkin tidak selalu mampu meringankan beban suaminya dengan harta atau kekuatan. 
Namun ia memiliki sesuatu enerji yang sangat kuat melalui doa yang tulus kepada Allah swt.

Maka sangat dianjurkan berdoa ketika suami sedang berjuang mencari rezeki atau ketika langkahnya begitu berat dan melelahkan dalam menghadapi kehidupan.

Ketika seorang istri yang diam-diam mengangkat tangannya di malam hari dan berkata:

“Ya Allah, jagalah suamiku, mudahkan urusannya, berkahilah rezekinya, dan kuatkan imannya.”

Doa itu mungkin sepele dan ringan atau mungkin hanya dengan bisikan yang tidak terdengar, namun doa itu sungguh bisa menembus langit. Apalagi jika dilakukan di sepertiga malam sehingga doa itu hanya dapat didengar oleh Allah swt yang menguasai langit dan bumi.

Betapa banyak suami yang selamat dari kesulitan dan rezekinya dimudahkan, tentu
hanya kekuatannya dan potensinya semata, tetapi boleh jadi karena doa seorang istri yang tidak pernah lelah memohon mengadu bersujud kepada Allah swt.
Terlebih doa seorang muslim untuk saudaranya yang tanpa sepengetahuan orang dimaksud sangat dicintai oleh Allah.

Apalagi doa seorang istri untuk suaminya yang menjadi pasangan hidup dan pemimpin dalam rumah tangga nya.

1. Doa untuk orang lain akan diaminkan malaikat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya:
“Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata: Aamiin, dan untukmu juga seperti itu.”
(HR. Muslim)

Ini berarti ketika seorang istri mendoakan suaminya, malaikat juga mendoakan kebaikan yang sama untuk sang istri.

2. Istri shalihah selalu mendoakan kebaikan suaminya.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya:
“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini menunjukkan bahwa suami dan istri dianjurkan saling mendoakan agar rumah tangga menjadi penyejuk hati.

3. Doa istri adalah bentuk cinta dan keberkahan rumah tangga

Para ulama mengatakan:
“Di antara tanda wanita shalihah adalah ia memperbanyak doa untuk suaminya, baik dalam keadaan dekat maupun jauh.”

Karena doa seorang istri dapat menjadi sebab:
Suami diberi rezeki yang halal dan berkah, terjaga dari kemaksiatan, serta rumah tangganya akan dipenuhi ketenangan dan kasih sayang.

Maka wahai para istri, jangan pernah lelah untuk mendoakan suami mu.
Karena doa yang tulus dari hati yang ikhlas sering kali menjadi sebab turunnya rahmat dari Allah Swt di dalam sebuah rumah tangga.
Wallahu alam bishowab

Sabtu, 11 April 2026

Transformasi Besar Telkom Via Empat Pilar

 



Transformasi besar sedang disiapkan oleh Telkom melalui program TLKM 30.
Strategi ini menjadi arah baru perusahaan menuju 2030 agar tetap relevan di tengah perubahan industri teknologi yang semakin cepat.


Ada empat pilar utama yang menjadi fondasi transformasi ini:

🔹 Operational Excellence – meningkatkan kualitas operasional dan budaya kerja
🔹 Strategic Holding – fokus pada manajemen klaster bisnis
🔹 Streamlining – penyederhanaan struktur anak usaha
🔹 Unlocking Value – optimalisasi aset perusahaan

Saat ini Telkom memiliki sekitar 66 entitas bisnis, namun melalui langkah penggabungan, divestasi, hingga penutupan entitas yang tidak lagi strategis, jumlah tersebut akan disederhanakan menjadi sekitar 20 entitas inti.

Langkah ini diharapkan membuat Telkom bergerak lebih lincah, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat fokus pada layanan digital dan infrastruktur telekomunikasi di masa depan.

Jumat, 10 April 2026

Muhasabah Diri dengan Mengingat Hakikat Umur


Hakikat umur bukanlah sekadar hitungan hari, tahun, atau angka usia biologis, melainkan kualitas amal saleh dan kebermanfaatan yang diisi selama hidup. Umur yang hakiki adalah waktu yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah, sementara waktu yang terbuang untuk maksiat tidak dihitung sebagai umur.

Memaknai usia

Semakin lama kita hidup, tidak terasa amanah umur yang kita dapat sebagai berkah dan nikmat dari Allah SWT juga semakin berkurang dengan sendirinya. Apapun cara kita menikmatinya, menjalaninya itu semata-mata tergantung cara kita menyikapi dan memperdulikan setiap kesempatan yang ada di hadapan kita, baik-buruknya ada dalam sikap terbaik kita menyikapinya.

Mari kita sedikit merenungkan kembali pemaknaan tentang umur kita.

Pertama, umur adalah karunia Allah SWT.

Yang wajib kita syukuri dengan sungguh-sungguh dan menggunakannya dengan segala sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Maka, barangsiapa yang tidak menggunakannya dengan baik berarti dia sudah kufur nikmat.

Kedua, umur manusia pada hakikatnya semakin berkurang.

Manusia ketika dilahirkan sudah ditentukan rezeki, jodoh, dan umurnya sehingga semakin bertambah umur berarti jatah umur yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, akan semakin berkurang. Hanya angkanya saja yang semakin bertambah. Maka berhati-hatilah dengan umur kita. Kita harus sekuat tenaga menggunakannya seoptimal mungkin agar hidup kita penuh dengan kebahagiaan dan bermanfaat.

Ketiga, umur adalah catatan hidup manusia.

Ingatlah, bahwa kita ini sedang menghitung hari. Berapa hari yang sudah digunakan untuk kebaikan amal shaleh, berapa hari yang tidak digunakan untuk amal shaleh. Sedangkan nanti diakhirat amal kita akan ditimbang. Seandainya, umur kita lebih banyak amal baiknya maka surgalah yang akan menjemput kita. Akan tetapi, jikalau amal jelek yang lebih berat maka neraka yang akan menjemputnya. Berusahalah sekuat tenaga agar hari demi hari diisi dengan amal shaleh.

Keempat, perbanyak istighfar.

Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan dosa. Karena, memang manusia itu diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berbuat baik atau berbuat jelek. Pada dasarnya semua manusia baik dan fitrah, namun setan yang terkutuk selalu menggangu dan menyeret manusia untuk menjadi temannya kelak diakhirat.

Tidak ada kata terlambat untuk kita memperbaiki diri dan bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup. Yang paling penting sekarang adalah tekad untuk memperbaiki diri. Sebelum ajal datang kita masih bisa mengawalinya sekarang juga.

Wallahu'alam...
(wag/042006)


Rabu, 08 April 2026

Wajah Asli di Balik Topeng



Ketika Filsuf Kristen Rusia Membongkar Fakta bahwa Salafi, Wahabi, Al-Qaeda & ISIS adalah Instrumen CIA dan Mossad

Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari seorang filsuf terkenal asal Rusia, Alexander Dugin. Bukan dari ulama Muslim, bukan dari pemimpin Arab, tapi dari seorang Kristen Ortodoks yang dengan berani membongkar kebohongan besar yang selama ini disembunyikan:

"Semua kelompok Salafi, Wahabi, Al-Qaeda & ISIS seluruh dunia adalah instrumen CIA & Mossad Israel. Ini bukan Islam. Mereka adalah Takfiri."

Ini bukan sekadar pendapat. Ini adalah pengakuan dari seorang pemikir global yang tidak memiliki kepentingan untuk berbohong. Ini adalah pembongkaran terhadap narasi palsu yang selama ini dibangun. Ini adalah kebenaran yang selama ini ditutup-tutupi oleh propaganda media global.

Selama ini kita disuguhi narasi bahwa kelompok-kelompok seperti Al-Qaeda dan ISIS adalah "musuh Barat", bahwa mereka adalah "ekstremis Islam" yang harus dilawan. Tapi Dugin membalik narasi itu. Ia mengatakan bahwa mereka adalah alat—instrumen yang sengaja diciptakan dan didanai oleh CIA dan Mossad untuk mencapai agenda tertentu.

SIAPA ALEXANDER DUGIN DAN MENGAPA PERNYATAANNYA PENTING?

Alexander Dugin adalah filsuf dan ahli geopolitik Rusia yang sangat dihormati. Ia adalah pemikir di balik konsep "Eurasianisme"—gagasan bahwa Rusia harus menjadi poros peradaban yang mandiri, tidak tunduk pada Barat. Ia adalah Kristen Ortodoks yang taat, yang melihat perang melawan hegemoni Amerika sebagai perang peradaban, bukan sekadar konflik politik.

Mengapa pernyataannya penting? Karena Dugin tidak memiliki kepentingan untuk membela atau menyerang kelompok-kelompok ini. Ia adalah pengamat dari luar yang melihat dengan jernih. Ia tidak terjebak dalam propaganda Barat yang menggambarkan kelompok-kelompok ini sebagai "musuh Islam". Ia melihat dari perspektif geopolitik yang lebih luas.

Pernyataan Dugin sangat jelas dan tegas:

"Semua kelompok Salafi, Wahabi, Al-Qaeda & ISIS seluruh dunia adalah instrumen CIA & Mossad Israel."

"Ini bukan Islam."
"Mereka adalah Takfiri."

Apa artinya? Dugin mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang mengaku sebagai "pejuang Islam" ini sebenarnya adalah alat yang diciptakan dan dikendalikan oleh intelijen Amerika dan Israel. Mereka bukan representasi Islam. Mereka adalah kelompok takfiri—kelompok yang mudah mengkafirkan sesama Muslim—yang sengaja diciptakan untuk memecah belah umat Islam dan menciptakan konflik internal.

MENGAPA DUGIN BERKATA DEMIKIAN?

Fakta Sejarah: Lahirnya Al-Qaeda dan ISIS

Mari kita lihat fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri:

Al-Qaeda lahir dari perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Amerika Serikat, melalui CIA, membiayai, melatih, dan mempersenjatai para mujahidin Afghanistan. Osama bin Laden adalah produk dari program ini. Ia dilatih, didanai, dan dibina oleh intelijen Amerika untuk melawan Uni Soviet.

Setelah Uni Soviet runtuh, apa yang terjadi? Al-Qaeda berubah menjadi "musuh" Amerika. Tapi pertanyaannya: apakah ini kebetulan? Atau ini adalah bagian dari skenario yang lebih besar?

ISIS lahir dari invasi Amerika ke Irak tahun 2003. Setelah Saddam Hussein digulingkan, Amerika membubarkan militer Irak. Ribuan perwira Sunni yang kehilangan pekerjaan dan harga diri kemudian bergabung dengan kelompok-kelompok radikal. Penjara-penjara yang dikelola Amerika di Irak menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin ISIS. Mereka dididik, diorganisir, dan dilepaskan.

Apakah ini kebetulan? Atau ini adalah desain yang disengaja?

Pola yang Berulang: Ciptakan Musuh, Lawan Musuh, Perpanjang Perang

Ada pola yang sangat jelas yang bisa kita lihat:

Langkah 1:
Ciptakan kelompok radikal. Gunakan kelompok ini untuk melawan musuh geopolitik (Uni Soviet, Suriah, Iran, dll). Danai, latih, dan persenjatai mereka.

Langkah 2:
Biarkan mereka menjadi ancaman. Ketika kelompok ini sudah cukup kuat, biarkan mereka melakukan kekejaman. Media akan memberitakan kekejaman itu dengan sensasional. Publik dunia akan marah.

Langkah 3:
Lawan mereka dengan dalih "perang melawan teror". Gunakan kekejaman mereka sebagai alasan untuk menginvasi negara-negara, menjatuhkan rezim, dan memperluas pengaruh.

Langkah 4:
Perpanjang perang. Selama perang masih berlangsung, selama kelompok radikal masih ada, selama itu pula kepentingan geopolitik Amerika dan Zionis terlayani.
Ini adalah siklus yang terus berulang. Dan kelompok-kelompok yang mengaku sebagai "pejuang Islam" adalah alat dalam siklus ini.

Mengapa Mereka Disebut "Takfiri"?

Dugin menyebut kelompok-kelompok ini sebagai "Takfiri" —sebutan untuk kelompok yang mudah mengkafirkan sesama Muslim. Mengapa ini penting?

Karena takfiri adalah senjata pemecah belah yang paling ampuh. Ketika kelompok-kelompok ini mengkafirkan Syiah, mengkafirkan Sufi, mengkafirkan Muslim yang berbeda pandangan, mereka sedang memecah belah umat Islam. Mereka sedang mengalihkan energi umat dari musuh sebenarnya—Zionis dan Amerika—ke konflik internal.

Siapa yang diuntungkan? Zionis. Amerika. Inggris. Mereka ingin umat Islam sibuk saling membenci, sibuk saling mengkafirkan, sibuk dengan perdebatan yang tidak pernah selesai. Sementara itu, mereka leluasa menjajah Palestina, merampas tanah, dan menodai Al-Aqsa.

KENAPA KELOMPOK INI MASIH "MALU-MALU" MENYATAKAN PRO-ISRAEL?

Ironi yang Tidak Bisa Ditutup-tutupi.

Ada ironi yang sangat menarik. Kelompok-kelompok ini sangat vokal dalam mengkafirkan Syiah, sangat vokal dalam menyerang Sufi, sangat vokal dalam mengharamkan praktik-praktik yang dianggap bid'ah. Tapi mereka sangat diam ketika berbicara tentang Israel.
Mengapa? Karena mereka adalah alat. Mereka tidak bisa menyerang tuannya. Mereka tidak bisa mengkritik yang membiayai mereka. Mereka tidak bisa melawan yang melindungi mereka.

Mereka "malu-malu" menyatakan pro-Israel. Tapi tindakan mereka berbicara lebih keras. Mereka diam ketika Gaza dibantai. Mereka diam ketika Al-Aqsa dinodai. Mereka diam ketika 10.000 tawanan Palestina akan dieksekusi. Mereka justru sibuk membenci Iran yang membela Palestina.

Kontras dengan Poros Perlawanan

Bandingkan dengan poros perlawanan yang dipimpin Iran:

Poros perlawanan tidak sibuk mengkafirkan sesama Muslim. Mereka tidak sibuk dengan perbedaan mazhab. Mereka fokus pada musuh sebenarnya: Zionis dan Amerika. Mereka mengirim senjata ke Palestina. Mereka menutup Selat Hormuz. Mereka menembak jatuh F-35. Mereka berani mati demi membela kebenaran.

Kelompok takfiri sibuk dengan perbedaan internal. Mereka mengkafirkan Syiah. Mereka mengkafirkan Sufi. Mereka membunuh sesama Muslim. Mereka menjadi alat bagi musuh untuk memecah belah umat. Mereka adalah duri dalam daging umat Islam.

ANALOGI MEMBACA FENOMENA DENGAN MATA HATI

Analogi Serigala Berbulu Domba

Kelompok-kelompok takfiri ini adalah serigala berbulu domba. Mereka mengaku sebagai pejuang Islam. Mereka memakai jubah dan sorban. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat agama. Tapi di balik itu, mereka adalah alat musuh.

Serigala tidak akan pernah menjadi domba. Mereka hanya menyamar. Dan ketika kita lengah, mereka akan menerkam. Mereka akan memecah belah kita. Mereka akan mengkafirkan kita. Mereka akan membunuh kita.

Inilah yang dilakukan oleh Al-Qaeda, ISIS, dan kelompok-kelompok takfiri lainnya. Mereka membunuh lebih banyak Muslim daripada non-Muslim. Mereka menghancurkan lebih banyak masjid dan rumah ibadah Muslim daripada sinagog atau gereja. Mereka adalah musuh dalam selimut.

Analogi Tangan yang Menusuk dari Dalam

Bayangkan tubuh yang sehat. Ia kuat, ia kokoh, ia tidak mudah diserang dari luar. Tapi jika ada tangan yang menusuk dari dalam, tubuh itu akan lemah. Ia akan sakit. Ia akan mudah dikalahkan.

Kelompok takfiri adalah tangan yang menusuk dari dalam. Mereka adalah penyakit yang sengaja disuntikkan ke dalam tubuh umat Islam. Mereka adalah racun yang membuat kita lemah, terpecah, dan tidak berdaya.

Siapa yang menyuntikkan racun ini? CIA dan Mossad. Mereka yang menciptakan, mendanai, dan mengendalikan kelompok-kelompok ini. Mereka yang ingin umat Islam hancur dari dalam.

Analogi Api yang Dinyalakan untuk Membakar Rumah Sendiri.

Kelompok takfiri adalah api yang dinyalakan untuk membakar rumah sendiri. Mereka membakar masjid, membakar sekolah, membakar rumah sakit. Mereka membantai saudara-saudara mereka sendiri.

Siapa yang menyalakan api ini? Musuh. Mereka yang ingin rumah kita hancur. Mereka yang ingin kita sibuk memadamkan api, sehingga lupa pada pencuri yang sedang merampok harta kita.

Sementara kita sibuk memadamkan api, Zionis terus menjajah Palestina. Sementara kita sibuk berperang melawan kelompok takfiri, Amerika terus menguasai Timur Tengah. Sementara kita sibuk dengan perbedaan mazhab, Al-Aqsa terus dinodai.

OBSERVASI APA YANG KITA LIHAT DI LAPANGAN?

Kelompok Takfiri dan Israel: Hubungan yang Aneh

Mari kita observasi dengan jujur. Kelompok takfiri seperti ISIS dan Al-Qaeda sangat jarang menyerang Israel. Mereka sangat jarang menyerang kepentingan Zionis. Mereka justru fokus menyerang Syiah di Irak, di Suriah, di Lebanon. Mereka justru fokus menyerang Sufi di Libya, di Mesir, di Somalia.

Mengapa? Karena mereka tidak diperintahkan untuk menyerang Israel. Mereka diperintahkan untuk memecah belah umat Islam. Mereka diperintahkan untuk melemahkan poros perlawanan. Mereka diperintahkan untuk menjadi alat bagi musuh.

Ini bukan spekulasi. Ini adalah fakta yang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri. Selama bertahun-tahun, Israel hampir tidak pernah menjadi target serangan kelompok takfiri. Padahal Israel adalah musuh utama umat Islam. Padahal Israel adalah penjajah yang membantai saudara-saudara kita.

Kelompok Takfiri dan Amerika: Hubungan yang Tidak Mungkin

Bagaimana mungkin kelompok yang mengaku sebagai "pejuang Islam" tidak pernah menyerang Amerika secara signifikan? Serangan 9/11 adalah pengecualian, tapi itu pun digunakan sebagai alasan untuk invasi ke Afghanistan dan Irak—dua negara yang justru menjadi korban agresi Amerika.

Apakah 9/11 adalah operasi bendera palsu? Banyak analis mengatakan demikian. Tapi yang jelas, setelah 9/11, Amerika justru semakin kuat di Timur Tengah. Mereka menginvasi Afghanistan. Mereka menginvasi Irak. Mereka menjatuhkan rezim-rezim yang tidak tunduk pada mereka. Mereka memperluas pengaruh.

Siapa yang diuntungkan? Amerika. Siapa yang dirugikan? Umat Islam. Dan kelompok takfiri menjadi alat yang sempurna untuk mencapai semua itu.

MARI KITA BANDINGKAN DENGAN POROS PERLAWANAN

Perbandingan ini sangat jelas. Poros perlawanan adalah kekuatan yang benar-benar membela Islam..

Kelompok takfiri adalah alat yang diciptakan untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Mengapa Kelompok Takfiri Dibenci oleh Poros Perlawanan?

Poros perlawanan, terutama Iran, adalah musuh utama kelompok takfiri. Mengapa? Karena Iran adalah penghalang terbesar bagi agenda mereka. Iran tidak terpecah belah. Iran tidak mengkafirkan sesama Muslim. Iran fokus pada musuh sebenarnya: Zionis dan Amerika.
Kelompok takfiri membenci Iran karena Iran tidak bisa mereka kendalikan. Iran tidak bisa mereka adu domba. Iran tidak bisa mereka pecah belah. Iran justru menjadi contoh bagi umat Islam tentang bagaimana bersatu melawan musuh.

Inilah mengapa kelompok takfiri sangat vokal dalam menyerang Iran. Mereka diperintahkan untuk melakukannya. Mereka dibiayai untuk melakukannya. Mereka adalah alat untuk memecah belah umat Islam yang sudah mulai bersatu di bawah poros perlawanan.

KATEGORISASI MENGELOMPOKKAN KELOMPOK TAKFIRI

Berdasarkan Sumber Pendanaan

Kelompok yang didanai CIA dan Mossad:
* Al-Qaeda dan afiliasinya.
* ISIS dan afiliasinya.
* Kelompok-kelompok takfiri di Suriah, Irak, Yaman, Libya, Somalia, dan lainnya

Kelompok yang tidak didanai oleh mereka:
* Poros perlawanan (Iran, Hizbullah, Houthi, Hamas).
* Kelompok-kelompok perlawanan Palestina lainnya.
* Kelompok-kelompok yang fokus pada perlawanan terhadap Zionis.

Berdasarkan Target Serangan:
Kelompok yang fokus menyerang sesama Muslim:
* ISIS
* Al-Qaeda
* Kelompok takfiri lainnya.

Kelompok yang fokus menyerang Zionis dan Amerika:
* Hamas
* Hizbullah
* Houthi
* Milisi perlawanan Irak dan Suriah.

Berdasarkan Sikap terhadap Israel

Kelompok yang diam atau bahkan membantu Israel:
* Kelompok takfiri.
* Negara-negara Teluk yang menormalisasi hubungan dengan Israel

Kelompok yang melawan Israel:
* Poros perlawanan
* Palestina
* Iran.

APA YANG SEBENARNYA TERJADI?

Kelompok Takfiri Adalah Alat

Dari semua analisis di atas, satu inferensi yang sangat jelas: kelompok takfiri adalah alat yang diciptakan, didanai, dan dikendalikan oleh CIA dan Mossad. Mereka bukan pejuang Islam. Mereka adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah racun yang disuntikkan ke dalam tubuh umat Islam.

Tujuan mereka: Memecah belah umat Islam, mengalihkan energi dari musuh sebenarnya, menciptakan konflik internal, dan melanggengkan hegemoni Barat di Timur Tengah.

Mereka Bukan Representasi Islam

Dugin dengan tegas mengatakan: "Ini bukan Islam." Dan ini adalah kebenaran yang harus kita pegang. Kelompok takfiri tidak mewakili Islam. Mereka tidak mewakili Muslim. Mereka adalah penyimpangan. Mereka adalah penyakit. Mereka adalah alat musuh.

Islam adalah agama rahmat. Islam adalah agama persatuan. Islam adalah agama yang mengajarkan untuk membela yang tertindas, melawan kezaliman, dan tidak mengkafirkan sesama Muslim.

Kelompok takfiri adalah kebalikan dari semua itu. Mereka adalah agama kebencian, agama perpecahan, agama yang mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim. Mereka bukan Islam.

KRITIKAN TAJAM MENGGUGAT YANG TERUS DIAM

Kritikan untuk yang Masih Membela Kelompok Takfiri

Saya akan melontarkan kritikan yang sangat tajam:
Kalian masih sibuk membela kelompok takfiri? Kalian masih menganggap mereka sebagai "pejuang Islam"? Kalian masih mengklaim bahwa mereka adalah "garis terdepan" dalam melawan musuh?

Sadarlah! Mereka adalah alat musuh. Mereka diciptakan oleh CIA. Mereka didanai oleh Mossad. Mereka adalah duri dalam daging umat Islam. Mereka adalah racun yang membuat kita lemah dan terpecah.

Kalian sibuk membenci Iran. Tapi Iran adalah satu-satunya yang benar-benar berjuang melawan Zionis. Kalian sibuk mengkafirkan Syiah. Tapi Syiah adalah satu-satunya yang mengirim senjata ke Palestina. Kalian sibuk dengan perbedaan mazhab. Tapi musuh kita adalah Zionis, bukan saudara kita yang berbeda mazhab..

Kritikan untuk yang Masih Diam

Kritikan ini juga untuk kita yang diam:
Kita melihat kelompok takfiri memecah belah umat. Kita melihat mereka membunuh sesama Muslim. Kita melihat mereka menjadi alat musuh. Tapi kita diam. Kita tidak bersuara. Kita tidak melawan.

Kita juga bagian dari masalah. Dengan diam, kita membiarkan racun ini terus menyebar. Dengan tidak melawan, kita membiarkan musuh terus memecah belah kita. Dengan tidak bersuara, kita membiarkan mereka yang mengaku Islam tapi menjadi alat penjajah.
Sudah saatnya kita bersuara. Sudah saatnya kita melawan. Sudah saatnya kita membongkar kebohongan bahwa kelompok takfiri adalah "pejuang Islam". Sudah saatnya kita bergabung dengan poros perlawanan yang benar-benar berjuang.

Kritikan untuk yang Masih Terjebak Propaganda

Saya juga mengkritik mereka yang masih terjebak propaganda:

Kalian percaya bahwa kelompok takfiri adalah "ekstremis Islam" yang harus dilawan. Tapi kalian tidak bertanya: siapa yang menciptakan mereka? Siapa yang mendanai mereka? Siapa yang diuntungkan dari kekejaman mereka?

Kalian percaya bahwa Iran adalah "musuh". Tapi kalian tidak bertanya: siapa yang membela Palestina? Siapa yang mengirim senjata ke Gaza? Siapa yang berani menantang Amerika dan Zionis?

Kalian adalah korban propaganda. Kalian adalah korban dari narasi palsu yang dibangun oleh CIA dan Mossad. Kalian adalah korban dari kelompok takfiri yang sengaja diciptakan untuk memecah belah kita.

Sudah saatnya kalian membuka mata. Sudah saatnya kalian melihat fakta. Sudah saatnya kalian bergabung dengan barisan yang benar.

PENUTUP: KELUAR DARI PERANGKAP PROPAGANDA

Kita menutup catatan ini dengan pesan dari Alexander Dugin:
"Semua kelompok Salafi, Wahabi, Al-Qaeda & ISIS seluruh dunia adalah instrumen CIA & Mossad Israel. Ini bukan Islam. Mereka adalah Takfiri."

Ini adalah kebenaran yang harus kita sebarkan. Ini adalah fakta yang harus kita sadari. Ini adalah peringatan yang harus kita dengarkan.

Kelompok takfiri bukan pejuang Islam. Mereka adalah alat musuh. Mereka diciptakan untuk memecah belah umat Islam. Mereka didanai untuk mengalihkan energi dari musuh sebenarnya. Mereka dikendalikan untuk melanggengkan hegemoni Barat.
Jangan terjebak. Jangan biarkan mereka memecah belah kita. Jangan biarkan mereka mengkafirkan sesama Muslim. Jangan biarkan mereka menjadi duri dalam daging umat Islam.

Fokuslah pada musuh sebenarnya. Zionis adalah musuh. Amerika adalah musuh. Inggris adalah musuh. Bukan Syiah. Bukan Sunni. Bukan saudara kita yang berbeda mazhab.
Bersatulah. Bersama poros perlawanan. Bersama Iran, Hizbullah, Houthi, Hamas. Bersama mereka yang benar-benar berjuang. Bersama mereka yang tidak pernah diam.

Karena hanya dengan persatuan, kita bisa menang. Hanya dengan persatuan, kita bisa membebaskan Palestina. Hanya dengan persatuan, kita bisa meraih kemenangan yang dijanjikan Allah.

Catatan Tintah untuk Pejuang Kebenaran
Palestina Post, 2 April 2026

#AlexanderDugin
#KelompokTakfiriAlatCIA
#WahabiSalafiProIsrael
#IniBukanIslam
#PorosPerlawanan
#ElamHidup
#PalestinaMerdeka

Pεntingnyα Mεmbαcα Sεtiαp Hαri: MΕRΑWΑT PIKIRAN DΑN MΕNGASAH JIWA

Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα, Pεrnαhkαh kitα mεmbαcα sεbuαh buku, lαlu mεrαsα bαhwα kitα sεdαng mεmbukα diri kitα sεndiri? Di bαlik hαlαmαn-hαlα...