Jumat, 29 Mei 2026

Bahaya Salafi-Wahabi Sekte Teroris: PEMBERONTAK & MENGHALALKAN DARAH KAUM MUSLIM


Wahabisme adalah paham "KEAGAMAAN" sekaligus gerakan "POLITIK" hasil perjanjian PAKTA DIR'IYAH thn 1744 antara Muhammad bin Abdul Wahhab & Ibnu Saud yang menghasilkan berdirinya negara Arab Saudi.

Pembantaian Karbala di Irak thn 1802 Ibnu Saud bin Abdulaziz bersama pasukan Wahabi membantai 5.000 penduduk sipil Syiah, menjarah harta benda penduduk & menghancurkan makam Husein bin Ali.

Pemberontakan pertama thn 1803 Ibn Saud bersama tentara Ikhwan Wahabi merebut Makkah & Madinah dgn melakukan pembantaian thdp penduduk sipil serta menghancurkan makam-makam & situs-situs sejarah.

Tujuan utama menguasai kota suci Makkah adalah utk menyebarkan faham Wahabisme.

Pemberontakan kedua thn 1924 Ibn Saud kembali merebut Makkah & melakukan pembantaian thdp kaum Sunni, Syiah, Sufi, Salaf, Ahlusunnah di kota Thaif.
(Catatan sejarah peristiwa ini di "AKUI" oleh sejarawan Utsmaniyah & barat, serta di sebutkan dlm dokumen² sejarah Wahabi sendiri)

Ingat & Catat

Wahabisme melahirkan kelompok teroris AL-QAEDA thn 1988 mengusung ideologi SALAFI-WAHABI Jihadi Ekstrimis.

"OSAMA BIN LADEN" jutawan asli ARAB SAUDI adalah Pendiri & Emir Jendral pertama AL-QAEDA lulusan Universitas KING ABDUL AZIZ (Jeddah).
Basis Ideologi : Salafisme Jihadis doktrin Wahabi.

Sel-Sel Pecahan Teroris AL-QAEDA 

Boko Haram berdiri thn 2002 misi menggulingkan pemerintahan Nigeria.
Al-Shabaab di Somalia & Afrika Timur berdiri thn 2006 misi menggulingkan pemerintahan Somalia.

Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP) di Yaman & Arab Saudi berdiri thn 2009 misi menggulingkan pemerintahan Yaman & Arab Saudi.

Jabhat al-Nusra berdiri thn 2011 di pimpin Abu Muhammad al-Julani misi menggulingkan pemerintahan Suriah.

Membantai 46 orang kristen termasuk wanita & anak² yang di masukan ke dalam sumur di kota Sadad, menurut laporan Uskup Agung Ortodoks Suriah Boutros Selwanos Alnemeh.

(Kelompok ini yg bertanggung jawab atas bom bunuh diri yg menewaskan Ulama Sunni Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi thn 2013 di dlm Masjid).

Thn 2016 berganti nama jadi Jabhat Fatah al-Sham.

Thn 2017 bergabung jadi Hayat Tahrir al-Sham & berhasil menggulingkan pemerintahan Suriah.

Hayat Tahrir al-Sham : milisi Wahabi-Salafi yang sebelumnya berafiliasi dengan al-Qaeda, misi menggulingkan rezim Assad & menargetkan komunitas Syiah Alawi menewaskan 1.000 org, melakukan kekerasan di wilayah Latakia, Jableh & Tartous pada 2025.

Siapa Abu Muhammad al-Julani (Ahmed Hussein al-Sharaa) presiden Suriah sekarang?
Ia pemimpin Jabhat al-Nusra, Jabhat Fateh al-Sham & Hayat Tahrir al-Sham yang menghabiskan 5 thn di penjara Amerika.

Al-Julani dikirim oleh ISIS di Irak awal pemberontakan Suriah 2011 utk membentuk cabang Al-Qaeda Jabhat al-Nusra.

ISIS evolusi dari Al-Qaeda Irak berdiri thn 2013 oleh Abu Bakar al-Baghdadi yg menggabungkan kelompoknya dgn Jabhat al-Nusra di Suriah.

Awalnya bernama Jama'at al-Tawhid wal-Jihad didirikan thn 1999 oleh Abu Musab al-Zarqawi yang kemudian berjanji setia kpd Al-Qaeda.

ISIS mengadopsi ideologi Jihadi-Salafi

Al-Qaeda in the Indian Subcontinent (AQIS) berdiri thn 2014 di Asia Selatan targetnya Bangladesh, India & Myanmar.

Beberapa Daftar Teror Serangan Bom Wahabi-Salafi :

Thn 2003 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di komplek perumahan Ridayh menewaskan 39 orang.

Thn 2004 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Riyadh menewaskan 4 org warga sipil & melukai 178 org.

Serangan di Khobar menewaskan 22 orang & melukai 25 orang.
Thn 2009 serangan bom bunuh diri menewaskan 70 orang di Irak.
Bom bunuh diri di Baghdad menewaskan 153 orang.

Thn 2010 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Irak menewaskan 43 orang.

Thn 2011 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda terhadap peziarah Syiah menewaskan 27 orang di Irak dll.

Thn 2012 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Sana'a Yaman menewaskan 98 orang.

Thn 2012 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Damaskus Suriah menewaskan 55 orang.

Bom bunuh diri di persimpangan jalan menewaskan 25 orang.

Al-Qaeda juga menargetkan Masjid² di Damaskus.

Thn 2014 serangan bom bunuh diri Abu Hurairah al-Amriki warga Amerika di Idlib.
Thn 2016 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Tartus & Jableh menewaskan lbh dr 100 orang.

Thn 2016 serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Aden Yaman menewaskan 60 orang.

Serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di Somalia & masih byk lagi.

Doktrin Salafi-Wahabi menganggap Umat Islam di luar kelompoknya Bid'ah, Khurafat, Sesat, Syirik, Subhat, Kafir & halal darahnya dgn melakukan pembantaian, teror bom bunuh diri & menghalalkan memberontak terhadap pemerintah yang sah.

Salafi-Wahabi adalah sekte KHAWARIJ yang terang²an melakukan pemberontakan & terlibat kekacauan serta huru hara di Irak thn 2003, Libya thn 2011, Suriah thn 2011, Yaman thn 2015, dengan misi menggulingkan pemerintahan yang mengakibatkan perang saudara, banyaknya kematian, kekacauan, ketakutan, kerusakan & teror di tengah masyarakat.

Coba perhatikan budak jongos Wahabi-Salafi antek Amerika Israel karena gak mampu membantah dgn bukti data pasti bakal emosi, marah², kejang² nuduh Syiah, nuduh Kafir, nuduh ahli Bid'ah dll serta mengingkari pelakunya bukan sekte Wahabi-Salafi karena malu dengen aliran Khawarijnya.

Doktrin Wahabi-Salafi tidak pernah salah, jika salah maka kembali ke awal Wahabi-Salafi ngotot tdk pernah salah

Dari Ibnu 'Abbas, iya berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah". (HR. Bukhari 7053 dan Muslim 1849).
(Dirangkum dr berbagai sumber fakta sejarah/group/fb/5-2026).

Rabu, 27 Mei 2026

Hakikat Ibadah Qurban



IDUL Adha adalah salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Ia bukan sekadar hari raya dengan ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi sebuah jalan spiritual menuju kedekatan hakiki dengan Allah Swt. Dalam tradisi tasawuf dan pemikiran Islam, ibadah kurban dapat dimaknai melalui empat lapisan keagamaan: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Makna dan Defi
nisi Kurba

Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba–yaqrabu–qurbanan, yang berarti ‘dekat’. Kurban dalam Islam adalah ibadah menyembelih hewan ternak pada hari-hari tasyrik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun dalam dimensi spiritual, kurban adalah tanda kepatuhan total, pengorbanan ego (sifat binatang) dan hawa nafsu, serta wujud ketaatan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Hakikat Berkurban

Hakikat kurban sejatinya tidak berhenti pada prosesi menyembelih binatang seperti unta, sapi, atau kambing, melainkan pada penyembelihan sifat-sifat hewani yang bersemayam dalam diri manusia. 

Ibadah kurban adalah simbol pengorbanan yang paling dalam, yaitu pengorbanan diri, ego, dan hawa nafsu. Seperti dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, manusia tidak hanya memiliki jasad, tetapi juga membawa dalam dirinya kecenderungan sifat-sifat binatang yang harus dikendalikan dan bahkan ‘disembelih’.

Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa dalam jiwa manusia terdapat tiga kecenderungan destruktif yang menyerupai karakter binatang. Amarah seperti singa, yang mewakili sifat pemarah, angkuh, ingin menguasai, dan menindas. Manusia yang dikuasai amarah akan merasa superior, meremehkan yang lain, dan enggan tunduk pada kebenaran.

Syahwat seperti babi, melambangkan kerakusan, birahi yang tak terkendali, dan cinta dunia yang membutakan. Nafsu syahwat menjadikan manusia hamba kenikmatan dan kesenangan sesaat, menjauhkan dari kebeningan ruhani.

Tipu daya seperti srigala, mencerminkan kelicikan, manipulasi, dan pengkhianatan. Sifat ini membuat manusia pandai menipu demi kepentingan pribadi, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan duniawi.

Sifat-sifat ini, menurut Al-Ghazali, adalah penyakit hati yang menjadi penghalang utama antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu, hakikat kurban adalah menyembelih bukan hanya hewan di hadapan manusia, tetapi juga menyembelih sifat-sifat buruk itu di hadapan Allah dengan kesadaran, tobat, dan perjuangan jiwa.

Inilah makna terdalam dari firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Terjemahnya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)

Allah tidak butuh simbol lahiriah dari darah dan daging hewan kurban. Yang diminta oleh Allah adalah ketakwaan yang tersembunyi dalam hati, ketulusan niat, kesungguhan dalam mendekat kepada-Nya, dan keikhlasan dalam meninggalkan segala bentuk ‘penyembahan’ terhadap diri sendiri dan dunia.

Oleh sebab itu, hakikat berkurban yang sejati adalah ketika seseorang berhasil menyembelih sifat amarah dengan sabar, menyembelih syahwat dengan zuhud dan iffah, serta menyembelih tipu daya dengan kejujuran dan amanah. 

Maka dari proses inilah, lahir sifat-sifat mulia, rahmah (kasih) rahim (sayang), ikhlas (kemurnian niat), dan takwa (kesadaran akan Allah) yang menjadikan manusia layak disebut hamba Allah yang memenangkan Allah Swt, bukan memenangkan hawa, nafsu, dunia setan.

Tarekat itu Jalan Simbolik menuju Allah Dalam pendekatan tarekat (jalan spiritual), hewan-hewan kurban memiliki makna simbolik yang mewakili jenis-jenis nafsu yang harus ditundukkan. Unta melambangkan kesombongan dan ego besar. Menyembelih unta berarti meruntuhkan keakuan, ana, yang menjadi hijab antara hamba dan Tuhannya.

Sapi melambangkan kerakusan terhadap dunia. Menyembelih sapi berarti membunuh cinta berlebihan pada materi. Kambing melambangkan syahwat dan keinginan rendah. Menyembelih kambing berarti menyucikan diri dari dorongan syahwat yang menjerumuskan.

Bagi seorang salik (penempuh jalan Allah), berkurban bukan hanya ritual, tetapi tindakan simbolik dan konkrit untuk mematikan nafsu demi menghidupkan jiwa.

Syariat Kurban Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Tuntunan


Dalam dimensi syariat, kurban dilakukan dengan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW. Niat yang ikhlas, menyembelih pada waktunya, menyebut nama Allah, dan memperlakukan hewan dengan penuh kasih dan sayang.

Namun sering kali, ibadah kurban berubah menjadi tontonan sosial ajang pamer kekayaan, foto-foto, atau sekadar formalitas. Padahal, syariat adalah jalan menuju kedalaman, bukan tujuan akhir. Bila hanya berhenti pada aspek luar, kita yang berkurban akan kehilangan makna sejatinya.

Syariat adalah penting, karena dari situlah kita memulai. Namun, ia harus mengantar kepada penghayatan ruhani, bukan berhenti pada gerakan fisik.

Mari menyatukan empat dimensi ibadah kurban sebagaimana Syariat itu menyembelih hewan kurban sesuai hukum. Tarekat itu menapaki jalan spiritual dengan makna simbolik menuju Allah. 

Hakikat itu menyembelih hawa nafsu dan sifat tercela dalam diri. Makrifat itu merasakan kehadiran Allah dalam setiap pengorbanan, hingga mencapai kedekatan sejati dengan-Nya.

Maka, mari kita sambut Idul Adha bukan hanya dengan menyembelih hewan, tapi juga dengan menyembelih ego dan nafsu kita. Semoga kurban yang kita lakukan menjadi jembatan menuju ketakwaan dan makrifatullah.
(Oleh: Muhammad Asriady/Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone)


Tasawuf Qurban Arrafie Abduh




Oleh: Prof. DR. M. Arrafie Abduh, Guru Besar Tasawuf di Prodi Ilmu Akidah Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau

Ibrahim Hajar Ismail bijakbestari
Tauladan Idul Adha Khalilullahi
Berkorban dengan takwa dan suci
Hidup diberkahi dan diridhai Ilahi


Dalam ajaran tasawuf/sufisme diformulasikan empat tingkat untuk menjadi seorang yang takwa yaitu melalui syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat. 

Tasawuf adalah penjabaran secara nalar (nazhar, teori ilmiah) tentang apa sebenarnya dan penjabaran tentang takwa itu dikaitkan dengan ihsan seperti disebutkan dalam Hadis Rasulullah Saw bahwa ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau harus menyadari bahwa) dia melihat engkau (HR Muslim). 

Hadis ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Surah al-Hijr/55 ayat 99, artinya; Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan. Oleh karena itu, sufisme menanamkan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup dan Inni qarib, Aku kata Tuhan sangat dekat (al-Baqarah/2 ayat 185), dan Dia selalu mengawasi segala tingkah laku kita, firman Allah, Ke mana pun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Tuhan (QS Al-Baqarah/2 ayat 115). Dia beserta kamu di mana pun kamu berada dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadad/57 ayat 4).

Dalam salah satu bait syair sufi Hamzah Fansuri dijelaskan: Jika terdengar olehmu firman. Pada Taurat Injil Zabr dan Furqon. Wa Huwa ma’akum aynama kuntum pada ayat Qur`an. Bikulli syay`in muhith maknanya ‘iyan. (AHadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, 1995, hal: 121).

‘Iyan artinya jelas.

Dari aspek ini tampak jelas betapa eratnya rasa rabbaniyyah (Ketuhanan), takwa, ihsan atau religiusitas dengan rasa insaniyyah (kemanusiaan), amal saleh, akhlak, budi pekerti atau tingkah laku etis dalam kajian sufisme. 

Juga sangat jelas kaitan antara sisi lahir dan sisi batin, antara eksoterisme dan esoterisme, antara fikih (syari’at) dan sufisme (hakikat dan makrifat) dalam makna tasawuf qurban (korban dalam bahasa Indonesia), bukan kurban tasawuf.

Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME dalam sosiologi agama dikenal paling kurang ada tiga cara pengorbanan yaitu monoteisme etis, sacramental dan sacrificial. Islam disebut sebagai agama monoteisme etis yaitu agama yang mengajarkan tentang tauhid dan taqarrub (pendekatan kepada Allah Swt melalui amal saleh). 

Adapun agama sacramental yang mengajarkan keselamatan diperoleh seseorang hanya dengan mengikuti ritual suci, sedangkan agama sacrificial (sesajen) mengajarkan pendekatan kepada Tuhan melalui sajian-sajian, pengorbanan binatang atau bahkan manusia.

Dalam kaitan ini, ajaran agama Islam melakukan kurban (sacrifice dalam bahasa Inggris dan xisheng dalam bahasa Mandarin, FLTRP.Collins, English-Chinese and Chinese-English Dictionary, 2011, hal: 434), tindakan mendekatkan diri kepada Allah Swt, pada Hari Raya ‘Idul Adha tidak dapat disebut sebagai sacrificial (sesajen), karena paling kurang ada tujuh hal. 

Pertama, amalan kurban itu adalah untuk memperingati dan mencontoh ketulusan peran sebuah keluarga yang sakinah (mawaddah dan rahmah) yaitu Nabi Ibrahim dan Isma’il serta isteri Nabi Ibrahim Siti Hajar yang setia dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.

Kedua, Kitab Suci Alquran menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging atau darah binatang korban itu, melainkan takwa dari orang yang melakukannya. Dijelaskan dalam Kitab Suci surah al-Hajj/22 ayat 37, artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Ketiga, takwa yang dicapai melalui ibadah korban itu akan melahirkan insan yang mempunyai kesadaran intensif tentang apa yang akan menjadi akibat bagi segala aktivitas dan amal perbuatannya jauh di belakang hari kelak dan yang kemudian menjalankan tindakan dan amal perbuatan itu dengan penuh tanggungjawab moral (akhlak) kepada Allah Swt, kepada insan dan lingkungannya.

Keempat, bahwa penyelenggaraan kurban itu adalah untuk menanamkan pendidikan sosial berupa perhatian yang lebih besar kepada kaum fakir miskin dengan membagikan sebagian daging korban itu untuk mereka. Dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran Surah al-Hajj/22 ayat 36. Itulah ruh yang terkandung dalam tasauf kurban.

Kelima, bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jerih payah sendiri untuk meraih kesuksesan adalah hakekat hidup yang bermakna. Sementara itu, pengorbanan adalah tuntutan perjuangan yang tak mungkin terelakkan. Keduanya harus dibarengi dengan sikap lapang dada, sabar dan tahan menderita demi mencapai cita-cita yang mulia. Hanya pandangan hidup demikianlah yang akan memberi kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis, agama adalah sistem simbol (lambang). Di balik lambang (simbol) itu terdapat hikmah yang lebih intensif dan prinsipil, seperti ibadah kurban ini. Berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan yang jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara dan kemewahan duniawi yang menipu, kemudian melupakan kebahagiaan dan kehidupan abadi (eternal life). 

Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda, artinya; Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak berkorban dan bermujahadah). (HR Tirmidzi). Inilah inti tasawuf korban.

Ketujuh, mukmin yang istiqomah (konsisten) sungguh pantang jika sedang menderita (mendapat cobaan dari Allah dengan kesusahan), lalu meratapi nasib dan menyesali perjalanan hidup ini, kemudian kehilangan gairah dalam hidup. Karena pada hakekatnya tidak seorang pun di antara manusia yang pernah benar-benar terlepas dan terbebas dari pengalaman hidup yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan. Justru kita harus menerima penderitaan itu dengan sabar menanggungnya. Kemudian dijadikan cambuk, malah modal dan motivasi untuk berjuang, berupaya sungguh-sungguh dan bermujahadah dengan menanamkan semangat berkurban.

Dengan semangat pengorbanan yang tinggi (seperti tauladan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar yang telah mencapai maqam (station) makrifat dalam sufisme kurban) kita mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dengan rida-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan hakiki. 

Semangat berkorban inilah salah satu faktor, di samping salat khusyuk dan puasa yang disebut sebagai virus mental (need for achievement yang disingkat dengan n-Ach, artinya kebutuhan untuk berprestasi yang digagas oleh psikolog, David Mc Clelland dari Universitas Harvard, dalam TM Sulaiman, Mencapai Prestasi Tinggi oleh dan bagi Umat Islam Zaman Teknologi Modern, hlm: 22) untuk meningkatkan kualitas mukmin dan mukmin yang berkualitas (istiqomah) mampu memicu kemajuan umat dalam ilmu pengetahuan serta bidang iqtishadi(economy) dan pendidikan khususnya. Aamiin.

Selasa, 26 Mei 2026

Mεmbuαt Hidup Jαdi Lεbih Sεmαngαt: DI HΑTILΑH BΕRSΕMINYΑ KΕTΕNΑNGΑN BΑTIN



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Hαti αdαlαh tεmpαt bεrkumpulnyα pεrαsααn sεpεrti sifαt pεmααf, pεnyαyαng dαn pεmurαh, αtαu sifαt pεmbεnci, pεndεndαm dαn pεmαrαh. Di hαtilαh bεrsεminyα kεtεnαngαn bαtin, kεdαmαiαn, kεbαhαgiααn, dαn kαsih sαyαng. Nαmun hαti mαnusiα dαpαt mεnjαdi jαlαn kεtαkwααn dαn jugα mεnjαdi jαlαn kεfαsikαn.

Dinαmαkαn hαti, hεαrt, αtαu qαlbu, kαrεnα mεmαng mεmiliki αrti "bolαk-bαlik." Kαdαng-kαdαng bαik, kαdαng-kαdαng buruk. Pαdα suαtu sααt iα mεrαsα sεnαng dαn punyα sεmαngαt, di sααt lαin iα mεrαsα sεdih dαn mαlαs. Hαti mεmαng cεndεrung tidαk konsistεn. Suαtu sααt iα mαu mεnεrimα, di sααt lαin iα mεnolαknyα. Nαmun tidαk bεrαrti bαhwα hαti itu jεlεk, itu tεrgαntung dαri hαsil pεrαwαtαnnyα.

Rαsulullαh ﷺ bεrsαbdα, "Sεsungguhnyα di dαlαm tubuh αdα sεgumpαl dαging. Jikα sεgumpαl dαging tεrsεbut bαik mαkα αkαn bαik pulαlαh sεluruh tubuhnyα. Adαpun jikα sεgumpαl dαging tεrsεbut rusαk, mαkα αkαn rusαk pulαlαh sεluruh tubuhnyα. Kεtαhuilαh, sεgumpαl dαging tεrsεbut αdαlαh hαti."
(HR. Bukhαri Nomor 50 dαn Muslim Nomor 2996).

Mεnurut pαndαngαn Imαm Ibnul Qαyyim Al-Jαuziyyαh dαlαm Ighαtsαtul Lαhαfαn, αdα tigα golongαn hαti mαnusiα, yαitu: hαti yαng sεhαt (qαlbun sαlim), hαti yαng sαkit (qαlbun mαridh), dαn hαti yαng mαti (qαlbun mαyyit).

Hαti yαng sεhαt αdαlαh hαti yαng bεrsih dαri syirik, iri, dεngki, sombong, dαn sεgαlα pεnyαkit bαtin. Ciri utαmαnyα: mαu mεnyεsαli dosα dαn kεsαlαhαnnyα, lαngsung kεmbαli kεpαdα Allαh. Tεnαng dεngαn dzikir dαn kεtααtαn. Lεmbut tεrhαdαp sεsαmα, tidαk kεrαs kεpαlα, mαu mεndεngαrkαn nαsihαt, dαn mudαh tεrsεntuh kεbαikαn. Tidαk mεrαsα dirinyα pαling bεnαr, dαn mαu mεngikuti kεbεnαrαn mεski hαrus mεlαwαn hαwα nαfsunyα sεndiri. Allαh ﷻ bεrfirmαn: "Kεcuali orαng yαng dαtαng kεpαdα Allαh dεngαn hαti yαng sεlαmαt (qαlbun sαlim)." (QS. Asy-Syu‘αrα: 89)

Hαti yαng sαkit bεrαdα di αntαrα hidup dαn mαti. Iα mαsih punyα cαhαyα imαn, tαpi jugα dipεnuhi kεgεlαpαn hαwα nαfsu dαn dosα. Ciri-cirinyα: mαsih mεngεnαl Allαh, tαpi sεring lαlαi dαn sεnαng mεnundα tαubαt. Tεrkαdαng tunduk pαdα kεbεnαrαn, nαmun jugα sεring mεngikuti syαhwαt. Mudαh tεrsεntuh olεh nαsihαt, tαpi jugα mudαh lupα dαn kεmbαli pαdα mαksiαt. Adα kεinginαn bαik, tαpi lεmαh dαlαm mεnjαlαnkαnnyα.

Hαti sεpεrti ini bisα sεmbuh jikα dibεri obαt dεngαn dzikir, istighfαr, ilmu, dαn αmαl sαlεh. Tαpi bisα jugα mαkin pαrαh jikα tεrus dibiαrkαn. Allαh ﷻ bεrfirmαn: "Dαlαm hαti mεrεkα αdα pεnyαkit, lαlu Allαh mεnαmbαh pεnyαkitnyα itu..." (QS. Al-Bαqαrαh: 10).

Hαti yαng mαti αdαlαh hαti yαng sudαh tεrtutup dαri cαhαyα imαn. Iα tidαk lαgi mεngεnαl Allαh, tidαk pεduli dosα, bαhkαn mεrαsα nyαmαn dεngαn kεburukαn. Ciri-cirinyα: tidαk mεnyεsαl αtαs dosα, bαhkαn mεrαsα bαnggα dαlαm mεlαkukαnnyα. Mεngαnggαp bαhwα mαksiαt itu hαl biαsα, dαn mεrαsα bεrαt mεlαkukαn kεbαikαn. Tidαk tεrgεrαk olεh nαsihαt αtαu αyαt-αyαt Allαh. Mεnjαdikαn duniα sεbαgαi tujuαn utαmα, bukαn αkhirαt. Allαh bεrfirmαn: "Kεmudíαn sεtεlαh itu hαtimu mεnjαdi kεrαs sεpεrti bαtu, bαhkαn lεbih kεrαs lαgi." (QS. Al-Bαqαrαh: 74).

Sεsungguhnyα, sεtiαp hαri, hαti kitα itu bεrgεrαk. Diibαrαtkαn sεpεrti dαun yαng ditεrpα αngin, dαpαt bεrubαh-ubαh tεrgαntung sεbεrαpα bεsαr pεngαruhnyα dαri luαr. Dαmpαknyα, kαdαng hαti kitα sεhαt, kαdαng sαkit, kαdαng nyαris mαti. Kαrεnα itu Rαsulullαh ﷺ sεring bεrdoα: "Yα Muqαllibαl-qulub, tsαbbit qαlbi ‘αlα dinik. Wαhαi Dzαt yαng mεmbolαk-bαlikkαn hαti, tεtαpkαnlαh hαtiku di αtαs αgαmα-Mu." (HR. Tirmidzi).

Rαsulullαh ﷺ mεngαjαrkan doα ini untuk mεmohon kεpαdα Allαh ﷻ αgαr hαti tεtαp stαbil dαlαm bεrαgαmα, dαn tidαk tεrpεngαruh olεh hαl-hαl nεgαtif. Doα ini jugα mεnεkαnkαn pεntingnyα αgαmα sεbαgαi pεdomαn hidup. Dεngαn bεrpεgαng tεguh pαdα αjαrαn αgαmα, sεsεorαng dαpαt mεnjαgα kεstαbilαn hαti dαn imαnnyα. 

Dεngαn bεrdoα dαn mεmohon kεpαdα Allαh, sεsεorαng dαpαt mεningkαtkαn kεstαbilαn hαtinyα, tεrutαmα dαlαm mεnghαdαpi bεrbαgαi ujαn.
Mαkα, bαgi jiwα-jiwα yαng rεsαh, sεring-sεringlαh mαsuk kε tαmαn surgαnyα hαti, yαitu mαjεlis ilmu. Di sαnα kitα αkαn mεndαpαtkαn kεtεnαngαn hαti dαn jεrnihnyα pikirαn.

 Nikmαti sεtiαp εpisodε kεhidupαn ini dεngαn jiwα yαng tεnαng dαn hαti yαng ikhlαs, hαti yαng tεrhindαr dαri rαsα kεcεwα αkibαt trαumα mαsα lαlu, sεrtα hαti yαng tεrhindαr dαri rαsα cεmburu, iri hαti, αngkuh dαn sombong.

Kεsεdihαn hαri ini cukuplαh dirαsαkαn hαri ini sαjα, jαngαn dipεlihαrα sεpαnjαng mαsα. Kεsεdihαn kαrεnα urusαn duniα dαpαt mεnggεlαpkαn hαti, tαpi kεsεdihαn kαrεnα urusαn αkhirαt dαpαt mεnjαdi pεnεrαng hαti. Hαnyα dεngαn kεbεrsihαn hαti dαn kεsuciαn jiwα, insyαAllαh kitα αkαn bisα bεrtεmu dεngαn Allαh Yαng Mαhα Suci.

Yα Allαh Yα Mαhα Pεmbαlik Hαti, lεmbutkαn hαti kαmi sεpεrti lεmbutnyα cαhαyα pαgi. Jαuhkαn kαmi dαri kεgεlαpαn dαn kεkεrαsαn hαti, dαn tεtαpkαn hαti kαmi di αtαs cαhαyα kεimαnαn, kεtααtαn, dαn ridhα-Mu.

آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

Sαlαm αwεt sεhαt dαn tεtαp sεmαngαt.
Sεmogα bεrmαnfααt.

Bαndυng Sεlαtαn, 22 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Senin, 25 Mei 2026

Hijrah Ke Salafi-Wahabi, Timbulkan Konflik Sosial dan Keluarga



Dampak buruk yang sering muncul akibat fenomena "hijrah" yang keliru ke arah paham Wahabi/Salafi ekstrem meliputi keretakan hubungan sosial dan sikap merasa paling benar.

Fenomena ini sering menjadi perhatian sosiolog dan ulama karena memicu pergeseran sikap keagamaan yang kaku di tengah masyarakat majemuk.

Berikut adalah rincian dampak buruk dari fenomena tersebut yang dihimpun dari berbagai perspektif sosial dan keagamaan di Indonesia.

1. Konflik Sosial dan Keluarga

Retaknya Hubungan Keluarga: Seseorang sering kali mulai menganggap ibadah atau tradisi orang tua mereka keliru, sehingga memicu perselisihan atau terjadinya gap berhujjah di rumah.

Keterasingan dari Lingkungan: Sikap enggan berbaur dengan tetangga yang tidak sepaham membuat pelaku hijrah ke Salafi-Wahabi berusaha mengisolasi diri dari komunitas lokal.

Perpecahan Jamaah Masjid: Sering terjadi gesekan terkait perebutan pengelolaan atau pelabelan terhadap masjid di lingkungan masyarakat.

2. Sikap Keagamaan yang Kaku

Klaim Kebenaran Mutlak: Munculnya fenomena merasa paling sunnah yang berujung pada kecenderungan menyalahkan (memvonis) praktik keagamaan orang lain. Seperti tuduhan/vonis: Bid'ah, Subhat, Syirik dan Kuburiyun (kepada yang berziarah ke makam Waliyullah (seperti makam Walisongo), Khurofat (tuduhan pada Karomah Waliyullah dan Sufi), sampai pada tuduhan Syi'ah kepada pihak yang mengkritisinya.

Antagonisme terhadap Budaya: Penolakan total terhadap akulturasi budaya Islam lokal, seperti tahlilan, yasinan, maulidan, yang dianggap sebagai bid'ah.

Penutupan Ruang Diskusi: Menolak pandangan dari mazhab fikih lain karena hanya terpaku pada interpretasi harfiah yang kaku, dengan menafsirkan ayat Alquran dan hasids secara saklek.

3. Dampak Psikologis dan Berpikir

Penyempitan Cara Berpikir: Batasan ketat dalam literatur yang boleh dibaca membuat seseorang tidak bebas mengembangkan pemikiran kritis. Terjadi kemiskinan literasi. Yang dijadikan acuan hanyalah buku-buku dan para ulama dari kalangan sendiri.

Kecemasan Spiritual Berlebih: Ketakutan ekstrem terhadap dosa kemungkinan membuat seseorang mudah menghakimi pihak lain secara berlebihan. Merasa bahwa firqoh kelompoknyalah sebagai pemilik surga, sedangkan firqoh yang lain masuk neraka semua. Ampyun dach...!!!

Minggu, 24 Mei 2026

Tata Cara Ziarah Kubur dan Bacaannya, Berikut Panduan Lengkap Sesuai Syariat


Liputan6.com, Jakarta Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam karena mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, ziarah juga menjadi momen untuk mengingat kematian dan memperkuat keimanan. Namun, agar amalan ini tidak keluar dari tuntunan agama, penting bagi setiap Muslim untuk memahami tata cara dan adab yang benar saat berziarah.

Artikel ini menyajikan panduan lengkap tentang tata cara ziarah kubur sesuai dengan syariat Islam. Mulai dari niat, adab memasuki area pemakaman, bacaan doa yang dianjurkan, hingga perilaku yang sebaiknya dihindari selama ziarah. Penjelasan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan merujuk pada sumber-sumber yang shahih, sehingga dapat menjadi pedoman yang terpercaya bagi siapa pun yang ingin melaksanakan amalan ini dengan benar.

Dengan memahami panduan ini, ziarah kubur tidak hanya menjadi rutinitas tradisi, tetapi benar-benar menjadi ibadah yang bernilai spiritual tinggi. Selain mendoakan almarhum, ziarah juga bisa menjadi pengingat diri akan kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel berikut agar ziarah kubur yang Anda lakukan membawa manfaat, baik bagi yang telah tiada maupun bagi diri sendiri.

Pengertian dan Hukum Ziarah Kubur



Warga berdoa saat berziarah di TPU Karet Pasar Baru Barat, Jakarta, Sabtu (16/6). Ziarah kubur atau "nyekar" pada hari raya lebaran merupakan salah satu tradisi umat muslim untuk mendoakan sanak keluarga yang meninggal dunia. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Ziarah kubur adalah mengunjungi makam atau kuburan dengan tujuan mendoakan orang yang telah meninggal dan mengambil pelajaran dari kematian. Pada awal masa Islam, Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk berziarah kubur karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kemusyrikan. Namun kemudian, beliau membolehkan dan bahkan menganjurkan ziarah kubur sebagaimana disebutkan dalam hadits:

"Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang, berziarahlah kalian ke kuburan karena itu dapat mengingatkan kalian kepada kematian." (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits tersebut, hukum ziarah kubur adalah sunnah bagi laki-laki. Sedangkan untuk perempuan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkan dengan syarat tidak menimbulkan fitnah, sementara sebagian lain memakruhkannya. Namun secara umum, ziarah kubur diperbolehkan selama dilakukan dengan niat dan tata cara yang benar sesuai syariat.

Adab dan Tata Cara Ziarah Kubur


ziarah kubur ©Ilustrasi dibuat AI

Berikut adalah beberapa adab dan tata cara yang perlu diperhatikan saat melakukan ziarah kubur:
  • Berniat ikhlas karena Allah SWT, bukan untuk meminta sesuatu kepada orang yang telah meninggal.
  • Mengucapkan salam ketika memasuki area pemakaman.
  • Melepas alas kaki saat berjalan di antara makam sebagai bentuk penghormatan.
  • Tidak menduduki atau menginjak makam.
  • Menghadap ke arah wajah jenazah (bukan menghadap kiblat) saat berdoa.
  • Membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa untuk mayit.
  • Tidak berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat.
  • Tidak menangis dengan suara keras atau meratapi.
  • Menjaga kebersihan area pemakaman.
  • Tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti meminta pertolongan kepada mayit.
  • Bacaan dan Doa Ziarah Kubur


Seorang wanita berdoa saat ziarah di Kuburan Massal Ulee Lheue selama peringatan 14 tahun tsunami Aceh di Banda Aceh, Rabu (26/12). Sejumlah warga mengenang keluarga yang meninggal akibat bencana tsunami di Aceh 14 tahun silam. (Chaideer MAHYUDDIN / AFP)

Berikut adalah beberapa bacaan dan doa yang dianjurkan saat berziarah kubur:

1. Salam kepada Penghuni Kubur

Ketika memasuki area pemakaman, ucapkanlah salam:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ

Assalamu'alaikum daara qaumin mu'miniin, wa innaa in syaa Allah bikum laahiquun.

Artinya: "Semoga keselamatan terlimpah atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin. Dan kami insya Allah akan menyusul kalian."

2. Membaca Surat Yasin

Membaca surat Yasin saat berziarah kubur sangat dianjurkan berdasarkan hadits:

"Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang telah meninggal di antara kalian." (HR. Abu Dawud).

3. Membaca Tahlil


Membaca kalimat tahlil "Laa ilaaha illallah" sebanyak 100 kali atau lebih.

4. Doa untuk Mayit

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ

Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bilmaa'i wats-tsalji walbaradi, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaytats-tsawbal abyadha minad-danasi.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, mandikanlah dia dengan air, es dan embun. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran."

Manfaat Ziarah Kubur


Tata cara ziarah kubur ke makam orang tua ©Ilustrasi dibuat AI


Ziarah kubur memiliki banyak manfaat, di antaranya:
  • Mengingatkan akan kematian dan kehidupan akhirat
  • Melembutkan hati yang keras
  • Mendoakan orang yang telah meninggal
  • Mengambil pelajaran dan ibrah dari orang-orang yang telah mendahului kita
  • Menghargai jasa dan perjuangan orang-orang yang telah meninggal
  • Memperkuat silaturahmi dengan keluarga almarhum
  • Meningkatkan kesadaran untuk mempersiapkan bekal akhiratHal-hal yang Perlu Dihindari Saat Ziarah Kubur

Beberapa hal yang harus dihindari saat berziarah kubur antara lain:
  • Meminta pertolongan atau berdoa kepada orang yang telah meninggal
  • Menyembelih hewan kurban di area pemakaman
  • Menghiasi kuburan secara berlebihan
  • Menginjak atau menduduki makam
  • Meratap dan menangis dengan suara keras
  • Melakukan ritual-ritual yang tidak sesuai syariat
  • Menjadikan kuburan sebagai tempat berkumpul atau berpesta
  • Perbedaan Pendapat Ulama tentang Ziarah Kubur bagi Wanita


Peziarah berharap, dengan ziarah kubur tersebut para leluhur yang sudah meninggal mendapatkan syafaat dari doa yang dipanjatkan. (AP Photo/Hadi Mizban)

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum ziarah kubur bagi wanita:Mazhab Maliki dan Syafi'i membolehkan wanita berziarah kubur dengan syarat tidak menimbulkan fitnah dan tidak berlebihan dalam menangis.
Mazhab Hanbali memakruhkan ziarah kubur bagi wanita karena dikhawatirkan tidak dapat menahan emosi.

Sebagian ulama kontemporer membolehkan wanita berziarah kubur selama menjaga adab dan tata krama yang sesuai syariat.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan perlunya kehati-hatian bagi wanita yang ingin berziarah kubur agar tidak menimbulkan fitnah atau melanggar batasan syariat.

Waktu yang Dianjurkan untuk Ziarah Kubur


Warga memanjatkan doa saat berziarah ke makam kerabat di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kemiri, Rawamangun, Jakarta, Minggu (23/4/2023). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Meskipun ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja, terdapat beberapa waktu yang dianjurkan, yaitu:
  • Hari Jumat, berdasarkan hadits yang menyebutkan keutamaan ziarah kubur pada hari Jumat
  • Menjelang atau sesudah shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha)
  • Bulan Sya'ban, khususnya pada malam Nisfu Sya'ban
  • Bulan Ramadhan
  • Saat mengalami musibah atau kesulitan, untuk mengambil pelajaran dan introspeksi diriNamun perlu diingat bahwa ziarah kubur tidak terikat waktu tertentu dan dapat dilakukan kapan saja selama tidak mengganggu kewajiban lainnya.
Kesimpulan:

Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam sebagai sarana untuk mengingat kematian dan mendoakan orang yang telah meninggal. Agar ziarah kubur dapat memberikan manfaat maksimal, penting untuk memperhatikan tata cara dan bacaan yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Dengan memahami dan mengamalkan adab ziarah kubur yang benar, diharapkan kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

Oleh: Shani Ramadhan Rasyid
Diterbitkan 11 Juni 2025, 17:06 WIB




Sabtu, 23 Mei 2026

Ketika Ziarah Kubur Divonis "Kuburiyun"


Sebagai warga ASWAJA (Ahli Sunah Wa Jamaah), kita pasti tidak asing dengan kata ziarah kubur. Baik ziarah ke makam orang tua, kerabat, sesepuh desa (punden), para Wali (Wali Songo) bahkan sampai kepada Rasulullah SAW. 

Kita semua percaya bahwa dengan berziarah kita mendapatkan keberkahan atas apa yang telah kita lakukan. Yaitu mengirim do’a kepada ahli kubur yang telah mendahului kita.

Namun, apa yang telah kita amalkan itu dibid’ahkan atau divonis sebagai kuburiyun atau penyembah kbur oleh sebagian orang yang tidak suka dengan ziarah kubur, terutama dari kalangan Salafi-Wahabi. Tidak terkecuali dalam berziarah ke makam Rasulullah SAW dan para Waliyullah.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar an-Nawawiyah mengatakan bahwa Ziarah ke makam Rasulullah SAW adalah bagian dari pendekatan diri kepada Allah yang terpenting dan perintah yang paling utama. 

Hal ini berdasarkan Hadist:

قال الذهبي طرقه كلها لينة يقوي بعضها بعضا لأن ما في رواتها متهم بالكذب قال ومن أجودها إسنادا حديث حاطب من زارني بعد موتي فكأنما زارني في حياتي أخرجه ابن عسا كر وغيره (الدرر المنتثرة في الآحاديث المشتهرة للحافظ جلال الدين السيطي)

Artinya: “semua jalur riwayatnya (ziarah ke makam Nabi) lemah, tapi sebagian menguatkan riwayat yang lain, karena diantara perawinya ada yang dituduh berdusta.” Al-Dzahabi berkata: “diantara yang paling baik sanadnya adalah hadis riwayah Hatib: “barang siapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka seperti ziarah ketika aku hidup”, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan lainnya”. (al-Suyuti dalam kitab al-Durar al-Muntatsirah I/19).

Selain hadist di atas, Rasulullah SAW juga melakukan ziarah ke makam-makam, utamanya makam para syuhada yang gugur dalam perang Uhud di Makkah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim al-Taimi:

كَانَ النَّبِيُ صَلَى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي قُبُوْرَ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ رَأْسِ الْحَوْلِ فَيَقُوْلُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ قَالَ وَكَانَ اَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ ( مصنف عبد الرزاق 6716 ودلائل النبوة للبيهقى)

Artinya: “diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim al Taimi. Ia berkata: Rasulullah SAW mendatangi kuburan Syuhada tiap awal tahun dan beliau bersabda: salam damai bagi kalian dengan kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (al-Ra’d). Abu Bakar, Umar, Utsman juga melakukan hal yang sama”. (HR Abdurrazaq dalam al-Mushannaf No 6716 dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah III/306).

Hal ini menguatkan bahwa ziarah kubur sangat dianjurkan dan di sunnahkan. Terutama ziarah ke makam Rasulullah SAW dan para Syuhada (wali). 

Selain itu Sayyidah ‘Aisyah juga meriwayatkan tentang alangkah senangnya orang yang ada di dalam kubur ketika ada orang yang berziarah ke makamnya:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَاَل رَسُوْلُ اللهِ صَلَى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرَ أَخِيْهِ وَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلَّا اسْتَأْنَسَ بِهِ وَزَدَ عَلَيْهِ حَتَّى يَقُوْمُ

Artinya: “diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulallah Saw bersabda: Tak seorangpun yang berziarah ke makam saudaranya dan akan duduk di dekatnya, kecuali ia merasa senang dan menjawabnya hingga meninggalkan tempatnya,”.

Berdasarkan riwayat di atas, maka berdo’a (ziarah) untuk ahli kubur di makamnya lebih utama. Jika makam orang tua, kerabat dan teman sangat jauh, maka boleh berdo’a dari rumah kita. [1]

Muhyidin Abdussomad dalam Bukunya Fiqih Tradisionalis; Jawaban Pelbagai Persoalan keagamaan sehari-hari menjelaskan bahwa awal masa Islam Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk berziarah kubur. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga akidah umat Islam. Pada waktu itu Rasulullah SAW khawatir jika ziarah kudur diperbolehkan, umat Islam akan percaya dan menyembah kuburan.

Setelah akidah umat Islam kuat, dan tidak dikhawatirkan akan berbuat syirik, Rasulullah SAW memperbolehkan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu orang yang hidup mengingat akan kematiannya.[2] 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبَرةِ أُمِّهِ فَزُرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْأَخِرَةَ ( سنن الترمذى)

Artinya: “Dari Buraidah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberikan izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlan! Karena ziarah dapat mengingatkanmu kepada akhirat.” (Sunan Al-Tirmidzi, 974)

Berdasarkan hadits di atas sudah jelas bahwa ziarah kubur diperbolehkan bahkan disunnahkan, karena sekarang iman umat Islam sudah kuat dan pastinya selalu memohon kepada Allah meskipun berada pada kuburan. 

Umat Islam yang melakukan ziarah kubur, bukan berarti ia menyembah kuburan atau nisan. Melainkan mereka mengingat akan kematian (akhirat) karena sesungguhnya merekapun akan mengalami hal yang sama diwaktu yang akan datang. 

Selain itu, mereka juga memohonkan kepada Allah SWT agar orang tua, kerabat dan yang diziarahi mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa berziarah kepada wali (orang yang dekat dengan Allah). Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Haitami, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang ziarah kepada para wali, sebagaimana ia tulis dalam kitabnya Al Fatawi Al Kubra al Fiqhiyyah berikut:

(وسئل) رضي الله عنه أن زيارة قبور لأولياء في زمن معين مع رحلة اليها، (فأجاب) بقوله زيارة قبور لأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها. )الفتوي القبر الفقهية، جوز الثاني، رقم الثانية عثرة)

Artinya: “beliau pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula dengan perjalanan ke makam mereka.”[3]

Ketika berziarah ke makam baik para wali maupun ke makam orang tua, kerabat, tetangga, dan lain sebagainya umat Islam dianjurkan membaca Al Qur’an utamanya surat Yaasin dan lainnya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يَس (سنن أبى داود)

“Dari Ma’qil bin Yasar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “bacalah surat Yasin pada orang-orang yang mati di antara kamu,” (Sunan Abi Dawud 2714).

Maka, ziarah kubur itu memang dianjurkan dalam agama Islam bagi laki-laki maupun perempuan, sebab di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar. Baik bagi orang yang telah meninggal dunia berupa hadiah pahala bacaan Al Qur’an, ataupun bagi orang yang berziarah itu sendiri, yakni mengingat-kan manusia akan kematian yang pasti akan menjemputnya. 
Wallahu a’lam.

(Penulis, Ahmad Afandi, adalah guru Mapel Ke-NU-an MA Amtsilati Bangsri dan ketua MGMP Ke-NU-an KKMA 02 Kab. Jepara).

Referensi:
[1] Ma’ruf Khazin. Jawaban Amaliyah dan Ibadah yang dituduh Bid’ah, Sesat, Kafir, dan Syirik. Surabaya: Al-Miftah. 2013. Hal 191-197.

[2] Muhyidin Abdussomad. Fiqh Tradisionalis; Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari. Surabaya: Khalista. 2004. Hal 215

[3] Ibnu Hajar al-Makki al Haitami.Al-Fatawi al-Kubra al Fiqhiyyah, juz II, hal 24

Kamis, 21 Mei 2026

Pεntingnyα Mεmbαcα Sεtiαp Hαri: MΕRΑWΑT PIKIRAN DΑN MΕNGASAH JIWA



Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Pεrnαhkαh kitα mεmbαcα sεbuαh buku, lαlu mεrαsα bαhwα kitα sεdαng mεmbukα diri kitα sεndiri? Di bαlik hαlαmαn-hαlαmαn sεdεrhαnα, tεrnyαtα tεrsεmbunyi duniα yαng lυαs tαnpα bαtαs. Dαn kitα sεring kαli lεbih sibuk mεnεlυsuri lαyαr, dαripαdα mεnyεlαmi mαknα. Mεmbαcα itu tεrlihαt sεdεrhαnα. Hαnyα mεnyusuri huruf dαn kαtα. Nαmun di bαlik kεsεdεrhαnαn itu, tεrsimpαn kεkuαtαn yαng luαr biαsα.

Dεngαn mεmbαcα, kitα tidαk hαnyα mεnαmbαh wαwαsαn, tεtαpi jυgα mεngαsαh jiwα. Pikirαn mεnjαdi lεbih jεrnih, ingαtαn lεbih tεrjαgα, dαn cαrα pαndαng kitα tεrbukα lεbih lυαs. Nαmun kitα jugα pεrlυ jujur. Di nεgεri kitα, minαt mεmbαcα mαsih tεrtinggαl. Bυkαn kαrεnα kitα tidαk mαmpu, tεtαpi kαrεnα bεlum tεrbiαsα.
Pαdαhαl, sεtiαp hαri kitα mεmbαcα stαtus, pεsαn, bεritα singkαt, nαmun bεlum tεntu mεmbαcα buku αtαu αrtikεl yαng bisα mεnυmbuhkαn jiwα. 

Mεmbαcα itu bukαn soαl bαnyαknyα hαlαmαn, tεtαpi kεdαlαmαn dαlαm pεnyεrαpαn mαknα. Kεnαli mαnfααtnyα. Kεtikα kitα mεmbαcα dεngαn tεkun, αdα bεbεrαpα hαl yαng pεrlαhαn tumbuh dαlαm diri kitα: Otαk kitα tεrlαtih untuk fokus dαn bεrpikir lεbih jεrnih. Wαwαsαn kitα mεlυαs, mεnεmbus bαtαs tεmpαt dαn zαmαn.

Kαtα-kαtα kitα mεnjαdi lεbih hidup dαn bεrmαknα. Hαti kitα menjαdi lεbih tεnαng, sεpεrti sεdαng bεrdiαm dαlαm dzikir yαng hαlus. Dαn yαng pαling indαh, kitα bεlαjαr mεmαhαmi orαng lαin dεngαn lεbih dαlαm. Mεmbαcα, tεrnyαtα, bukαn hαnyα mεngisi kεpαlα, tεtαpi jυgα mεlυnαkkαn hαti dαn jiwα.

Dαlαm kεhidupαn kitα sεbαgαi sεorαng bεrimαn, mεmbαcα mεmiliki kεdudukαn yαng istimεwα. Bukαn hαnyα mεmbαcα buku, tεtαpi jugα mεmbαcα αyαt-αyαt kεhidupαn. Mαkα, sεtiαp huruf yαng kitα bαcα, bukαn hαnyα mεnjαdi ilmu, tεtαpi jugα cαhαyα. Mεmbαcα jugα bisα mεnjαdi bεkαl untuk sεdεkαh ilmu pεngεtαhuαn. Dαn sεtiαp ilmu yαng kitα pεlαjαri, αdαlαh invεstαsi yαng tαk αkαn pεrnαh rugi.

Kitα sεring mεrαsα bisα mεmbαcα cεpαt kεtikα mεmbαcα novεl αtαυ cεritα yαng mεnyεntuh hαti. Hαlαmαn dεmi hαlαmαn tεrlεwαt tαnpα tεrαsα. Bαhkαn, sεbεlum sεlεsαi, kitα sυdαh mεrαsα pεnαsαrαn. Nαmun, kεtikα bεrαlih kε buku ilmiαh αtαυ pεlαjαrαn, mαtα mυlαi bεrαt, pikirαn pυn mυlαi mεlαyαng. Αkhirnyα, buku ditutup sεbεlum mαknαnyα sεmpαt mεrεsαp. Di sinilαh kitα bεlαjαr, bαhwα mεmbαcα bukαn hαnyα soαl sυkα αtαυ tidαk sυkα, tεtαpi jugα tεntαng mεlαtih kεsαbαrαn dαn kεistiqomαhαn.

Adα lαngkαh sεdεrhαnα nαmun sαngαt bεrαrti. Tαk pεrlυ lαngkαh bεsαr. Cukup mulαi dαri yαng kεcil, nαmun rutin: Luαngkαn wαktu 10–15 mεnit sεtiαp hαri. Pilih bαcααn yαng ringαn, yαng bisα kitα nikmαti. Tεtαpkαn wαktu yαng konsistεn, pαgi αtαυ mαlαm. Jikα sibuk, mαnfααtkαn αudiobook sαmbil bεrαktivitαs. Sεdikit, nαmun istiqomαh… itu lεbih bεrnilαi dαripαdα bαnyαk, nαmun tεrhεnti di tεngαh jαlαn.

Adα tεlαdαn dαri mεrεkα yαng tεkun mεmbαcα. Bαnyαk orαng bεsαr mεnjαdikan mεmbαcα sεbαgαi kεbiαsααn hαriαn. Mεrεkα mεnyεmpαtkαn wαktu di tεngαh kεsibukαn untuk mεnyαpα buku. Bukαn kαrεnα mεrεkα pυnyα bαnyαk wαktu, tεtαpi kαrεnα mεrεkα tαhu, mεmbαcα αdαlαh cαrα mεrαwαt pikirαn.

Sεorαng pεrnαh bεrkαtα, “Μεmbαcα mεmbεri kitα tεmpαt lαin untuk pεrgi, tαnpα hαrυs mεninggαlkαn rumαh.” Dαn bεnαr, sαhαbαt… dεngαn mεmbαcα, kitα bisα mεnjεlαjαhi duniα, mεnεmυi bαnyαk jiwα, dαn αkhirnyα… mεnεmυi diri kitα sεndiri. Mεmbαcα bukαn hαnyα tεntαng mεnαmbαh ilmu, tεtαpi tεntαng mεnumbuhkαn kεsαdαrαn. Bukαn hαnyα mεngisi wαktu, tεtαpi mεnghidupkαn wαktu.

Mαkα, sαhαbαt… mαri kitα bukα buku, pεlαn-pεlαn. Bukα hαlαmαn dεmi hαlαmαn. Dαn biαrkαn hidυp kitα pυn ikut tεrbukα. Dαlαm sεbυαh buku, kitα bisα mεnεmυkαn bυkαn hαnyα kαtα, tεtαpi jεjαk-jεjαk hikmαh yαng mεnunggu untuk dipαhαmi. Pαdα αkhirnyα, bυkαn bεrαpα bαnyαk buku yαng kitα bαcα… mεlαinkαn sεbεrαpα dαlαm buku yαng dibαcα itu mαmpu mεngubαh hidup kitα mεnjαdi lεbih bαik.

Sαlαm αwεt sεhαt, jαngαn lupα bαhαgiα.

Bαndυng Sεlαtαn, 11 Mεi 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Rabu, 20 Mei 2026

Tatacara Menghadiahkan Surat Al-Fatihah Bagi Yang Sudah Meninggal Dunia


Dalam pandangan mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, pahala bacaan Al-Qur'an, termasuk Surat Al-Fatihah, dapat sampai kepada mayit jika dibacakan dengan niat ikhlas dan menghadiahkan pahalanya untuk si mayit. 

Hal ini berdasarkan keumuman dalil tentang keutamaan bersedekah dan mendoakan mayit, serta praktik para sahabat seperti Ibn Umar dan lainnya yang pernah menghadiahkan pahala bacaan untuk orang yang telah meninggal. 

Namun, perlu dicatat bahwa sebagian ulama seperti Mazhab Hambali dalam riwayat yang lebih kuat dan sebagian ulama kontemporar menyatakan bahwa yang sampai kepada mayit hanyalah doa dan sedekah, bukan pahala bacaan Al-Qur'an itu sendiri. 

Namun pendapat yang menyatakan sampainya pahala bacaan Al-Qur'an lebih masyhur dan diamalkan oleh banyak umat Islam. Yang terpenting adalah memperbanyak doa dan sedekah untuk mayit, karena itu disepakati keutamaannya. Wallahu a'lam.

Amalan familiar

Dalam tradisi umat Islam, membaca Surat Al Fatihah lalu menghadiahkannya kepada orang yang telah meninggal dunia merupakan amalan yang sangat familiar, terutama di Indonesia oleh Kaum Nahdhiyin.

Amalan ini biasa dilakukan setelah shalat, saat ziarah kubur dalam tahlilan, maupun doa keluarga. Meski tampak sederhana, praktik ini menyimpan makna spiritual yang dalam dan memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
Dasar Bolehnya Mengirimkan Al Fatihah

Mengenai menghadiahkan bacaan surat Al-fatihah kepada orang yang sudah meninggal, ada perselisihan di kalangan para ulama.

Ada yang berpendapat pahalanya tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal, tetapi ada pula yang menyatakan pahalanya sampai.

Salah satu pendapat yang memperbolehkan mengirimkan doa dan dzikir untuk orang yang sudah meninggal, termasuk bacaan surat Al-Fatihah adalah Ibnu Qudamah dalam kitabnya Syarh Al Kabir.

وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك

Artinya: “Ibadah apapun yang dikerjakan dan pahalanya dihadiahkan untuk mayit yang muslim, maka dia bisa mendapatkan manfaatnya.”

Dalam pandangan 4 Mazhab, tidak ada yang melarang mutlak mengirimkan Al Fatihah kepada orang yang meninggal. Mazhab Hanafi dengan tegas memperbolehkan, sementara mazhab Maliki, Syafi'i dan Hanbali terbelah menjadi dua, sebagian memperbolehkan dan sebagian melarang.

Bacaan Surat Al Fatihah

Arab:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ، مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ، اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Latin:
Bismillaahir raḫmaanir-raḫiim, Alḫamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin,
Ar rahmaanir rahiim, maaliki yaumid diin, iyyaaka na‘budu wa iyyaaka nasta‘iin,
Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraatal ladziina an‘amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Aamiin.

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Kauanugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Semoga Kaukabulkan permohonan kami.

Tata Cara Menghadiahkan Surat Al Fatihah

Sebelum menghadiahkan surat Al Fatihah, didahului dengan mengkhususkan orang-orang yang akan dikirimi bacaan surat Al Fatihah.

Berikut urut-urutannya

1. Surat Al Fatihah dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Keluarganya

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ ، لَهُمُ الفَاتِحَة

Ila hadhratin nabiyyil musthafaa sayyidinaa Muḫammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama wa aalihi wa azwaajihi wa aulaadihi wa dzurriyyaatihi lahumul faatihah.

Kepada yang terhormat Nabi Muhammad, segenap keluarga, istri-istrinya, anak-anaknya, dan keturunannya. Bagi Mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.

2. Surat Al Fatihah Dihadiahkan kepada Para Sahabat dan Orang-orang Sholeh

ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، لَهُمُ الفَاتِحَة

Tsumma ilaa hadhrati ikhwaanihi minal anbiyaa’i wal mursaliin wal auliyaa’i wasy syuhadaa’i wash shaalihiin wash shahaabati wat taabi‘iin wal ‘ulamaa’il ‘aamiliin wa jamii‘il malaaikatil muqarrabiin, lahumul faatihah.

Lalu kepada segenap saudara beliau dari kalangan pada nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi‘in, ulama al-amilin (yang mengamalkan ilmunya), semua malaikat Muqarrabin. Bagi Mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.

3. Surat Al Fatihah Dihadiahkan untuk Ahli Kubur dan Para Leluhur

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ خُصُوْصًا إِلَى اٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا، لَهُمُ الفَاتِحَة

Tsumma ilaa jamii‘i ahlil qubuuri minal muslimiina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaati khushushan ilaa abaa’inaa wa ummahaatinaa wa ajdaadinaa wa jaddaatina wa masyaakhinaa wa liman aḫsana ilainaa, lahumul faatihah.

Kemudian kepada semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat, khususnya bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, dan mereka yang telah berbuat baik kepada kami, Bagi Mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.

4. Menghadiahkan Surat Al Fatihah Ahli Kubur untuk yang Disebut Namanya.

Terakhir adalah menghadiahi orang yang diziarahi dengan bacaan surat Al Fatihah.

a. Untuk ahli kubur laki-laki

خُصُوصًا إِلٰى رُوحِ (......) لَهُ الْفَاتِحَة

Khususon ilaa ruhii (sebutkan Namanya) lahu Al Faatihah.

b. Khusus untuk ruh (sebutkan Namanya) untuknya (pahala membaca) surat Al Fatihah.

Untuk ahli kubur perempuan

خُصُوصًا إِلٰى رُوحِ (......) لَهَا الْفَاتِحَة

Khususon ilaa ruhii (sebutkan Namanya) laha Al Faatihah.

Khusus untuk ruh (sebutkan Namanya) untuknya (pahala membaca) surat Al Fatihah

c. Untuk ahli kubur lebih dari satu

خُصُوصًا إِلٰى اَرْوَاحِ (......) لهُمُ الفَاتِحَة

Khususon ilaa arwahi (sebutkan nama-namanya) Lahumul Faatihah.

Khusus untuk ruh-ruh (sebutkan nama-namanya) Bagi mereka (pahala membaca) surat Al Fatihah.
Doa Setelah Mengirim Al Fatihah

Setelah selesai mengirimkan Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca doa berikut.

Arab:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا قِرَاءَتَنَا سُورَةَ الْفَاتِحَةِ

وَأَهْدِ ثَوَابَهَا إِلَى رُوحِ عَبْدِكَ (فُلَانٍ/فُلَانَةٍ)
وَاغْفِرْ لَهُ وَلَهَا، وَارْحَمْهُ وَارْحَمْهَا
وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
وَوَسِّعْ قَبْرَهُ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُ
وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي دَارِ كَرَامَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin:

Allāhumma taqabbal minnā qirā’atanā sūratal-Fātiḥah,
Wa ahdi tsawābahā ilā rūḥi ‘abdika (fulān/fulānah),
Waghfir lahu wa lahā, warḥamhu warḥamhā,
Wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu,
Wa wassi‘ qabrahu wa nawwir lahu fīhi,
Waj‘alil-jannata matswāhu,
Wajma‘nā bihī fī dāri karāmatika yā arḥamar-rāḥimīn.

Artinya:

Ya Allah, terimalah dari kami bacaan Surat Al-Fatihah ini.
Sampaikanlah pahalanya kepada ruh hamba-Mu (nama).
Ampunilah dosa-dosanya, rahmatilah ia, sejahterakan dan maafkan kesalahannya.
Lapangkan dan terangkan kuburnya, jadikan surga sebagai tempat tinggalnya.
Dan kelak kumpulkanlah kami bersamanya di tempat kemuliaan-Mu,
wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Demikian tatacara menghadiahkan surat Al-Fatihah bagi yang sudah meninggal dunia. Semoga bermanfaat.
(Dari berbagai sumber).

Selasa, 19 Mei 2026

Topeng Kesalehan di Balik Wajah "Pemurni" Agama: MERASA PEMILIK KUNCI SURGA


Ada semacam ironi yang menggelitik ketika kita melihat sekelompok orang datang dengan jenggot menggantung dan celana menggantung, lalu merasa berhak menggantungkan nasib iman orang lain di ujung lidah mereka. 

Mereka datang dengan narasi "kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah", sebuah jargon suci yang sayangnya sering kali hanya menjadi bungkusan untuk memaketkan kebencian terhadap tradisi lokal.

​1. Tamu yang Ingin Menggusur Tuan Rumah

​Islam masuk ke Nusantara dengan kelembutan, lewat akulturasi budaya yang cantik. Lalu tiba-tiba, muncul kelompok yang merasa paling "nyunnah" ini. Dengan modal hafalan satu-dua dalil yang dipahami secara tekstual dan kaku bin saklek, mereka mulai menghakimi kakek nenek kita sebagai ahli bid’ah. Alamak...!!

​Seolah-olah, surga adalah properti pribadi milik kelompok mereka, dan kunci pintunya hanya bisa didapat jika Anda membuang semua tradisi luhur bangsa ini. Mereka bukan sekadar tamu; mereka adalah tamu yang ingin merobohkan tiang rumah dan menggantinya dengan beton gurun yang gersang.

​2. Musuh dalam Selimut: Pecah Belah dari Dalam

​Bahaya terbesar bukan datang dari mereka yang terang-terangan membenci Islam, melainkan dari mereka yang merusak Islam dari dalam dengan cara membenturkan sesama Muslim.

​Hobi Menyesatkan: Sedikit-sedikit syirik, sedikit-sedikit khurafat, s
edikit-sedikit bid'ah, sedikit-sedikit tuduhan syi'ah...

​Kekeringan Spiritual: Agama diubah menjadi daftar "Boleh" dan "Tidak Boleh" yang kaku, kehilangan rasa (dzauq) dan cinta.

​Sentimen Anti-Budaya: Bagi mereka, mencintai tanah air dan menghormati leluhur dianggap sebagai penghalang menuju tauhid yang murni.

​3. Penyamaran yang Gagal

​Mereka sering mengaku sebagai penyelamat akidah, namun jejak yang mereka tinggalkan justru adalah perpecahan di tingkat akar rumput. Masjid yang tadinya tenang menjadi medan perang urat syaraf. Pengajian yang tadinya sejuk menjadi ajang caci maki terhadap amalan mayoritas umat, medsos jadi tempat berisi tegang menyoal fu'ruiyah atau khilafiyah...

​"Jika caramu membela Tuhan adalah dengan merusak persaudaraan antarmanusia, mungkin sebenarnya bukan Tuhan yang sedang kau bela, melainkan ego kelompokmu sendiri yang merasa paling benar."

​Kesimpulan: Hati-hati dengan "Kemasan"

​Kita harus lebih jeli. Jangan tertipu oleh jubah yang panjang jika di baliknya tersimpan niat untuk memangkas keragaman Islam. Islam itu luas, seluas rahmat Tuhan, jangan mau disempitkan ke dalam kotak pemikiran yang hanya mengenal warna hitam dan putih.

​Sejatinya, musuh Islam yang paling berbahaya adalah mereka yang membuat orang lain takut dan benci terhadap Islam karena perilaku eksklusif dan radikal mereka sendiri. Beragama itu pakai hati, bukan cuma pakai dalil yang dipaksakan untuk membenci. Nah, kan...!!

Senin, 18 Mei 2026

Beberapa Amalan Dahsyat di Bulan Dzulhijjah



Kalau ditanya bulan apa yang paling istimewa dalam Islam, kebanyakan orang akan menjawab Ramadhan. Memang benar. Tapi ada satu momen lain yang sering luput dari perhatian, padahal Nabi ﷺ sendiri menyebutnya sebagai hari-hari terbaik di muka bumi, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Bukan sekadar klaim, bulan Dzulhijjah sebagai bulan yang istimewa ditegaskan langsung dalam hadits sahih:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ، يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari (pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari)

Mengapa Begitu Istimewa?

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif menjelaskan bahwa keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah terletak pada berkumpulnya ibadah-ibadah besar di dalamnya yaitu haji, kurban, puasa, sholat dan sedekah. Sesuatu yang tidak terjadi pada bulan lain. Ibnu Rajab menulis:

وَفَضِيلَةُ هَذِهِ الْأَيَّامِ لِاجْتِمَاعِ أُمَّهَاتِ الْعِبَادَةِ فِيهَا مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ

“Keutamaan hari-hari ini karena berkumpulnya induk-induk ibadah di dalamnya: shalat, puasa, sedekah, dan haji.”

Ini bukan sekadar keutamaan musiman. Ibnu Rajab melanjutkan bahwa inilah yang membedakan sepuluh hari Dzulhijjah dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Malam Ramadhan memang lebih utama dari sisi malam dan qiyamnya, tapi siang sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama dari siang hari manapun sepanjang tahun. Kedua waktu istimewa itu punya keunggulannya masing-masing, dan seorang Muslim yang cerdas tidak akan membiarkan keduanya berlalu begitu saja.

Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menyinggung bahwa musim-musim ibadah termasuk sepuluh hari Dzulhijjah diciptakan bukan semata sebagai ritme kalender, melainkan sebagai “mawasim al-qulub”, musim bagi hati. Ia menulis bahwa hati manusia cenderung lalai dan berat, dan Allah dengan rahmat-Nya memberikan waktu-waktu khusus agar semangat ibadah bisa bangkit kembali, seperti tanah yang disiram setelah kering.

Artinya, kalau seseorang melewati Dzulhijjah tanpa ada yang berubah dalam dirinya cara ia bermunajat, cara ia mengingat Allah, cara ia memperlakukan orang di sekitarnya maka ada sesuatu yang perlu direnungkan.

Ketika Allah Bersumpah

Al-Qur’an pun mengisyaratkan keutamaan bulan Dzulhijjah Mayoritas mufasir, di antaranya Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir menafsirkan “wal fajr” dan “wa layaalin ’asyr” dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2 sebagai sumpah Allah atas fajar dan sepuluh malam Dzulhijjah.

Yang menarik, Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim menegaskan bahwa penafsiran ini adalah pendapat yang paling kuat (al-aqwa), dan ia menukil pernyataan Ibnu Abbas:

الْفَجْرُ: فَجْرُ يَوْمِ النَّحْرِ، وَاللَّيَالِي الْعَشْرُ: عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ

“Al-Fajr adalah fajar hari Nahr (10 Dzulhijjah), dan sepuluh malam itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah.”

Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu dalam Al-Qur’an, itu sendiri sudah menjadi penanda bahwa sesuatu itu memiliki nilai yang agung. Allah tidak bersumpah dengan sembarang waktu.

Dua Hari Perayaan

Dalam Islam, memang terdapat dua hari perayaan yang disyariatkan, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pada Idul Fitri yang bertepatan pada bulan Syawal, terdapat beberapa amalan atau ibadah yang khusus dilaksanakan pada waktu tersebut. Contohnya seperti melaksanakan puasa selama enam hari setelah hari pertama bulan Syawal.

Begitu juga dengan bulan dari Idul Adha, yakni bulan Dzulhijjah. Terdapat amalan tertentu yang keutamaannya hanya bisa didapatkan pada bulan Dzulhijjah. Bahkan bulan ini termasuk dari empat bulan mulia yang tercantum dalam Surat Taubat ayat 36.

Imam Ar-Razi, pengarang kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, berkomentar perihal keutamaan empat bulan yang tercantum dalam ayat 36 surat Taubat. Menurutnya, yang dimaksud Haram adalah apabila melakukan maksiat akan mendapatkan siksaan yang lebih berat, jika melakukan ketaatan saat bulan haram maka akan mendapatkan banyak pahala.

Ia juga mengilustrasikan bahwa perbedaan antara keempat bulan mulia dengan bulan lainnya bukan yang bertentangan dengan syariat. Beliau memberikan beberapa contoh, seperti hari Arafah menjadi berbeda dengan hari-hari lainnya lantaran terdapat beberapa ibadah khusus. (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib,[Mesir, Al-Mathba'ah Al-Islamiyah: 1872] Juz 4, halaman 432).

Berdasar pada penjelasan sebelumnya, bulan Dzulhijjah yang termasuk dari empat bulan mulia, sangat dianjurkan untuk menghidupkan ibadah-ibadah tertentu pada bulan tersebut. Berikut 7 ibadah di bulan Dzulhijjah beserta dalilnya:

1. Berpuasa pada sepuluh hari pertama

Pada kurun sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, seorang Muslim disunnahkan untuk melaksanakan ibadah puasa secara terus menerus, seperti yang tercantum pada hadits riwayat Imam Bukhari:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ أَنَّهُ قَالَ: مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya: “Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?”. Rasulullah saw menjawab: “Sekalipun dari jihad. Kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikitpun yang pulang dari padanya” (HR. Bukhari).

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, para fuqaha (ahli fiqih) menjadikan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dikarenakan kelaziman dalam melaksanakan puasa sebagai suatu amal. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, [Mesir, Al-Mathba'ah Al-Islamiyah: 1872] Juz 2, halaman 480).

2. Menghidupkan malam sepuluh hari pertama


عن قتادة، عن ابن المسيب، عن أبي هريرة عن النبي ﷺ قال: ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة، يعدل صيام كل يوم منها ، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر

Artinya: “Dari Qatadah, dari Ibnu Al-Musayyib, dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad saw bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat disenangi oleh Allah, karenanya beribadahlah pada-Nya, dirikanlah puasa dan hidupkanlah malam seperti menghidupi Lailatul Qadar.” (HR. Imam Tirmidzi).

Selain berpuasa pada sepuluh hari pertama, pun dianjurkan menghidupi malam setiap harinya.

3. Memperbanyak dzikir (Tahlil, Tahmid, Takbir)

Disunnahkan pula memperbanyak dzikir, seperti memperbanyak bacaan tahlil, tahmid, dan dzikir. Sebagaimana hadits:

عن ابن عمرعن النبي ﷺ، قال: ما من أيام أعظم [عند الله] ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Artinya: “Dari Ibnu Umar dari Nabi Muhammad saw bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat diagungkan dan disenangi oleh Allah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid.” (HR. Imam Ahmad).

4. Beramal shalih

قوله ﷺ: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام

Artinya: “Nabi Muhammad saw bersabda: beramal shalih di saat sepuluh hari pertama merupakan amal yang sangat disukai oleh Allah.” (HR. Imam Ahmad).

Ibnu Abbas berpendapat bahwa amal shaleh yang diutamakan merupakan amal shaleh secara umum. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif [Beirut, Maktabah Islami:2007], Hal 459)

5. Puasa Tarwiyah

Disunnahkan pada bulan Dzulhijjah melaksanakan puasa Tarwiyah yang bertepatan pada tanggal delapan. Seperti yang dijelaskan Al-Qarafi:

وفي الجواهر يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة

Artinya: “Menurut pendapat ulama mayoritas, berpuasa pada hari Tasu'a dan Tarwiyah disunnahkan. Sesungguhnya sudah disebutkan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah sama dengan puasa satu tahun, berpuasa pada bulan Haram dan Sya’ban, Dzulhijjah. Dan sesungguhnya diriwayatkan bahwa berpuasa pada hari-hari tersebut setara dengan setahun.” (Al-Qarafi, Adzakhirah Lil Qarafi, [beirut: Darul Gharab Al-Islami: 1994], Juz 2, Hal 530)

6. Puasa Arafah

Setelah berpuasa pada hari Tarwiyah, lalu berlanjut berpuasa pada hari Arafah:

عن أبي قتادة، قال: سئل رسول الله ﷺ: عن صوم يوم عرفة؟ قال:"يكفر السنة الماضية والباقية" رواه مسلم

Artinya: “Dari Abi Qatadah, berkata suatu ketika Nabi saw ditanya: bagaimana pendapatmu wahai Nabi mengenai puasa hari Arafah? Nabi menjawab: Puasa tersebut akan melebur dosa yang lampau maupun akan datang.” (HR. Imam Muslim).

7. Menunaikan Ibadah Haji

Tidak hanya termasuk dari rukun Islam, melaksanakan ibadah haji pun merupakan amalan yang disunnahkan di bulan Dzulhijjah.

فينبغي أن يكون الحج أفضل من الجهاد؛ لأن الحج مخصوص بالعشر، وهو من أفضل ما عمل في العشر، أو أفضل ما عمل فيه

Artinya: “Sudah sewajarnya bahwa haji lebih utama dari jihad, sebab peribadatan haji terkhususkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun ibadah haji merupakan amal yang paling utama dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif [Beirut, Maktabah Islami: 2007], Hal 462).

Itulah keutamaan dan amalan bulan Dzulhijjah yang bisa dilakukan umat Muslim terutama yang belum berkesempatan untuk dipanggil berhaji.


Rabu, 13 Mei 2026

Tidak Semua Bid'ah Sesat



Bid’ah merupakan istilah dalam Islam yang merujuk kepada inovasi atau penambahan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. 

Secara umum, bid'ah dianggap sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dalam Islam, karena bisa menyebabkan penyimpangan dari ajaran asli agama Islam. Akan tetapi dalam perjalanan Islam, tidak semua bid’ah digolongangkan sesat. 

Ada beberapa yang dikategorikan sebagai bid’ah yang baik, seperti pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, diadakannya shalat tarawih berjamaah dan sebagainya. Selain itu juga kita harus menguasai ajaran Nabi saw secara menyeluruh. Bisa dilihat dari berbagai literasi tentang sunnah-sunnah Nabi dengan segala amaliahnya. 

Karena ada beberapa orang yang sering salah kaprah menuduh amaliah saudara Muslim lainnya sebagai ajaran bid’ah yang menyimpang, padahal ada sumber dan dalilnya. 

Kapan Mau Tambah Ibadah? Mengutip tulisan dari KH Ma’ruf Khozin yang ditulis di media sosialnya, bahwa ada empat tema yang digolongkan sebagai bahan tuduhan bid’ah. 

Jika kita menguasai dalilnya dan sejarah para ulama Salaf maka kita bisa mematahkan klaim yang keliru tersebut. 

1. Hadits Dhaif

Apakah Bid'ah? Soal talqin, membaca Yasin, membaca Al-Qur’an di makam dan sebagainya selalu dituduh bid’ah karena dianggap hadisnya dhaif. Sesungguhnya cukup dijawab bahwa ulama salaf yang ahli di bidang Hadits pun juga mengamalkan Hadits dhaif. 

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Qaul Musaddad:

 وقد ثبت عن الإمام أحمد وغيره من الأئمة أنهم قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في الفضائل ونحوها تساهلنا 

Artinya: Telah tetap dari Imam Ahmad dan imam yang lain, bila kami meriwayatkan dari Nabi tentang hukum halal dan haram, maka kami sangat selektif dalam hal sanad. Jika kami meriwayatkan keutamaan amal dan selain hukum, maka kami tidak selektif (Al-Hafidz Ibnu Hajar, Qaul Musaddad, 1/11). 

Musnad Ahmad memuat sekitar 6000 dhaif dari 27.688 sebagaimana ditakhrij oleh Syekh Syuaib Arnauth. Adab Al Mufrad karya Imam Bukhari mengoleksi hadits dhaif sebanyak 215, seperti ditakhrij oleh Syekh Albani. 

Demikian pula Muwatha’ Imam Malik dengan 333 riwayat dhaif. Jika mengaku pengikut salaf padahal ulama salaf menerima hadits dhaif, lalu ulama salaf mana yang mereka ikuti? 

2. Dalil Qiyas 

Dalam fiqih Syafi’i ada metode qiyas sebagai salah satu sumber hukum setelah Al-Qur'an, Hadits dan Ijmak. Jika kita ditanya mana dalil keabsahan qiyas? Maka jawabannya terdapat dalam firman Allah swt: 

قَوْلُهُ : { أَطِيْعُواْ اللهَ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُوْلَ } يَدُلُّ عَلَى وُجُوْبِ مُتَابَعَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ . قَوْلُهُ : { وَأُوْلِى الْأمْرِ مِنْكُمْ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ إِجْمَاعَ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ ... قَوْلُهُ : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ الْقِيَاسَ حُجَّةٌ 

Artinya: Firman Allah (ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul) menunjukkan kewajiban mengikuti Al-Quran dan Hadits. Firman Allah (dan ulil amri) menunjukkan bagi kita bahwa ijma’ umat Islam adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah (jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu...) menunjuk-kan bagi kita bahwa qiyas adalah sebuah hujjah (Tafsir Al-Kabir 5/248-251). 

Dari hasil ijtihad para ulama, bahwa qiyas ini sangat banyak sekali, mulai mengeraskan niat shalat yang diqiyaskan saat Nabi mengeraskan bacaan niat haji. Hal ini tercantum dalam sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari: 

قَالَ أَنَسٌ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ (رواه مسلم 2195) 

Artinya: Anas berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda (dalam niat Haji dan umrah): "Saya penuhi panggilan-Mu dengan Umrah dan Haji" (HR Muslim, nomor 2195). Salah satu imam mazhab empat, Imam Syafi'i pun mengeraskan bacaan niat sebelum salat. 

Hal tersebut terdapat dalam Al-Mu’jam-nya Ibnu Al-Muqri:

 أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ ، ثَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ كَانَ الشَّافِعِي إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ : بِسْمِ اللهِ مُوَجِّهًا لِبَيْتِ اللهِ مُؤَدِّيًا لِفَرْضِ اللهِ عَزَّ وَجَل َّاللهُ أَكْبَرُ 

Artinya: Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata, Imam Syafi’i ketika akan masuk dalam shalat beliau mengucapkan “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah, Allahu Akbar (Ibnu Al-Muqri, Al-Mu’jam: 317). 

3. Keabsahan Tradisi dalam Agama 

Bagi yang pernah belajar ilmu ushul fiqih dan kaidah fiqih, maka akan mengerti bahwa tradisi dapat diterima untuk diamalkan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Di antaranya adalah yang dijelaskan oleh Syekh Khatib Asy-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj:

 وَحَكَى الْمُصَنِّفُ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَالْأَذْكَارِ وَجْهًا أَنَّ ثَوَابَ الْقِرَاءَةِ يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ كَمَذْهَبِ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ ، وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ الْأَصْحَابِ مِنْهُمْ ابْنُ الصَّلَاحِ ، وَالْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ ، وَابْنُ أَبِي الدَّمِ ، وَصَاحِبُ الذَّخَائِرِ ، وَابْنُ أَبِي عَصْرُونٍ ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ 

Artinya: Al-Nawawi menyebutkan suatu pendapat Syafiiyah dalam Syarah Muslim dan Adzkar bahwa pahala bacaan al-Qur’an bisa sampai kepada mayit, seperti tiga mazhab yang lain. Pendapat ini dipilih oleh ulama Syafiiyah diantaranya Ibnu Shalah, Muhib al-Thabari, Ibnu Abi ad-Dam, pengarang al-Dzakhair, Ibnu Abi Ashrun. Inilah yang diamalkan umat Islam. Apa yang dilihat baik oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah (Mughni al-Muhtaj 11/220). 

Di bagian ini kita sering distigma dengan kalangan Tradisionalis Aswaja, atau sering disingkat Asli Warisan Jawa, dan lainnya. Sekali lagi, tradisi bisa diterima asalkan tidak ada unsur keharaman di dalamnya. 

Apakah semua bentuk kesamaan tradisi dengan agama lain tidak boleh dilakukan dalam Islam? Tidak demikian cara memahami dalil tasyabuh, tetapi harus ada kriterianya seperti yang disampaikan oleh Ibnu Najim dari Mazhab Hanafi:

 ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ التَّشْبِيهَ بِأَهْلِ الْكِتَابِ لَا يُكْرَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ وَإِنَّا نَأْكُلُ وَنَشْرَبُ كَمَا يَفْعَلُونَ إنَّمَا الْحَرَامُ هُوَ التَّشَبُّهُ فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ كَذَا ذَكَرَهُ قَاضِي خَانْ فِي شَرْحِ الْجَامِعِ الصَّغِيرِ فَعَلَى هَذَا لَوْ لَمْ يَقْصِدْ التَّشَبُّهَ لَا يُكْرَهُ عِنْدَهُمَا 

Artinya: Tasyabbuh (serupa) dengan Ahli Kitab tidak makruh dalam segala hal. Kita makan dan minum. Mereka juga sama. Haram tasyabbuh jika (1) tercela (2) sengaja tasyabbuh. Jika tidak sengaja maka tidak makruh (Al-Bahr al-Raiq, 4/74). 

4. Ibadah Mahdhah. 

Di poin keempat inilah yang paling banyak mendapat tuduhan bid’ah. Semua ibadah dianggap sama sehingga setiap ada ijtihad di dalam agama dituduh bid’ah. Bagi fiqih Syafi’i khususnya, ada ibadah mahdhah yang secara tuntunan dan pengamalan sudah final dari Nabi, sehingga tidak ada peluang ijtihad karena dalilnya sudah jelas dan gamblang, misalnya jumlah rakaat salat. 

Tidak ada cerita bahwa umat Islam, terkhusus pengikut ulama Aswaja menambah rakaat shalat Subuh menjadi 5 rakaat, jumatan jadi 10 rakaat dan lainnya. Selain ibadah mahdlah, ada juga ibadah ghairu mahdhah, yakni ibadah yang dalil umumnya ada tetapi teknis pelaksanaannya terjadi beda pendapat di kalangan ulama, misalnya jumlah rakaat Tarawih. Mayoritas mengatakan 20 rakaat, ada yang mengatakan 8 rakaat, bahkan ada yang lebih banyak, seperti dalam mazhab Maliki. 

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bidayat al-Mujtahid:

 وَذَكَرَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحْسِنُ سِتًّا وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً وَالْوِتْرُ ثَلَاثٌ … وَذَكَرَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ اْلأَمْرُ الْقَدِيْمُ : يَعْنِي الْقِيَامَ بِسِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً 

Artinya: Ibnu Qasim menyebutkan dari Imam Malik bahwa beliau menilai baik (salat Tarawih) 36 rakaat dan witir 3 rakaat… Ibnu Qasim menyebutkan dari Imam Malik bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang dahulu, yakni Tarawih 36 rakaat (Bidayat al-Mujtahid, 1/312). 

Contoh lain dari hal serupa, adalah anjuran melakukan shalat sunnah sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan. Maka Imam Ahmad selaku ulama salaf, pernah salat 300 rakaat setiap hari padahal tidak ada contoh dari Nabi saw: 

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ كَانَ أَبِي يُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَلاَثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ 

Artinya: Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399). 

Demikian pula Imam Bukhari, beliau menentukan sendiri waktu shalat istikharah padahal tidak ada ketentuan dari Nabi, yaitu saat menulis kitab Sahihnya:

 قَالَ الْفَرْبَرِي قَالَ لِي الْبُخَارِي: مَا وَضَعْتُ فِي كِتَابِي الصَّحِيْحِ حَدِيْثاً إِلاَّ اغْتَسَلْتُ قَبْلَ ذَلِكَ وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ 

 Artinya: Al-Farbari berkata bahwa Al-Bukhari berkata, saya tidak meletakkan satu Hadits pun dalam kitab sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat (Siyar A’lam an-Nubala’, 12/402). Pada ranah ini juga, pendapat Mufti Saudi membenarkan amalan Tarawih di Makkah padahal tidak dilakukan oleh Nabi saw:

 هذا عمل حسن فيقرأ الإمام كل ليلة جزءا أو أقل ... وهكذا دعاء الختم فعله الكثير من السلف الصالح ، وثبت عن أنس - رضي الله عنه - خادم النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه فعله ، وفي ذلك خير كثير والمشروع للجماعة أن يؤمنوا على دعاء الإمام رجاء أن يتقبل الله منهم 

Artinya: Khataman Al-Qur’an saat shalat Tarawih ini adalah amal yang bagus. Juga membaca doa khatam sudah diamalkan oleh banyak ulama salaf, Anas bin Malik. Bagi makmum dianjurkan membaca amin (Majmu’ Fatawa Bin Baz 11/388).

Demikianlah beberapa amalan umat Islam, khususnya kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang masih dilakukan hingga saat ini, akan tetapi kadang amalan ini sering dianggap bid’ah dan tidak mendasar dari sesama saudara semuslim yang juga berbeda pendapat.​​​​​​​

Maka diharapkan kita sebagai umat Islam harus benar-benar mempelaari ilmu dalam agama Islam secara menyeluruh (komprehensif) dan mendetail. Jangan sampai mempelajarinnya hanya sepotong-sepotong, karena dikhawatirkan akan merasa benar sendiri.

Virus Wahabi: "PERUSAK PERDAMAIAN"

Istilah "virus Wahabi" biasanya merujuk pada perubahan pola pikir dan perilaku keagamaan yang dinilai kaku dan eksklusif. Berdasar...