Minggu, 21 Juni 2020

Menertawakan kebodohan diri

Secangkir Anggur Merah (Edisi-14)
By: Nana Suryana

Ada yang mengatakan mencari sebuah kebenaran gampang-gampang susah. Menurut seorang ilmuwan eksakta 2+1 pasti 3 karena itulah kebenaran. Bagi ilmuwan sosial siapa bilang 2+1 sama dengan 3. Bagi seorang pebisnis 2+1 payah kalau cuma 3, minimal harus menghasilkan 4. Bagi seorang psikolog 2+1 sama dengan mencari masalah baru. Contoh sudah punya istri dua cemburuan ditambah satu istri lagi kan tambah puyeng guys...

Wajar jika seorang filsuf Perancis Jean Bodrillard mengatakan bahwa kebenaran adalah apa yang patut kita tertawakan . Kebenaran adalah huaa...haa...haa.....

Boleh jadi omongan atau gurauan si Jean itu benar. Apalagi di tengah hiruk pikuk persoalan hidup dan kehidupan kita dengan berondongan bencana, kebodohan,dan kemelaratan. Atau bahkan di tengah Pandemik Covid-19 yang serba terpuruk. Atau munculnya RUU HIP yang harus menerima serangkaian hujatan. Atau saling hujat antara Cebong dan Kampret. Kecurigaan Novel Baswedan terhadap Pengadilan. Bahkan saling sikut antara Rezim dan Oposan. Sampai pada saling curiga antar Negara di Laut Cina Selatan, dll.

Ah, itu cuma sandiwara dan kemeriahan dunia. Agar dunia tampak lebih warna-warni. Untuk itu tak ada salahnya bila kita tetap belajar untuk menyungging senyum ketika masalah mendera. Mencoba tertawa ketika problem mengepung. Mencoba sumringah ketika kepedihan menusuk. Dan belajar melepas ngakak ketika mental tertekan.

Jadi sesungguhnya daripada kita sibuk mencari kebenaran hakiki, yang notabene milik Sang Maha Penggenggam Hati ini, maka ada baiknya kita belajar untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Sebab menertawai kebodohan diri akan menjadi lebih punya arti. Dan lebih menusuk ke jantung hati untuk sekadar introspeksi dan tahu diri. Intinya, jangan merasa paling benar sendiri.

Apalagi jika harus dihubungkan dengan nilai spiritualitas kebenaran yang sungguh memiliki dimensi makna dan persepsi yang beragam. Saya sendiri tak paham apa itu spiritualitas kebenaran.

Yang saya fahami spiritualitas kebenaran bagiku saat ini adalah ketika para pensiunan Telkom pra 2002 terangkat kesejahteraannya. Ketika para direksi Telkom peduli pada para pengabdi dan pejuang perusahaan masa lalu. Ketika hadirnya kebijakan Telkom, Telkomsel dan anak perusahaannya untuk bisa berbaik hati mempekerjakan anak2 para pensiunannya. Ketika tak terdengar lagi bahwa ada pensiunan atau janda pensiunan Telkom menjadi pemulung atau antri berdesakan sekadar mendapatkan BLT atau Raskin.

Spiritualitas kebernaran bagiku adalah ketika para elit Telkom berhenti berpikir untuk memperkaya diri sendiri dengan cara tak benar. Ketika para pensiunan didukung Sekar berani berjuang untuk membela haknya untuk hidup sejahtera. Dan ketika perjuangan itu dilakukan dengan penuh keberanian dan kebenaran karena dilandasi kekuatan spiritual. Nah, itu!! (N425)

Filosofi dibalik Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan ke...