Di negeri tempat fajar terbenam,
Kutemukan jejak terbalik pada langkah.
Anak-anak muda menangis, merintih diam...
Sementara yang tua tertawa renyah dalam resah.
Di sini, akal budi dienyahkan,
Yang lantang bersuara, dialah pemegang pedang menjadi pemenang.
Kebenaran telah digadaikan pada kepalsuan,
Dan cinta diam-diam dikhianati dengan penuh kemunafikan.
Waktu berjalan mundur lalu menghunjam masa berlalu,
Kenangan indah bagai sejumput bayangan di masa depan.
Kita pun berlari dengan tubuh sungsang,
Mengejar sesuatu yang telah terkubur masa silam.
Sungguh keadilan di negeri ini bagai fatamorgana,
Dekat di mata, jauh dari hati nurani.
Yang bersalah bebas berlenggang,
Yang benar memikul beban.
Tuhan, adakah ini ujian atau hukuman?
Saat dunia terbalik dalam tafsir makna.
Di mana doa terucap tanpa keimanan,
Dan kesabaran hanya menjadi cerita
Bagai sebuah dongeng.
Namun di sela sungsang yang membingungkan,
Kutemukan butir hikmah yang tersembunyi:
Bahwa dalam kacaunya poros kehidupan,
MencariMu adalah satu-satunya cara tegak berdiri.
Maka biar dunia terus berpaling arah,
Aku akan berjalan dengan kakiku sendiri.
Berpegang padaMu, di tengah kisah
Kehidupan sungsang yang penuh makna.
(kgm/kigempurmudharat/awal maret2026)
