Hakikat umur bukanlah sekadar hitungan hari, tahun, atau angka usia biologis, melainkan kualitas amal saleh dan kebermanfaatan yang diisi selama hidup. Umur yang hakiki adalah waktu yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah, sementara waktu yang terbuang untuk maksiat tidak dihitung sebagai umur.
Memaknai usia
Semakin lama kita hidup, tidak terasa amanah umur yang kita dapat sebagai berkah dan nikmat dari Allah SWT juga semakin berkurang dengan sendirinya. Apapun cara kita menikmatinya, menjalaninya itu semata-mata tergantung cara kita menyikapi dan memperdulikan setiap kesempatan yang ada di hadapan kita, baik-buruknya ada dalam sikap terbaik kita menyikapinya.
Mari kita sedikit merenungkan kembali pemaknaan tentang umur kita.
Pertama, umur adalah karunia Allah SWT.
Yang wajib kita syukuri dengan sungguh-sungguh dan menggunakannya dengan segala sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Maka, barangsiapa yang tidak menggunakannya dengan baik berarti dia sudah kufur nikmat.
Kedua, umur manusia pada hakikatnya semakin berkurang.
Manusia ketika dilahirkan sudah ditentukan rezeki, jodoh, dan umurnya sehingga semakin bertambah umur berarti jatah umur yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, akan semakin berkurang. Hanya angkanya saja yang semakin bertambah. Maka berhati-hatilah dengan umur kita. Kita harus sekuat tenaga menggunakannya seoptimal mungkin agar hidup kita penuh dengan kebahagiaan dan bermanfaat.
Ketiga, umur adalah catatan hidup manusia.
Ingatlah, bahwa kita ini sedang menghitung hari. Berapa hari yang sudah digunakan untuk kebaikan amal shaleh, berapa hari yang tidak digunakan untuk amal shaleh. Sedangkan nanti diakhirat amal kita akan ditimbang. Seandainya, umur kita lebih banyak amal baiknya maka surgalah yang akan menjemput kita. Akan tetapi, jikalau amal jelek yang lebih berat maka neraka yang akan menjemputnya. Berusahalah sekuat tenaga agar hari demi hari diisi dengan amal shaleh.
Keempat, perbanyak istighfar.
Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan dosa. Karena, memang manusia itu diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berbuat baik atau berbuat jelek. Pada dasarnya semua manusia baik dan fitrah, namun setan yang terkutuk selalu menggangu dan menyeret manusia untuk menjadi temannya kelak diakhirat.
Tidak ada kata terlambat untuk kita memperbaiki diri dan bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup. Yang paling penting sekarang adalah tekad untuk memperbaiki diri. Sebelum ajal datang kita masih bisa mengawalinya sekarang juga.
Wallahu'alam...
(wag/042006)
