Senin, 01 September 2025

Polemik Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

HAMPIR tiap tahun umat Islam, khususnya di Indonesia, ketika memasuki bulan Rabiul Awal (bulan kelahiran Nabi) , disuguhi polemik tentang hukum memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammadﷺ . 

Ada yang merayakan secara besar-besaran dengan tradisi membuat majelis khusus sambil makan-makan, ada yang memperingatinya dengan berbagai cara yang dianggapnya lebih bermanfaat, namun ada pula yang melarangnya, dan menganggapnya sebagai perkara bid’ah dalam agama, yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi, zaman para sahabat nabi, bahkan di zaman tabi’in (zaman sesudah era sahabat Nabi).

Karena ia perkara bid’ah, buat apa harus dirayakan, karena tidak ada landasan hukum dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Sehingga tindakan ini dinilai tidak memiliki nilai ibadah di sisi Allah, bahkan bisa menjadi perbuatan tercela, karena melakukan amaliah yang tidak pernah diperintahkan.

Bukan Barang Baru

Sebetulnya polemik tentang perayaan Maulid Nabi sudah lama terjadi. Para ulama tempo dahulu, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Imam An-Nawawi dan banyak lainnya, yang merupakan ulama-ulama besar pada abad pertengahan sudah sering menyinggung perkara ini. Ada yang setuju dan ada pula yang kurang setuju. Jadi polemik semacam ini sebetulnya bukan barang baru.

Sayangnya, akhir-akhir ini polemik semacam ini semakin memanas, dan dapat merusak ukhuwah islamiyah yang sedang terus dibangun. Jangan sampai terjadi, gara-gara urusan memperingati Maulid Nabi, malah menghasilkan pertengkaran sesama umat Islam.

Baik pihak yang setuju mengadakan peringatan Maulid Nabi, maupun yang tidak setuju, insya Allah kedua pihak tetap sama-sama mencintai dan memuliakan junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺﷺ , selaku uswatun hasanah seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Yang berbeda hanyalah ekspresi bentuk kecintaannya yang tidak sama untuk setiap kelompoknya.

Semua pihak, sudah pasti mencintai dan besar keinginan untuk meneladani setiap perihidup Nabi, mempelajari sirah Nabi, selalu rajin membaca shalawat untuk Nabi pada setiap saat. Sejatinya, dinul Islam sudah memiliki dua hari raya yang wajib dirayakan oleh segenap pemeluknya di seluruh dunia, yaitu hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha.

Kedudukan kedua hari raya tersebut, tidak dapat diganti dan tidak ada yang dapat mengunggulinya. Kedua hari raya tersebut berbentuk perintah langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala, dan diajarkan langsung oleh junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Keberadaan kedua hari raya tersebut bersifat ibadah mahdhoh, yang pelaksanaannya bernilai ibadah dan memiliki tuntunan syariatnya. Sebagai contoh, di setiap tanggal 1 Syawal, umat Islam di manapun berada, diwajibkan mengakhiri amalan puasanya yang sudah dilaksanakan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Pada hari itu, umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat Idhul Fitri. Begitu pula ketika memasuki tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam diperintahkan melaksanakan shalat Idhul Adha dan melakukan penyembelihan hewan Qurban.

Syukurnya, semua umat Islam di seluruh dunia bersepakat akan kewajiban melaksanakan kedua hari raya tersebut. Bahkan aliran-aliran yang menyimpang dari tataran akidah Ahlus-Sunnah Wal Jamaah, terhadap urusan kedua hari raya tersebut mereka semua bersepakat.

Andaikata ada sedikit perbedaan penentuan hari raya tersebut, sehingga tidak dapat berlangsung serentak, biasanya akibat adanya perbedaan perhitungan dan metode dalam menentukan kapan sebuah hari dianggap sudah memasuki bulan Syawal dan sebagainya. Sampai saat ini, upaya-upaya penyatuan perhitungan penentuan bulan Qamariyah terus dilakukan, supaya umat Islam dapat melaksanakan hari raya secara serentak.

Perayaan Hari Besar Islam

Jadi secara makna, hari raya dan hari istimewa umat Islam, dibatasi pada dua hari raya tersebut. Sehingga secara maknawi, setiap peringatan hari-hari besar umat Islam, pada dasarnya merupakan hal yang baru dan bukan bagian dari ibadah umat Islam.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya, apakah boleh umat Islam memperingati hari -hari yang dianggap penting dan istimewa lainnya, selain kedua hari raya tersebut? Peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah dalam Islam, sangat beragam dan tertulis dalam tinta sejarah serta banyak yang menarik untuk diingat, dipelajari terus-menerus sambil diambil ibroh-nya.

Apakah akan kita biarkan, peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut? Walaupun kita juga menyadari, dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadits, sudah sarat dengan peristiwa sejarah yang wajib kita ketahui bersama. Namun untuk mengkaitkannya dengan ukuran tanggal kejadian, memang tidak ada perintahnya secara eksplisit baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits Nabi yang menyuruh mengingatnya.

Diantara peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam, adalah tanggal kelahiran Nabi Muhammadﷺ (Maulud Nabi); Nuzulul Qur’an (peristiwa pertama kali turunnya Al -Qur’an); Isro’ dan Mi’raj Nabi (Peristiwa diperjalankan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Jerusalem hingga ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh, untuk menerima perintah shalat, dalam satu malam). Bahkan masih banyak peristiwa bersejarah lainnya yang layak untuk dikenal seperti peristiwa kemenangan Perang Badar; terjadinya Perjanjian Hudaibiyah; dan peristiwa Fathu Makkah.

Sebagai contoh, peristiwa Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an) yang selalu diperingati secara sederhana setiap tanggal 17 Ramadhan. Sejatinya, peristiwa itu merupakan peristiwa yang sangat luar biasa istimewanya.

Karena pada tanggal 17 Ramadhanlah pertama kali kitab suci Al-Qur’an diturunkan yang dibawa langsung oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammadﷺ di Gua Hira (Q.S. Al-Alaq 1-5). Turunnya Al-Qur’an pada pertama kali mengandung dua implikasi besar sekaligus. Pertama, agama Islam telah lahir. Kedua, Muhammadﷺ telah diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul-Nya. Harusnya momen ini dijadikan momentum bersejarah yang paling besar dalam Islam.

Urusan menjadikan peristiwa besar dan penting untuk dijadikan momentum yang perlu diingat dan dilestarikan, ternyata juga digunakan oleh Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, ketika hendak menyusun sistem kalender Islam (Kalender Hijriah). Ketika di masa Kekhalifahan beliau, para penguasa di berbagai wilayah, setiap kali membuat surat –surat kenegaraan dan menstempelnya, selalu membubuhkan tanggal dan tahun peristiwanya, sebagai dokumen resmi.

Ternyata umat Islam, walaupun sudah memiliki kalender Qamariah (berdasar peredaran bulan), namun tidak dilengkapi tahun untuk disebutkan. Misalnya, tanggal 7 Rajab, tapi entah di tahun berapa. Akhirnya Khalifah Umar bin Khaththab bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan ini.

Banyak usulan yang masuk, termasuk menggunakan tahun kelahiran Nabi sebagai patokan awal tahun. Namun Khalifah Umar memutuskan, tahun hijrahnya Nabi dari Makkah menuju Madinah, sebagai momentum istimewa untuk dihitung sebagai tahun pertama di penanggalan hijriah, dan bulan Muharram dihitung sebagai awal bulan dalam kalender Islam.

Akhirnya Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu yang dikenal sangat cerdas, dapat meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya, yaitu sistem penanggalan Hijriah yang kita kenal hingga saat ini. Padahal peristiwa hijrahnya Nabi, sudah berlangsung belasan tahun, ketika Khalifah Umar bin Khaththab berkuasa, namun justru itu yang diterima.

Peristiwa-peristiwa besar lainnya seperti kemenangan Perang Badar, juga merupakan tonggak bersejarah yang sangat penting, dimana setelah belasan tahun umat Islam ditindas, dalam perang tersebut, umat Islam memperoleh kemenangan yang gemilang. Sampai-sampai Nabi menjanjikan semua prajurit yang ikut dalam Perang Badar, sudah dijamin syurga oleh Allah dan Rasul-Nya. Secara psikologis, dampak perang tersebut sangat besar di kalangan Muslimin, yang tadinya umat Islam merupakan masyarakat tertindas, menjadi terangkat harkat dan martabatnya di depan musuh-musuhnya dalam peperangan tersebut.

Ada banyak peristiwa besar dan bersejarah dalam Islam. Ada Perjanjian Hudaibiyah yang fenomenal, juga peristiwa Fathu Makkah, kembalinya kota suci Makkah ke pangkuan Islam tanpa ada pertumpahan darah, dimana pada saat itu manusia berbondong-bondong masuk Islam dengan mudahnya.

Itu semua adalah peristiwa sejarah yang amat penting yang perlu diingat dan diambil ibrohnya bagi setiap generasi. Faktanya para sahabat Nabi tidak pernah melakukan hal itu. Apakah ada dalil umat Islam perlu merayakan Maulid Nabi, Isra’ dan Miraj Nabi; Nuzulul Qur’an, dsb.?

Dalil tersurat perintahnya memang tidak ada. Tapi dalil sejarahnya ada. Umat Islam sedang melakukan peringatan peristiwa sejarah umat Islam sendiri.

Perstiwa sejarahnya ada, Nabi ﷺ dilahirkan di tanggal 12 Rabiul Awal; Nuzulul Qur’an dipercayai jatuh di tanggal 17 Ramadhan; Isra dan Mi’raj Nabi jatuh di tanggal 27 Rajab, dsb. Karena yang diperingati adalah peristiwa sejarah, dalilnya adalah fakta sejarahnya. Perkara orang mau memperingati atau tidaknya, itu adalah perkara mubah (tidak disuruh tapi tidak dilarang).

Yang merasa perlu memperingati silakan saja, yang tidak merasa perlu memperingati juga silakan. Tidak ada jaminan yang rajin memperingati Maulid Nabi, kecintaannya terhadap Nabi lebih tinggi dibanding yang tidak memperingatinya, begitu pula sebaliknya.

Pengakuan boleh-boleh saja, tapi yang mengetahui kadar keimanan dan kecintaan kita terhadap junjungan Nabi, adalah Allah SWT. Tidak sepatutnya kita berdebat akan hal ini. Kenapa kita harus bertengkar untuk perkara mubah, yang tidak disuruh dan tidak dilarang tersebut?

Kalau ukuran peringatan sejarah menggunakan dalil tidak dilakukan oleh para sahabat, jangan lupa, beliu semua adalah pelaku sejarah itu sendiri. Para sahabat ada di dalam peristiwa sejarah tersebut, jadi mereka tidak perlu harus memperingatinya.

Tapi buat generasi yang hidup jauh di zaman Nabi, yang tidak merasakan hidup bersama Nabi, tidak merasakan pahit dan getirnya perjuangan menjaga agama ini, barangkali dengan memperingati akan lebih menyelami dan menghayati episode sejarah di zaman Nabi, dan syukur-syukur dapat mengambil pelajarannya. Jadi memperingati momen yang dianggap bersejarah adalah hak mereka, yang tidak pantas untuk dipersoalkan oleh sesama umat Islam.

Begitu pula dalam memperingati hari besar Islam lainnya, temanya selalu dikaitkan dengan momentum sejarah dan kebutuhan masa kini. Peringatan hari besar Islam dan peristiwa-peristiwa penting hanyalah mubah sementara hukum ukhuwah itu justru yang wajib. Sebagaimana Al-Quran mengatakan, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.. [QS: Ali Imrân [3]:103].

Selama peringatan itu tidak mengandung unsur syirik, masih berisi dakwah, “peringatakan Maulid dipandang perlu diselenggarakan” jika dinilai mengandung manfaat untuk kepentingan dakwah Islam, meningkatkan iman dan taqwa serta mencintai dan meneladani sifat, perilaku, kepemimpinan dan perjuangan Nabi Muhammad ﷺ. 
(Tim Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah, dalam Suara Muhammadiyah Jilid IV, Cetakan Ketiga, halaman 271-274, Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Tahun Ke-90 16-30 Juni 2005 dan juga di Majalah Suara Muhammadiyah No. 1 Tahun Ke-93 1-15 Januari 2008).

Jadi kenapa kita semua masih terus berselisih?*
(Tohir Bawazir/hidayatullah.com)

Direktur Penerbit Pustaka Alkautsar

Jumat, 08 Agustus 2025

AQIDAH ISLAM YG BENAR: ALLAH ADA TANPA TEMPAT ( IMAM SYAFI'I)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. ( Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36 ).

إنه تعالى كان ولا مكان

“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat”
Maksudnya : Allah telah ada tanpa permulaan atau di sebut azali atau qadim, dan belum ada tempat seperti ‘Arasy, langit, bumi, dan segala makhluk lain nya, Allah ta’ala sudah sempurna dengan segala sifat-Nya yang azali sebelum ada apa pun selain-Nya, sifat-sifat dzat Allah tidak lantas bertambah ketika Allah menciptakan makhluk-Nya.

فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية

“maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya”

Maksudnya : kemudian Allah menciptakan tempat, artinya bukan tempat Allah, tapi menciptakan makhluk-Nya yang di sangka itu adalah tempat Allah oleh orang-orang yang berprasangka buruk terhadap Allah, tetapi Imam Syafi’i menepis prasangka tersebut, beliau berkata allah tetap atas sifat azali-Nya, artinya sekalipun setelah ada makhluk-Nya, Allah tetap bersifat dengan sifat-sifat azali-Nya, tidak ada sifat yang bertambah bagi Allah setelah adanya makluk-Nya, karena sifat yang baru ada setelah adanya makhluk itu juga termasuk makhluk.

كما كان قبل خلقه الـمكان

“sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat”
Maksudnya : Sebagaimana Allah ada sebelum adanya makhluk, dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, begitu juga Allah dan sifat-Nya setelah adanya makhluk, adanya makhluk tidak dapat memberi pengaruh apa pun terhadap dzat dan sifat Allah, Allah maha sempurna jauh sebelum adanya makhluk.

لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”

Maksudnya : tidak boleh (mustahil) ada perubahan pada dzat dan sifat Allah, tidak terjadi perubahan pada Allah bukan berarti itu kelemahan atau kekurangan Allah, tapi justru bila berubah, dapat menimbulkan kekurangan bagi Allah, karena Allah maha sempurna, berubah dari sempurna tentu dapat kekurangan bagi-Nya, dan setiap perubahan adalah makhluk, karena tidak ada yang dapat berubah dengan sendiri nya kecuali Allah yang menciptakan perubahan tersebut, sementara Allah adalah khaliq, bukan makhluk.

Maka dengan memahami perkataan Imam Syafi’i di atas, dapat pula kita pahami Aqidah Imam Asy-Syafi’i bahwa Imam Syafi’i meniadakan tempat bagi dzat Allah, Allah ada tanpa arah dan tempat, inilah hakikat aqidah ulama salaf, sangat bertolak-belakang dengan aqidah Salafi-Wahabi, yang menduga ‘Arasy adalah tempat persemayaman Tuhan, padahal ‘Arasy juga makhluk-Nya, yang baru ada ketika diciptakan oleh-Nya, dan sifat-sifat kesempurnaan Allah telah ada sebelum adanya ‘Arasy dan segala makhluk lain nya.
Wallahu'alam Bishawab
Maha suci Allah dari Arah dan tempat.

Jumat, 18 Juli 2025

DATA MENGEJUTKAN. WAHABI BOLEH JADI KELAK MENJADI PENGIKUT DAJJAL


Dajjal, digambarkan dalam hadis-hadis Nabi sebagai seorang pendusta yang sebelah matanya buta, tertulis di keningnya huruf kaf fa’ dan ra’ (ك ف ر). Kemunculannya pertanda kiamat sudah sangat dekat. Dia menjadi fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Sampai-sampai, setiap Nabi yang diutus, mengingatkan umatnya tentang fitnah Dajjal.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بُعِثَ نَبِيٌّ إِلَّا أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الأَعْوَرَ الكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ

“Tidaklah diutus seorang nabi, melainkan dia mengingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, sang pendusta. Ketahuilah Dajjal itu buta sebelah dan Tuhan kalian tidak buta sebelah. Diantara dua matanya tertulis: Kafir” (HR. Bukhari 7131).

Suatu yang menarik, ternyata Dajjal adalah sosok raja yang ditunggu-tunggu oleh sekelompok aliran agama. Siapakan mereka? Yahudi!

Iya, orang-orang Yahudi meyakini Dajjal sebagai raja yang akan menguasai lautan dan daratan. Mereka juga meyakininya sebagai salah satu tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah.

Orang-orang Yahudi menamainya dengan nama Al-Masih bin Dawud.

Perbedaan yang sangat mencolok antara mukmin dan yahudi. Orang-orang beriman, menunggu kedatangan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sementara mereka menunggu sang pendusta yang buta sebelah, penebar fitnah, yang bernama Dajjal.

Bukti wahyu yang menunjukkan informasi ini, adalah hadis dari sahabat ‘Utsman bin Abil ’ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

أكثر أتباع الدجال اليهود و النساء

“Kebanyakan pengikut Dajjal, adalah orang yahudi dan kaum wanita” (HR. Ahmad, dalam musnad beliau 4/216-217).

Dalam hadis yang lain, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan,

يتبع الدجال من يهود أصبهان سبعون ألفا عليهم الطيالسة

“Dajjal akan diikuti oleh 70,000 Yahudi dari Asfahan, mereka memakai thayalisah” (HR. Muslim 2944).

Thayalisah adalah selendang yang dipakai di pundak, menyerupai baju/jubah, tidak memiliki jahitan.

(Lihat keterangan ini di catatan kaki hal. 253, dari kitab Al-Qiyamah As-Sughra)

Dan menariknya, salah satu wilayah di kota Asfahan, dahulu ada yang disebut-sebut desa Al-Yahudiyah. Karena dahulu wilayah tersebut hanya dihuni oleh orang-orang Yahudi. Hal ini terus berlanjut sampai di zaman Ayub bin Ziyad, gubernur Mesir di zaman Khalifah Al-Mahdi bin Mansur dari dinasti Abbasiyah (Lihat: Lamaawi’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 2/107).

Kelak, Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi Isa ‘alaihissalam di daerah Palestina. Demikian pula beliau akan memimpin peperangan memberangus para pengikutnya.

Kemunculan Dajjal

Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman, di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.

Dalam hadits disebutkan :

قام رسول الله صلى الله عليه و سلم في الناس فأثنى على الله بما هو أهله، ثم ذكر الدجال فقال: ” إني لأنذركموه، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه

“Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudian beliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal, tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari : 6705)
Dalam hadits lain, Nabi bersabda :

ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال

“Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (HR. Bukhari : 1782).

Pada kesempatan ini, saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal. Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal, namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah umat Nabi Muhammad lainnya, mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran. 

Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya ? simak uraiannya berikut :

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)
Nabi juga bersabda :

سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ

“Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. 

Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.(Sunan Abu Daud : 4765).

Nabi juga bersabda :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة

“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari 3342).

Dalam hadits lain Nabi bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبَادَهُمْ وَأَرَاحَنَا مِنْهُمْ

“Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :

كَلاَّ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ مِنْهُمْ لَمَنْ هُوَ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ لَمْ تَحْمِلْهُ النِّسَاءُ وَلِيَكُوْنَنَّ آخِرَهُمْ مَعَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّال

“Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.

Penjelasan :

Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan sebagai berikut dalam hadits-haditsnya di atas :

1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannya artinya tidak membawa bekas dalam hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menjadi pengikut dajjal.

Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.

Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut?? Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam. 

Ciri mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya, justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??

Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk, mereka jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran tanpa ada adabnya sama sekali.
Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. 

Mungkinkah Wahabi Pengikutnya?

Tanda mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini, kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada Al-Quran. Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? 

Sebab merekalah satu-satunya kelompok yang dikenali dikalangan awam yang selalu teriak mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari mereka. Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok khawarij lainnya.

Tanda mereka adalah bercukur gundul, Hal ini menambah keyakinan kita bahwa yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain kelompok wahabi ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah. 

Namun kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.

Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah, Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Kemunculan kaum ini ada di akhir zaman sebagaimana hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya.

Namun apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ?? berikut kajian dan analisa ilmiahnya :

Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tsyabih.

Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung, tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.

Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya. Mereka meyakini Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka Arsy kosong dari Allah namun menurut pendapat kuat mereka Arasy tidak kosong dari Allah. Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari pensifatan mereka bahwa Allah berjisim..

Nah, demikian juga dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya, bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya, dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat, memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim derajat tajsim.

Sabtu, 05 Juli 2025

Awal Serangan Terhadap Tarekat

Firman Allah ta’ala:

لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْاۚ...۝٨٢

“Orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...” (QS. Al Maaidah: 82).

Salah satu contoh penghasutan untuk saling memusuhi pada masa keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai "Laurens Of Arabian."

Hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Edward Terrence Lawrence (Laurens Of Arabian) adalah seorang orientalis sedunia, telah membuat kajian-kajian tentang puncak-puncak kekuatan umat Islam dan didapati bahwasanya kekuatan umat Islam adalah karena di barisan depannya terdiri dari ahli-ahli tasawuf dan ahli-ahli tharikat. 

Mereka adalah orang-orang yang paling gigih menentang penjajahan dan menangkis kepura-puraan yang ditaburkan oleh musuh-musuh Islam. Laurens telah membuktikan hujjahnya dengan sejarah, bagaimana gerakan tharikat Idrisiah di Maghribi (Maroko) berhasil dengan gemilang merebut kemerdekaan dari penjajajah. Raja-raja kerajaan Osmaniah dan para tentaranya adalah terdiri dari ahli-ahli tharikat. Mereka berkhalwat beberapa hari sebelum keluar berperang.

Selain itu pihak orientalis atas arahan pihak kolonial telah menyelidiki juga tharikat-tharikat, antara lain Idrisiah di Libya dan beberapa negara Islam lainnya, termasuk kepulauan Melayu oleh Snouck Hurgronje orientalis Belanda di Indonesia. Hasil kajian dan laporan yang diberikan kepada pemerintah kolonial itulah yang menyebabkan lahirnya kecurigaan terhadap gerakan tharikat dalam Islam.

Laurens Of Arabian telah diarahkan supaya menyelidiki ke dalam masyarakat Islam dengan menyamar sebagai ulama dan mendalami ilmu Islam di Mekah dan Mesir dan ia telah bertemu dengan ratusan ulama besar yang masyur, memperbincangkan tentang cara untuk membiasakan umat Islam di segi kemajuan dunia seperti kebiasaan barat serta ia menyebarkan faham supaya umat Islam tidak terikat dan tidak fanatik kepada aliran mazhabiah.

Pihak penjajajah memandang gerakan tharikat berbahaya bagi kekuasaan mereka. Untuk menyekat dan menghapuskannya.

Prof. Haji Abu Bakar Acheh dalam bukunya Syariat telah menyampaikan puncak timbulnya ordinan’s guru tahun 1925 di Indonesia. Melalui bukunya beliau menuturkan, bagi guru-guru agama yang hendak mengajar agama terutamanya bidang tarikat hendaklah mendaftarkan diri dan mendaftarkan sekaligus kitab-kitab yang hendak diajarkan.

Laurens Of Arabian mengupah seorang ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis. Akibatnya kerajaan Arab Saudi setelah diambil alih oleh pemimpin yang merasuki pemahaman Wahabiah telah mengharamkan Tasawuf dan Tharikat. Sedangkan di situlah (Mekah dan Madinah) asal mulanya pusat gerakan tharikat. 

Aliran faham anti tasawuf dan tharikat itu telah menguasai di pusat-pusat pengajian di Timur Tengah dan pusat pengajian di Eropa, sehingga para pelajar termasuk di negara ini yang sekarang telah bergelar ulama mengikuti aliran itu.

Selain menggunakan media masa (buku dan majalah) untuk menghapuskan tharikat sufi, pihak musuh Islam juga menggunakan berbagai cara lain, diantaranya mereka menciptakan tharikat sesat (palsu) dan menyelewengkan tharikat yang sebenarnya dengan menyelundupkan ajaran-ajaran mereka ke dalam gerakan tharikat. Ajaran mereka itulah yang mendakwa konon mendapat wahyu, dilantik menjadi nabi, menjadi Nabi Isa, Imam Mahdi dan lain sebagainya. Di antaranya yang jelas kepada kita adalah gerakan Qadiani, Bahai, Ismailiah di India, pimpinan Agha Khan dll.

Gerakan tharikat sesat (palsu) telah dikembangkan di seluruh dunia dan ini menjadi alasan bagi ulama anti tharikat untuk menguatkan hujjah mereka bahwa tharikat bukanlah ajaran Islam termasuk bertawassul itu suatu perbuatan sirik. Gerakan tharikat sesat tersebut tidak mustahil datang (tersebar) di negara kita sehingga merusak tharikat yang sebenarnya. Akibatnya pihak yang berwenang melakukan penyelidikan atas tharikat sesat tersebut kemudian membuat kesimpulan menyalahkan semua tharikat-tharikat yang ada termasuk tharikat yang haq.

Berikut ini beberapa buku yang bisa anda baca terkait pernyataan diatas dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006).

Semoga bermanfaat,
(wagroup/noname/2025)


Tip Seorang Direktur Rumah Sakit Bagi Lansia

Banyak 'Penyakit' bukanlah Penyakit, melainkan Penuaan Normal. Seorang Direktur Rumah Sakit memberikan Tips ini kepada orang Lanjut...