Wahai manusia, kau purnama di mata,
Namun di dada, ular pula yang nyata.
Di bibir manis, madu tersusun kata,
Di belakang, tikam sembunyi tersurat.
Kau tegakkan sembahyang di ruang tinggi,
Tunduk serendah-rendahnya di mimbar suci.
Namun hatimu laksana serigala jadi,
Menerkam yang lemah, saat senja pergi.
Air mukamu berkilat bak kaca,
Menepuk dada, mengaku hamba yang sempurna.
Namun jika untung atau kuasa terlepas dari mata,
Tersingkaplah sudah, rupa iblis yang ternyata.
Husnuzon kau puji dengan suara lantang,
Amal saleh kau hitung dengan terang.
Namun dosa sendiri kau sembunyikan dalam selubung kepalsuan,
Laksana kumbang puji bunga, tapi isap madu sembunyi-sembunyi.
Wahai yang memungut kayu di malam buta,
Sembunyikan diri, tapi bau tetap tercium jua.
Sesungguhnya kain tak mampu membungkus api,
Pasti hangus hatinya sendiri, sebelum badan membeku mati.
Maka jadilah engkau pohon di tepi jalan,
Jujur pada akar, teduh tanpa kepalsuan.
Kerana kemunafikan itu penyakit yang sukar diubati,
Membinasakan ruh, sebelum jasad dikubur mati.
