Kamis, 26 Maret 2026

Wahabi, Merasa Paling Benar



Kalau Wahabi bisa mengartikan hadis dan firman secara kafah, maka Insyaallah dia tidak akan merasa paling benar..
AMALIAH ITU ADA DALILNYA, BUKAN SEKEDAR NAMA.

Seringkali orang hanya melihat nama amalan, lalu langsung memvonis tanpa memahami isi dan dalil di dalamnya. Padahal dalam agama, yang dinilai bukan labelnya, tapi substansi amalan tersebut.

Contoh sederhana, ketika ada yang mempermasalahkan maulid, tahlil, atau dzikir berjamaah. Pertanyaannya: apakah yang dibaca di dalamnya bukan Al-Qur’an, bukan shalawat, bukan doa? Kalau isinya semua dianjurkan dalam syariat, lalu bagian mana yang dianggap menyimpang?

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Apakah ayat ini membatasi harus sendiri-sendiri, atau justru umum mencakup berjamaah juga?

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim).

Bukankah mengumpulkan orang untuk dzikir, doa, dan membaca sejarah Nabi termasuk menunjukkan kepada kebaikan?

Tentang berkumpul untuk dzikir, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat mengelilingi mereka…” (HR. Muslim).

Lalu kalau orang berkumpul membaca tahlil, dzikir, dan doa, kenapa dianggap tidak ada dalil?

Begitu juga dengan shalawat. Allah sendiri yang memerintahkan: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi…” (QS. Al-Ahzab: 56).

Kalau diperbanyak, dilantunkan, bahkan diiringi sebagai sarana agar orang cinta Nabi—di mana letak larangannya?

Masalah tawassul juga sering disalahpahami. Dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 35).

Para ulama menjelaskan bahwa wasilah itu luas, termasuk doa dengan menyebut orang shalih, bukan menyembah selain Allah.

Kemudian soal amalan baru (bid’ah), tidak semua otomatis sesat. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata tentang tarawih berjamaah: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Artinya, sesuatu yang tidak dilakukan secara bentuk di zaman Nabi, tapi isinya sesuai syariat, bisa diterima.

Jadi yang perlu dipahami:
Amalan itu dilihat dari isi dan dalilnya, bukan dari nama atau kemasan luarnya.
Kalau semua yang tidak ada di zaman Nabi secara bentuk langsung ditolak, maka banyak hal baik hari ini juga harus ditolak. 

Padahal para ulama sejak dulu sudah menjelaskan adanya perkara baru yang baik (bid’ah hasanah) selama tidak bertentangan dengan syariat.

Akhirnya, yang jadi pertanyaan:
Apakah kita benar-benar menilai dengan ilmu, atau hanya dengan asumsi dan prasangka?
Karena yang berbahaya bukan banyaknya amalan, tapi sempitnya pemahaman.
(group/fb/0326)

Wahabi, Merasa Paling Benar

Kalau Wahabi bisa mengartikan hadis dan firman secara kafah, maka Insyaallah dia tidak akan merasa paling benar.. AMALIAH ITU ADA DALILNYA,...