Belakangan ini, jari telunjuk kelompok Wahabi-Salafi seolah tak pernah lelah menunjuk ke arah Iran dengan label "kafir", "Majusi", atau "Sempalan". Narasi kebencian ini dijual dengan sangat murah di media sosial: seolah-olah Iran dan wilayah Persia adalah lubang hitam peradaban yang hanya melahirkan kesesatan.
Namun, mari kita gunakan sedikit akal sehat—barang langka yang sering kali dibuang demi ketaatan buta pada syekh-syekh berjanggut panjang.
Jika kalian begitu benci pada Iran dan Persia, apakah kalian sudah siap membakar kitab-kitab hadis yang kalian peluk setiap hari?
Ironi Kutubus Sittah: Mencaci Rumah, Mengambil Isinya.
Sangat menggelitik melihat seseorang yang menjuluki diri "Ahli Sunnah" tapi di saat yang sama mengutuk tanah kelahiran para Imam Hadis.
Tahukah kalian bahwa fondasi hukum Islam yang kalian bangga-banggakan itu disusun oleh rahim-rahim perempuan Persia dan Khurasan?
Mari kita segarkan ingatan yang mungkin tertutup debu fanatisme:
- Imam Muslim lahir di Nishapur, Iran.
- Imam Abu Dawud lahir di Sistan, perbatasan Iran.
- Imam Ibnu Majah lahir di Qazvin, Iran.
- Imam An-Nasai dan Imam At-Tirmidzi berasal dari wilayah budaya Persia Raya (Khurasan).
Bahkan Imam Bukhari, sang legenda, lahir di Uzbekistan yang secara historis merupakan wilayah pengaruh intelektual Persia.
Jika Iran hari ini kalian anggap sebagai sumber kesesatan total, lantas bagaimana kalian mempertanggungjawabkan hadis-hadis yang kalian kutip dari ulama-ulama yang menghirup udara yang sama di sana? Apakah kesalehan hanya milik bangsa tertentu saja?
Kecurigaan Besar: Ada Apa di Balik Label "Kafir"?
Sikap "pokoknya Iran kafir" ini memicu kecurigaan besar. Apakah ini murni masalah akidah, atau sekadar proyek politik untuk menjaga dominasi narasi Timur Tengah tertentu?
Mengapa kelompok Salafi-Wahabi begitu gigih menghapus jejak sejarah bahwa Islam yang kita kenal hari ini—mulai dari kodifikasi hadis hingga sistematisasi fiqih—sangat berhutang budi pada intelektualitas Persia? Dari Imam Abu Hanifah yang berdarah Persia, hingga raksasa mazhab Syafi’i seperti Imam Al-Ghazali (Tus, Iran) dan Imam Al-Juwaini.
Jangan-jangan, tuduhan "kafir" ini adalah bentuk insecure intelektual. Karena jika umat Islam sadar bahwa Islam tidak akan lengkap tanpa kontribusi besar ulama-ulama dari wilayah Persia, maka narasi "Islam murni hanya milik kelompok kami" akan runtuh seketika.
Logika yang Terbalik
Kalian mengagumi Al-Muhadzdzab karya Syeikh Abu Ishaq ash-Shirazi (Shiraz, Iran), kalian belajar tafsir dari Fakhruddin ar-Razi (Rayy, Iran) dan Imam Al-Tabari (Amol, Iran), tapi di saat yang sama kalian berteriak bahwa wilayah itu adalah sarang setan.
Ini bukan hanya standar ganda; ini adalah skizofrenia sejarah.
Menuduh seluruh Iran sebagai "Syi'ah Kafir" tanpa melihat sejarah panjang bagaimana tanah itu melahirkan pilar-pilar Sunnah adalah tindakan yang dangkal dan kurang piknik literasi.
Menuduh seluruh Iran sebagai "Syi'ah Kafir" tanpa melihat sejarah panjang bagaimana tanah itu melahirkan pilar-pilar Sunnah adalah tindakan yang dangkal dan kurang piknik literasi.
Kesimpulan:
Berhentilah menjadi "polisi akidah" yang amnesia sejarah. Jika kalian ingin mengafirkan Iran secara membabi buta, silakan buang dulu kitab Shahih Muslim dan Sunan Ibnu Majah dari rak buku kalian. Jika tidak, kalian hanyalah sekumpulan orang munafik yang memakan buah dari pohon yang akarnya kalian coba tebang sendiri.
Islam itu luas bung!, membentang dari Samarkand hingga Andalusia. Jangan kerdilkan Islam hanya sebatas kebencian politik yang dibalut jubah agama.
