Senin, 09 Desember 2019

Meluruskan Kisah Syech Siti Jenar

Ketika kita mendengar nama Syech Siti Jenar, mungkin dalam benak kita tergambar sosok seorang sufi yang nyeleneh, sakti, pembangkang dan bahkan sesat. Menganggap dirinya adalah Tuhan (manunggaling kawula gusti), sehingga kehadirannya memang pantas mati. Kematiannya pun bahkan harus di tangan wali Allah lainnya. Begitulah kisah yang sering kita dengar, terutama di kalangan kaum salik, peminat tasawuf atau kaum tarekat. Bahkan lebih dipertajam dan seolah dibenarkan melalui pembuatan film layar lebar.

BEnarkah citranya seperti itu. Padahal Syech Siti Jenar, sejatinya adalah salah seorang Waliyullah di tanah Jawa. Namun begitu banyak cerita yang aneh-aneh dan bahkan tidak masuk akal tentang syech yang dikenal dengan Syech Lemah Abang ini. Tampaknya, ada untaian sejarah Syech Siti Jenar yang patut diluruskan.

Siapa Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama, antara lain: San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, tapi bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyaf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang di Cirebon, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan).

Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang. Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar 5 tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; Juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangeran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon,S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung(nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.

Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).

Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas daribelenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgnTuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.

Asal Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi KeradjanTjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, PurwakaTjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya,Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani SyaikhSyekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; SartonoKartodirjo dkk, [i] Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; BabadBanten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis,‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol,1817).

Dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku. Lemah Abang sekarang diabadikan menjadi desa dan sebua hkecamatan di kabupaten Cirebon dan kecamatan Lemah Abang dimekarkan menjadi kecamatan Lemah Abang, kecamatan Japura, kecamatan Sedong, kecamatan Greged, kecamatan Susukan Lebak.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurang jelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.

Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan olehpenguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,

“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded,sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusunLemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasaldari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyatjelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal darikalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka,Syekh Datuk Shalehbin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘AbdullahKhannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddinadalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalahseorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam.Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindahdari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilahyg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin danSyekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. DiTanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.

Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.

Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf.Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.

Padepokan Giri Amparan Jati

Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi,pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat d iCirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus]

Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq.

Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.

Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari“sangkan-paran” dirinya.

Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphalawarisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalahproses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, DiaYang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalamkondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dariniskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala danmelebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebasdari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemuiAria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri MaulanaIbrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan,Kampung Pedamaran.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.

Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgnpara bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa SanAli untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong.Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajariberbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengahgelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agamaIslam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka inipula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini,Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an SyekhDatuk ‘Abdul Jalil.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh SitiJenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utamapendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalahlembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelanmakhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalanrohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun(penghalang akal dan nurani).

Pencerahan Rohani di Baghdad

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlulbait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuatsegera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.

Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulamaMalaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan.Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalananrohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dansegala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidakterlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untukmengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allahitu optimal bekerjadalam dirinya.

Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari DewanWali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itupemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensiperbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justruperbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia,sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwasemua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satusumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.

Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud.Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluargaal-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semuakitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi.Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, ygdi kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi darial-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nyaal-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nyaal-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi(1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), danal-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenarsudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili,merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.

Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallajdan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Walimenyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memangmengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada pahamImam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskanajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan keberbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karyaSyekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak.Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesanpada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyahdan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurnadalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitabtersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.

Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawamenyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titikpangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalamteologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistikal-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya ygmemiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dansecara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangatsederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting,memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, sertayg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruhketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaranserta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaandan politik di Jawa.

Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkankonser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalahrumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkandirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdadsejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi ygterkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id(memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telahtersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); danlawami’(mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyatmelalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu ygmembuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf danberbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenarmendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj,Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgnsendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyianeh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni(mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku,sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membacadzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar,fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagaicerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai disini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah“al-Insan sirriwa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadiral-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, danal-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian,ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernahmengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhirhayat secara biasa.

Dikutip dari tulisan Ustadz Shohibul Faroji Al-Robbani mencatat, setidaknya ada5 mitos Yang Salah Tentang Wali Allah syech (syaikh) Siti Jenar, yaitu :

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing.

Sepertinya hanya orang-orang berpikiran irrasional, yang mempercayai adaseorang manusia, yang berasal dari seekor cacing. Syaikh Siti Jenar adalahmanusia biasa, beliau dilahirkan di Persia pada tahun 1404M, dengan nama SayyidHasan ’Ali Al-Husaini.

Ayahnya bernama Sayyid Sholih, yang pernah menjadi Mufti Malaka di masapemerintahan Sultan Muhammad Iskandar Syah.

Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara;Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangatpopuler tersebut dibantah secara tegas :

“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded,sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusunLemahbang.”

[Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing,itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata,bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh SitiJenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidakberdasar alias ngawur.

Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk SyaikhSiti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangatberbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in HaalikunIlla Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali DzatAllah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

Di dalam perjalanan hidupnya, pada tahun 1424M, terjadi perpindahan kekuasaandari Sultan Muhammad Iskandar Syah, kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaliguspergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada SyaikhSyamsuddin Ahmad.

Maka pada sekitar akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinyapindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu SayyidKahfi bin Sayyid Ahmad.

Melalui Sayyid Kahfi, Siti Jenar memperlajari Kitab-Kitabseperti Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya AbdulKarim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karyaImam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasinkarya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quthal-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampelselama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannyasebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad AbdullahBurhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’ufSinkiliy, dan lain-lain.

3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkanSholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb.

Sejak kecil Syaikh Siti Jenar berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidangAl-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafalAl-Qur’an di usia 12 tahun.

Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 menulis, “Saya bergurukepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala sayasendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnahyang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa.Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membacaShalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa YaumulBidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.

4. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong.

Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatandahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Wali Songo adalah penegakSyari’at Islam di tanah Jawa, di dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwaIslam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuhseorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah.

5. Beberapa penulis telah menulis bahwa setelah kematiannya, mayat SyaikhSiti Jenar, berubah menjadi anjing.

Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, dimana seseorang yang menyebutSyaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulismenuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih.

Berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercayakewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisisedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholatTahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholatshubuh.

Jadi Karena tingginya kearifan bahasa budi seseorang dalam adat jawa terkadang segala sesuatu digambarkan secara halus bukan dalam harfiah kasar danmereka yang mau berpikr sajalah yang bisa memahami dan menangkap makna yangterkandund dalam ungkapan.

Sejarah Islam di negeri ini harus diluruskan, karena Islam adalah agama pembawa ketentraman bukan agama pembuat kehancuran, karena masuknya penjajah di negeri ini yang ratusan tahun banyak kebenaran dan salah tentang fakta sejarah tentang islam dinegeri ini. dan sekarang pun selalu mencari dan dicari orang tentang kesalahan untuk mengkerdilkan umat islam..walau Islam dan muslim hidup dingeri muslim yang sejarah islamnya paling damai dan luhur.

DAN HANYA ALAAH SWT YANG MAHA MENGETAHUI
(Dari Berbagai Sumber)