Minggu, 19 Juli 2026

Sajak Sebilah Pisau Bengkok


Hukum di negeri ini, kawan,
bagai pisau dapur ibumu
yang hanya tajam untuk memotong sayur
tetapi tidak pernah untuk memotong kursi.

Ah, kursi!
Kursi itu bertengger di singgasana.
Kursi itu tempat  duduk yang berjas rapi berdasi sutra.
Kursi  itu yang kerap bersaksi tentang ketertiban dan keadilan
tempat berongkang kaki kaum pendusta
seraya menginjak leher buruh pabrik
yang mogok meminta segenggam beras.

Hukum itu tajam ke bawah, kawan!
Benar-benar tajam!
Tajam seperti pandangan mata setan,
tajam seperti silet yang mengiris kelopak mata
untuk membangunkan gadis kecil yang ketakutan
di tengah malam buta.

Hukum tajam untuk si penjual kacang
yang kakinya terpincang berjalan sepanjang hari.
Hukum tajam untuk si pengemudi angkot
yang keringatnya membasahi setir.
Hukum tajam untuk si pemulung
yang mencari plastik bekas di bawah jembatan.
Hukum tajam untuk perempuan tua
yang mencuri tiga butir labu
karena perutnya sudah berteriak meminta ampun.

Tapi lihat lah ke atas, kawan!
Lihat lah ke atas!
Di sana, di lantai marmer yang dingin,
hukum berubah menjadi kapas.
Kapas lembut yang menyumbat telinga para hakim,
kapas halus yang membalut luka para koruptor,
kapas tebal yang menutup mulut para saksi
yang seharusnya berteriak pada fakta yang benar.

Tuan-tuan yang duduk di kursi rotan!
Kalian tahu siapa saya!

Saya adalah Ki Gempur Mudharat yang melihat
dengan mata kepala sendiri.
Saya melihat perampok bertopi dinas
membawa kabur uang rakyat
dan hukum hanya tersenyum manis
sambil menyilangkan dan bergoyang kaki di ruang sidang.

Saya melihat jenderal pensiunan
bermain catur dengan keadilan
dan keadilan kalah di langkah ketiga
karena wasitnya adalah teman makan siangnya.

Saya melihat pengusaha tambang
yang meracuni sungai anak-anak desa
lalu diberi medali oleh negara
karena dianggap berjasa menambah devisa.

Oh, di mana kau, Keadilan?
Kau adalah perempuan tua buta
yang pedangnya telah digadaikan
dan timbangannya dimakan rayap.

Kau berdiri di tengah pasar
tapi kau hanya patung bisu
sementara para saudagar besar
saling bertukar koin suap
di bawah mejamu yang kusam.

Tajam ke bawah, tumpul ke atas!
Begitulah lagu lama yang terus dinyanyikan
oleh para penguasa dari masa ke masa.

Mereka menggergaji tulang si miskin
dengan gergaji yang bernama Pasal,
tetapi untuk daging mereka sendiri,
mereka memiliki selimut yang bernama Penangguhan.

Maka berlarilah, kawan!

Larilah ke bawah?
Tidak! Ke bawah jurang sudah menunggu.

Larilah ke atas?
Langit pun telah dijual kepada investor asing.

Larilah ke dalam?
Hati kita sudah terlalu penuh dengan amarah.

Biarlah!
Biarlah hukum tetap tumpul di atas!
Karena palu hakim yang tumpul itu
pada suatu hari akan memukul kepalanya sendiri
ketika rakyat yang tertindas bangkit
menjadi penggiling pedang.

Ya, kita akan menggilingnya!
Menggiling pisau bengkok itu
di atas batu gerinda yang terbuat dari
tulang-tulang pahlawan yang gugur.
Hingga tajam kembali!

Tapi kali ini, tajam ke mana saja!
Tajam ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan,
dan terutama, kawan, terutama...
tajam ke tengah-tengah kerakusan mereka!

Biarkan darah mereka berwarna hitam
mengaliri selokan sejarah.
Karena di negeri ini,
kita sudah terlalu lama
menjadi korban dari senjata yang diasah
hanya untuk melukai orang kecil.

Hentikan!
Atau biarkan waktu yang menghentikannya.

Tapi ingat, kawan,
pedang yang tumpul di atas
adalah pedang yang paling berbahaya
karena ia tidak terasa menusuk
sampai kematian menyapa dari ujungnya.

Ki Gempur menulis ini dengan bertinta darah,
di atas screen yang terbuat dari mimpi.
Bukan untuk didengar oleh mereka,
tapi untuk diingat oleh kita.

Bahwa pada suatu masa,
hukum adalah seekor anjing piaraan
yang menggigit kaki pengemis,
tetapi menjilati tangan pencuri.

Hukum adalah cermin, kawan,
selamanya akan menjadi cermin
dari wajah busuk penguasanya.

Sampai kita berani memecah kaca itu
dan membuat pedang baru
dari serpihan-serpihan keberanian.

Itulah dia! Itulah dia!
Teriakkan!
Meskipun tenggorokan kita kering,
meskipun kita akan ditangkap dan dibungkam,
teriakkan: Hukum untuk rakyat!

Atau biarkan langit yang diam
menjadi saksi bisu
bagaimana kita memilih mati berdiri
daripada hidup berlutut
di bawah pedang yang hanya tahu
membungkuk ke bawah.

Karena pada akhirnya, kawan,
yang tajam ke bawah akan tumpul oleh air mata,
dan yang tumpul ke atas akan tajam oleh amarah.

Sejarah tidak pernah buta.
Ia hanya menunggu saat yang tepat
untuk memenggal leher para pendusta.

(ekspresionis sajak kigempur/medio-juli/2026)

Sabtu, 18 Juli 2026

Ketika Dosa di Dunia Sudah Diampuni, Apakah di Akhirat masih akan Dihisab?


Pertanyaan ini sangat penting dan berkaitan erat dengan pemahaman kita tentang rahmat dan keadilan Allah. Pada dasarnya, taubat nasuha yang diterima Allah akan menghapus dosa dari catatan amal yang akan dihisab. Namun, ada catatan penting terkait dosa yang melibatkan hak orang lain.

Landasan dari Al-Qur'an dan Sunnah

1. Janji Penggantian Dosa dengan Kebaikan

Ini adalah kabar gembira paling besar bagi orang yang bertobat. Allah berfirman:
"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 70)

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa dosa-dosa masa lalu diganti dengan kebaikan. Ini bukan sekadar dihapus, tetapi ditransformasikan menjadi catatan pahala.

2. Hadis tentang Penghapus Dosa

Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan praktis, salah satunya adalah memperbanyak amal saleh:

"Dan iringilah perbuatan kejahatan dengan perbuatan kebaikan, niscaya ia (yang baik) akan menghapuskannya." (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan: Dua Skenario di Akhirat

Dari dalil-dalil di atas, para ulama menyimpulkan adanya dua pandangan utama, namun pada intinya sama-sama menekankan rahmat Allah bagi orang yang bertobat:

1. Dihapus dari Catatan dan Tidak Dihisab: Pendapat ini berlandaskan pada surat Al-Furqan ayat 70. Dosa yang telah diampuni dengan taubat nasuha akan dihapuskan sepenuhnya dari catatan amal dan tidak akan diperlihatkan saat hisab. Dalam bahasa yang populer, "sudah dianggap tidak pernah terjadi". Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak berdosa" (HR. Ibnu Majah).

2. Tetap Tercatat, tetapi Tidak Dibebani Siksa: Sebagian ulama berpendapat bahwa catatan dosa tetap ada sebagai bukti keadilan dan agar manusia menyadari kesalahannya, tetapi dosa tersebut tidak akan ditimbang dan tidak akan mendatangkan siksa karena sudah diampuni .

Peringatan Penting: Dosa yang Berkaitan dengan Hak Manusia

Ada satu pengecualian penting: dosa yang berkaitan dengan hak manusia (dzalim kepada orang lain, mencuri, menggunjing, dll). Dosa ini tidak akan diampuni hanya dengan taubat kepada Allah saja. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa urusan orang yang dizalimi akan diselesaikan dengan keadilan di akhirat .

Syarat taubat untuk dosa ini adalah:

1. Berhenti dari perbuatan dzalim.
2. Menyesali perbuatan tersebut.
3. Bertekad tidak mengulanginya.
4. Mengembalikan hak kepada yang dizalimi atau meminta maaf. 
Jika tidak dilakukan, maka di akhirat kelak, kebaikan pelaku akan diambil untuk diberikan kepada korban, atau dosa korban akan dilimpahkan kepadanya .

Kesimpulannya, untuk dosa yang menjadi hak Allah, taubat nasuha adalah penghapus yang sempurna. Namun, untuk dosa yang melibatkan orang lain, keadilan Allah menuntut penyelesaian hak antar manusia terlebih dahulu.

Semoga penjelasan ini mencerahkan dan menggugah kita untuk selalu bersegera bertobat.
(Muhasabah/kgm/juli/2026)

Kamis, 16 Juli 2026

Berbaik Sangka kepada Allah SWT: Husnudzan sebagai Pilar Iman


Dalam perjalanan hidup sebagai hamba, salah satu akhlak mulia yang sering terlewatkan adalah berbakti dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah SWT. Ini bukan sekadar optimisme duniawi, melainkan puncak ketundukan hati yang mengakui bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan.

Hakikat Berbaik Sangka kepada Allah

Husnudzan kepada Allah berarti meyakini sepenuh hati bahwa apapun ketetapan-Nya adalah yang terbaik, meskipun akal kita belum mampu menjangkaunya. Ibn Atha'illah dalam Kitab Hikam mengingatkan, siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, lihatlah seberapa tinggi kedudukan Allah dalam hatinya.

Allah SWT berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi landasan bahwa keterbatasan ilmu manusia mengharuskan kita berserah dan berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan .

Dalil-Dalil Agung tentang Husnudzan

Keutamaan berbaik sangka ini ditegaskan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya:

"Sesungguhnya Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka kebaikan baginya. Dan jika ia berprasangka buruk, maka keburukan baginya."

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Sungguh berprasangka baik kepada Allah termasuk ibadah yang baik kepada-Nya." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim)

Wujud Baik Sangka dalam Kehidupan

1. Saat Doa Belum Terkabul

Ketika doa yang dipanjatkan belum tampak dikabulkan, seorang hamba tidak boleh berputus asa. Para ulama menjelaskan bahwa pengabulan doa bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah . Mungkin Allah menunda karena ingin memberi yang lebih baik, atau menolaknya karena itu lebih maslahat bagi kita .

2. Saat Ditimpa Musibah

Musibah yang menimpa bukanlah tanda kemurkaan, melainkan bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat atau menghapus dosa. Saat terpuruk, justru kesempatan terbaik untuk membuktikan keimanan dengan tetap berprasangka baik .
3. Saat Mendapat Nikmat

Ketika Allah melimpahkan kebaikan, jangan lupa bersyukur dan menyadari bahwa semua itu adalah karunia-Nya . Husnudzan dalam nikmat adalah meyakini bahwa ini amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Bekal Menuju Husnudzan

Untuk membiasakan hati berbaik sangka kepada Allah, perbanyaklah zikir dan mengingat-Nya dalam setiap kesempatan . Rasulullah mengajarkan agar kita mengakhiri hidup dalam keadaan husnudzan: "Jangan sampai kalian mati kecuali dalam keadaan husnuzzhan kepada Allah SWT." (HR Muslim)

Semoga Allah menganugerahkan hati yang senantiasa dipenuhi prasangka baik kepada-Nya. Karena sesungguhnya, siapa yang berbaik sangka kepada Allah, maka Allah pun akan memperlakukannya dengan kebaikan.
(Ekspresionis spiritual/kgm/medio-juli-26)

Selasa, 14 Juli 2026

Menjadi Pribadi Bermental Tangguh: Kekuatan yang Dapat Dilatih


(
Secangkir Anggur Merah Edisi-21)

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, kehilangan, atau tekanan hidup. Namun, yang membedakan satu individu dengan individu lainnya bukanlah jumlah masalah yang dihadapi, melainkan cara mereka meresponsnya. 

Psikologi modern menyebut kemampuan ini sebagai mental toughness atau ketangguhan mental—kemampuan untuk tetap stabil secara emosional, fleksibel secara mental, dan kuat secara psikologis di tengah tekanan hidup. 

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menjadi pribadi yang bermental tangguh?

Memahami Hakikat Mental Tangguh

Mental tangguh bukanlah sifat bawaan sejak lahir, melainkan keterampilan psikologis yang dapat dilatih dan dikembangkan seiring waktu. Psikolog klinis Los Angeles, Cortney Warren, menyatakan bahwa komponen kunci dari ketangguhan adalah fleksibilitas emosional—kemampuan untuk mengatur perasaan dan mengurangi intensitasnya dalam situasi tertentu. 

Orang tangguh tidak bertindak seolah-olah masalah tidak ada; sebaliknya, mereka memiliki rasa welas asih dengan memandang emosi seperti stres atau kekecewaan sebagai kesempatan belajar.

Pendapat Para Psikolog tentang Ketangguhan Mental

Profesor dan pakar kepemimpinan asal Amerika, Brene Brown, menegaskan bahwa inti dari ketangguhan mental sebenarnya adalah belas kasihan pada diri sendiri (self-compassion). Orang tangguh mampu bertahan karena tidak mudah terjerumus dalam rasa malu, mengkritik diri sendiri, atau membenci diri sendiri. 

Sementara itu, Martin Seligman—bapak psikologi positif—menekankan bahwa orang yang resilien adalah mereka yang optimis. Sepanjang kariernya selama 60 tahun meneliti ketahanan, Seligman menemukan bahwa individu yang "tidak terluka" oleh tekanan hidup adalah mereka yang mampu mempertahankan sikap optimistis.

Neuropsikolog Judy Ho menambahkan bahwa orang tangguh sering meyakinkan diri sendiri dengan ucapan "aku bisa menangani apa yang mengadangku". Mereka dapat melepaskan keterikatan pada hasil tertentu, menyesuaikan strategi, dan menemukan solusi alternatif menuju tujuan mereka.

Cara Membangun Mental Tangguh

Langkah awal membangun ketahanan psikologis adalah mengenali pikiran dan perasaan diri sendiri. Mengakui bahwa sedang merasa tertekan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran diri. Kelola emosi dengan menenangkan diri, menarik napas dalam, menulis perasaan, atau melakukan aktivitas yang memberi rasa nyaman.

Karakter kepribadian tangguh dibangun oleh tiga aspek penting: komitmen, kontrol, dan tantangan. Individu tangguh memandang setiap perubahan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mereka juga menetapkan batas-batas yang sehat—kemampuan mengatakan "tidak" dengan santun namun tegas adalah manifestasi dari rasa hormat terhadap diri sendiri.

Bukan tujuan instan

Menjadi pribadi bermental tangguh adalah perjalanan, bukan tujuan instan. Seperti diungkapkan Cortney Warren, orang terkuat di dunia pun terkadang harus mengambil langkah mundur untuk merenung. Dengan melatih kesadaran diri, mengembangkan optimisme, dan memperlakukan diri sendiri dengan kasih sayang, setiap orang dapat membangun ketangguhan mental. 

Pada akhirnya, mental tangguh bukanlah tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit kembali—setiap kali kita terjatuh.
(Secangkir Anggur Merah-edisi-21)

Minggu, 12 Juli 2026

TANYAKAN PADA WAHABI: APAKAH ALI KHAMENEI DIKUBUR DENGAN CARA YAHUDI .. ???


Wahabi menyebut Ali Khamenei kafer. Musuh Islam. Yahudi dan sebutan kebencian lainnya.
Amerika dan sekutunya menyebutnya Gembong Teroris. Pembuat onar. Biang rusuh. Pembangkang dan sebutan buruk lainnya.

Tuduhan wahabi batal.
Tuduhan Amerika patah.

Allah Yang Ahad memberikan jawaban kepada Pembencinya: Para pecintanya berkumpul. Puluhan juta. Shalat bersama, takbir bersama, shalawat bersama, salam bersama, niat yang sama — ini lebih besar dari haji dan ritual lainnya. Jenazah akbar sepanjang sejaran peradaban manusian.

Ali Khamenei adalah sosok fenomenal. Simbol perlawanan yang ditindas. Yang dizalimi bahkan oleh sesama mukmin saudaranya sendiri.

Tapi Allah taala hendak tujukkan kepada para pembencinya — Allah turunkan hikmah. Jutaan manusia mendoakannya memohonkan ampun untuknya.
Amerika berduka : Khamenei dicintai rakyatnya bahkan dunia respek kepadanya: menghormatinya. Seratusan lebih negara Islam dan non Islam hadir menghormatinya.

Apa ada pemimpin yang dicintai ratusan juta rakyatnya seperti Ali Khamenei. Apa ulama-ulama yang membencinya yang mengkaferkannya yang memusuhinya diperlakukan dengan baik oleh pengikutnya sendiri ?

Khameneni adalah the real pemimpin islam sesunguhnya. Itulah Islam yang sebenarnya. Dunia melihat dengan seksama. Ada yang dibuat cemas. Ada yang terharu. Ada yang ghirah menuntut balas. Adapun saya mendoakan bersama jamaah memohonkan ampun semoga menjadi pintu tegaknya izzul Islam.
Inilah Islam. Inilah pemimpin umat Islam.

Saya bukan Syiah 

Tapi Belajar bagaimana beragama dengan martabat dan harga diri. Belajar mencintai sesama mukmin dengan tulus meski tidak sepahaman. Sesama mukmin bersaudara: Allah Yang Ahad. Kitab yang sama. Nabi yang sama. Shalat menghadap pada kiblat yang sama. Apa ada alasan untuk membenci karena perbedaan yang sedikit ?

Ini pertunjukan kolosal mungkin lebih dari kolosal Piala Dunia- pembenci dan musuhnya bergetar takut, puluhan juta umat Islam berkumpul (perkiraan 22 juta), di jalan, d ruang terbuka, di tempat-tempat umum, mendoakannya, memaafkannya dan memohonkan ampun untuknya. Mati Indah…

Jawaban buat yang selalu menyebutnya kafer dan membencinya: Gusti Allah berikan jawaban terindah… ‘.
Allahu musta’an…

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
Pusat Studi Pemikiran Islam Kjai Hadji Ahmad Dahlan

Jumat, 10 Juli 2026

Menjaga Cahaya Ilahi di Kebeningan Hati


Dalam tradisi sufisme, hati (qalb) bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat kesadaran spiritual tempat Tuhan bersemayam. Hati yang bening bagaikan cermin yang jernih, mampu memantulkan cahaya Ilahi. 

Namun, cermin itu mudah berdebu oleh maksiat. Setiap dosa meninggalkan titik-titik noda hitam yang bisa menggelapkan permukaannya. Hingga akhirnya ia tak lagi mampu merefleksikan kebenaran. Hati terhijab keagungan Ilahi.

Mengapa menjaga kebeningan hati begitu penting? Karena hati adalah tempat turunnya petunjuk. Ketika hati keruh, kita kehilangan kemampuan membedakan yang hak dan batil. Yang haram terasa biasa, yang mungkar tampak wajar. 

Itulah yang disebut para sufi sebagai "kematian hati". Sebuah kondisi di mana manusia hidup tetapi jiwanya mati. Jauh dari kepekaan ilahi.

Maksiat, sekecil apa pun, bagaikan tetesan tinta dalam segelas air bening. Satu tetes mungkin tak terlihat, tetapi tetes demi tetes akhirnya mengeruhkan seluruh isi gelas. Nabi saw mengibaratkan dosa sebagai bintik hitam di hati yang akan menutupi seluruhnya jika tak segera dibersihkan dengan tobat dan istighfar.

Menjaga hati bukan berarti hidup tanpa dosa. Kita manusia lemah dan tak luput dari khilaf. Namun, kesadaran akan kebeningan hati mendorong kita untuk segera kembali (inabah) setiap kali tergelincir. 

Sebagaimana kata Sufi Rabi'ah al-Adawiyah: "Istighfarku selalu disertai rasa malu." Ini menunjukkan bahwa kebeningan bukanlah tujuan statis, melainkan proses dinamis untuk terus menyucikan diri.

Di era digital dengan godaan yang tak bertepi: syahwat, konsumerisme, dan kesombongan, menjaga kebeningan hati menjadi jihad terbesar. Ia menuntut kejujuran introspektif dan disiplin ruhani. 

Namun, bagi jiwa yang merindukan Tuhan, setiap upaya menjaga kebeningan hati adalah langkah mendekati-Nya. Karena hanya hati yang suci yang layak menjadi tempat bersemayam cahaya-Nya.
(ekspresionis sang salik/kgm/juli-2026)

Rabu, 08 Juli 2026

Mεmbuαt Hidup Jαdi Lεbih Bεrαrti: "SUΑRΑ DI TΕNGΑH DIΑM"


Sαhαbαt yαng bεrbαhαgiα,

Tεrnyαtα, tidαk sεtiαp diαm αdαlαh bijαk. Dαn tidαk sεtiαp suαrα αdαlαh kεbεnαrαn. Αdα diαm yαng mεnyεlαmαtkαn, tεtαpi αdα pulα diαm yαng mεmbiαrkαn kεsαlαhαn tεrus bεrtumbuh. Bεnαrkαh kεzαlimαn αkαn tεrus αdα bukαn kαrεnα bαnyαknyα orαng yαng jαhαt, tαpi kαrεnα diαmnyα orαng-orαng bαik? Pαdαhαl, diαmnyα orαng bαik bisα lεbih jαhαt dαripαdα pεnjαhαt αslinyα. Di situlαh nurαni diuji, dαn mαrtαbαt mαnusiα dipεrtαruhkαn.

Sεmαkin bεrtαmbαh usiα, kitα αkαn sεmαkin mεngεrti bαhwα hidup bukαn hαnyα tεntαng mεncαri kεnyαmαnαn. Hidup jugα tεntαng mεnjαgα nurαni αgαr tεtαp mεnyαlα di tεngαh zαmαn yαng kαdαng mεmbuαt orαng lεbih tαkut kεhilαngαn pεngαkuαn dαripαdα kεhilαngαn kεbεnαrαn. Bεrαni bεrkαtα bεnαr kεtikα sεmuα orαng mεmilih diαm, itulαh sαlαh sαtu bεntuk kεcεrdαsαn yαng pαling luhur.

Kεbεnαrαn tidαk pεrnαh sibuk mεmproklαmirkαn diriyα. Ια tidαk bεrtεriαk mεncαri pεndukung. Tidαk pulα mεmohon αgαr dipεrcαyαi. Kεbεnαrαn hαnyα bεrdiri tεnαng, sεdεrhαnα, dαn sαbαr mεnunggu hαti yαng mαsih mαu mεndεngαrkαn bisikαn nurαni. Kαrεnα itulαh, mεnyuαrαkαn kεbεnαrαn di tεngαh kεsunyiαn, tεkαnαn, αtαu kεtαkutαn mαssαl, bukαn sεkαdαr tindαkαn bεrαni. Ιtu αdαlαh pεrnyαtααn bαhwα nurαni mαsih hidυp.

Dαlαm filsαfαt Stoik, kεbεrαniαn mεnjαdi sαlαh sαtu dαri εmpαt tiαng utαmα kεhidupαn, bεrsαmα kεbijαksαnααn, kεαdilαn, dαn pεngεndαliαn diri. Kεbεrαniαn yαng dimαksud bukαnlαh kεbεrαniαn untuk mεngαlαhkαn orαng lαin, mεlαinkαn kεbεrαniαn untuk tεtαp sεtiα pαdα αpα yαng diyαkini bεnαr, sεkαlipun hαrus mεnαnggung cεmοοh, pεnolαkαn, pεngucilαn, αtαu bαhkαn kεhilαngαn.

Sεbαb, mεmαng bαnyαk orαng tαhu kεbεnαrαn. Αkαn tεtαpi, tidαk bαnyαk yαng sαnggup mεmbαyαr hαrgαnyα. Kεbεnαrαn hαmpir sεlαlu mεmiliki biαyα. Καdαng biαyα itu bεrupα kεhilαngαn jαbαtαn, pεrtεmαnαn, kεnyαmαnαn, bαhkαn citrα diri. Dαn justru di situlαh nilαi sεsεorαng dipεrtαnyαkαn. Αpαkαh kitα mεmilih αmαn... αtαu mεmilih bεnαr?

Mαrcus Aurεlius pεrnαh mεninggαlkαn pεsαn yαng tεrus hidυp hinggα hαri ini: _"Jαngαn pεrnαh mαlu untuk dibimbing olεh kεbεnαrαn."_ Kαlimαt itu tidαk hαnyα mεngαjαk kitα mεnεrimα kεbεnαrαn. Ια jugα mεngαjαk kitα mεnjαdi sαlαh sαtu pεnyαmbung lidαhnyα, mεskipun kitα hαrus mεnjαdi suαrα pεrtαmα yαng mεmεcαh hεningnyα kεtidαkαdilαn.

Sαhαbαt... Kεcεrdαsαn sεjαti bukαn diukur dαri sεbεrαpα pεnuh kεpαlα kitα dεngαn ilmυ. Kεcεrdαsαn sεjαti diukur dαri sεbεrαpα bεrαni kitα mεngαmαlkαn ilmυ itu dαlαm kεhidupαn. Ιlmυ tαnpα kεbεrαniαn hαnyα αkαn mεnjαdi tumpukαn pεngεtαhuαn. Sεdαngkαn kεbεnαrαn yαng dihidupi αkαn mεnjαdi cαhαyα bαgi sεkitαrnyα.

Ιngαt bαhwα sεribu suαrα yαng bεrsαtu kαrεnα tαkut, tidαk αkαn pεrnαh mεngαlαhkαn sαtu suαrα yαng lαhir dαri nurαni yαng jujur. Kαrεnα sεjαrαh tidαk pεrnαh diubαh olεh mεrεkα yαng hαnyα ikut αrus. Sεjαrαh diukir olεh mεrεkα yαng bεrαni bεrdiri tεgαk, mεskipun pαdα αwαlnyα hαnyα sεndiriαn. Dαn bukαnkαh hαmpir sεmuα pεrubαhαn bεsαr sεlαlu dimulαi olεh sεsεorαng yαng tidαk tαkut mεngucαpkαn sαtu kαlimαt sεdεrhαnα: "Ιni αdαlαh yαng bεnαr..."

Pαdα αkhirnyα, yαng αkαn kitα bαwα pulαng bukαnlαh riuhnyα tεpuk tαngαn, bukαn pulα bαnyαknyα pεngikut. Yαng αkαn mεnεmαni kitα αdαlαh kεtεnαngαn nurαni, kαrεnα pεrnαh mεmilih bεrdiri di pihαk yαng bεnαr. Dαn jikα pαdα suαtu hαri suαrα kitα tidαk lαgi tεrdεngαr, sεmogα gεmα kεbεnαrαn yαng pεrnαh kitα suαrαkαn mαsih tεrus hidup di dαlαm hαti orαng-orαng yαng mεndεngαrnyα.

Kεbεnαrαn tidαk αkαn pεrnαh mαti. Ια hαnyα mεnunggu hαti yαng ikhlαs untuk mεnyuαrαkαnnyα. Sαlαm Αkαl Sεhαt. Kαrεnα nurαni yαng tεrjαgα αdαlαh suαrα Tuhαn yαng tεtαp hidυp di dαlαm diri mαnusiα. Tεtαp sεmαngαt. Jαngαn lupα bαhαgiα.

Bαndυng Sεlαtαn, 5 Juli 2026
Μυchtαr ΑF
Ιnspirε Withουt Limits
Μεnginspirαsi Τiαdα Ηεnti

Selasa, 07 Juli 2026

Orasi Teaterikal Sang Pendusta di Atas Panggung Rakyat



(Tirai dibuka. Lampu panggung menyala. Sang Orator berdiri menatap tajam khalayak. Ia pun mulai berkoar...)

Saudara-saudaraku sekalian,

Yang saya hormati, yang saya cintai, yang saya banggakan, rakyat Indonesia. Hari ini saya berdiri di sini, bukan sebagai pemimpin, bukan sebagai pejabat, bukan sebagai siapa pun, tapi sebagai saudara kalian sendiri. 

Saya berdiri di sini karena saya percaya, saya sangat percaya, bahwa kesejahteraan rakyat adalah satu-satunya tujuan dari setiap denyut nadi kepemimpinan yang saya emban.

Kalian lihat langit di atas kita? Biru, cerah, tanpa awan. Itulah gambaran masa depan kita. Itulah gambaran Indonesia yang akan kita bangun bersama. Dan saya adalah tukang bangunnya. 

Bukan karena saya pintar, bukan karena saya hebat, tetapi karena kalian memberi saya kepercayaan. Dan kepercayaan itu adalah tanggung jawab yang saya bawa setiap pagi ketika bangun, setiap malam ketika tidur, bahkan setiap mimpi yang saya lalui.

Saudara-saudara!

Program perumahan rakyat berjalan dengan sangat baik. Sangat baik. Sudah dua ratus ribu unit rumah berdiri kokoh. Di mana? Di seluruh pelosok negeri. Di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan, di Sulawesi, di Papua. Rumah-rumah itu bukan di atas kertas, Saudara. Bukan. 

Ia berdiri di atas tanah, dengan atap yang kuat, dengan dinding yang tebal, dengan pintu yang terbuka untuk siapa pun yang membutuhkan. Kalian tidak percaya? Kalian boleh datang. Saya persilakan. Saya sendiri yang akan mengantar kalian melihatnya.

Dan bicara tentang tanah, sungguh tanah kita sangat subur. Sawah kita hijau. Petani kita bahagia. Saya tahu, karena saya turun ke sawah. Saya ganti celana panjang saya dengan celana pendek. Saya turun ke lumpur. Saya turun ke gorong-gorong. Saya memegang padi bersama kalian. Ribuan ton beras. Puluhan ribu ton jagung. Kinii telah kita hasilkan.

Kita akan segera menikmati swasembada pangan. Kita tidak perlu lagi impor. Kita tidak perlu bergantung pada siapa pun. Karena Indonesia adalah negeri yang Tuhan berkati dengan alam yang melimpah.

Saudara-saudara terkasih!

Saya tidak akan berbohong kepada kalian. Saya ini pemimpin yang jujur. Saya ini pemimpin yang lebih suka kehilangan kursi daripada kehilangan kepercayaan kalian. Lihatlah mata saya. Lihatlah mata ini! 

Apakah kalian melihat kebohongan di sana? Tidak. Kalian melihat cahaya. Kalian melihat ketulusan. Kalian melihat seorang bapak yang ingin anak-anaknya makan enak, sekolah tinggi, dan hidup layak.

Karena itu, saya telah mengalokasikan—dengar baik-baik—tujuh puluh triliun rupiah untuk kesehatan. Gratis! Semua gratis! Rumah sakit dibangun. Puskesmas diperbaiki. Dokter didatangkan dari luar negeri. 

Kita tidak akan membiarkan satu orang pun mati karena tidak bisa berobat. Tidak satu pun! Karena setiap nyawa adalah mahal, dan saya menghargai setiap nyawa seperti saya menghargai nyawa keluarga saya sendiri.

Saudara-saudara!

Pesan ini saya sampaikan dari hati, di tengah teriakan dan sorak yang memekakkan telinga. Tangis haru berbaur dengan yel-yel semangat dari ribuan pasang mata yang memandang penuh asa.

Mereka bilang—musuh-musuh saya, politikus-politikus lama yang iri—mereka bilang saya bohong. Mereka bilang angka-angka saya tidak nyata. Mereka bilang rumah-rumah itu hanya gambar. Mereka bilang sawah kita tidak seproduktif yang saya katakan. Mereka bilang para koruptor masih berkeliaran.

Mereka bilang—Saudara, dengarkan saya—mereka bilang saya korup. Saya? Korup? Demi Tuhan, saya tidak akan menyentuh uang rakyat se-sen-pun. Uang rakyat adalah darah rakyat. Dan saya tidak pernah—tidak pernah—menghisap darah rakyat. Saya minum air, saya makan nasi, saya tidur di kamar sederhana. Itulah saya. Saya tidak butuh mewah. Saya tidak butuh harta. Saya hanya butuh senyum kalian.

Mari kita renungkan bersama. Semua janji ini, semua program ini, semua angka-angka yang saya sebutkan—bukan untuk saya. Bukan. Ini untuk anak kalian. Untuk cucu kalian. Untuk generasi yang belum lahir yang akan menyebut nama saya sebagai pemimpin yang membawa Indonesia ke gerbang kejayaan. 

Bayangkan, bayangkan! Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, Indonesia akan menjadi negara maju. Tidak ada kemiskinan. Tidak ada pengangguran. Tidak ada kelaparan. Semua orang memiliki pekerjaan. Semua orang memiliki rumah. Semua orang memiliki masa depan.

Saudara-saudaraku!

Saya tahu kalian lelah. Saya tahu kalian bosan dengan janji-janji politik. Tapi saya berbeda. Janji saya adalah ikrar. Ikrar saya adalah sumpah. Dan sumpah saya adalah harga diri saya. Jika saya dusta, maka biarlah bumi tidak mau menapaki kaki saya, biarlah langit tidak mau menaungi kepala saya. Tetapi saya tidak dusta. 

Saya berdiri di hadapan kalian dengan dada terbuka, dengan tangan bersih, dengan hati jernih. Dan saya akan terus berdiri seperti ini, sampai kalian semua, semua rakyat Indonesia, benar-benar merasakan kesejahteraan di ujung jari kalian.
Terima kasih. Selamat berjuang. Indonesia jaya!

(Selesai membual, si politikus orator itu pun mulai meneteskan airmatanya. Sorak-sorai meledak. Bendera-bendera kecil berkibar. Di balik panggung, seorang asisten menyerahkan tisu. Politikus itu menyeka air mata, tersenyum puas, kemudian turun menyalami kerumunan. Di kejauhan, seorang jurnalis menutup buku catatannya, seraya menggeleng-gelengkan kepala, lalu pergi).

(Tirai ditutup. Lampu panggung padam. Di balik panggung, ia melepas dasi, mengambil ponsel, dan menelepon bendaharanya: "Angkanya sudah kurapikan. Jangan sampai bocor).
#ekpresionis teaterikal orasi sang pendusta/KGM/juli-2026

Senin, 06 Juli 2026

(SAM-20) Dusta Sang Pemimpin: Antara Janji dan Realitas


Secangkir Anggur Merah, Edisi-20)

Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, relasi antara pemimpin dan yang dipimpin selalu dibangun di atas fondasi kepercayaan. Kepercayaan itu sendiri adalah jembatan rapuh yang menghubungkan kata-kata dengan tindakan, janji dengan kenyataan. 

Namun ketika jembatan itu mulai retak oleh kebohongan yang sistematis, maka runtuhlah bukan hanya figur pemimpin, tetapi juga seluruh tatanan sosial yang dibangun di atasnya. Isu dusta kepemimpinan bukanlah persoalan moral semata, melainkan krisis struktural yang menggerogoti sendi-sendi demokrasi dan keadaban publik.

Fenomena kebohongan dalam kepemimpinan memiliki akar yang kompleks. Di satu sisi, ia lahir dari godaan kekuasaan yang memabukkan, di mana pemimpin perlahan kehilangan kesadaran bahwa ia hanyalah pelayan, bukan penguasa. 

Di sisi lain, kebohongan menjadi instrumen pragmatis untuk mempertahankan status quo, terutama ketika realitas yang dihadapi tidak seindah narasi yang ingin dibangun. Pemimpin yang terjebak dalam pola ini seringkali mulai dengan kebohongan kecil—membesar-besarkan prestasi, mengecilkan kegagalan—namun lambat laun kebohongan kecil itu berkembang menjadi jaringan tipu daya yang melilit dirinya sendiri.

Dalam konteks Indonesia, persoalan dusta kepemimpinan menjadi semakin relevan ketika kita menyaksikan bagaimana ruang publik kita dipenuhi oleh janji-janji politik yang gemerlap namun seringkali berakhir sebagai fatamorgana. 

Kampanye pembangunan yang digembar-gemborkan, janji kesejahteraan yang disebar luas, semuanya bergulir indah di atas panggung retorika, sementara di bawah permukaan, kesenjangan menganga, birokrasi berbelit, dan korupsi merajalela. 

Yang paling menyakitkan adalah ketika pemimpin menggunakan diksi-diksi suci—keadilan, kemakmuran, persatuan—sebagai tameng untuk menutupi praktik-praktik yang justru bertentangan dengan nilai-nilai luhur tersebut.

Dampak dari budaya dusta dalam kepemimpinan tidak berhenti pada ranah politik. Ia merembes ke seluruh sendi kehidupan sosial, menciptakan apa yang oleh para pemikir disebut sebagai post-truth society, di mana kebenaran menjadi komoditas yang dapat diperdagangkan dan fakta kehilangan otoritasnya. 

Ketika pemimpin terbiasa berbohong, maka rakyat pun belajar untuk tidak percaya; ketika janji selalu dikhianati, maka apatisme politik menjadi respons rasional. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi kehilangan ruhnya, karena diskursus publik yang sehat membutuhkan partisipasi yang lahir dari kepercayaan, bukan dari kecurigaan.

Namun yang paling tragis adalah ketika dusta itu mulai diinternalisasi oleh pemimpin itu sendiri, hingga ia benar-benar percaya pada kebohongannya sendiri. Dalam kondisi semacam inilah bahaya terbesar muncul: pemimpin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara penampilan dan kenyataan, antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. 

Ia hidup dalam kabut narasi yang ia bangun sendiri, sementara realitas di luar terus bergerak meninggalkannya.

Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa kepemimpinan adalah seni yang penuh dengan kompromi dan pertimbangan pragmatis. Tidak setiap janji bisa ditepati, tidak setiap ideal bisa diwujudkan. 

Namun batas antara pragmatisme dan kebohongan adalah ketika pemimpin masih memiliki keberanian untuk mengatakan: "Saya salah, saya gagal, dan saya akan memperbaikinya." Di situlah integritas diuji—bukan pada saat segala sesuatu berjalan mulus, tetapi pada saat kegagalan datang menerpa.

Pada akhirnya, persoalan dusta kepemimpinan adalah persoalan etika publik yang menuntut tidak hanya kesadaran moral dari para pemimpin, tetapi juga kewaspadaan sipil dari masyarakat. 

Rakyat tidak boleh sekadar menjadi penonton yang pasif dalam panggung politik, melainkan harus menjadi pengawal yang aktif terhadap setiap kata dan tindakan penguasa. Karena sebagaimana kata bijak: ketika kepercayaan telah hilang, maka yang tersisa hanyalah kekosongan yang sulit untuk diisi kembali, bahkan oleh janji-janji paling indah sekalipun.
(Ekspresionis sang jurnalis/juli-2026)

Minggu, 05 Juli 2026

Dusta di Ruang Sidang

Berikut ini adalah dialog teaterikal, sebuah fragmen teater satu babak, antara seorang pemimpin eksekutif pendusta dan legislator idealis).

Nama Para Tokoh (Hasil Rekayasa):
· Badu: Pemimpin Eksekutif, pria, berjas rapi, senyum hambar, usia 52 th.
· Elin: Legislator, wanita, bercelana panjang, idealis, tatapan tajam, usia 50 th.
· Seorang PELAYAN — pembawa teh, tak berkata banyak.

(Ruangan privat di gedung parlemen. Pukul 19.37 Malam. Meja kayu ukir besar di tengah. Lampu gantung cristal. Dua cangkir teh dingin tak tersentuh).
--------

BADU: (menuangkan teh untuk dirinya sendiri, menawarkan pada Elin dengan gerakan tangan) Tehnya masih hangat Elin. Silakan diminum..!

ELIN: (tak bergerak) Saya tidak datang untuk minum teh, Pak Badu.

BADU: (tersenyum lebar, terlalu lebar) Ah, Elin. Kamu selalu serius. Di luar sana mereka bilang kita ini musuh. Tapi di sini kita bisa bicara seperti manusia, bukan?

ELIN: Musuh politik memang. Tapi malam ini saya datang dengan satu pertanyaan. Cukup satu saja.

BADU: (mengangkat alis) Bertanyalah. Aku suka pertanyaan. Pertanyaan membuat orang berpikir. Dan orang yang berpikir menandakan eksistensi kemanusiaannya. Itu kata filsuf Rene Descartes.

ELIN: Dari dulu kau pintar berfilsafat. Bahkan kau pernah berkata, kita adalah orang yang sulit dibohongi. Saya tahu ucapan itu. Saya yang menulisnya di buku saya dua puluh tahun lalu.

BADU: (tertawa kecil, getir) Lihat. Kau bahkan mengingat tulisanku lebih baik daripada aku. Kalau begitu silakan, apa yang mau ditanyakan..!

(Hening. Elin menatap Badu. Badu menahan tatapan. Di sela-sela keheningan, Pelayan masuk mengganti teh lalu pergi lagi).

ELIN: Program perumahan rakyat. Anggaran tiga puluh lima triliun. Jumlah rumah terbangun di lapangan: nihil. Di atas kertas: dua ratus ribu unit. Di mana rumah-rumah itu, Pak Badu?

BADU: (menyandarkan punggung pada kursi, jari merapat membentuk segitiga di depan wajah) Rumah-rumah itu sedang dibangun, Elin.

ELIN: Saya ke lokasi minggu lalu. Tanah kosong. Tidak ada pondasi. Tidak ada pekerja. Hanya papan nama proyek yang dicat ulang tiga kali. Saya hitung biaya catnya saja cukup untuk dua rumah tipe sederhana.

BADU: Proyek pembangunan tidak semudah itu, Elin. Ada proses. Ada pengadaan. Ada birokrasi. Kamu anggota dewan, tentunya kamu sudah tahu.

ELIN: Saya tahu prosesnya. Saya juga tahu bahwa di antara proses itu ada tiga perusahaan milik kemenakanmu yang mendapat kontrak. Dan mereka semua tercatat sehat secara finansial—padahal saya dengar ada yang bangkrut tahun lalu. Aneh, bukan?

BADU: (diam beberapa detik. Lalu menyandarkan kursi, bersandar, bicara pelan) Kau datang ke sini untuk mengancamku?

ELIN: Saya datang ke sini untuk mengingatkanmu.

BADU: Mengingatkan aku tentang apa?

ELIN: Tentang janji pertama kita di bangku universitas. Kau bilang, kita akan membangun negeri ini tanpa dusta. Kau ingat itu?

(Badu menatap kosong. Tangannya menggapai cangkir teh, menggenggamnya, melepasnya).

BADU: (suaranya turun setengah oktaf) Elin... dunia politik tidak semanis mimpi sewaktu kita mahasiswa.

ELIN: Apakah itu alasan untuk menjadi pembohong?

BADU: (membanting tangan di atas meja dengan kencang, namun pelan) Kau pikir aku menikmati ini? Kau pikir setiap malam aku tidur nyenyak membayangkan angka-angka di laporan yang tidak sesuai dengan tanah di lapangan? Tapi inilah permainan, Elin. Jika aku tidak bermain, mereka akan memakan aku. Aku harus bertahan. Untuk kepentingan yang lebih besar.

ELIN: Kepentingan yang lebih besar? Pak Badu, siapa yang kau bohongi? Rakyat? Dewan? Atau dirimu sendiri?

BADU: (berdiri. Berjalan ke jendela. Membelakangi Elin) Ketika kau memegang kekuasaan, kau akan mengerti. Ada rahasia yang harus kau bawa sendiri. Ada kebohongan yang harus kau katakan agar kepercayaan tetap terjaga.

ELIN: Kepercayaan tidak terjaga oleh kebohongan. Ia runtuh perlahan. Setiap hari. Setiap kata. Dan ketika runtuh, kau tak akan berdaya lagi. Bahkan boleh jadi kau akan berurusan dengan KPK.

(Elin berdiri. Mengambil tasnya. Badu berbalik).

BADU: Mau pergi? Sebelum kita selesai bicara?

ELIN: Kita sudah selesai. Sejak kita lulus kuliah, sebenarnya.

BADU: (melangkah mendekat) Tunggu. Aku bisa jelaskan. Aku punya data. Aku bisa tunjukkan padamu.

ELIN: (menghentikan langkah. Menatap Badu dengan mata lelah, bukan marah) Tidak, Pak. Kau tidak punya data. Kau punya angka. Dua hal itu berbeda. Data adalah fakta. Angka adalah apa yang kau inginkan agar orang percaya.

BADU: (diam. hening. beberapa detik lamanya. Lalu Badu dengan suara pelan namun berat) Lalu apa yang harus aku lakukan? Mengakui segalanya? Mundur? Menghancurkan diriku sendiri?

ELIN: (berbalik sepenuhnya, menghadap Badu) Aku tidak minta kau menghancurkan diri. Aku minta kau memperbaiki diri. Karena masih ada waktu. Di luar sana, rakyat masih percaya pada setengah dari ucapanmu. Jangan tunggu sampai setengah itu habis. Karena jika itu habis, tidak ada lagi yang tersisa.

(Elin menuju pintu keluar. Berhenti sejenak. Tidak menoleh).

ELIN: Tehnya dingin, Pak. Seperti janji-janji kita sewaktu kuliah dulu.

(Elin keluar. Badu tinggal sendirian. Pelayan masuk, hendak mengangkat cangkir. Badu mengangkat tangan, memberi isyarat untuk pergi. Pelayan keluar. Badu duduk di kursi. Menatap dua cangkir teh yang dingin. Lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Lampu padam. Gelap. TAMAT)
(ekspresionis dialogis/ki gempur mudharat/juli/2026)

Sabtu, 04 Juli 2026

Puisi: "Dusta Sang Pemimpin"

di ruang yang gemerlap ini
kau susun kata-kata seindah mimpi
laksana bunga mekar di musim semi
namun akarnya telah mati...

kau ucapkan janji di atas mimbar
dengan suara yang merdu parau membelai telinga
seperti sungai yang mengalir jernih
tapi di dasarnya lumpur beracun mengendap perlahan...

aku melihat matamu
cahaya redup di balik kaca mata
seperti rembulan yang bersembunyi
di balik awan kelabu
takut diterawang oleh mereka yang haus cahaya...

kau tawarkan negeri yang subur makmur gemah ripah
tapi di balik kata-katamu yang indah berseri
tersimpan kebohongan yang meranggas
seperti daun-daun yang gugur sebelum musimnya tiba...

dan kami diam
diam dalam keramaian yang riuh
diam dalam gelak tawa yang pahit...

sebab membuka mulut
sama saja membuka luka yang belum sembuh...

pemimpin yang kuharapkan adalah kau
mengapa kau pilih dusta menjadi taman?
padahal kebenaran meski pahit
akan tumbuh menjadi pohon yang rindang
menaungi mereka yang kehausan
ketika kelak kau sendiri...

di kamar yang hening
bisakah kau pandang cermin
tanpa membenci bayangan yang kau ciptakan?...

karena pada akhirnya
hanya kebenaran yang akan tersenyum
sendiri
di tengah puing-puing kata
yang kau bangun dengan megah
tapi runtuh oleh angin waktu...

Jumat, 03 Juli 2026

(SAM-19) Ujian Allah: Antara Rintihan dan Rindu


Secangkir Anggur Merah (Edisi-19)

Ada malam-malam di mana langit terasa terlalu dekat. Di mana doa-doa terdengar seperti bisikan yang jatuh ke tanah sebelum sempat menembus awan. Di sanalah, dalam sunyi yang paling pekat, kita mulai bertanya: mengapa ujian ini harus datang? Mengapa Allah menguji kita dengan hal-hal yang paling kita cintai, lalu mengambilnya, atau membiarkannya perlahan-lahan lepas dari genggaman?

Kita terbiasa menganggap ujian sebagai hukuman. Sebuah kemarahan yang disembunyikan di balik tabir takdir. Tapi jika kita menyelam lebih dalam ke lautan ayat-ayat-Nya, kita menemukan sesuatu yang paradoksal: ujian bukanlah cara Allah untuk membenci, melainkan cara-Nya untuk mendekat. 

Seperti seorang guru yang memberikan soal sulit bukan karena ia ingin muridnya gagal, tetapi karena ia percaya muridnya mampu—dan ingin melihat sejauh mana kemampuannya tergali.

Allah tidak menguji karena Dia lupa, tetapi karena Dia ingin kita ingat. Ia membiarkan kita jatuh agar kita tahu bahwa tanpa tangan-Nya, kita tidak pernah bisa berdiri. Ia membiarkan kita haus di gurun kehidupan agar kita tahu bahwa hanya mata air-Nya yang abadi. Dan dalam setiap jatuh bangun itu, ada pelajaran tentang siapa kita sebenarnya: hamba yang lemah, atau manusia yang sombong?

Perahu di Tengah Badai

Alkisah, seorang nelayan tua di pesisir Selat Malaka pernah berkata kepada cucunya: "Anakku, laut tidak pernah tenang untuk membuatmu bahagia. Laut bergelombang untuk mengajarkanmu cara berlayar."

Demikian pula hidup. Setiap ombak yang menghantam, setiap angin yang membelokkan arah, adalah bagian dari kurikulum yang Allah tulis untuk setiap ruh. Ada ujian yang datang melalui kemiskinan—saat piring makan menjadi saksi bisu dari sabar yang terkikis. Ada ujian melalui kehilangan—saat orang yang kita cintai pergi, dan kita belajar bahwa cinta bukanlah kepemilikan, melainkan titipan. Ada ujian melalui pengkhianatan—saat kita belajar bahwa kepercayaan adalah kaca yang sekali pecah, sulit direkatkan.

Dan ada ujian paling halus: kesendirian di tengah keramaian. Saat kita dikelilingi manusia, tetapi merasa tidak seorang pun mengerti. Di sinilah Allah menguji ketulusan—apakah kita beribadah kepada-Nya karena kita mencintai-Nya, atau karena kita mencintai pengakuan manusia?

Quraish Shihab pernah menafsirkan bahwa kata "ujian" dalam bahasa Arab—ibtila'—berasal dari akar kata yang berarti "mencelupkan". Seperti kain yang dicelupkan ke dalam pewarna, ujian adalah cara Allah mencelupkan kita ke dalam pengalaman, sehingga warna asli jiwa kita muncul ke permukaan. Apakah kita merah karena kemarahan? Putih karena kepasrahan? Atau hitam karena keputusasaan? Ujian adalah cermin, dan Allah adalah yang memegang cermin itu di depan wajah kita.

Merambah Kabut

Ketika ujian datang, naluri pertama kita adalah melawan. Kita berteriak, meratap, menggigit bibir sampai berdarah. Kita menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain, dan di ujung keputusasaan, kita bahkan menyalahkan Allah. Ini manusiawi.

Nabi Ayub, yang kehilangan segalanya—harta, anak, bahkan kesehatan—juga mengeluh. Ia tidak diam, ia merintih. Tapi rintihannya bukanlah protes, melainkan rindu. "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83).

Perhatikan: Ayub tidak berkata, "Mengapa Engkau melakukan ini?" Ia berkata, "Aku menderita, dan Engkau adalah Penyayang." Ini adalah perbedaan antara keluhan orang yang putus asa dan keluhan orang yang rindu. Keduanya menangis, tapi satu menangis karena kehilangan harapan, yang lain menangis karena merindukan pemilik harapan.

Dalam merambah kehidupan yang dihujani ujian, kita diajarkan untuk tidak melihat seberapa besar badai, tetapi seberapa besar perahu kita—dan lebih penting lagi, siapa yang memegang kemudi. Allah tidak berjanji kita akan selamat dari badai. Dia berjanji kita tidak akan tenggelam. "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6).

Ayat itu tidak mengatakan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. Artinya, kemudahan hadir di dalam kesulitan itu sendiri—dalam bentuk ketabahan yang tumbuh, kesabaran yang menguat, dan keyakinan yang meradang.

Ketika Pelajaran Jadi Nyawa

Seorang sufi pernah ditanya, "Apa yang kau pelajari dari seluruh ujian hidupmu?" Ia menjawab, "Aku belajar bahwa Allah tidak pernah mengujiku dengan sesuatu yang aku tidak sanggup menanggungnya. Aku belajar bahwa setiap tangisan memiliki doa yang tidak terucap. Dan aku belajar bahwa di balik setiap kabut, ada cahaya yang menunggu untuk kuakui."

Ujian Allah bukanlah tentang lulus atau gagal. Itu adalah cara kita dipahat. Seperti marmer yang dipukul palu untuk menjadi patung, seperti emas yang dibakar untuk menjadi perhiasan. Setiap pukulan, setiap panas, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk. Kita hanya perlu percaya bahwa tangan yang memahat adalah tangan yang lembut, dan api yang membakar adalah api yang mengetahui batasnya.

Maka, ketika badai kehidupan merambah, jangan tanya, "Mengapa ini terjadi padaku?" Tanyalah, "Apa yang Engkau ajarkan padaku saat ini?" Karena di situlah letak rahasia terbesar: ujian adalah undangan untuk bertemu Allah di tempat paling gelap. Dan jika kita berani menemuinya di sana, kita akan menemukan bahwa gelap hanyalah awal dari fajar.

Dan ketika semua ujian berlalu, kita akan menyadari bahwa kita tidak lagi sama. Kita menjadi lebih ringan—karena beban-beban kecil yang dulu kita anggap berat kini terasa seperti debu. Kita menjadi lebih luas—karena hati yang dipeluk kesedihan menjadi sebesar lautan. Dan kita menjadi lebih dekat—karena setiap langkah menjauh ternyata adalah langkah pulang.

Doa di Ujung Jalan

Pada akhirnya, merambah kehidupan dengan segala ujiannya adalah tentang bagaimana kita menutup buku harian hidup dengan kalimat: "Ternyata Engkau baik sepanjang jalan, bahkan saat aku tidak melihatnya."

Karena Allah tidak berutang kebahagiaan pada kita. Dia berutang makna. Dan makna hanya muncul dari perjalanan melalui lembah, bukan dari duduk di puncak. Maka bersyukurlah untuk ujianmu, karena di situlah Allah menulis namamu di buku orang-orang yang dikasihi. 

Sebab Dia tidak menguji kecuali Dia mencintai, dan Dia tidak mencintai kecuali Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita.

Allahu a'lam. Hanya Dia yang tahu kapan kita akan sampai, tapi satu hal yang pasti: kita sedang dalam perjalanan pulang. Dan di setiap langkah, ada pelukan-Nya yang menunggu, lebih hangat dari sinar matahari, lebih teduh dari bayangan awan.
(expresionis-kgm/ki gempur mudharat/juli-2026)

Kamis, 02 Juli 2026

Penempuh Lorong Sunyi Menuju Cahaya Ilahi...(Sebuah feature spiritual tentang pencarian hakikat dalam tradisi tasawuf)


Di sebuah desa di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad. Ia bukanlah orang istimewa. Seorang anak petani. Lulusan sekolah menengah. Pekerja serabutan yang menghabiskan hari-harinya di pasar dan sawah. 

Namun pada malam-malam tertentu, saat azan subuh belum berkumandang dan alam masih diam, Ahmad terbangun dengan perasaan aneh: seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Bukan suara, bukan mimpi, melainkan sebuah rasa yang merambat di tulang punggungnya, seperti sungai bawah tanah yang tak terlihat.

Ia tidak mengerti apa itu. Tapi ia faham, sesuatu telah bergerak dalam dirinya.
Orang-orang menyebutnya salik—para pejalan spiritual yang menempuh jalan panjang menuju Tuhan. Tapi bagi Ahmad, itu bukanlah gelar yang ia pilih. Ia hanyalah seseorang yang tidak bisa lagi tidur nyenyak setelah merasakan bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih nyata.

Kau tidak seperti yang lain

Suatu hari, Ahmad mengunjungi makam seorang wali tua di lereng bukit. Para peziarah lain datang dengan doa dan harapan. Minta jodoh, minta rezeki, minta kesembuhan. Tapi Ahmad datang dengan pertanyaan kosong yang bahkan tidak mampu ia rumuskan dengan kata-kata. Ia duduk di bawah pohon randu, menatap batu nisan yang sudah lumut, dan menunggu.

"Kau tidak seperti yang lain," kata seorang kakek tua yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Bajunya lusuh, sorot matanya tajam.

"Apa yang membedakan saya?" tanya Ahmad.

"Kau tidak meminta apa pun. Padahal kau bisa meminta segalanya di sini."

Ahmad terdiam. "Saya tidak tahu apa yang harus saya minta."

Kakek itu tersenyum. "Karena kau bukan mencari sesuatu. Kau mencari Yang Tidak Bernama. Dan kabar baiknya—Dia juga mencari kau."

Tiga Penjara Jiwa

Dalam perjalanan pulang, kakek itu berbisik tentang tiga penjara yang mengurung setiap salik.
Pertama: Penjara dunia—keinginan akan harta, pujian, dan kekuasaan. Kedua: Penjara diri—ego yang merasa dirinya terpisah dari yang lain. Ketiga: penjara pikiran—keyakinan bahwa Tuhan dapat dipahami dengan akal semata.

"Tapi pintu-pintu penjara itu tidak terkunci dari luar," kata kakek itu sebelum menghilang di tikungan jalan. "Mereka terkunci dari dalam. Kunci yang sama yang mengurung, juga bisa membebaskan. Kau hanya harus berani memutarnya."

Ahmad mulai mengamati dirinya sendiri. Ia melihat betapa selama 25 tahun hidupnya, ia telah menjadi budak keinginan—ingin diakui, ingin sukses, ingin dicintai. Ia melihat bagaimana egonya selalu membela diri, membenarkan kesalahan, menyalahkan keadaan. Dan ia melihat bagaimana pikirannya terus menerus menjerat Tuhan dalam kata-kata, sementara hati kecilnya tahu bahwa Tuhan terlalu agung untuk dibatasi bahasa.
---
Itikaf di Gua Sunyi

Malam itu, Ahmad memanjat ke sebuah gua kecil di tebing belakang desanya. Ia tidak membawa bekal, hanya sebotol air dan sebuah buku tua berisi syair-syair Jalaluddin Rumi yang ditemukannya di pasar loak. 

Di dalam gua, gelap. Tidak ada suara kecuali tetesan air dari stalaktit dan detak jantungnya sendiri.

Awalnya ia mencoba berdoa. Lalu ia mencoba bermeditasi. Lalu ia mencoba mengingat semua ayat yang pernah ia hafal. Semuanya terasa seperti tembok yang menghalanginya, bukan jembatan yang menghubungkannya.

Sampai akhirnya, dalam keputusasaan yang manis, ia berhenti berusaha.
Dan di situlah—di tengah keheningan yang tidak dibuat-buat—cahaya itu muncul. Bukan cahaya yang terlihat mata, tapi cahaya yang dirasakan. Seperti ketika seseorang sangat mencintaimu tanpa perlu mengatakannya. Seperti ketika kau pulang ke rumah setelah bertahun-tahun merantau. Seperti ketika kau mengingat sesuatu yang tidak pernah kau alami, tapi terasa begitu akrab.

Ahmad menangis. Bukan karena sedih, bukan karena bahagia. Tapi karena ia menyadari: selama ini ia mencari di luar, padahal yang dicari selalu berada di dalam. Ia mencari dengan kepala, padahal seharusnya dengan hati. Ia berbicara kepada Tuhan, padahal seharusnya ia mendengarkan.

Cahaya yang Menjalar

Keesokan paginya, Ahmad turun dari gua. Wajahnya tidak berubah—masih sama seperti sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya: sebuah ketenangan yang tidak dapat dijelaskan. Para tetangga bertanya apa yang terjadi, tapi Ahmad hanya tersenyum.

Ia tidak menjadi suci. Ia masih marah ketika ditipu, masih sedih ketika kehilangan, masih ingin ketika melihat sesuatu yang indah. Namun kini ada jarak—sebuah kesadaran yang mengamati semua itu tanpa terperangkap. Seperti orang yang menonton ombak di pantai; ia tidak menjadi ombak, ia tidak melawan ombak, ia hanya menyaksikannya datang dan pergi.

Bahkan ketika ibunya meninggal enam bulan kemudian, Ahmad tidak jatuh dalam keputusasaan yang hancur. Ia menangis, tentu saja. Tapi di balik air matanya, ada keheningan yang tahu: ibunya bukanlah mayat yang terbaring di kain kafan itu. Ibunya adalah cinta yang masih mengalir di nadinya, doa yang ia panjatkan, dan senyum yang terus hidup dalam ingatannya.

Kembali ke Kesadaran

Kini, di usia 40 tahun, Ahmad sudah tidak lagi "mencari". Bukan karena ia menemukan segalanya, tapi karena ia menyadari bahwa mencari dan menemukan adalah permainan ego belaka. Yang harus dilakukan hanyalah kembali. Kembali ke kesadaran bahwa sejak awal, ia tidak pernah terpisah dari Cahaya itu. Ia pikir ia adalah debu yang berjalan di jalan; ternyata ia adalah jalan itu sendiri.

Ia masih tinggal di desa yang sama, masih bekerja di sawah, masih berbincang dengan tetangga soal cuaca dan harga cabai. Namun kini, setiap helai rumput baginya adalah ayat, setiap hembus angin adalah bisikan, setiap manusia yang ia temui adalah cermin yang memantulkan Wajah Yang Satu.

Dan pada malam-malam tertentu, ketika semua orang tidur dan alam sunyi, Ahmad masih terbangun dengan perasaan aneh yang sama. Hanya kali ini, ia tidak lagi bertanya siapa yang memanggil. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu: panggilan itu adalah dirinya sendiri, mengingatkan dirinya yang lain, bahwa perjalanan tidak pernah berakhir—karena ia sendiri adalah perjalanan menuju dirinya yang asli.

Sebab di ujung jalan, para salik tidak menemukan Tuhan. Mereka menemukan bahwa selama ini, Tuhan-lah yang berjalan dalam diri mereka, mengalami diri-Nya sendiri melalui mata, telinga, dan hati manusia.

Akhir Perjalanan

Perjalanan salik bukanlah tentang mencapai puncak. Ia adalah tentang menyadari bahwa kau tidak pernah berada di bawah. Bahwa cahaya ilahi tidak bersinar dari langit yang jauh; ia bersinar dari kedalaman hatimu sendiri, menunggu kau berhenti mencari cukup lama untuk melihat bahwa kau adalah cahaya itu, dan cahaya itu adalah kau—dalam bentuk yang selalu ada, sebelum kata-kata, sebelum dunia, sebelum waktu dimulai.
(features expresionis seorang salik/awal-juli/2026)

Sajak Sebilah Pisau Bengkok

Hukum di negeri ini, kawan, bagai pisau dapur ibumu yang hanya tajam untuk memotong sayur tetapi tidak pernah untuk memotong kursi. Ah, kurs...