Di etalase kaca, boneka berpakaian sutra
Matanya porselen, rambutnya ikal sempurna
Sementara di luar, jemari kecil mengelap kaca
Napasnya membeku, membentuk gumpalan asap yang luka
Di meja panjang, hidangan berlapis porselen
Aroma truffle bersaing dengan saus barbeque lenyap dalam sekejap
Sementara di dapur belakang, seorang ibu memilah tulang
Mengais sisa, untuk anaknya yang menunggu di gubuk bambu lapuk
Di koridor kampus, laptop terbaru berderet rapi
Diskusi tentang startup dan go public bergemuruh riuh
Sementara di bawah jembatan, kardus basah jadi atap
Seorang kakek mengajar cucunya membaca
dengan cahaya lampu tol yang kedap-kedip
Tuhan, apakah Engkau sengaja menciptakan dua jenis tangan?
Satu untuk menandatangani kontrak, satu untuk mengais nasi?
Atau kami yang lupa bahwa semua jemari ini
kelak akan kembali menjadi tanah
yang sama dinginnya?
Di negeri ini,
ada yang sibuk menghitung untung
ada yang sibuk menghitung utang
ada yang bingung memilih menu makan malam
ada yang bingung apakah hari ini akan makan...
Keadilan seperti burung aneh
katanya ada, tapi jarang hinggap
dan ketika hinggap
ia lebih suka di bahu yang wangi
daripada di bahu yang luka dan perih
Maka jika kau temui puisi ini
di sela-sela waktu luangmu
jangan kau hapus air mata di pipiku
tapi ajari aku caranya
membagi roti dan mimpi
tanpa harus menunggu malaikat turun
membawa timbangan yang adil.
(KGM/Ramadhan/2026)
