Tasawuf atau sufisme, adalah cabang ilmu dalam Islam yang menekankan penyucian jiwa, pembersihan hati dari hawa nafsu, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dimensi spiritual dan batiniah, bukan sekadar ritual lahiriah.
Jenis-Jenis Tasawuf: Para ahli membagi tasawuf menjadi beberapa jenis utama berdasarkan pendekatan dan perkembangannya.
Berikut pembagian yang umum:
• Tasawuf Akhlaki: Berfokus pada pembentukan moralitas dan akhlak mulia melalui penyucian hati dari sifat tercela, seperti menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menyebutnya sebagai pemurnian hati lewat taubat dan ikhlas.
• Tasawuf Amali: Menekankan praktik zikir, khalwat (sendirian), dan riyadhah (latihan spiritual) untuk mengendalikan nafsu dan mendekati ridha Allah.
• Tasawuf Falsafi: Menggabungkan tasawuf dengan pemikiran filsafat rasional tentang Tuhan, manusia, dan hubungan keduanya, sering dikembangkan oleh sufi-filsuf.
Apakah Tasawuf atau Sufisme Diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Jawabannya: Tasawuf atau sufisme sebagai istilah belum ada pada masa Nabi, tetapi substansi atau hakikat tasawuf jelas diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Untuk memahami hal ini, ada dua hal penting yang perlu dibedakan:
1. Tasawuf sebagai istilah: Kata “tasawuf” belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Ia mulai populer beberapa abad kemudian ketika para ulama menamai perjalanan spiritual mendalam seorang Muslim dengan istilah tersebut.
Jadi, istilahnya memang tidak diajarkan oleh Nabi.
2. Tasawuf sebagai praktik (substansi)
Walaupun istilahnya belum ada, ajaran-ajaran inti tasawuf justru berasal dari Rasulullah SAW. Inilah yang disebut sebagai hakikat tasawuf.
Berikut unsur-unsur tasawuf yang diajarkan Nabi:
a. Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs): Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Rasulullah mempraktikkannya melalui: memperbanyak istighfar, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati dari sombong, riya’, iri, dan dengki. Ini adalah inti tasawuf.
b. Kehadiran hati dan muraqabah: Rasulullah SAW bersabda ketika menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Konsep ihsan inilah yang menjadi fondasi tasawuf: kesadaran batin bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabah).
c. Zuhud, qana’ah, dan sederhana:Rasulullah hidup: sederhana, tidak bergantung pada dunia, tetapi tetap bekerja dan berusaha. Ini identik dengan nilai-nilai tasawuf.
d. Dzikir dan kedekatan spiritual: Nabi SAW mengajarkan berbagai bentuk dzikir: dzikir pagi-sore, dzikir setelah salat, istighfar, tahlil, tahmid, takbir, tasbih. Para sufi kemudian mengembangkan disiplin dzikir ini sebagai jalan penyucian hati.
e. Muhasabah dan introspeksi: Nabi bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya.” (HR. Tirmidzi). Inilah praktik inti tasawuf: memeriksa hati dan memperbaiki diri.
Kesimpulan Utama:
➤ Tasawuf sebagai istilah: tidak diajarkan Nabi.
➤ Tasawuf sebagai inti ajaran spiritual (ihsan, tazkiyah, dzikrullah): jelas diajarkan Nabi dan menjadi bagian dari Islam.
Para ulama hanya memberi nama “tasawuf” untuk disiplin ilmu yang berisi nilai-nilai: penyucian hati, kedekatan dengan Allah, akhlak mulia, pengendalian nafsu,
hidup sederhana, dzikrullah. Semua itu bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
Kapan tasawuf mulai dikenal, siapa yang memunculkannya, serta siapa yang membawa tasawuf ke Indonesia dan kapan?
1. Sejak Kapan Tasawuf Mulai Dikenal? Tasawuf mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriah (± abad ke-8 Masehi).
Pada masa Nabi dan para sahabat: belum ada istilah tasawuf, tetapi praktik kesalehan batin, zuhud, dan penyucian jiwa sudah ada.
Setelah masa sahabat, umat Islam mulai menghadapi kemewahan dunia dan ekspansi kekuasaan. Sejumlah ulama yang cinta akhirat kemudian menekankan kehidupan sederhana dan fokus hati kepada Allah. Dari sinilah muncul gerakan zuhud yang menjadi cikal-bakal tasawuf.
2. Siapa yang Pertama Kali Memunculkan Tasawuf? Tidak ada satu tokoh tunggal yang “menemukan” tasawuf. Ia tumbuh secara alami dari ajaran Islam. Namun, tokoh-tokoh generasi awal yang dianggap sebagai pelopor tasawuf klasik antara lain:
a. Hasan al-Bashri (642–728 M / abad 1–2 H), ulama besar dari Basrah. Menekankan zuhud, tawakal, dan takut kepada Allah. Sering dianggap sebagai peletak dasar ajaran tasawuf.
b. Rabi’ah al-Adawiyah (w. 801 M) Tokoh terkenal dari Basrah. Memperkenalkan konsep mahabbah (cinta murni kepada Allah). Memberi warna spiritual yang sangat kuat dalam dunia tasawuf.
c. Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Fudhail bin Iyadh. Tokoh-tokoh zuhud abad 2 Hijriah.
d. Junaid al-Baghdadi (w. 910 M), disebut “Imam Kaum Sufi”. Merumuskan tasawuf secara ilmiah dan seimbang antara syariat dan hakikat.
Setelah abad ke-3 H, tasawuf berkembang menjadi disiplin ilmu yang lebih sistematis dan melahirkan banyak tarekat besar.
3. Siapa yang Membawa Tasawuf ke Indonesia? Kapan?
Tasawuf masuk ke Nusantara melalui para ulama dan pedagang sufi dari: Arab, Persia, India (Gujarat), dan Yaman. Ini terjadi pada periode abad 13–16 M, meskipun pengaruh awal mungkin sudah muncul sejak abad 11–12 M.
Tokoh-tokoh yang membawa tasawuf ke Nusantara:
a. Syekh Ismail dari Arab (abad ke-13 M)
Disebut sebagai salah satu ulama awal yang mengajarkan Islam bercorak tasawuf di Samudera Pasai.
b. Hamzah Fansuri (abad ke-16 M)
Tokoh sufi pertama dari Nusantara yang meninggalkan karya tertulis. Membawa ajaran tasawuf falsafi.
c. Syamsuddin as-Sumatrani
Pengganti Hamzah Fansuri. Menguatkan tasawuf falsafi di kerajaan Aceh.
d. Nuruddin ar-Raniri (abad ke-17 M). Sufi dari Hadhramaut (Yaman). Membawa tasawuf sunni (asy’ari & syafi’i). Mengoreksi ajaran tasawuf falsafi sebelumnya.
e. Walisongo (abad 15–16 M).
Walisongo adalah penyebar Islam di Jawa yang sangat kuat dengan metode tasawuf: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, dan lainnya. Mereka menggunakan pendekatan: akhlak, budaya, simbol, dakwah bil-hikmah, yang berakar pada metode tasawuf.
4. Kapan Tasawuf Tersebar Luas di Indonesia? Pada era Walisongo (abad 15–16 M), tasawuf menjadi inti dakwah Islam di Jawa dan kemudian tersebar ke seluruh Nusantara.
Tasawuf mudah diterima masyarakat karena: lembut, menekankan akhlak, menghargai budaya lokal, cocok dengan spiritualitas masyarakat Nusantara.
(Sharing: Muchtar AF)
