Dunia Islam hari ini sedang mempertontonkan sebuah drama yang memuakkan. Di satu sisi, kita melihat penghormatan bagi mereka yang gugur di garis depan perlawanan. Di sisi lain, kita menyaksikan patologi mental kaum Salafi-Wahabi yang merayakan kematian sesama Muslim dengan pekik kegirangan yang menjijikkan. Inilah wajah asli sebuah ideologi yang mengaku paling "Sunnah". Namun sungguh jiwanya telah lama bertransformasi menjadi Khawarij abad ke-21.
1. Reinkarnasi Pedang Ibnu Muljam
Sejarah seolah berulang dalam naskah yang sama. Dahulu, kaum Khawarij bersuka cita ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek tubuh suci Khalifah Ali bin Abi Thalib karramallahu\wajhah. Hari ini, mentalitas itu diwarisi dengan setia oleh kaum Salafi-Wahabi. Saat umat Islam yang waras merundukkan kepala, berduka atas gugurnya sosok seperti Sayyid Ali Khamenei atau para pejuang yang berdiri membela tanah airnya, kaum ini justru berpesta di atas darah.
Mereka adalah "uswah" dalam merawat benci. Mereka mendoktrin permusuhan seolah memiliki dendam pribadi selama 16 abad, padahal mereka hanyalah pion yang dipaksa membenci demi kepentingan politik yang mereka sendiri tidak pahami.
2. Standar Ganda yang Menghamba pada Zionis
Ada ironi yang membakar nalar: Bagaimana mungkin kelompok yang begitu fasih mengafirkan sesama Muslim, tiba-tiba menjadi begitu tumpul dan bungkam terhadap agenda Zionis?
Ke Iran: Lidah mereka tajam, penuh caci maki, dan vonis sesat.
Ke Zionis: Mereka mendadak "bijak", bicara soal perdamaian, dan tunduk pada agenda normalisasi "tuan" mereka.
Ini bukan lagi soal akidah, ini adalah pelacuran intelektual. Mereka sibuk menyisir kesalahan saudara seagama, sementara di belakang layar, mereka secara sukarela menjadi tameng gratis bagi Israel dengan cara memecah belah kekuatan umat melalui sentimen sektarian yang overdosis.
3. Syahwat Mengkafirkan: Dari NU hingga Muhammadiyah
Daftar "dosa" dalam catatan mereka sangatlah panjang. Tidak hanya Syiah yang menjadi sasaran; NU dianggap firqah dhallah (golongan sesat), Muhammadiyah disebut menyimpang, dan Jamaah Tabligh di-tahdzir.
Benar apa yang disindir KH Hasyim Muzadi: jika mereka datang, bukan hanya amaliyah yang hilang, tapi masjidnya pun ikut diklaim. Mereka membangun tembok eksklusivitas, merasa memegang kunci surga sendirian, sementara nubuat Nabi Muhammad SAW tentang kaum yang "bacaan Al-Qur'annya hanya sampai kerongkongan" tampak nyata pada wajah-wajah mereka yang kering dari empati.
4. Puncak Hilangnya Kemanusiaan
Gugur di medan tempur adalah kemewahan sejarah yang hanya diberikan pada mereka yang berani melawan penindasan. Sementara itu, mencela dan menyesatkan adalah "sunnah" Khawarij yang diadopsi dengan bangga oleh kaum Salafi.
Merayakan kematian seorang pemimpin Muslim yang sedang berjuang melawan hegemoni adalah bukti bahwa agama di tangan mereka telah berubah menjadi ideologi kebencian yang gersang. Jika agama tidak lagi menyisakan rasa duka atas hilangnya nyawa pejuang, maka yang tersisa hanyalah cangkang kosong tanpa makna.
Kesimpulan: Memilih Sisi Sejarah
Dunia Islam sedang berduka, namun kaum yang "merasa paling Sunnah" justru sedang berpesta di ketiak agenda Zionis. Kita harus sadar bahwa mereka hanyalah "rambut yang tercerabut dari tepung"—keluar dari esensi Islam karena kegemaran mengkafirkan sesama. Jangan biarkan warisan kebencian ini menghancurkan rumah besar umat Islam.
