- Tasawuf Terlepas dari Syariat: Anggapan bahwa seorang sufi tidak lagi terikat oleh aturan fiqih atau ibadah lahiriah jika sudah mencapai tingkatan spiritual tertentu. Faktanya, ulama seperti Al-Ghazali menekankan bahwa tasawuf adalah pelengkap batiniah bagi syariat.
- Hanya Fokus pada Akhirat (Pasif Sosial): Pandangan keliru bahwa tasawuf mengajarkan pengasingan diri total (uzlah) dan pengabaian terhadap urusan duniawi serta tanggung jawab sosial.
- Dianggap Ajaran Bid'ah atau Sesat: Kritik yang menyatakan tasawuf bukan bagian dari ajaran Islam asli atau merusak akidah. Padahal, banyak pakar menyatakan dasar-dasar tasawuf (penyucian jiwa) bersumber langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Identik dengan Hal Mistis atau Klenik: Pemahaman sempit yang hanya mengaitkan tasawuf dengan kesaktian, ramalan, atau fenomena supranatural, alih-alih fokus pada perbaikan akhlak dan kedekatan dengan Allah.
- Pandangan Orientalis: Beberapa peneliti Barat sering kali mencoba memisahkan tasawuf dari akar Islamnya dan mengaitkannya dengan pengaruh filsafat Yunani atau Neo-Platonisme secara berlebihan.
Wacana tentang hubungan antara Syariat dan Makrifat adalah diskusi klasik namun sangat fundamental dalam dunia tasawuf (sufisme) dan pemikiran Islam secara umum.
Jawaban singkatnya adalah: Benar, dalam perspektif Islam yang utuh dan seimbang, Syariat dan Makrifat tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu koin, atau seperti tubuh dan ruh.
Berikut penjelasan lebih mendalam mengenai mengapa keduanya tak terpisahkan:
1. Syariat adalah "Kulit" dan Makrifat adalah "Isi"
Para sufi besar, seperti Imam Al-Ghazali atau Jalaluddin Rumi, sering menggunakan analogi ini.
· Syariat adalah aturan lahiriah, hukum, ibadah formal (seperti shalat, puasa, zakat), dan muamalah yang mengatur kehidupan seorang Muslim. Ini adalah fondasi, kerangka, dan jalan (secara harfiah, syariat berarti jalan menuju sumber air).
· Makrifat adalah pengetahuan mendalam tentang Tuhan yang diperoleh melalui penyucian jiwa, pengalaman spiritual, dan perasaan dekat dengan-Nya. Ini adalah inti, tujuan, dan hakikat dari menjalani jalan tersebut.
Mengapa tak bisa dipisahkan?
Jika hanya fokus pada Syariat tanpa Makrifat, ibadah bisa menjadi kering, formalitas belaka, dan kehilangan ruh atau esensinya. Seseorang bisa shalat tetapi hatinya lalai. Sebaliknya, jika hanya mengklaim Makrifat tanpa menjalankan Syariat, klaim tersebut akan menjadi palsu dan sesat. Tidak mungkin seseorang mencapai makrifat (mengenal Allah) sambil meninggalkan perintah-Nya. Rumi berkata, "Syariat seperti lilin, makrifat adalah cahayanya."
2. Landasan Teologis dan Historis
Pemisahan antara Syariat dan Makrifat seringkali menjadi celah kritik terhadap oknum sufi yang ghuluw (ekstrem). Namun, para sufi otentik selalu menekankan bahwa Makrifat harus berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.
· Peristiwa Isra Mi'raj: Perjalanan Nabi Muhammad SAW sering dijadikan simbol. Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha) adalah puncak makrifat, tetapi itu terjadi setelah Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha), dan Nabi tetap menjalankan syariat setelahnya. Ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tertinggi tidak membuat seseorang lepas dari tuntunan syariat.
· Pernyataan Ulama: Imam Junayd Al-Baghdadi, pemimpin para sufi, berkata, "Semua ma'rifah (pengetahuan tentang Tuhan) yang tidak dikuatkan dengan Al-Qur'an dan Sunnah adalah bid'ah (sesat)."
3. Analogi Tangga Menuju Puncak
Untuk mencapai puncak makrifat, seseorang harus menaiki anak tangga. Anak tangga itu adalah syariat.
· Syariat: Anak tangga. Jika tidak menaikinya, tidak akan pernah sampai ke puncak.
· Tarekat: Proses menaiki tangga. Usaha dan perjalanan spiritual.
· Hakikat: Kondisi di puncak tangga, di mana pemandangan (makrifat) terbuka luas.
Tanpa anak tangga (syariat), mustahil seseorang bisa berdiri di puncak (makrifat). Memaksakan diri untuk "meloncat" langsung ke puncak hanya akan membuatnya jatuh.
4. Peringatan untuk Tidak Memisahkan
Dalam sejarah pemikiran Islam, ada dua kelompok ekstrem yang dikritik:
1. Kaum Formalist: Kelompok yang hanya fokus pada kulit syariat, menghakimi orang lain berdasarkan teks, tetapi hatinya keras, tidak memiliki kelembutan, dan jauh dari esensi ibadah.
2. Kaum Pseudo-Sufi: Kelompok yang mengaku telah mencapai makrifat sehingga merasa bebas dari kewajiban syariat. Mereka berkata, "Aku sudah sampai, sehingga shalat tidak lagi wajib bagiku." Ini adalah kesesatan yang nyata dan ditolak oleh ijma' (konsensus) ulama.
Kesimpulan
Ya, sangat benar bahwa syariat dan makrifat tidak bisa dipisahkan.
· Syariat tanpa makrifat = jasad tanpa ruh. Ibadahnya sah secara hukum, tapi mungkin hampa secara spiritual.
· Makrifat tanpa syariat = ruh tanpa jasad. Klaimnya tinggi, tapi tak terbukti dalam amal nyata, dan bisa jatuh ke dalam kesesatan.
Seorang Muslim yang ideal adalah yang menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya (lahiriahnya bersih) seraya berusaha menghadirkan makrifat dalam setiap ibadahnya (batinnya terhubung dengan Allah). Wallahu a'lam bish-shawab.
