Selasa, 07 Juli 2026

Orasi Teaterikal Sang Pendusta di Atas Panggung Rakyat



(Tirai dibuka. Lampu panggung menyala. Sang Orator berdiri menatap tajam khalayak. Ia pun mulai berkoar...)

Saudara-saudaraku sekalian,

Yang saya hormati, yang saya cintai, yang saya banggakan, rakyat Indonesia. Hari ini saya berdiri di sini, bukan sebagai pemimpin, bukan sebagai pejabat, bukan sebagai siapa pun, tapi sebagai saudara kalian sendiri. 

Saya berdiri di sini karena saya percaya, saya sangat percaya, bahwa kesejahteraan rakyat adalah satu-satunya tujuan dari setiap denyut nadi kepemimpinan yang saya emban.

Kalian lihat langit di atas kita? Biru, cerah, tanpa awan. Itulah gambaran masa depan kita. Itulah gambaran Indonesia yang akan kita bangun bersama. Dan saya adalah tukang bangunnya. 

Bukan karena saya pintar, bukan karena saya hebat, tetapi karena kalian memberi saya kepercayaan. Dan kepercayaan itu adalah tanggung jawab yang saya bawa setiap pagi ketika bangun, setiap malam ketika tidur, bahkan setiap mimpi yang saya lalui.

Saudara-saudara!

Program perumahan rakyat berjalan dengan sangat baik. Sangat baik. Sudah dua ratus ribu unit rumah berdiri kokoh. Di mana? Di seluruh pelosok negeri. Di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan, di Sulawesi, di Papua. Rumah-rumah itu bukan di atas kertas, Saudara. Bukan. 

Ia berdiri di atas tanah, dengan atap yang kuat, dengan dinding yang tebal, dengan pintu yang terbuka untuk siapa pun yang membutuhkan. Kalian tidak percaya? Kalian boleh datang. Saya persilakan. Saya sendiri yang akan mengantar kalian melihatnya.

Dan bicara tentang tanah, sungguh tanah kita sangat subur. Sawah kita hijau. Petani kita bahagia. Saya tahu, karena saya turun ke sawah. Saya ganti celana panjang saya dengan celana pendek. Saya turun ke lumpur. Saya turun ke gorong-gorong. Saya memegang padi bersama kalian. Ribuan ton beras. Puluhan ribu ton jagung. Kinii telah kita hasilkan.

Kita akan segera menikmati swasembada pangan. Kita tidak perlu lagi impor. Kita tidak perlu bergantung pada siapa pun. Karena Indonesia adalah negeri yang Tuhan berkati dengan alam yang melimpah.

Saudara-saudara terkasih!

Saya tidak akan berbohong kepada kalian. Saya ini pemimpin yang jujur. Saya ini pemimpin yang lebih suka kehilangan kursi daripada kehilangan kepercayaan kalian. Lihatlah mata saya. Lihatlah mata ini! 

Apakah kalian melihat kebohongan di sana? Tidak. Kalian melihat cahaya. Kalian melihat ketulusan. Kalian melihat seorang bapak yang ingin anak-anaknya makan enak, sekolah tinggi, dan hidup layak.

Karena itu, saya telah mengalokasikan—dengar baik-baik—tujuh puluh triliun rupiah untuk kesehatan. Gratis! Semua gratis! Rumah sakit dibangun. Puskesmas diperbaiki. Dokter didatangkan dari luar negeri. 

Kita tidak akan membiarkan satu orang pun mati karena tidak bisa berobat. Tidak satu pun! Karena setiap nyawa adalah mahal, dan saya menghargai setiap nyawa seperti saya menghargai nyawa keluarga saya sendiri.

Saudara-saudara!

Pesan ini saya sampaikan dari hati, di tengah teriakan dan sorak yang memekakkan telinga. Tangis haru berbaur dengan yel-yel semangat dari ribuan pasang mata yang memandang penuh asa.

Mereka bilang—musuh-musuh saya, politikus-politikus lama yang iri—mereka bilang saya bohong. Mereka bilang angka-angka saya tidak nyata. Mereka bilang rumah-rumah itu hanya gambar. Mereka bilang sawah kita tidak seproduktif yang saya katakan. Mereka bilang para koruptor masih berkeliaran.

Mereka bilang—Saudara, dengarkan saya—mereka bilang saya korup. Saya? Korup? Demi Tuhan, saya tidak akan menyentuh uang rakyat se-sen-pun. Uang rakyat adalah darah rakyat. Dan saya tidak pernah—tidak pernah—menghisap darah rakyat. Saya minum air, saya makan nasi, saya tidur di kamar sederhana. Itulah saya. Saya tidak butuh mewah. Saya tidak butuh harta. Saya hanya butuh senyum kalian.

Mari kita renungkan bersama. Semua janji ini, semua program ini, semua angka-angka yang saya sebutkan—bukan untuk saya. Bukan. Ini untuk anak kalian. Untuk cucu kalian. Untuk generasi yang belum lahir yang akan menyebut nama saya sebagai pemimpin yang membawa Indonesia ke gerbang kejayaan. 

Bayangkan, bayangkan! Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, Indonesia akan menjadi negara maju. Tidak ada kemiskinan. Tidak ada pengangguran. Tidak ada kelaparan. Semua orang memiliki pekerjaan. Semua orang memiliki rumah. Semua orang memiliki masa depan.

Saudara-saudaraku!

Saya tahu kalian lelah. Saya tahu kalian bosan dengan janji-janji politik. Tapi saya berbeda. Janji saya adalah ikrar. Ikrar saya adalah sumpah. Dan sumpah saya adalah harga diri saya. Jika saya dusta, maka biarlah bumi tidak mau menapaki kaki saya, biarlah langit tidak mau menaungi kepala saya. Tetapi saya tidak dusta. 

Saya berdiri di hadapan kalian dengan dada terbuka, dengan tangan bersih, dengan hati jernih. Dan saya akan terus berdiri seperti ini, sampai kalian semua, semua rakyat Indonesia, benar-benar merasakan kesejahteraan di ujung jari kalian.
Terima kasih. Selamat berjuang. Indonesia jaya!

(Selesai membual, si politikus orator itu pun mulai meneteskan airmatanya. Sorak-sorai meledak. Bendera-bendera kecil berkibar. Di balik panggung, seorang asisten menyerahkan tisu. Politikus itu menyeka air mata, tersenyum puas, kemudian turun menyalami kerumunan. Di kejauhan, seorang jurnalis menutup buku catatannya, seraya menggeleng-gelengkan kepala, lalu pergi).

(Tirai ditutup. Lampu panggung padam. Di balik panggung, ia melepas dasi, mengambil ponsel, dan menelepon bendaharanya: "Angkanya sudah kurapikan. Jangan sampai bocor).
#ekpresionis teaterikal orasi sang pendusta/KGM/juli-2026

Orasi Teaterikal Sang Pendusta di Atas Panggung Rakyat

(Tirai dibuka. Lampu panggung menyala. Sang Orator berdiri menatap tajam khalayak. Ia pun mulai berkoar...) Saudara-saudaraku sekalian, Yang...