Hukum di negeri ini, kawan,
bagai pisau dapur ibumu
yang hanya tajam untuk memotong sayur
tetapi tidak pernah untuk memotong kursi.
Ah, kursi!
Kursi itu bertengger di singgasana.
Kursi itu tempat duduk yang berjas rapi berdasi sutra.
Kursi itu yang kerap bersaksi tentang ketertiban dan keadilan
tempat berongkang kaki kaum pendusta
seraya menginjak leher buruh pabrik
yang mogok meminta segenggam beras.
Hukum itu tajam ke bawah, kawan!
Benar-benar tajam!
Tajam seperti pandangan mata setan,
tajam seperti silet yang mengiris kelopak mata
untuk membangunkan gadis kecil yang ketakutan
di tengah malam buta.
Hukum tajam untuk si penjual kacang
yang kakinya terpincang berjalan sepanjang hari.
Hukum tajam untuk si pengemudi angkot
yang keringatnya membasahi setir.
Hukum tajam untuk si pemulung
yang mencari plastik bekas di bawah jembatan.
Hukum tajam untuk perempuan tua
yang mencuri tiga butir labu
karena perutnya sudah berteriak meminta ampun.
Tapi lihat lah ke atas, kawan!
Lihat lah ke atas!
Di sana, di lantai marmer yang dingin,
hukum berubah menjadi kapas.
Kapas lembut yang menyumbat telinga para hakim,
kapas halus yang membalut luka para koruptor,
kapas tebal yang menutup mulut para saksi
yang seharusnya berteriak pada fakta yang benar.
Tuan-tuan yang duduk di kursi rotan!
Kalian tahu siapa saya!
Saya adalah Ki Gempur Mudharat yang melihat
dengan mata kepala sendiri.
Saya melihat perampok bertopi dinas
membawa kabur uang rakyat
dan hukum hanya tersenyum manis
sambil menyilangkan dan bergoyang kaki di ruang sidang.
Saya melihat jenderal pensiunan
bermain catur dengan keadilan
dan keadilan kalah di langkah ketiga
karena wasitnya adalah teman makan siangnya.
Saya melihat pengusaha tambang
yang meracuni sungai anak-anak desa
lalu diberi medali oleh negara
karena dianggap berjasa menambah devisa.
Oh, di mana kau, Keadilan?
Kau adalah perempuan tua buta
yang pedangnya telah digadaikan
dan timbangannya dimakan rayap.
Kau berdiri di tengah pasar
tapi kau hanya patung bisu
sementara para saudagar besar
saling bertukar koin suap
di bawah mejamu yang kusam.
Tajam ke bawah, tumpul ke atas!
Begitulah lagu lama yang terus dinyanyikan
oleh para penguasa dari masa ke masa.
Mereka menggergaji tulang si miskin
dengan gergaji yang bernama Pasal,
tetapi untuk daging mereka sendiri,
mereka memiliki selimut yang bernama Penangguhan.
Maka berlarilah, kawan!
Larilah ke bawah?
Tidak! Ke bawah jurang sudah menunggu.
Larilah ke atas?
Langit pun telah dijual kepada investor asing.
Larilah ke dalam?
Ya, kita akan menggilingnya!
Menggiling pisau bengkok itu
di atas batu gerinda yang terbuat dari
tulang-tulang pahlawan yang gugur.
Hingga tajam kembali!
Tapi kali ini, tajam ke mana saja!
Tajam ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan,
dan terutama, kawan, terutama...
tajam ke tengah-tengah kerakusan mereka!
Biarkan darah mereka berwarna hitam
mengaliri selokan sejarah.
Karena di negeri ini,
kita sudah terlalu lama
menjadi korban dari senjata yang diasah
hanya untuk melukai orang kecil.
Hentikan!
Atau biarkan waktu yang menghentikannya.
Tapi ingat, kawan,
pedang yang tumpul di atas
adalah pedang yang paling berbahaya
karena ia tidak terasa menusuk
sampai kematian menyapa dari ujungnya.
Ki Gempur menulis ini dengan bertinta darah,
di atas screen yang terbuat dari mimpi.
Bukan untuk didengar oleh mereka,
tapi untuk diingat oleh kita.
Bahwa pada suatu masa,
hukum adalah seekor anjing piaraan
yang menggigit kaki pengemis,
tetapi menjilati tangan pencuri.
Hukum adalah cermin, kawan,
selamanya akan menjadi cermin
dari wajah busuk penguasanya.
Sampai kita berani memecah kaca itu
dan membuat pedang baru
dari serpihan-serpihan keberanian.
Itulah dia! Itulah dia!
Teriakkan!
Meskipun tenggorokan kita kering,
meskipun kita akan ditangkap dan dibungkam,
teriakkan: Hukum untuk rakyat!
Atau biarkan langit yang diam
menjadi saksi bisu
bagaimana kita memilih mati berdiri
daripada hidup berlutut
di bawah pedang yang hanya tahu
membungkuk ke bawah.
Karena pada akhirnya, kawan,
yang tajam ke bawah akan tumpul oleh air mata,
dan yang tumpul ke atas akan tajam oleh amarah.
Sejarah tidak pernah buta.
Ia hanya menunggu saat yang tepat
untuk memenggal leher para pendusta.
yang mogok meminta segenggam beras.
Hukum itu tajam ke bawah, kawan!
Benar-benar tajam!
Tajam seperti pandangan mata setan,
tajam seperti silet yang mengiris kelopak mata
untuk membangunkan gadis kecil yang ketakutan
di tengah malam buta.
Hukum tajam untuk si penjual kacang
yang kakinya terpincang berjalan sepanjang hari.
Hukum tajam untuk si pengemudi angkot
yang keringatnya membasahi setir.
Hukum tajam untuk si pemulung
yang mencari plastik bekas di bawah jembatan.
Hukum tajam untuk perempuan tua
yang mencuri tiga butir labu
karena perutnya sudah berteriak meminta ampun.
Tapi lihat lah ke atas, kawan!
Lihat lah ke atas!
Di sana, di lantai marmer yang dingin,
hukum berubah menjadi kapas.
Kapas lembut yang menyumbat telinga para hakim,
kapas halus yang membalut luka para koruptor,
kapas tebal yang menutup mulut para saksi
yang seharusnya berteriak pada fakta yang benar.
Tuan-tuan yang duduk di kursi rotan!
Kalian tahu siapa saya!
Saya adalah Ki Gempur Mudharat yang melihat
dengan mata kepala sendiri.
Saya melihat perampok bertopi dinas
membawa kabur uang rakyat
dan hukum hanya tersenyum manis
sambil menyilangkan dan bergoyang kaki di ruang sidang.
Saya melihat jenderal pensiunan
bermain catur dengan keadilan
dan keadilan kalah di langkah ketiga
karena wasitnya adalah teman makan siangnya.
Saya melihat pengusaha tambang
yang meracuni sungai anak-anak desa
lalu diberi medali oleh negara
karena dianggap berjasa menambah devisa.
Oh, di mana kau, Keadilan?
Kau adalah perempuan tua buta
yang pedangnya telah digadaikan
dan timbangannya dimakan rayap.
Kau berdiri di tengah pasar
tapi kau hanya patung bisu
sementara para saudagar besar
saling bertukar koin suap
di bawah mejamu yang kusam.
Tajam ke bawah, tumpul ke atas!
Begitulah lagu lama yang terus dinyanyikan
oleh para penguasa dari masa ke masa.
Mereka menggergaji tulang si miskin
dengan gergaji yang bernama Pasal,
tetapi untuk daging mereka sendiri,
mereka memiliki selimut yang bernama Penangguhan.
Maka berlarilah, kawan!
Larilah ke bawah?
Tidak! Ke bawah jurang sudah menunggu.
Larilah ke atas?
Langit pun telah dijual kepada investor asing.
Larilah ke dalam?
Hati kita sudah terlalu penuh dengan amarah.
Biarlah!
Biarlah hukum tetap tumpul di atas!
Karena palu hakim yang tumpul itu
pada suatu hari akan memukul kepalanya sendiri
ketika rakyat yang tertindas bangkit
menjadi penggiling pedang.
Biarlah!
Biarlah hukum tetap tumpul di atas!
Karena palu hakim yang tumpul itu
pada suatu hari akan memukul kepalanya sendiri
ketika rakyat yang tertindas bangkit
menjadi penggiling pedang.
Ya, kita akan menggilingnya!
Menggiling pisau bengkok itu
di atas batu gerinda yang terbuat dari
tulang-tulang pahlawan yang gugur.
Hingga tajam kembali!
Tapi kali ini, tajam ke mana saja!
Tajam ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan,
dan terutama, kawan, terutama...
tajam ke tengah-tengah kerakusan mereka!
Biarkan darah mereka berwarna hitam
mengaliri selokan sejarah.
Karena di negeri ini,
kita sudah terlalu lama
menjadi korban dari senjata yang diasah
hanya untuk melukai orang kecil.
Hentikan!
Atau biarkan waktu yang menghentikannya.
Tapi ingat, kawan,
pedang yang tumpul di atas
adalah pedang yang paling berbahaya
karena ia tidak terasa menusuk
sampai kematian menyapa dari ujungnya.
Ki Gempur menulis ini dengan bertinta darah,
di atas screen yang terbuat dari mimpi.
Bukan untuk didengar oleh mereka,
tapi untuk diingat oleh kita.
Bahwa pada suatu masa,
hukum adalah seekor anjing piaraan
yang menggigit kaki pengemis,
tetapi menjilati tangan pencuri.
Hukum adalah cermin, kawan,
selamanya akan menjadi cermin
dari wajah busuk penguasanya.
Sampai kita berani memecah kaca itu
dan membuat pedang baru
dari serpihan-serpihan keberanian.
Itulah dia! Itulah dia!
Teriakkan!
Meskipun tenggorokan kita kering,
meskipun kita akan ditangkap dan dibungkam,
teriakkan: Hukum untuk rakyat!
Atau biarkan langit yang diam
menjadi saksi bisu
bagaimana kita memilih mati berdiri
daripada hidup berlutut
di bawah pedang yang hanya tahu
membungkuk ke bawah.
Karena pada akhirnya, kawan,
yang tajam ke bawah akan tumpul oleh air mata,
dan yang tumpul ke atas akan tajam oleh amarah.
Sejarah tidak pernah buta.
Ia hanya menunggu saat yang tepat
untuk memenggal leher para pendusta.
(ekspresionis sajak kigempur/medio-juli/2026)