Ingatlah setiap nikmat yang Allah karuniakan kepadamu. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kakimu
.
"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (QS. Ibrahim: 34)
Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kamu. Namun begitulah, kamu memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Kamu menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.
"Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin" (QS. Luqman: 20)
Kamu dilengkapi dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki.
"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman: 13)
Apakah kamu mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah kamu mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kamu masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah kamu merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kamu yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan kamu dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kamu yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kamu yang terbebas dari penyakit lepra dan borok. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kamu yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adakah kamu ingin menukar mata kamu dengan emas sebesar gunung himalaya, atau menjual pendengaran kamu seharga perak satu bukit? Apakah kamu mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah lidah, hingga kamu bisu? Maukah kamu menukar kedua tangan kamu dengan untaian mutiara, sementara tangan kamu buntung?
Begitulah, sebenarnya kamu berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi kamu tidak menyadarinya. Kamu tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun kamu masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Kamu acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kamu pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa kamu mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya kamu masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!
"Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan" (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling kamu. Dan janganlah termasuk golongan :
"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya" (QS. An-Nahl: 83)
Jumat, 19 Juli 2019
Jumat, 07 Juni 2019
Allah hanya dapat dikenali apabila Dia memperkenalkan diriNya
Ruhani yang telah terdidik oleh pemahaman yang benar tentang amal, qada dan qadar, kehendak dan ikhtiar, doa dan janji Allah, akan membentuk sikap beramal shaleh tanpa melihat kepada amalan itu tapi sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri.
Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah tetapi membuka hati nuraninya untuk menjadi tempat dicurahkannya karunia Allah yang lain seperti petunjuk-petunjuk untuk mengenal Allah.
Orang yang hatinya telah dibersihkan sehingga mecapai suatu keadaan yang suci akan memperoleh pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah tidak mungkin dikenali dan ditemui kecuali jika Dia mengizinkan untuk dikenali dan ditemui. Tidak ada ilmu dan amal yang sanggup menyampaikan seseorang kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah secara zauk (berhadapan secara langsung). Allah hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan ‘diri’-Nya.
Penemuan kepada hakikat bahwa tidak ada jalan yang terluhur kepada gerbang ma’rifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu mengantarkan lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga untuk mencapai Allah, maka seseorang itu tidak akan lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apalagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sudah sampai ke sini maka seseorang itu tidak mempunyai pilihan lagi selain menyerah sepenuhnya kepada Allah.
Ada orang yang mengetuk gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika gerbang itu tidak terbuka, maka semangatnya akan menurun sehingga dapat membawa kepada putus asa. Ada juga orang yang berpegang kepada janji Allah bahwa Allah akan membukakan jalan-Nya pada hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran-Nya. Lalu dia dengan sekuat-kuatnya beramal shaleh agar dia lebih layak untuk memperoleh karunia Allah sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk gerbang ma’rifat. Bila gerbang tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.
Dalam perjalanan menuju ma’rifat, seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa, jika dia masih ketergantungan kepada sesuatu selain Allah. Tidak ada pilihan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Allah, hanya Allah yang memiliki kuasa mutlak dalam menentukan siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali ‘diri’-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah.
Orang yang hatinya telah dibersihkan sehingga mecapai suatu keadaan yang suci akan memperoleh pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah tidak mungkin dikenali dan ditemui kecuali jika Dia mengizinkan untuk dikenali dan ditemui. Tidak ada ilmu dan amal yang sanggup menyampaikan seseorang kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah secara zauk (berhadapan secara langsung). Allah hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan ‘diri’-Nya.
Penemuan kepada hakikat bahwa tidak ada jalan yang terluhur kepada gerbang ma’rifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu mengantarkan lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga untuk mencapai Allah, maka seseorang itu tidak akan lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apalagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sudah sampai ke sini maka seseorang itu tidak mempunyai pilihan lagi selain menyerah sepenuhnya kepada Allah.
Ada orang yang mengetuk gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika gerbang itu tidak terbuka, maka semangatnya akan menurun sehingga dapat membawa kepada putus asa. Ada juga orang yang berpegang kepada janji Allah bahwa Allah akan membukakan jalan-Nya pada hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran-Nya. Lalu dia dengan sekuat-kuatnya beramal shaleh agar dia lebih layak untuk memperoleh karunia Allah sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk gerbang ma’rifat. Bila gerbang tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.
Dalam perjalanan menuju ma’rifat, seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa, jika dia masih ketergantungan kepada sesuatu selain Allah. Tidak ada pilihan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Allah, hanya Allah yang memiliki kuasa mutlak dalam menentukan siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali ‘diri’-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah.
Aslim atau berserah diri kepada Allah adalah perhentian di hadapan pintu gerbang ma’rifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian Aslim ini yang berkemungkinan dikaruniakan ma’rifat. Allah melalui rahmat-Nya menyampaikan hambanya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut sedang dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah maqom berhampiran di mana seseorang telah sampai di depan pintu gerbang “perjumpaan” dengan Allah.
Siapa yang sudah sampai pada maqom ini, ia harus terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amalnya. Sekiranya Allah mengizinkan, dari maqom inilah seorang hamba ‘diangkat’ ke Hadrat-Nya.
Jalan menuju perhentian atau Aslim yaitu ke pintu gerbang ma’rifat, secara umum terbagi dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui suatu jalan dimana dia kuat melakukan mujahadah, berjuang menundukan hawa nafsu, kuat melakukan amal shaleh dan gemar menuntut ilmu.
Jalan menuju perhentian atau Aslim yaitu ke pintu gerbang ma’rifat, secara umum terbagi dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui suatu jalan dimana dia kuat melakukan mujahadah, berjuang menundukan hawa nafsu, kuat melakukan amal shaleh dan gemar menuntut ilmu.
Dhohirnya sibuk memenuhi tuntutan syariat dan meneguhkan bathinnya dengan iman. Dipelajarinya sifat-sifat dirinya yang tercela dan berusaha mengikisnya dari dirinya. Kemudian digantikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar dirinya diliputi oleh nafsu yang luhur dan suci hingga ke tingkat nafsu yang diridhoi Allah. Inilah orang yang diceritakan dalam keterangan hukum Allah.
Keterangan Qur’an :
“Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka memperoleh keridhoan) dan sesungguhnya (rahmat dan pertolongan) Allah menyertai orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya” (Q.S Al Ankabut : 69)
“Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menjumpai Allah dengan amalanmu itu” (Q.S Al Insyiqoq : 6)
Orang yang bermujahadah pada jalan menuju Allah dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyak ibadah, berdzikir, menyucikan hati, maka Allah menunjukan jalan dengan mengaruniakan rahmat-Nya sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah tanpa ragu-ragu dan ridho dengan ketetapan Allah.
Keterangan Qur’an :
“Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka memperoleh keridhoan) dan sesungguhnya (rahmat dan pertolongan) Allah menyertai orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya” (Q.S Al Ankabut : 69)
“Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menjumpai Allah dengan amalanmu itu” (Q.S Al Insyiqoq : 6)
Orang yang bermujahadah pada jalan menuju Allah dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyak ibadah, berdzikir, menyucikan hati, maka Allah menunjukan jalan dengan mengaruniakan rahmat-Nya sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah tanpa ragu-ragu dan ridho dengan ketetapan Allah.
Dia ‘dibawa’ menghampiri pintu gerbang ma’rifat dan hanya Allah saja yang memiliki kuasa yang menentukan apakah orang tersebut ‘dibawa’ ke Hadrat-Nya atau pun tidak, dikaruniakan ma’rifat atau tidak.
Sementara golongan orang yang ‘dicari’ menempuh perjalanan yang berbeda dari golongan yang mencari. Golongan orang yang ‘dicari’ pada mulanya tidak cenderung menuntut ilmu dan beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi Allah telah mengaruniakan suatu kedudukan keruhanian kepadanya, maka ketetapan-ketetapan yang berlaku kepadanya menggiringnya ke kedudukan keruhaniannya tersebut.
Sementara golongan orang yang ‘dicari’ menempuh perjalanan yang berbeda dari golongan yang mencari. Golongan orang yang ‘dicari’ pada mulanya tidak cenderung menuntut ilmu dan beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi Allah telah mengaruniakan suatu kedudukan keruhanian kepadanya, maka ketetapan-ketetapan yang berlaku kepadanya menggiringnya ke kedudukan keruhaniannya tersebut.
Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan suatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan pada hidupnya. Terjadi perubahan sikap dan perbuatan secara mendadak. Kejadian yang menimpanya biasanya berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah.
Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkannya tidak mampu mendekat kepada Allah, maka dengan kekuasaan-Nya kerajaannya itu dicabut darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada waktu yang sama timbul keinsyafan di dalam hatinya yang membuatnya berserah diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkannya tidak mampu mendekat kepada Allah, maka dengan kekuasaan-Nya kerajaannya itu dicabut darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada waktu yang sama timbul keinsyafan di dalam hatinya yang membuatnya berserah diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Ketetapan Allah yang berlaku kepadanya membuatnya terhalang dari menerima bantuan dari makhluk sehingga dia menjadi berputus asa terhadap makhluk. Lalu dia kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah dan timbullah dalam hatinya suasana penyerahan atau Aslim yang benar-benar kepada Allah.
Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan dia ridho terhadap apa pun ketetapan Allah yang berlaku kepadanya. Suasana begini membuat dia sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang ma’rifat walaupun ilmu dan amal dia masih sedikit.
Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan dia ridho terhadap apa pun ketetapan Allah yang berlaku kepadanya. Suasana begini membuat dia sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang ma’rifat walaupun ilmu dan amal dia masih sedikit.
Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana mampu sampai pada perhentian tersebut dalam waktu dua bulan, sedangkan orang yang mencari mungkin sampai dalam waktu dua tahun.
Abu Hurairah r.a pernah menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda yang maksudnya :
“Allah berfirman : apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada orang-orang yang mengunjunginya, maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu, dan dia dapat memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”
Amal shaleh dan ilmunya tidak dapat membawanya pada kedudukan keruhanian yang telah ditetapkan Allah, lalu dengan rahmat-Nya Allah mengaruniakan kepadanya bala bencana yang mendorongnya dengan cepat kepada Aslim. Oleh karena itu apabila terjadi keadaan yang demikian tidak perlu mempersoalkan tentang ilmu dan amal tapi segeralah jadikan bala bencana itu sebagai kendaraan untuk berserah diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Abu Hurairah r.a pernah menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda yang maksudnya :
“Allah berfirman : apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada orang-orang yang mengunjunginya, maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu, dan dia dapat memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”
Amal shaleh dan ilmunya tidak dapat membawanya pada kedudukan keruhanian yang telah ditetapkan Allah, lalu dengan rahmat-Nya Allah mengaruniakan kepadanya bala bencana yang mendorongnya dengan cepat kepada Aslim. Oleh karena itu apabila terjadi keadaan yang demikian tidak perlu mempersoalkan tentang ilmu dan amal tapi segeralah jadikan bala bencana itu sebagai kendaraan untuk berserah diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
(baitulakhlaq.blogspot.com)
Minggu, 12 Mei 2019
Puasa Syariat, Tarekat dan Hakikat
ALKISAH seorang Muslim yang hidup setelah masa Khulafa Ar-Rasyidun. Ia pada masa itu dikenal ahli ibadah yang tinggal di serambi masjid nabawi. Ia hampir tiap hari melakukan itikaf, dzikir, shalat dan ibadah lainnya. Ia jarang ke luar karena penglihatannya tidak normal alias buta. Suatu hari datang kabar bahwa temannya sakit keras. Kemudian ia menengoknya dengan diantarkan sahabatnya yang lain. Ketika tiba temannya itu meminta ia untuk berdoa demi kesembuhannya. Karena itulah setiap selesai shalat ia mendoakannya. Ajaibnya, beberapa hari setelah kunjungan itu temannya sembuh.
Atas kesembuhan itulah ia dinilai sebagai wali yang dapat menyembuhkan orang dengan doa. Karena alasan itu pula banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Tiap orang yang meminta doa kepadanya senantiasa terkabulkan. Sampailah suatu hari seorang teman bicara kepadanya, “Fulan, doa-doamu itu sangat mujarab dan benar-benar dikabulkan Allah. Tapi aku heran kenapa engkau tidak berdoa untuk kesembuhan matamu sendiri.”
Ditanya seperti itu Fulan menjawab, “Tidak, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diriku sendiri. Aku merasa beruntung karena kecacatanku ini telah mendekatkan aku kepada Allah. Dan kemungkinan besar bila mataku normal pasti akan lebih banyak terjerumus dalam kemaksiatan dibandingkan ketaatan.”
Demikian kisah yang cukup luar biasa. Sebab penderitaan yang ada pada kisah di atas menjadi salah satu alat untuk memasrahkan diri kepada Allah. Sebuah cara pandang yang muncul atas nurani yang jarang kita temukan di lingkungan masyarakat. Sebab di zaman modern ini sangat jarang orang yang mau bersyukur dengan ketentuan yang ditetapkan sebagai takdir Tuhan.
Banyak orang yang tidak bisa menerima keberadaan dirinya yang serba kurang, atau yang berbeda jauh dengan orang lain.Banyak orang normal, tapi lupa kepada Tuhan dan bahkan cenderung tidak menghiraukan perintah dan larangan-Nya. Kita juga sering melihat banyak orang Islam yang tidak mengikuti aturan-aturan Allah, tidak berpuasa misalnya. Mereka sering menganggap bahwa dengan puasa dirinya sedang diperas, dihambat dan diperdaya. Mereka tidak paham bahwa dengan puasa justru kita dibersihkan dan disehatkan dari berbagai penyakit lahir maupun batin. Dengan puasa kita dilatih jujur dan disiplin serta dilatih untuk peka terhadap sesama saudara kita yang mustadhafin.
Maka dengan menjalankan puasa secara sesungguhnya kita sedang dibina untuk menjadi manusia yang bertakwa. Untuk menjadi manusia yang bertakwa tentunya dilakukan dengan proses yang panjang. Ia diwajibkan berakhlak mulia, taat dan patuh terhadap perintah dan larangan agama. Hal ini termasuk menjalankan puasa. Apabila seorang Muslim menjalankannya dengan sebenar-benarnya maka ia disebut orang yang bersih sepeti bayi yang baru dilahirkan. Inilah sebabnya puasa Ramadhan diakhiri dengan idul fitri. Yakni perayaan atas kemenangan umat Islam yang berhasil mensucikan dirinya dari hal yang nista dan kotoran-kotoran jiwa. Sejatinya kesucian itu dipertahankan yang sekaligus menjadi “benteng” dari terpaan-terpaan negatif di bulan-bulan lain. Sehingga wajar bila Rasulullah saw merasa sedih bila di akhir hari-hari Ramadhan. Sebabnya adalah khawatir bila nanti jiwa yang bersih dan suci itu terkontaminasi dengan hal-hal yang nista.
Oleh karena itu, seorang Muslim dikatakan buruk bila hari ini lebih jelek dari kemarin. Dikatakan rugi jika kelak di pascaRamadhannya itu tidak meningkatkan kualitas hidup atau menurun dalam ibadahnya. Mereka inilah yang disebut tidak berhasil dan tidak berprestasi dalam puasa Ramadhannya. Ini yang dalam hadits dikatakan, banyak di antara orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus, dan banyak orang yang shalat malam (namun) yang didapatkannya itu hanya terjaga dari tidur (belaka) (HR Ahmad dan Hakim).
Bagaimana caranya supaya puasa kita mencapainya? Dalam literatur tasawuf, terutama al-Ghazali dan al-Qusyairi menyarankan berpuasa dalam tataran hakikat. Akan tetapi, tahapan hakikat ini tidak bisa begitu saja diraih, tapi harus bertahap dari fase syariat, tarekat, dan hakikat. Pada fase syariat ini seorang Muslim harus paham dalil-dalil syari` dan hukum batal dan sahnya puasa. Kemudian, ia diharuskan untuk meningkatkan ke tingkat selanjutnya, yaitu tarekat. Selain puasa secara lahiriah (syariat) juga harus mempuasakan aspek batinnya. Seperti puasa mencela, memaki, bohong, bertengkar, atau tidak berimajinasi maupun berpikir tentang yang porno dan hal-hal nista atau yang dapat membuat rusaknya nilai puasa, serta tidak meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunah yang rutin dikerjakan.
Jadi, pada fase tarekat, seorang Muslim dituntut untuk lebih kreatif dan produktif dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya. Apabila seorang Muslim tersebut tetap istiqamah dalam kedua fase tersebut maka ia sedang menuju tangga hakikat. Karena itu, seseorang yang sedang menuju fase hakikat harus mampu merasakan dengan kesadaran penuh bahwa dengan puasa ia sebenarnya sedang berhubungan dengan Allah Swt sehingga apa pun yang dikerjakan dan dilakukan, baik ketika berpuasa maupun saat di luar ibadah puasa, senantiasa merasa dijaga dan diawasi Allah. Inilah yang dimaksud berada dalam tataran hakikat.
Pendeknya, puasa secara syariat adalah khidmatullah. Secara tarekat adalah qurbatullah. Secara hakikat ialah penggabungan diri dengan Allah (wushlatullah). Mereka yang bisa bergabung dengan Allah adalah mereka yang suci dan kembali pada fitrah Ilahi. Orang yang termasuk kategori tersebut layak disebut muttaqin (orang bertaqwa). Bukankah tujuan puasa Ramadhan agar manusia menjadi bertaqwa? Karena itu, puasa Ramadhan bukan hanya menjalankan syariat, tetapi juga untuk mengembalikan kita pada fitrah, kesucian. Bagi mereka yang mensucikan diri (tazkiyatun nafs) adalah yang pantas untuk sampai pada idul fitri.
Menjalankan aturan Allah dengan penuh keikhlasan akan meninggikan kita menuju menjadi manusia yang sempurna. Yakni manusia yang tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang lain—baik itu materi maupun jabatan sosial—karena segala keperluaannya telah dipenuhi dan dijamin Allah Yang Mahasempurna. Allah Swt berfirman, ”Dia telah memberikan kepadamu segala keperluan dari apa-apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah maka tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan ingkar.” (QS Ibrahim: 34).
(Ahmad Sahidin/Kompasiana)
Atas kesembuhan itulah ia dinilai sebagai wali yang dapat menyembuhkan orang dengan doa. Karena alasan itu pula banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Tiap orang yang meminta doa kepadanya senantiasa terkabulkan. Sampailah suatu hari seorang teman bicara kepadanya, “Fulan, doa-doamu itu sangat mujarab dan benar-benar dikabulkan Allah. Tapi aku heran kenapa engkau tidak berdoa untuk kesembuhan matamu sendiri.”
Ditanya seperti itu Fulan menjawab, “Tidak, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diriku sendiri. Aku merasa beruntung karena kecacatanku ini telah mendekatkan aku kepada Allah. Dan kemungkinan besar bila mataku normal pasti akan lebih banyak terjerumus dalam kemaksiatan dibandingkan ketaatan.”
Demikian kisah yang cukup luar biasa. Sebab penderitaan yang ada pada kisah di atas menjadi salah satu alat untuk memasrahkan diri kepada Allah. Sebuah cara pandang yang muncul atas nurani yang jarang kita temukan di lingkungan masyarakat. Sebab di zaman modern ini sangat jarang orang yang mau bersyukur dengan ketentuan yang ditetapkan sebagai takdir Tuhan.
Banyak orang yang tidak bisa menerima keberadaan dirinya yang serba kurang, atau yang berbeda jauh dengan orang lain.Banyak orang normal, tapi lupa kepada Tuhan dan bahkan cenderung tidak menghiraukan perintah dan larangan-Nya. Kita juga sering melihat banyak orang Islam yang tidak mengikuti aturan-aturan Allah, tidak berpuasa misalnya. Mereka sering menganggap bahwa dengan puasa dirinya sedang diperas, dihambat dan diperdaya. Mereka tidak paham bahwa dengan puasa justru kita dibersihkan dan disehatkan dari berbagai penyakit lahir maupun batin. Dengan puasa kita dilatih jujur dan disiplin serta dilatih untuk peka terhadap sesama saudara kita yang mustadhafin.
Maka dengan menjalankan puasa secara sesungguhnya kita sedang dibina untuk menjadi manusia yang bertakwa. Untuk menjadi manusia yang bertakwa tentunya dilakukan dengan proses yang panjang. Ia diwajibkan berakhlak mulia, taat dan patuh terhadap perintah dan larangan agama. Hal ini termasuk menjalankan puasa. Apabila seorang Muslim menjalankannya dengan sebenar-benarnya maka ia disebut orang yang bersih sepeti bayi yang baru dilahirkan. Inilah sebabnya puasa Ramadhan diakhiri dengan idul fitri. Yakni perayaan atas kemenangan umat Islam yang berhasil mensucikan dirinya dari hal yang nista dan kotoran-kotoran jiwa. Sejatinya kesucian itu dipertahankan yang sekaligus menjadi “benteng” dari terpaan-terpaan negatif di bulan-bulan lain. Sehingga wajar bila Rasulullah saw merasa sedih bila di akhir hari-hari Ramadhan. Sebabnya adalah khawatir bila nanti jiwa yang bersih dan suci itu terkontaminasi dengan hal-hal yang nista.
Oleh karena itu, seorang Muslim dikatakan buruk bila hari ini lebih jelek dari kemarin. Dikatakan rugi jika kelak di pascaRamadhannya itu tidak meningkatkan kualitas hidup atau menurun dalam ibadahnya. Mereka inilah yang disebut tidak berhasil dan tidak berprestasi dalam puasa Ramadhannya. Ini yang dalam hadits dikatakan, banyak di antara orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus, dan banyak orang yang shalat malam (namun) yang didapatkannya itu hanya terjaga dari tidur (belaka) (HR Ahmad dan Hakim).
Bagaimana caranya supaya puasa kita mencapainya? Dalam literatur tasawuf, terutama al-Ghazali dan al-Qusyairi menyarankan berpuasa dalam tataran hakikat. Akan tetapi, tahapan hakikat ini tidak bisa begitu saja diraih, tapi harus bertahap dari fase syariat, tarekat, dan hakikat. Pada fase syariat ini seorang Muslim harus paham dalil-dalil syari` dan hukum batal dan sahnya puasa. Kemudian, ia diharuskan untuk meningkatkan ke tingkat selanjutnya, yaitu tarekat. Selain puasa secara lahiriah (syariat) juga harus mempuasakan aspek batinnya. Seperti puasa mencela, memaki, bohong, bertengkar, atau tidak berimajinasi maupun berpikir tentang yang porno dan hal-hal nista atau yang dapat membuat rusaknya nilai puasa, serta tidak meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunah yang rutin dikerjakan.
Jadi, pada fase tarekat, seorang Muslim dituntut untuk lebih kreatif dan produktif dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya. Apabila seorang Muslim tersebut tetap istiqamah dalam kedua fase tersebut maka ia sedang menuju tangga hakikat. Karena itu, seseorang yang sedang menuju fase hakikat harus mampu merasakan dengan kesadaran penuh bahwa dengan puasa ia sebenarnya sedang berhubungan dengan Allah Swt sehingga apa pun yang dikerjakan dan dilakukan, baik ketika berpuasa maupun saat di luar ibadah puasa, senantiasa merasa dijaga dan diawasi Allah. Inilah yang dimaksud berada dalam tataran hakikat.
Pendeknya, puasa secara syariat adalah khidmatullah. Secara tarekat adalah qurbatullah. Secara hakikat ialah penggabungan diri dengan Allah (wushlatullah). Mereka yang bisa bergabung dengan Allah adalah mereka yang suci dan kembali pada fitrah Ilahi. Orang yang termasuk kategori tersebut layak disebut muttaqin (orang bertaqwa). Bukankah tujuan puasa Ramadhan agar manusia menjadi bertaqwa? Karena itu, puasa Ramadhan bukan hanya menjalankan syariat, tetapi juga untuk mengembalikan kita pada fitrah, kesucian. Bagi mereka yang mensucikan diri (tazkiyatun nafs) adalah yang pantas untuk sampai pada idul fitri.
Menjalankan aturan Allah dengan penuh keikhlasan akan meninggikan kita menuju menjadi manusia yang sempurna. Yakni manusia yang tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang lain—baik itu materi maupun jabatan sosial—karena segala keperluaannya telah dipenuhi dan dijamin Allah Yang Mahasempurna. Allah Swt berfirman, ”Dia telah memberikan kepadamu segala keperluan dari apa-apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah maka tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan ingkar.” (QS Ibrahim: 34).
(Ahmad Sahidin/Kompasiana)
Jumat, 10 Mei 2019
Makna Puasa menurut Imam Gazali
Di zaman sekarang ini, kita melihat banyak orang yang mengenakan simbol agama, namun tidak menghidupi makna simbol tersebut. Banyak orang berpeci dan berbaju koko, namun tidak mencerminkan akhlak Nabi yang diutus sebagai pendidik, penyempurna akhlak. orang berjilbab namun tidak mencerminkan sikap yang diteladankan para ummul mukminin.
Salah satu simbol agama yang juga rawan disalah gunakan adalah puasa. Tentang hal ini, Imam Al Ghazali memberikan beberapa penjelasan yang menuntun kita untuk mendapatkan keutamaan puasa seutuhnya. Hal yang paling awal beliau sampaikan adalah peringatan agar kita tidak membatasi puasa hanya sebatas puasa wajib di bulan Ramadan. Jika kita memiliki pemahaman yang demikian, kita akan kehilangan kesempatan untuk memperindah masa depan akhirat dengan berbagai hal sunah, termasuk puasa sunah. Jarak kita dengan mereka yang ahli berpuasa sunah diibaratkan seperti penduduk bumi dan bintang yang berpendar indah di langit.
Berpuasa tidaklah sebatas menjaga nafsu dan syahwat. Namun lebih dari itu berpuasa adalah menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang dibenci oleh Allah, baik yang bisa dilakukan oleh mata, lisan, telinga, atau bagian tubuh yang lain. Menjaga diri agar tidak berkata hal-hal yang sia-sia, juga agar tidak mendengar apa yang diharamkan oleh Allah untuk dilakukan termasuk dalam makna luas puasa.
Menjaga nafsu dan syahwat memang sudah cukup bagi ulama fiqh untuk memenuhi syarat sah puasa. Namun ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu. Puasa yang sah adalah puasa yang diterima. Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai. Lalu apa maksud dari berpuasa? Adalah berakhlak dengan akhlak terbaik, akhlak malaikat, akhlak para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW.
Sejalan dengan makna ini ada sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat”. Tidak satu pun dari lima hal ini menunjukkan perilaku makan, minum, atau berhubungan suami istri. Namun mengapa kelimanya bisa membuat puasa seseorang tidak sah? Ini tentu berkaitan dengan makna sah itu sendiri; terwujudnya maksud puasa, untuk berakhlak mulia, dalam diri sang sa’im (orang yang berpuasa).
Jika seseorang telah melakukan puasa dengan sah, maka ketika ia menghadapi orang lain yang mengajaknya bercekcok atau sekedar menghinanya, ia hanya akan mengatakan pada dirinya “aku sedang berpuasa”. Selanjutnya, ia akan menunjukkan akhlak mulia pada orang tersebut. Sebagaimana dikatakan dalam Al Qur’an : Wa iza khatabahumul jahilu qalu salama (dan ketika seorang bodoh berbicara pada mereka, kaum beriman, mereka hanya mengatakan ‘damai’, menunjukkan sikap-sikap/respon-respon yang mendamaikan).
Imam Al Ghazali juga mengingatkan kita tentang hadits-hadits yang menunjukkan betapa Allah memperlakukan puasa secara spesial. Dalam beberapa versi hadits dikatakan bahwa puasa adalah tameng, dan puasa adalah milik Allah sendiri, serta Allah sendiri lah yang nanti akan secara langsung membalasnya. Nabi juga pernah bersumpah bahwa bau mulut seorang yang berpuasa beraroma jauh lebih wangi di sisi Allah dibandingkan dengan minyak misik.
Satu hal menarik disampaikan oleh beliau terkait tata krama berbuka bagi orang yang berpuasa. Beliau mengatakan bahwa wadah yang paling dibenci oleh Allah adalah perut yang diisi oleh hal-hal halal, sampai tidak muat.
Imam Al Ghazali kemudian menjelaskan beberapa waktu yang diutamakan untuk berpuasa, dari level minggu, bulan, hingga tahun. Di antara sekian hari dalam seminggu, hari Senin, Kamis, dan Jum’at adalah hari yang diutamakan untuk berpuasa. Di antara sekian hari dalam sebulan, tanggal pertama, tanggal terakhir dan ayyamul bid (hari-hari putih yaitu tanggal 13, 14, dan 15) adalah hari-hari yang diutamakan untuk berpuasa.
Di antara sekian banyak bulan dalam setahun, empat bulan mulia (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab) adalah bulan yang diutamakan untuk berpuasa di dalamnya. Waktu-waktu utama ini dijelaskan akan menjadi kaffarah (pembebas dosa) yang dilakukan selama seminggu, sebulan, dan setahun. Selain itu, ada beberapa hari yang disaksikan oleh hadits sebagai waktu yang memiliki keutamaan khusus. Waktu-waktu itu adalah hari Arafah, hari Asyura, sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, sepuluh hari pertama bulan Muharram, Rajab, dan Sya’ban.
Tidak cukup sampai di situ. Dijelaskan pula oleh Imam Al Ghazali bahwa Allah telah menyediakan satu tempat khusus di surga, yang pintunya bertuliskan Al-Rayyan (kesegaran, kedamaian) dan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang ahli berpuasa. Setelah semua ahli berpuasa telah masuk, pintu itu akan tertutup, dikunci, dan tidak membiarkan selain orang yang ahli berpuasa memasukinya. Semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya pada kita, sehingga kita digolongkan sebagai orang-orang yang ahli berpuasa.
Muhammad Nur Hayid, Pengurus LDNU PBNU dan Pengasuh Pondok pesantren Skill Jagakarsa, Jakarta
Salah satu simbol agama yang juga rawan disalah gunakan adalah puasa. Tentang hal ini, Imam Al Ghazali memberikan beberapa penjelasan yang menuntun kita untuk mendapatkan keutamaan puasa seutuhnya. Hal yang paling awal beliau sampaikan adalah peringatan agar kita tidak membatasi puasa hanya sebatas puasa wajib di bulan Ramadan. Jika kita memiliki pemahaman yang demikian, kita akan kehilangan kesempatan untuk memperindah masa depan akhirat dengan berbagai hal sunah, termasuk puasa sunah. Jarak kita dengan mereka yang ahli berpuasa sunah diibaratkan seperti penduduk bumi dan bintang yang berpendar indah di langit.
Berpuasa tidaklah sebatas menjaga nafsu dan syahwat. Namun lebih dari itu berpuasa adalah menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang dibenci oleh Allah, baik yang bisa dilakukan oleh mata, lisan, telinga, atau bagian tubuh yang lain. Menjaga diri agar tidak berkata hal-hal yang sia-sia, juga agar tidak mendengar apa yang diharamkan oleh Allah untuk dilakukan termasuk dalam makna luas puasa.
Menjaga nafsu dan syahwat memang sudah cukup bagi ulama fiqh untuk memenuhi syarat sah puasa. Namun ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu. Puasa yang sah adalah puasa yang diterima. Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai. Lalu apa maksud dari berpuasa? Adalah berakhlak dengan akhlak terbaik, akhlak malaikat, akhlak para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW.
Sejalan dengan makna ini ada sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat”. Tidak satu pun dari lima hal ini menunjukkan perilaku makan, minum, atau berhubungan suami istri. Namun mengapa kelimanya bisa membuat puasa seseorang tidak sah? Ini tentu berkaitan dengan makna sah itu sendiri; terwujudnya maksud puasa, untuk berakhlak mulia, dalam diri sang sa’im (orang yang berpuasa).
Jika seseorang telah melakukan puasa dengan sah, maka ketika ia menghadapi orang lain yang mengajaknya bercekcok atau sekedar menghinanya, ia hanya akan mengatakan pada dirinya “aku sedang berpuasa”. Selanjutnya, ia akan menunjukkan akhlak mulia pada orang tersebut. Sebagaimana dikatakan dalam Al Qur’an : Wa iza khatabahumul jahilu qalu salama (dan ketika seorang bodoh berbicara pada mereka, kaum beriman, mereka hanya mengatakan ‘damai’, menunjukkan sikap-sikap/respon-respon yang mendamaikan).
Imam Al Ghazali juga mengingatkan kita tentang hadits-hadits yang menunjukkan betapa Allah memperlakukan puasa secara spesial. Dalam beberapa versi hadits dikatakan bahwa puasa adalah tameng, dan puasa adalah milik Allah sendiri, serta Allah sendiri lah yang nanti akan secara langsung membalasnya. Nabi juga pernah bersumpah bahwa bau mulut seorang yang berpuasa beraroma jauh lebih wangi di sisi Allah dibandingkan dengan minyak misik.
Satu hal menarik disampaikan oleh beliau terkait tata krama berbuka bagi orang yang berpuasa. Beliau mengatakan bahwa wadah yang paling dibenci oleh Allah adalah perut yang diisi oleh hal-hal halal, sampai tidak muat.
Imam Al Ghazali kemudian menjelaskan beberapa waktu yang diutamakan untuk berpuasa, dari level minggu, bulan, hingga tahun. Di antara sekian hari dalam seminggu, hari Senin, Kamis, dan Jum’at adalah hari yang diutamakan untuk berpuasa. Di antara sekian hari dalam sebulan, tanggal pertama, tanggal terakhir dan ayyamul bid (hari-hari putih yaitu tanggal 13, 14, dan 15) adalah hari-hari yang diutamakan untuk berpuasa.
Di antara sekian banyak bulan dalam setahun, empat bulan mulia (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab) adalah bulan yang diutamakan untuk berpuasa di dalamnya. Waktu-waktu utama ini dijelaskan akan menjadi kaffarah (pembebas dosa) yang dilakukan selama seminggu, sebulan, dan setahun. Selain itu, ada beberapa hari yang disaksikan oleh hadits sebagai waktu yang memiliki keutamaan khusus. Waktu-waktu itu adalah hari Arafah, hari Asyura, sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, sepuluh hari pertama bulan Muharram, Rajab, dan Sya’ban.
Tidak cukup sampai di situ. Dijelaskan pula oleh Imam Al Ghazali bahwa Allah telah menyediakan satu tempat khusus di surga, yang pintunya bertuliskan Al-Rayyan (kesegaran, kedamaian) dan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang ahli berpuasa. Setelah semua ahli berpuasa telah masuk, pintu itu akan tertutup, dikunci, dan tidak membiarkan selain orang yang ahli berpuasa memasukinya. Semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya pada kita, sehingga kita digolongkan sebagai orang-orang yang ahli berpuasa.
Muhammad Nur Hayid, Pengurus LDNU PBNU dan Pengasuh Pondok pesantren Skill Jagakarsa, Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
Berbaik Sangka kepada Allah SWT: Husnudzan sebagai Pilar Iman
Dalam perjalanan hidup sebagai hamba, salah satu akhlak mulia yang sering terlewatkan adalah berbakti dengan prasangka baik (husnudzan) kepa...
-
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama in...
-
1. Apakah orang yang sedang sekarat dapat melihat malaikat? 2. Kapankah manusia dihimpit di alam kuburnya dan apakah semua manusia akan me...



