Jumat, 18 Desember 2020

Benarkah Imam Asy-Syafi’i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Di kalangan para penganut Faham Salafi Wahabi, selalu ngoceh di mana-mana. Di radio, majalah, dan internet, bahwa menurut mereka, Imam As-Syafi’i mencela sufi dan tasawuf (Ilmu tasawuf). Benarkan Imam Syafi’i berbuat demikian? Atau itu cuma sekedar salah paham akibat belajar ilmu dari sumber yang salah? Atau mungkin bahkan hal itu sengaja dilontarkan untuk memfitnah sufi dan ilmu tasawuf? Wallohu a’lam.

Di sini akan disajikan fakta-fakta mengenai permasalahan ini. Semoga dengan FAKTA ini, tidak ada lagi yang salah faham mengenai maksud Imam As-Syafi’i yang tercatat dalam kitab Manaqib Al Imam as-Syafi’i karya Imam Baihaqi. Dari buku ini jelas-jelas terbukti bahwa beliau mencela itu ditujukan hanya kepada oknum sufi dan bukan sufi yang sesungguhnya. Justru Imam As-Syafi’i juga terbukti memuji kepada para sufi dan tasawuf. Begitlah fakta yang sebenarnya.

Memang di beberapa tempat, Imam As-Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi dan tasawuf. Dan yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al-Imam As-Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As-Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
Imam A- Syafi’i juga menyatakan: ”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas (istimewa).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian. Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada sufi dan tasawuf. Namun tidak benar-benar menjalankan ajaran ilmu tasawwuf tersebut.
Penjelasan Imam Al-Baihaqi Apa yang Dimaksud Imam As-Syafi’i Terkait Sufi dan Tasawuf

Dalam hal ini, Imam Al-Baihaqi menjelaskan, ”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya. Dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim. Ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka. Dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/208)

Jelas, dari penjelasan Imam Al-Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan (sufi gadungan). Yaitu mereka yang tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As-Syafi’i juga menyatakan: ”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut. ”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam A- Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As-Syafi’i pernah mengatakan, ”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun. Aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu”. (maksudnya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi. Maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas dalam bukunya tersebut, Imam Al-Baihaqi memahami bahwa Imam As-Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As-Syafi’i mengeluarkan pernyataan (yang bernada mencela) di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi. Namun Imam As-Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As-Syafi’i yang menyebutkan bahwa beliau mengambil dari para Sufi dua hal. Atau tiga hal dalam periwayatan yang lain. Sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum Sufi. ”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian Imam As-Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)
Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi dan Tasawuf

Bahkan di satu kesempatan, Imam As-Syafi’i memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan, ”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As-Syafi’i disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al-Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya sebatas sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As-Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.
Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As-Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan fakta sejarah biografinya, juga tidak sesuai dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As-Syafi’i.

Rujukan:
1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.
2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.
3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.

Source: ISLAM-Institute

Jumat, 06 November 2020

Perbedaan Wahabi, Syiah dan Sufi (Sunni)

Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. 

Agama ini termasuk agama Samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. 

Dengan sekitar dua milyar  orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.

Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. 

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Adapun terdapat Mazhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. 

Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah. Penulis disini hanya mengulas 3 Mazhab yaitu:

Sunni: Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni. Ahlussunah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.

Syi’ah: Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه)Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama, sebagaimana  juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi'ah. 

Bentuk tunggal dari Syi'ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait  dan Imam Ali. 

Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah. Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. 

Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Sufi: Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (Bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. 

Tasawuf (pelakunya disebut Sufi) pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syi'ah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Apapun Mazhab Islam yang kita percayai janganlah membawa arah pada permusuhan terhadap sesama Muslim lebih-lebih menimbulkan peperangan antara sesama kaum Muslimin. Islam tidak mengajarkan kita akan permusuhan akan tetapi Islam mengajarkan kepada kita bahwa Islam adalah Rahmatanlilallamin. 

Penulis hanya membantu bagi yang ingin mengetahui tentang Mazhab Islam yang didapatkan oleh penulis dari (http://id.wikipedia.org). Apapun aliran Islam kita tetap harus bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah,SWT. dan kita juga harus bersaksi bahwa Nabi Muhammad, SAW. adalah Rasulullah, "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah". (Oleh:Fachrul Reza Adung)

Perbedaan signifikan
Wahabi mencintai sahabat, namun membenci Ahli Bait. Syiah mencintai Ahli Bait, tetapi membenci sahabat. Sedangkan Sufi mencintai keduanya, Ahli Bait dan juga sahabat.

Perbedaan signifikan tiga kelompok di atas disebabkan perbedaan penafsiran atas teks (al-nash), baik Alquran maupun hadis.

Wahabi menafsirkan teks Alquran dan hadis melalui penafsiran kulit luar (al-tafsir al-dhahiriy). Syiah menafsirkan teks secara substantif (al-tafsir al-batiniy). Sufi menjelaskan bahwa substansi teks diperoleh melalui komunikasi manusia dengan Tuhan.

Tak dipungkiri, sikap ekstrim wahabi tidak muncul dengan sendirinya. Sikap ini berangkat dari pemahaman ayat-ayat siksa (al-‘azab), bentuk turunan (derivatif), dan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan siksa.

Sikap longgar kaum fundamentalis juga berawal dari pemahaman ayat-ayat yang menerangkan rahmat, dermawan, ampunan, taubat, dan sebagainya.

Kesalahan wahabi adalah memutlakkan pemahaman ayat-ayat tentang siksa. Kesalahan fundamentalis adalah memutlakkan ayat-ayat tentang rahmat, dermawan, ampunan, taubat, dan lain-lain.

Pemutlakan tersebut mustahil dilakukan dengan dua argumen.

Pertama, tidak mungkin selamanya menyematkan sifat Allah sebagai pembalas dendam (al-muntaqim), tanpa mengakui Dia sebagai Pemberi ampunan dan rahmat.

Kedua, tidak mungkin bicara ampunan dan rahmat, lalu melupakan sifat-Nya sebagai pembalas dendam dan pemaksa (al-Jabbar).

Penyematan satu sifat Allah dan melupakan sifat yang lain itu menandakan bahwa Allah memiliki sifat kurang, tidak sempurna. Mustahil Allah memiliki kekurangan.

Wahabi dan Syi'ah sama-sama mengambil satu sisi dalam Islam dan melupakan sisi-sisi yang lain.

Islam memiliki dua sisi tersebut agar berjalan seirama. Inilah yang disebut wasathiyyah. Tidak miring ke kiri. Tidak condong ke kanan.

Dengan demikian, pemutlakan sifat taubat dapat menghilangkan rasa takut (al-khauf) atas skenario Allah (al-makr).

Pemutlakan sifat Allah sebagai pemberi siksa yang pedih dapat memupus harapan seseorang untuk memperoleh rahmat.

Karenanya, perlu ada keseimbangan. Tidak boleh hanya mengingat rahmat, lalu mengabaikan aspek yang lain. Dilarang merasakan kekerasan dan menafikan kelembutan.

Jangan sampai rasa takut yang berlebihan memupus harapan. Jangan sampai keluasan rahmat melenyapkan skenario Tuhan.


Fenomena Baru

Kemunculan fenomena-fenomena baru pada peringatan Hari Besar Islam, seperti Maulid, Isra’ Mikraj, dan sebagainya, bagaikan kemunculan lalat yang mengerumuni daging dan anjing yang berebut tulang di tempat pemotongan hewan.

Keberadaan lalat dan anjing di tempat pemotongan hewan itu sangat menjijikkan dan tidak sedap dipandang. Namun kemunculannya tidak serta-merta membuat daging menjadi haram dimakan. Hal ini memerlukan ketenangan berpikir dan kecerdasan berlogika.

Faktanya, wahabi telah melahirkan beberapa organisasi baru yang berbeda dengan asalnya. Begitu pula syiah memunculkan ajaran dan gerakan baru dengan sempalan-sempalan syiah lainnya. Sementara kaum sufi, meski organisasi dan gerakannya berbeda, namun tujuannya sama, yaitu menggapai Cinta Illahi.

Jelasnya, ketika Allah mewajibkan salat. Nabi Muhammad SAW mengajarkan tata cara shalat. Maka selanjutnya terdapat perbedaan tata cara salat. Perbedaan ringan dan tidak signifikan.

Beda halnya dengan puasa dan haji, Allah langsung memberitahukan tata cara puasa dan haji. Maka tidak ada perbedaan dalam pelaksanaannya.

Berikutnya, Allah mewajibkan zikir dan tidak mengajarkan tata cara zikir secara langsung.

Tidak adanya pengajaran langsung terkait tata cara pelaksanaan zikir, tidak menunjukkan kealpaan dan keterbatasan Allah dan Rasul-Nya. Namun hal ini bertujuan supaya pelaku zikir dapat memilih tata cara dan jalan zikir yang cocok. Tak seorangpun dapat membatasi cara, bentuk, dan waktu berzikir.

Zikir diumpamakan tukang pedaging. Ada yang spesialis pemotong daging. Ada yang ahli membersihkan babat dan usus. Ada juga yang khusus menyelesaikan kepala. Ujungnya, daging, babat, usus, dan kepala hukumnya halal dimakan. (Oleh: H. Muhammad Rofiq Mualimin, Alumni Universitas Al-Azhar Mesir dan pengasuh PP Nur Hikmah, Bantul, Yogyakarta)

Selasa, 22 September 2020

Yuk, Kita Belajar dari Sumur

Pasangan hidup kita sering diumpamakan sebagai teman satu lembur, satu sumur, satu dapur dan satu kasur. Perumpaan ini tak perlu dibantah secara ngeyel atau berlebihan. Kenyataannya memang seperti itu. Kudu diterima dengan penuh lapang dada.

Tapi ini bukan cerita tentang pasangan hidup kita dengan segala tetek bengek suka dukanya. Kali cerita tentang SUMUR yang ternyata memiliki filosofi yang unik.

Begini ceritanya. Jika sebuah sumur sering ditimba airnya, maka airnya akan tampak selalu jernih.  Tidak mengering. Bahkan airnya akan selalu tersedia di dalamnya...

Namun uniknya, ketika beberapa hari atau satu hari saja airnya tidak ditimba, ketinggian air di dalam sumur itu akan tetap. Tidak menurun atau meningkat alias sama seperti sebelumnya.

Justru sumur yang tak pernah lagi diambil airnya, maka airnya akan cenderung  kotor. Ada kalanya sudah tak layak lagi untuk diminum.
Mengapa demikian? Inilah hukum alam. Alam akan tetap menjaga sunatullah. Terjaga dalam keseimbangan.

Tak perlu dipungkiri kalau di alam ini memang terdapat banyak misteri.  Tujuannya guna memberikan pelajaran pada kehidupan manusia mengenai pentingnya keseimbangan. Mari kita analogikan filosofi sumur dengan kehidupan kita. Sumur rupanya bisa memberi pelajaran pada kehidupan kita.

Dari filosofi sumur ini kita dapat belajar, ternyata semakin banyak sumur memberi air semakin banyak air yang mengalir kepadanya. 

Dalam kehidupan pada umumnya orang berpikir bahwa jika kita memberi apa yang kita miliki pasti akan berkurang dari yang dimiliki sebelumnya. Padahal tidaklah demikian. Ketika kita memberi misalnya dalam bentuk materi, seperti sedekah atau wakaf atau apapun bentuk pemberian materi lainnya. Maka Allah menjanjikan bahwa pada yang telah dikeluarkannya itu tidak akan berkurang, namun akan diberikan pahala minimal 10x lipat.

Maknanya semakin banyak kita memberi kepada orang lain maka akan semakin banyak yang kita miliki. Makna memberi memang tidak harus berupa materi, Bisa dalam bentuk apapun. Dalam bentuk sikap, perilaku atau ilmu misalnya.

Ketika kita memberi ilmu, misalnya, maka sesungguhnya kemampuan kita akan semakin meningkat. Memberi tentu saja yang dibingkai dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapat pengakuan, sanjungan atau ingin menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan dibanding orang lain.

Kita memberi dalam kapasitas yang terukur. Memberi karena dilandasi oleh harapan orang lain akan semakin bijak dan bahagia. Apalagi menyasar pada harapan agar kehidupan yang lain bisa lebih layak dan sejahtera dalam menjalani kehidupannya.
 
Yakinlah, kita semua BISA melakukan hal ini. Sesuai dengan kapasitas dan keikhlasannya.

Pilihan terserah pada diri kita.
Sedangkan manfaat langsung yang bisa kita rasakan saat memberi adalah kebahagiaan dan kepuasan batin. Dan inilah sesungguhnya hyang dinamakan kebahagiaan sejati.

THE MORE YOU GIVE...
THE MORE YOU RECEIVE...

Jumat, 07 Agustus 2020

Musuh utama kejujuran adalah kemunafikan

Kisah ini terjadi pada masa zaman Nabi Sulaiman. Sekali peristiwa terdapat sepasang burung sedang bercengkerama di sebuah batang pohon yang rindang dan tak jauh dari jalan utama sebuah perkampungan. Keduanya berceloteh nyaring dan mendendangkan kebahagiaan. Celoteh dan nyanyian itu terpaksa mandek ketika samar-samar datang seorang lelaki bertongkat yang mengenakan jubah dan menggamit sebuah kitab di lengan kirinya.

Burung jantan berkata kepada sang Betina, “Kita harus beranjak. Lelaki itu pasti akan memburu kita.”

Sang betina bergeming. Ia sesekali masih tetap berceloteh dan bercericit. “Ia bukan pemburu. Ia adalah seorang ulama. Tampaknya ia akan berangkat mengajar ilmu agama,” demikian sang betina menampik.

Sang jantan mengalah dan memutuskan percaya pada argumen sang betina. Keduanya melanjutkan celotehan yang sebelumnya tertunda. Sial nasib, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam batok kepala burung betina. Tampaknya pukulan itu berasal dari tongkat yang dipegang lelaki berjubah. Sang betina sekarat meregang nyawa.

Beberapa detik sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jubah. Ia menyembelih, membersihkan bulu-bulu, dan memanggang burung betina itu. Magrib itu, lelaki berjubah berbuka puasa dengan menu burung panggang.

Dari kejauhan, sang burung jantan hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan kekasih hatinya. Ia berduka sedalam-dalamnya. “Manusia memang tidak pernah jujur, bahkan kepada dirinya sendiri. Bukankah ia sedang berpuasa? Mengapa ia menipu kami dengan tampilan agamawan, namun hatinya tak ubahnya pemburu yang bengis dan kejam?”


Kalimat aduhan tersebut disampaikan pada Nabi Sulaiman. Kepada Nabi yang dianugerahi nikmat mampu bercakap cakap dengan hewan itu, sang burung jantan menumpahkan keluh kesah atas kecurangan dan kejahatan yang menimpa keluarganya. Nabi Sulaiman segera memanggil lelaki berjubah itu beberapa hari kemudian.

“Apakah benar kau membunuh seekor burung beberapa waktu lalu dan memakannya untuk berbuka puasa?” tanya Nabi Sulaiman pada lelaki berjubah.

“Daulat, Baginda.”

“Kau boleh berburu tapi berperilakulah yang jujur. Jangan menjadi penipu. Kau kenakan pakaian kebesaran agamawan, berjubah, bergamis, sehingga tak satupun hewan-hewan menaruh curiga kepadamu. Namun, nyatanya justru dengan tongkatmu kau melukai, membunuh, dan menyantap mereka? Yang kau lakukan tidak lain adalah penipuan dan kebohongan.”

Lelaki berjubah itu menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh menyesali perbuatannya. Ia tidak menyangka bahwa perilakunya yang terlihat sepele itu mengandung dosa yang demikian besar di mata Tuhan.

Kejujuran adalah nilai yang hendak ditanamkan oleh Nabi Sulaiman kepada lelaki berjubah itu. Betapa kejujuran menjadi barang yang teramat mahal. Kesesuaian antara performa lahir dengan apa yang ada di dalam batin menjadi kunci dan moral cerita di atas.

Bahaya Ulama MunafikTidak kalah pentingnya, para ulama terdahulu mewanti-wanti agar umat manusia tidak terkecoh dengan identifikasi-identifikasi dan pemahaman yang keliru. Contohnya yang menyangkut kejujuran, banyak dikisahkan bahwa umumnya pendapat menyatakan musuh utama kejujuran adalah kebohongan.

Pendapat demikian dibantah para ulama dan pakar akhlak. Sebab yang menjadi musuh utama kejujuran adalah kepura-puraan. Dalam terminologi agama disebut dengan kemunafikan atau munafik. Istilah yang lebih baru yang diserap dari bahasa Inggris adalah hipokrit.

Munafik adalah kondisi ketika seseorang menampakkan sesuatu yang berlawanan dengan keadaan batinnya. Dalam Bahasa agama disebut "yuzhiru khilāfa ma yubthinu" (menampakkan apa yang tidak sesuai dengan kondisi sejatinya).

Sufi besar Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa tabiat orang munafik itu selalu berbeda antara lisan dengan kata hati. Apa yang tersembunyi dengan yang ditampakkan bersifat kontradiktif, dan berbeda antara yang masuk dengan yang keluar. Artinya jika berkabar, ia pasti membual-bual.

Sadar akan kadar bahaya yang disebabkan wabah kemunafikan ini, Rasulullah memberikan minimal empat ciri munafik tulen. Ciri pertama, jika diberi amanat, ia akan mengkhianati. Kedua, jika berbicara, ia berdusta. Ketiga, jika berjanji, ia pasti mengingkari. Keempat, jika ia berselisih paham, maka ia tidak segan-segan akan berbuat zalim.

Sahabat Umat bin Khattab sekali waktu berkhotbah dengan sangat lantang di atas mimbar: “yang aku khawatirkan terjadi dan menimpa kalian adalah munculnya orang-orang berilmu yang munafik.”

Siapakah yang dimaksud Umar?

Dalam kitab Jāmiul Ulūm wal Hikam disebutkan bahwa mereka mereka adalah orang-orang yang perkataannya penuh hikmah, namun tingkah polahnya sarat kemungkaran.

Orang yang munafik canggih merekayasa umat. Dengan modal pemahaman keagamaan, mereka sering kali menipu orang banyak. Ulama seperti inilah yang diramalkan Umar bin Khattab banyak lahir di akhir zaman. Umar melukiskan dengan kalimat “khusū’un nifaq an taral jasada khāsian, wal qalbu laisa bikhāsi’in” (fisiknya tampak khusyuk sekali, namun tidak dengan hatinya).

Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik menarik untuk direnungkan: betapa wabah kemunafikan sudah sedemikian akut dan merajalela. Rasulullah bersabda, “Akan datang suatu masa ketika orang kaya naik haji hanya untuk pelesiran, orang kelas menengah pergi haji untuk berdagang, para pengkaji Alquran berangkat haji untuk pamer serta meningkatkan reputasi nama baik, dan orang miskin naik haji untuk mengemis.”

(tirto.id//Fariz Alniezar/Sosial Budaya)

Pemangkasan Ratusan BUMN: "Penyembuhan atau Suntik Mati?"

(Secangkir Anggur Merah Edisi-28) Pengantar : Ada sebuah pertanyaan yang menggantung di udara bagai kabut pagi yang bergelayut di angkasa. K...