Rabu, 15 Juni 2022

Qurban dan Kedekatan dengan Allah

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

Diceritakan, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang panglima yang digelari “asadullah” (singa Allah), tubuhnya bergemuruh setiap mendengar genderang perang ditabuh. Badannya selalu terkoneksi dengan sinyal-sinyal ilahiah, atau yang dalam dunia tasawuf disebut “muraqabah”.

Sahabat, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi SAW ini adalah contoh manusia yang “Allah lebih dekat dari urat lehernya.” Seluruh molekul tubuh sosok yang berdua bersama Ali bin Abi Thalib pernah sukses memimpin perang Badar pada tahun 2 Hijriah ini, sudah terisi cahaya Allah. Hatinya (dalam dimensi batiniah disebut qalbu) senantiasa bergetar manakala mendengar Kalimah-Kalimah Suci.

Untuk orang-orang seperti ini Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal: 2).

Hamzah syahid dalam perang Uhud pada tahun 3 Hijriah. Ia bersama Muhammad menjadi target utama pembunuhan. Sebelumnya dalam perang Badar, ia pernah menghabisi ayah dari Hindun. Begitu dendamnya perempuan ini. Lalu ia mengupah dan melatih budaknya, Wahsyi bin Harb, untuk membunuh Hamzah.

Hamzah diintai. Dalam kegentingan perang yang amburadul karena pasukan muslim mengabaikan perintah Nabi, Hamzah berhasil ditombak dari belakang. Ia rubuh. Tubuhnya dicincang. Hatinya dirobek-robek dan dimakan Hindun. Paska perang, kaum muslim menelusuri mayat demi mayat untuk mencari Hamzah. Tak dikenali lagi, karena fisiknya sudah dirusak.

Secara heroik diriwayatkan. Untuk mengetahui kepingan tubuh Hamzah, kaum muslimin menabuh kembali genderang perang. Jika ada potongan jasad yang bergerak-gerak, itulah daging Hamzah. Tubuhnya masih mengalami muraqabah bahkan ketika sudah mati sekalipun. Spirit mujahadahnya tinggi sekali.

Cerita serupa kita temukan pada kisah-kisah sufi yang mati dibunuh. Siti Jenar, Hamzah Fansuri, dan ahli muraqabah lainnya. Katanya, begitu dipancung, darah mereka mengalir membentuk Kalimah Allah.

Bagi sebagian kita, ini terkesan mistis. Sulit dicerna. Tidak masuk akal. Saya pun demikian. Setidaknya kita dapat memahaminya dalam pengertian berbeda. Bahwa secara hakikat, orang-orang beriman itu senantiasa “hidup”. Tidak pernah mati. Kalimah Allah sudah menyatu dalam darah dan daging mereka.

Dikemudian hari juga ditemukan adanya jasad para syuhada yang tubuhnya masih utuh. Darahnya masih segar. Padahal sudah ratusan, bahkan ribuan tahun meninggal. Celah-celah dinding dan lantai kuburan imam Husain, misalnya, diketahui masih sering mengeluarkan bercak merah darah. Pun demikian dengan banyak makam syuhada, para pemimpin dan orang-orang shaleh lainnya. Bumi terkesan enggan menghancurkan tubuh-tubuh yang Nur Allah sudah bersemayam dalam diri mereka.

***

Salah satu tugas Nabi adalah mengisi Kalimah Allah ke dalam jiwa pengikutnya. Kalimah yang diisi haruslah Kalimah yang asli. Sebab, kalau sekedar membaca ayat suci, iblis juga bisa. Tapi masalahnya, kalimat itu tidak berasal dari dimensi yang tinggi. Sehingga pengaruhnya tidak ada.

Seorang arifbillah di Dayah Sufimuda Aceh, pernah mengilustrasikan ini dengan sebuah surat yang berisi kalimat-kalimat dari presiden, katakanlah Jokowi. Setiap orang bisa meniru surat itu. Namun, jika surat tersebut palsu, tetap tidak punya efek apapun. Sebab, sebuah surat dan kalimat yang asli, turun dari lembaran negara. Surat dan kalimat-kalimat inilah yang punya efek luar biasa, bisa menaikkan atau menurunkan harga BBM. Sementara surat-surat palsu tidak memiliki power semacam itu, walaupun kop dan tandatangannya persis sama.

Itulah mengapa resonansi bacaan kita terhadap kalimat-kalimat Tuhan lemah. Meskipun diayun-ayun dengan 1001 irama, ditambah fasahah yang sempurna, getaran ilahiah tetap tidak ada. Karena yang membaca itu dimensi “aku”, bukan “Dia.” Bukan unsur Tuhan yang membacanya. Tapi nafsu.

Kalau bacaannya berasal dari lembaran jiwa yang suci, pasti mampu mengobati berbagai penyakit, mengalahkan musuh-musuh, mengusir unsur-unsur setan, menjadi petunjuk dan menenangkan jiwa. Oleh sebab itu, kesucian jiwa menjadi prasyarat untuk berfungsinya semua Kalimah itu. Metodologi penyucian jiwa disebut tarekat (sufisme praktis). Tentu dengan bimbingan seorang mursyid yang memiliki kompetensi kewalian (waliyammursyida, QS. Alkahfi: 17).

***

Idul Adha dikenal dengan “Idul Qurban.” Makna dari “kurban” adalah kedekatan dengan Allah. Proses berkurban sejatinya membawa kita semakin dekat dengan Allah. Salah satu indikasi “dekat” dengan Allah adalah seperti disebutkan dalam QS. Al-Anfal ayat 2 di atas: “bergetar qalbunya kalau mengingat Allah.”

Apa hubungan penyembelihan hewan kurban dengan kedekatan kepada Allah?

Pertama, seperti sudah umum dijelaskan oleh banyak ulama tasawuf, penyembelihan hewan adalah simbol penyembelihan “diri” (ego, keakuan atau sifat-sifat kebinatangan). Ketika kita sudah bersedia mengorbankan segala yang paling kita cintai di jalan Tuhan, maka saat itulah Allah akan bersedia menghampiri kita. Syarat diterimanya kurban tentu ikhlas. 

Kedua, sesungguhnya, daging kurban itu sendiri jika dimakan akan mengantarkan kita semakin dekat dengan Allah. Sebuah sembelihan yang diawali dengan Kalimah Suci akan mentransfer cahaya ilahi ke dalam darah dan dagingnya. Masaru Emoto (2003) dari Hado Institute Tokyo telah menguji ini terhadap segelas air yang dibacakan kalimat-kalimat positif. Kristal air berubah menjadi baik. Tidak sekedar halal, jenis air yang baik seperti ini yang seharusnya sering kita minum.

Oleh sebab itu, air Zamzam menjadi berkah bukan karena sekedar unsurnya yang baik. Kristalnya juga terbentuk dari doa para nabi dan orang-orang shaleh. Dalam tasawuf, ini dikenal dengan “air tawajuh”. Air yang dizikirkan dengan Kalimah-Kalimah Suci. Konon lagi jika ditalqin oleh sosok nabi dan para imam/wali. Pun daging kurban yang dipotong dengan azan dan Kalimah-Kalimah Suci menjadi daging yang baik. Memakan daging yang mengandung unsur-unsur ilahiah ini akan membawa kita semakin kuat beribadah dan merasakan kehadiran Allah (muraqabah).

Menariknya, Kalimah-Kalimah Suci ini tidak hanya kita bacakan saat menyembelih sapi dan kambing. Selama empat hari tanpa henti; takbir, tahmid, tasbih dan tahlil terus dikumandangkan. Seharusnya, gema ini (jika Kalimahnya asli) mampu mentransfer energi positif ke relung jiwa kaum muslimin. Namun, semakin hari kalimat-kalimat suci yang kita alunkan terkesan semakin bermasalah. Suara azan sekalipun yang seharusnya ketika didengar bisa melembutkan qalbu-qalbu etnis Cina, justru semakin dimusuhi. Ada apa ini?

Pun wuquf di Arafah. Yang seharusnya hadir adalah Allah, kini yang datang justru angin ribut.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

 powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Jumat, 20 Mei 2022

Mengenal Tiga Jenis Tasawuf

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, kata Nabi SAW. Misi irfan atau sufismenya kental sekali: penyempurnaan atau kekeramatan akhlak (makarimal akhlak). Sementara tauhid (akidah) dan syariat (fikih) hanya untuk membentuk dasar-dasarnya saja (dengan cara meyakinkan manusia untuk percaya kepada adanya Allah, lalu memaksa mereka melakukan berbagai ritual fisik untuk menyembah-Nya, walau Allah sendiri tidak pernah bisa dirasakan kehadiran-Nya). Tasawuflah yang mengantarkan itu semua pada bentuk yang sempurna.

Terkait dengan pembentukan akhlak, tasawuf itu terbagi tiga. Mulai dari tasawuf falsafi (tasawuf teoritis), tasawuf akhlaki (adab tasawuf) sampai kepada tasawuf irfani (suluk atau makrifatullah).

Pertama, “Tasawuf Falsafi” (Tasawuf Tauhid/Ontologi Tasawuf/Ilmu Tasawuf)

Ini jenis tasawuf yang sifatnya teoritis. Mirip dengan filsafat tauhid (kalam/teologi), aktifitasnya mengkaji dan memahami hakikat dari eksistensi dengan cara yang unik. Jika filsafat teologi berusaha memahami Tuhan secara rasional, tasawuf falsafi mencoba menemukan bahasa akal untuk menjelaskan berbagai pengalaman mistis. Sehingga lahir konsep-konsep semacam ittihad, wahdatul wujud, gradasi wujud (isyraqiyyah), insan kamil, nur muhammad, tajalli, musyahadah, mukasyafah, fana, baqa, serta terma-terma ilahiah dan kondisi-kondisi batiniah lainnya.

Tasawuf ini fokus pada kemampuan ‘aqliyah (berfikir), termasuk kajian dan baca-baca kitab. Pekerjaan para murid mendengar tausiah bahkan diskusi. Yang disasar adalah kesadaran kognitif (otak). Diharapkan, dengan banyak membaca dan mendengar, para murid memahami ruang lingkup tasawuf.

Tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada Allah. Tasawuf ini hanya membawa murid sampai pada level “mengetahui” berbagai filosofi tentang dirinya, Tuhannya, dan alam semesta; serta relasi antara ketiganya.

Kata para arif: “1000 gelas anggur tidak akan memabukkan, sampai engkau meminumnya. Pun 1000 kitab yang kau baca tidak akan membawamu kepada Tuhan, sampai engkau bersedia menempuh jalan.” Oleh sebab itu, bertasawuf harus melampaui kajian dan ceramah.

Kedua, “Tasawuf Akhlaki” (Tasawuf Syar’i/Fikih Tasawuf/Adab Berguru/Etika)

Tasawuf ini berfokus pada birokrasi atau aturan-aturan formal untuk membentuk sikap dan perilaku murid. Targetnya adalah perbaikan langsung moral dan etika. Tasawuf ini menekankan pada adab lahiriah dan batiniah (ada yang menyebutnya dengan “hadap”) dalam berguru. Sehingga terkenal aturan: “dahulukan adab daripada ilmu”. Kalau sekedar berilmu, iblis lebih alim. Semua kitab sudah dibacanya. Tetapi ia angkuh, merasa paling benar. Kepatuhannya kepada Allah tidak ada.

Jadi, tasawuf akhlaki ini sudah bernilai praktis. Batin seseorang ikut dibentuk dengan berbagai aturan dan kebijakan. Sehingga ia memiliki sifat jujur, adil, ikhlas, murah hati, rajin, patuh, selalu dalam keadaan bersuci, dan lain sebagainya. Pola ketat pendidikan akhlak ini ditemukan dalam jamaah sufi, atau disebut “tarekat”. Mereka membentuk ahlus shuffah, kelompok-kelompok sosial dengan berbagai aturan dan bentuk-bentuk kedisiplinan.

Untuk mencapai ini, sering ditemukan bentuk-bentuk ketaatan kepada ulil amri (guru spiritual). Semua yang ingin menemui Allah diwajibkan ‘sujud’ kepada Adam (sebuah objek wasilah atau kiblat material yang dalam dirinya terdapat entitas maksum nurullah). Disinilah dalam tasawuf atau irfan dipercayai adanya nabi, imam-imam, walimursyid, atau pembimbing ruhani.

Namun lagi-lagi, tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada penyaksian atau merasakan langsung akan keberadaan Allah (musyahadah). Mereka hanya diajari menjadi baik, merasakan seolah-olah Allah melihat mereka. Namun terbentuknya dasar-dasar akhlak (hilangnya ego/keakuan) melalui adab dan ‘ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah) dalam kelompok sosial, menjadi prasyarat untuk sampai kepada Wajah Allah yang hakiki.

Ketiga, “Tasawuf Irfani” (Tarekatullah/Makrifatullah)

Inilah puncak atau jenis tasawuf yang dapat mengubah, mengembalikan manusia kepada jati diri yang fitrah.

Antara hamba dengan Allah ada “jarak” yang memisahkan (hijab). Tasawuf ini merintis jalan untuk kembali kepada Allah, ke asal yang suci. Ini yang disebut “mati sebelum mati” (hadis). Sejak hidup di dunia harus ada usaha untuk sampai, terhubung dan kembali menyaksikan-Nya. Sebab, jika di dunia kita buta, di akhirat juga begitu (QS. Al-Isra: 72). Itulah pendakian ruhani atau disebut sayr (perjalanan) wa suluk (bepergian). Disini ada yang namanya titik keberangkatan, tempat tujuan, stasiun-stasiun (makam) serta kondisi-kondisi yang akan dialami (fenomena-fenomena spiritual) selama perjalanan pulang.

Dalam tasawuf, roh manusia dipandang sebagai organisme hidup. Dari tahap lahir hingga dewasanya, ia harus terus diberi “gizi” agar mengenal Allah. Perjalanan ruhani adalah sebuah proses pendewasaan wadah spiritual ini, yang dimulai dari ritual taubat sampai kepada berbagai bentuk dan jenjang meditasi (dzikir). Praktik tasawuf ini terpusat pada aspek pensucian jiwa sehingga memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan (mikraj) dari satu langit ke langit lainnya (ke berbagai maqam para nabi), sampai kepada yang tertinggi. Pada praktik tasawuf inilah mulut harus terkunci, akal dan logika juga diharuskan mati. Karena yang dihadapi adalah alam yang sama sekali berbeda.

Dalam Alquran banyak suri tauladan yang sejak di dunia disebut-sebut sudah liqa Allah (bertemu Allah), memperoleh wahyu atau ilham, dan berbicara dengan malaikat. Termasuk pengalaman wisata ruhani Muhammad SAW ke “Sidratul Muntaha” (makam musyahadah, fana dan baqa dalam pengetahuan laduni).

Tasawuf ini bersifat amali dan mesti dibimbing oleh seorang “khidir” atau “jibril” yang sudah bolak balik ke alam ketuhanan. Mursyid harus seorang master yang sempurna, dapat membaca persoalan, isi hati dan kebutuhan muridnya (kasyaf). Jika tidak, muridnya bisa tersesat. Kalau tidak dibimbing oleh orang-orang seperti ini, bisa-bisa di alam sana setanlah yang akan menyambut ruhani kita.

Anda harus berdoa untuk menemukan ‘urafa, guru-guru irfani atau para wali pewaris nabi. Mereka sangat langka dan cenderung tersembunyi. Biasanya spiritualitas mereka tinggi sekali, punya qudrah spiritual semacam mukjizat yang disebut “karamah”. Kemampuan aneh mereka ini berada di luar nalar awam. Dalam kondisi tertentu, mereka tidak terikat dengan hukum alam. Karena ruh mereka sudah berada di alam ketuhanan, tidak terjebak lagi dengan materi, ruang dan waktu. Karena itulah jiwa para murid dapat mereka bimbing dari alam material (jabarut) menuju alam malaikat (malakut), sampai ke alam ketuhanan (rabbani).

Bukan cuma terletak pada guru yang mumpuni. Suksesnya perjalanan ini juga tergantung pada kesungguhan si murid sendiri dalam melakukan olah ruhani (riyadhah). Yang malas-malas tidak akan sampai kemana-mana. Akhlaknya juga akan begitu-begitu saja. Sebab, inti dari tarekatullah adalah sungguh-sungguh (mujahadah). Jika ditekuni, jiwa si murid akan sampai kepada sang Khalik, sehingga terbentuk akhlak yang paripurna (kamil). Itulah gambaran kepribadian Muhammad SAW, sosok sempurna, manifestasi (tajalli) dari keagungan Allah. Rahmatallil’alamin terbentuk pada saat seseorang telah mengalami penyatuan dengan-Nya.

Nabi Muhammad diutus Allah untuk membawa kita kepada tarekat, atau jalan perbaikan akhlak yang pernah ia tempuh. Beliau sangat menginginkan kita untuk mereproduksi pengalaman mistisnya. Alquran sendiri sebenarnya adalah kompilasi pengalaman dan pengetahuan mistis Nabi. Sehingga banyak isinya yang mutasyabihat, sulit dipahami, bahkan harus ditafsir-tafsir.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Senin, 28 Maret 2022

Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim

Salman Al-Farisi adalah anak seorang bangsawan, bupati, di daerah kelahirannya, Persia. Ia sempat tertipu di tengah perjalanannya mencari kebenaran Illahi. Ia diperjualbelikan sebagai budak. Beliau terdampar di Madinah, menjadi budak orang Yahudi . 

Beliau masuk Islam dan Allah membebaskan dirinya. Sebagaimana lelaki normal lainnya, pria bertubuh tegap ini pun sempat jatuh cinta. Sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Hati Salman kepincut perempuan Anshar. Yakni perempuan asli kelahiran Madinah. 

Di kalangan kaum Anshar, Salman sejatinya dianggap sebagai keluarga mereka. Demikian juga kaum Muhajirin . Pendatang dari Mekkah ini juga menganggap Salman bagian dari kaum mereka. Pada waktu perang Khandaq, saat Salman menelorkan ide cerdas membangun parit untuk menahan pasukan kafir Quraish, kaum Anshar mengklaim Salman sebagai kaum mereka. 

“Salman dari golongan kami,” ujar kaum Anshar. Pernyataan kaum Anshar ini direspon kaum Muhajirin. Mereka berdiri dan berkata, “Tidak. ia dari golongan kami!” Rasulullah SAW pun akhirnya memanggil mereka yang bersengketa itu, “Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait. Dan memang selayaknyalah jika Salman mendapat kehormatan seperti itu,” ujar Rasulullah SAW. 

Ali bin Abi Thalib memberi gelar Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”. 

Dalam kalbu para sahabat umumnya, pribadi Salman telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Kedudukan Salman yang tinggi itu tidak serta merta menjadi magnet bagi perempuan. Dan itu yang tidak diketahui Salman. 

Cintanya Ditolak 

Pada suatu ketika, Salman Al Farisi bermaksud melamar gadis pujaan hatinya itu. Dia mengajak sahabatnya, Abu Darda, untuk menemaninya. Abu Darda merasa tersanjung dengan ajakan Salman itu. Ia pun memeluk Salman Al Farisi dan bersedia membantu. 

Setelah segala sesuatunya dianggap beres, keduanya pun mendatangi rumah sang gadis. Selama perjalanan, mereka tampak gembira. Setiba di tujuan, keduanya diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tua wanita Anshar tersebut. Baca juga: Belajar Arti Cinta dan Persahabatan dari Salman Al Farisi Abu Darda menjadi juru bicara. 

Ia memperkenalkan dirinya dan juga Salman Al Farisi. Ia menceritakan mengenai Salman Al Farisi yang berasal dari Persia. Abu Darda juga menceritakan mengenai kedekatan Salman Al Farisi yang tak lain adalah sahabat Rasulullah SAW. Dan terakhir adalah maksudnya untuk mewakili sahabatnya itu untuk melamar. 

Mendengar maksud mereka melamar putrinya, membuat tuan rumah merasa sangat terhormat. Mereka senang akan kedatangan dua orang sahabat Rasulullah. Hanya saja, sang ayah tidak serta merta menerima lamaran itu. Sebagaimana diajarkan Rasulullah, sang ayah harus bertanya dulu bagaimana pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Karena jawaban itu adalah hak dari putrinya secara penuh. Sang ayah pun lalu memberikan isyarat kepada istri dan juga putrinya yang berada di balik hijabnya. Ternyata sang putri telah mendengar percakapan sang ayah dengan Abu Darda. Gadis ini juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. 

Berdebarlah jantung Salman Al Farisi saat menunggu jawaban dari balik tambatan hatinya. Abu Darda pun menatap gelisah pada wajah ayah si gadis. Dan tak begitu lama semua menjadi jelas ketika terdengar suara lemah lembut keibuan sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi. “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat itu membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda berdebar tak sabar. 

Perasaan tegang dan gelisah pun menyeruak dalam diri mereka berdua. “Karena kalian berdua yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi,” katanya. Jelas, jawaban itu sangat mengagetkan. Gadis yang diidam-idamkan untuk menjadi istri Salman Al Farisi, justru kepincut dengan Abu Darda. 

Takdir Allah berkehendak lain. Cinta Salman bertepuk sebelah tangan. Tetapi itulah ketetapan Allah menjadi rahasia-Nya, yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah.  Salman Al Farisi tampak tegar. Salman adalah pria saleh, taat, dan juga seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. 

Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru memekik: Allahu Akbar! Salman Al Farisi girang. Bahkan ia justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Salman ikhlas memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu, termasuk mahar, kepada Abu Darda. Ia juga akan menjadi saksi pernikahan sahabatnya itu. Salman menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tentang Abu Darda Salman dan Abu Darda adalah karib. Mereka berdua dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW. 

Abu Darda memiliki kebiasaan luar biasa terhadap para sahabatnya. Beliau selalu mendoakan saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya ketika ia sedang bersujud. Ia sebut nama-nama para sahabatnya satu persatu di saat berdoa. Ada yang menyebut nama asli Abu Darda adalah Uwaimir bin Malik al-Khazraji. Beliau termasuk sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. 

Abu Darda RA memilih hidup zuhud. Tatkala suatu kali tamu-tamunya bertanya ke mana perginya kekayaannya selama ini, Abu Darda menjawab, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Setiap kali memperoleh harta, langsung kami kirim ke sana. Jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki sehingga kami sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa.” 

Suatu ketika Salman RA mengunjungi Abu Darda RA. Dia melihat Ummu Darda memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. “Wahai Ummu Darda, kenapa engkau berpakaian seperti itu?” Salman bertanya keheranan. “Saudaramu Abu Darda sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu salat malam,” jawab Ummu Darda. Lantas datanglah Abu Darda dan menghidangkan makanan kepadanya. “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa,” ujar Abu Darda kemudian. “Aku tidak akan makan hingga engkau makan,” sambut Salman.

Lantas Abu Darda pun ikut makan. Tatkala malam telah tiba, Abu Darda pergi untuk mengerjakan salat. Akan tetapi, Salman menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah”. Maka Abu Darda pun menurut. Dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak salat, dan Salman menyuruhnya tidur lagi. Ketika malam sudah lewat Salman membangunkan Abu Darda. Keduanya mengerjakan salat. Selesai shalat, Salman berkata kepada Abu Darda.

 “Wahai Abu Darda, sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu. Badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.” Selanjutnya Abu Darda mendatangi Rasulullâh SAW dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Nabi SAW menjawab, “Salman benar".

(Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 28 Maret 2022 - 05:15 WIB oleh Miftah H. Yusufpati dengan judul "Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim").


Dendam Rakyat: "Koruptor harus Dihukum Mati...!!!"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-37) Pengantar: Unjuk rasa 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR RI bukan sekadar aksi biasa. Aliansi Masyaraka...