Jumat, 18 Juli 2025

DATA MENGEJUTKAN. WAHABI BOLEH JADI KELAK MENJADI PENGIKUT DAJJAL


Dajjal, digambarkan dalam hadis-hadis Nabi sebagai seorang pendusta yang sebelah matanya buta, tertulis di keningnya huruf kaf fa’ dan ra’ (ك ف ر). Kemunculannya pertanda kiamat sudah sangat dekat. Dia menjadi fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Sampai-sampai, setiap Nabi yang diutus, mengingatkan umatnya tentang fitnah Dajjal.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بُعِثَ نَبِيٌّ إِلَّا أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الأَعْوَرَ الكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ

“Tidaklah diutus seorang nabi, melainkan dia mengingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, sang pendusta. Ketahuilah Dajjal itu buta sebelah dan Tuhan kalian tidak buta sebelah. Diantara dua matanya tertulis: Kafir” (HR. Bukhari 7131).

Suatu yang menarik, ternyata Dajjal adalah sosok raja yang ditunggu-tunggu oleh sekelompok aliran agama. Siapakan mereka? Yahudi!

Iya, orang-orang Yahudi meyakini Dajjal sebagai raja yang akan menguasai lautan dan daratan. Mereka juga meyakininya sebagai salah satu tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah.

Orang-orang Yahudi menamainya dengan nama Al-Masih bin Dawud.

Perbedaan yang sangat mencolok antara mukmin dan yahudi. Orang-orang beriman, menunggu kedatangan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sementara mereka menunggu sang pendusta yang buta sebelah, penebar fitnah, yang bernama Dajjal.

Bukti wahyu yang menunjukkan informasi ini, adalah hadis dari sahabat ‘Utsman bin Abil ’ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

أكثر أتباع الدجال اليهود و النساء

“Kebanyakan pengikut Dajjal, adalah orang yahudi dan kaum wanita” (HR. Ahmad, dalam musnad beliau 4/216-217).

Dalam hadis yang lain, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan,

يتبع الدجال من يهود أصبهان سبعون ألفا عليهم الطيالسة

“Dajjal akan diikuti oleh 70,000 Yahudi dari Asfahan, mereka memakai thayalisah” (HR. Muslim 2944).

Thayalisah adalah selendang yang dipakai di pundak, menyerupai baju/jubah, tidak memiliki jahitan.

(Lihat keterangan ini di catatan kaki hal. 253, dari kitab Al-Qiyamah As-Sughra)

Dan menariknya, salah satu wilayah di kota Asfahan, dahulu ada yang disebut-sebut desa Al-Yahudiyah. Karena dahulu wilayah tersebut hanya dihuni oleh orang-orang Yahudi. Hal ini terus berlanjut sampai di zaman Ayub bin Ziyad, gubernur Mesir di zaman Khalifah Al-Mahdi bin Mansur dari dinasti Abbasiyah (Lihat: Lamaawi’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 2/107).

Kelak, Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi Isa ‘alaihissalam di daerah Palestina. Demikian pula beliau akan memimpin peperangan memberangus para pengikutnya.

Kemunculan Dajjal

Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman, di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.

Dalam hadits disebutkan :

قام رسول الله صلى الله عليه و سلم في الناس فأثنى على الله بما هو أهله، ثم ذكر الدجال فقال: ” إني لأنذركموه، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه

“Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudian beliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal, tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari : 6705)
Dalam hadits lain, Nabi bersabda :

ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال

“Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (HR. Bukhari : 1782).

Pada kesempatan ini, saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal. Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal, namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah umat Nabi Muhammad lainnya, mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran. 

Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya ? simak uraiannya berikut :

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)
Nabi juga bersabda :

سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ

“Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. 

Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.(Sunan Abu Daud : 4765).

Nabi juga bersabda :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة

“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari 3342).

Dalam hadits lain Nabi bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبَادَهُمْ وَأَرَاحَنَا مِنْهُمْ

“Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :

كَلاَّ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ مِنْهُمْ لَمَنْ هُوَ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ لَمْ تَحْمِلْهُ النِّسَاءُ وَلِيَكُوْنَنَّ آخِرَهُمْ مَعَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّال

“Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.

Penjelasan :

Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan sebagai berikut dalam hadits-haditsnya di atas :

1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannya artinya tidak membawa bekas dalam hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menjadi pengikut dajjal.

Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.

Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut?? Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam. 

Ciri mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya, justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??

Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk, mereka jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran tanpa ada adabnya sama sekali.
Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. 

Mungkinkah Wahabi Pengikutnya?

Tanda mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini, kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada Al-Quran. Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? 

Sebab merekalah satu-satunya kelompok yang dikenali dikalangan awam yang selalu teriak mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari mereka. Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok khawarij lainnya.

Tanda mereka adalah bercukur gundul, Hal ini menambah keyakinan kita bahwa yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain kelompok wahabi ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah. 

Namun kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.

Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah, Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Kemunculan kaum ini ada di akhir zaman sebagaimana hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya.

Namun apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ?? berikut kajian dan analisa ilmiahnya :

Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tsyabih.

Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung, tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.

Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya. Mereka meyakini Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka Arsy kosong dari Allah namun menurut pendapat kuat mereka Arasy tidak kosong dari Allah. Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari pensifatan mereka bahwa Allah berjisim..

Nah, demikian juga dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya, bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya, dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat, memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim derajat tajsim.

Sabtu, 05 Juli 2025

Awal Serangan Terhadap Tarekat

Firman Allah ta’ala:

لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْاۚ...۝٨٢

“Orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...” (QS. Al Maaidah: 82).

Salah satu contoh penghasutan untuk saling memusuhi pada masa keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai "Laurens Of Arabian."

Hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Edward Terrence Lawrence (Laurens Of Arabian) adalah seorang orientalis sedunia, telah membuat kajian-kajian tentang puncak-puncak kekuatan umat Islam dan didapati bahwasanya kekuatan umat Islam adalah karena di barisan depannya terdiri dari ahli-ahli tasawuf dan ahli-ahli tharikat. 

Mereka adalah orang-orang yang paling gigih menentang penjajahan dan menangkis kepura-puraan yang ditaburkan oleh musuh-musuh Islam. Laurens telah membuktikan hujjahnya dengan sejarah, bagaimana gerakan tharikat Idrisiah di Maghribi (Maroko) berhasil dengan gemilang merebut kemerdekaan dari penjajajah. Raja-raja kerajaan Osmaniah dan para tentaranya adalah terdiri dari ahli-ahli tharikat. Mereka berkhalwat beberapa hari sebelum keluar berperang.

Selain itu pihak orientalis atas arahan pihak kolonial telah menyelidiki juga tharikat-tharikat, antara lain Idrisiah di Libya dan beberapa negara Islam lainnya, termasuk kepulauan Melayu oleh Snouck Hurgronje orientalis Belanda di Indonesia. Hasil kajian dan laporan yang diberikan kepada pemerintah kolonial itulah yang menyebabkan lahirnya kecurigaan terhadap gerakan tharikat dalam Islam.

Laurens Of Arabian telah diarahkan supaya menyelidiki ke dalam masyarakat Islam dengan menyamar sebagai ulama dan mendalami ilmu Islam di Mekah dan Mesir dan ia telah bertemu dengan ratusan ulama besar yang masyur, memperbincangkan tentang cara untuk membiasakan umat Islam di segi kemajuan dunia seperti kebiasaan barat serta ia menyebarkan faham supaya umat Islam tidak terikat dan tidak fanatik kepada aliran mazhabiah.

Pihak penjajajah memandang gerakan tharikat berbahaya bagi kekuasaan mereka. Untuk menyekat dan menghapuskannya.

Prof. Haji Abu Bakar Acheh dalam bukunya Syariat telah menyampaikan puncak timbulnya ordinan’s guru tahun 1925 di Indonesia. Melalui bukunya beliau menuturkan, bagi guru-guru agama yang hendak mengajar agama terutamanya bidang tarikat hendaklah mendaftarkan diri dan mendaftarkan sekaligus kitab-kitab yang hendak diajarkan.

Laurens Of Arabian mengupah seorang ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis. Akibatnya kerajaan Arab Saudi setelah diambil alih oleh pemimpin yang merasuki pemahaman Wahabiah telah mengharamkan Tasawuf dan Tharikat. Sedangkan di situlah (Mekah dan Madinah) asal mulanya pusat gerakan tharikat. 

Aliran faham anti tasawuf dan tharikat itu telah menguasai di pusat-pusat pengajian di Timur Tengah dan pusat pengajian di Eropa, sehingga para pelajar termasuk di negara ini yang sekarang telah bergelar ulama mengikuti aliran itu.

Selain menggunakan media masa (buku dan majalah) untuk menghapuskan tharikat sufi, pihak musuh Islam juga menggunakan berbagai cara lain, diantaranya mereka menciptakan tharikat sesat (palsu) dan menyelewengkan tharikat yang sebenarnya dengan menyelundupkan ajaran-ajaran mereka ke dalam gerakan tharikat. Ajaran mereka itulah yang mendakwa konon mendapat wahyu, dilantik menjadi nabi, menjadi Nabi Isa, Imam Mahdi dan lain sebagainya. Di antaranya yang jelas kepada kita adalah gerakan Qadiani, Bahai, Ismailiah di India, pimpinan Agha Khan dll.

Gerakan tharikat sesat (palsu) telah dikembangkan di seluruh dunia dan ini menjadi alasan bagi ulama anti tharikat untuk menguatkan hujjah mereka bahwa tharikat bukanlah ajaran Islam termasuk bertawassul itu suatu perbuatan sirik. Gerakan tharikat sesat tersebut tidak mustahil datang (tersebar) di negara kita sehingga merusak tharikat yang sebenarnya. Akibatnya pihak yang berwenang melakukan penyelidikan atas tharikat sesat tersebut kemudian membuat kesimpulan menyalahkan semua tharikat-tharikat yang ada termasuk tharikat yang haq.

Berikut ini beberapa buku yang bisa anda baca terkait pernyataan diatas dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006).

Semoga bermanfaat,
(wagroup/noname/2025)


Jumat, 27 Juni 2025

Penghancuran Situs Islam: Persekongkolan Keluarga Saud dan Kelompok Wahabi

Persekongkolan antara keluarga Saud dan kelompok Wahabi telah berhasil mengubah peta dunia Arab dan kaum muslimin, teristimewa perluasan kawasan kekuasaan keluarga Saud dengan paham Wahabiyah. Perluasan kawasan kekuasaan kerajaan Saudi ini berbanding lurus dengan perluasan penyebaran paham Wahabi, karena paham tersebut merupakan pemahaman resmi kerajaan berdasarkan kesepakatan yang telah dibangun oleh penggagas kerajaan tersebut dengan pendiri kelompok Wahabi yaitu syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Maka tidak heran jika invasi serta perluasan kekuasaan sering kali dijadikan sebagai ajang bagi penerapan ajaran Wahabi.

Salah satu bentuk dari penerapan ajaran tersebut adalah penghancuran tempat serta bangunan-bangunan tertentu, karena dianggap bertentangan dengan pemahaman yang mereka yakini.

Seorang penulis Wahabiyah Syaikh Utsman bin Abdullah bin Bisyr dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, mengenai kejadian pada tahun 1217 Hijriah mencatat tentang penghancuran yang dilakukan kolompoknya di kota Mekkah:

فلما خرج سعود والمسلمون من الطواف والسعي ، فرق أهل النواحي يهدمون القباب التي بنيت على القبور والمشاهد الشركية. وكان في مكة من هذا النوع شيء كثير في أسفلها وأعلاها ووسطها. وبيوتها ، فأقام فيها أكثر من عشرين يوماً . ولبث المسلمون في تلك القباب بضعة عشر يوماً يهدمون ، يباكرون الى هدمها كل يوم . واللواحد الأحد يتقربون، حتى لم يبق في مكة شيء من تلك المشاهد والقباب إلا أعدموها وجعلوها تراباً

“Ketika Saud dan kaum muslimin selesai melaksanakan Thawaf dan Sa’i, ia membagi penduduk sekitar untuk menghancurkan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan serta tempat-tempat perkumpulan yang berbau syirik. Ketika itu, di kota Mekkah banyak ditemukan tempat-tempat semacam itu; baik di bagian atas, bawah, tengah-tengah kota maupun di rumah-rumah penduduknya. Ia menetap di Makkah selama lebih dari dua puluh hari. Sedangkan kaum muslimin tinggal di sekitar kubah-kubah tersebut sekitar sepuluh hari seraya menghancurkannya dan mereka bersegera dalam melakukan hal tersebut setiap harinya. 

Mereka mendekatkan diri kepada Allah Swt (dengan perbuatan tersebut), sehingga tidak ada yang tersisa dari tempat-tempat serta kubah-kubah tersebut di kota Mekkah kecuali mereka hancurkan dan ratakan dengan tanah."
Unwan al-Majd Fi Tarikh Najd, jil: 1, hal: 263

Aliansi yang terjadi antara penguasa Saud dengan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengubah nasib keduanya menjadi kelompok yang bar-bar di semenanjung Arab secara politis, juga pada sisi lainnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam dinamika pemikiran kaum muslimin pada masanya bahkan hingga saat ini.

Otoritas Saud yang bergandengan dengan pemikiran Wahabi pada masa itu mulai memberikan gesekan-gesekan pada pemerintahan Islam yang berpusat di Turki (kesultanan Utsmaniyah).

Hal ini terbukti dengan terjadinya beberapa konflik di wilayah Hijaz, yang ketika itu masih berada dalam wilayah kesultanan Utsmaniyah, akibat dari pergerakan dan invasi yang dilakukan oleh kelompok Saud ke beberapa tempat di dalamnya.

Salah satu dari gerakan kelompok Saud yang dilandasi pemikiran Wahabi, sering kali disebut oleh mereka sebagai bentuk pemurnian Tauhid dari hal-hal yang berbau syirik. Dan dampak yang paling kentara dari gerakan ini yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah adalah penghancuran kubah-kubah atau bangunan di atas kuburan-kuburan muslimin.

Tidak hanya di kota Mekkah, bahkan penghancuran kubah ini juga terjadi di kota Madinah, sama seperti sebelumnya, peristiwa ini termaktub juga dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh Najd.

وفي أول هذه السنة قبل مبايعة غالب بايع أهل المدينة المنورة سعوداً على دين الله ورسوله والسمع والطاعة ، وهدمت جميع القباب التي وضعها على القبور والمشاهد

“Dan pada awal tahun ini (1220 H), sebelum baiat kepada Ghalib, orang-orang Madinah berbaiat kepada Saud atas agama Allah, Rasul-Nya, serta atas kepatuhan dan ketaatan. Semua kubah yang ditempatkan di kuburan-kuburan dihancurkan…”
Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, jil: 1, hal: 288

Tentunya termasuk di dalamnya adalah makam al-Baqi yang merupakan pemakaman tertua yang mana di sana terdapat banyak kuburan para tokoh penting Islam. Semua makam dibongkar oleh para pengikut Saud dan pengikut syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. 

Oleh sebab itu, yang menjadi catatan di sini ialah alasan utama dibalik perusakan yang mereka lakukan di setiap tempat, tidak lain lahir dari pemikiran dan ajaran yang digemakan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan dalih bahwa hal tersebut menodai nilai-nilai Tauhid.

Dari sini, ada beberapa poin yang perlu dicatat, diantaranya:
Kubah di atas kuburan atau tempat perkumpulan tidak secara otomatis menunjukkan praktik syirik, kecuali ada bukti bahwa penduduk melakukan ibadah atau ritual yang menyekutukan Allah di tempat tersebut. Tanpa bukti spesifik, asumsi kesyirikan bersifat spekulatif.

Fungsi Kubah dan Tempat Perkumpulan.

Kubah di atas kuburan sering kali dibangun sebagai tanda penghormatan atau penanda makam, bukan sebagai objek ibadah. Dalam banyak tradisi Islam, membangun kubah atau struktur di atas makam tokoh agama atau orang saleh adalah bentuk penghormatan, bukan penyembahan. Jika penduduk hanya berkumpul untuk mengenang atau berdoa di dekat makam, ini tidak serta-merta merupakan syirik, melainkan ziarah yang diperbolehkan dalam beberapa mazhab.

Kurangnya Bukti Spesifik tentang Praktik Syirik.

Pernyataan di atas tidak menyebutkan secara eksplisit praktik apa yang dilakukan penduduk di sekitar kubah atau tempat perkumpulan tersebut. Tidak ada keterangan bahwa mereka menyembah kubah, meminta pertolongan kepada orang yang telah wafat, atau melakukan ritual yang bertentangan dengan tauhid. Tuduhan syirik memerlukan bukti nyata, seperti catatan bahwa penduduk mempersembahkan sesajen, berdoa kepada makam, atau menganggap kubah memiliki kekuatan ilahi. Tanpa bukti ini, penghancuran kubah-kubah tersebut bisa dianggap sebagai tindakan berlebihan atau salah tafsir terhadap tradisi lokal.

Motivasi Penghancuran dan Potensi Bias.

Tindakan menghancurkan kubah dan tempat perkumpulan dengan dalih menghindari syirik bisa jadi mencerminkan pandangan teologis yang bar-bar, seperti menganggap segala bentuk struktur di atas makam sebagai potensi syirik. Namun, dalam Islam, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum membangun kubah atau berziarah ke makam. Mazhab seperti Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanafi cenderung memperbolehkan ziarah kubur, penghancuran tersebut mungkin didasarkan pada interpretasi subjektif, bukan bukti nyata adanya kesyirikan.

Konteks Historis dan Sosial.

Jika peristiwa ini terjadi di Mekkah pada tahun itu, perlu dipertimbangkan konteks historisnya. Mekkah sebagai pusat keagamaan mungkin memiliki tradisi lokal yang berbeda-beda, dan tidak semua tradisi tersebut otomatis bersifat syirik.
 

Penghancuran kubah dan tempat perkumpulan bisa jadi merupakan upaya untuk menyeragamkan praktik keagamaan sesuai dengan pandangan kelompok mereka yang anti bermazhab, bukan karena adanya bukti nyata kesyirikan. Tindakan ini juga bisa memicu konflik sosial, karena menghancurkan struktur yang dihormati penduduk tanpa dialog atau bukti kuat dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap tradisi dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan Islam.

Pendekatan kepada Allah melalui Penghancuran.

Pernyataan bahwa kaum muslimin "mendekatkan diri kepada Allah" dengan menghancurkan kubah menunjukkan motivasi keagamaan yang dipaksakan, tetapi ini tidak membuktikan bahwa kubah tersebut memang digunakan untuk praktik syirik. Tindakan tersebut bisa jadi didorong oleh semangat yang berlebihan dan pemikiran sempit dalam beraqidah, bukan berdasarkan fakta bahwa penduduk melakukan kesyirikan.

Dalam Islam, tindakan mendekatkan diri kepada Allah seharusnya dilakukan dengan keadilan, bukti, dan penghormatan terhadap perbedaan pandangan, bukan dengan penghancuran sepihak.
 (Admin OKD Islami)
Wallahu A'lam, semoga bermanfaat.

Jumat, 13 Juni 2025

Apakah semua bid'ah itu sesat?

Apakah semua bid'ah itu sesat?

Jawabannya tidak, gak percaya?

Tanya saja ke pengikutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, karena mereka membagi bid'ah perkara dunia dan bid'ah perkara akhirat.

Jadi sebenarnya sama saja seperti kita, tidak semua bid'ah sesat, tapi yang membedakan ialah, mereka tidak mau menerima cara pembagian bid'ah ada yang Hasanah dan ada yang Mazmumah maunya kita mesti mengikuti caranya mereka.
Padahal jika mereka ingin melek sedikit saja dengan pernyataan di bawah;

Al-Hafizh Imam al-Baihaqi dalam Manaqib Imam al-Syafi’i mengutip pendapat sang imam bahwa bid’ah itu ada dua, yaitu sesat dan tidak sesat.

اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ مما يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أثرا أوإِجْمَاعًا فَهذه بِدْعَةُ الضَّلالِ وَمَا أُحْدِثَ من الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهذه مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ.
(الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩)

“Sesuatu yang baru (muhdats) itu ada dua, sesuatu yang baru dikerjakan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Sementara sesuatu baru yang baik yang tidak bertentangan dengan sedikitpun dari hal itu maka ini adalah bid’ah yang tidak jelek.”
Manaqib Imam Syafi'i, 1/469.

Syekh Ibnu Taimiyah dalam al-’Aql wa al-Naql mengomentari, periwayatan al-Baihaqi ini sanadnya shahih. Beliau menjelaskan:

قَالَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي العَقْلِ وَالنَّقْلِ ١/ ٢٤٨ رَوَاهُ البَيْهَقِي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي المدْخَلِ

“Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam al-‘Aql wa al-Naql, 1/248, periwayatan ini (tentang Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua) diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih dalam al-Madkhal.”
Maksiat tertentu, dapat menyebabkan kerusakan langsung pada individu, masyarakat, atau negara.

Misalnya, korupsi dapat menghancurkan perekonomian dan menyebabkan kemiskinan massal, yang dampaknya lebih cepat terasa dibandingkan bid'ah yang terbatas pada individu.

Tidak semua bid'ah memiliki dampak sistemik. Misalnya, kebiasaan seperti membaca doa tertentu dalam cara yang tidak diajarkan Nabi tetapi tidak bertentangan dengan syariat (wirid tertentu), tidak selalu merusak aqidah atau menyebabkan kerusakan luas seperti maksiat besar.

Contoh Praktis:

"Bandingkan seseorang yang melakukan bid'ah hasanah (misalnya, merayakan maulid Nabi dengan cara yang tidak melanggar syariat) dengan seseorang yang melakukan maksiat besar seperti menzalimi rakyat melalui korupsi. Dampak maksiat korupsi jauh lebih besar karena merugikan banyak orang secara langsung."
Maksiat yang merusak akhlak masyarakat atau menyebabkan kezaliman bisa lebih berbahaya daripada bid'ah yang belum tentu kesesatannya.

Contoh Historis:

"Dalam sejarah, maksiat seperti kezaliman penguasa (misalnya, penganiayaan terhadap rakyat) sering kali menyebabkan kerusakan lebih besar dibandingkan berzikir secara berjama'ah setelah shalat."

Mana yang lebih berbahaya: seseorang yang melakukan "Bersalaman setelah shalat" tanpa merusak aqidah orang lain, atau seseorang yang melakukan maksiat seperti menipu jutaan orang melalui "Korupsi?"

Mana yang lebih berbahaya:
"Mengucap shadaqallahul 'adhim setelah baca Al Qur'an," atau "Mabok sambil berkendaraan?"

Mana yang lebih berbahaya:
"Membaca yasin tiap malam Jum'at," atau "Judol tiap malam Jum'at?"
Apakah dengan hanya menyebut "Allahumma Lakatsumtu" lebih berbahaya dari yang tidak berpuasa?

Apakah dengan hanya menambahkan "Sayyidina" ketika tasyahut lebih berbahaya dari yang tidak shalat?
Apakah dengan hanya mendengar suara bacaan "Tahlilan" lebih berbahaya dari suara sound horeg?

Hindari menyamaratakan semua bid'ah sesat.
Hindari menggunakan bid'ah sebagai objek lebih berbahaya dari maksiat tanpa mempertimbangkan jenis bid'ahnya dan mengabaikan dampak besar dari maksiatnya.

Islam mengajarkan keadilan dalam menilai perbuatan;

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ۝٩٠

"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dan (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dan memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat." (QS. An-Nahl: 90)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Telah menjalar pada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu hasad dan benci. Ia adalah pencukur yang mencukur agama, bukan mencukur rambut.” (HR. Tirmidzi)

Apa masih dianggap suatu bentuk keadilan, kebajikan jika masih menganggap maksiat adalah perkara yang ringan?
Waallahu A'lam, semoga bermanfaat,
Bagikan keteman, saudara atau sanak famili anda agar mereka juga menambah ilmu.A

Menyoal Jilbab di Universitas Pertahanan: "Ketika Negara Berbenturan dengan Perintah Tuhan"

Pengantar : Pada suatu pagi di bulan Juni 2026, seorang gadis bernama Asma Wafa Andina melangkahkan kakinya memasuki gerbang Universitas Per...