Tren indoktrinasi Wahabisme dan bahayanya untuk generasi Muslim boleh jadi memang luput dari sorotan publik. Sebab, kamuflase-kamuflase yang pop-Wahabi lakukan benar-benar menyilaukan, menampakkan mereka seolah yang paling benar, padahal semua klaim Wahabi atas kebenaran, tauhid, dan kemurnian Islam tidak lebih dari kedok belaka. Namun tanpa kecerdasan dan penguasaan Islam yang baik, seseorang pasti teperdaya. Berikut beberapa isu berbahaya.
1) Isu Aqidah: Dakwaan “Rusaknya Aqidah”
Kalau kita perhatikan dengan jujur, antara kerugian paling besar bagi mereka yang terlalu takjub dengan pemahaman yang sering dilabeli sebagai “Wahabi” ini ialah pada bab aqidah itu sendiri.
Mereka sangka mereka sedang memurnikan tauhid, padahal dalam banyak keadaan mereka sebenarnya sedang meninggalkan jalan yang telah dilalui oleh jumhur ulama Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah sejak ratusan tahun.
Ulama besar seperti Abu al-Hasan al-Ash‘ari dan Abu Mansur al-Maturidi tidak pernah mengajar kita untuk memahami nas sifat Tuhan secara zahir bulat-bulat tanpa panduan.
Tapi dewasa ini, ada yang begitu yakin dengan pemahaman sendiri sampai berani menolak kaedah tafwidh dan ta’wil yang telah dijaga oleh ulama sepanjang zaman. Kononnya itu merasa lebih “salaf”, tapi hakikatnya lebih dekat kepada berani dan nekat daripada beradab dengan nas.
Mungkin mereka tidak jatuh kufur—itu kita serahkan kepada Allah. Tapi rusak dari sudut susunan aqidah? Itu satu realitas yang tak boleh ditutupi dengan slogan “ikut Qur’an dan Sunnah” semata.
2) Isu Ibadah: Tidak Iltizam Mazhab & Risiko Talfiq
Masuk pula bab ibadah. Di sinilah kita nampak “kecelaruan yang disusun sebagai kebebasan”. Mereka tidak mau terikat dengan mazhab, kononnya berpegang terus kepada dalil. Bunyi memang hebat. Tapi realitanya?
Ambil sana sedikit, ambil sini sedikit—akhirnya jadi satu bentuk ibadah yang tidak pernah diiktiraf oleh mazhab manapun. Inilah yang ulama sebut sebagai talfiq yang merusakkan. Imam seperti Al-Shafi‘i bukan saja telah menyusun mazhab secara disiplin dan ketat. Itu semua untuk menjaga kesahihan ibadah, bukan untuk menyusahkan orang.
Bila disiplin ini ditinggalkan, ibadah jadi eksperimen. Hari ini ikut pendapat ini, esok tukar pendapat lain. Yang penting nampak “paling kuat dalil”—walaupun sebenarnya tak faham apa usul di dibalik dalil tersebut. Akhirnya, yakin banyak… tapi sah belum tentu.
3) Isu Tasawuf: Penolakan Tazkiyah & Thariqah
Lebih parah lagi bila masuk bab tasawuf. Mereka alergi dengan perkataan “sufi”, “thariqah”, “zikir berjamaah”—semua cepat dilabel bid‘ah. Seolah-olah agama ini cukup dengan hukum zahir saja.
Padahal ulama besar seperti Al-Ghazali sudah lama jelaskan bahwa tanpa penyucian hati, amal itu ibarat jasad tanpa roh. Tokoh seperti Junayd al-Baghdadi menunjukkan bahawa jalan tasawuf bukan jalan pelik, tapi jalan untuk buang riya’, ujub dan penyakit hati.
Bila tasawuf ditolak, apa jadi?
Mulut makin lantang menghukum.
Hati makin keras tanpa sedar.
Rasa diri paling betul, orang lain semua salah.
Itu bukan tanda hati mengenal Allah. Tapi tanda hati sedang bermasalah.
4) Kesimpulan dalam Kerangka ASWAJA
Sebab itu bila disebut “rugi di akhirat”, jangan cepat gerah penuh amarah. Bukan maksud kita jadi Tuhan yang berhak menentukan siapa masuk neraka. Tapi ini peringatan:
Rugi karena aqidah tidak tersusun dengan disiplin ulama.
Rugi karena ibadah dibuat tanpa panduan mazhab yang muktabar.
Rugi karena hati dibiarkan tanpa proses tazkiyah yang benar.Akhirnya agama tinggal kulit—isi entah kemana.
Sebab itu doa orang Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah ini simple, tapi dalam maknanya:
minta Allah tetapkan kita di atas jalan yang lurus dan seimbang—aqidah yang sahih, ibadah yang istiqomah, dan hati yang hidup dengan dzikrullah.
Bukan sekadar rasa diri paling “ikut Sunnah”, tapi hakikatnya jauh dari roh Sunnah itu sendiri. Wallahu'alam...
(By. FB. Rahmat Rahman)
