Suatu sore, saat ban sepedanya bocor di tengah jalan, Arman duduk di pinggir jurang dengan letih. "Tidak adil," gumamnya. "Teman-temanku naik motor, pakai seragam baru, punya ponsel canggih. Aku bahkan tidak punya uang untuk tambal ban."
Dari kejauhan, ia melihat seorang kakek tua berjalan tertatih, menyeret kakinya yang lumpuh sambil memanggul dua ember air kosong. Kakek itu tersenyum saat melihat Arman. "Nak, pinjam pompa sepedamu? Kakiku sudah tak mampu lagi," candanya meski tahu Arman tak punya pompa.
Arman tersenyum getir. "Maaf, Kek. Sepeda saya juga bocor."
Kakek itu duduk di sampingnya. "Dulu waktu muda, aku juga sering jalan kaki ke sekolah. 15 kilometer, pulang pergi. Sepatu dari ban bekas. Tapi aku bersyukur."
"Bersyukur, Kek? Hidup susah begini?"
Kakek itu menyentuh tanah di bawah mereka. "Setidaknya kau masih punya dua kaki untuk mengayuh sepeda. Masih punya sekolah untuk dituju. Masih punya ibu yang menunggumu pulang." Ia menunjukkan kakinya yang lumpuh. "Aku kehilangan ini saat perang, saat umurmu. Tapi setiap pagi aku masih bersyukur bisa melihat matahari terbit."
Arman terdiam. Sepanjang ini ia hanya fokus pada apa yang tidak dimilikinya. Ia lupa bersyukur untuk dua kaki yang sehat, sebuah sepeda yang masih bisa dikayuh, dan ibu yang menjual gorengan demi uang sekolahnya.
Dengan sisa tenaga, ia mendorong sepeda bocornya pulang. Keringat bercucuran, langkahnya berat, tapi hatinya anehnya terasa ringan.
Ia tiba di rumah saat ibu sedang melipat dagangan yang tidak laku. "Bu, hari ini aku bisa bantu jualan besok?" tanyanya. Ibu menatap heran, lalu tersenyum.
Kisah Arman mengajarkan bahwa rasa syukur tidak muncul karena apa yang kita miliki, tapi karena kita memilih untuk melihat berkah dalam setiap keterbatasan.
Kebahagiaan sejati bukan saat semua keinginan terpenuhi, melainkan saat kita mampu berterima kasih atas apa yang hari ini kita rasakan—dengan lapang dada dan hati yang melihat sisi terang dalam setiap keadaan.
Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, bahkan menjadi berlimpah makna.
(enough four: 2.Syukur)
