Ibunya terbaring lumpuh sejak dua tahun lalu. Dokter bilang, kemungkinan untuk berjalan lagi sangat kecil. Tapi Siti, gadis 12 tahun itu, tak pernah berhenti berharap.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Siti membasuh wajah ibunya, menyuapi bubur hangat, lalu berbisik, “Ibu, hari ini mungkin keajaiban datang.” Sang ibu hanya tersenyum lemah. Mereka miskin. Biaya berobat pun hanya mengandalkan bantuan tetangga.
Tapi Siti terus melakukannya. Hari ketujuh, saat Siti selesai menggosok, tiba-tiba jari kaki ibunya bergerak. Siti menjerit bahagia. Hari kedelapan, pergelangan kaki mulai terangkat. Hari kesepuluh, ibu Siti bisa duduk sendiri. Sebulan kemudian, untuk pertama kalinya, ibunya berdiri. Seminggu setelahnya, ia melangkah. Siti menangis haru, memeluk erat sang ibu.
Mereka berdua mendatangi dokter yang dulu merawat. Dokter itu terbelalak, “Ini mustahil secara medis! Apa yang kau lakukan?” Siti tersenyum, “Hanya doa, Dok. Dan batu dari sungai.” Tentu, secara ilmiah, batu itu tak punya khasiat. Yang menyembuhkan bukan batunya, melainkan keyakinan dan ketekunan Siti yang lahir dari doa.
Kisah Siti menyebar. Banyak yang bertanya, “Doa macam apa yang kau panjatkan?” Siti menjawab polos, “Doa yang tak pernah menyerah. Doa yang diikuti usaha, sekecil apa pun.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Siti membasuh wajah ibunya, menyuapi bubur hangat, lalu berbisik, “Ibu, hari ini mungkin keajaiban datang.” Sang ibu hanya tersenyum lemah. Mereka miskin. Biaya berobat pun hanya mengandalkan bantuan tetangga.
Tapi doa adalah hal termahal yang tak pernah habis Siti berikan.
Hingga suatu malam, Siti bermimpi. Dalam mimpinya, seorang tua berjubah putih berkata, “Pergilah ke sungai kecil di belakang rumah, ambil batu yang paling licin, lalu gosokkan ke kaki ibumu.” Siti bangun dengan jantung berdebar. Bukan karena takut, tapi karena keyakinan.
Hingga suatu malam, Siti bermimpi. Dalam mimpinya, seorang tua berjubah putih berkata, “Pergilah ke sungai kecil di belakang rumah, ambil batu yang paling licin, lalu gosokkan ke kaki ibumu.” Siti bangun dengan jantung berdebar. Bukan karena takut, tapi karena keyakinan.
Tanpa ragu, keesokan paginya ia langsung ke sungai.
Ia mencari batu yang paling licin. Susah payah ia menyelam, tangannya luka tergores bebatuan tajam. Akhirnya ia menemukan batu hitam halus seperti kaca. Dengan hati berdebar, ia menggosokkannya lembut ke kaki ibunya. Hari pertama, tak ada perubahan. Hari kedua, sama saja. Tetangga mulai bergunjing, “Kasihan Siti, jadi percaya takhayul.”
Ia mencari batu yang paling licin. Susah payah ia menyelam, tangannya luka tergores bebatuan tajam. Akhirnya ia menemukan batu hitam halus seperti kaca. Dengan hati berdebar, ia menggosokkannya lembut ke kaki ibunya. Hari pertama, tak ada perubahan. Hari kedua, sama saja. Tetangga mulai bergunjing, “Kasihan Siti, jadi percaya takhayul.”
Tapi Siti terus melakukannya. Hari ketujuh, saat Siti selesai menggosok, tiba-tiba jari kaki ibunya bergerak. Siti menjerit bahagia. Hari kedelapan, pergelangan kaki mulai terangkat. Hari kesepuluh, ibu Siti bisa duduk sendiri. Sebulan kemudian, untuk pertama kalinya, ibunya berdiri. Seminggu setelahnya, ia melangkah. Siti menangis haru, memeluk erat sang ibu.
Mereka berdua mendatangi dokter yang dulu merawat. Dokter itu terbelalak, “Ini mustahil secara medis! Apa yang kau lakukan?” Siti tersenyum, “Hanya doa, Dok. Dan batu dari sungai.” Tentu, secara ilmiah, batu itu tak punya khasiat. Yang menyembuhkan bukan batunya, melainkan keyakinan dan ketekunan Siti yang lahir dari doa.
Kisah Siti menyebar. Banyak yang bertanya, “Doa macam apa yang kau panjatkan?” Siti menjawab polos, “Doa yang tak pernah menyerah. Doa yang diikuti usaha, sekecil apa pun.
”Dari Siti, kita belajar bahwa doa bukan mantra ajaib yang langsung mengubah keadaan. Doa adalah kunci yang membuka pintu harapan, lalu kita sendiri yang harus melangkah melewatinya. Seringkali, mukjizat bukanlah sesuatu yang spektakuler.
Mukjizat adalah ketekunan orang beriman yang terus berbuat, meski akal berkata mustahil. Sebab, doa yang tulus akan menemukan jalannya—entah melalui batu di sungai, atau melalui perubahan dalam hati yang tak pernah lelah percaya.
(enough four:4.Doa)
