Senin, 27 Juli 2026

Nur Muhammad: "CAHAYA DIATAS CAHAYA"


Di keheningan malam yang merayap di ujung jari-jari rindu, aku tersadar: Ada cahaya yang lebih dahulu ada. Sebelum matahari melemparkan semburat jingganya ke ufuk timur. Sebelum rembulan mengukir sabit peraknya di langit yang masih perawan. 

Bahkan sebelum kalam pertama dituliskan di Luh Mahfuz, telah ada Nur. Cahaya yang bukan dari api. Bukan dari matahari. Bukan dari lampu-lampu yang kita pasang di sudut-sudut ruang. Ia adalah cahaya dari Cahaya.

Nur Muhammad. Bukan sekadar teori dalam kitab-kitab tasawuf yang berdebu. Bukan pula mitos yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah denyut pertama kesadaran ilahi yang menyelinap ke dalam rongga-rongga ketiadaan. 

Ketika Allah ingin dikenal, Ia menciptakan kekasih. Dan dari cahaya kekasih itulah seluruh alam semesta mengalir—seperti sungai yang bermuara ke samudra, padahal ia berasal dari tetes hujan yang sama.

Bayangkan sejenak: sebelum ada langit dan bumi, sebelum ada Adam dan Hawa, sebelum ada engkau dan aku, yang ada hanyalah seberkas cahaya. Ia bergerak tanpa kaki, berbicara tanpa lidah, mencinta tanpa tubuh. 

Ia adalah rahasia yang dibisikkan Sang Kekasih kepada diri-Nya sendiri. Dan dari rahasia itu, terciptalah segala sesuatu. Bintang-bintang yang berkerlip. Lautan yang bergulung. Dedaunan yang berguguran. Dan hati-hati yang berdebar mencari.

Aku merenungi diriku: apakah aku ini hanya debu yang kebetulan berkumpul menjadi manusia? Ataukah aku adalah pecahan kecil dari cahaya agung itu, yang lupa akan asal-usulnya, lalu berkelana di dunia bentuk dan bayang-bayang? 

Para sufi berkata: "Man 'arafa nafsahu fa qad 'arafa rabbahu"—siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya. Dan mengenal diri berarti mengenali cahaya yang bersemayam di relung hati. Cahaya yang sama dengan Nur Muhammad. Sebab ia adalah cermin pertama tempat Tuhan memandang wajah-Nya sendiri.

Ada getar aneh ketika kusebut namanya di tengah sunyi. Bukan nama yang tertulis, melainkan hakikat yang tak terjangkau kata. Muhammad—huruf-hurufnya seperti doa yang merambat di udara, seperti zikir yang tak pernah putus sejak awal waktu.

Ia bukan hanya manusia yang lahir di Mekah, yang berjalan di padang pasir, yang menangis di Gua Hira. Ia adalah manifestasi dari kerinduan ilahi, pintu tempat cahaya masuk ke dunia yang gelap.

Aku teringat pada Rumi yang menari di Konya. Pada Ibn Arabi yang menulis Futuhat. Pada Al-Jili yang bicara tentang Insan Kamil. Mereka semua merayakan cahaya yang sama. Mereka melihat Muhammad bukan sebagai figur sejarah semata, melainkan sebagai prinsip kosmik. Sebagai wajah Tuhan yang tersenyum di balik tirai kejauhan. 

Ketika Rumi berkata, "Engkau bukan setetes di lautan, engkau adalah lautan dalam setetes," Sesungguhnya a sedang berbicara tentang Nur Muhammad yang bersemayam dalam setiap jiwa.

Lalu bagaimana denganku? Dengan kita yang sibuk dengan gemerlap dunia. Dengan layar-layar yang menyilaukan. Dengan suara-suara yang memekakkan? 

Apakah kita masih bisa merasakan cahaya itu, cahaya yang lebih halus dari sutra dan lebih terang dari seribu matahari? Ataukah kita telah begitu jauh terperangkap dalam kegelapan bentuk, hingga lupa bahwa diri kita sendiri adalah cermin yang berdebu, menunggu untuk digosok kembali?

Malam ini, di antara desah angin dan detak jarum jam, aku memejamkan mata. Aku berbisik kepada Nur yang tak pernah padam: "Tunjukkan aku jalan pulang.

Ingatkan aku bahwa aku bukanlah jasad yang rapuh ini, melainkan cahaya yang tersesat di dunia bayangan." Dan dalam keheningan yang hening, aku mendengar jawaban yang bukan kata, melainkan kehadiran—kehadiran yang telah menungguku sejak sebelum aku lahir.

Nur Muhammad adalah sekuntum mawar yang mekar di taman ketiadaan. Kelopaknya terbuka satu per satu. Dan setiap kelopak adalah alam semesta. Aku hanyalah serbuk sari yang menempel di kelopak itu. Tetapi serbuk sari ini rindu—rindu untuk kembali ke pangkuan mawar. Rindu untuk larut dalam keharuman yang tak pernah pudar.

Karena pada akhirnya, semua cahaya adalah satu. Dan semua perjalanan adalah kembali ke asal. Wallahu a'lam.

Nur Muhammad: "CAHAYA DIATAS CAHAYA"

Di keheningan malam yang merayap di ujung jari-jari rindu, aku tersadar: Ada cahaya yang lebih dahulu ada. Sebelum matahari melemparkan semb...