Jumat, 13 September 2019

Menyampaikan permohonan kepada Allah

Apabila kita berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu baik dalam hal duniawi maupun ukhrowi maka kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha yang kita lakukan tidak mampu mewujudkannya, kita akan meminta pertolongan kepada orang lain yang kita anggap mampu. 

Jika mereka juga tidak mampu membantu kita untuk mendapatkan apa yang kita hajatkan, maka kita akan memohon pertolongan kepada Allah, mengangkat kedua tangan sambil merendahkan diri dengan air mata yang bercucuran, dan suara yang lembah lembut merayu-rayu menyatakan harapan kepada Allah. Selama hajat kita belum tercapai, selama itu pulalah kita tekun beribadah dan bermunajat dengan sepenuh hati.

Apa yang berada dalam kehendak milik Allah, tidak akan ada yang mampu menghalanginya. Begitu pun ketika apa yang kita munajatkan sampai kepada ketetapan milik Allah atas pengabulannya, maka dengan mudah akan terjadi begitu saja. Seandainya Allah mengaruniakan kepada kita semua khazanah atau kekayaan yang ada di bumi dan di langit, maka hal itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan milik-Nya. 

Seandainya Allah mengaruniakan ketetapan yang menahan semua karunia-Nya, maka hal itu tidak sedikit pun menambah kekayaan milik-Nya. Jadi, dalam hal mengaruniakan atau menahan, tidak sedikit pun memberi kesan atau berpengaruh kepada ketuhanan yang dialamatkan kepada Allah. Ketuhanan-Nya adalah mutlak, tidak sedikit pun terikat dengan kehendak, do’a dan amal hamba-hamba-Nya.

Keterangan Qur’an :
“dan kekuasaan untuk melakukan apa yang Dia kehendaki itu tetap (menjadi) milik-Nya” (Q.S Ibrahim : 27)
“semuanya itu tunduk kepada kekuasaan-Nya” ( Q.S Al Baqoroh : 116)
“Allah tidak dapat ditanyai tentang apa yang diperbuat-Nya, kalianlah yang kelak akan ditanyai” (Q.S Al Anbiya : 23)

Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa seringkali mereka men-syirik-kan Allah dengan do’a dan amal. Mereka menjadikan do’a dan amal sebagai kuasa penentu atau setidak-tidaknya mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang mempunyai daya untuk tawar menawar dengan Tuhan. 

Seolah-olah mereka berkata :
“wahai Tuhan! Aku sudah membuat tuntutan maka Engkau wajib memenuhinya. Aku sudah beramal maka Engkau wajib membayar upahnya!”

Siapakah sebenarnya yang berkedudukan sebagai Tuhan? Kita atau Allah?. Sekiranya kita tahu bahwa diri kita ini adalah hamba, maka berlagaklah sebagai hamba. Hak seorang hamba adalah ridho dengan apa pun ketetapan dan karunia milik Tuhannya. 

Do’a adalah penyerahan bukan tuntutan. Kita telah berusaha tetapi gagal. Kita pun telah meminta pertolongan makhluk tetapi itu juga gagal. Apa lagi pilihan yang masih ada, selain berserah diri kepada Allah atas segala urusan, termasuk dalam perkara yang kita hajatkan. Berserah diri artinya tetap sabar mengabdi dan ridho terhadap apa pun ketetapan milik Allah yang berlaku kepada kita.

Seringkali kita tergesa-gesa menjatuhkan penilaian terhadap ketetapan-ketetapan milik Allah yang berlaku kepada kita, tanpa perenungan dan penelaahan yang mendalam untuk mengetahui dan memahami maksud, tujuan, hikmah dan hakikat yang tersamarkan di balik ketetapan-ketetapan itu. 

Bukankah pengetahuan kita tentang perkara-perkara itu sangatlah sedikit, bahkan untuk menentukan apa yang baik untuk diri kita sendiri saja, apakah kita benar-benar mengetahuinya, siapakah yang paling mengetahui yang terbaik bagi diri kita, kita sendirikah ataukah Allah yang merupakan pencipta dan pemilik dari diri kita?

Keterangan Qur’an :
“Kepunyaan Allah lah pengetahuan tentang segala sesuatu yang diciptakan, dan Dia lah pemilik sifat maha lembut dan maha waspada” (Q.S Al Mulk : 14)
“Dialah pemilik pengetahuan tentang segala yang samar dan yang tampak dan pemilik kekuasaan dan kebijaksanaan” (Q.S At Taghaabun : 18)
“Apa saja yang Kami batalkan dari ayat-ayat Kami, atau yang Kami tangguhkan, maka Kami datangkan gantinya yang lebih baik daripadanya atau yang sepadan dengannya, apakah kamu tidak mengetahui bahwa segala sesuatu itu tunduk kepada kekuasaan Allah” (Q.S Al Baqoroh : 106)

Keterlambatan dalam pengabulan atas apa yang kita munajatkan kepada Allah, hendaknya jangan sampai mengecewakan kita, karena pengaruniaan terhadap apa yang kita munajatkan sesuai dengan ukuran niat kita. Kadang-kadang pengabulan atas suatu munajat tertunda dengan maksud agar menjadi suatu dasar bagi nilai kebaikan yang lebih besar dan dasar dari pengaruniaan-pengaruniaan yang lebih baik. 

Kadang-kadang kita mengajukan sesuatu tetapi tidak dikaruniakan kepada kita dan sesuatu yang lebih baik dikaruniakan kepada kita kemudian, atau sesuatu diambil dari kita demi suatu kebaikan yang lebih besar bagi kita, karena kadang-kadang kita mengajukan sesuatu yang mengandung keruntuhan bagi agama kita apabila dikaruniakan kepada kita

Kadang-kadang terjadi suatu perkara yang dimunajatkan sebelumnya berlawanan dengan apa yang dimunajatkan kemudian. Atau pengajuan atas suatu perkara berujung kepada pengajuan suatu perkara yang lain secara beruntun. Kita hanya melihat kepada satu perkara yang dimunajatkan, padahal kalau di ingat-ingat lagi sudah berapa banyak perkara yang kita munajatkan? Bukankah apa yang kita munajatkan itu kadang-kadang berubah-ubah? 

Jadi kalau kita gunakan kata “menerima”, kita hanya melihat kepada satu munajat tetapi Allah “menerima” kedatangan semua yang dimunajatkan oleh kita dari hal pertama yang kita munajatkan sampai hal yang terakhir kita munajatkan. Dengan demikian, dari semua munajat yang kita panjatkan, bisa jadi menginduk kepada satu munajat, yang dalam padangan hukum Allah merupakan munajat yang terbaik.

Misalnya, seseorang yang beriman bermunajat kepada Allah dengan salah satu kalimah munajat yang terdapat dalam Qur’an, seperti :
“ya Allah engkaulah Tuhan kami, mudah-mudahan Engkau mengaruniakan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan mudah-mudahan kami diselamatkan dari adzab neraka” (Q.S Al Baqoroh : 201)

Jika melalui munajat tersebut dia sampai kepada rahmat dan keridhoan Allah, atau dengan kata lain munajatnya dikabulkan, maka munajat tersebut menjadi induk atas semua munajat-munajat dia. Sehingga satu munajat yang dikabulkan dapat menepis munajat-munajat yang lain. 

Jika kemudian dia bermunajat tentang sesuatu yang hanya mendatangkan kebaikan di dunia saja, tidak untuk akhirat dan tidak menyelamatkannya dari adzab neraka, maka munajat yang induk itu menahan munajat yang datang kemudian. Jadi ketika suatu munajat yang datang kemudian tidak dikabulkan, maka sebenarnya dia sedang dipelihara dan dihindarkan dari kemudharatan melalui sesuatu yang menggerakkannya ke arah yang ditunjukkan oleh do’a induk tersebut.

Oleh sebab itu, do’a atau munajat adalah tanda keberserah-dirian kita sebagai hamba kepada sang khaliq. Dengan kata lain, do’a adalah tanda bahwa kita beriman kepada Allah, sebab kalau kita tidak mengetahui, tidak menyadari dan tidak mengimani bahwa seluruh perkara itu hanya tunduk kepada Allah, maka kita tidak akan berdo’a. Sehingga dengan demikian, maka keberserah-dirian kepada Allah itu harus muncul dalam kalimat munajat yang kita ucapkan. 

Misalnya :
“ya Allah, tuhanku, pemilik keagungan, kelembutan, pengetahuan dan kebijaksanaan, aku adalah hamba yang lemah dan bodoh, tidak berkekuatan dan tidak berpengetahuan selain dengan kekuatan dan pengetahuan milikMu, aku sedang berhajat kepada sesuatu tetapi aku tidak mengetahui akibatnya bagiku, Engkaulah dzat pemilik sifat maha mengetahui. 

Sekiranya apa yang aku hajatkan ini baik akibatnya bagiku di dunia dan di akhirat, mudah-mudahan hal itu dikaruniakan kepadaku dengan sebab usaha yang aku lakukan dalam rangka mengabdi kepada-Mu. 

Tapi sekiranya akibatnya buruk bagiku di dunia dan di akhirat, mudah-mudahan aku dikaruniakan pertolongan dari-Mu, sehingga dengan pertolongan itu aku dijauhkan dari hal itu dan hal itu dijauhkan dariku, dan mencabut keinginanku terhadap hal itu. Sesungguhnya Engkaulah pemilik kekuasaan dan segala sesuatu tunduk kepada kekuasaan-Mu, dengan rahmat-Mu wahai dzat pemilik seluruh kenikmatan di dunia dan di akhirat”

Satu hal lagi yang harus kita sadari yaitu kita telah diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, kita telah diciptakan untuk akhirat bukan untuk dunia ini, untuk kefanaan, bukan untuk kekal di dunia ini. 

Oleh karena itu, hendaknya apa yang kita munajatkan itu adalah hal-hal yang keindahan dan kenikmatannya bersifat langgeng serta yang tidak akan membebani kita di hari pengadilan kelak. Mengenai kekayaan, jabatan, popularitas dan yang semacamnya, itu tidak akan langgeng bagi kita, dan kita pun tak akan hidup untuk itu.
(baitulakhlaq.blogspot.com)

Jumat, 09 Agustus 2019

Adab Salik kepada Mursyid

MURID memiliki adab dan tugas (wazhifati) lahiriyah yang banyak. Setiap murid (salik, yang sedang melakukan perjalanan menuju cahayaNya), wajib memiliki adab kepada guru mursyidnya. Beberapa hal terkait adab murid itu setidaknya memiliki sepuluh bagian, sebagai berikut:

Pertama, mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Allah. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir, tidak sah kecuali dengan mensucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batin dan menyemarakkan hati dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat. 

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis," (at-Taubah: 28) mengingatkan kepada akal bahwa kesucian dan kekotoran tidak khusus pada hal-hal yang lahiriah. Seorang musyrik bisa jadi bersih pakaian dan badan tetapi batinnya najis. Najis ialah ungkapan tentang sesuatu yang harus dijauhi dan dihindari. Sedangkan kotoran sifat lebih penting untuk dijauhi karena ia di samping kotor secara langsung juga pada akhirnya menghancurkan.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah berfirman, "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya," (al-Ahzab: 4) 

Jika pikiran terpecah maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, "Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya." Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepadanya dan mematuhi nasehatnya seperti orang sakit yang bodoh mematuhi nasehat dokter yang penuh kasih sayang dan mahir. 

Hendaklah ia bersikap tawadhu' kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Asy-Sya'bi berkata, "Zaid bin Ts-abit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segera mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, "Lepaskan wahai anak paman Rasulullah!" Ibnu Abbas menjawab, "Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada para ulama' dan tokoh." Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, "Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada kerabat Nabi kami saw.". 

 Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongannya terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal; padahal sikap ini merupakan kebodohan. Karena ilmu merupakan faktor penyebab keselamatan dan kebahagiaan. 

Siapa yang mencari tempat pelarian dari binatang buas yang berbahaya maka ia tidak akan membeda-bedakan antara diberitahukan oleh orang yang terkenal ataukah orang yang tidak tenar. Ilmu pengetahuan adalah barang milik kaum Muslimin yang hilang, ia harus memungutnya dimana saja ditemukan, dan merasa berutang budi kepada orang yang membawanya kepada dirinya siapapun orangnya. 

Oleh sebab itu dikatakan: "Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi." Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu' dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah berfirman, "Sesungguhnya padayang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37) 

Arti "mempunyai akal" ialah menerima ilmu dengan faham, kemudian kemampuan memahami itu tidak akan bisa membantunya sebelum ia "menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan" dengan hati yang sepenuhnya hadir untuk menerima setiap hal yang disampaikan kepadanya dengan konsentrasi yang baik, tawadhu', syukur, memberi dan menerima karunia. 

Hendaklah murid bersikap kepada gurunya seperti tanah gembur yang menerima hujan deras kemudian menyerap semua bagian-bagiannya dan tunduk sepenuhnya untuk menerimanya. Betapapun cara mengajar yang diterapkan seorang guru maka hendaklah ia mengikutinya dan meninggalkan pendapat pribadinya karena kesalahan pembimbingnya lebih bermanfaat baginya ketimbang kebenaran dirinya sendiri. Karena pengalaman memberitahukan hal-hal yang detil dan rumit yang kedengarannya aneh tetapi sangat besar manfaatnya. 

Ali ra berkata, "Di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta'ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya."

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Karena hal itu akan membingungkan akal dan pikirannya, dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela'ah mendalam, bahkan pertama- kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Kemudian jika usianya mendukung maka ia berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan saling mendukung dan saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. 

Ia juga harus berusaha dengan segera untuk tidak memusuhi ilmu tersebut dikarenakan kebodohannya, sebab manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Allah berfirman, "Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: 'Ini adalah dusta yang lama.' (al-Ahqaf: 11) 

Seorang penyair berkata: "Orang bermulut pahit dan sakit. Merasakan pahit air yang segar." Ilmu-ilmu "syar'iyah" dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa mamilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya dari tujuan. 

Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga "syari'ah" tak ubahnya seperti para
penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan, sesuai dengan tingkatannya tersebut, pahala di akhirat, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah.

Keena, tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi menjaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting. Karena apabila usia. pada ghalibnya, tidak memadai untuk mendapatkan semua ilmu maka seyogyanya ia mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan mencurahkan segenap kekuatannya pada ilmu yang mudah dipelajari sampai menyempurnakan ilmu yang paling mulia yaitu ilmu akhirat. 

Ilmu yang saya maksudkan ini bukanlah keyakinan yang biasa ditelan begitu saja oleh orang awam, juga bukan retorika dan perdebatan yang menjadi tujuan ahli ilmu kalam (teologi), tetapi suatu bentuk keyakinan yang merupakan hasil cahaya yang dihunjamkan Allah ke dalam hati seorang hamba yang telah mensucikan batinnya, melalui mujahadah, dari berbagai kotoran, hingga mencapai tingkatan iman Abu Bakar ra yang jika ditimbang dengan iman segenap manusia niscaya iman Abu Bakar akan lebih berat sebagaimana kesaksian yang diberikan Umar dalam sebuah riwayat yang shahih. 

Secara umum, ilmu yang paling mulia dan puncaknya ialah pengenalan Allah (ma'rifatullah) 'azza wa jalla. Ia adalah lautan yang tidak diketahui kedalamannya, dan puncak derajat manusia dalam hal itu adalah tingkatan para nabi kemudian para wali kemudian orang-orang yang di bawah mereka.

Ketujuh, hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya; karena ilmu tersusun secara berurut, sebagiannya merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Orang yang mendapat taufiq ialah orang yang menjaga urutan dan pentahapan tersebut. Hendaklah tujuannya dalam setiap ilmu yang dicarinya adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. 

Oleh sebab itu, ia tidak boleh menilai tidak benar suatu ilmu karena adanya penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan salah seorang atau beberapa orang di dalam ilmu itu, atau karena pelanggaran mereka terhadap konsekwensi amaliah dari ilmu mereka. Sehingga ada sekelompok orang yang tidak mau melakukan kajian dalam masalah 'aqliyah dan fighiyah dengan alasan seandainya punya dasar niscaya sudah dicapai oleh para ahlinya. 

Ada juga sekelompok orang yang meyakini kebatilan ilmu kedokteran hanya karena mereka pernah menyaksikan kesalahan yang dilakukan oleh seorang dokter. Ada pula kelompok yang meyakini kebenaran ramalan perbintangan (perdukunan) hanya karena adanya kesesuaian yang pernah dibuktikan oleh seseorang. 

Semua kelompok tersebut tidak benar, tetapi ia harus mengenali sesuatu itu sendiri, bukan melalui orang yang menekuninya. Karena tidak setiap orang bisa menguasai ilmu dengan baik. Oleh sebab itu, Ali ra berkata, "Janganlah kamu mengenali kebenaran melalui orang tetapi kenalilah kebenaran pasti kamu akan mengetahui orangnya."

Kedelapan, hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Apa yang dimaksudkannya adalah dua hal; pertama kemuliaan hasil; dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu kedokteran adalah kehidupan yang fana. 

Dengan demikian, ilmu agama lebih mulia. Atau seperti ilmu hisab dan ilmu ramalan perbintangan. Ilmu hisab lebih mulia karena kekokohan dan kekuatan dalilnya. Jika ilmu hisab dibandingkan dengan ilmu kedokteran maka ia lebih mulia. Dengan demikian jelas bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasulul-rasul-Nya, dan ilmu tentang jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu ini.

Kesembilan, hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabiri). 

Hendaklah murid tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabui orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Di samping itu, ia tidak boleh meremehkan semua ilmu, yakni ilmu fatwa, ilmu nahwu dan bahasa yang berkaitan dengan al-Qur'an, as-Sunnah dan ilmu-ilmu lainnya yang merupakan fardhu kifayah. 

Janganlah sekali-kali Anda memahami dari sanjungan kami yang berlebih-lebihan kepada ilmu akhirat ini sebagai pelecehan terhadap ilmuilmu yang lainnya. Karena orang-orang yang bertugas menekuni ilmu-ilmu tersebut sama seperti orang-orang yang bertugas menjaga front perbatasan (Darul Islam) dan orang-orang yang berjihad dijalan Allah. 

Di antara mereka ada yang bertugas sebagai petempur, ada yang menjaga pertahanan, ada yang bertugas mengurusi perbekalan air, ada yang menjaga binatang-binatang tunggangan dan lain sebagainya. Setiap orang dari mereka mendapatkan pahala, jika tujuannya untuk meninggikan kalimat Allah bukan untuk mendapatkan
harta rampasan. 

Demikian pula para ulama'. Allah berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al-Mujadilah: U) Allah berfirman, "(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah." (Ali Imran: 163) 

Keutamaan tersebut bersifat nisbi. Janganlah Anda mengira bahwa derajat di bawah tingkatan yang paling tinggi itu jatuh nilainya, karena tingkatan tertinggi adalah tingkatan para nabi kemudian para wali, kemudian para ulama' yang mendalam ilmunya, kemudian orang-orang yang shalih dengan segala perbedaan derajat mereka. 

Secara umum "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (az-Zalzalah: 7-8) Dan barangsiapa dengan ilmunya, ilmu apa saja, bermaksud mencari ridha Allah maka pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat darpada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya. Arti 'yang penting' ialah apa yang menjadi kepentingan Anda -tidak ada yang menjadi kepentingan Anda kecuali urusan dunia dan akhirat. 

Jika Anda tidak bisa menghimpun antara kesenangan dunia dan keni'matan akhirat, sebagaimana ditegaskan al-Qur'an dan diberi kesaksian oleh cahaya bashirah. maka yang lebih penting adalah apa yang tetap ada selama-lamanya; sehingga pada saat itu dunia menjadi tempat singgah, jasad menjadi kendaraan, dan amal perbuatan menjadi upaya menuju tujuan yang tidak lain adalah perjumpaan dengan Allah yang merupakan ni'mat terbesar, sekalipun hanya sedikit di dunia ini orang yang mengetahui nilainya.

Renungkanlah hal ini terlebih dahulu dan terimalah nasehat gratis dari orang yang telah mendapatkan pengalaman berharga tersebut dan tidak berhasil mencapainya kecuali setelah usaha keras dan keberanian yang sepenuhnya untuk menentang orang-orang awam dan khusus dalam menghentikan taqlid mereka semata-mata karena syahwat.
(Sumber:baitulakhlaq.blogspot.com)

Jumat, 19 Juli 2019

Mensyukuri nikmat Allah

Ingatlah setiap nikmat yang Allah karuniakan kepadamu. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kakimu
.
"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (QS. Ibrahim: 34)

Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kamu. Namun begitulah, kamu memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Kamu menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.

"Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin" (QS. Luqman: 20)

Kamu dilengkapi dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki.

"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman: 13)

Apakah kamu mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah kamu mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?

Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kamu masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah kamu merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kamu yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?

Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan kamu dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kamu yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kamu yang terbebas dari penyakit lepra dan borok. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kamu yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.

Adakah kamu ingin menukar mata kamu dengan emas sebesar gunung himalaya, atau menjual pendengaran kamu seharga perak satu bukit? Apakah kamu mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah lidah, hingga kamu bisu? Maukah kamu menukar kedua tangan kamu dengan untaian mutiara, sementara tangan kamu buntung?

Begitulah, sebenarnya kamu berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi kamu tidak menyadarinya. Kamu tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun kamu masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.

Kamu acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kamu pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa kamu mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya kamu masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!

"Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan" (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling kamu. Dan janganlah termasuk golongan :

"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya" (QS. An-Nahl: 83)

Jumat, 07 Juni 2019

Allah hanya dapat dikenali apabila Dia memperkenalkan diriNya

Ruhani yang telah terdidik oleh pemahaman yang benar tentang amal, qada dan qadar, kehendak dan ikhtiar, doa dan janji Allah, akan membentuk sikap beramal shaleh tanpa melihat kepada amalan itu tapi sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri. 

Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah tetapi membuka hati nuraninya untuk menjadi tempat dicurahkannya karunia Allah yang lain seperti petunjuk-petunjuk untuk mengenal Allah.

Orang yang hatinya telah dibersihkan sehingga mecapai suatu keadaan yang suci akan memperoleh pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah tidak mungkin dikenali dan ditemui kecuali jika Dia mengizinkan untuk dikenali dan ditemui. Tidak ada ilmu dan amal yang sanggup menyampaikan seseorang kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah secara zauk (berhadapan secara langsung). Allah hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan ‘diri’-Nya.

Penemuan kepada hakikat bahwa tidak ada jalan yang terluhur kepada gerbang ma’rifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu mengantarkan lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga untuk mencapai Allah, maka seseorang itu tidak akan lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apalagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sudah sampai ke sini maka seseorang itu tidak mempunyai pilihan lagi selain menyerah sepenuhnya kepada Allah.

Ada orang yang mengetuk gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika gerbang itu tidak terbuka, maka semangatnya akan menurun sehingga dapat membawa kepada putus asa. Ada juga orang yang berpegang kepada janji Allah bahwa Allah akan membukakan jalan-Nya pada hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran-Nya. Lalu dia dengan sekuat-kuatnya beramal shaleh agar dia lebih layak untuk memperoleh karunia Allah sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk gerbang ma’rifat. Bila gerbang tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.

Dalam perjalanan menuju ma’rifat, seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa, jika dia masih ketergantungan kepada sesuatu selain Allah. Tidak ada pilihan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Allah, hanya Allah yang memiliki kuasa mutlak dalam menentukan siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali ‘diri’-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah. 

Aslim atau berserah diri kepada Allah adalah perhentian di hadapan pintu gerbang ma’rifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian Aslim ini yang berkemungkinan dikaruniakan ma’rifat. Allah melalui rahmat-Nya menyampaikan hambanya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut sedang dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah maqom berhampiran di mana seseorang telah sampai di depan pintu gerbang “perjumpaan” dengan Allah. 

Siapa yang sudah sampai pada maqom ini, ia harus terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amalnya. Sekiranya Allah mengizinkan, dari maqom inilah seorang hamba ‘diangkat’ ke Hadrat-Nya.

Jalan menuju perhentian atau Aslim yaitu ke pintu gerbang ma’rifat, secara umum terbagi dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui suatu jalan dimana dia kuat melakukan mujahadah, berjuang menundukan hawa nafsu, kuat melakukan amal shaleh dan gemar menuntut ilmu. 

Dhohirnya sibuk memenuhi tuntutan syariat dan meneguhkan bathinnya dengan iman. Dipelajarinya sifat-sifat dirinya yang tercela dan berusaha mengikisnya dari dirinya. Kemudian digantikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar dirinya diliputi oleh nafsu yang luhur dan suci hingga ke tingkat nafsu yang diridhoi Allah. Inilah orang yang diceritakan dalam keterangan hukum Allah.

Keterangan Qur’an :
“Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka memperoleh keridhoan) dan sesungguhnya (rahmat dan pertolongan) Allah menyertai orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya” (Q.S Al Ankabut : 69)

“Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menjumpai Allah dengan amalanmu itu” (Q.S Al Insyiqoq : 6)

Orang yang bermujahadah pada jalan menuju Allah dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyak ibadah, berdzikir, menyucikan hati, maka Allah menunjukan jalan dengan mengaruniakan rahmat-Nya sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah tanpa ragu-ragu dan ridho dengan ketetapan Allah. 

Dia ‘dibawa’ menghampiri pintu gerbang ma’rifat dan hanya Allah saja yang memiliki kuasa yang menentukan apakah orang tersebut ‘dibawa’ ke Hadrat-Nya atau pun tidak, dikaruniakan ma’rifat atau tidak.

Sementara golongan orang yang ‘dicari’ menempuh perjalanan yang berbeda dari golongan yang mencari. Golongan orang yang ‘dicari’ pada mulanya tidak cenderung menuntut ilmu dan beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi Allah telah mengaruniakan suatu kedudukan keruhanian kepadanya, maka ketetapan-ketetapan yang berlaku kepadanya menggiringnya ke kedudukan keruhaniannya tersebut. 

Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan suatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan pada hidupnya. Terjadi perubahan sikap dan perbuatan secara mendadak. Kejadian yang menimpanya biasanya berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah.

Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkannya tidak mampu mendekat kepada Allah, maka dengan kekuasaan-Nya kerajaannya itu dicabut darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada waktu yang sama timbul keinsyafan di dalam hatinya yang membuatnya berserah diri kepada Allah dengan sepenuh hati. 

Ketetapan Allah yang berlaku kepadanya membuatnya terhalang dari menerima bantuan dari makhluk sehingga dia menjadi berputus asa terhadap makhluk. Lalu dia kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah dan timbullah dalam hatinya suasana penyerahan atau Aslim yang benar-benar kepada Allah.

Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan dia ridho terhadap apa pun ketetapan Allah yang berlaku kepadanya. Suasana begini membuat dia sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang ma’rifat walaupun ilmu dan amal dia masih sedikit.
Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana mampu sampai pada perhentian tersebut dalam waktu dua bulan, sedangkan orang yang mencari mungkin sampai dalam waktu dua tahun.

Abu Hurairah r.a pernah menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda yang maksudnya :
“Allah berfirman : apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada orang-orang yang mengunjunginya, maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu, dan dia dapat memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”

Amal shaleh dan ilmunya tidak dapat membawanya pada kedudukan keruhanian yang telah ditetapkan Allah, lalu dengan rahmat-Nya Allah mengaruniakan kepadanya bala bencana yang mendorongnya dengan cepat kepada Aslim. Oleh karena itu apabila terjadi keadaan yang demikian tidak perlu mempersoalkan tentang ilmu dan amal tapi segeralah jadikan bala bencana itu sebagai kendaraan untuk berserah diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
(baitulakhlaq.blogspot.com)

Ketika Koperasi Desa Merah Putih Terlahir dari Firasat

( Secangkir Anggur Merah Edisi-27 ) Pengantar : Di atas kertas, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terdengar seperti mimpi indah. Tidak kurang...