Rabu, 18 Februari 2026

Adab Diatas Ilmu


Pepatah Arab “Al adabu fauqal ilmi” (Adab lebih tinggi dari ilmu) menegaskan bahwa akhlak dan etika jauh lebih utama daripada sekadar kecerdasan intelektual.

Tanpa adab, ilmu berpotensi menjadi racun, menimbulkan kesombongan, dan kehancuran. Sedangkan adab menjadikan ilmu bermanfaat dan mendatangkan keberkahan.

Adab adalah fondasi yang membentuk perilaku, moral, dan tanggung jawab. Imam Malik pernah menasihati untuk mempelajari adab sebelum ilmu. Adab dapat berfungsi sebagai "rem" yang memandu penggunaan ilmu agar tepat sasaran dan memberikan dampak positif, bukan sebaliknya.

Dengan demikian ilmu tanpa adab bisa membuat seseorang merasa sombong atau menyalahgunakan ilmunya (bahkan Iblis berilmu tetapi tidak beradab). Ilmu yang sedikit namun disertai adab yang baik akan lebih berkah dan bermanfaat daripada ilmu yang banyak namun tanpa adab dan etika.

Contoh Penerapan Adab: Menghormati guru dan orang tua; Mengucapkan salam dan bersikap sopan; Menjaga etika dalam bertanya atau berbeda pendapat, dsb.

Secara ringkas, adab mencerminkan kualitas manusia seutuhnya, sedangkan ilmu adalah alat. Adab memastikan alat tersebut digunakan untuk kemaslahatan, bukan kerusakan.

Iblis lebih berilmu

Asy Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah pernah berkata:
"Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu.
Kalau hanya berilmu, iblis-pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia."

Dari kata-kata tersebut kini kita sudah paham, apa dulu yang harus kita dalami sebelum ilmu? Ya, memang sejatinya adalah Adab terlebih dahulu!

Menurut bahasa, Adab memiliki makna: kesopan-santunan atau kehalusan dan kebaikan budi pekerti.

Secara definintif Adab adalah norma, tata krama, sopan santun, dan budi pekerti luhur yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan sosial, yang bersumber dari aturan agama (Islam) dan budaya. 

Adab mencakup kerendahan hati, penghormatan, dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya (proporsional), serta merupakan cerminan dari akhlak mulia.

"Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang mengerjakannya." (HR Muslim No1893).

Sedangkan ilmu adalah kumpulan pengetahuan sistematis yang diperoleh melalui pengamatan, penelitian, dan studi mendalam (metode ilmiah) untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi fenomena di alam maupun sosial. 

Lebih dari sekadar informasi, ilmu merupakan alat untuk memecahkan masalah, meningkatkan kualitas hidup, dan sarana untuk bertindak dengan bijak.

Ilmu tidak dapat menjadi patokan untuk menjadi orang  berguna. Jika kita tidak beradab walaupun berilmu, maka berarti ilmu kita tidak mampu mendidik pada adab kita.

Seseorang yang beradab padahal dia tidak berilmu maka itu lebih baik dibanding seorang yang berilmu tetapi tiada beradab. Jika ingin menyampaikan ilmu haruslah beradab, jika ingin menasihati haruslah beradab, jika ingin memberi teguran juga harus beradab, atau jika ingin memberi peringatan sekalipun haruslah juga berada dalam koridor adab.

Semua harus bermula dengan Adab!

Jadi, janganlah kita merasa bangga dengan Ilmu setinggi apapun, jika pada gilirannya tak sanggup dilengkapi dengan adab. Ilmu tanpa adab bagai langit tak berbintang. Bagai laut tanpa ikan. Bagai sepiring nasi tanpa dilengkapi lauk-pauknya.

Jadi, mari kita mulai berbenah diri...
Semoga bermanfaat...

Minggu, 15 Februari 2026

Bacaan Niat Puasa Ramadan Beserta Tata Caranya


Bacaan niat puasa Ramadan memiliki peran penting karena tanpa niat, puasa seseorang dianggap tidak sah.

Apalagi, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah sehingga umat Islam berlomba-lomba dalam hal ibadah dan kebaikan. Nah, puasa adalah salah satu ibadah utama yang dilakukan selama bulan ini.

Lalu, bagaimana lafadz niat puasa Ramadan serta kapan waktu yang baik untuk menunaikannya? Artikel ini akan memberikan penjelasan lengkap mengenai doa niat puasa Ramadan dan tata cara berpuasa.

Apa Itu Puasa Ramadhan?

Puasa Ramadan adalah ibadah wajib yang dilaksanakan oleh umat Islam selama bulan Ramadan dan merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang harus dijalankan oleh setiap Muslim.

Allah SWT berfirman dalam Alquran:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Namun, tak semua orang bisa berpuasa, karena puasa haruslah dilakukan oleh mereka yang telah memenuhi syarat, seperti baligh, berakal, dan mampu menjalankannya.

Dalam puasa Ramadan, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Selain itu, keutamaan puasa Ramadan juga menjadi momen untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki akhlak.
Bacaan Niat Puasa Ramadan
Niat puasa Ramadan dapat dilakukan pada malam hari sebelum fajar atau sebelum waktu subuh tiba.

Berikut adalah bacaan niat puasa Ramadan, sebagaimana melansir dari laman MUI, dalam bahasa Arab, latin, dan artinya:

Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh

Saat memasuki bulan Ramadan, Anda dapat membaca niat puasa untuk satu bulan penuh. 
Lafaz dari niat puasa untuk sebulan adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.”

Bacaan Niat Puasa Seharian

Sementara itu, jika ingin membaca setiap hari, bacaan niat puasa Ramadan, sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala”

Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Ramadan?

Dalam puasa wajib, seperti puasa Ramadan, niat harus dilakukan sebelum terbit fajar. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah:

"Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." (HR. Abu Daud No. 2454, Tirmidzi No. 730)

Hal ini selaras dengan pendapat para ulama sebagai berikut:

Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa niat puasa Ramadan harus dilakukan setiap malam sebelum fajar. Jika tidak, maka puasanya tidak sah kecuali untuk hari pertama yang telah diniati.

Mazhab Malik berpendapat bahwa niat puasa sebulan penuh pada malam pertama sudah mencukupi untuk seluruh bulan Ramadan.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berniat puasa Ramadan pada malam hari sebelum fajar tiba. Niat puasa menjadi perkara wajib yang menentukan sah atau tidaknya puasa.

Tata Cara Puasa Ramadan

Agar puasa Ramadan sah dan mendapatkan pahala yang maksimal, berikut adalah tata cara menjalankan puasa yang benar:

1. Niat di Malam Hari:

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, niat harus dilakukan sebelum waktu fajar. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa puasa tidak sah tanpa niat pada malam harinya.

2. Makan Sahur:

Sahur adalah sunnah yang dianjurkan karena memiliki keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:
“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." (HR Bukhari).

3. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa:

Selama berpuasa, umat Islam wajib menahan diri dari makan, minum, dan berbagai hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Selain menahan lapar dan haus, iringi dengan menjaga lisan, emosi, dan perbuatan dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti berkata kasar, berbohong, atau bergunjing.

4. Menyegerakan Berbuka:

Ketika waktu berbuka tiba, dianjurkan untuk segera berbuka. Bukan hanya karena lapar dan haus, tetapi menyegerakan berbuka merupakan sunnah Rasulullah.

Hal tersebut sesuai hadis berikut:

Aisyah berkata, "Siapa di antara mereka berdua yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?" Aku menjawab, "Abdullah bin Mas'ud." Ia berkata, "Seperti itulah yang dahulu dikerjakan oleh Rasulullah." (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i, & Ibnu Majah)

5. Memperbanyak Ibadah dan Amal Kebaikan

Selain berpuasa, inilah waktu terbaik untuk meningkatkan ibadah dan amalan Ramadan, seperti membaca Alquran, bersedekah, dan memperbanyak dzikir serta doa.

Jangan lupa untuk menunaikan salat Tarawih yakni ibadah sunnah yang dilakukan setelah salat Isya dan hanya ada di bulan Ramadan ini.

Selain mendapatkan pahala yang besar, salat Tarawih juga dapat meningkatkan kekhusyukan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

"Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau." (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Tips Memaksimalkan Ibadah di Bulan Ramadan

Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa.
Untuk meraih semua keutamaan bulan Ramadan, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

Susun jadwal harian agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal untuk membaca Alquran, shalat, dan berzikir.

Hindari aktivitas yang tidak produktif seperti menonton hiburan yang berlebihan atau bermain media sosial terlalu lama.

Pastikan asupan makanan sehat dan cukup air agar tubuh tetap bugar untuk beribadah.

Sediakan dana khusus untuk bersedekah, baik kepada keluarga yang membutuhkan maupun masyarakat sekitar.

Perbanyak ibadah di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan dengan berdoa, membaca Alquran, dan memperbanyak istighfar.

Selamat menunaikan ibadah puasa

Jumat, 13 Februari 2026

Telah Datang Ramadhan Karim Kepadamu

Ramadhan Karim (رمضان كريم) artinya adalah "Ramadhan yang mulia" atau "Ramadhan yang dermawan". 

Ungkapan ini merupakan ucapan selamat dan doa agar bulan suci Ramadhan membawa limpahan kebaikan, kemurahan hati, dan keberkahan bagi umat Muslim. Ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu di mana Allah melimpahkan pahala berlipat ganda.

Makna dan Penggunaan arti secara harfiah: Ramadhan (bulan ke-9 Hijriah) + Karim (mulia/dermawan/murah hati).

Adapun makna yang dikandungnya merupakan doa agar Ramadhan memberikan kemurahan hati atau kebaikan kepada mereka yang merayakannya. Hal ini sering digunakan sebagai ucapan salam, sambutan, atau doa selama bulan puasa
.
Jika seseorang mengucapkan "Ramadhan Karim", bisa dijawab dengan "Allah Akram" yang berarti "Allah Maha Pemurah".

Adapun perbedaan Ramadhan Karim vs. Ramadhan Mubarak, yakni Jika Ramadhan Karim berfokus pada kemurahan hati atau kemuliaan bulan Ramadhan. Maka Ramadhan Mubarak mengandung arti "Ramadhan yang diberkahi". 

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai penggunaan kata Karim, ungkapan ini secara umum dimaknai positif sebagai bentuk penghormatan dan doa atas keberkahan bulan Ramadan.

Ramadhan Telah Datang

Saudaraku,
Kita senantiasa berharap berusia panjang dan diberikan kesempatan menapaki bulan mulia Ramadhan sebagaimana tertuang dalam doa yang sering kita panjatkan semenjak bulan Rajab dan Sya’ban,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Satu doa ringkas penuh makna yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertujuan mengingatkan setiap Mukmin untuk bersegera dan berlomba-lomba menyiapkan diri, baik secara lahir maupun batin untuk menyambut datangnya bulan mulia, bulan penuh limpahan keberkahan, bulan suci, bulan istimewa yang penuh rahmat, ampunan...

Saudaraku,
Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut dan memaksimalkan keistimewaan bulan Ramadhan yakni persiapan lahir dan batin, fisik dan mental, materil dan immateril.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskankan dan mengingatkan kepada setiap pribadi hamba Allah yang Mukmin Muslim untuk menunaikan kewajiban ibadah di bulan suci Ramadhan. Sebuah kewajiban yang juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yakni ibadah puasa. Kewajiban untuk menahan diri, tidak makan dan minum serta menghindari segala sesuatu yang sekiranya dapat membatalkan puasa sebagaimana tuntunan syariat...

Oleh karenanya, perlu persiapan lahiriah agar tubuh dapat beradaptasi dengan baik secara bertahap yakni dengan tutorial latih diri untuk berpuasa di bulan-bulan sebelumnya, seperti bulan Rajab dan Sya’ban. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan contoh dan kita sebagai umatnya patut untuk meneladaninya sebagaimana termaktub dalam hadits,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. 

Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain persiapan lahiriah, penting juga untuk melakukan persiapan batiniah dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dan persiapan awal yang pantas dan bisa dilakukan adalah dengan menanamkan kegembiraan dalam hati, rasa dan pikiran. 

Sebab secara psikologis, perasaan dan pikiran gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan motif, dorongan dan perasaan kecintaan dalam melakukan sesuatu. Selanjutnya jika motif dan perasaan cinta sudah tumbuh saat melakukan sesuatu, maka pasti akan dapat mencapai perolehan hasil yang maksimal.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sebuah hadits kepada ummatnya untuk senantiasa menghadirkan perasaan dan pikiran gembira menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Kegembiraan dan perasaan suka ria ini juga niscaya bakal diganjar dengan sebuah keistimewaan pula,

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa juga bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.”
(HR. Imam Nasa’i)

Saudaraku,
Yang tidak kalah penting adalah pembekalan diri dengan giat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman beragama dalam Islam melalui majelis taklim sebagai upaya mengkalibrasi tingkat keimanan dan keyakinan yang mungkin sebelumnya tenggelam dalam hiruk pikuk perhiasan duniawi yang melalaikan. 

Hal itu agar tidak kecewa dan merugi disebabkan kehilangan -start point- dan peluang-peluang menarik dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah sepanjang bulan Ramadhan.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap Istiqamah senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita untuk meraih keberkahan dan ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabb.
Wallahu a'lam bishawab...

Minggu, 08 Februari 2026

Munggahan-2: Asal-usul Munggahan Jelang Ramadhan

Oleh : Dian Nugraha Ramdani

Masyarakat Sunda yang tinggal di Jawa Barat punya tradisi unik nan penuh makna dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini tentu berasal dari Sunda sendiri dan telah mengakar kuat dan dipraktikkan hingga kini.

Pada bulan Ramadan, masyarakat Sunda kini yang notabene adalah Muslim akan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. 

Bukan sebatas melaksanakan kewajiban puasa, namun juga memperbanyak pelaksanaan ibadah mahdlah (yang telah ditentukan) dan perbuatan yang bernilai ibadah lainnya.

Tradisi unik yang dimaksud adalah 'Munggahan', berasal dari kata 'unggah' dalam bahasa Sunda yang berarti naik. Ada banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam munggahan ini, mulai dari bersih-bersih lingkungan, bersih-bersih kompleks pemakaman, mendoakan para leluhur yang telah tiada, makan bersama, hingga mandi besar.

Tradisi ini memang khas masyarakat lokal Jawa Barat. Jika pun dicari "dalilnya" dalam sumber hukum Islam, mungkin tidak ada yang berbicara secara khusus mengenai munggahan ini.

Ini karena munggahan merupakan bentuk dari pembauran tradisi di Sunda yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Bagaimana asal-usul munggahan sebagai tradisi menyambut Ramadan ini? Artikel ini akan membahasnya sampai tuntas.

Apa itu Sunda?

Kata Sunda akan memunculkan beragam tafsir. Kata itu bisa merujuk kepada wilayah, etnis, bahkan agama kuno yang dianut masyarakat di bagian barat Pulau Jawa ini sebelum datangnya Islam.

Studi berjudul "Berketuhanan dalam Perspektif Kepercayaan Sunda Wiwitan" oleh Ira Indrawardana dalam Jurnal Melintas, 2014 mengutip P. Djatikusumah, menyebutkan setidaknya ada tiga arti yang dirujuk oleh kata Sunda:

1. Makna Filosofis:

Sunda berarti bodas (putih), bersih, cahaya, indah, bagus, cantik, baik dan seterusnya.

2. Sunda Sebagai Etnis:

Kata Sunda berarti juga sebuah komunitas masyarakat suku bangsa Sunda. Dalam hal ini berkaitan dengan kebudayaan Sunda yang melekat pada cara dan ciri manusia Sunda.

3. Wilayah Geografis:

Kata Sunda juga berarti sebagai penamaan suatu wilayah berdasarkan peta dunia sejak masa lalu terhadap wilayah Indonesia (Nusantara), yaitu sebagai tataran wilayah 'Sunda Besar' (The Greater Sunda Islands) dan 'Sunda Kecil' (The Lesser Sunda Islands).

Kepercayaan Sunda Wiwitan

Ada sejumlah pihak yang percaya agama yang dianut masyarakat di Sunda sebelum datangnya Islam adalah agama Kapitayan (dengan konsepsi Sanghyang Semar dan Sanghyang Togog sebagai simbol kebaikan dan kebalikannya); Sunda Wiwitan atau Jati Sunda dan Hindu.

Sedikit atau banyak, agama-agama (dibaca pula: Kepercayaan) itu membentuk tradisi yang mengakar kuat di masyarakat, bahkan hingga datangnya Islam.

Terkhusus Sunda Wiwitan, kepercayaan ini mengajarkan penganutnya untuk punya hubungan yang erat dan baik dengan leluhur, alam, dan manusia.

"Masyarakat Sunda selalu berusaha melestarikan dan menjaga warisan budaya Sunda nenek moyangnya. Hal ini bermaksud untuk menjaga keseimbangan hubungan antara alam dengan manusia." tulis Alam Tarlam, dkk. dalam studi berjudul Budaya Unik "Munggahan" Menjelang Bulan Ramadhan Di Kabupaten Subang Jawa Barat: Studi Antropologi Al-Qur'an, dimuat Jurnal Urwatul Wutsqo, 2024.

Tradisi Munggahan

Istilah 'Munggahan' berasal dari kata 'unggah' yang berarti naik. Menurut Tata Twin Prehatinia dan Widiati Isana dalam jurnal di UIN Sunan Gunung Djati Bandung berjudul "Perkembangan Tradisi Keagamaan Munggahan Kota Bandung Jawa Barat Tahun 1990-2020", kata unggah pada mulanya berkaitan dengan arwah leluhur.

Namun, seiring dengan masuknya Islam di tatar Sunda terjadi penyesuaian-penyesuaian yang selaras dengan nilai tradisi Sunda dan Islam.

"Munggah berasal dari kata unggah yang berarti naik atau meningkat, yang konon pada zaman dahulu roh dan arwah nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Sesuai dengan pengertiannya, kata munggah tersirat arti perihal perubahan ke arah yang lebih baik yang berasal dari bulan sya'ban menuju bulan Ramadhan untuk meningkatkan kualitas iman kita saat sedang berpuasa dalam bulan Ramadhan." tulis jurnal itu.

Munggahan dilaksanakan masyarakat pada beberapa hari menjelang masuknya bulan Ramadan. Biasanya sepekan sebelum puasa berlangsung. Masyarakat bisa melakukan munggahan dalam sebuah rangkaian. Misalnya, didahului dengan berziarah, kemudian berwisata, hingga bersantap makanan bersama.

Nilai-nilai Munggahan dalam Sudut Pandang Islam
Jika mencari dalil naqli (tekstual) tentang munggahan, tentu tidak akan ketemu. Kegiatan-kegiatan di dalam munggahan dapat dipandang secara parsial untuk kemudian dicocokkan dengan teks-teks ke-Islaman.

Misalnya, tradisi berziarah yang dilakukan oleh masyarakat Sunda dalam masa munggahan, dapat ditemukan teks Islamnya berupa hadits nabi yang membolehkan berziarah kubur.

"Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah)," (HR. Hakim).

Kegiatan lain seperti bersih-bersih perkampungan dan kompleks pekuburan juga dianjurkan oleh Islam dalam bab menjaga kebersihan.

Pekuburan yang ditumbuhi rerumputan tinggi akan sulit untuk orang menjadikannya pelajaran mengingat akhirat sebagaimana disampaikan dalam hadits di atas, sebab untuk berkunjungpun keburu takut binatang liar yang bersembunyi di balik rumputan.

Tradisi makan bersama sesuai dengan ajaran Islam tentang berbagi. Bahkan, Nabi Muhammad SAW mengajarkan orang-orang untuk menebar kebaikan dan berbagi makanan.

"Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan sejahtera." (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

Cara Pandang Islam terhadap Tradisi Munggahan

Alam Tarlam, dkk. dalam studi berjudul Budaya Unik "Munggahan" Menjelang Bulan Ramadhan Di Kabupaten Subang Jawa Barat: Studi Antropologi Al-Qur'an, dimuat Jurnal Urwatul Wutsqo, 2024 menjelaskan bahwa Islam punya cara pandang yang adaptif terhadap tradisi, tetapi dengan sejumlah catatan.

Menurutnya, dalam sudut pandang Islam sumber hukum ada dua. Pertama Naqli (Al-Quran dan As-Sunnah) dan kedua 'Aqli (akal), yang dalam nomor dua ini ada metode pengambilan hukum bernama Ijtihad. Bagian dari Ijtihad ini ada metode 'urf, yaitu penetapan hukum yang didasarkan atas kebiasaan/tradisi/adat setempat.

Tapi, tidak semua tradisi boleh ditetapkan sebagai sesuatu yang bisa terus berlangsung dalam masyarakat Islam, melainkan harus ada penyelarasan.

"Penetapan hukum yang didasarkan atas kebiasaan setempat ('urf) ini tentu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat dan hanya digunakan dalam bidang muamalah (diluar persoalan ibadah mahdhah/ritual)," tulis Alam Tarlam, dkk.

Menurutnya, tradisi tradisi munggahan dapat digolongkan kepada sikap تهميل (adaptive-complement). Yaitu, apresiatif atau sikap menerima atau membiarkan berlakunya sebuah tradisi.

"Sikap ini ditunjukkan dengan adanya ayat-ayat Al-Qur'an yang menerima dan melanjutkan keberadaan tradisi tersebut serta menyempurnakan aturannya." tulis Alam. 
(iqk/iqk/detikcom/jabar/budaya)

Islam ala Prabowo: "Upaya Memasung Agama Ilahi"

Pengantar : Ada sebuah ironi yang menusuk nurani ketika sebuah buku diterbitkan bertajuk "Islam ala Prabowo". Mungkin maksudnya ad...