Selasa, 22 September 2020

Yuk, Kita Belajar dari Sumur

Pasangan hidup kita sering diumpamakan sebagai teman satu lembur, satu sumur, satu dapur dan satu kasur. Perumpaan ini tak perlu dibantah secara ngeyel atau berlebihan. Kenyataannya memang seperti itu. Kudu diterima dengan penuh lapang dada.

Tapi ini bukan cerita tentang pasangan hidup kita dengan segala tetek bengek suka dukanya. Kali cerita tentang SUMUR yang ternyata memiliki filosofi yang unik.

Begini ceritanya. Jika sebuah sumur sering ditimba airnya, maka airnya akan tampak selalu jernih.  Tidak mengering. Bahkan airnya akan selalu tersedia di dalamnya...

Namun uniknya, ketika beberapa hari atau satu hari saja airnya tidak ditimba, ketinggian air di dalam sumur itu akan tetap. Tidak menurun atau meningkat alias sama seperti sebelumnya.

Justru sumur yang tak pernah lagi diambil airnya, maka airnya akan cenderung  kotor. Ada kalanya sudah tak layak lagi untuk diminum.
Mengapa demikian? Inilah hukum alam. Alam akan tetap menjaga sunatullah. Terjaga dalam keseimbangan.

Tak perlu dipungkiri kalau di alam ini memang terdapat banyak misteri.  Tujuannya guna memberikan pelajaran pada kehidupan manusia mengenai pentingnya keseimbangan. Mari kita analogikan filosofi sumur dengan kehidupan kita. Sumur rupanya bisa memberi pelajaran pada kehidupan kita.

Dari filosofi sumur ini kita dapat belajar, ternyata semakin banyak sumur memberi air semakin banyak air yang mengalir kepadanya. 

Dalam kehidupan pada umumnya orang berpikir bahwa jika kita memberi apa yang kita miliki pasti akan berkurang dari yang dimiliki sebelumnya. Padahal tidaklah demikian. Ketika kita memberi misalnya dalam bentuk materi, seperti sedekah atau wakaf atau apapun bentuk pemberian materi lainnya. Maka Allah menjanjikan bahwa pada yang telah dikeluarkannya itu tidak akan berkurang, namun akan diberikan pahala minimal 10x lipat.

Maknanya semakin banyak kita memberi kepada orang lain maka akan semakin banyak yang kita miliki. Makna memberi memang tidak harus berupa materi, Bisa dalam bentuk apapun. Dalam bentuk sikap, perilaku atau ilmu misalnya.

Ketika kita memberi ilmu, misalnya, maka sesungguhnya kemampuan kita akan semakin meningkat. Memberi tentu saja yang dibingkai dengan keikhlasan. Bukan karena ingin mendapat pengakuan, sanjungan atau ingin menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan dibanding orang lain.

Kita memberi dalam kapasitas yang terukur. Memberi karena dilandasi oleh harapan orang lain akan semakin bijak dan bahagia. Apalagi menyasar pada harapan agar kehidupan yang lain bisa lebih layak dan sejahtera dalam menjalani kehidupannya.
 
Yakinlah, kita semua BISA melakukan hal ini. Sesuai dengan kapasitas dan keikhlasannya.

Pilihan terserah pada diri kita.
Sedangkan manfaat langsung yang bisa kita rasakan saat memberi adalah kebahagiaan dan kepuasan batin. Dan inilah sesungguhnya hyang dinamakan kebahagiaan sejati.

THE MORE YOU GIVE...
THE MORE YOU RECEIVE...

Jumat, 07 Agustus 2020

Musuh utama kejujuran adalah kemunafikan

Kisah ini terjadi pada masa zaman Nabi Sulaiman. Sekali peristiwa terdapat sepasang burung sedang bercengkerama di sebuah batang pohon yang rindang dan tak jauh dari jalan utama sebuah perkampungan. Keduanya berceloteh nyaring dan mendendangkan kebahagiaan. Celoteh dan nyanyian itu terpaksa mandek ketika samar-samar datang seorang lelaki bertongkat yang mengenakan jubah dan menggamit sebuah kitab di lengan kirinya.

Burung jantan berkata kepada sang Betina, “Kita harus beranjak. Lelaki itu pasti akan memburu kita.”

Sang betina bergeming. Ia sesekali masih tetap berceloteh dan bercericit. “Ia bukan pemburu. Ia adalah seorang ulama. Tampaknya ia akan berangkat mengajar ilmu agama,” demikian sang betina menampik.

Sang jantan mengalah dan memutuskan percaya pada argumen sang betina. Keduanya melanjutkan celotehan yang sebelumnya tertunda. Sial nasib, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam batok kepala burung betina. Tampaknya pukulan itu berasal dari tongkat yang dipegang lelaki berjubah. Sang betina sekarat meregang nyawa.

Beberapa detik sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jubah. Ia menyembelih, membersihkan bulu-bulu, dan memanggang burung betina itu. Magrib itu, lelaki berjubah berbuka puasa dengan menu burung panggang.

Dari kejauhan, sang burung jantan hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan kekasih hatinya. Ia berduka sedalam-dalamnya. “Manusia memang tidak pernah jujur, bahkan kepada dirinya sendiri. Bukankah ia sedang berpuasa? Mengapa ia menipu kami dengan tampilan agamawan, namun hatinya tak ubahnya pemburu yang bengis dan kejam?”


Kalimat aduhan tersebut disampaikan pada Nabi Sulaiman. Kepada Nabi yang dianugerahi nikmat mampu bercakap cakap dengan hewan itu, sang burung jantan menumpahkan keluh kesah atas kecurangan dan kejahatan yang menimpa keluarganya. Nabi Sulaiman segera memanggil lelaki berjubah itu beberapa hari kemudian.

“Apakah benar kau membunuh seekor burung beberapa waktu lalu dan memakannya untuk berbuka puasa?” tanya Nabi Sulaiman pada lelaki berjubah.

“Daulat, Baginda.”

“Kau boleh berburu tapi berperilakulah yang jujur. Jangan menjadi penipu. Kau kenakan pakaian kebesaran agamawan, berjubah, bergamis, sehingga tak satupun hewan-hewan menaruh curiga kepadamu. Namun, nyatanya justru dengan tongkatmu kau melukai, membunuh, dan menyantap mereka? Yang kau lakukan tidak lain adalah penipuan dan kebohongan.”

Lelaki berjubah itu menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh menyesali perbuatannya. Ia tidak menyangka bahwa perilakunya yang terlihat sepele itu mengandung dosa yang demikian besar di mata Tuhan.

Kejujuran adalah nilai yang hendak ditanamkan oleh Nabi Sulaiman kepada lelaki berjubah itu. Betapa kejujuran menjadi barang yang teramat mahal. Kesesuaian antara performa lahir dengan apa yang ada di dalam batin menjadi kunci dan moral cerita di atas.

Bahaya Ulama MunafikTidak kalah pentingnya, para ulama terdahulu mewanti-wanti agar umat manusia tidak terkecoh dengan identifikasi-identifikasi dan pemahaman yang keliru. Contohnya yang menyangkut kejujuran, banyak dikisahkan bahwa umumnya pendapat menyatakan musuh utama kejujuran adalah kebohongan.

Pendapat demikian dibantah para ulama dan pakar akhlak. Sebab yang menjadi musuh utama kejujuran adalah kepura-puraan. Dalam terminologi agama disebut dengan kemunafikan atau munafik. Istilah yang lebih baru yang diserap dari bahasa Inggris adalah hipokrit.

Munafik adalah kondisi ketika seseorang menampakkan sesuatu yang berlawanan dengan keadaan batinnya. Dalam Bahasa agama disebut "yuzhiru khilāfa ma yubthinu" (menampakkan apa yang tidak sesuai dengan kondisi sejatinya).

Sufi besar Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa tabiat orang munafik itu selalu berbeda antara lisan dengan kata hati. Apa yang tersembunyi dengan yang ditampakkan bersifat kontradiktif, dan berbeda antara yang masuk dengan yang keluar. Artinya jika berkabar, ia pasti membual-bual.

Sadar akan kadar bahaya yang disebabkan wabah kemunafikan ini, Rasulullah memberikan minimal empat ciri munafik tulen. Ciri pertama, jika diberi amanat, ia akan mengkhianati. Kedua, jika berbicara, ia berdusta. Ketiga, jika berjanji, ia pasti mengingkari. Keempat, jika ia berselisih paham, maka ia tidak segan-segan akan berbuat zalim.

Sahabat Umat bin Khattab sekali waktu berkhotbah dengan sangat lantang di atas mimbar: “yang aku khawatirkan terjadi dan menimpa kalian adalah munculnya orang-orang berilmu yang munafik.”

Siapakah yang dimaksud Umar?

Dalam kitab Jāmiul Ulūm wal Hikam disebutkan bahwa mereka mereka adalah orang-orang yang perkataannya penuh hikmah, namun tingkah polahnya sarat kemungkaran.

Orang yang munafik canggih merekayasa umat. Dengan modal pemahaman keagamaan, mereka sering kali menipu orang banyak. Ulama seperti inilah yang diramalkan Umar bin Khattab banyak lahir di akhir zaman. Umar melukiskan dengan kalimat “khusū’un nifaq an taral jasada khāsian, wal qalbu laisa bikhāsi’in” (fisiknya tampak khusyuk sekali, namun tidak dengan hatinya).

Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik menarik untuk direnungkan: betapa wabah kemunafikan sudah sedemikian akut dan merajalela. Rasulullah bersabda, “Akan datang suatu masa ketika orang kaya naik haji hanya untuk pelesiran, orang kelas menengah pergi haji untuk berdagang, para pengkaji Alquran berangkat haji untuk pamer serta meningkatkan reputasi nama baik, dan orang miskin naik haji untuk mengemis.”

(tirto.id//Fariz Alniezar/Sosial Budaya)

Jumat, 10 Juli 2020

Apakah tasawuf dan thariqah itu bid'ah?

Setelah melalui ulasan yang panjang tentang tasawuf sejak masa Rasulullah SAW hingga di masa sufi-sufi besar, Prof. Dr. Hamka menuliskan di bagian akhir bukunya bahwasanya "Tasawuf Islam adalah bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah itu sendiri." 

Demikianlah kesimpulan sang ulama ternama, yang di negeri kita akrab dipanggil Buya Hamka ini, sebagaimana kita baca dalam buku beliau Tasawuf: Perkembangan dan Pemurniannya.

Adanya tuduhan bid'ah terhadap tasawuf, sebagian besar adalah karena kesalahpahaman, atau memang karena adanya beberapa praktik yang menyimpang di suatu majelis atau kelompok tertentu — yang tentu tidak hanya bisa terjadi di tasawuf saja, melainkan juga di berbagai dimensi keislaman lainnya.

Tasawuf bukanlah sesuatu yang terpisah dari agama. Tasawuf adalah dimensi batin dari agama, yakni aspek Ihsan dari tiga aspek besar yang membentuk Diin Al-Islam secara utuh: Iman (tauhid), Islam (syariat) dan Ihsan (tasawuf, atau akhlaq).

Sementara thariqah sendiri adalah sebuah metode khusus dalam ilmu tasawuf dan jalan pertaubatan, jalan kembali kepada Allah Ta'ala, melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penjagaan hati (qalb) dari hal-hal yang mengotorinya, disertai laku suluk yang berbeda-beda di masing-masing thariqah dengan panduan ketat seorang mursyid yang haqq.
Tasawuf Menurut Para Ulama Syariat

Banyak dari para ulama syariat atau ilmu fiqh ternama, para mufassir, termasuk para imam dari empat mazhab Ahlus Sunnah adalah para pemerhati yang simpatik bahkan pengamal tasawuf. Imam Syafi'i pernah berkata: "Tiga hal yang aku dibuat senang dengannya, yaitu: tidak berpura-pura, memperlakukan orang lain dengan baik, dan mengikuti jalan tasawuf" — sebagaimana tertulis dalam kitab Kasyf Al-Khafa dari Al-'Ajluni. Demikian pula dengan Imam Malik yang bahkan secara lugas mengatakan, "Barangsiapa bertasawuf tanpa syariat, maka ia telah zindiq (menampakkan keislaman, tapi menyembunyikan kekafiran). Dan barangsiapa bersyariat tanpa tasawuf, maka ia telah fasiq. Barangsiapa yang melakukan keduanya, akan memperoleh kebenaran" — sebagaimana diriwayatkan oleh beberapa muhadits.

Ibnu Taymiyah, yang dijuluki "Syaikhul Islam", menulis dalam Majmu'a Fatwa bahwa: "Istilah tasawuf ditujukan kepada ilmu-ilmu yang terkait dengan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan Al-Ihsan."

Ibnu Taymiyah, seorang ulama besar syariat yang dijuluki "Syaikhul Islam", dan termasuk ulama yang sangat getol dalam memerangi bid'ah pada jamannya, pernah menuliskan dalam Majmu'a Fatwa bahwa: "Istilah tasawuf ditujukan kepada ilmu-ilmu yang terkait dengan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan Al-Ihsan." Lalu, lanjut beliau pula, "As-sufi huwa fil haqiqa nau'un min as-siddiqin. Fa huwa as-siddiq alladzi ikhtassa bil zuhadi wal 'ibada," — Sufi pada hakikatnya adalah termasuk siddiq (jalan kebenaran), yakni siddiq yang mengkhususkan diri pada zuhud dan ibadah. Ibnu Taymiyah juga sempat menuliskan sebuah syarh (ulasan, tinjauan) yang panjang dan penuh simpatik terhadap buku Futuh Al-Ghaib dari Abdul Qadir Al-Jailani, seorang sufi besar dan mursyid pendiri Thariqah Qadiriyah.
Syariat Menurut Para Ulama Tasawuf

Di sisi lain, bagaimana pandangan para ulama tasawuf sendiri terhadap syariat?

Junaid al-Baghdadi, seorang sufi besar yang hidup di abad ke-9 M, beliau dijuluki "Sulthanul Thariqah" karena menjadi "penghulu" dari banyak garis thariqah yang berkembang di seluruh dunia (yang diistilahkan sebagai "Tasawuf Baghdadi"). Ketika ditanya tentang sebuah kelompok yang merasa telah melampaui tahapan syariat, dan masuk ke tingkatan wasil (orang yang sudah mencapai) sehingga mereka tidak lagi membutuhkan syariat, beliau menjawab: "Benar, mereka telah wasil, tapi wasil ke neraka!"

Demikianlah, bagi seorang sufi besar seperti Junaid: syariat dan tasawuf tak mungkin dipisahkan.

Kita juga mengenal tokoh-tokoh sufi seperti Imam Al-Ghazali dan Ibnu Atha'illah sebagai ulama yang tidak hanya menekuni ilmu tasawuf, melainkan juga ilmu fiqh. Ibnu Atha'illah misalnya, sang penulis Al-Hikam, Tajul 'Arus, dan berbagai kitab rujukan yang banyak dikaji di berbagai pesantren kita itu, selain sebagai mursyid Thariqah Syadziliyah, adalah juga seorang ulama syariat dan pengajar ternama di Masjid Al-Azhar, Mesir.

Dan seperti itu pulalah pandangan para sufi besar lainnya, seperti Abu Sulaiman al-Darani, Ibrahim bin Adham, Ma'ruf al-Kharkhi, Abdul Qadir Al-Jailani, Hammad al-Dabbas, Abu al-Bayan dan masih banyak lagi yang lain — di mana bahkan Ibnu Taymiyah sendiri, dalam Majmu'a Fatwa, menjuluki mereka sebagai "masyaikhul Islam, masyaikhul Kitab wal Sunnah, wal a'immatul huda", yakni para syaikh Islam, syaikh Kitabullah dan Sunnah, para imam yang memberikan petunjuk dengan benar, bersih lantaran ucapan dan tindakannya tidak pernah bertolak belakang dengan Al-Qur'an dan Sunnah, serta selaras dengan syariat.

Ini semua hanya beberapa gelintir bukti dari suatu "sinergi" yang tak terpisahkan antara syariat dan tasawuf dalam penegakan Diin Al-Islam yang semurni-murninya di kalangan para ulama syariat maupun para ulama tasawuf.
Tentang Buku Talbis Iblis, karya Ibnul Jauzi

Pandangan negatif terhadap tasawuf, sufi, atau thariqah yang beredar di masyarakat awam, sedikit banyak muncul dari kesalahpahaman dalam membaca buku-buku seperti Talbis Iblis ("Tipu Daya Iblis") karya Ibnul Jauzi. Ibnul Jauzi adalah seorang ulama fiqh ternama asal Baghdad yang juga merupakan sejarawan, ahli ilmu hadits dan tafsir, yang hidup di abad 12 M.

Buku yang cukup populer di negeri kita ini memang kerap dipakai sebagai argumen oleh suatu kelompok tertentu untuk mencap sesat dan bid'ah-nya tasawuf dan thariqah dan menganggapnya "tipu daya iblis" atau talbis iblis. Namun jika kita menilik lebih jauh, hal itu bertolak belakang dengan konteks dan maksud Ibnul Jauzi sendiri dalam menulis buku ini.

Dalam Talbis Iblis, Ibnul Jauzi sebenarnya sedang berupaya memberi peringatan akan bahaya tipu daya iblis — yakni hal-hal yang dipandang baik, tapi sebenarnya sebuah kesesatan — tidak hanya kepada kalangan sufi, melainkan kepada semua kalangan. Amat dipahami bahwa di masa itu, Ibnul Jauzi adalah salah satu ulama yang terdepan dalam memerangi bid'ah jamannya, yaitu dari berbagai pandangan yang menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran yang semestinya.

Ibnul Jauzi tidak hanya memberi peringatan kepada kelompok sufi saja, melainkan berbagai kalangan dalam agama, seperti khawarij, rafidah, batiniyah, bahkan sampai para filsuf, ahli tafsir, fuqaha (ahli ilmu fiqh), qurra' (pembaca Al-Qur'an), para ahli hadits (terutama asbabul hadits) dan masih banyak lagi yang lain. Beliau tidak secara khusus menentang ajaran sufi atau tasawuf, melainkan lebih pada menguraikan seluk-beluk "tipu daya iblis" yang senantiasa mengintai kalangan mana pun, tidak hanya kaum sufi.

Buktinya adalah bahwa di dalam buku Talbis Iblis ini (Bab 11), Ibnul Jauzi justru secara eksplisit menyebutkan beberapa tokoh sufi besar di masa-masa awal, seperti Abu Sulaiman al-Darani, Abu Yazid al-Bistami, dan Junaid al-Baghdadi sebagai orang-orang benar yang menekankan pentingnya berpegang pada Kitabullah dan Sunnah dalam pengajarannya.

Dalam buku Shifatush Shafwa, Ibnul Jauzi justru memuji para tokoh sufi ternama, seperti Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Ma'ruf al-Kharkhi, bahkan Rabi'atul Adawiyah (sufi wanita ternama dari Basra).

Di samping itu, jika kita tilik buku-buku beliau yang lain seperti Shifatush Shafwa ("Sifat-Sifat Terpilih"), Ibnul Jauzi malahan memuji lebih banyak lagi tokoh sufi ternama, seperti Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Ma'ruf al-Kharkhi, bahkan Rabi'atul Adawiyah (sufi wanita ternama dari Basra). Beliau berpendapat di dalam buku itu bahwa merekalah para auliya' yang sebenarnya, yakni yang tidak menyalahi aqidah dan syari'at agama.

Bahkan tentang tokoh-tokoh sufi itu, beliau menuliskan, "Para auliya' dan shalihin itu adalah maksud dari kejadian/penciptaan ("al-auliya' wa ash-shalihun hum al-maqsud min al-kaun"). Merekalah orang-orang yang berilmu dan yang mengamalkannya dengan pengetahuan yang benar… yakni mengamalkan apa yang diketahuinya, sedikit tersentuh pada kehidupan dunia, mencari kehidupan akhirat, dan bersiap mati dengan mata yang senantiasa awas dan bekal yang cukup."

Ini semua menunjukkan bahwa Ibnul Jauzi, melalui bukunya Talbis Iblis ini, tidak sedang "menyerang" semua kaum sufi atau seluruh ajaran sufi atau tasawuf — yang justru beliau pandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari agama — melainkan sebagian kelompok saja yang menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran yang semestinya, yakni yang tidak melandaskan ajarannya pada Al-Qur'an dan Sunnah.
Tasawuf Bukanlah Bid'ah

Rasulullah SAW memang tidak secara khusus menyebut istilah "tasawuf", karena di masa Beliau, dimensi batiniah dan lahiriah, tasawuf dan syariatnya, menyatu utuh dalam setiap pengajaran yang Beliau bawa. Diin Al-Islam tidak dipisah-pisahkan dari ketiga pilar yang membangunnya: Iman, Islam dan Ihsan. Baru lama kemudian, karena adanya perubahan situasi kondisi tertentu di masyarakat, aspek Ihsan yang menjadi dimensi batin agama, mulai kerap dilupakan orang (seperti penyebutan Iman-Islam saja di berbagai pengajian) dan diberi label "tasawuf" — yang sebenarnya merujuk pada hal yang sama, yakni Ihsan.


Rasulullah SAW bersabda: "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau." — (HR. Muslim)

Jika kita mengatakan bahwa ilmu tasawuf tidak ada tuntunannya di jaman Rasulullah SAW dan merupakan bid'ah (yaitu mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada sebelumnya) sehingga menjadi sebuah kesesatan, maka itu seperti halnya mengatakan bahwa ilmu hadits sebagai bid'ah dan sesat. Bukankah pada jaman Rasulullah SAW tidak ada yang namanya ilmu hadits — bahkan penulisan hadits sendiri pada masa itu dilarang oleh Rasulullah SAW karena dikhawatirkan akan tercampur dengan ayat-ayat Al-Qur'an, sebagaimana pernah disabdakan oleh Beliau: "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al-Qur'an. Barangsiapa menulis sesuatu dariku kecuali Al-Qur'an, hapuslah." (HR. Muslim, Ahmad).

Disiplin-disiplin ilmu yang sangat penting seperti ilmu tajwid, ilmu tafsir, dan ilmu tauhid, tidak kemudian serta merta dianggap bid'ah dan sesat hanya lantaran pada jaman Rasulullah hal-hal semacam itu tidak ada.

Demikian pula berbagai aspek dari disiplin-disiplin ilmu lain yang sangat penting seperti ilmu tajwid (teknik membaca Al-Qur'an), ilmu tafsir, dan ilmu tauhid, tidak kemudian serta merta dianggap bid'ah dan sesat hanya lantaran pada jaman Rasulullah hal-hal semacam itu tidak ada. Sehingga kita, kaum Muslim, memandang konsep bid'ah lebih kepada sifat tujuannya, bukan cara dalam pencapaiannya. Imam Syafi'i mengatakan, "Sesuatu yang memiliki landasan (mustanad) dari syariat (Al-Qur'an dan Sunnah) maka itu bukanlah bid'ah, sekalipun Kaum Muslim awal tidak melakukannya."
Syariat dan Tasawuf, Tak Dapat Dipisahkan

Hukum syariat sebagian besar hanya menyentuh apa-apa yang tampak secara fisik saja. Hukum tentang shalat, misalnya, menyentuh sekian banyak aspek tentang tata cara shalat, bagaimana gerakan shalat yang benar, kapan dilakukan, apa syarat-syaratnya, siapa yang berhak menjadi imam, dan masih banyak lagi aspek fiqh lainnya. Namun hukum syariat belum menyentuh aspek-aspek batin yang menjadi titik fokus dalam ilmu tasawuf dan justru menjadi inti-sari dari ibadah itu sendiri, misalnya tentang khusyu', tentang kerendahan diri dan sopan santun di hadapan-Nya, tentang penghadapan di dalam hati, tentang aspek-aspek Ihsan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW di atas: "... beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau."

Bukankah kita diperintahkan untuk meninggalkan tidak hanya dosa lahiriah, melainkan juga yang batiniah:

وَذَرُوا۟ ظَـهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا۟ يَقْتَرِفُونَ

Dan tinggalkanlah dosa yang dzahir dan yang batin. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan dibalas, disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. – (Q.S. Al-An'aam [6]: 120)

Jika hukum-hukum syariat memberi pagar kepada kita agar terhindar dari dosa-dosa yang dzahir (yang tampak, lahiriah), maka ilmu tasawuf akan mengajak kita untuk memperhatikan ke dalam diri, memahami dosa-dosa yang bersifat batin seperti: iri, dengki, ketakutan akan masa depan, kekhawatiran, ketidaksabaran, keluh kesah, kecintaan akan dunia, kemelekatan terhadap sesuatu, riya', kebanggaan diri, ilusi, obsesi, dan berjuta ragam variasi hawa nafsu dan syahwat yang telah sekian lama menjadi "berhala" dan menghuni relung-relung hati (qalb).

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـهَهُۥ هَوَىهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? — (Q.S. Al-Furqaan [25]: 43)

Demikianlah, sudah selayaknya bagi seorang Muslim untuk senantiasa menjalankan agamanya secara utuh dalam ketiga aspeknya: Iman (aspek tauhid), Islam (aspek syariat), dan Ihsan (tasawuf, aspek akhlaq atau aspek batin).

Wallahu'alam.
(qudusiyah.org//red.khasanah)

Referensi:
1. Hamka, Prof. Dr., Perkembangan & Pemurnian Tasawuf, 2016
2. Al-Jawzi, Abu-l Faraj Ibn, Talbis Iblis (The Devil’s Deception)
3. Al-Rifai, Sayyid Rami, Islamic Journal Issue #3 Ramadhan 1436H
4. Kafie, Jamaluddin, Tasawuf Kontemporer, 2003
5. Kabbani, S.H. Mohammed, Ibn Taymiyya the Sufi Shaikh.

Minggu, 21 Juni 2020

Menertawakan kebodohan diri

Secangkir Anggur Merah (Edisi-14)
By: Nana Suryana

Ada yang mengatakan mencari sebuah kebenaran gampang-gampang susah. Menurut seorang ilmuwan eksakta 2+1 pasti 3 karena itulah kebenaran. Bagi ilmuwan sosial siapa bilang 2+1 sama dengan 3. Bagi seorang pebisnis 2+1 payah kalau cuma 3, minimal harus menghasilkan 4. Bagi seorang psikolog 2+1 sama dengan mencari masalah baru. Contoh sudah punya istri dua cemburuan ditambah satu istri lagi kan tambah puyeng guys...

Wajar jika seorang filsuf Perancis Jean Bodrillard mengatakan bahwa kebenaran adalah apa yang patut kita tertawakan . Kebenaran adalah huaa...haa...haa.....

Boleh jadi omongan atau gurauan si Jean itu benar. Apalagi di tengah hiruk pikuk persoalan hidup dan kehidupan kita dengan berondongan bencana, kebodohan,dan kemelaratan. Atau bahkan di tengah Pandemik Covid-19 yang serba terpuruk. Atau munculnya RUU HIP yang harus menerima serangkaian hujatan. Atau saling hujat antara Cebong dan Kampret. Kecurigaan Novel Baswedan terhadap Pengadilan. Bahkan saling sikut antara Rezim dan Oposan. Sampai pada saling curiga antar Negara di Laut Cina Selatan, dll.

Ah, itu cuma sandiwara dan kemeriahan dunia. Agar dunia tampak lebih warna-warni. Untuk itu tak ada salahnya bila kita tetap belajar untuk menyungging senyum ketika masalah mendera. Mencoba tertawa ketika problem mengepung. Mencoba sumringah ketika kepedihan menusuk. Dan belajar melepas ngakak ketika mental tertekan.

Jadi sesungguhnya daripada kita sibuk mencari kebenaran hakiki, yang notabene milik Sang Maha Penggenggam Hati ini, maka ada baiknya kita belajar untuk menertawakan kebodohan diri sendiri. Sebab menertawai kebodohan diri akan menjadi lebih punya arti. Dan lebih menusuk ke jantung hati untuk sekadar introspeksi dan tahu diri. Intinya, jangan merasa paling benar sendiri.

Apalagi jika harus dihubungkan dengan nilai spiritualitas kebenaran yang sungguh memiliki dimensi makna dan persepsi yang beragam. Saya sendiri tak paham apa itu spiritualitas kebenaran.

Yang saya fahami spiritualitas kebenaran bagiku saat ini adalah ketika para pensiunan Telkom pra 2002 terangkat kesejahteraannya. Ketika para direksi Telkom peduli pada para pengabdi dan pejuang perusahaan masa lalu. Ketika hadirnya kebijakan Telkom, Telkomsel dan anak perusahaannya untuk bisa berbaik hati mempekerjakan anak2 para pensiunannya. Ketika tak terdengar lagi bahwa ada pensiunan atau janda pensiunan Telkom menjadi pemulung atau antri berdesakan sekadar mendapatkan BLT atau Raskin.

Spiritualitas kebernaran bagiku adalah ketika para elit Telkom berhenti berpikir untuk memperkaya diri sendiri dengan cara tak benar. Ketika para pensiunan didukung Sekar berani berjuang untuk membela haknya untuk hidup sejahtera. Dan ketika perjuangan itu dilakukan dengan penuh keberanian dan kebenaran karena dilandasi kekuatan spiritual. Nah, itu!! (N425)

Ramalan Prabowo Tak Sampai 2029: "Antara Perdukunan Modern dan Skizofrenia Politik"

( Secangkir Anggur Merah, Edisi-36 ) Pengantar : Dalam teater kekuasaan Indonesia, bisik-bisik maut di lorong belakang sering kali lebih juj...