Jumat, 20 Mei 2022

Mengenal Tiga Jenis Tasawuf

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. 

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, kata Nabi SAW. Misi irfan atau sufismenya kental sekali: penyempurnaan atau kekeramatan akhlak (makarimal akhlak). Sementara tauhid (akidah) dan syariat (fikih) hanya untuk membentuk dasar-dasarnya saja (dengan cara meyakinkan manusia untuk percaya kepada adanya Allah, lalu memaksa mereka melakukan berbagai ritual fisik untuk menyembah-Nya, walau Allah sendiri tidak pernah bisa dirasakan kehadiran-Nya). Tasawuflah yang mengantarkan itu semua pada bentuk yang sempurna.

Terkait dengan pembentukan akhlak, tasawuf itu terbagi tiga. Mulai dari tasawuf falsafi (tasawuf teoritis), tasawuf akhlaki (adab tasawuf) sampai kepada tasawuf irfani (suluk atau makrifatullah).

Pertama, “Tasawuf Falsafi” (Tasawuf Tauhid/Ontologi Tasawuf/Ilmu Tasawuf)

Ini jenis tasawuf yang sifatnya teoritis. Mirip dengan filsafat tauhid (kalam/teologi), aktifitasnya mengkaji dan memahami hakikat dari eksistensi dengan cara yang unik. Jika filsafat teologi berusaha memahami Tuhan secara rasional, tasawuf falsafi mencoba menemukan bahasa akal untuk menjelaskan berbagai pengalaman mistis. Sehingga lahir konsep-konsep semacam ittihad, wahdatul wujud, gradasi wujud (isyraqiyyah), insan kamil, nur muhammad, tajalli, musyahadah, mukasyafah, fana, baqa, serta terma-terma ilahiah dan kondisi-kondisi batiniah lainnya.

Tasawuf ini fokus pada kemampuan ‘aqliyah (berfikir), termasuk kajian dan baca-baca kitab. Pekerjaan para murid mendengar tausiah bahkan diskusi. Yang disasar adalah kesadaran kognitif (otak). Diharapkan, dengan banyak membaca dan mendengar, para murid memahami ruang lingkup tasawuf.

Tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada Allah. Tasawuf ini hanya membawa murid sampai pada level “mengetahui” berbagai filosofi tentang dirinya, Tuhannya, dan alam semesta; serta relasi antara ketiganya.

Kata para arif: “1000 gelas anggur tidak akan memabukkan, sampai engkau meminumnya. Pun 1000 kitab yang kau baca tidak akan membawamu kepada Tuhan, sampai engkau bersedia menempuh jalan.” Oleh sebab itu, bertasawuf harus melampaui kajian dan ceramah.

Kedua, “Tasawuf Akhlaki” (Tasawuf Syar’i/Fikih Tasawuf/Adab Berguru/Etika)

Tasawuf ini berfokus pada birokrasi atau aturan-aturan formal untuk membentuk sikap dan perilaku murid. Targetnya adalah perbaikan langsung moral dan etika. Tasawuf ini menekankan pada adab lahiriah dan batiniah (ada yang menyebutnya dengan “hadap”) dalam berguru. Sehingga terkenal aturan: “dahulukan adab daripada ilmu”. Kalau sekedar berilmu, iblis lebih alim. Semua kitab sudah dibacanya. Tetapi ia angkuh, merasa paling benar. Kepatuhannya kepada Allah tidak ada.

Jadi, tasawuf akhlaki ini sudah bernilai praktis. Batin seseorang ikut dibentuk dengan berbagai aturan dan kebijakan. Sehingga ia memiliki sifat jujur, adil, ikhlas, murah hati, rajin, patuh, selalu dalam keadaan bersuci, dan lain sebagainya. Pola ketat pendidikan akhlak ini ditemukan dalam jamaah sufi, atau disebut “tarekat”. Mereka membentuk ahlus shuffah, kelompok-kelompok sosial dengan berbagai aturan dan bentuk-bentuk kedisiplinan.

Untuk mencapai ini, sering ditemukan bentuk-bentuk ketaatan kepada ulil amri (guru spiritual). Semua yang ingin menemui Allah diwajibkan ‘sujud’ kepada Adam (sebuah objek wasilah atau kiblat material yang dalam dirinya terdapat entitas maksum nurullah). Disinilah dalam tasawuf atau irfan dipercayai adanya nabi, imam-imam, walimursyid, atau pembimbing ruhani.

Namun lagi-lagi, tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada penyaksian atau merasakan langsung akan keberadaan Allah (musyahadah). Mereka hanya diajari menjadi baik, merasakan seolah-olah Allah melihat mereka. Namun terbentuknya dasar-dasar akhlak (hilangnya ego/keakuan) melalui adab dan ‘ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah) dalam kelompok sosial, menjadi prasyarat untuk sampai kepada Wajah Allah yang hakiki.

Ketiga, “Tasawuf Irfani” (Tarekatullah/Makrifatullah)

Inilah puncak atau jenis tasawuf yang dapat mengubah, mengembalikan manusia kepada jati diri yang fitrah.

Antara hamba dengan Allah ada “jarak” yang memisahkan (hijab). Tasawuf ini merintis jalan untuk kembali kepada Allah, ke asal yang suci. Ini yang disebut “mati sebelum mati” (hadis). Sejak hidup di dunia harus ada usaha untuk sampai, terhubung dan kembali menyaksikan-Nya. Sebab, jika di dunia kita buta, di akhirat juga begitu (QS. Al-Isra: 72). Itulah pendakian ruhani atau disebut sayr (perjalanan) wa suluk (bepergian). Disini ada yang namanya titik keberangkatan, tempat tujuan, stasiun-stasiun (makam) serta kondisi-kondisi yang akan dialami (fenomena-fenomena spiritual) selama perjalanan pulang.

Dalam tasawuf, roh manusia dipandang sebagai organisme hidup. Dari tahap lahir hingga dewasanya, ia harus terus diberi “gizi” agar mengenal Allah. Perjalanan ruhani adalah sebuah proses pendewasaan wadah spiritual ini, yang dimulai dari ritual taubat sampai kepada berbagai bentuk dan jenjang meditasi (dzikir). Praktik tasawuf ini terpusat pada aspek pensucian jiwa sehingga memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan (mikraj) dari satu langit ke langit lainnya (ke berbagai maqam para nabi), sampai kepada yang tertinggi. Pada praktik tasawuf inilah mulut harus terkunci, akal dan logika juga diharuskan mati. Karena yang dihadapi adalah alam yang sama sekali berbeda.

Dalam Alquran banyak suri tauladan yang sejak di dunia disebut-sebut sudah liqa Allah (bertemu Allah), memperoleh wahyu atau ilham, dan berbicara dengan malaikat. Termasuk pengalaman wisata ruhani Muhammad SAW ke “Sidratul Muntaha” (makam musyahadah, fana dan baqa dalam pengetahuan laduni).

Tasawuf ini bersifat amali dan mesti dibimbing oleh seorang “khidir” atau “jibril” yang sudah bolak balik ke alam ketuhanan. Mursyid harus seorang master yang sempurna, dapat membaca persoalan, isi hati dan kebutuhan muridnya (kasyaf). Jika tidak, muridnya bisa tersesat. Kalau tidak dibimbing oleh orang-orang seperti ini, bisa-bisa di alam sana setanlah yang akan menyambut ruhani kita.

Anda harus berdoa untuk menemukan ‘urafa, guru-guru irfani atau para wali pewaris nabi. Mereka sangat langka dan cenderung tersembunyi. Biasanya spiritualitas mereka tinggi sekali, punya qudrah spiritual semacam mukjizat yang disebut “karamah”. Kemampuan aneh mereka ini berada di luar nalar awam. Dalam kondisi tertentu, mereka tidak terikat dengan hukum alam. Karena ruh mereka sudah berada di alam ketuhanan, tidak terjebak lagi dengan materi, ruang dan waktu. Karena itulah jiwa para murid dapat mereka bimbing dari alam material (jabarut) menuju alam malaikat (malakut), sampai ke alam ketuhanan (rabbani).

Bukan cuma terletak pada guru yang mumpuni. Suksesnya perjalanan ini juga tergantung pada kesungguhan si murid sendiri dalam melakukan olah ruhani (riyadhah). Yang malas-malas tidak akan sampai kemana-mana. Akhlaknya juga akan begitu-begitu saja. Sebab, inti dari tarekatullah adalah sungguh-sungguh (mujahadah). Jika ditekuni, jiwa si murid akan sampai kepada sang Khalik, sehingga terbentuk akhlak yang paripurna (kamil). Itulah gambaran kepribadian Muhammad SAW, sosok sempurna, manifestasi (tajalli) dari keagungan Allah. Rahmatallil’alamin terbentuk pada saat seseorang telah mengalami penyatuan dengan-Nya.

Nabi Muhammad diutus Allah untuk membawa kita kepada tarekat, atau jalan perbaikan akhlak yang pernah ia tempuh. Beliau sangat menginginkan kita untuk mereproduksi pengalaman mistisnya. Alquran sendiri sebenarnya adalah kompilasi pengalaman dan pengetahuan mistis Nabi. Sehingga banyak isinya yang mutasyabihat, sulit dipahami, bahkan harus ditafsir-tafsir.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI/Said Muniruddin
/The Zawiyah for Spiritual Leadership

Senin, 28 Maret 2022

Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim

Salman Al-Farisi adalah anak seorang bangsawan, bupati, di daerah kelahirannya, Persia. Ia sempat tertipu di tengah perjalanannya mencari kebenaran Illahi. Ia diperjualbelikan sebagai budak. Beliau terdampar di Madinah, menjadi budak orang Yahudi . 

Beliau masuk Islam dan Allah membebaskan dirinya. Sebagaimana lelaki normal lainnya, pria bertubuh tegap ini pun sempat jatuh cinta. Sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Hati Salman kepincut perempuan Anshar. Yakni perempuan asli kelahiran Madinah. 

Di kalangan kaum Anshar, Salman sejatinya dianggap sebagai keluarga mereka. Demikian juga kaum Muhajirin . Pendatang dari Mekkah ini juga menganggap Salman bagian dari kaum mereka. Pada waktu perang Khandaq, saat Salman menelorkan ide cerdas membangun parit untuk menahan pasukan kafir Quraish, kaum Anshar mengklaim Salman sebagai kaum mereka. 

“Salman dari golongan kami,” ujar kaum Anshar. Pernyataan kaum Anshar ini direspon kaum Muhajirin. Mereka berdiri dan berkata, “Tidak. ia dari golongan kami!” Rasulullah SAW pun akhirnya memanggil mereka yang bersengketa itu, “Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait. Dan memang selayaknyalah jika Salman mendapat kehormatan seperti itu,” ujar Rasulullah SAW. 

Ali bin Abi Thalib memberi gelar Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”. 

Dalam kalbu para sahabat umumnya, pribadi Salman telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Kedudukan Salman yang tinggi itu tidak serta merta menjadi magnet bagi perempuan. Dan itu yang tidak diketahui Salman. 

Cintanya Ditolak 

Pada suatu ketika, Salman Al Farisi bermaksud melamar gadis pujaan hatinya itu. Dia mengajak sahabatnya, Abu Darda, untuk menemaninya. Abu Darda merasa tersanjung dengan ajakan Salman itu. Ia pun memeluk Salman Al Farisi dan bersedia membantu. 

Setelah segala sesuatunya dianggap beres, keduanya pun mendatangi rumah sang gadis. Selama perjalanan, mereka tampak gembira. Setiba di tujuan, keduanya diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tua wanita Anshar tersebut. Baca juga: Belajar Arti Cinta dan Persahabatan dari Salman Al Farisi Abu Darda menjadi juru bicara. 

Ia memperkenalkan dirinya dan juga Salman Al Farisi. Ia menceritakan mengenai Salman Al Farisi yang berasal dari Persia. Abu Darda juga menceritakan mengenai kedekatan Salman Al Farisi yang tak lain adalah sahabat Rasulullah SAW. Dan terakhir adalah maksudnya untuk mewakili sahabatnya itu untuk melamar. 

Mendengar maksud mereka melamar putrinya, membuat tuan rumah merasa sangat terhormat. Mereka senang akan kedatangan dua orang sahabat Rasulullah. Hanya saja, sang ayah tidak serta merta menerima lamaran itu. Sebagaimana diajarkan Rasulullah, sang ayah harus bertanya dulu bagaimana pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Karena jawaban itu adalah hak dari putrinya secara penuh. Sang ayah pun lalu memberikan isyarat kepada istri dan juga putrinya yang berada di balik hijabnya. Ternyata sang putri telah mendengar percakapan sang ayah dengan Abu Darda. Gadis ini juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. 

Berdebarlah jantung Salman Al Farisi saat menunggu jawaban dari balik tambatan hatinya. Abu Darda pun menatap gelisah pada wajah ayah si gadis. Dan tak begitu lama semua menjadi jelas ketika terdengar suara lemah lembut keibuan sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi. “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat itu membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda berdebar tak sabar. 

Perasaan tegang dan gelisah pun menyeruak dalam diri mereka berdua. “Karena kalian berdua yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi,” katanya. Jelas, jawaban itu sangat mengagetkan. Gadis yang diidam-idamkan untuk menjadi istri Salman Al Farisi, justru kepincut dengan Abu Darda. 

Takdir Allah berkehendak lain. Cinta Salman bertepuk sebelah tangan. Tetapi itulah ketetapan Allah menjadi rahasia-Nya, yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah.  Salman Al Farisi tampak tegar. Salman adalah pria saleh, taat, dan juga seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. 

Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru memekik: Allahu Akbar! Salman Al Farisi girang. Bahkan ia justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Salman ikhlas memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu, termasuk mahar, kepada Abu Darda. Ia juga akan menjadi saksi pernikahan sahabatnya itu. Salman menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tentang Abu Darda Salman dan Abu Darda adalah karib. Mereka berdua dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW. 

Abu Darda memiliki kebiasaan luar biasa terhadap para sahabatnya. Beliau selalu mendoakan saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya ketika ia sedang bersujud. Ia sebut nama-nama para sahabatnya satu persatu di saat berdoa. Ada yang menyebut nama asli Abu Darda adalah Uwaimir bin Malik al-Khazraji. Beliau termasuk sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. 

Abu Darda RA memilih hidup zuhud. Tatkala suatu kali tamu-tamunya bertanya ke mana perginya kekayaannya selama ini, Abu Darda menjawab, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Setiap kali memperoleh harta, langsung kami kirim ke sana. Jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki sehingga kami sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa.” 

Suatu ketika Salman RA mengunjungi Abu Darda RA. Dia melihat Ummu Darda memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. “Wahai Ummu Darda, kenapa engkau berpakaian seperti itu?” Salman bertanya keheranan. “Saudaramu Abu Darda sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu salat malam,” jawab Ummu Darda. Lantas datanglah Abu Darda dan menghidangkan makanan kepadanya. “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa,” ujar Abu Darda kemudian. “Aku tidak akan makan hingga engkau makan,” sambut Salman.

Lantas Abu Darda pun ikut makan. Tatkala malam telah tiba, Abu Darda pergi untuk mengerjakan salat. Akan tetapi, Salman menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah”. Maka Abu Darda pun menurut. Dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak salat, dan Salman menyuruhnya tidur lagi. Ketika malam sudah lewat Salman membangunkan Abu Darda. Keduanya mengerjakan salat. Selesai shalat, Salman berkata kepada Abu Darda.

 “Wahai Abu Darda, sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu. Badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.” Selanjutnya Abu Darda mendatangi Rasulullâh SAW dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Nabi SAW menjawab, “Salman benar".

(Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 28 Maret 2022 - 05:15 WIB oleh Miftah H. Yusufpati dengan judul "Kisah Salman Al-Farisi: Ahlul Bait yang Bergelar Luqmanul Hakim").


Rabu, 16 Februari 2022

Ramadhan 1443 H Segera Mengunjungi Kita

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semangat beraktivitas _meraih berkahnya waktu di pagi hari, semoga kita senantiasa dikaruniakan sehat, selalu bersyukur dan bersabar serta istiqamah dalam melaksanakan semua Perintah dan meninggalkan semua Larangan Allah Subhanahu wa ta'ala.

امين يا الله يا مجيب السائلين

Bismillah, Washalatu Was Salamu 'ala Rasulillah, ama ba'du...

SIAPKAN BEKAL RAMADHAN MULAI HARI INI
_____________
Kaum muslimin rahimakumullah, alhamdulillah Allah Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk menghirup udara dan memanfaatkan waktu sampai detik ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, hari berganti pekan ,pekan pun berganti bulan. Tak terasa, 47 hari lagi RAMADHAN* in sya Allah.....

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Datangnya sekali setahun saja. Sungguh sayang kalau ia berlalu sia-sia.

Seseorang akan menyesal....
Bila terjun dalam peperangan......
Tapi tanpa persiapan.....

Seseorang akan menyesal....
Bila dapati Ramadhan
Tapi tanpa bekal mapan...

Kalau tahun lalu, kita menyongsong Ramadhan dengan tangan kosong. Tahun ini kita berusaha mempersiapkan bekal ilmu jauh hari sebelumnya.

Kalau tahun lalu, kita alpa membaca Al-Quran. Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini kita bisa banyak membaca dan mentadabburinya.

Kalau tahun lalu, puasa kita hanya sebatas lapar dan dahaga. Tahun ini kita berjuang menggandengkan puasa dan amal shalih lainnya.

Kalau tahun lalu, kita sibuk dengan baju baru dan dekorasi rumah. Tahun ini kita berusaha lebih bijak dalam menentukan prioritas kesibukan.

Ramadhan sudah di ambang pintu kita, Tamu istimewa kaum mukminin...
Mari menyambutnya dengan Ilmu, Agar meraih jannatun na'iim.

Bekal ilmu yang dikumpulkan lebih awal insyaallah akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kita pada bulan Ramadhan kelak.

Mari siapkan diri kita secara lahir bathin untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia.
Apabila kita berdoa meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan, maka ️jangan lupa untuk berdoa kepada Allah agar memberikan *BAROKAH* untuk kita dalam mengisi Ramadhan.

Sebab yang penting bukan bertemu Ramadhan, tapi yang terpenting adalah......

AMAL APA YANG AKAN KITA KERJAKAN DI BULAN RAMADHAN!!

اللَّهُمَّ أَظَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي،
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحتِسَابًا،
وَارْزُقْنِي فِيهِ الْجدّ والاجتِهَادَ وَالْقُوَّةَ وَالنَّشَاطَ،
وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السآمَةِ وَالفَتْرة وَالْكِسَلِ وَالنُّعَاسِ،
وَوَفِّقْنِي فيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْهَا خَيْرًا لِي مِنْ أَلْفِ شَهْرِ

Ya Allah, Ramadhan telah menghadap dan hadir. Karenanya, cerahkanlah Ramadhan untukku, dan sampaikanlah aku kepadanya, dan selamatkanlah aku (dari segala penghalang darinya) di bulan Ramadhan, serta terimalah amal-amal Ramadhan dariku...
Ya Allah, anugerahilah aku berpuasa padanya, dan sholat malam padanya, karena sabar dan mencari pahala. Anugerahilah aku padanya kegigihan, kesungguhan, kekuatan, dan semangat...

Lindungilah aku padanya dari rasa bosan, lemah semangat, malas, dan mengantuk...
Berilah aku taufik pada bulan itu untuk mendapatkan Lailatul Qadar, dan jadikanlah malam itu lebih baik bagiku dibandingkan 1000 bulan...
(Ath-Thabrani dalam ad-Du’aa no. 914, Abul Qasim al-Ashbahani dalam at-Targhib wat Tarhib no. 1784, dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar ash-Shalah no. 129, sanadnya hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh DR. Muhammad Sa’id al-Bukhari dalam tahqiq-nya terhadap Kitabud Du’aa hal 1227)

(Abu Syamil Humaidy حفظه الله تعالى)

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb...
(dari wa os-vi/91/telkom/@gus)

Senin, 17 Januari 2022

Sang Lentera Penerang: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Ketika Istighfar Nabi Adam tidak didengar selama puluhan tahun, lalu Nabi Adam teringat dengan tulisan nama Muhammad di pintu Arasy, lalu Adam berdoa, "Ya ALLAH ampunilah aku dengan haq Muhammad," maka ALLAH pun mengampuni Adam dan Hawa. Dalam Injil Barnabas ditulis bahwa Adam mengukir nama Muhammad di kuku jempolnya dan selalu diciumnya jempol tersebut.

Kelak di akhirat umat Nabi Nuh membantah jika Nuh pernah memberi peringatan dan berdakwah kepada mereka, lalu nabi Nuh meminta tolong kepada nabi Muhammad untuk menjadi saksinya. Nabi Muhammad pun menjadi saksi dengan membaca kisah Nuh di kitab al-Quran.

Setelah Nabi Ibrahim mengetahui jika dari keturunan anaknya Ismail akan lahir Nabi Muhammad, maka Nabi Ibrahim memohon agar namanya kelak selalu diucapkan oleh umatnya Muhammad, dan ALLAH pun menjadikan nama Ibrahim disebut dalam bacaan tasyahud di setiap sholat.

Ketika Nabi Yusuf dijebloskan kedalam sumur dan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya, Yusuf pun menangis dan merengek didalam sumur sendirian, lalu diperintahkan oleh malaikat Jibril agar Yusuf mengganti rengekannya dengan bershalawat kepada nabi Muhammad, dan esoknya Yusuf pun dikeluarkan dari sumur oleh rombongan kafilah yang lewat.

Nabi Musa mulanya menyangka jika umatnya adalah mayoritas, namun setelah diberitahukan jika umatnya Nabi Muhammad lebih utama dan mayoritas, maka nabi Musa menginginkan agar dijadikan umatnya nabi Muhammad, namun ALLAH menolaknya lalu menggantinya dengan nama Musa akan disebut lebih banyak di kitab Al-Quran.

Ketika Nabi Daud sedang bertasbih bersama burung-burung, Daud pun heran dan takjub mendengar suara dari seekor ulat di pohon yang sedang bershalawat untuk nabi Muhammad dan umatnya.

Impian Nabi Isa adalah ingin bisa membuka terompah (sandal) nabi Muhammad lalu membasuh kedua kakinya. Dan Isa bercerita kepada para sahabatnya, bahwa kelak di akhirat nabi Muhammad akan berbicara dengan ALLAH layaknya seorang teman.

Semoga sholawat dan salam dari Allah Subhanu Wata'ala Yang Maha Baik, Maka Kasih dan Penyayang, dari para malaikat yang dekat dengan-Nya, serta dari para nabi dan dari kaum shiddiqin, dari para syuhada dan dari kaum sholihin, juga dari semua yang bertasbih kepada-Mu, dilimpahkan kepada junjungan kami Muhammad bin Abdullah, penutup para nabi, pemimpin para rasul, imam kaum bertakwa, utusan Tuhan Pemelihara alam semesta, saksi yang memberikan kabar gembira, penyeru kepada-Mu dengan izin-Mu, sang lentera yang menerangi."

*آمـــــــــــين آمـــــــــــين*
*آمـــــــــــين يَآرَبْ العالمين*
.

Serial Tasawuf-5: "Kisah Kegundahan Mas Raka"

Narasi Pembuka : Tasawuf seringkali disalahpahami sebagai sekadar ritual uzlah. Mengasingkan diri. Atau menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Bahk...