Kamis, 15 Juni 2023

Tasawuf Kurban

Ibrahim Hajar Ismail bijak bestari
Tauladan Idul Adha Khalilullahi
Berkorban dengan takwa dan suci
Hidup diberkahi dan diridhai Ilahi


Dalam ajaran tasawuf/sufisme diformulasikan empat tingkat untuk menjadi seorang yang takwa yaitu melalui syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat. 

Tasawuf adalah penjabaran secara nalar (nazhar, teori ilmiah) tentang apa sebenarnya dan penjabaran tentang takwa itu dikaitkan dengan ihsan seperti disebutkan dalam Hadis Rasulullah Saw bahwa ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau harus menyadari bahwa) dia melihat engkau (HR Muslim). Hadis ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Surah al-Hijr/55 ayat 99, artinya; Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan. 

Oleh karena itu, sufisme menanamkan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup dan Inni qarib, Aku kata Tuhan sangat dekat (al-Baqarah/2 ayat 185), dan Dia selalu mengawasi segala tingkah laku kita, firman Allah, Ke mana pun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Tuhan (QS Al-Baqarah/2 ayat 115). Dia beserta kamu di mana pun kamu berada dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadad/57 ayat 4).

Dalam salah satu bait syair sufi Hamzah Fansuri dijelaskan: Jika terdengar olehmu firman. Pada Taurat Injil Zabr dan Furqon. Wa Huwa ma’akum aynama kuntum pada ayat Qur`an. Bikulli syay`in muhith maknanya ‘iyan. (AHadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, 1995, hal: 121).

‘Iyan artinya jelas.

Dari aspek ini tampak jelas betapa eratnya rasa rabbaniyyah (Ketuhanan), takwa, ihsan atau religiusitas dengan rasa insaniyyah (kemanusiaan), amal saleh, akhlak, budi pekerti atau tingkah laku etis dalam kajian sufisme. Juga sangat jelas kaitan antara sisi lahir dan sisi batin, antara eksoterisme dan esoterisme, antara fikih (syari’at) dan sufisme (hakikat dan makrifat) dalam makna tasawuf qurban (korban dalam bahasa Indonesia), bukan kurban tasawuf.


Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME dalam sosiologi agama dikenal paling kurang ada tiga cara pengorbanan yaitu monoteisme etis, sacramental dan sacrificial. Islam disebut sebagai agama monoteisme etis yaitu agama yang mengajarkan tentang tauhid dan taqarrub (pendekatan kepada Allah Swt melalui amal saleh). 

Adapun agama sacramental yang mengajarkan keselamatan diperoleh seseorang hanya dengan mengikuti ritual suci, sedangkan agama sacrificial (sesajen) mengajarkan pendekatan kepada Tuhan melalui sajian-sajian, pengorbanan binatang atau bahkan manusia.

Dalam kaitan ini, ajaran agama Islam melakukan kurban (sacrifice dalam bahasa Inggris dan xisheng dalam bahasa Mandarin, FLTRP.Collins, English-Chinese and Chinese-English Dictionary, 2011, hal: 434), tindakan mendekatkan diri kepada Allah Swt, pada Hari Raya ‘Id-u `l-Adhha tidak dapat disebut sebagai sacrificial (sesajen), karena paling kurang ada tujuh hal. 

Pertama, amalan kurban itu adalah untuk memperingati dan mencontoh ketulusan peran sebuah keluarga yang sakinah (mawaddah dan rahmah) yaitu Nabi Ibrahim dan Isma’il serta isteri Nabi Ibrahim Siti Hajar yang setia dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.

Kedua, Kitab Suci Alquran menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging atau darah binatang korban itu, melainkan takwa dari orang yang melakukannya. Dijelaskan dalam Kitab Suci surah al-Hajj/22 ayat 37, artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Ketiga, takwa yang dicapai melalui ibadah korban itu akan melahirkan insan yang mempunyai kesadaran intensif tentang apa yang akan menjadi akibat bagi segala aktivitas dan amal perbuatannya jauh di belakang hari kelak dan yang kemudian menjalankan tindakan dan amal perbuatan itu dengan penuh tanggungjawab moral (akhlak) kepada Allah Swt, kepada insan dan lingkungannya.

Keempat, bahwa penyelenggaraan kurban itu adalah untuk menanamkan pendidikan sosial berupa perhatian yang lebih besar kepada kaum fakir miskin dengan membagikan sebagian daging korban itu untuk mereka. Dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran Surah al-Hajj/22 ayat 36. Itulah ruh yang terkandung dalam tasauf kurban.

Kelima, bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jerih payah sendiri untuk meraih kesuksesan adalah hakekat hidup yang bermakna. Sementara itu, pengorbanan adalah tuntutan perjuangan yang tak mungkin terelakkan. Keduanya harus dibarengi dengan sikap lapang dada, sabar dan tahan menderita demi mencapai cita-cita yang mulia. Hanya pandangan hidup demikianlah yang akan memberi kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis, agama adalah sistem simbol (lambang). Di balik lambang (simbol) itu terdapat hikmah yang lebih intensif dan prinsipil, seperti ibadah kurban ini. Berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan yang jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara dan kemewahan duniawi yang menipu, kemudian melupakan kebahagiaan dan kehidupan abadi (eternal life). Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda, artinya; Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak berkorban dan bermujahadah). (HR Tirmidzi). Inilah inti tasawuf korban.

Ketujuh, mukmin yang istiqomah (konsisten) sungguh pantang jika sedang menderita (mendapat cobaan dari Allah dengan kesusahan), lalu meratapi nasib dan menyesali perjalanan hidup ini, kemudian kehilangan gairah dalam hidup. Karena pada hakekatnya tidak seorang pun di antara manusia yang pernah benar-benar terlepas dan terbebas dari pengalaman hidup yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan. Justru kita harus menerima penderitaan itu dengan sabar menanggungnya. Kemudian dijadikan cambuk, malah modal dan motivasi untuk berjuang, berupaya sungguh-sungguh dan bermujahadah dengan menanamkan semangat berkurban.

Dengan semangat pengorbanan yang tinggi (seperti tauladan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar yang telah mencapai maqam (station) makrifat dalam sufisme kurban) kita mendekatkan diri kepada Allah Swt dan dengan rida-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan hakiki. 

Semangat berkorban inilah salah satu faktor, di samping salat khusyuk dan puasa yang disebut sebagai virus mental (need for achievement yang disingkat dengan n-Ach, artinya kebutuhan untuk berprestasi yang digagas oleh psikolog, David Mc Clelland dari Universitas Harvard, dalam TM Sulaiman, Mencapai Prestasi Tinggi oleh dan bagi Umat Islam Zaman Teknologi Modern, hlm: 22) untuk meningkatkan kualitas mukmin dan mukmin yang berkualitas (istiqomah) mampu memicu kemajuan umat dalam ilmu pengetahuan serta bidang iqtishadi(economy) dan pendidikan khususnya. Amin.

Oleh: Prof. Dr. M Arrafie Abduh
(Guru Besar Tasawuf di Prodi Ilmu Akidah Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau)

Jumat, 26 Mei 2023

Hakikat Qurban Menurut Jalaludin Rumi

Idul Qurban berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, Ied dan Qurban. “Ied” dari kata ‘aada ya’uudu, bermakna ‘kembali’. Qurban, dari kata ‘qaraba-yaqrabu’, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’. Qurban adalah “sesuatu yang mendekatkan”. 

Idul Qurban (Kurban) kemudian bisa kita maknai sebagai sebuah hari dimana kita berupaya kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang mendambakan dekat dengan yang Maha Rahim.

Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub Ilallah), Maulana Jalaluddin Rumi menyebut, sebanyak helaan nafas manusia. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung” (QS. Al-Maidah: 35).

“Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).” (QS. At-Taubah: 99)

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”. (QS. 108: 2)

Kurban tidak saja bermakna memotong seekor kambing/sapi/onta yang terbaik, melainkan lebih jauh dari itu, yakni mengurbankan kecintaan kepada selain Allah SWT, khususnya kecintaan terhadap sesuatu yang mendominasi ruang hati ini, agar tauhid menjadi bersih, agar Allah mengaruniai makna dari ‘Ahadiyah’ secara hakiki.

Sebagaimana kisah Nabiyullah Ibrahim,as., yang begitu lama mendambakan seorang putra dan dengan khusyu melantunkan doa-doa. Setelah dikaruniai seorang putra yang bernama Ismail, membuat hatinya sedikit berpaling, yang tadinya hanya terisi Allah SWT mulai berbagi, oleh karenanya Allah memerintahkan menyembelih putra tersayang ini, agar hatinya kembali murni, hanya mencintai Allah SWT saja. Nah, orang-orang yang mengikuti hakikat kisah ini, dengan jalan memerangi hawa nafsunya (mujahadah) pada setiap kesempatan.

Nama lain Idul Qurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang kita sembelih pada hari ini. Bukan persoalan apa kita memiliki harta atau tidak untuk menyembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan qurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih ‘kambing’, ‘sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang beranak pinak dalam diri kita.

Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah SWT menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak.

Maulana Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi Ma’nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh Nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan.

Dan menurut Maulana Rumi kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat unggas ini, sebagaimana Ibrahim as mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita. Tentang bebek Maulana Rumi bercerita:

Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah
Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering
Tenggorokannya tak pernah santai, sesaatpun
Ia tak mendengar firman Tuhan, selain makan
minumlah!
Seperti penjarah yang merangsek rumah-rumah
Dan memenuhi kantongnya dengan cepat
Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk
Permata atau kacang tiada beda
Ia jejalkan ke kantung basah dan kering
Kuatir pesaing akan merebutnya
Waktu mendesak, kesempatan sempit,
Ia ketakutan
dengan segera di bawah tangannya
Ia tumpukkan apapun….


Dikisahkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, secara indah dalam kitab Mastnawi yang masyhur itu. Kisah itu bercerita tentang seekor keledai yang dikandangkan bersama seekor unta, keledai itu berkata:

‘Kepalaku selalu menunduk kebawah, kendati demikian, aku masih selalu jatuh.

Sementara kepalamu tegak, dan pandanganmu lurus serta melihat keatas, tetapi engkau tidak pernah jatuh, apa sebabnya?

Sang Unta menjawab: ‘Dengan kepalaku tegak dan lurus aku bisa melihat jauh. Kalau ada lubang, aku bisa menghindarinya.’

Mendengar itu si keledai menangis, ‘Bimbinglah aku, tunjukkan kepadaku jalan yang lurus, sehingga aku tidak jatuh lagi.’

Sang Unta menjawab: ‘Dengan mengakui kelemahan diri, kamu sudah terselamatkan. Berbahagialah sekarang, karena kamu sudah terbebaskan dari sesuatu yang jahat.’

Terbebaskan dari sesuatu yang jahat, yakni keakuan atau ego!

Tujuan utama bertasawuf adalah mengalahkan keakuan atau ego, hal ini tidak boleh terlupakan oleh para salik, bukan malah membangunnya. Sebagaimana sebuah hadis yang menyatakan bahwa: ‘Man arofa nafsahu faqod arofa rabbah’

‘Barang siapa mengenal dirinya (nafs-nya atau ego-nya), maka ia mengenal Tuhannya.'[]

Sabtu, 18 Maret 2023

Beberapa Hikmah dan Keutamaan Bulan Ramadhan

Apa saja keutamaan Bulan Ramadhan itu? Ternyata, ada beberapa hal yang perlu  ketahui mengenai Ramadhan.

Keutamaan bulan ramadhan bagi seluruh umat Islam di dunia pada intinya adalah mempererat hubungan kita pada sang penguasa alam.

Bulan ramadhan atau biasa disebut sebagai bulan puasa merupakan bulan yang sangat ditunggu setiap tahunnya oleh seluruh umat Islam. Hukum puasa ramadhan adalah wajib.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Karena selain bulan suci penuh dengan amalan juga merupakan bulan yang makin memperkuat tali silaturahmi. Oleh karena itu, perlu dipahami oleh umat Islam apa saja keutamaan yang bisa didapat dari bulan ramadhan ini.

10 Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan atau bulan puasa yang memiliki banyak stok pahala yang tersedia dengan banyaknya amalan yang akan kita lakukan, memberikan kita hikmah atau keutamaan bulan ramadhan tersebut dalam menjalaninya.

Jika kita ingin mengetahui lebih dalam lagi apa hikmah dan keutamaannya agar bisa makin tekun dalam menjalaninya, maka keutamaan tersebut antara lain sebagai berikut.

Dalil Keutamaan Puasa Bulan Ramadhan

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya pada masa lalu akan diampuni” (HR. Bukhari)

Bulan ramadhan tentunya menjadi kesempatan yang baik untuk kita memohon ampunan dan berlomba untuk mendapatkan pahala yang berlimpah. Hal ini juga disebutkan dalam oleh HR. Muslim sebagai berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

Artinya: “Setiap amalan yang dilakukan anak Adam akan dilipat gandakan, tindakan yang baik akan dilipatgadakan pahalanya hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman: Dengan syarat berpuasa yang dilakukan karena Aku (Allah) maka Aku akan memberinya pahala. Karena mereka meninggalkan keinginannya demi Aku.” (HR. Muslim)

#1 Mendekatkan Diri Pada yang Maha Kuasa

Saat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan, kita banyak melakukan amal ibadah yang harus dikerjakan pada bulan tersebut. Karena, memang bulan ramadhan merupakan bulan suci yang sudah dikhususkan untuk yang ingin memperbanyak pahala dan menghapus dosa.
Seperti melakukan puasa, salat tarawih, membayar zakat fitrah hingga pada akhirnya melakukan salat idul fitri. Bahkan, kita makin merasa kurang untuk beribadah dimana pada bulan biasanya kita disibukkan dengan dunia.

Tapi pada bulan ini kita jadi sering mengaji dan pergi ke masjid. Secara otomatis hubungan kita dengan yang maha Esa semakin intim dan dekat.

#2 Memperkuat Tali Silaturahmi

Selain bisa mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, kita juga makin mempererat tali silaturahmi dengan keluarga ataupun kerabat. Dengan adanya bulan ramadhan bisa makin saling memperkuat jalinan silaturahmi.

Agar hal ini dapat terlaksana, rajin-rajinlah menghubungi saudara atau kerabat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hubungan baik selama bulan suci ini. Tentunya, ketika Idul Fitri tiba, pasti jadi tidak canggung lagi kan?

#3 Amal Berlipat Ganda

Salah satu keistimewaan dari Ramadhan adalah pahala yang akan dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tiap-tiap amalan bersifat sunnah yang kamu kerjakan pada bulan Ramadhan akan memperoleh ganjaran pahala layaknya menjalankan ibadah yang wajib.

Bahkan, amalan ibadah wajib yang dilaksanakan akan diberikan pahala berlipat-lipat ganda.
Mari kita manfaatkan kesempatan yang ada di bulan Ramadhan ini dengan beribadah sebanyak-banyaknya agar kita bisa memperoleh pahala yang besar.

#4 Melatih Kesabaran

Dalam menjalankan ibadah puasa ini memang benar-benar melatih kesabaran, karena kita diuji untuk menahan lapar, haus dan amarah. Sehingga, kesabaran kita makin terlatih dan membuat kita menjadi orang sabar.

#5 Menghargai yang Kurang Mampu

Puasa pada dasarnya adalah wujud kepedulian umat Islam pada orang-orang yang kurang mampu dan tidak bisa menikmati makan setiap hari. Dengan kita melakukan puasa, artinya kita merasakan apa yang mereka rasakan. Serta juga bisa saling membantu melalui pembayaran zakat.

#6 Menjaga Stamina Tubuh

Melakukan puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi juga termasuk salah satu cara diet versi Islam. Oleh karena itu, puasa juga bisa menjaga daya tahan dan stamina tubuh kita.

#7 Melembutkan Hati

Dengan berpuasa di bulan ramadhan, kita juga diwajibkan untuk menahan nafsu dan amarah. Jika kita bisa melakukan semua itu, maka kita sudah bisa melembutkan hati kita, Karena, ini juga merupakan salah satu keutamaan puasa.

#8 Merendah Diri

Berpuasa dengan tidak makan ataupun minum, membuat kita makin mengakui kelemahan kita. Dimana kita tidak bisa hidup tanpa makan dan minum, sehingga kita bisa lebih merendahkan diri di hadapan Yang Maha Esa.

#9 Berbagi Dengan Sesama

Salah satu cara untuk mengerjakan amal kebaikan di bulan Ramadhan adalah dengan bersedekah.

Allah SWT memberikan pintu luas bagi kita untuk beramal kebaikan dan setiap kali kita berbagi, harta kita sebenarnya tidak akan berkurang, justru akan bertambah.

Bersedekah juga merupakan investasi akhirat yang sangat bernilai.

#10 Bulan Pengampunan

Setiap manusia tak pernah luput dari kesalahan dan kemaksiatan. Segala dosa yang dilakukan manusia akan menjadi beban buruk di hari penghakiman kelak.

Namun, Allah yang maha pengampun selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat, bahkan meskipun telah berulang kali berbuat dosa selama ajal belum menjemput.

Bulan Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk segera bertaubat kepada Allah. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang berpuasa dengan keimanan dan mengharap pahala dari-Nya.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula bagi mereka yang melaksanakan shalat malam dengan penuh keyakinan dan harapan pada Allah SWT.

Oleh karena itu, mari kita sungguh-sungguh bertaubat dan memohon ampun atas segala dosa yang telah kita perbuat selama ini.

Semoga Allah SWT senantiasa membuka pintu taubat bagi kita dan menghapuskan dosa-dosa kita. Aamiin.

Menyoal Jilbab di Universitas Pertahanan: "Ketika Negara Berbenturan dengan Perintah Tuhan"

Pengantar : Pada suatu pagi di bulan Juni 2026, seorang gadis bernama Asma Wafa Andina melangkahkan kakinya memasuki gerbang Universitas Per...