Jumat, 31 Juli 2026

Ketika Indonesia Luka Berdarah


(Secangkir Anggur Merah Edisi-24)

Di sini, ketika khatulistiwa merengkuh sabana dan hujan tropis menari di atas daun-daun rindang, terbentang tubuh raksasa yang dulu dikenal sebagai zamrud.

Kini, zamrud itu terluka. Bukan luka sayatan pisau, melainkan luka koyak akibat gergaji mesin yang tak pernah lelah. Luka bakar akibat api yang sengaja dipupuk. Dan luka busuk akibat limbah yang mengalir deras ke urat-urat sungainya.

Indonesia sedang berdarah. Dan darahnya adalah getah pohon yang mengucur. Tanah yang tergerus. Serta ikan-ikan yang mati terapung di permukaan laut yang kehilangan birunya.

Sumber daya alamnya dijarah tanpa ampun. Seperti anak yang dipukuli hingga tak berdaya. Hutan-hutan Sumatra yang menjadi paru-paru dunia ditebang dengan serakah. Menyisakan tunggul-tunggul yang menangis di tengah kabut asap.

Gunung-gunung di Papua dikeruk perutnya. Menganga lebar. Mengeluarkan isi perut bumi yang berkilau. Namun meninggalkan parit-parit keruh yang tak pernah sembuh.

Laut-laut di Timur, yang dulu menjadi taman biota terkaya, kini menjadi kuburan karang akibat bom dan racun sianida.

Semua diperlakukan seperti benda mati. Hanya angka dalam lembaran ekspor. Hanya komoditas yang tak punya nyawa.

Betapa pilu menyaksikan tanah kelahiran yang begitu kaya justru diperkosa oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaganya.

Sawah-sawah yang hijau berubah menjadi gurun beton. Udara yang segar kini bercampur debu dan sulfur. Sungai-sungai yang jernih, yang dulu menjadi tempat bermain anak-anak kampung, kini berubah hitam pekat, berbau anyir menyengat.

Nelayan pulang dengan perahu kosong. Petani gagal panen karena cuaca yang kian kacau. Dan masyarakat adat kehilangan hutan yang menjadi ibu mereka.

Semua adalah akibat dari nafsu yang tak terkendali. Dari mata yang hanya melihat keuntungan sesaat. Dari tangan-tangan yang tak pernah merasa puas.

Namun, di sela-sela luka yang menganga, masih ada suara-suara kecil yang berbisik. Ada pemuda yang menanam pohon di lereng bukit. Ibu-ibu yang mengelola sampah menjadi kerajinan. Dan nelayan yang beralih ke alat tangkap ramah lingkungan.

Mereka adalah salep bagi luka Indonesia. Meskipun terkadang salep itu tak cukup untuk menutup luka yang begitu lebar. 

Swtidaknya mereka sadar bahwa bumi ini bukan warisan dari nenek moyang. Melainkan titipan Tuhan bagi anak cucu.

Saat hujan mulai turun, butiran-butiran air membersihkan debu dari dedaunan. Seakan alam hendak membasuh lukanya sendiri.

Tapi hujan takkan mampu menghilangkan bekas timbunan tanah. Takkan mampu mengembalikan pohon-pohon besar yang tumbang. Dan takkan menyembuhkan terumbu karang yang remuk dan mati.

Hanya kesadaran dan pengorbanan manusia yang bisa menghentikan pendarahan ini. Hanya ketika kita berhenti memarahi alam, dan mulai memeluknya, maka Indonesia akan sembuh.

Luka ini adalah cermin bagi kita semua, bahwa kekayaan bukanlah untuk dihabiskan. Melainkan untuk dirawat dengan penuh cinta dan tanggung jawab.
(Ekspresionis prosais/kgm/juli-26)

Sidang Kosmik Imajiner Sang Koruptor

( Setting Panggung : Ruang sidang cahaya redup abu-abu. Meja dan kursi kayu biasa berbalut asap. Di kursi pesakitan duduk seorang pria berse...