Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merupakan paham keislaman yang dianut mayoritas muslim Indonesia, mengikuti akidah Asy'ariyah dan Maturidiyah, serta bermazhab pada salah satu dari empat imam besar dalam fikih.
Aswaja mengajarkan tiga sikap fundamental: al-tawassuth (moderasi), al-tawazun (keseimbangan), dan al-tasamuh (toleransi).
Namun, di tengah masyarakat, terdapat kelompok-kelompok yang mengaku Aswaja tetapi justru berupaya merusak ajaran dan citranya. Siapa mereka dan bagaimana ciri-cirinya?
Pertama, kelompok ekstremis yang mengatasnamakan Aswaja.
Pertama, kelompok ekstremis yang mengatasnamakan Aswaja.
KH. Marzuki Mustamar mengingatkan bahwa banyak organisasi yang mengaku sebagai pihak paling Aswaja namun tidak mencerminkan nilai-nilai keaswajaan dalam praktiknya.
Mereka berdakwah dengan kekerasan, main hakim sendiri, dan mudah marah—yang beliau sebut sebagai "Aswaja abal-abalan".
Ciri pengikut Aswaja yang sejati justru tidak mudah mengkafirkan orang lain, tidak merasa paling benar sendiri, dan tidak menyesatkan masyarakat.
Kedua, kelompok anti-Aswaja yang memusuhi ajaran tradisional.
Kedua, kelompok anti-Aswaja yang memusuhi ajaran tradisional.
Mufti Australia Habib Salim bin Halwan memperingatkan menjamurnya aliran yang mengusung akidah anti-Aswaja di Indonesia. Mereka menganggap Indonesia sebagai negara kafir karena tidak memiliki kekhalifahan, serta memusuhi umat Islam yang berpegang teguh pada akidah Aswaja.
Kelompok ini mengharamkan peringatan maulid dan bacaan Al-Qur'an untuk orang yang telah wafat, menganggapnya sebagai bid'ah sesat. Padahal dalam faham Aswaja, hal itu merupakan bid'ah hasanah yang memiliki dasar kuat.
Ketiga, "Aswaja Rasa Nasrani" (Aswarani).
Ketiga, "Aswaja Rasa Nasrani" (Aswarani).
KH. Luthfi Bashori mengingatkan bahaya kelompok yang mengaku beragama Islam namun gandrung dengan tokoh-tokoh kafir dan rajin membela kelompok non-muslim.
Mereka akan menjadikan setiap kesalahan dalam ajaran Islam sebagai bahan ejekan dengan tujuan menghancurkan Islam dan umat Islam.
Keempat, kelompok liberal yang mendesakralisasi doktrin Aswaja.
Keempat, kelompok liberal yang mendesakralisasi doktrin Aswaja.
Desakralisasi ini memisahkan aspek religius dari tradisi dan budaya yang menyertainya, menggerus pemahaman keagamaan yang telah mapan di kalangan ulama.
Syaikhona Kholil Bangkalan telah memberikan ijazah berupa firman Allah: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya" (QS. Ash-Shaf: 8).
Syaikhona Kholil Bangkalan telah memberikan ijazah berupa firman Allah: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya" (QS. Ash-Shaf: 8).
Ini menjadi pengingat bahwa segala upaya menghancurkan Islam—baik dengan lisan, gerakan, maupun tipu daya—akan sia-sia.
Sebagai umat Islam, kita wajib waspada dan cerdas mengenali ciri-ciri perusak Islam Aswaja: mereka yang berdakwah dengan kekerasan, gemar membid'ahkan, khurofat, Syirik, tuduhan Syi'ah dan mengkafirkan, memusuhi tradisi Aswaja, serta menjadikan ajaran Islam sebagai bahan cemoohan.
Sebagai umat Islam, kita wajib waspada dan cerdas mengenali ciri-ciri perusak Islam Aswaja: mereka yang berdakwah dengan kekerasan, gemar membid'ahkan, khurofat, Syirik, tuduhan Syi'ah dan mengkafirkan, memusuhi tradisi Aswaja, serta menjadikan ajaran Islam sebagai bahan cemoohan.
Mari kita jaga kemurnian Aswaja sesuai teladan para ulama salafusshalih dan Wali Songo, seraya terus mengedepankan dakwah yang damai, penuh kasih, toleransi dan membangun peradaban. Titik.
