kau susun kata-kata seindah mimpi
laksana bunga mekar di musim semi
namun akarnya telah mati...
kau ucapkan janji di atas mimbar
dengan suara yang merdu parau membelai telinga
seperti sungai yang mengalir jernih
tapi di dasarnya lumpur beracun mengendap perlahan...
aku melihat matamu
cahaya redup di balik kaca mata
seperti rembulan yang bersembunyi
di balik awan kelabu
takut diterawang oleh mereka yang haus cahaya...
kau tawarkan negeri yang subur makmur gemah ripah
tapi di balik kata-katamu yang indah berseri
tersimpan kebohongan yang meranggas
seperti daun-daun yang gugur sebelum musimnya tiba...
dan kami diam
diam dalam keramaian yang riuh
diam dalam gelak tawa yang pahit...
sebab membuka mulut
sama saja membuka luka yang belum sembuh...
sama saja membuka luka yang belum sembuh...
pemimpin yang kuharapkan adalah kau
mengapa kau pilih dusta menjadi taman?
padahal kebenaran meski pahit
akan tumbuh menjadi pohon yang rindang
menaungi mereka yang kehausan
ketika kelak kau sendiri...
di kamar yang hening
bisakah kau pandang cermin
tanpa membenci bayangan yang kau ciptakan?...
karena pada akhirnya
hanya kebenaran yang akan tersenyum
sendiri
di tengah puing-puing kata
yang kau bangun dengan megah
tapi runtuh oleh angin waktu...
