Rabu, 16 September 2026

Monolog Teaterikal "Rintihan Suara Rakyat"



(Panggung gelap. Satu lampu menyorot ke tengah. Seorang lelaki tua berdiri. Punggungnya bungkuk. Tangannya memegang kain lusuh. Ia diam beberapa saat. Napasnya berat. Lalu ia angkat kepala. Matanya menatap lurus ke arah penonton. Seolah menatap penguasa.)


Tuan,
Aku bukan siapa-siapa
Aku hanya seorang tua renta yang kau lupakan
Aku hanya nama yang tak pernah kau sebut dalam pidatomu
Aku hanya angka di laporan yang kau tulis dengan tinta yang kau beli dari keringatku.

Tapi malam ini,
malam ini aku bicara
Bukan sebagai pengemis
Bukan sebagai pemulung
Bukan sebagai pengamen
Tapi sebagai saksi.

(Ia melangkah satu langkah. Suaranya mulai naik.)

Kau duduk di sana, Tuan
Di kursi yang kau sebut kuasa
Kursi itu apa, Tuan?
Kursi itu adalah punggungku
Punggung yang kau injak selama puluhan tahun.

Kau makan di meja yang kau sebut negara
Meja itu apa, Tuan?
Meja itu adalah perut anakku
yang belum terisi sejak subuh.

Kau tidur di rumah yang kau sebut rakyat
Rumah itu apa, Tuan?
Rumah itu adalah tanah yang kau rampas
dari tangan-tangan yang tak bisa melawan
Hingga terpaksa harus hidup di kolong jembatan.

(Diam. Napas. Matanya menyala.)

Kau bilang: hukum!
Hukum?
Hukummu itu punya dua mata, Tuan
Satu buta ke atas
Satu tajam mengiris ke bawah.

Kau bilang: keadilan!
Keadilanmu itu timbangan yang kau isi emas di satu sisi,
dan tulang rakyat di sisi lain.

Kau bilang: pembangunan!
Pembangunan macam apa, Tuan?
Aku lihat sawahku jadi beton
Aku lihat rumahku jadi puing
Aku lihat anakku belajar dalam lapar
Aku lihat istriku menangis di tenda kolong jembatan
Aku lihat bapak-bapak kehilangan harga
Terlunta-lunta di jalanan.

Kau bilang: ini demi masa depan!
Masa depan siapa, Tuan?
Masa depan anakmu yang kau kirim ke luar negeri?
Masa depan istri-istrimu yang kau manjakan?
Masa depan kroni-kronimu yang kau ganjar proyek?
Masa depan konglomerat yang kau lindungi?

Atau masa depan kami
yang kau sebut rakyat jelata
yang kau janjikan surga
padahal yang kau berikan neraka?

(Ia mengangkat tangannya. Tangannya bergetar.)

Lihat tangan ini, Tuan
Tangan inilah yang membangun gedungmu
Tangan inilah yang menuang fondasimu
Tangan ini memasang marmer di lantaimu
Tangan ini mengangkat batu kali untuk istanamu.

Tapi tangan ini,
tangan ini tidak pernah kau sentuh
Tidak pernah kau sapa
Tidak pernah kau anggap ada.

Tangan ini, Tuan,
tangan yang kau sebut tangan kasar
Tapi tangan yang kasar inilah
yang membuatmu bisa duduk dengan halus.

(Ia mengepalkan tangannya)

Kau bilang, sabar...
Sabar?
Kau ajari aku sabar?
Kau yang tidak pernah menunggu antrean beras?
Kau yang tidak pernah menunggu obat di puskesmas?
Kau yang tidak pernah menunggu pengadilan
yang tak pernah kelar?

Sabar kami bukan kain lap, Tuan
Sabar kami bukan bangku tunggu..

Tapi sabar kami adalah gunung
Gunung yang menahan api selama bertahun-tahun
Gunung yang kau sangka tidur
Padahal Ia bergerak dan berjalan
Dan akan menyembur memuntahkan isi perutnya.

(Suaranya meledak.)

Kau bilang, jangan provokasi!
Provokasi?
Kami tidak memprovokasi
Kami hanya menangis
Kami hanya berdoa
Kami hanya bertanya.

Tapi sepertinya kau takut pada tangis
Kau miris pada doa
Kau ngeri pada pertanyaan.

Kenapa kau takut, Tuan?
Kalau kau benar,
kenapa kau bungkam suara kami?
Kalau kau bersih,
kenapa kau sembur demo kami?
Kalau kau adil,
kenapa kau penjarakan mereka yang bersuara?

(Ia mundur dua langkah. Suaranya turun, tapi lebih dalam)

Tapi aku tidak datang untuk membalas
Aku tidak datang untuk membakar
Aku tidak datang untuk mengutuk.

Aku datang karena aku masih percaya
Aku masih percaya bahwa di dalam dirimu
masih ada manusia.

Aku masih percaya bahwa kau
pernah menjadi anak yang menangis
ketika ibumu pergi.
Aku masih percaya bahwa kau
pernah menjadi pemuda yang bermimpi
tentang negeri yang adil.

Tapi,
Di mana sekarang mimpi itu, Tuan?
Di mana anak itu?
Di mana pemuda itu?

Apa Kau jual dia demi kursi kekuasaan?
Kau tukar dia dengan permata?
Atau Kau kubur dia di bawah laporan-laporan palsu?

(Ia menatap langit. Suaranya bergetar)

Tuhan,
aku bukan siapa-siapa
Aku hanya seorang tua renta
yang tidak bisa membaca undang-undang.
Aku hanya seorang tua renta
yang tidak bisa menulis surat.

Tapi aku bisa berdoa
Doa yang tidak bisa kau beli
Doaku tidak bisa kau segel
Doaku tidak bisa kau penjarakan.

Doaku naik menembus langit
seperti asap dari dapur kami
yang kau sebut bau dan kotor.

Tapi asap itu, Tuan,
Asap itu sampai ke hadapan Yang Maha Adil
Dan di sana,
di hadapan-Nya,
Sungguh Kau bukan seorang raja
Kau bukan penguasa
Kau bukan pemilik segalanya...

Kau hanya jiwa telanjang
yang harus mempertanggungjawabkan
setiap butir beras yang kau rampas,
setiap tetes keringat yang kau hisap,
setiap janji yang kau khianati,
setiap doa yang kau abaikan.

(Ia melangkah maju, mendekat ke penonton)

Dengar, Tuan..!
Kekuasaanmu itu seperti asap dupa
Wangi sebentar...
Lalu hilang.

Namamu mungkin kau ukir di marmer
Tapi waktu menulisnya berdebu.

Singgasanamu mungkin kau lapisi emas
Tapi cacing tetap menunggu di bawahnya.

Kau boleh menutup mulut kami
Tapi tidak mulut bumi.

Kau boleh membeli pena
Tapi tidak tinta langit.

Kau boleh membungkam suara kritis
Tapi tidak suara nurani.

Kau boleh memenjarakan tubuh
Tapi tidak jiwa yang berdoa.

(Diam panjang. Lalu suaranya pelan, tapi setiap kata menghujam.)

Kami,
Rakyat yang kau sebut jelata
Masih terus berjalan
Membawa luka sebagai pelajaran
Membawa harapan sebagai ibadah
Membawa doa sebagai senjata
Sampai keadilan menjadi nyanyian
semua makhluk di bawah langit.

Sebab di hadapan Tuhan,
Tidak ada mahkota
Yang ada hanya amal
Tidak ada istana
Yang ada hanya hati
Tidak ada kuasa
Yang ada hanya pertanggungjawaban.

(Ia angkat tangannya, telapak terbuka, seperti berdoa)

Tuan,
Dengarlah...!

Ini bukan sajak
Ini bukan pidato
Ini bukan ancaman
Tapi ini sekadar jeritan
Jeritan yang kau anggap bisu.

Ini sekadar doa
Doa yang kau anggap angin lalu...

Ini suara bumi
Suara yang kau anggap mati
Tapi bumi tidak mati, Tuan..!
Bumi hanya menunggu
Dan bila waktunya tiba,
bumi akan bicara.

Bukan dengan senjata
Bukan dengan darah
Tapi dengan kebenaran
yang tidak bisa kau kubur.

(Ia menunduk. Diam. Lalu angkat kepala, menatap penonton)

Tuan,
Aku bukan siapa-siapa
Tapi malam ini,
Aku adalah suara
Yang tidak bisa kau kubur.

(Lampu mati)
= TAMAT =

Monolog Teaterikal "Rintihan Suara Rakyat"

( Panggung gelap. Satu lampu menyorot ke tengah. Seorang lelaki tua berdiri. Punggungnya bungkuk. Tangannya memegang kain lusuh. Ia diam beb...