Pengantar: Pagi itu, 14 September 2026, Purbaya Yudhi Sadewa masih duduk sebagai Menteri Keuangan. Ia berbicara di depan Komisi IV DPD RI tentang ekonomi yang masih terjaga. Defisit 0,9 persen terhadap PDB. Sore harinya, pukul 15.30 WIB, ia sudah bukan siapa-siapa. Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai penggantinya. Dalam hitungan jam, seorang menteri yang pagi itu berbicara tentang stabilitas berubah menjadi mantan menteri yang selama setahun penuh kejutan. Pasar menyambut dengan riang. IHSG yang sempat anjlok 2,6 persen tiba-tiba melonjak lebih dari 200 poin. Rupiah ditutup melemah ke Rp17.669 per dolar AS. Tetapi saham BBRI, BMRI, dan BBNI mendadak menguat. Pasar seolah berkata: good riddance. Ah, sesungguhnya ada apa gerangan? Pencopotan Purbaya begitu mendadak dan menghentak? Kalau begitu, mari kita gedor pintu misterinya...!!
Sarat Misteri, Terlalu Agresif
Pertanyaannya sederhana. Tetapi jawabannya sungguh rumit penuh misteri. Jika persoalannya defisit, mengapa mengganti orang yang menjaga kas? Defisit APBN hingga Agustus 2026 tercatat 0,9 persen terhadap PDB. Sekitar Rp235,6 triliun. Penerimaan pajak hingga Juli tumbuh 23,7 persen. S&P mempertahankan peringkat Indonesia di BBB dengan outlook stabil.
Sarat Misteri, Terlalu Agresif
Pertanyaannya sederhana. Tetapi jawabannya sungguh rumit penuh misteri. Jika persoalannya defisit, mengapa mengganti orang yang menjaga kas? Defisit APBN hingga Agustus 2026 tercatat 0,9 persen terhadap PDB. Sekitar Rp235,6 triliun. Penerimaan pajak hingga Juli tumbuh 23,7 persen. S&P mempertahankan peringkat Indonesia di BBB dengan outlook stabil.
Angka-angka ini tidak menunjukkan kegagalan. Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, bahkan menyebut alasan pencopotan Purbaya bermula dari kendala koordinasi internal Kementerian Keuangan. Terutama antara Ditjen Bea Cukai dan Ditjen Pajak soal pergantian Eselon II dan restitusi pajak yang ditahan.
Tetapi ada hipotesis lain yang lebih menarik. Menyoal dividen Rp120 triliun. Purbaya beberapa kali menegaskan bahwa setoran keuntungan Danantara sebesar Rp120 triliun akan masuk ke kas negara pada tahun ini.
Tetapi ada hipotesis lain yang lebih menarik. Menyoal dividen Rp120 triliun. Purbaya beberapa kali menegaskan bahwa setoran keuntungan Danantara sebesar Rp120 triliun akan masuk ke kas negara pada tahun ini.
Namun, hingga kini belum ada realisasinya. Pengamat BUMN Herry Gunawan menilai permintaan Purbaya ujug-ujug dan mengatasnamakan Presiden.
Jika persoalannya siapa yang berhak atas kas. Maka pergantian ini menjadi jauh lebih menarik. Purbaya diganti bukan karena gagal. Melainkan karena terlalu agresif. Atau terlalu berani menyentuh kepentingan yang lebih besar.
Efek Sandangan Menteri Koboy
Gaya kepemimpinan Purbaya memang layak dikritik. Ia dijuluki menteri koboi karena gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos dan bombastis. Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia menilai Purbaya terlalu optimis saat awal menjabat tetapi tidak terbukti melalui kinerjanya.
Efek Sandangan Menteri Koboy
Gaya kepemimpinan Purbaya memang layak dikritik. Ia dijuluki menteri koboi karena gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos dan bombastis. Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia menilai Purbaya terlalu optimis saat awal menjabat tetapi tidak terbukti melalui kinerjanya.
Ia berbicara tentang pertumbuhan ekonomi 6 persen. Tetapi ekonomi semester I-2026 hanya tumbuh sekitar 5,45 persen. Ia menggelontorkan Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih ke bank-bank Himbara. Sebuah kebijakan yang dikritik keras. Karena melanggar konstitusi dan berpotensi memicu inflasi.
Namun, kritik terhadap Purbaya juga tidak sepenuhnya adil. Seorang ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan: "Pergantian ini tidak boleh langsung dibaca sebagai vonis bahwa Purbaya gagal".
Namun, kritik terhadap Purbaya juga tidak sepenuhnya adil. Seorang ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan: "Pergantian ini tidak boleh langsung dibaca sebagai vonis bahwa Purbaya gagal".
Purbaya memang membawa pendekatan ekspansif melalui penempatan dana SAL ke bank pemerintah dan dorongan kredit. Ia mencoba mendobrak stagnasi. Meskipun dengan cara yang sering kali terkesan sembrono. Dan itulah tragedinya. Ia diadili bukan karena hasilnya. Tetapi karena gayanya.
Penggantinya Orang Dalam
Yang lebih ironis, penggantinya, Suahasil Nazara, adalah sosok yang selama 14 tahun menjadi orang dalam Kementerian Keuangan. Ia Guru Besar Ilmu Ekonomi UI. Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal. Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Seorang teknokrat fiskal dalam arti paling literal. Akademisi yang menghabiskan hampir seluruh karier di dalam mesin birokrasi.
Penggantinya Orang Dalam
Yang lebih ironis, penggantinya, Suahasil Nazara, adalah sosok yang selama 14 tahun menjadi orang dalam Kementerian Keuangan. Ia Guru Besar Ilmu Ekonomi UI. Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal. Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Seorang teknokrat fiskal dalam arti paling literal. Akademisi yang menghabiskan hampir seluruh karier di dalam mesin birokrasi.
Apakah pemilihannya menunjukkan kembalinya teknokrasi konservatif? Atau justru sebaliknya. Ia dipilih karena lebih bisa bekerja sama dalam konfigurasi kekuasaan ekonomi yang sedang berubah?
Pengamat sosial Hadipras menulis dengan tajam: "Kehadiran seorang teknokrat di tengah ambisi politik yang boros anggaran bukanlah tanda bahwa kekuasaan sedang bertobat.
Pengamat sosial Hadipras menulis dengan tajam: "Kehadiran seorang teknokrat di tengah ambisi politik yang boros anggaran bukanlah tanda bahwa kekuasaan sedang bertobat.
Ia dihadirkan bukan untuk mengerem laju kereta yang ugal-ugalan. Melainkan untuk memastikan bahwa benturan yang akan terjadi dilapisi oleh dokumen-dokumen legal yang rapi.
Purbaya mungkin bukan menteri yang sempurna. Ia terlalu banyak bicara. Terlalu sering menciptakan kejutan. Dan terlalu berani menabrak. Tetapi dalam ekosistem kekuasaan yang lebih menyukai kenyamanan daripada kebenaran. Keberaniannya justru menjadi dosa.
Ia dihukum bukan karena gagal. Melainkan karena mengganggu. Dan penggantinya, sang teknokrat tulen, akan memastikan bahwa angka-angka tetap terlihat sehat. Tanpa mengganggu kepentingan yang lebih besar.
Inilah tragedi sesungguhnya. Bukan pencopotan Purbaya. Melainkan apa yang ia ungkap tentang wajah kekuasaan yang menolak dikritik.
Wajah Kekuasaan yang Menolak Dikritik
Wajah kekuasaan yang menolak dikritik tidak selalu tampil dengan akumulasi pasukan, deretan tank atau pembredelan pers. Ia bisa tampil lebih sopan. Lewat rotasi kabinet, pelantikan kilat, dan senyum pasar modal.
Inilah tragedi sesungguhnya. Bukan pencopotan Purbaya. Melainkan apa yang ia ungkap tentang wajah kekuasaan yang menolak dikritik.
Wajah Kekuasaan yang Menolak Dikritik
Wajah kekuasaan yang menolak dikritik tidak selalu tampil dengan akumulasi pasukan, deretan tank atau pembredelan pers. Ia bisa tampil lebih sopan. Lewat rotasi kabinet, pelantikan kilat, dan senyum pasar modal.
Gebrakan Purbaya. Seperti menyoal dividen Danantara Rp120 triliun. Menempatkan Rp200 triliun SAL ke bank Himbara. Serta berbicara pertumbuhan 6 persen. Lalu mengkritik koordinasi internal Kemenkeu, adalah cermin yang menyilaukan.
Ia bukan hanya melawan angka. Tetapi membuka kotak hitam. Di mana kas negara, kekuasaan, dan kepentingan bisnis saling bersenggama. Reaksi kekuasaan tidak datang lewat debat substansi.
Tidak ada dialog tentang legalitas SAL. Tidak ada perhitungan terbuka soal risiko inflasi. Tidak ada penjelasan mengapa dividen tak kunjung masuk. Yang datang adalah pergantian mendadak. Dan tragisnya pasar disuruh bertepuk tangan.
Di negeri ini, kritik dari dalam adalah pengkhianatan. Kritik dari luar adalah provokasi. Purbaya dianggap melanggar pakem. Ia berbicara terlalu keras. Terlalu publik. Terlalu berani menyentuh. Maka ia dijadikan contoh. KAlau gak mau "di- Purbayakan."
Di negeri ini, kritik dari dalam adalah pengkhianatan. Kritik dari luar adalah provokasi. Purbaya dianggap melanggar pakem. Ia berbicara terlalu keras. Terlalu publik. Terlalu berani menyentuh. Maka ia dijadikan contoh. KAlau gak mau "di- Purbayakan."
Pesannya jelas. Siapa pun yang membuka pintu kas dan mempertanyakan arus uang akan dicap tidak koordinatif. Lalu disingkirkan dengan bahasa stabilitas.
Teknokrat penggantinya bukan solusi. Melainkan pelapis. Ia hadir untuk memastikan kebijakan tetap terlihat rapi, legal, dan market-friendly.
Kekuasaan menolak dikritik bukan karena ia kuat. Melainkan karena ia rapuh terhadap transparansi. Purbaya mungkin salah gaya. Tetapi ia mengungkap satu hal. Di balik wibawa anggaran, ada kekuasaan yang tak mau diperiksa.
Dan yang tak mau diperiksa, biasanya punya sesuatu untuk disembunyikan. Itulah tragedi kedua. Bukan hanya Purbaya yang jatuh. Tetapi nalar publik yang ikut dibungkam.
Kekuasaan boleh berganti wajah. Tetapi ia tetap menolak bercermin. Apalagi kalau cerminnya retak dan kusam. Jika pun dipaksakan untuk berkaca. Maka akan tampak wajah kekuasaannya yang benjol-benjol...Maaf...!!!
